Wizariords
Rating : T
Casts : EXO Members With Official Couple
Disclaimer : Casts Belong To God And Themselves. This Fanfiction Is MINE
Previous Chapter
"Permisi, saya ingin mencari Header Unablow. Biaakah kau membantuku?" tanyanya kepada seorang namja yang kebetulan melintas di hadapannya. Namja itu menoleh ke arah Suho sebelum menjawab.
"Tentu, tuan. Silahkan ikuti saya." jawabnya sopan seraya tersenyum ramah.
'Manis sekali..' batin Suho. Menyadari apa yang baru saja batinnya katakan, Suho menggelengkan kepalanya tiba-tiba. 'Hhh.. Aku pasti sudah mulai gila.' batinnya kembali.
"Eum maaf tuan. Mengapa anda hanya berdiri diam di sana? Bukankah anda ingin menemui Header Unablow?" kata namja manis itu.
"A-Ah, tentu."
Dan dengan itu, keduanya berjalan berdampingan menuju Unablow Centre Building. Sesampainya mereka disana, namja manis itu meminta Suho untuk masuk dan memberitahunya bahwa Header Unablow berada di Unablow Header Room. Tepat setelah namja itu berbalik untuk beranjak pergi, Suho menahan tangannya.
"E-Er. Boleh temani aku kedalam?" pinta Suho sambil tersenyum kikuk. Anggukan kepala dari sang namja berhasil membuat Suho menghela nafas lega. Yah, ia takut masuk ke dalam sendirian, meskipun tak sepenuhnya benar, karena sebagian lagi hanya modus.
Ya, seorang Suho juga memiliki modus dibalik Angelic Face-nya. Cool, huh?
Chapter 2
Akhirnya dengan senang hati, namja manis itu menemani Suho masuk ke Unablow Centre Building. Tepat ketika mereka tiba di depan Unablow Header Room, Suho menggenggam tangan namja manis itu untuk ikut masuk ke dalam. Untungnya, namja itu tidak protes diperlakukan begitu oleh Suho.
TOK TOK TOK
"Masuk." Terdengar jawaban singkat dari dalam.
Sang pelaku pengetukan pun masuk dengan tangan yang masih bertautan. Dan ketika Suho telah menutup pintu itu dan mengamati sekelilingnya, ia baru sabar bahwa..
'Ruangan ini sama hancurnya dengan keadaan di luar sana.' batinnya bergidik.
"Eum, permisi." panggil Suho ketika namja yang duduk di kursi besar ruangan itu nampak sibuk dengan kertas-kertas yang Suho tak tahu kertas apa itu. Ia bahkan tak memperhatikan tamunya sama sekali.
"Oh, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya seraya menghentikan kegiatannya sejenak.
"Saya menginginkan informasi tentang seorang namja bernama Zhang Yi Xing yang ada di golongan ini."
"Oh, sepertinya anda bisa bertanya langsung pada orangnya."
"Tapi, saya bahkan tidak tahu yang mana orangnya."
"Orangnya berdiri tepat disamping kanan anda dan kalian bergenggaman tangan." jawab G-Dragon一Header Unablow一kalem.
"Eh? Benarkah?" Suho menoleh ke arah kanannya dan menemukan namja manis itu mengangguk dengan polosnya.
"Oh, baiklah" lanjutnya, "Saya juga ingin meminta kertas identitas Huang Zi Tao, Xi Lu Han, Do Kyung Soo, dan Kim Min Seok, kalau anda tidak keberatan."
'Ini akan menjadi lebih mudah untukku. Aku tak perlu bersusah payah untuk mencari sasaranku lagi. Nampaknya aku cukup beruntung hari ini. Kekeke..' Suho terkekeh dalam hati..
"Dengan senang hati, tuan. Ini kertas-kertas identitas orang-orang yang anda minta." ujarnya seraya menyerahkan beberapa carik kertas kepada Suho.
"Oh, dan bisakah saya meminta anda untuk mencari kertas identitas Kim Joon Myeon?" 'Yang tak akan pernah kau temukan..' lanjutnya sembari terkikik geli dalam hati.
"Baik, tuan." Dengan itu, Suho perlahan-lahan mundur dan membekap mulut namja manis disampingnya yang nyaris berteriak itu.
Ketika sudah mencapai pintu, Suho segera membukanya dan berlari bersama kertas-kertas identitas yang masih berada di sebelah tangannya dan sebelahnya lagi menarik tangan Yi Xing.
"Jangan berteriak, kumohon.." bisik Suho pelan pada Yi Xing, dan anehnya, Yi Xing menyanggupi permintaan Suho, padahal ia sadar ia sedang ditarik entah kemana oleh seoran namja asing.
Sementara di dalam sana, G-Dragon sedang menyeringai. "Kalian membawa orang lain masih dengan cara yang sama, huh? Tentu saja aku tak akan mudah dibodohi, Wizariords."
"T.O.P, Seungri, tutup semua akses keluar Unablow Centre Building. Daesung, Taeyang, bawa semua namja asing yang berhasil masuk wilayah Unablow ke hadapanku." ucapnya pada headset yang terpasang di telinga kirinya.
"Pertunjukan dimulai!" Dan sejurus kemudian, tawa mengerikan menggema di ruangan besar itu.
"Sebenarnya Suho hyung dimana? Kenapa lama sekali, sih?" gerutu Jongin, sementara Kris menimpali ucapannya, "Sabarlah, mungkin sebentar lagi dia datang."
"Ah, itu dia Suho hyung!" tunjuk Chen ke arah dua orang namja yang tengah berlari ke arah mereka.
Sontak ketiga namja yang bersama Chen pun melongokkan kepala mereka dari balik sebuah lorong kecil yang menjadi tempat persembunyian mereka sedari tadi.
"Hah.. Hah.. Ini kertas-kertas identitas sasaran kalian. Ayo, segera jalankan skenario selanjutnya." kata Suho seraya membagikan kertas-kertas itu pada Chen, Kris, Jongin, dan Sehun. Setelah itu, mereka berlima beserta Yi Xing segera berlari ke ujung lainnya dari lorong kecil itu. Ujung yang berlawanan dengan ujung tempat Suho masuk tadi. Di ujung lorong yang mereka tuju itu nampak cahaya yang menyeruak masuk ke lorong kecil itu.
Dan ternyata, lorong kecil itu menghubungkan bagian dalam Unablow Centre Building dengan halaman belakang gedung beaar itu yang langsung berhadapan dengan pintu gerbang pemukiman penduduk Unablow, sehingga memudahkan keenam namja itu untuk mencari sasaran mereka masing-masing, kecuali Suho dan Yixing tentunya.
"Merunduk!" titah singkat dari Kris membuat mereka semua refleks merunduk menyembunyikan diri mereka di balik semak-semak. Tak lama kemudian, seorang namja muncul sembari menatap sekelilingnya, seolah ia sedang mencari penyusup. Dan memang itulah kenyataannya.
"Belum, Header. Saya tidak melihat seorang pun orang asing disini. Sepertinya Daesung juga begitu."
"..."
"Baik, Header."
"Hei, dia bicara sendiri ya?" celetuk Jongin yang dihadiahi jitakan di kepalanya.
"Jangan ngawur, Kkamjong. Kau tidak lihat earphone di telinga kirinya itu? Dan juga, jaga volume suaramu." balas sang pelaku penjitakan yang tak lain adalah Sehun.
"Hei, sudahlah, ayo kita berpencar. Cari sasaran masing-masing dan berkumpul sesuai rencana一"
"Huh, awas saja bila kutemukan mereka. Kupastikan mereka menjadi makanan Golbang. Iya kan Golbang?" Dan entah dari mana, seekor ular raksasa muncul dan mengangguk mengiyakan ucapan namja itu yang sepertinya adalah tuannya.
"一dan jangan sampai ketahuan." lanjut Kris setelah sebelumnya bergidik ngeri. Begitu juga dengan yang lainnya. Makanan ular raksasa? HELL NO! Tadi siang ancaman makanan elang raksasa, sekarang ancaman makanan ular raksasa. Mengapa serba raksasa? Mengerikan.
Setelah namja bernametag Taeyang itu pergi, keenam namja itu segera berpencar ke area pemukiman. Suho dan Yi Xing berlari ke sebuah gang buntu yang sangat sepi. Sementara yang lainnya sudah pergi berpencar mencari sasaran masing-masing.
SuLay Side
Suho dan Lay berlari memasuki sebuah gang buntu yang sangat sepi. Tangan keduanya masih bertautan erat, tanpa ada yang berniat melepaskan tautan tangan itu. Sesampainya di ujung gang buntu itu, Yi Xing memberanikan diri untuk bersuara.
"Uh, tuan, sepertinya urusan anda sudah selesai, jadi, boleh tolong lepaskan tangan saya?" pinta Yi Xing dengan suara pelan.
"Ah, sayangnya tidak, Yi Xing. Kau akan terus mengikutiku dan tangan kita akan terus begini hingga aku berniat melepaskannya." balas Suho seraya menyeringai tanpa Yi Xing sadari. Mendengar jawaban Suho, Yi Xing hanya pasrah. Entahlah, hatinya menyuruhnya untuk mengikuti Suho saja. 'Ah, yang penting aku tak sendiri. Bukannya namja yang lainnya tadi juga sedang mencari yang kata mereka sasaran? Berarti aku bukan satu-satunya orang yang diculik, kan?' batin Yi Xing menenangkan dirinya sendiri.
KaiSoo Side
"Hosh.. Hosh.." Deruan nafas yang terdengar membuktikan bahwa namja berkulit tan bernama Jongin ini baru saja berlari kencang, atau mungkin sampai sekarang masih berlari kencang.
Ia berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya, juga untuk mengecek kertas identitas di tangannya. Setelah yakin bahwa ia mengingat wajah yang terpampang pada foto di kertas identitas yang dipegangnya, ia segera melipat kertas identitas itu dan menyimpannya di saku celananya.
"Street 1056. Street 1056. Ah, itu dia! Street 1056 Number 56." gumamnya sembari melangkah mendekati sebuah rumah dengan angka 56 yang terukir di papan yang ditempel di pagar rumah. Setelah memastikan bahwa papan di ujung jalan yang ia tapaki sekarang tertulis 'Street 1056', Jongin segera menilik penampilan rumah dihadapannya. Rumah itu tampak sangat bersih dan rapi, berbanding jauh dengan keadaan wilayah sekitarnya yang kotor.
"Sepertinya sasaranku seorang maniak kebersihan. Pasti orangnya membosankan. Haahh..." gumamnya sambil menghela nafas. "Cerewet, galak, pengatur. Dari fotonya saja sudah ketahuan." lanjutnya memprediksi sasarannya.
"Haahh.." Ia menghela nafas lagi sebelum akhirnya melangkahkan kakinya memasuki pagar rumah yang tak terkunci itu. Ketika ia baru saja hendak mengetuk pintu rumah di hadapannya, pintu itu sudah terbuka duluan, menampakkan sesosok namja imut yang membulatkan matanya kaget melihat adanya tamu.
Sedangkan Jongin? Oh, tarik balik gumaman-gumaman tak jelasnya tadi. Buktinya, sekarang matanya terpaku pada sosok imut di hadapannya ini. 'Lupakan ucapanku tadi. Ia bahkan tidak mirip dengan foto di kertas identitasnya. Dia benar-benar..'
"Pretty." gumam Jongin tanpa sadar. Sosok di depannya tampak bingung melihat gelagat Kai. "Uh, hello?" panggil namja imut itu sambil melambaikan tangannya di depan wajah Jongin.
"Ah, ayo kita pergi." ucap Jongin ambigu sambil menarik tangan sang namja manis.
"Ehh, kemana? Kau siapa, tuan?" tanya namja itu heran. Hei! Ia bahkan tak mengenali namja yang sedang menarik tangannya ini.
"Do Kyung Soo, ikuti saja aku." ucap Jongin, dan dengan polosnya Kyung Soo mengangguk. 'Mungkin dia mau mengajakku berjalan-jalan dan berkenalan denganku.' batin Kyung Soo riang.
Kyung Soo The Innocent Boy.
HunHan Side
"Xi Lu Han. Xi Lu Han. Xi一"
"Permisi, apa anda baru saja menyebutkan nama saya, tuan?" Gumaman Sehun yang sedang berjalan langsung terhenti. Ia menolehkan wajahnya menghadap namja yang mengaku digumamkan namanya oleh Sehun tadi.
"Eh? Saya menggumamkan nama Xi Lu Han." ucap Sehun dengan kening berkerut yang menandakan bahwa ia bingung.
"Ya, dan itu adalah nama saya. Saya Xi Lu Han."
Sehun menganga tak percaya. Sangat tidak elit.
"Apakah ada yang salah dengan nama saya?" tanya Luhan begitu melihat gelagat Sehun.
"Berapa umur anda?" sergah Sehun cepat.
"20 tahun." jawab Luhan tenang.
"Apakah benar ini foto anda?" tanya Sehun lagi seraya menyodorkan sebuah foto yang terpampang pada kertas identitas yang sedari tadi depgangnya tepat ke hadapan Luhan.
"Ya. Ada masalah untuk itu?" tanya Luhan balik.
"A-Ah, tidak. Wajahmu terlalu imut untuk ukuran namja berumur 20 tahun." ucap Sehun sambil terus menerus menatap wajah Luhan dan kertas identitas bergantian. Menatap wajah Luhan sejenak. Lalu ke kertas identitas. Lalu ke wajah Luhan lagi. Lalu ke kertas identitas lagi. Dan begitu seterusnya.
Tanpa disadarinya, wajah Luhan bersemu mendengar pujian一atau mungkin ejekan?一Sehun. Rona merah perlahan-lahan menjalar ke pipinya. Tapi nampaknya Sehun kurang peka akan situasi. Setelah puas dengan acara tatap-menatapnya, Sehun langsung berusara.
"Ayo, ikut aku hyung." Tanpa menunggu jawaban Luhan, Sehun langsung menarik sebelah tangan Luhan dan membawanya pergi. Luhan yang hatinya masih berbunga-bunga hanya mengangguk tanpa sadar. Luhan sudah sering mendengar pujian semacam yang Sehun ucapkan tadi, namun mengapa kini ia malah merona ketika Sehun yang melontarkannya? Entahlah, Luhan juga tidak mengerti.
KrisTao Side
Kris berjalan sambil memandangi kertas identitas sasarannya. Sesekali matanya melirik sekelilingnya waspada, jika saja tiba-tiba muncul namja utusan Header Unablow yang ingin menangkapnya dan teman-temannya.
"Hmm.. Huang Zi Tao, eoh? Nama yang bagus." gumamnya.
"Ah, Number 79 Street 1057. Ketemu." Tanpa pikir panjang lagi, Kris langsung memasuki pagar rumah di hadapannya. Tanpa ia sadari, dibelakangnya kini ada sesosok namja yang tengah mengendap-endap.
Ketika Kris mengangkat tangannya hendak membuka pintu, tiba-tiba kedua tangannya ditarik dan dikunci ke belakang punggungnya dengan sangat erat oleh seseorang.
"Ha! Siapa kau? Maling? Mau mencuri pasokan makanan di rumahku? Sayang sekali, kau kurang beruntung hari ini." Terdengar suara yang Kris yakini milik seorang namja yang tengah menahan tangannya saat ini.
"Hei, aku bukan maling! Dan lagi, untuk apa aku mengambil pasokan makananmu? Kebutuhanku tercukupi, karena aku bukan dari golongan ini. Lepaskan aku, bodoh!" berontak Kris, berusaha melepaskan diri dari namja yang tengah menahannya.
Namun miris, dari sudut matanya, Kris bisa melihat namja bernametag Taeyang tadi melangkah mendekati rumah ini. Sepertinya karena Taeyang mendengar suara bentakan Kris yang tak bisa dibilang pelan tadi. 'Bodoh! Kenapa pula kubilang aku bukan dari golongan ini? Sial!' umpat Kris dalam hati. Dengan segala kekuatannya, ia langsung menarik kembali tangannya yang ditahan dan langsung mendekap erat namja yang menahannya tadi. Setelah itu, tubuh Kris perlahan mulai melayang. Semakin lama semakin tinggi, meninggalkan Taeyang yang menatapnya dengan wajah shock.
Kris terbang sambil mendekap namja yang dipastikannya adalah Tao, karena tadi ia sempat mengatakan 'rumahku'. Mengabaikan berontakan dari namja bermata panda di dekapannya, Kris bertanya padanya dengan nada datar.
"Namamu Huang Zi Tao?."
"Ya, dan aku tak mengenalmu, jadi cepat lepaskan aku." Zi Tao kembali memberontak
"Oh, kau yakin mau kulepaskan?" tanya Kris masih dengan nada datar.
Zi Tao menatap kebawah dan ia sadar ia tak mungki meminta untuk dilepaskan sekarang juga, kecuali jika ia ingin menamatkan riwayatnya dengan segera. Tanpa sadar, Zi Tao bergidik melihat betapa tingginya keberadaannya sekarang.
Kris tetap memasang tampang datar andalannya, padahal sebenarnya kalau kau bisa menerawang jauh ke dalam hatinya, ia sedang terkikik geli melihat ekspresi Tao yang sangat menggemaskan一menurutnya一itu.
Akan tetapi keduanya tidak sadar, ada seseorang yang tadi sempat melihat kejadian di rumah Zi Tao.
ChenMin Side
"Kim Min Seok. Umur 20 tahun. Street 1057 Number 79." gumam Chen mengingat-ingat isi kertas identitas sasarannya sembari melangkah pelan.
"Street 1055. Street 1056. Street 1057" Chen lalu melangkahkan kakinya ke jalan yang terakhir digumamkannya barusan.
"Number 78. And there it is, Number 79." gumam Chen lagi. Namun ketika ia hendak memasuki pagar rumah itu, keberadaan sesosok namja yang berdiri di halaman rumah itu membuatnya mengurungkan niatnya dan segera menunduk menyembunyikan dirinya dibalik pagar rumah itu.
"Sial, kenapa pula orang itu berjaga disana? Bagaimana aku bisa mendapatkan sasaranku? Aarggh.." Chen mengacak rambutnya fruatasi. Ia lantas menendang kerikil-kerikil kecil disampingnya untuk melampiaskan kekesalannya.
Tiba-tiba, sebuah ide melintas di kepala Chen. Maklum, ia kan mantan anggota Smartech, jadi otaknya dipastikan dapat berputar dengan lancar. Chen mengambil segenggam penuh kerikil-kerikil kecil, lalu melemparkannya tepat mengenai kaca jendela rumah yang ada di seberang rumah bernomor 79 itu sembari berteriak menirukan suara perempuan yang berteriak.
"Siapa kau, orang asing?"
Taeyang langsung mengalihkan perhatiannya dan melangkah cepat ke sumber suara tanpa menyadari Chen yang masih bersembunyi di balik pagar. Memanfaatkan keadaan, Chen langsung berlari ke halaman rumah itu dan mengetuk pintunya tak sabar.
KLEK
Dan muncullah seorang namja berpipi chubby yang memasang wajah ketakutan melihatnya.
"Si-Siapa k-kau? Apa k-kau akan menculikku juga se-seperti namja tinggi tadi?" ucap namja chubby itu dengan suara bergetar yang memperjelas ketakutannya.
"Namja tinggi?" gumam Chen bingung. "Oh, apakah kau Kim Min Seok?" sergah Chen cepat. Ia harus bertindak cepat. Ia tidak mau dijadikan makanan ular raksasa. Hii.. Membayangkannya saja membuatnya bergidik.
"I-Iya. Kim Min Seok." jawab namja manis itu. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Chen langsung menariknya pergi.
"Kumohon jangan berteri一"
" AAAAAA!"
"一ak. Aissh, sial."
Taeyang yang sedari tadi memperhatikan rumah yang kaca jendelanya pecah akibat ulah Chen, refleks membalikkan badannya dan berlari menghampiri Chen Dan Min Seok. "Berhenti disana!" seru Taeyang.
Namun Chen tetap berlari membawa Min Seok, tak menghiraukan seruan Taeyang yang kini sudah mengeluarkan pistol yang Chen yakini adalah pistol bius sambil tetap berlari mengejar mereka berdua. Dan tepat ketika Taeyang menarik pelatuk pistol itu, Chen dan Min Seok sudah berbelok duluan memasuki sebuah gang sempit. Sesampainya kedua namja itu di dalam gang tersebut, tampaklah delapan orang namja disana.
"Urusan kita selesai. Ayo pulang." ujar Kris. Ia baru saja hendak mengeluarkan sesuatu dari sakunya ketika tiba-tiba Taeyang datang dengan pistol bius yang masih setia bertengger di tangannya.
"Yah, aku lupa memberitahumu kalau orang ini mengejarku, Kris hyung."
Kris refleks melangkah maju, membuat ia berada di posisi paling depan dari gerombolan namja yang kini berada di belakangnya.
"Hai." sapa Taeyang singkat dengan seulas senyum mengerikan terukir di wajahnya. Ia sudah bersiap menarik pelatuk pistolnya kembali jika saja sebuah suara tidak kembali mengusiknya.
"Oh hei, tahan dulu, Taeyang."
Taeyang mendesah kecewa ketika untuk kedua kalinya, aksi menembaknya dibatalkan. "Ini namja-namja asing yang kau minta, Header." ucap Taeyang sembari membungkuk sopan pada G-Dragon yang baru saja datang.
"Greetings, Wizariords." Semua namja yang ada di dalam gang itu membulatkan mata mereka kaget kecuali Kris.
"Mau kau apakan pistol portal itu, Kris?" Ia menyeringai sejenak melihat namja-namja dibelakang Kris yang kembali memasang ekspresi terkejut. 'Sejak kapan Header Unablow mengenalinya?' batin mereka.
"Silahkan letakkan pistol portal itu ditanah. Jangan macam-macam. Seandainya kau menembakkan pistol itu, maka aku akan ikut masuk ke dalam portal juga.." ancamnya masih dengan seringaiannya.
Kris langsung melaksanakan perintah itu tanpa membantah sama sekali. Mereka tak mempunyai pilihan lain. Gang buntu itu sangat sempit, dan sialnya lagi tubuh G-Dragon dan Taeyang menghalau jalan masuknya. Bertarung? Yang benar saja. Mereka tidak membawa senjata apapun, sementara Taeyang sudah mengarahkan pistol bius ke arah mereka untuk menjaga agar mereka tidak memberontak.
"Kalian masih membawa orang, atau mungkin menculik orang dengan cara yang sama, eoh? Kuno sekali." lanjutnya, "Taeyang, Daesung, bawa mereka ke ruanganku."
Seorang namja yang lainnya masuk ke gang dan bersiap bersama Taeyang untuk mengikat Kris, Suho, Chen, Jongin, dan Sehun yang nampak pasrah.
"Bersiaplah menjadi makanan Golbang. Kekeke.." kekeh Taeyang, mengabaikan tatapan horror yang dilayangkan kawanan Kris padanya.
'Tamatlah riwayat kita.'
.
.
.
To Be Continued
Author's Note :
Chapter 2 update! Gimana hasilnya? Mianhae kalau mengecewakan T-T. Yah, kemampuan saya masih segitu. Terima kasih bagi yang sudah bersedia membaca. Saran dan kritik diterima dengan senang hati asalkan menggunakan bahasa yang sopan ^^
Last but not least,
Mind to leave your review below?
