(yang masih bingung xiuhan xiumin!bottom luhan!top 3)
Day 4-5
Hari sudah malam dan seharusnya Minseok sudah menenggelamkan diri ke dunia lain guna memulihkan tenaganya yang hilang. Satu kamar asramanya terdiri dari 2 ranjang tingkat di sisi kiri dan kanan. Yang berarti satu kamar dapat ditempati untuk 4 orang. Sedangkan Minseok sendiri, menempati ranjang sisi kiri bagian atas. Disanalah Ia berusaha sebisanya mengundang kantuk merasuki dirinya. Merasa sendiri, Ia melihat ketiga teman sekamarnya sudah mendahuluinya tidur.
Minseok menyerah sebelum mengambil ponsel lipat yang sempat tertindih olehnya. Ia mencari nama yang mungkin saja bisa dijadikannya teman mengobrol atau hanya sekedar chat. A, B, C, D ...
I-Ibu? Tidak, Ia mungkin sudah tidur. Minseok tidak mungkin membangunkannya. J-Jongdae? Teman sebangkunya ketika masih kelas X? Oh. Tidak. K-Kyungsoo? Kyungsoo! Dengan cepat jari Minseok mengetik pesan singkat kemudian mengirimnya pada Kyungsoo.
'Kyungggggggggggsoo-ya! Kau sudah tidur? Mau menemani hyung mengobrol?' Sedikit basa-basi tak lupa Ia tambahkan. Minseok menerima balasan Kyungsoo tidak lama.
Pesan Kyungsoo sangat singkat juga sangat jelas untuk Minseok. 'Zzz...' Minseok benar-benar membenci Kyungsoo pada saat itu. Ia tetap membalas pesan Kyungsoo meskipun Ia tahu Kyungsoo tidak akan membalasnya kali ini. 'YAH! sekarang masih jam setengah sebelas malam dan kau sudah tertidur!' Ya, sekarang 'masih' jam setengah sebelas dan seharusnya kau sudah tertidur, Minseok.
Ia kembali berkutat dengan kontak ponselnya. K-Kyungsoo? Tidak lagi, pikir Minseok. L-Luhan? Minseok akui bahwa Ia merasa 'sedikit' tertarik pada Luhan (Minseok masih ragu untuk mengatakan suka meskipun hanya dalam pikirannya.). Namun Minseok berpikir hanya karena Luhan dapat bermain sepak bola dengan baik, orang yang sangat galan, mata kijang indahnya, bibirnya yang pink, dan terlalu banyak hal baik yang dapat membuatnya tertarik.
'Lu~~~~~Han' Minseok tidak tahu harus bagaimana memulai pembicaraan. Isi pesannya terlihat sangat awkward. Ia menindih mukanya dengan bantal.
Ponsel Minseok bergetar begitu juga jantungnya pada saat itu. 'Min~~~~~Seokie." Inikah surga? Minseok melihat bintang berputar-putar didepannya. Nama Minseokie terus mendenging keras di telinganya lebih keras dari dengingan lebah.
Ia sangat gugup hingga tidak memiliki keberanian untuk membalas pesan Luhan. Dengan susah payah, Minseok mencoba untuk tertidur (Ia berhasil tertidur sekitar pukul 3 pagi).
Di pagi hari berikutnya, Minseok menuju kamar mandi dengan handuk mengalungi lehernya. Wajahnya suram dan lelah. Kantung mata menggantung dibawah matanya. Luhan, dengan keadaan yang berkebalikan dengan Minseok muncul dari balik pintu kamar mandi. "Oh, Minseok selamat pagi."
Minseok tersenyum dengan susahnya. "Selamat pagi."
"Kemarin kau tidak membalas pesanku? Aku tidak bisa tidur, kukira kau juga. Kemarin seharusnya kita bisa berbincang-bincang sebentar. Tapi kurasa kau sudah tertidur" Semua lelah yang hinggap ditubuh Minseok telah pergi terbang entah kemana. Matanya membelalak sambil mencari alasan yang tepat.
Pet-namemu lucu. Tidak, bukan itu jawaban yang tepat untuk saat ini.
Aku terlalu gugup. Ehm, tidak.
Aku menyukaimu. Terlalu pagi untuk hal itu. Tidak sekarang (atau mungkin tidak untuk selamanya).
"Ah! Aku juga tidak bisa tidur kemarin. Hanya saja beberapa keypad handphoneku tiba-tiba rusak. Bagaimana aku bisa membalas pesanmu? Beruntung tidak semuanya rusak."
"Benarkah? Ponselmu masih bisa digunakan untuk telepon kan? Jika lain kali kau tidak bisa tidur lagi, Kau bisa menelponku. Aku tentu tidak akan keberatan -semenjak aku juga bukanlah orang yang gampang tertidur. Atau aku yang menelponmu duluan? Kau tidak keberatan?" Terimakasih Dewi Fortuna. Adalah suatu keputusan yang tepat bagi Minseok membiarkan pesan Luhan kemarin malam.
"Tentu saja tidak."
Dua jam setelah matahari menenggelamkan dirinya. Jalanan yang sedang Kyungsoo lewati begitu muram dan sepi hanya diterangi lampu-lampu yang sudah lanjut usia. Telinga hanya mampu mendengar langkah kaki sepi milik Kyungsoo dan suara kaleng minuman kosong yang sedari tadi Ia tendang melawan bosan. Satu tangannya penuh membawa barang belanjaannya dari mini market biasanya sedangkan yang lainnya masuk kedalam saku jaket birunya.
Jarak rumahnya tidak bisa dibilang dekat maupun jauh. Dekat karena hanya tinggal belok kanan di pertigaan depan kemudian belok kiri di perempatan selanjutnya. Namun karena Kyungsoo bosan, Ia menyebut ini jauh. Kyungsoo menghela nafasnya.
Sampai di pertigaan, Kyungsoo sejenak terhenti dengan senyum berbentuk hati lebarnya. Sorot matanya menangkap sosok yang seketika menghidupkan kupu-kupu dalam abdomennya. "Selamat malam, Jongin-ssi." Sapa dan senyum hangat Kyungsoo untuk malam Jongin yang dingin.
Jalanan yang semula gelap berubah menjadi terang-benderang seperti matahari pagi musim panas dipenglihatan keduanya. "Oh, Kyungsoo-ssi." Jongin membalas sapa Kyungsoo yang juga tak kalah hangat. Jongin masih memakai seragam kerja kremnya. Keduanya kembali melanjutkan perjalanan mereka berdampingan -dengan langkah yang lebih lamban, Jongin dan Kyungsoo ingin momen ini bertahan lebih lama.
"Rumahmu juga lewat jalan ini?" Tanya Jongin.
Kyungsoo mengangguk dan menjawab dengan semangat. "Mmm! Kau lihat perempatan depan? Disana aku belok kiri."
"Ah! Sayang sekali disana aku belok kanan."
"Oh.." Helaan nafas kecewa keluar dari mulut Kyungsoo.
"Kau terlihat keberatan." Kyungsoo terkaget Jongin tiba-tiba mengambil barang bawaannya. Tangan mereka bersentuhan memberi sensasi yang membuat Kyungsoo merinding sekujur tubuh dan salah tingkah. Merah kembali menghiasi wajahnya. Kyungsoo merasa senang Jongin membantunya sekaligus merasa sungkan terhadap Jongin yang kelelahan sepulang bekerja. "Tak apa, aku senang membantu orang lain." Perkataan Jongin benar adanya, Ia suka menolong orang lain. Terlebih pada pria manis mungil Do Kyungsoo.
Semua berjalan begitu cepat dan salah, sehingga tidak terasa mereka sampai di perempatan yang mereka bicarakan diawal. "Disana, aku tinggal dirumah dengan nomor 28." Ia tidak paham betul mengapa Ia memberitahunya dimana Ia tinggal. Ia tidak bisa berhenti menyalahkan dirinya sendiri.
"M-mungkin saja kalau kau ingin mampir." Senyuman Jongin semakin membuat Kyungsoo gelagapan. "Kubuatkan kau masakanku, aku sangat bersahabat dengan dapur."
"Begitukah? Tentu, mungkin kapan-kapan aku bisa mampir kerumahmu." Kyungsoo menarik kembali pemikirannya. "Kalau aku tinggal di apartemen murah itu, kau lihat?" Jari telunjuk Jongin menunjuk lurus pada satu-satunya bangunan bertingkat didepannya. "Rumah di lantai paling atas."
Keduanya berpisah di perempatan itu. Namun meskipun berpisah, Kyungsoo masih tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya bertemu dengan Jongin. Jantungnya juga masih belum bisa berdetak dengan normal. Ia tidak mengerti dengan perasaannya sendiri bahkan Ia merasa seperti gadis remaja yang sedang kasmaran. "Oh! Belanjaanku! Jong-" Kyungsoo menoleh kebelakang cepat namun kecawa akan Jongin sudah hilang dari pandangan.
Benarkah Jongin melakukannya tidak sengaja atau, Jongin melakukannya dengan sengaja? Dengan keberanian yang setengah-setengah, Kyungsoo berjalan berbalik arah. Menuju apartemen murah dibelakangnya, rumah di lantai paling atas.
shit why I love fluffy fics so much? hohohohohohohoho
Reviews are welcome. Please give me a lot and a lot of review guys. Your review is a support for me :3 thank youuuuuuuuuuu 3
(cr fanart/poster : bapmoggi on tumblr/twitter)
