Halo~ Nana kembali update! Gara-gara WB ini chappy sebelumnya jadi berantakan banget! Yang biasanya Nana bakalan jelasin sepanjang satu halaman, malah jadi dua paragraf super pendek!

Wah, rupanya banyak yang ngira kalo fic ini the end di chappy dua! Nana masih melanjutkan ceritanya. Berhubung ini genrenya 'Romance&Drama', jadi yah… tunggu saja apa yang terjadi! ^^

So, Happy Reading~~


Fairy Tail © Hiro Mashima

A Fairy Tail Fanfiction

Eternal

By Nnatsuki

Warning : AU, Typo(s), OOC, alur yang terlalu cepat.

Chapter 3

.

Matahari menukar tempatnya dengan bulan yang telah berjaga sepanjang malam dengan ditemani para bintang. Dengan pancaran sinarnya yang hangat, membuat rakyat Fiore bangun dari tidur mereka untuk melanjutkan akifitas sehari-harinya. Langit yang bersih dari awan ini menjadi penambah semangat bagi orang-orang yang akan memulai hari yang cerah ini. Sinar matahari juga menyeruak masuk menembus jendela istana kerajaan Fiore, yang juga menembus jendela kamar tidur yang ditempati oleh putri kerajaan Fiore, Lucy Heartfilia.

Cahaya matahari yang menembus jendela gadis berambut blonde ini, membuat mata cokelatnya pelahan-lahan terbuka, membangunkannya dari dream land. Lucy bangun sambil mengucek mata cokelatnya pelan-pelan, dia bangkit sambil merenggangkan kedua tangannya yang terasa kaku. Lucy berjalan ke arah pintu yang memisahkan kamarnya dengan balkon yang berada di luar. Lucy membuka pintu itu, berjalan ke arah balkon untuk menikmati udara pagi hari.

"Yo! Sudah bangun!"

Lucy tersentak dan berbalik menemui si pemilik suara, Natsu datang menuju balkon kamar yang berada tepat disebelah balkon kamar Lucy.

Lucy tersenyum ke arahnya, "Selamat pagi, Natsu. Tidurmu nyeyak?"

"Pagi. Yah, cukup nyeyak sampai aku terbangun, aku tak suka bangun pagi." Jawan Natsu sambil menutup mulutnya yang tengah menguap.

"Kenapa? Bangun pagi itu menyegarkan,"

"Bangun pagi sangat merepotkan. Aku biasanya bangun dua jam lebih lama dari sekarang." Natsu mengacak-ngacak rambut pinkishnya.

Lucy tersenyum manis melihat tingkah Natsu yang seperti anak kecil yang susah dibangunkan, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamar tidur Lucy, "Lucy-Hime, anda harus bergegas turun untuk sarapan. Semua orang tengah menuju ke ruang makan." Pinta seorang pelayan istana.

"Baik. Katakan pada ayah dan ibu aku segera siap." Jawab Lucy kemudian berbalik ke arah Natsu yang masih dengan wajah mengantuk.

"Natsu, cepat mandi dan ganti bajumu! Semuanya menunggu kita."

Natsu mengaguk kecil dan berbalik kembali ke saat Lucy akan kembali ke kamarnya, suara pintu tertutup dari arah kamar Natsu, menandakan si pemilik kamar telah kembali ke kamar.

Lucy mengambil handuk putihnya dan berjalan ke kamar mandi. Sambil menunggu air yang tengah diisinya penuh, dia bersenandung kecil membuka sebuah botol kecil berisi sabun bearoma apel dan menuangkan seluruh isinya ke dalam bak.

Seusai mandi, Lucy melihat sebuah gaun telah disiapkan untuknya. Gaun berwarna pink muda dengan biru sebagai pemanisnya, warna pink yang mengingatkannya akan warna rambut tunangannya. Dengan cekatan Lucy memakainya. Gaun itu tidak megar seperti yang dipakainya kemarin untuk makan malam. Kata Spetto-san, itu hadiah dari Natsu. Apa Natsu memang punya sense of fasion yang bagus?

Lucy kemudian meraih sebuah kotak merah beludru yang ada di atas meja rias dan membukanya, pipi porselennya kembali memerah melihat cincin tunangannya, cincin dengan batu Ruby yang memberikan kesan mewah namun indah itu pelan-pelan disematkannya di jari manis tangan kirinya.

Dengan membiarkan rambut blondenya terurai ke belakang, Lucy telah siap untuk turun sarapan bersama keluarganya. Sarapan yang biasanya hanya berisi suara dentingan alat makan, kin terasa hidup berkat kehadiran keluarga Dragneel. Lucy merasa sangat bersyukur dia mendapat keluarga kedua yang ramah dan hangat. Saat Lucy keluar dari kamar tidurnya, pintu kamar tidur yang ada di sebelahnya terbuka, menampilkan sosok Natsu Dragneel yang keluar dari kamar itu.

Natsu yang langsung menyadari Lucy, memberikan grins terbaiknya kepada tunangannya. Perlahan mata onyx Natsu meneliti Lucy dari rambut sampai ujung kaki, membuat Lucy tidak nyaman diperhatikan begitu.

"Hari ini pun kau cantik, Luce." Natsu tersenyum lembut ke arahnya -senyum asli- bukan cengiran yang biasanya, tampak sepasang rona merah tipis menghiasi pip tannya.

Lucy tersenyum lembut mendengar pujian dari tunangannya itu, "terima kasih, Natsu. Aku senang kamu menyukai gaunku." Dalam hati Lucy bertekat akan memperbaiki sikapnya yang tak suka menggunakan gaun dan mulai mencoba gaun yang lain agar Natsu kembali memujinya. Mereka lalu menuju ke ruang makan bersama-sama.

"Yang ini lebih simple dari yang kemarin, gaunmu yang kemarin lebih mirip bunga mawar, megar sekali!" Tambah Natsu seraya tertawa geli mengingat gaun tunangannya kemarin.

Lucy mengangkat sebelah alisnya, "Tapi kata bibiku, gaun itu hadiah darimu."

Natsu menggaruk belakang kepalanya sebelum menjawab, "Sebenarnya ibuku yang memilihkan gaun untukmu, tapi karena pilihannya terlalu banyak, dia memintaku untuk memilihkan yang terbaik, kupilih itu karena itulah yang paling waras dari pilihan ibuku, yang lainnya…" Seketika mimik Natsu berubah horror. "ada yang berwarna perpaduan emas dan perak, ada yang menggunakan manik-manik berwarna-warni di setiap kepang gaunnya, bahkan ada yang menggunakan berlian kecil di setiap 10 cm di seluruh gaun." Natsu berbalik melihat Lucy, mendapatinya yang juga menunjukkan wajah horrornya mendengar cerita Natsu. Dia mengerti kenapa Natsu memilih gaun yang kemarin, gaun itu memang yang paling waras dari yang diceritakannya.

"Tapi aku lega kau mau turun dengan memakai gaun yang mengerikan itu. Aku sempat bertaruh kau akan menolak menemuiku karena masalah gaun."

Lucy tertawa kecil akan penuturan Natsu, "Aku sedikit membenci gaun itu karena-"

"Megar seperti gaun pengantin." Ujar Nastu melanjutkan kalimat Lucy.

"Yang penting, terima kasih atas gaun itu, aku menyukainya." Lucy tersenyum.

"Sama-sama, tuan putri. Senang anda menyukainya." Balas Natsu dengan cengiran di wajahnya. Tangan kanannya membuka pintu ruang makan dengan mudah, di dalamnya tampak Grandine dan Wendy tampak tertawa kecil mendengar cerita dari Layla, Igneel dan Jude tampak berbincang dengan akrab, menghentikan perbincangan mereka saat menyadari Natsu dan Lucy memasuki ruang makan.

"Wah...Wah… coba lihat, pasangan yang baru bertemu kemarin malam sudah bisa semesra ini." Komentar Igneel sambil menyeringai, diikuti Jude yang tersenyum sambil menggaguk setuju.

Si pelaku yang dibicarakan tak mengerti apa yang di maksud raja Vermithrax itu, sampai mareka manangkap mata onyx Igneel memperhatikan tangan kiri Natsu. Saat mereka melihat ke arah objek yang diperhatikan mata onyx itu, mereka tersentak kaget mendapati tangan kanan Lucy terkait erat di tangan kiri Natsu, membuat Lucy langsung melepaskan tangannya dari tangan pemuda disampingnya, membuat mereka berdua mendekati meja makan dengan canggung.

Igneel dan Jude hanya menggelengkan kepala mereka seraya melirik kearah istri mereka yang tersenyum lembut ke arah pasangan muda itu.

"Selamat pagi Lucy. Tidurmu nyeyak, sayang?" Tanya Grandine ramah lepada calon menantunya.

"Selamat pagi, ibu. Ya, tidurku nyeyak sekali." Jawab Lucy sambil tersenyum manis. Layla tersenyum lembut melihat putri tunggalnya.

"Selamat pagi, Lucy-san." Sapa Wendy.

"Selamat pagi juga, Wendy. Dan tak perlu memanggilku dengan san karena kita keluarga." Jawab Lucy sambil tersenyum ramah kepada gadis kecil itu.

"Baiklah, Lucy-nee." Wendy membalas senyuman Lucy dengan senyuman manisnya.

"Selamat pagi, Natsu. Tidurmu nyeyak?" Giliran Layla yang menyapa Natsu.

"Selamat pagi, Ibu. Tidurku akan lebih nyeyak kalau saja ayah tak menyuruhku bangun pagi." Mendengar dirinya disebut, Igneel mengintip dari cangkir teh yang tengah diminumnya.

"Kau harus terbiasa bangun pagi, Natsu. Kau bukan Vampire yang tak suka cahaya mayahari dan bangun terlambat dimana cahaya matahari tidak terlalu terang." Balas Igneel setelah meminum habis tehnya dengan sekali teguk.

Natsu hanya bisa mendengus kesal, membuat Grandine dan Wendy menggelengkan kepala dan keluarga Heartfilia tertawa kecil.

"Atau alasan kau tak mau bangun karena takut akan aku yang akan membicarakan bagaimana caramu malamar Lucy?" Ujar Igneel dengan seringai khasnya.

DEG!

Ini dia topik yang tak ingin Natsu bahas, dia tahu ayahnya akan mulai mengejeknya.

"Natsu!" Grandine berdiri dari kursinya, menatap Natsu dengan dingin.

Baik Natsu maupun Igneel terlonjak kaget akan sifat Grandine yang berubah dratis, seketika atmosfer ruang makan berubah menjadi lebih menyeramkan akibat dari dark aura dari Grandine.

"Beraninya kau…." Suara lembut Grandine berubah menjadi suara yang di tekan.

Natsu hanya bisa berdoa atas keselamatannya, Igneel menelan ludah menyesali apa yang akan di alami putranya, Lucy yang takut akan perubahan Grandine memeluk tangan kanan Natsu mencari perlindungan, Wendy yang mulai berkaca-kaca dan ikut memeluk Lucy, Jude dan Layla diam dan menunggu apa yang akan terjadi.

"Beraninya kau tak membawa ibu untuk melihat lamaranmu?"

Hah?

Hening seketika. Semua orang memandang Grandine dengan Grandine dengan tatapan bingung. Ayolah, hal seperti itu tak perlu sampai menggunakan senjata andalan, kan?

Igneel menarik lembut tangan kiri grandine, "Ayolah sayang, Natsu pasti ingin melakukannya secara dadakan. Dia sama sekali tidak meminta kita, menunjukan kalau putra kita sudah mandiri, bukan?" Terang Igneel lembut seraya melempar seringai ke arah Natsu, Natsu membalasnya dengan seringai, dalam hati dia berterimakasih kepada ayahnya yang telah menolongnya.

"Ah, ya kamu benar, Igneel. Maaf Natsu," Ucap Grandine sambil tersenyum lembut seraya kembali duduk.

Natsu membalas senyum ibunya dengan cengiran khasnya dan menoleh ke arah Lucy, memberikan cengirannya seolah berkata "Semuanya baik-baik saja". Lucy tersenyum dan melepas tangannya dari Natsu.

Tepat setelahnya beberapa pelayan kereta dorong yang membawa sarapan untuk dua keluarga itu, menghidangkanya sampai membuat meja makan itu penuh.

"Selamat makan." Ucap mereka serentak.

Natsu yang akan mengambil sepiring bubur, menangkap semangkuk penuh berisi sup yang tak pernah dilihatnya, baunya juga terasa baru baginya.

"Ibu, ini apa?" Tanya Natsu kepada Grandine yang tengah meniup sesendok bubur yang masih panas. "Itu sup asli dari Fiore, Natsu. Kamu belum pernah mencobanya, enak kok." Jawab Grandine.

Natsu yang masih penasaran, menyendok sesuatu yang dicurigainya dan mengendusnya. Tiba-tiba dia berjengit dan menjauhkan mangguk itu darinya. "Ukh, seledri!"

Lucy menoleh ke arah Natsu, "Kenapa tak dimakan Natsu?"

Natsu menoleh ke arah Lucy, "Aku tak suka seledri." Jawabnya singkat.

"Ohya? Kalau begitu makanlah,"

"Tidak." Kata Natsu tetap pada pendiriannya.

"Makan!" Perintah Lucy tegas.

"Tidak!" Tolak Natsu tegas.

"Makan!"

"Tidak!"

"MAKAN!"

"TIDAK!"

"Natsu Dragneel…." Seketika nada suara Lucy menjadi berbahaya, raut wajahnya berubah menyeramkan, membuat semua orang menghentikan sarapan mereka, kaget akan sifat Lucy berubah drastis.

Natsu yang diancam lebih kaget lagi, oke, sejak kapan Lucy bisa seperti ibunya? Dan kenapa Lucy punya senjata rahasia seperti ibunya?

"Jika kau tak mau menghabiskannya…." Putus Lucy dengan nada suara 'Jangan-berani-untuk-membantahnya'.

Natsu mengangkat sebelah alisnya, memancing Lucy untuk menyelesaikan kalimatnya, "Kau harus menghabiskan dua piring penuh seledri mentah."

Natsu shock bukan main mendengarnya, mau ditumis, digoreng, atau dibakar saja ditolaknya, apa lagi yang mentah? Sepertinya pemenang dari perdebatan ini telah di temukan.

"Baikla, hanya kali ini saja." Kata Natsu menyerah walau setengah hati mengatakannya. Lucy tersenyum senang karena menang dalam perdebatan –kecil- pertama mereka.

Natsu menarik mangkuk sup itu mendekat, menyendoknya dengan gerakan slow motion, mendekatkannya ke arah bibirnya, namun terhenti saat sesendok sup sudah dekat sekali dengan bibirnya.

Lucy yang melihatnya, mulai hilang kesabaran, merebut sendok dari tangan Natsu dan mengambil mangkuk sup itu ke arahnya.

"Kalau seperti itu, bakalan besok kau selesai sarapannya," Gumam Lucy sambil menyendok sup dan mendekatinya ke arah Natsu.

"Ini. Amm…." Mata Natsu membulat sempurna, Lucy hendak menyuapinya, yang sudah tak pernah dia lakukan sejak dia berumur enam tahun. sebenarnya Natsu harusnya senang karena akan di suapi oleh tunangannya, tapi itu kalau yang objek yang akan masuk ke mulutnya adalah bubur, bukan seledri!

"Hei! Apa lagi yang kau tunggu? Cepat! Nanti supnya dingin!" Lucy kembali menyodorkan sesendok sup itu. Natsu menelan ludah, sepertinya dia tak akan bisa lagi menggelak. Dengan lamban, Natsu memasukkan sesendok sup itu ke dalam mulutnya dan menelannya, tepat saat sup itu telah turun ke melewati kerongkongannya, wajah Natsu langsung berubah pucat. Suasana di ruang makan berubah hening, seluruh penghuninya kini mengamati pasangan muda ini, hingga terdengar tawa yang tertahan dari Igneel, yang langsung berhenti tiba-tiba karena dia tengah seakan menahan sakit di kaki, Natsu yakin ibunya telah menginjak kaki ayahnya dari balik meja untuk membuat ayahnya diam. Sepertinya ini adalah sarapan terburuk yang pernah dirasakan Natsu Dragneel.

-000xxx000-

Para pelayan kembali memasuki ruang makan, mengangkat peralatan makan yang telah selesai di gunakan oleh dua keluarga kerajaan ini. Para pelayan tengah menghidangkan makanan pentup, berupa buah-buahan, salad, dan beberapa jus.

Natsu untuk kali, diam seakan tak tertarik untuk bicara, mungkin masih sedikit kesal karena di paksa oleh tunangannya untuk memakan makanan yang tak di sukainya sejak kecil, beberapa kali Natsu melempar glare ke arah ayahnya yang sesekali melirik ke arahnya seraya menyeringai. Sedangkan ibunya mengabaikan perang dingin antar ayah dan anak itu dan tak tertarik untuk menghentikannya.

Lucy yang tengah mengikuti cerita yang diutarkan oleh Grandine, sempat melirik ke arah calon suaminya itu, yang masih diam seribu bahasa, membuatnya merasa bersalah telah memaksanya memakan makanan yang tak disukainya.

"Apa Natsu marah karena aku memaksanya memakan seledri?" Bisik Lucy kepada Wendy yang tengah meminum jus blueberry.

Wendy menggeleng cepat, "Natsu-nii hanya sedikit jengkel, dia tak suka di paksa melakukan sesuatu yang tak disukainya, Natsu-nii bilang kalau seledri itu berbau aneh dan dia tak menyukainya. Karena itu Natsu-nii selalu menolak memakan seledri yang menurutnya baunya tak akan hilang meski di masak," Wendy tersentak kaget saat matanya manangkap kakaknya tengah memperhatikan mereka, Lucy yang baru menyadarinya, ikut terkejut karena tak menyangka suaranya dan Wendy bisa ditangkap oleh putra mahkota Vermithrax itu. Karena telah tertangkap basah, Lucy hanya bisa memberikan senyum kecilnya. Natsu yang menyadarinya, tak merespon apapun dan kembali memakan salad buahnya yang tinggal sedikit itu. Lucy menghela nafas akan sikap Natsu yang cuek kepadanya, perasaan bersalah kembali merambat di hatinya. Wendy hanya bisa diam dan ikut merasa bersalah.

Kedua putri itu terus diam sambil terus menyelesaikan puding jeruk mereka, seraya sesekali merilik ke arah pangeran berambut pink itu yang tengah meminum jus alpukatnya.

Tampak beberapa pelayan kembali datang dan mulai mengakat paralatan makan yang telah selesai digunakan kedua keluarga kerajaan itu. Orang tua mereka tengah berbincang, tak menyadari telah terciptanya suasana cangkung dari putra-putri mereka.

"Nah, saatnya kembali bekerja. Natsu!" Panggil Igneel yang membuat yang dipanggil menoleh.

"Setelah ini, kau ikut aku dan Jude." Terang Igneel. Sesaat Natsu mengangkat sebelas alisnya, tapi kemudian dia tersenyum dan mengaguk mantap.

Lucy yang sempat dibuat bingung, langsung mengejar Natsu begitu menyadari Natsu telah berdiri dan berjalan mengikuti ayahnya.

"Natsu!" Panggil Lucy yang kembali membuat Natsu menoleh.

"Anu, kamu masih marah karena aku memaksamu memakan seledri tadi?" Tanya Lucy cemas.

Natsu sempat memiringkan kepalanya sebelum tertawa geli, "Kau lucu, Luce! Mana mungkin aku marah hanya karena masalah seperti itu." Jawabnya seraya membelai lembut rambut pirang Lucy, yang membuat Lucy merona malu.

"Maaf sudah membuatmu khawatir, Luce. Ohya, bagaimana aku menemanimu pergi saat sore nanti? Sebagai permintaan maaf telah membuat khawatir," Tawar Natsu.

Lucy tersenyum lebar dan mengaguk, yang dibalas Natsu dengan cengirannya, "Yosh! Kalau begitu aku permisi." Pamit Natsu yang langsung meluncur mengejar Igneel dan Jude.

"Lucy-nee, bagaimana? Apa Natsu-nii masih marah?" Tanya Wendy takut-takut.

Lucy menggeleng cepat, "Jangan khawatir. Ohya Wendy, kamu mau membantuku membuat bekal?" Pinta Lucy.

Wendy langsung mengaguk, "Tentu saja Lucy-nee! Aku siap membantu."

Lucy tersenyum manis ke arahnya, dia ingin menunjukan pada Natsu salah satu keahliannya, yang jarang di miliki oleh putri-putri yang lain, memasak.

-000XXX000-

Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, tapi Natsu belum juga muncul. Lucy mulai merasa tak sabar, terus melirik kembali jam yang menunjukkan pukul empat lebih satu menit, yang bagi Lucy satu menit terasa seperti satu jam, keranjang bekal yang dibawanya sejak lima belas menit lalu mulai terasa berat.

Tiba-tiba ada sebuah tangan yang memegang pundak Lucy, yang sukses membuat putri berambut blonde itu berteriak kaget dan hampir menjatuhkan keranjang berisi bekal yang sudah lama di bawanya.

"Whoa, Whoa! Santai Luce!"

Lucy sontak menoleh ke arah si pemilik suara yang sangat familiar.

"Natsu! Kau hampir membuatku terkena serangan jantung!" kata Lucy marah.

"Hehe… maaf, Luce." Natsu hanya bisa mengaruk belakang kepalanya yang tidak gatal . Mereka berjalan menuju pintu utama untuk keluar menuju halaman istana.

"Kenapa kau lama sekali?" Tanya Lucy gusar.

"Ayahmu terus menahanku, aku yakin aku tak akan diperbolehkan keluar kalau saja aku tak bilang bahwa aku punya janji denganmu." Jawab Natsu sambil mengambil alih keranjang bekal yang di bawa Lucy.

"Eh, Natsu?"

"Membawa barang berat itu tugas pria. Bukan tugas Wanita." Jelas Natsu singkat, yang membuat Lucy cukup… terpesona.

"Ohya, ini apa?" Tanya Natsu penasaran menunjuk keranjang yang di bawanya.

"Bekal untukmu, kupikir kau akan berisik karena lapar." Natsu menyeringai mendengar 'makanan'.

"Ohya, kita mau kemana?" Tanya Lucy.

Natsu menoleh ke arahnya dengan tatapan bingung, "Bukannya aku hanya menemanimu? Terserah kau mau kemana, Luce."

Lucy terdiam seraya berpikir, Natsu berharap Lucy tidak mengajaknya pergi untuk membeli pakaian dan perhiasan yang biasa di lakukan oleh putri-putri bangsawan di Vermithrax.

"Toko buku."

"Eh?"

"Kenapa? Aku suka pergi ke kota dengan Spetto-san dan beberpa pelayan untuk membeli buku." Jelas Lucy.

"Oh, baguslah. Kupikir kau akan pergi berbelanja baju dan perhiasan seperti putri-putri pada umumnya."

"Penjahit istana selalu membuatkan gaun untukku, jadi aku jarang berbelanja,"

"Aku tak pernah mengurusi hal seperti itu, biasanya ibuku yang memesannya dengan penjahit istana."

"Yang benar saja, Natsu! Kau sudah besar tapi ibumu masih memilihkan baju untukmu."

"Ayahku juga begitu! Lagi pula jika aku memilih sendiri, ibu pasti marah."

"Kenapa?"

"Karena aku akan memilih pakaian biasa, aku tak suka memakai pakaian kerajaan, yang seperti memakai pakaian berlapis-lapis."

Lucy terkikik mendengarnya, "Tak masalah, kan? Lagipula kau gagah memakainya." Komentar Lucy sambil mengedipkan sebelah matanya.

Natsu memutar bola matanya malas, "Aku bosan mendengarnya. kau sendiri, Luce?"

"Aku memang tak terlalu menyukai gaun, tapi tak masalah selama tak terlalu megar." Jawab Lucy.

"Kau benar, sangat tak lucu jika suatu saat kau jatuh karena menginjak gaunmu sendiri,"

"Natsu!"

"Heh, kalau kau marah berarti itu pernah terjadi, ya?"

"Oh, diam!"

"Sayang tidak ada yang mengabadikannya moment hebat itu,"

"NATSU!"

Pertengkaran –kecil- mereka terhenti karena mereka telah sampai di halaman istana.

"Emm… Natsu?"

"Hmm?"

"Kita tidak akan jalan kaki, kan?"

Natsu menoleh ke arah tunangannya dengan -sekali lagi- tatapan bingung, "Tentu saja tidak! Kau ingin kita di marahi orang tua kita?"

"Jadi kita naik apa?"

"Naik kuda?"

Mata cokelat Lucy membulat sempurna mendengar saran Natsu, "A-aku tidak bisa menunggang kuda."

"Tentu saja kau akan menjadi penumpangku." Balas Natsu sambil menyuruh seorang tukang kebun untuk memangil perawaat kuda membawa seekor kuda.

"Ta-tapi kita bisa…" Sebelum Lucy sempat menyelesaikan kalimatnya, seekor kuda putih telah datang di bawa oleh seorang perawat kuda yang dipanggil si tukang kebun.

"Tunggu apa lagi Luce? Ayo naik!" Ujar Natsu yang telah menaiki kuda itu dengan mudahnya.

"Tu-tunggu dulu! Aku belum siap." Sahut Lucy. Di saat dia hendak menaiki kuda itu, Lucy mundur beberapa langkah, "A-aku tak bisa,"

"Kau bisa! Hanya tak terbiasa," Bantah Natsu.

"Tapi Natsu…"

Dan akhirnya Lucy berhasil menaiki kuda itu dengan bantuan dua orang perawat kuda.

"Natsu, berjanjilah kau tak akan menunggang dengan cepat." Kata Lucy serius.

"Ck, baiklah." Jawab Natsu dan mulai mengendalikan kuda itu untuk berjalan maju ke luar gerbang, yang membuat Lucy berjengit kaget.

"Ayolah, Luce. Menaiki kuda tidak seburuk yang kau kira." Hibur Natsu.

Lucy terus memejamkan mata sampai dirinya mulai terbiasa, Natsu benar. Menaiki kuda tidak seburuk yang dia kira, dia cukup menikmati hebusan angin yang menyejukan wajah cantiknya. Walaupun seorang putri, Lucy tak pernah menaiki kuda, terlalu takut untuk mencoba, lagi pula akan merepotkan jika menunggang kuda dengan mengenakan gaun. Lucy memutuskan untuk tidak mengajak Natsu bicara untuk tidak memecah kosentrasinya atau lebih tepat dia takut Natsu pecah kosentrasi.

Mereka sudah cukup jauh dari istana saat Natsu memecah keheningan yang cukup lama, "Belum pernah aku menunggang kuda selambat ini," Ejek Natsu.

Wajah Lucy memerah malu mendengarnya, "Apa boleh buat, aku tidak pernah menaiki kuda." Kata Lucy membela diri, "Tapi tak apa, kau boleh menaikkan sedikit kecepatannya,"

"Baiklah." Jawab Natsu yang langsung menambah -sedikit- kecepatannya, yang tetap saja, membuat Lucy sedikit kaget, membuat Natsu tak bisa menahan untuk tidak tertawa.

"Hei! Jangan tertawa!" Kata Lucy jengkel lalu menjitak kepala Natsu.

"Ouch! Itu sakit, Luce!" Protesnya seraya mengusap bagian kepalanya yang menjadi korban.

"Makanya jangan menertawakanku!" Bela Lucy.

"Ck, dasar aneh."

"Aku tidak aneh!"

Pertengkaran kecil mereka -kembali- terhenti karena kota yang menjadi tujuan utama mereka telah tampak. Tampak banyak aktivitas masyarakat yang masih terlihat walaupun hari telah sore.

"Natsu, kita ke arah kanan," Arah lucy.

"Heh, bukannya kita akan ke toko buku yang ada di tengah kota?" Tanya Natsu bingung karena arahan Lucy menjauhi kota.

"Tidak, aku lebih senang di toko buku ini. Pemiliknya teman baikku." Jelas Lucy.

Natsu terus mengarahkan kudanya sesuai arahan Lucy, sampailah mereka di sebuah toko buku kecil yang berada di pinggiran kota. Setelah mengikat kuda mereka di tempat yang tak terlalu jauh dari toko itu, mereka berjalan memasuki toko itu. Natsu sempat meneliti toko buku 'Maiden's Blush' itu, toko itu termasuk kecil untuk sebuah toko dan sangat rapi. Bunga mawar peach tumbuh subur di pot-pot membuat suasana teduh toko kecil itu yang di cat dengan cat cokelat tua yang minimalis, Natsu kembali memandangi mawar peach itu, dia jarang melihat mawar peach yang setahu Natsu, termasuk bunga langka dan jarang di temukan.

"Hei, Natsu! Jangan melamun saja! Ayo masuk!" Ujar Lucy yang telah berada di depan pintu toko.

"Baik, baik! Aku segera datang!" Jawab Natsu. Dia menggerling ke arah mawar itu, senyum terpahat di wajah tampannya.

Natsu mengikuti Lucy memasuki toko itu, dengan dorongan tangan kanan Natsu, pintu toko buku itu terbuka dan membuat lonceng petanda tamu datang berbunyi.

"Selamat datang di… Lucy-Neesan!" Sapa seorang gadis be rambut cokelat muda panjang bergelombang yang memakai pakaian bangsawan yang tengah membawa buku-buku. Dia hendak mendekati Lucy, tapi dia tak sengaja menginjak gaunnya, membuatnya jatuh dan buku yang di bawanya ikut jatuh berantakan, membuat Natsu speechless akan kecerobohan gadis itu.

"Mi-Michelle? Kamu baik-baik saja?" Tanya Lucy cemas sembari membantu gadis bernama Michelle itu untuk bangun.

"A-aku baik-baik saja. Maafkan aku, Lucy-Neesan…" Jawab Michelle yang mulai berurai air mata yang –terlalu- berlebihan dan hendak memeluk Lucy, namun tak berhasil karena dia -kembali- jatuh tersandung sebuah buku yang cukup tebal. Membuat Natsu dan Lucy sweatdrop akan kecerobohannya.

Lucy kembali membantu Michelle berdiri dan menepuk-nepuk gaun Michelle yang sedikit kotor karena debu.

"Berhati-hatilah. Jangan sampai terjatuh lagi." Saran Lucy lambut sembari memeluk Michelle yang tengah mengatakan "Maafkan aku," dan "Aku memang ceroboh." Di sela tangisnya yang berlebihan.

Natsu yang merasa terabaikan, memilih untuk mengambil buku-buku yang terlupakan itu.

"Anu, Siapa dia, Neesan?" Tanya Michelle yang telah menyelesaikan tangisannya, membuat perhatian Natsu teralihkan dari kegiatan 'memungut buku'.

"Ah, perkenalkan Michelle, Natsu Dragneel, putra mahkota kerajaan Vermithrax dan-"

"Tunangan Neesan?" Potong Michelle dengan wajah sumringah dan mendekati Natsu hendak menyalaminya, "Perkenalkan, aku Michelle-" Kalimatnya terpotong karena kaki Michelle tertimpa buku yang ada di kedua tangan Natsu yang terlepas akibat disambar oleh Michelle.

Natsu benar-benar di buat heran oleh gadis ini. Oke, mungkin Lucy gadis yang aneh. Tapi setidaknya Lucy tidak akan seceroboh dan seaneh Michelle, yang telah mendapat 'kecelakaan kecil' sebanyak tiga kali dari orang 'normal'.

"Ka-kau baik-baik saja?" Tanya Natsu sambil memungut -kembali- buku-buku yang telah menyebabkan jari kaki Michelle, yang diperdiksi Natsu, telah membesar dua kali dari ukuran normal.

"Iya, terima kasih atas perhatian anda dan maaf saya telah merepotkan anda, Natsu-Ouji." Ujar Michelle yang langsung berdiri dan membungkuk meminta maaf, yang membuat Natsu salah tingkah akan sikapnya yang berubah, dari gadis ceroboh menjadi putri bangsawan yang sopan.

"A-anu, kau tak perlu terlalu sopan. Panggil saja aku Natsu." Pinta Natsu seraya mengulurkan tangan kanannya.

"Baiklah, Natsu-San, perkenalkan namaku Michelle Lobster, putri dari keluarga Lobster." Kata Michelle yang membalas tangan kanan Natsu dan tersenyum ramah yang dibalas Natsu dengan senyum sopannya.

"Ini, Michelle. Lain kali lebih berhati-hati." Ujar Lucy sambil menyerahkan buku-buli yang belum sempat di ambil Natsu.

"Ah, terima kasih, Neesan!" Kata Michelle sambil menerima buku itu dari Lucy, "Silakan melihat-lihat dulu, ahya novel terbaru karya pengarang favorit Neesan sudah terbit, akan aku ambilkan," Tambahnya kemudian berjalan ke arah pintu gudang yang ada di belakang Natsu.

Mata cokelat Lucy berbinar mendengar kata 'sudah terbit', membuat Natsu menghela nafas melihatnya, dia beranjak ke arah sebuah kursi yang ada tepat di sebelah pintu gudang.

"Ini Neesan," Ucap Michelle kembali dari gudang, yang diterima Lucy dengan senang hati, dan langsung meneliti sinopsisnya. Michelle meninggalkannya dan pergi ke ruangan lain.

Michelle kembali lagi dari ruangan itu dengan nampan the di tangannya, "Silakan, Natsu-San." Michelle menghidangkan secangkir teh untuk Natsu, "Sepertinya anda tidak ingin melihat beberapa buku,"

Natsu tertawa kecil, "Yah, aku tak terlalu suka membaca, aku hanya membuka buku karena aku merasa tertarik atau memang perlu," Jelasnya. Mata Natsu kembali menjelajahi toko itu, toko kecil itu terlihat penuh dengan ratusan buku yang di tata rapi di rak buku dan setiap rak yang hanya menyisakan jarak untuk satu orang. Natsu merasa mulai merasa mengantuk melihat deretan buku-buku di depannya.

"Sepertinya Natsu-Ouji mulai merasa bosan," Ledek Lucy yang dijawab Natsu dengan pandangan bosannya.

Michelle tersenyum ramah sambil membuka keranjang bekal Lucy dan menghidangkannya di meja tempat Natsu duduk, hanya makanan kecil, sandwich, cookies, dan cupcakes. Tapi makanan kecil itu dibuat dengan sangat rapi, bahkan terlalu rapi untuk makanan.

"Aku bertaruh bukan ibuku yang membuatnya," Komentar Natsu melirik ke arah Lucy, "Buatan beliau tidak sampai serapi ini."

Lucy tertawa kecil, "Aku senang kau memujinya, tapi aku akan lebih-"

"Neesan! Ini cupcake terenak yang pernah aku makan." Puji Michelle yang telah melahab habis sebuah cupcakes dalam waktu satu menit.

"Kau berbakat menjadi koki, Luce! Belum pernah ada seorang putri yang bisa memasak sepertimu." Tambah Natsu yang membuat pipi porselen Lucy merona akan pujian tunangannya itu.

Natsu yang meneruskan kegiatan menyatap bekal Luce dan kini dia mencoba cookies berbentuk api, membuat Natsu menyeringai dan menghirup teh panasnya. Setidaknya dia tak terlalu bosan dengan bekal Lucy yang memiliki rasa di atas rata-rata.

"Ah, Michelle buku apa yang sedang kau baca?" Tanya Natsu penasaran.

Michelle menoleh ke arahnya, dia tersenyum dan menyerahkannya ke Natsu, yang di terima Natsu dengan sopan.

Natsu membaca judulnya, membuat sebelas alisnya terangkat, dia kemudian membuka halaman per halaman, senyum terpahat di wajahnya.

"Anu, Michelle bisa kau jelaskan tentang ini." Pinta Natsu sambil menyerahkan buku itu kembali.

Michelle tersenyum ramah, "Tentu saja Natsu-San," Jawabnya dan menerima buku itu.

Natsu tersenyum tanda terima kasihnya kepada Michelle, dia melirik ke arah Lucy. Natsu cukup lega Lucy tak menyadarinya karena terlalu sibuk berburu.

"Baik, Natsu-San. Mari kita mulai." Lanjut Michelle sambil membuka halaman pertama buku itu.

-000XXX000-

Lucy menghela nafas lega akan keberhasilan mendapatkan buruannya, lima belas novel telah menangkap matanya dan tidak bisa membuatnya untuk mengabaikan mereka. Lucy kembali memastikan novelnya tidak tertukar, setelah yakin, dia mengangkat kelima belas novel itu, yang tak disangkanya, cukup berat untuknya.

"Wah! Wah! Pemburuanmu cukup berhasil!" Komentar tunangannya.

Lucy tersenyum lebar, "Sudah lama aku tak ke toko buku, tak kusangka ada begitu banyak buku yang menarik." Jawabnya.

Natsu mengaguk dan mengambil alih ke lima belas novel itu dari tangan mungil Lucy, berjalan kembali ke tempat dia dan Michelle menunggu Lucy dalam pemburuannya.

"Loh, Michelle kemana?" Tanya Lucy menoleh ke kanan dan ke kiri mencari gadis berambut cokelat muda itu.

"Dia sedang membawa cangkir teh yang kami pakai." Jawab Natsu sambil menaruh novel Lucy di meja kasir.

Tepat setelah Natsu mengatakannya, Michelle kembali dari ruangan yang sama saat dia menghidangkan teh untuk Natsu, "Neesan sudah selesai? Wah, lebih banyak dari biasanya!" Seru Michelle takjub akan tumpukan novel di meja kasir.

Lucy tersenyum simpul mendengarnya, menunggu Michelle menghitung jumlah harga yang akan di bayar Lucy.

Tepat setelah Michelle menghitungnya dan membelikan kembaliannya ke Natsu (Natsu membayarnya untuk Lucy, walaupun Lucy sudah menolaknya, tapi dia tetap bersikeras), tampak suara rintik hujan yang jatuh di atap toko itu.

"Hujan? Semoga tidak terlalu deras," Gumam Lucy.

Sayangnya harapan Lucy tidak terpenuhi, hujan tiba-tiba semakin deras, membuat pasangan itu kembali duduk untuk menunggu hujan yang menurut mereka akan segera berhenti.

Tapi kembali lagi, harapan mereka tidak terjadi, hujan justru semakin deras.

"Bagus. Kita tak akan bisa pulang," Kata Natsu, "Hujannya sama sekali tak menunjukkan tanda akan berhenti,"

"Kau benar, mungkin kita harus menunggu lebih lama," Saran Lucy.

"Jangan khawatir, Neesan. Sebentar lagi kereta kuda akan datang menjemputku ke rumah, kalian akan kuatar sampai istana," Tutur Michelle.

"Eh? Tapi kami akan merepotkanmu," Kata Lucy.

"Tak apa, Neesan. Rumahku dengan istana satu jalan, bukan? Tenang saja, ayah tak akan marah," Jawab Michelle.

Lucy tersenyum lembut, "Terima kasih Michelle!"

"Apa?" Ucap Natsu kaget.

"Ah, Biar kami bantu membereskan toko ini sebelum tutup. Natsu, ayo!" Ajak Lucy mengikuti Michelle.

"Hei! Tunggu dulu! Luce! Aku.. Akkhh!" Sahut Natsu frustasi sambil mengacak rambut pinknya. Harusnya dia mengatakannya lebih dulu kepada tunangannya ini. Lucy tidak tahu, bahwa dia, Natsu Dragneel, mempunyai motion sickness yang cukup parah.

~To Be Continue~


Buwahahaha… Natsu! Natsu! Selamat menikmati perjalanan di dalam kereta! #plak

Kenapa ini Fic malah jadi humor nggak jadi kini, ya? -_- Romance-nya kurang? Ya… berhubung chappy sebelumnya FULL of NaLu, jadi break dulu! Jadi tolong jangan lempar Nana pake sandal karena nggak menambahkan sentuhan romance. Sengaja chappy ini di kurangin romansanya karena chappy berikutnya, kita akan balik lagi dengan Natsu yang OOC! ^^ Mumpung jiwa romance Nana kembali bangkit, aku usahain lebih cepat!

Selanjutnya, balas review~

JL chan kawa : Aih... Terima kasih atas pendapatnya! ^^ Iya ceritanya masih berlanjut, jadi ikuti terus yy! :D

hitoshi sagara : Hehe... terima kasih! Dan maaf sudah membuatmu nangis, nggak jangka ceritaku bisa segitu menyentuhnya! xD Syukurlah OOC-nya Natsu dapat di terima! Iya iya, Natsu bener-bener cocok jadi pangeran! ^^ Hai! Terima kasih sudah mau menunggu! #girang

Hanara VgRyuu : Hehe... Betul betul! Chappy kemarin full of NaLu! Ah, terima kasih atas sarannya. Sebenarnya chappy 2 itu sudah ku cek, tapi kayaknya Nana yang gag teliti ini lupa men-savenya... :3 Maaf yy! Fuh, untung setuju dengan Natsu yg OOC. Heh? kok pendapatnya sama kayak Akemi, yy? iya sih Lucynya terlalu cengeng, tapi rasanya gag seru kalo gag di bikin begitu... #plak

Ini masih panjang perjalanan, jadi tetap follow yy! :D nggak papa, kok!^^ Makin panjang, makin senang akunya!

Hikaru Dragneel : Aye! Bos, ini masih lanjut! Jadi tetap ikuti yy! ^^ Oke! Lanjut terus!

Mako-chan : Iya, pangerannya Natsu! ^^ Wah, aku aja yg nulis juga nggak nyangka Natsu segitu hebatnya! xD Oke, aku akan lanjut terus!

Anonymousgirl88 : #blinked Hee... yang benar? Deskripsinya banyak? *ngecek ulang* padahal menurutku kurang -_- Wah. terima kasih! Syukur romance-nya nyampe! ^^ Aih, aku nggak akan malu lagi! Dan untuk kamu juga terus semangat menulis yy! :D

Sagara Ai : Aih... terima kasih! ^^ Aku usahain deh untuk update kilat! Wah, sampe di jadiin bahan pembelajaran, aku juga masih belajar buat nulis adegan action! xD Aye! I will!

Oke, Sampai jumpa di chappy berikutnya! Matta Ne! :D