Who's U Love?
By
Sweatpanda
.
.
GS!Hwang Minhyun
OngNiel! OngHwang! NielHwang OngNielHwang
.
.
Minhyun menatap bosan pada arah jendela tempat kerjanya yang terbuka. Langit berwarna abu menjadi pemandangan yang Minhyun lihat. Desahan pelan mengalun dari bibir tipisnya, tangannya mengarah pada pangkal hidungnya dan memijitnya pelan.
Minhyun beralih memandang meja di depannya. Mengambil kertas sketsa miliknya, Minhyun kembali mendesah. Ingin rasanya Minhyun mencorat-coret gambar miliknya itu jika tidak mengingat jika gambar itu adalah sketsa baju pernikahan milik kliennya. Yang sayangnya, kliennya adalah mantan kekasihnya. Kekasihnya sejak masa kuliah yang harus berpisah hanya karena jarak.
Kang Dongho. Nama lelaki itu. Lelaki yang dengan teganya memutuskannya hanya untuk menikahi gadis lain yang satu universitas dengan lelaki itu di Jepang dulu. Minhyun melepas kacamata bacanya, berdiri dari kursi kebesarannya untuk berjalan menuju jendela besar yang ada di ruang kerjanya.
Bukan hal mudah untuk melupakan seseorang yang sudah bertahun-tahun ada dalam pikiran dan hatimu. Awalnya mereka hanya berteman sejak mereka di sekolah menengah atas, namun saat lulus sekolah, Dongho menyatakan perasaannya yang diterima oleh Minhyun -meskipun awalnya ditentang oleh Daniel dan Seongwoo, yang sampai sekarang Minhyun tidak tahu apa alasannya-. Dan saat tahun kedua di universitas, Minhyun harus berpisah dengan Dongho yang terpaksa pindah ke Jepang karena paksaan orangtuanya. Dari situlah hubungan keduanya merenggang hingga akhir tahun lalu, Dongho memutuskan hubungan dengan dirinya.
Minhyun menatap tetesan air yang perlahan menetes dari atas langit sana. Minhyun mengusap kaca di hadapannya, matanya menatap sayu ke pemandangan yang sama mendungnya dengan hatinya itu.
Ddrrt~ ddrrt~
Fokus Minhyun teralih pada ponsel genggamnya yang bergetar di atas meja. Minhyun melirik malas, sebelum berjalan mendekat dan mengambil ponselnya.
Terdapat nama 'Ongie is Calling..' di layar ponselnya. Minhyun menimbang sebentar, berpikir untuk mengangkat atau mengabaikannya saja. Dengan helaan nafas berat, Minhyun pun mengangkat sambungan itu dan menempelkan ponselnya di telinga kanannya.
"Ada apa, Seongwoo?" Tanya Minhyun tanpa basa-basi.
"Ah! Kau akan pulang 'kan malam ini? Aku akan ke apartmu malam ini." Suara Seongwoo terdengar, sedikit ribut. Mungkin Seongwoo masih di lokasi syuting. Pikir Minhyun.
Alis Minhyun terangkat, merasa bingung dengan kalimat yang Seongwoo keluarkan. "Kau ke apartku? Malam ini? Sendirian?"
"Ya. Daniel ada kerjaan di luar kota tiga hari ke depan, jadi aku akan menginap di tempatmu sementara."
Minhyun mendengus mendengar jawaban Seongwoo. "Ck, baiklah. Aku akan pulang sebelum jam makan malam. Dan, kenapa Daniel tidak menghubungiku jika dia mau ke luar kota?"
"Oh itu, Daniel kira kau masih marah. Jadi, dia mau menghubungimu."
"Dasar anak itu. Aku akan menghubunginya nanti. Baiklah Ong, sampai nanti."
"Ya, sampai nanti."
Minhyun kembali menyimpan ponselnya saat sambungan telfonnya dan Seongwoo sudah terputus. Mata Minhyun beralih menatap jam dinding yang berada di atas dinding. Sudah jam 17.45 KST. Ada waktu satu jam lebih untuk menenangkan dirinya yang akan bertemu Seongwoo dan menghubungi Daniel.
Entahlah, Minhyun merasa dirinya aneh akhir-akhir ini. Perasaannya sering kali kacau jika sudah memikirkan dua sahabatnya itu. Tidak boleh! Minhyun tidak boleh berpikir yang tidak-tidak tentang perasaannya pada dua sahabatnya itu. Dua sahabatnya itu saling mencintai, dan mereka juga berencana menikah tak lama lagi.
Tapi, kenapa perasaannya tak tenang? Ada yang salahkah dengan perasaannya?
.
.
Seongwoo tersenyum sesaat setelah panggilannya dan Minhyun terputus. Matanya beralih untuk menatap Youngmin yang duduk tak jauh darinya.
"Jadi sebenarnya, yang kau cintai itu Daniel atau Minhyun?" Youngmin bertanya dengan pandangan ingin tahu. Donghyun yang baru datang langsung duduk di samping Youngmin dan bersender dengan nyaman di bahu Youngmin.
Seongwoo terkekeh kecil melihat pandangan di hadapannya. Bukan pandangan luar biasa, tapi sudah terlalu biasa untuknya. Hanya saja, jika melihat dua orang juniornya itu -dalam hal berkarir di dunia entertainment- tetap saja membuatnya merasa lucu. Karena, keduanya terlalu blak-blakan untuk menunjukan rasa cinta mereka.
"Aku tak tahu harus menjawab apa. Yang pasti, aku mencintai keduanya. Daniel sebagai kekasihku dan Minhyun sebagai sahabatku." Jawab Seongwoo setelah sekian lama terdiam. Diam memperhatikan tingkah laku Donghyun yang terlihat sedikit lebih manja sebanding sebelumnya.
Alis Youngmin bertaut mendengar jawaban Seongwoo. "Kau tidak kebalik? Aku malah melihat jika kau mencintai Minhyun sebagai kekasihmu dibandingkah Daniel," ujar Youngmin dengan nada tak percaya.
Seongwoo kembali tertawa, kemudian mencoba meredakan tawanya begitu melihat wajah Youngmin dan Donghyun yang menatapnya dengan bingung.
"Ck, Lim Youngmin, kau tahu 'kan? Aku seorang aktor terkenal dan berbakat. Jadi, berakting seperti itu bukanlah hal yang sulit. Di hadapan orang banyak aku memang seperti mencintai Minhyun, well itu untuk menyalamatkan imageku, Youngmin. Aku adalah seorang aktor yang karirnya baru menanjak, akan bahaya jika karirku sudah terkena skandal. Apalagi skandal sebagai gay. Lagipula, semua orang tahu siapa itu Minhyun." Jelas Seongwoo santai sambil mengibaskan tangannya.
Donghyun dan Youngmin bertatapan, seperti berpikir akan perkataan panjang kali lebar milik Seongwoo.
"Hanya untuk image? Tapi, apa hyung pernah berpikir tentang perasaan mereka berdua? Apa hyung tidak pernah berpikir jika perlakuan hyung ini menyakiti hati Minhyun-noona dan Daniel-hyung? Aku tahu, mungkin mereka akan mengatakan baik-baik saja, tapi, hati manusia tidak ada yang tahu hyung." Ujar Donghyun seraya beranjak dari duduknya.
Youngmin menatap Seongwoo dengan senyum kecil -meremehkan- yang terpatri di bibirnya. Tangannya meraih gelas Cappuchinonya dan menyesapnya sedikit. Matanya menatap ekspresi wajah Seongwoo yang mendadak berubah begitu mendengar ucapan Donghyun.
"Kau memang tidak pernah berubah dari dulu, Seongwoo-ya. Kau selalu egois. Apapun yang kau inginkan harus kau dapatkan. Tapi, Ong Seongwoo, kau harus ingat. Bukan hanya kau yang tinggal di duniamu, banyak orang yang akan datang dan pergi dalam hidupmu. Mungkin Minhyun dan Daniel sekarang masih berada di sisimu, tapi kita lihat beberapa tahun ke depan. Aku tak yakin, dengan sifat egoismu itu, keduanya akan tetap bertahan di sisimu." Youngmin berdiri, menepuk bahu Seongwoo dua kali -untuk menyemangati Seongwoo- sebelum menyusul Donghyun yang menunggunya di depan cafe.
"Kami pergi dulu. Sampai bertemu lagi!" Teriak Youngmin di depan cafe seraya melambaikan tangannya. Seongwoo hanya meliriknya sebentar sebelum mendengus pelan.
"Dasar sok tahu!"
.
.
08 Oktober 2006
Gadis cilik dengan rambut ekor kuda itu mendengus kecil ketika dua orang bocah lainnya pergi meninggalkannya. Minhyun berjalan pelan, mencoba mendekati Daniel dan Seongwoo yang sedang bermain entah apa di halaman belakang rumahnya.
Minhyun duduk di sebelah Daniel, dimana bocah gembil itu kini duduk di tengah-tengah Minhyun dan Seongwoo. Daniel dan Seongwoo masih fokus memperhatikan sesuatu di depan sana tanpa mengacuhkan Minhyun yang kini menatap keduanya dengan pipi yang menggembung lucu.
"Daniel-ah, Seongwoo-ya, kalian sedang apa?" Tanya Minhyun seraya menatap keduanya.
Keduanya menoleh secara bersamaan, menatap Minhyun dengan mata yang berkedip lucu sebelum tersenyum lebar.
"Minhyun-ie tidak boleh tahu. Ini urusan lelaki," jawab Seongwoo seraya berdiri. Dia kini berdiri di hadapan Minhyun. Seolah-olah menutupi pandangan Minhyun dari pandangan di depan sana.
"Ya, Seongwoo-hyung benar, Min-noona tidak boleh tahu," sahut Daniel seraya ikut berdiri di depan Minhyun. Sesekali mata Seongwoo dan Daniel melirik ke belakang mereka.
Dahi Minhyun berkerut. Dua sahabatnya ini aneh sekali? Emang apa sih yang sedang mereka lihat? Minhyun 'kan jadi penasaran.
"Minhyun-ie duduk saja di situ!" Seru Seongwoo sambil menahan bahu Minhyun yang hendak berdiri. Wajahnya terlihat panik, ia menyenggol Daniel dan wajahnya juga sama paniknya.
"Kalian menyembunyikan apa dariku? Jangan bilang kalian menyembunyikan yang aneh-aneh. Aku bilang appa dan Ong ahjushi baru tahu kalian!"
"Aneh-aneh apanya sih Minhyun?" Seongwoo menatap galak pada Minhyun.
"Kalian habisnya aneh. Apa sih yang kalian lihat? Aku 'kan juga ingin tahu." Ujar Minhyun dengan bibir yang mengerucut.
Daniel menyentuh lengan Minhyun, tangannya menunjuk sesuatu di belakang Seongwoo dan itu terlihat bergerak.
"Itu. Kami sedang melihat kucing, kami ingin menangkapnya, tapi takut noona akan marah jadi kami diamkan saja." Ucap Daniel dengan wajah polosnya.
Minhyun membuang nafasnya, "Yakk! Aku kira apa."
Lalu ketiganya pun tertawa. Seongwoo tertawa melihat Daniel, Daniel tertawa melihat Minhyun, dan Minhyun tertawa melihat keduanya.
.
.
Daniel merapikan pakaian yang ada dalam ranselnya ke dalam lemari yang tiga hari ke depan akan ia pakai. Daniel tertawa sendiri, ketika otaknya tiba-tiba saja mengingat akan kelakuan Minhyun jika mereka sedang bepergian jauh dan sampai menginap.
Biasanya Minhyun akan berceloteh tentang pakaian yang harus diletakkan di tempatnya, baik itu lemari ataupun ranjang pakaian kotor. Tidak boleh menaruhnya di sembarang tempat atau kau akan tidur di luar kamar selama semalam. Minhyun juga akan selalu mengingatkannya untuk mandi, -karena dirinya terlalu malas- dan juga akan menyiapkan pakaian yang cocok untuk dikenakannya atau Seongwoo. Benar-benar sosok istri idaman yang sayangnya disia-siakan oleh seorang Kang Dongho.
Daniel menutup lemari kayu itu ketika sudah tak ada pakaiannya lagi yang tersisa di dalam ransel. Daniel mendesah berat, mengingat Minhyun setiap saat membuat kepalanya semakin pusing. Belum lagi beberapa hari ini dirinya tidak bertegur sapa, tidak bertelfonan atau bertukar pesan, atau bahkan tidak bertemu dengan gadis tinggi itu. Membuat perasaan rindu membucah begitu saja dalam hatinya.
Fokus Daniel sedikit teralih begitu mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka dan menampilkan sosok Jaehwan yang baru saja keluar dari dalam sana. Sosok yang tiga hari lalu diketahui bahwa Minhyun menginap di tempat pemuda bersuara tinggi itu dan entah apa saja yang sudah Minhyun lakukan di sana. Daniel tidak ingin memikirkannya, tapi Daniel ingin sekali bertanya.
"Kau tidak mandi?"
Sebenarnya Jaehwan juga bukan orang yang mencintai kebersihan. Dia sama atau bahkan lebih jorok dibandingkan Daniel. Tapi, semalaman bersama Minhyun, mendadak jiwa kebersihan Jaehwan muncul dan bertahan hingga sekarang. Jaehwan juga tidak tahu, takdir apa yang selalu membawanya untuk berdekatan dengan Daniel, Minhyun, dan Seongwoo. Lupakan jika itu Daniel. Karena nyatanya mereka adalah teman satu divisi di kantor yang merupakan milik keluarga Hwang. Ayahnya Minhyun.
"Oh? Ya, sebentar lagi." Jawab Daniel datar. Daniel berusaha mengabaikan keberadaan Jaehwan yang jelas-jelas kini sedang duduk di atas ranjang yang sama dan sedang bersenandung tak jelas.
Daniel juga tak habis pikir, kenapa ketua tim mereka, Tuan Lee, mengutus mereka untuk memeriksa proyek yang berada di Busan ini. Bukannya Daniel tidak mau, hanya saja, tidak adakah orang lain?
"Omong-omong, kau sudah kenal Minhyun-noona sejak lama ya?" Suara Jaehwan kembali terdengar.
Daniel menoleh dan mengamati Jaehwan yang tengah mengemasi barang-barangnya tepat di lemari yang sama dengan Daniel.
"Hmm." Gumam Daniel malas.
"Minhyun-noona itu, seperti apa?"
Alis Daniel menyatu tak suka mendengar pertanyaan Jaehwan. Menyadari tak ada jawaban apapun dari yang ditanya, Jaehwan menoleh dan menemukan Daniel yang menatapnya tak suka.
Jaehwan tertawa canggung. Ia menggaruk belakang lehernya sebelum menutup lemari.
"Kau jangan salah paham. Kau pasti tahu dengan jelas, jika orang-orang di kantor sangat menyukai Minhyun-noona. Dia orang yang baik dan ramah, meskipun garis wajahnya terlihat dingin, tapi dia adalah orang yang hangat. Aku tidak terlalu dekat dengannya, karena memang aku tahu siapa aku. Tapi, analisaku tentangnya, benar 'kan?" Jaehwan menaikkan sebelah alisnya, memastikan apa yang dikatakannya adalah benar.
Daniel mengangguk singkat. "Kau benar. Dan dia juga cerewet. Apalagi masalah kebersihan."
"Ternyata begitu ya. Pantas saat menginap di rumahku kemarin, dia cerewet begitu."
"Itu sih, kau saja yang jorok!"
"Enak saja! Seperti dirimu tidak saja. Minhyun-noona bahkan mengomel tentang betapa joroknya kau dan Seongwoo-hyung kemarin."
"Oh? Benarkah?"
Jaehwan mengangguk. Lalu, keduanya pun berlarut pada obrolan seru. Daniel yang bertanya dan Jaehwan yang menjawab. Hingga Daniel pun mengabaikan ponselnya yang terus bergetar dengan nama-
'Hwang Minhyunie is Calling..'
-di depan layar ponselnya.
.
.
TBC
.
.
03 Oktober 2017
