THE WAY
Harry Potter dan seluruh seluk beluknya adalah milik JK Rowling. Namun fanfiction ini adalah buatan saya. No copy paste, no plagiarism.
Warning : modif canon, femHarry, typho bertebaran, dikhawatirkan penulisan ada yang tidak sesuai dengan kaidah ejaan yang disempurnakan, ada kemungkinan beberapa tokoh mengalami OOC incidental maupun permanen, diusahakan tidak memunculkan OC, dimungkinkan ada beberapa hal yang kurang pas dikarenakan pengetahuan saya mengenai Harry Potter yang masih sangat minim, cerita kurang menarik dan membosankan, dan lain-lain.
Di sisi lain dalam rumah itu, tiga remaja tengah berdiskusi kelewat serius. Tidak ada candaan, kata-kata konyol atau tawa yang biasanya menghiasi wajah mereka saat bercengkrama bersama. Ketiga remaja itu, Harry, Hermione, dan Ron, tiga remaja bersahabat yang biasa disebut sebagai trio emas Gryffindor kini tengah membicarakan rencana penyusupan ke Gringgots dan sabotase brankas Bellatrix Lestrange yang dicurigai menyimpan sebuah horcrux milik Dark Lord.
"Kau yakin ramuan polyjusmu itu akan sempurna, 'Mione?" entah sudah berapa hitungan pertanyaan berbalut kecemasan itu meluncur dari bibir Ron. Sebagai sahabat sekaligus kekasih, Ron sangat merasa keberatan akan keputusan gadis itu. Tapi ia juga tidak bisa memberikan ide lain untuk rencana besar dan berbahaya ini.
"Ron, bahaya itu adalah bagian dari hidup kita sekarang. Kuharap kau mengingatnya baik-baik. Dan juga, kau bisa mengandalkan 'Mione. Sekarang pertanyaannya tinggal satu, bisakah kita percaya pada Griphook?" suara Harry merendah saat membicarakan goblin yang sekarang tengah beristirahat di salah satu kamar dalam Shell Cottage.
"Aku tidak terlalu percaya kepadanya, Harry. Sebaiknya kita membuat rencana cadangan untuk mengantisipasi seandainya rencana kita mengalami masalah," usul Hermione.
"Dobby, tapi aku tidak terlalu yakin dengan kondisinya," desis Harry sambil memandang bergantian kepada kedua sahabat karibnya.
DLMXHJP
Draco terbangun terlalu malam. Ini masih dini hari, namun ia sudah mulai terbiasa untuk begadang sesudahnya, menyambut pagi dengan sisa mimpi buruk yang parah akhir-akhir ini. Tentang orang-orang tak bersalah yang harus terkorbankan, tentang ketakutannya sendiri, dan tentang nasibnya dan kedua orang tuanya.
Pemuda itu mengusap wajahnya kasar. Ia merasa frustasi dan tertekan untuk semua yang harus ia tanggung sekarang. Pikirannya melayang, membalik ke masa beberapa tahun yang lalu, awal-awal ia bersekolah di Hogwarts. Semua terasa begitu menyenangkan, bahkan permusuhannya dengan Harry Potter dan para Gryffindor serta semua detensi yang pernah ia alami saat itu membuatnya merasa jauh lebih baik ketimbang apa yang ia hadapi sekarang.
Bila boleh berandai, Draco ingin semua kekacauan ini berakhir. Ia ingin dunia yang damai untuk ditempatinya dengan penuh kebahagiaan. Menghabiskan semua waktunya untuk hal-hal menyenangkan, jauh dari teror dan bayang-bayang perang. Meskipun detik berikutnya, ia merasa menjadi orang paling tidak waras sedunia hanya untuk sempat berfikir tentang imajinasi indah tersebut.
Selama beberapa saat, Draco hanya termenung. Otaknya terasa begitu kosong akan ide. Ia benar-benar merasa berada di situasi yang tidak dapat ditolelir oleh akalnya. Kemudian kilatan-kilatan memori tentang kepala sekolahnya entah bagaimana tiba-tiba bermunculan, ia sendiri merasa hal itu sangatlah aneh.
'Kalau kau mau, kau bisa membuat perubahan,' sebuah suara yang diyakininya milik pria tua itu tiba-tiba menggaung di pikirannya. Draco ingat, sebuah pembicaraan singkat di akhir musim semi tahun kelimanya di Hogwarts, sebelum ia benar-benar menyatu dengan pendukung Dark Lord. Saat itu Draco tengah meminta ijin untuk pulang ke manornya di tengah jadwal sekolah yang padat untuk menghadiri sebuah acara turun temurun keluarganya, yang bahkan itu hanya kebohongan untuk sebuah rencana besar Lucius.
Dan seperti biasa, sang kepala sekolah selalu punya cara untuk membuat Draco terkagum di tengah ketidaksukaannya kepada pria tua itu. Hanya beberapa kalimat, namun Draco dapat merasakan bahwa itu mengungkapkan betapa sebenarnya Dumbledore sedikit banyak sudah mengetahui keberadaan keluarganya sebagai pendukung kegelapan.
"Perubahan?" gumam Draco sambil menyingkap tanda kegelapan di lengannya dan memandanginya dengan sorot penuh kebimbangan.
"Apa mungkin aku … bisa melakukannya?"
'Dengan jalan Slytherin. Slytherin memang punya cara yang unik, Mister Malfoy. Meskipun kadang dipandang itu adalah cara yang buruk, tapi untuk memperjuangkan kebenaran, kurasa tidak ada jeleknya untuk dicoba. Kau sebenarnya punya hati yang baik, hanya saja kau tidak menyadarinya. Aku bertaruh, kau akan melakukannya kelak,' sebuah kedipan mata di balik lensa berbentuk bulan sabit itu mengakhiri kalimat panjang sang kepala sekolah. Sekelebat ingatan lagi, dan Draco sangat ingat bahwa saat itu ia tetap tidak mengeluarkan satu patah katapun sebagai tanggapan. Alih-alih memberikan komentar, Draco malah berpamitan dan detik berikutnya berjalan meninggalkan ruang kepala sekolah.
"Jalan Slytherin …" kembali sebuah gumaman saat Draco merasakan otaknya kini tengah memberikan suatu gagasan besar untuk dirinya. Sebuah rencana panjang yang sebenarnya ia sendiri kurang yakin untuk melakukannya.
Draco mendudukkan tubuhnya secara kasar, menyebabkan luka di perutnya kembali terasa memanas. Namun semua itu tidak dihiraukannya. Ia terdiam, merenungi dua patah kata yang terucap secara tak sadar dari bibirnya.
"Jalan Slytherin …" gumamnya sekali lagi. Draco menghela nafas panjang.
"Mungkin ini lebih baik kucoba," gumamnya sekali lagi. Tapi mula-mula, ia harus memastikan bahwa ia bisa keluar dari markas Potter secepatnya.
Kemudian otaknya hanya terfokus pada satu hal. Melarikan diri dari markas Potter. Mata Draco menelusur kamar yang ia tempati. Menemukan sosok yang ia cari tengah tertidur di kursi yang ada di sudut ruangan. Mantan peri rumahnya. Dialah satu-satunya harapan Draco untuk kabur.
Pemuda itu berjalan tertatih, menghampiri Dobby yang masih tertidur dengan nyaman. Sedikit menyentak, Draco nyaris membuat Dobby menjerit.
"Dobby, dengarkan aku!"
Mata Dobby membelalak, namun sesaat kemudian ia berhasil memahami maksud Draco. Peri rumah itu kemudian menegakkan tubuhnya penuh atensi untuk mendengarkan Draco.
"Ada apa Draco Malfoy?" tanyanya penuh keingintahuan.
"Kau masih bisa berapparate?" tanya Draco penuh harapan.
"Tentu saja, Draco Malfoy!" lanjut peri rumah itu sambil menatap Draco penuh.
"Dan kau bisa mengambilkan perkamen, pena bulu, dan tinta?" lanjut Draco.
"Tentu saja Draco Malfoy. Tapi untuk apa?"
"Lakukan saja sekarang. Nanti akan kujelaskan!"
DLMXHJP
Dobby hanya menunduk saat serentetan pertanyaan menginterogasinya. Tidak ada pembelaan maupun sanggahan untuk perbuatan yang dirasa salah oleh semua orang di sekitarnya. Tapi Dobby selalu punya alasan untuk melakukan sesuatu. Dia memang peri rumah, tapi dia tidak bodoh. Dia selalu bertindak atas nama nurani dan kebenaran yang ia yakini.
Satu-satunya yang bisa mengerti semua ini hanyalah Harry Potter. Hanya gadis itu saja yang sedari tadi tidak membombardirnya dengan kalimat-kalimat pedas dan bernada menyalahkan. Saat mengetahui perbuatannya, membantu usaha pelarian diri Draco Malfoy dari Shell Cottage, Harry Potter hanya diam. Tidak ada ucapan apapun yang keluar dari mulutnya. Bukan karena semua orang yang juga mulai menyalahkannya atas ide untuk merawat seorang pelahap maut, tapi lebih dari itu, Harry seperti memahami bahwa semua ini pasti ada alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Mungkin Dobby memang tidak bisa mengatakannya sekarang, namun suatu hari nanti, pasti cepat atau lambat ia akan bicara.
Sebagai gantinya, Harry kini terfokus pada selembar perkamen bertulisan rapi yang berada di tangannya. Tanda tangan pembuatnya, Draco Malfoy menegaskan bahwa tulisan itu adalah buah tangan sang pemuda.
Gadis berambut pendek itu menghela nafas dalam saat kembali membaca kalimat ultimatum yang ia yakini pasti akan segera terlaksana cepat atau lambat. Hermione, satu-satunya orang yang mungkin masih bisa berpikir jernih berjalan mendekat. Detik berikutnya, si rambut ikal menyentuh bahu Harry lembut.
"Kau tahu apa artinya ini, 'Mione?" tanya Harry tanpa menoleh sedikitpun ke arah sahabatnya yang sedang turut membaca kalimat bernada mengancam itu.
"Sebaiknya semua yang di sini segera mengungsi. Kalau tidak, kita akan binasa," ucap Hermione lambat-lambat.
"Kau ada ide kita harus ke mana?" tanya Harry, kali ini ia berbalik hingga berhadap-hadapan dengan Hermione.
"Ke mana saja. Yang penting segera. Kita bisa minta tolong Dobby mencarikan lokasi yang aman bukan?" usul Hermione, Harry mengangguk mengerti.
Gadis itu mengumpulkan energinya untuk membuat interupsi.
"Tolong berhenti berdebat," ucapnya sengaja dibuat sekeras mungkin, membuat semua kegaduhan tak lagi terdengar. Tak ada lagi yang berbicara. Bagaimanapun juga dia adalah sang gadis terpilih. Sekesal apapun mereka pada keputusannya yang dirasa merugikan, mereka tetap masih mempunyai toleransi untuk mendengarkan apapun yang akan dikatakannya.
"Kita harus segera melakukan evakuasi. Mungkin aku dan Dobby memang sudah membuat satu kesalahan besar. Tapi evakuasi adalah hal yang paling mendesak sekarang. Setidaknya kalau kita selamat, kita masih punya waktu untuk membahas ini esok," pidato panjang Harry.
Bersambung
Terima kasih untuk anda yang sudah memberikan review, memfavoritkan, dan memfollow fanfic kurang berkualitas ini. Semoga tidak kecewa dengan contentnya yang masih banyak kekurangan di sana sini.
Mohon review lagi.
Thank you.
See you.
