Disclaimer: Tsubasa Reservoir Chronicle © CLAMP, When the Rain Take You Away
A/N:
konbanwa minna-san :D
ShadouRyu - kun telah kembali dengan chapter 3 :D
gomen banget nih, lamaaaaa banget updatenya, soalnya lagi adaptasi sama dunia kuliah + tugas numpuk *alesan* (dihajar massa)
Chapter selanjutnya yang ditunggu - tunggu sudah dataaang! (ada yang nunggu gitu? PD banget :P)
selamat membaca ya :D :D maaf kalo banyak typo, soalnya saya ngerjain buru buru :D
Jangan Lupa Review :D
Reviews Reply
Nimarmine - san : pasti! selalu bersemangat, walau kadang buntu juga hehe XD
Air - chan : sip, makasih atas reviewnya ya, semoga chapter ini gak kalah bagus amiin... ^^
Hanamoto - san : aku laki - laki tulen snepai -" sip, semoga rasa penasarannya terobati dengan chapter ini :D
Hoshi - san : kan aku memang romantis hehe, sip deh, maaf ya updatenya lama banget :D
semuanya! happy reading, and arigatou :D
Chapter 3 : Snow on the desert
Hime….
Sebuah suara berdesir di telinga sakura yang baru terbangun dari lelap tidurnya. "Syaoran…" bisik Sakura. Disaat burung – burung berkicau merdu, sang putri yang ceria termenung. Memikirkan arti dari apa yang di dengarnya barusan. Suara orang yang amat sangat ia rindukan skarang ini. Sekarang semua bercampur jadi satu di benaknya. Sedih, bingung, marah, rindu… ya, semua jadi satu. Pada akhirnya, setitik air jatuh dari matanya. Semua gambar tentang Syaoran berkelebat di pikirannya. Dari wajahnya yang dingin saat pertama kali mereka bertemu, sampai wajah yang hangat, yang selalu menjadi mataharinya. Tak lama, air yang terjatuh makin banyak, menderas. Sakura mati matian menahan tangis. Dalam hati, ia berkata : Syaoran, cepatlah pulang...
Matahari bersinar dengan terik, panas menyengat. Entah, berapa suhu udara saat ini, yang pasti, panas itu cukup untuk membuat peluh segerombolan tak berhenti mengucur. Dua hari telah berlalu setelah pengalaman pahit mereka. Dua hari ini, mereka bagaikan buta arah. Walaupun mereka yakin telah mendekat, tetap saja tak kunjung sampai ke perbatasan kampung halaman mereka. Peta yang ada, bukan dari bahasa mereka, tapi dari bahasa yang amat sangat tua, sehingga sang komandan militerpun hanya termangu melihat huruf – huruf yang tertera. Beruntung,mereka bisa menemukan sebuah oase. Kini, mereka beristirahat disana, menunggu sang pemimpin rombongan tersadar dari pingsannya. Ryuuoh, dengan sabar mengompres kepala sahabatnya yang ditemukan tertimbun pasir. Beruntung, nyawanya masih bisa diselamatkan.
Salah satu dokter kerajaan yang mendampingi mereka mengumumkan kepada semuanya, keadaan Syaoran sedang dalam keadaan tidak stabil. Dia terus mengigau, dan berbisik dalam tidurnya. Itu mungkin diakibatkan oleh kurangnya oksigen ketika ia tekubur dalam pasir. Sehingga butuh sekitar dua sampai tiga hari untuk pulih kembali. Ryuuoh tau, ini pasti akibat gabungan dari pasir yag masuk ke hidungnya, dan penyakit asthma yang diderita Syaoran. Dalam pingsannya, ia terus mengigau tentang Sakura. Ryuuoh hanya tersenyum, walaupun berkali kali Syaoran mengelak, terbukti tebakannya tepat, Syaoran memang jatuh cinta pada Sakura-hime. Ketika handuk yang ditaruh di kepala Syaoran mengering, Ryuuoh segera menggantinya, masih tersenyum.
"Syaoran! Ayo bangun baka! Sakura-hime sudah menunggumu di Clown. Apa kau akan membiarkan dia menunggu terus? Kuatkan dirimu dan bangunlah!" teriak Ryuuoh ke telinga Syaoran. Tidak berteriak sebenarnya, hanya setengah berteriak. Ia takut, anggota rombongan lain, tahu tentang Syaoran dan Sakura-hime. Tak adil menurutnya, mereka harus dipisahkan dengan cara seperti ini. Tiba tiba terdengar sebuah langkah kaki yang menuju ke arah tenda, ternyata sang dokter. Ia datang dengan wajah yang tersenyum dipaksakan. Dan Ryuuoh sangat menyadari hal kecil itu.
"Ada apa dok? Apa sebenarnya yang ingin kau katakan?" tanya Ryuuoh, langsung ke topik. Sang dokter pun tertegun, lalu sesaat kemudian termenung, menyesal.
"Eh.. i.. ini… soal… Syaoran jenderal." Ucap sang dokter terbata-bata. Wajahnya pucat pasi.
"Ada apa dengan Syaoran? Apa tentang keadaannya? Bukankah kau bilang dia akan baik baik saja?" Ryuuohbertanya dengan datar. Dalam hatinya, ada rasa geram, khawatir, takut, sedih , dan segalanya. Ini menyangkut hidup mati sahabatnya, sahabat yang telah bertahun – tahun bersamanya.
"Dia, sepertinya… ah, tidak, dia bisa diselamatkan! Tapi saya tidak tahu caranya…" Sang dokter yang kenal dekat dengan Syaoran pun meneteskan air mata.
"Apa maksudmu hah! Jelaskan!" Dengan kalap ia mengangkat kerah sang dokter.
"Maafkan aku jenderal… maaf sekali… namun tolong jangan keras – keras, kau bisa membuat yang lain terbangun, bagaimanapun, ini tengah malam." Ucap si dokter sambil mencoba tenang.
"oh, maaf. Matafkan aku…" ujar Ryuuoh menyesal.
"Tidak jenderal, saya paham perasaan anda. Jadi, setelah saya periksa lebih lanjut, dalam darah Syaoran, postif terdeteksi racun Paradoxitoxiconus, racun yang berasal dari kalajengking emas yang berhabitat di gurun ini. Disebutkan, dalam sebuah catatan kuno. Penawar racun ini mudah namun sulit. Beratus ratus tahun meneliti, belum ada yang dapat menemukan penawar racun ini." Ujar sang dokter dengan murung.
"jadi karena ini kau mengumumkan hal seperti tadi. Baiklah, aku mengerti. Sekali lagi maafkan aku dok." Ujar Ryuuoh pada sang dokter dengan menahan tangisnya.
"Nak, orang pemberani, bukanlah orang yang tak pernah takut dan menangis. Tapi ialah orang yang takut dan menangis, disaat memang harus begitu. Aku tau kau pasti amat sangat sedih, kau dan Syaoran sudah kuanggap seperti anakku sendiri." Setelah mengatakan itu, dan menepuk pundak Ryuuoh, sang dokter melangkah keluar. Dan saat itu, Ryuuoh menangis.
Di tengah malam, di tengah gurun pasir yang membeku, ruangan Syaoran menyala. Hal itu membuat Ryuuoh terjaga. Seketika, ia membuka matanya lebar – lebar. Sesuatu yang ajaib terjadi. Sesosok rubah api, merah menyala, terlihat di hadapannya. Kudan, ya, itu kudan yang pernah Syaoran ceritakan padanya. Kudan itu menggambarkan keinginan dan kekuatan hati sesorang. Kudan itu lalu melangkah ke ambang pintu dan menunggu, seakan meminta Ryuuoh mengikuti. Ryuuoh menurut, ia tahu, itu Syaoran. Diam – diam ia meninggalkan camp mereka, dan mencoba berjalan tanpa suara. Ia berjalan, berjalan, dan terus berjalan. Tak lama kemudian, perbatasan Clown terlihat. Sesampainya di perbatasan, mereka dihentikan penjaga. Lalu Ryuuoh membuka tudung kepalanya, agar wajahnya terlihat. Dan begitu melihat sang jenderal, mereka langsung memberi hormat dan tersenyum. Senang, sang jenderal telah kembali.
"Prajurit, aku akan ke istana, aku akan meberikan berita penting kepada Sakura – hime"
"Baik jenderal! Tapi makhluk apa itu? Apakah dia berbahaya?"
"Tentu saja tidak. Dialah pesan yang kubawa! Kembali ke posisi sekarang, laksanakan!"
"Siap Jenderal! Laksanakan! "
Kudan dan Ryuuoh berlari secepatnya ke istana. Ingin memberitahukan keadaan Syaoranyangsedang kritis. Tak sampai setengah jam, mereka telah sampai ke istana. Memang, perbatasan ini adalah yang terdekat dengan istana. Mengingat, Ibu kota sendiri, merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan gurun. Sesampainya di depan gerbang istana, mereka Ryuuoh membuka tudung dan berlari masuk ke halaman istana dan mmemanggil – manggil Sakura – hime.
"Sakura – hime! Sakura – hime! Turunlah! Aku punya berita dari Syaoran!" teriak Ryuuoh lantang.
"hmmmh… Ryuuoh – kun! Kau sudah datang? Kapan samapai?" tanya Sakura dari jenela kamarnya.
"Syaoran…" seketika nada bicara Ryuuoh berubah. Ia menjadi pucat – pasi.
"Sya…! Ada apa dengan Syaoran?" nada Sakura yang tadinya ceria, berubah menjadi khawatir. Saat ia menggerakkan pandangan, terlihatlah seekor rubah yang menyala seperti api. Namun saat melihat mata Sakura dan sang rubah bertemu, hati Sakura berdesir, namanya dibisikkan tepat ditelinganya, oleh Syaoran. Ditujukan langsung ke dalam hatinya yang terdalam. Tanpa menunggu, ia dengan setengah berlari, menuju ke bawah untuk menemui Ryuuoh. Sesampainya diluar, ia langsung bertanya tentang keadaan Syaoran pada Ryuuoh. Seketika air matanya meleleh, ia menangis lagi, tanpa suara. Di tengah tangisnya, dari sudut mata, Sakura menangkap mata amber sang rubah yang memperhatikannya.
"Rubah yang baik, bisakah kau antar aku ke tempat Syaoran?" ujarnya setelah mendekati sang rubah, dan tersenyum secara paksa.
Rubah itu hanya mengangguk, dan pergi kearah pintu gerbang istana. Lalu diam disana, menunggu. Sakura pun memberi isyarat kepada penjaga untuk menyiapkan kuda untuknya dan Ryuuoh. Kemudian secepat mungkin, mereka menembus dinginnya malam yang menusuk, menuju camp Syaoran. Angin dingin yang bertiup kencang, tak digubris sedikitpun oleh Sakura. Padahal, ia adalah oranng yang paling anti terhadap dingin. Satu jam berkuda, mereka sampai ke camp Syaoran. Sang Kudan pun, telah menghilang.
Matahari telah muncul di ufuk timur dengan indah. Namun tak begitu dengan Sakura, ketika ia melihat keadaan kekasihnya, salju seakan turun di padang pasir gersang. Titik titik air mata lagi – lagi keluar dari kedua sudut matanya. Salam hormat para anggota rombongan pun tak digubris. Namun mereka semua maklum, walaupun Sakura dan Syaoran mati – matian menyembunyikan hubungan mereka, toh semua orang sudah tau. Namun pura – pura tidak tahu. Tak ada yang marah tentang itu, malah mereka mendukung penuh. Sakura yang menangis, berjalan kearah tempat kekasihnya berbaring. Ia melihat sosok Syaoran yang berbeda dari biasanya. Kini ia melihat sosok Syaoran yang tak berdaya. Dengan wajah yang memucat, dan tertidur dengan tenang. Sakura melihat wajah Syaoran tepat diatasnnya, agar wajahnya yang damai terlihat jelas. Tak sengaja, beberapa tetes air mata Sakura menetes ke wajah Syaoran. Kemudian menangis di dada Syaoran. Semua yang melihat hal tersebut, pasti akan terenyuh juga. Semua anggota yang mendengar hime menangis di dalam, air matanya mulai menetes. Hari ini, hari dimana salju, turun dalam tandusnya pasir. Meninggalkan kehampaan.
The emptiness you left in my heart
As cold as the snow
Who falls on the desert and stay
Too cold to melt
Losing you
It's too unexpected
And I'll never
Want to expect it
One thing that I want now
That your arms, hold me tight
I want to feel your warmness
When I hug you, and never apart
Trapped in the amazing silent
Touch your lips, to stop you saying the words
Words, That I already, and always know
