My Husband Is Park Chanyeol
Chanbaek
M
.
.
.
"Eomma, aku akan pergi sebentar!"
Baekhyun berlari dengan cepat menuruni tangga dan segera menghampiri eomma-nya dengan senyum yang mengembang.
"Semangat sekali. Pergi kemana? Dan, dengan siapa kau pergi?"
"Aku akan pergi ke suatu tempat bersama paman Chanyeol. Tadi dia sudah berjanji akan mentraktirku. Bye eomma"
"Jangan pulang terlalu malam!"
Baekhyun tersenyum, menyempatkan menyium kening eomma-nya sebelum ia kembali berlari keluar dari rumahnya dan memasuki mobil yang sudah menunggunya. Bukan, itu bukan mobil Chanyeol, bukankah Baekhyun yang mengatakan akan kerumah Chanyeol? Maka itu, itu adalah mobil keluarganya, dan ada seorang supir yang mengantarnya. Kalian ingat kan kalau Baekhyun itu tidak tahu jalan?
"Paman, apa Chanyeol sering datang ke rumah eomma?"
Baekhyun bertanya, memasukkan ponselnya kedalam kantong dan menunggu Jung paman menjawab pertanyaannya. Baekhyun dapat melohat lelaki paruh baya tu tersenyum, meliriknya dari spion dan mengangguk beberapa kali membuat Baekhyun membuka mulutnya membentuk 'o'.
"Beberapa kali dalam seminggu untuk bertemu ayahnya atau hanya sekedar main dan mengantarkan barang-barangmu yang menumpuk dirumahnya."
"mwo? Ah, aku mengerti itu. Tapi, apa menurutmu Chanyeol adalah lelaki yang baik? Dia terlihat membosankan untukku. Dia terlalu dingin dan membosankan, tapi kenapa para yeoja tergila-gila padanya? Padahal aku jauh lebih keren darinya."
"Dia memang dingin, tapi percayalah kalau dia bukan namja yang seperti kau bayangkan. Dan kenapa para gadis tergila-gila padanya aku kurang tahu mengapa, tapi aku sering mendengar para gadis mengatakan kalau Chanyeol itu sangat keren dan berkharisma. Tapi dibalik itu semua, ia adalah namja yang luar biasa baik dan berbakti kepada orang tuanya."
Baekhyun mengangguk, sedikit tercengang mendengar apa yang dikatakan Jung Ahjussi. Ia tak begitu mengerti maksudnya, tapi setidaknya ia sedikit mengetahui lebih dalam siapa itu paman-nya.
"Pasti mendiang nenek Park sangat bangga padanya. Huh, andai aku bisa seperti paman Chanyeol yang bisa membahagiakan banyak orang"
"Kau tak perlu menjadi Chanyeol, kau hanya perlu menjadi dirimu sendiri untuk bisa membuat orang lain tersenyum"
"Tapi apa yang bisa kulakukan? Aku hanya bisa merengek pada eomma dan juga kakek. Apa itu yang dinamakan membuat orang lain bahagia? Aku malah membuat mereka marah-marah"
Baekhyun mempoutkan bibirnya, menyandarkan dengan malas tubuhnya dan mengalihkan pandangannya keluar jendela.
"Tidak juga, kau bisa membuat semua orang tersenyum dengan dirimu sendiri. Aku, , eomma-mu bahkan Chanyeol pun selalu tersenyum saat melihat dirimu yang begitu menggemaskan. Jangan pernah meragukan dirimu sendiri Baek, Kami semua menyayangimu walau kau tak mengetahuinya."
"A-aku…."
"Sudah sampai! Lihatlah, Chanyeol sedang melambai dan tersenyum padamu! Bahkan hanya dengan melihatmu ia tersenyum begitu lebar, bukan Chanyeol yang biasanya."
"K-kalau begitu aku turun dulu. Terimaksih sudah mengantarku paman"
"Tak masalah. Apa aku harus menjemputmu juga?"
"Tak perlu, aku akan meminta Chanyeol paman mengantarku pulang nanti!"
Baekhyun tersenyum, berlari kecil dengan penuh semangat menhampiri Chanyeol yang sudah berdiri disamping mobilnya.
"Apa aku datang terlambat?"
Chanyeol melirik jam tangannya, mengerutkan keningnya dan menatap Baekhyun dengan wajah datarnya.
"Kurasa aku yang terlalu cepat!"
"Baiklah, sepertinya paman yang terlalu bersemangat sekarang!"
"Ckck, yasudah ayo naik. Kita harus berangkat dengan cepat dan pulang dengan cepat pula"
"Ne!"
.
.
.
"Jangan pesan yang macam-macam! Ingatlah usiamu!"
Baekhyun mengangguk, berlari kecil menuju mini bar yang terdapat didalam Club malam yang ia kunjungi bersama Chanyeol. Dengan berbekal kartu pengenal milik Chanyeol ia memesan beberapa botol alkohol tanpa berpikir panjang.
Awalnya ia benar-benar tak menyangka kalau Chanyeol akan menuruti keinginan anehnya ini, mengingat usianya yang masih sangat belia. Namun nyatanya Chanyeol bahkan tak melarangnya nanun dengan pengawasannya tentu saja.
"Paman~ mari habiskan ini semua!"
"M-mwo? Banyak sekali, siapa yang akan menghabiskannya?"
Chanyeol menegakkan tubuhnya seketika, menatap tak percaya pada Baekhyun dan juga beberapa botol alkohol ditangan namja manis itu secara bergantian.
"Tentu saja kau! Aku hanya akan menonton dan menyemangati!"
Baekhyun terkekeh, menuang dengan perlahan minuman itu kedalam gelas yang sudah tersedia disana. Ia tersenyum dengan sangat manis dan memberikan gelas pertamanya pada chanyeol yang dihadiahi tatapan tajam dari namja tampan itu. Tapi Baekhyun tak terlalu memperdulikannya, ia mengambil satu lagi gelas dan menuangkan alkoholnya lagi.
"Jadi seperti ini pergaulanmu selama di Paris?"
"Kurasa! Tapi disana jauh lebih mengerikan ketimbang ini"
"Apa kau juga ikut-ikutan?"
"Tidak, aku hanya melihat mereka minum-minum dan melakukan hal intim. Selebihnya aku hanya mengikuti kemana teman-temanku pergi! Hmm, waktu itu aku juga pernah mencoba untuk minum. Tak sampai satu gelas dan aku sudah tak sadarkan diri hingga berakhir dirumah sakit selama 2 hari!"
Baekhyun bercerita, memutar gelasnya tanpa niat untuk menenggak isinya. Ia masih membayangkan bagaimana ia dulu berusaha meminum alkoholnya hingga berakhir di Rumah sakit.
"Kau dirawat dan kau tidak memberitahuku sama sekali?"
"Oh ayolah paman, aku baik-baik saja! Tidak perlu khawatir!"
Chanyeol tak peduli, ia terus menatap baekhyun dengan tatapannya yang tajam hingga Baekhyun yang menyadari tatapan itu hanya terkekeh sambil meletakkan gelas yang sedari tadi ia pegang dan menambil botol alkoholnya untuk diminum secara langsung tanpa gelas. Chanyeol yang melihatnya pun segera menenggak alkohol yang ada ditangannya, dan dengan segera ia merebut botol yang dipegang erat oleh Baekhyun.
"Sudah, kau tidak boleh minum terlalu banyak! Aku tak ingin kena tampar eomma-mu karena mengajakmu ke tempat seperti ini!"
"Paman~ kepalaku pusing!"
"See? Bahkan belum sampai setengah botol minum kau sudah mabuk seperti ini? Kau buruk dalam hal ini Baekhyun!" Chanyeol mengangkatnya, menggendong Baekhyun bagaikan seekor koala dengan dagu namja manis itu yang bersandar dengan nyaman di bahu Chanyeol.
"Aku tidak mau pulang! Kepalaku benar-benar ughh menyebalkan."
Beberapa orang disana menoleh dengan terkejut saat Baekhyun berkata dengan suara yang cukup kencang. Chanyeol pun yang sedikit terkejut langsung melepaskan gendongan Baekhyun hingga namja manis itu turun dari gendongannya. Ia malah kembali ketempatnya semula dan kembali menenggak alkoholnya.
"Ayo pulang!"
"Aku tidak mau hik!"
"Aku akan menciummu kalau kau tidak mau pulang!"
"Silahkan, paman pikir aku takut? Tidak akan jika itu hanya sebuah ciuman!"
Baekhyun menyeringai, mengabaikan Chaneyeol yang mengusap wajahnya frustasi disebelahnya.
"Pulang! Aku tidak akan menciummu!"
Dan sekali lagi, dengan sisa tenaganya ia mengangkat Baekhyun dan berjalan dengan tergesa agar namja manis itu tidak protes lagi.
"Pakai seat belt-mu!"
"Ani! Paman duduk bersama Baekkie ne?"
"A-aku tidak bisa! Aku harus mengemudi!"
"Yasudah, kalau begitu biar Baekkie yang duduk bersama paman!"
Chanyeol terkejut, ingin sekali rasanya meneriaki Baekhyun yang benar-benar menyebalkan saat ini. Bisa-bisanya namja manis itu melompat kedalam peluknya dengan tiba-tiba dan melingkarkan kakinya diperut Chanyeol.
"Jja, aku ingin pulang~"
"Tadi kau bilang tidak ingin pulang" gerutu Chanyeol sambil membuka pintu dan duduk dikursi kemudi.
"Let's go~"
Dan itu semua berakhir dengan Baekhyun yang terlelap dalam pangkuan Chanyeol. Sebenarnya Chanyeol benar-benar kesulitan menyetir dengan kondisi seperti ini, beberapa kali keningnya berbenturan dengan kening Baekhyun. Bahkan tak jarang bibirnya harus menempel dengan permukaan halus leher Baekhyun.
.
.
.
Dugh
"Ah! S-sakit paman! Ahh~"
Chanyeol lagsung saja membulatkan matanya terkejut saat baekhyun memeluk lehernya dengan sangat erat. Namja manis itu bahkan terus saja bergerak gelisah dipangkuan chanyeol. Membuat Chanyeol makin membulatkan matanya makin lebar karena lelaki manis itu baru saja menduduki kejantanannya dan dengan segera pun Chanyeol langsung mematikan mesin mobilnya.
"Arrgh~ Baekhyun! S-sudah cukup! A-aku sudah tidak tahan!"
Chanyeol membuka pintu mobilnya dengan kasar, menutupnya pun demikian. Ia berjalan dengan tergesa memasuki kediaman Baekhyun, dan langkahnya hampir saja membuatnya terjatuh karena berhenti dengan tiba-tiba didepan ruang makan saat melihat Ayah dan juga kakak tirinya sudah berkumpul dimeja makan.
"Apa yang harus aku katakan?"
Ia menggigit bibirnya khawatir, ia tak bisa terus berjalan karena bingung harus mengatakan apa pada ayah dan kakaknya mengenai Baekhyun yang masih terlelap didalam gendongannya.
"Chanyeol! Kalian sudah pulang"
Shit,
Chanyeol kembali merutuk, ia menangguk pada kakaknya dan juga ayahnya yang memperhatikannya dari kejauhan.
"B-bisakah aku mengantar Baekhyun ke kamarnya?"
"Kenapa dengan cucuku? Kau tidak melakukan hal yang macam-macam kan?"
"T-tentu saja ayah! Mana mungkin"
"Ada apa dengan Baekhyun?" Kali ini kakaknya, yeoja cantik yang menjabat sebagai kakak tirinya itu melangkah mendekat menghampiri Chanyeol yang masih mematung didepannya.
"D-dia hanya ketiduran! Aku benar-benar lelah menggendongnya seperti ini! Biarkan aku membawanya kekamarnya dulu!"
"Y-yasudah!"
Dan sebelum wanita itu mencium bau alkohol di tubuh keduanya, Chanyeol sudah buru-buru menaiki tangga menuju kamar Baekhyun.
.
.
.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" Ayahnya mengintrupsi, memecah keheningan di ruang makan yang hanya berisikan mereka bertiga.
"Tidak ada, aku hanya mengajak Baekhyun jalan-jalan dan dia tiba-tiba saja tertidur saat perjalanan pulang!" Jawab Chanyeol setenang mungkin.
"Sungguh? Tidak ada yang lain?"
"T-tentu saja!"
"Seius Chanyeol! Wajahnya terlihat memerah tadi, kau apakan dia?" Wanita dengan marga Byun itu bertanya dengan penasaran. Wajahnya terlihat cukup menggemaskan untuk wanita berumur seusianya.
"Kau pikir aku bercanda? Aku sungguhan noona! Aku selesai, kalian benar-benar membuat selera makanku menghilang."
Chanyeol bangkit dari duduknya, meletakkan dengan kesal sendok yang sedari tadi berada ditangannya. Sedikit lega menyadari sudah tak akan ada yang menuduhnya macam-macam karena ia sudah menjauh dari dua orang itu.
.
.
.
Chanyeol berbaring di ranjannya setengah jam setelah aksinya merajuk dimeja makan. Sedari tadi ia memang sudah berada didalam kamarnya, merutuki nasib buruk yang selalu menimpanya belakangan ini. Kena marah ayahnya, perusahaan yang mengalami sedikit krisis sejak ia menjalin hubungan bersama Sandara. Bukan Sandara yang memakan saham perusahaan, Chanyeol mengakuinya, mengakuinya kalau selama ia menjalin hubungan dengan Sandara ia mengabaikan pekerjaannya begitu saja karena yeoja itu yang meminta untuk selalu bersamanya.
Tak hanya disitu, bahkan setelah Chanyeol memberikan semuanya pada Sandara ini yang ia dapatkan. Bukan balasan yang baik, hanya sebuah sakit yang mendalam hingga Chanyeol sendiri bingung bagaimana mendeskripsikannya. Ditinggalkan oleh gadis yang ia cintai bersama harta yang berhasil gadis itu curi darinya. Hingga kini ia harus menyandang status sebagai suami pura-pura dari namja manis berusia 18 tahun yang telah berkorban sangat banyak untuknya. Siapa lagi kalau bukan Baekhyun? Keponakannya yang sangat manis dan menggemaskan.
Sebenarnya Chanyeol tak menyesal jika ia harus menikah dengan Baekhyun kemarin. Baekhyun cantik, manis, menggemaskan, dan tubuhnya? Jangan ditanya, tubuhnya tak kalah menggiurkan daripada yeoja. Bahkan dulu mereka sangat sering untuk pergi mandi bersama.
Tapi bukan itu yang membuat Chanyeol tak menyesal, hatinya. Hatinya mengatakan kalau ia harus benar-benar bersyukur memiliki Baekhyun. Ia mungkin pernah memiliki perasaan 'itu' terhadap Baekhyun. Namu itu dulu, saat Baekhyun masih tinggal di Korea dan mereka masih sering untuk tinggal bersama. Dan itu semua berakhir saat ayahnya meminta Baekhyun untuk melanjutkan studi-nya di Paris. Membuat Chanyeol uring-uringan selama beberapa hari hingga Baekhyun sendiri bingung dengannya.
Sejak saat itu Chanyeol selalu mencoba untuk membuang perasaannya bersama Baekhyun, mendekati Sandara dan menjadi normal demi Baekhyun. Semuanya berjalan begitu saja, hingga ia tak sadar kalau ia telah merasa normal sungguhan bersama Sandara. Namun rasanya kenormalan itu akan berakhir sebentar lagi karena Baekhyun sudah kembali ke sisinya.
"Arrght! Menyingkirlah sialan! Jangan dekati aku!"
Chanyeol menggeram, menarik selimut tebal hingga menutupi seluruh tubuhnya yang hanya terbalut boxer yang hanya menutupi sampai pahanya.
"P-paman? Kau mengusirku?"
Kepalanya mengintip dari balik selimut, mendapati Baekhyun yang berdiri disamping pintunya dan mematung disana. Sebuah kemeja putih kebesaran yang tiga kancingnya dibiarkan begitu saja dan juga bantal berwarna biru muda yang berada didalam dekapan Baekhyun sukses membuat mata Chanyeol membola saat itu juga.
"S-sejak kapan kau disana?"
"Baru saja. Saat paman menggeram dibalik selimut seperti tadi!"
"m-mwo? Apa yang kau lakukan Baek?"
"Paman~ tidur bersamaku ne? Aku takut!"
Chanyeol masih membulatkan matanya sambil sesekali bergerak menjauh dari Baekhyun yang baru saja menaiki ranjangnya. Ia beberapa kali mendorong Baekhyun agar menjauh dengan tangannya yang memegangi selimutnya agar Bekhyun tak dapat melihat tubuhnya.
"Tidurlah di kamarmu sendiri!"
"Aku takut! Paman tega membiarkanku menangis sendirian dikamar? Disana gelap sekali, eomma sepertinya lupa memperbaiki lampunya."
"Huh, tidurlah! Aku akan ti-"
"Terimakasih pam- ah maksudku suamiku!"
Baekhyun terkekeh setelah berhasil memeluk Chanyeol yang kini wajahnya sudah memerah. Padahal ia baru saja hendak bangkit dan tidur di sofa membiarkan Baekhyun terlelap diranjangnya. Namun itu semua harus diurungkan karena Baekhyun sudah memeluknya dengan erat sambil membenamkan wajahnya didada telanjang Chanyeol. Chanyeol akhirnya bisa menetralkan kembali detak jantungnya yang berdegup cukup cepat beberapa saat yang lalu. Ia tersenyum sangat tampan memperhatikan wajah Baekhyun yang terlihat sangat menggemaskan walau dengan cahaya yang remang karena Chanyeol hanya menyalakan lampu diatas nakasnya.
"Jadi paman tidak ingin tidur? Ingin memperhatikanku sampai kapan?"
"Ck, kau masih mabuk! Jadi tidur saja, aku akan menemanimu!"
"Mabuk? Aku tidak mabuk paman, hanya kepalaku saja yang terasa sangat berat"
"Apa bedanya?"
"Jelas itu berbeda!"
"Baiklah~ Sekarang tidur!"
Baekhyun mengangguk, menyamankan pelukannya pada tubuh hangat Chanyeol yang kini menempel pada tubuhnya. Ia tidak tertidur, hanya memejamkan matanya karena merasa nyaman saat ia memeluk Chanyeol.
Ia benar-benar merindukan saat-saat seperti ini, saat-saat bersama Chanyeol beberapa tahun yang lalu. Ia tak bisa melupakannya, bagaimanapun ia juga merasa sangat bahagia kala itu. Ia merasa bahwa ia adalah manusia paling beruntung karena memiliki paman yang benar-benar sayang dan juga mengerti dirinya.
"Berhenti terseyum dan tidurlah Baekhyun!"
"Paman masih memperhatikan wajahku?"
Baekhyun membuka matanya, mengangkat kepalanya hingga matanya dan mata Chanyeol dapat beradu pandang saat itu juga. Mendapatkan senyuman lembut dan juga menawan dari pamannya sendiri yang kini secara tak langsung telah menjadi suaminya.
"Paman tidak memeluku?"
"Sudah!" Chanyeol melingkarkan tangannya di pinggang Baekhyun sesuai keinginan namja manis itu. "Apa lagi sekarang?"
"popo~"
"Popo?"
"ne! Paman adalah suami Baekkie sekarang. Ayo berikan Baekkie popo!"
"Oh, baiklah!"
Baekhyun memejamkan matanya seketika, memamerkan senyum manisnya dengan tangan yang memegangi bahu Chanyeol dengan erat.
Chanyeol menarik nafasnya sejenak, memperhatikan Baekhyun saat ini benar-benar membuatnya merasa gugup. Namja itu terlihat sangat manis dimata Chanyeol, bulu matanya yang panjang, hidungnya yang mungil, pipinya yang lembut bak seorang bayi, dan jangan lewatkan bibirnya yang tipis dan berwarna merah muda itu.
Ciumannya jatuh pertama kali diatas permukaan kening Baekhyun, dengan perlahan dan dalam Chanyeol memberikan beberapa kali kecupan disana. Kedua pipi putih Baekhyun pun tak terlewatkan, membuat si pemilik tersenyum makin lebar dan mengeratkan pegangannya di bahu Chanyeol.
Chanyeol membuka kedua matanya perlahan, merasa terhipnotis saat matanya langsung berhadapan dengan bibir Baekhyun yang terlihat sangat menggiurkan. Namja tampan itu menjilat bibirnya secara tak sadar, mengubah posisinya menjadi menindih Baekhyun hingga Baekhyun sendiri terkejut dan langsung membuka kedua matanya.
"P-paman? A-apmmptthh"
Chanyeol mejatukan ciumannya dibibir Baekhyun, menuntun tangan Baekhyun yang tadi memegangi bahunya menjadi melingkar di lehernya.
Lumatan-lumatan kecil terjadi begitu saja kala Chanyeol makin memperdalam ciumannya, membuat Baekhyun berkali-kali mengangkat tubuhnya menahan rasa geli yang ia rasakan. Bahkan saat detik berubah menjadi menit pun Chanyeol masih enggan untuk melepaskan ciumannya. Tadinya ia tak memperdulikan Baekhyun yang wajahnya sudah merah padam itu, namun saat merasakan pukulan yang cukup keras pada punggungnya ia cukup mengerti bahwa Baekhyun sudah kehabisan nafas karenanya.
"Hosh,,paman, kauhh benar-benar k-kurang ajar!" Baekhyun tekekeh, mengulurkan tangannya untk menghapus bulir keringat yang ada dipelipis Chanyeol.
Chanyeol menyeringai, mengangkat sebelah alisnya melihat Baekhyun yang tersenyum sangat manis padanya. Dan saat baekhyun menarik kembali kepalanya agar mendekat, ia malah memilih untuk membenamkan kepalanya dileher Baekhyun. Memberikan kecupan-kecupan ringan dileher mulus milik Baekhyun hingga dadanya.
"P-paman, j-jangan!"
Chanyeol membuka matanya seketika, menjauhkan kepalanya dari dada Baekhyun yang baru saja ia berikan sebuah kissmark yang cukup kentara.
"M-maaf, maafkan aku Baek! Aku benar-benar tidak sengaja!"
Ia menjauh dengan wajah terkejutnya, bangkit dari atas tubuh Baekhyun dan menatap tak percaya ke arah baekhyun yang kini terlihat sangat menggoda dengan kemejanya yang sudah tak terancing hingga menampakkan underwear hitam yang dikenakan namja manis itu.
"Sungguh! Maafkan aku!"
"Paman?"
"Maaf, aku tak sengaja!"
"T-tak apa!"
"Sungguh, itu diluar kendali. Aku,,, maafkan aku! Sebaiknya kau tidur! Aku akan tid-"
"Tak apa Paman, aku mengerti!"
Baekhyun bangkit dari posisinya, memegangi lengan Chanyeol yang kini masih menampakkan wajah terkejutnya.
"Ayo kita tidur! Ini sudah malam paman!"
"N-ne! Sekali lagi maafkan aku!"
Baekhyun tersenyum, memperhatikan Chanyeol yang sudah berbaring membelakanginya dengan selimut yang menutupi sampai pinggang namja tampan itu.
Tak lama setelahnya Baekhyun pun membaringkan tubuhnya dan menaikan selimut yang membungkus tubuh Chanyeol sebelum ia berbaring dan memeluk Chanyeol dari belakang.
"Bukankah paman tadi berjanji akan menemaniku?"
Chanyeol mendengarnya dengan sangat jelas, ia dapat merasakan hidung Baekhyun yang bergesekan dengan punggungnya walau sangat pelan.
Mau tak mau pun ia membalikan tubuhnya, menghadap Baekhyun dan membiarkan namja manis itu membenamkan wajah manisnya di dadanya. Tangannya terangkat secara pelahan untuk memeluk baekhyun, walau awalnya ia ragu-ragu, namun akhirnya ia dapat melinggkarkan tangannya di pinggang ramping Baekhyun.
'jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu lagi' batinya menggumam sebelum ia memejamkan matanya.
.
.
.
"BAEKHYUN BANGUNLAH! KAU MELEWATKAN SARAPANMU! EOMMA DAN KAKEKMU SUDAH MENUNGGUMU SEDARI TADI! CEPAT BANGUN ATAU EOMMA TIDAK AKAN MEMBERIMU MAKAN SEHARIAN INI!"
TOKTOKTOK
Baekhyun memegangi tangan yang semalaman ini memeluk pinggangnya, ia tak tahu kalau ia akan dihadiahi kecupan di kening hanya dengan memegangi tangan seperti itu. Ia menyingkirkan tangan itu, mengancingkan dua kancing terbawah kemeja yang ia kenakan sebelum melangkah untuk membukakan pintu.
"Aku sudah bangun eomma!"
"Baekhyun? Kau berada di kamar Chanyeol?"
Baekhyun membuka matanya secara paksa, menoleh kearah eommanya yang tengah berdiri didepan pintu kamarnya yang memang berada disamping kamar Chanyeol.
"Apa yang kau lakukan dikamar Chanyeol?"
"A-aku? Kamar paman?"
Baekhyun memutar kepalanya, memastikan dengan sendirinya tentang apa yang dikatakan eomma-nya.
"Baekhyunnie~ kakek benar-benar merindukanmu! Ayo ke- kenapa kau berada dikamar Chanyeol?"
"A-aku tidak tahu!"
Baekhyun menunduk, menyilangkan tangannya didepan dada dengan kepala yang menunduk.
"Apa-apaan dengan pakaian itu? Katakan pada eomma, darimana kau mendapatkannya?"
"A-aku tidak tahu eomma~ Aku,,,a-aku benar-benar tidak tahu~hiks"
"Jangan menangis!" Pekik eomma-nya dengan mata yang membulat terkejut.
"Jangan memarahinya seperti itu! Baekhyun, coba kau jelaskan pada kakek yang sebenarnya terjadi!"
"Sudah kukatakan kalau aku tidak tahu hiks, semalam lampu kamarku mati dan,,,, aku tidak tahu lagi"
"Kenapa kalian berisik sekali? Apa yang kalian ributkan?"
Chanyeol yang merasa terganggu dengan keributan yang ada didepan kamarnya pun turun tangan dan menghampiri Baekhyun yang masih berdiri diambang pintu kamarnya.
"Mwo? Kemana pakaianmu? Apa yang sudah kau lakukan pada anakku?"
"Melakukan ap- Ya tuhan!"
Semuanya terdiam dengan mata yang membulat, bahkan seorang namja yang baru saja datang dan menghampiri keributan didepan kamar Chanyeol pun ikut terkejut saat memahami yang terjadi disana.
"Whoah, Daebak brother!"
TBC.
Anyyeong gaes~
DijaminMasihPerawan : Makasih udah koreksi^^ iya aku juga baru inget. Udah aku ubah semuanya kok^^ makasih udah baca FF-ku^^
Makasih buat review di Chap sebelumnya, aku udah baca tapi belum bisa bales buat sekarang... mian
Tapi sekali lagi makasih, review kalian itu bikin semangat waktu nulis ff hehe.
Review Juseyo~
