Disclaimer : Masashi Kishimoto
.
.
.
Liburan adalah hal yang paling menyenangkan bagi semua orang, termasuk Naru. Liburan berarti dia tidak perlu belajar, dia tidak usah bangun pagi dan yang paling penting adalah Naru akan sering kencan dengan Sasuke. Setelah UAS, sekolah Naru libur dua minggu. Kesempatan ini sangat tidak ingin disia-siakan oleh Naru. Jauh hari sebelumnya Naru sudah mengajak Sasuke kencan dengannya di bioskop, dan inilah hari H nya.
"Hm… la la la…" Naru asyik mematut dirinya depan cermin. Sembari melepas handuk mandinya, Naru memutar badannya setengah ke belakang di depan cermin. Naru mengangguk puas melihat tubuh telanjangnya depan cermin.
"Akhir-akhir ini aku sudah diet, perutku tidak buncit. Dadaku masih montok seperti biasa." Gumam Naru sambil memakai celana dalam berwana putihnya.
"Sasuke itu kenapa sih? Padahal dia sudah berumur 17 tahun. Apa dia tidak tergoda sama sekali denganku? Apa kurangnya aku?" Naru masih sibuk bicara sendiri ketika selesai memasang Bh berwarna senada.
Mungkin setelah selesai nonton aku bisa mampir ke apartment Sasuke. Kenapa sih dia tidak pernah mengajakku singgah ke tempatnya? Temari saja sering menginap di rumah Shikamaru. Aku tidak mungkin bohong terus-terusan dengan mengatakan aku sering ke tempat Sasuke. Lihat kamarnya saja aku belum.
Naru tiba-tiba teringat dengan Gaara. Gaara sudah menyentuhnya lebih banyak daripada yang Sasuke lakukan. Menjijikkan. Naru bergidik sendiri.
Yah, tapi itu setimpal dengan apa yang kudapat. Nilai ujianku bagus, Atm ku masih ada pada tempatnya dan orangtuaku tidak memarahiku. Aku hanya harus menghindari Gaara, pasti dia akan sadar sendiri kalau aku sudah tidak membutuhkannya lagi.
.
.
Naru masuk ke gedung Bioskop bersama Sasuke. Sasuke mengajaknya nonton The Avenger. Naru menyambutnya dengan antusias. Memakai high heels, celana jean super pendek yang memperlihatkan kaki dan pahanya yang jenjang, Tanktop dilapisi blazer hitam. Naru ingin sekali Sasuke terpana padanya. Sudah setahun pacaran tapi Sasuke sama sekali belum berbuat lebih padanya seperti yang dilakukan teman-temannya. Padahal Naru kerap kali memamerkan pakaiannya yang minim.
"Sasuke, biar aku yang beli Popcorn yah. Kamu antri tiketnya." Kata Naru bersemangat
"Hn" Sasuke menjawab singkat.
Naru segera menuju stand pembelian makanan ringan. Mata birunya asyik memilih makanan dan minuman dalam bioskop nanti.
"Kenapa nomormu tidak aktif?"
Sebuah suara mengagetkan Naru. Naru segera berbalik dan melihat Gaara sudah ada di belakangnya.
"Kau! Apa—yang—ihh.." Naru panic sampai tidak bisa berkata apa-apa, siliriknya cepat ke arah Sasuke yang masih mengantri. Syukurlah sasuke tidak melihatnya sekarang. Naru segera menarik lengan Gaara ke luar bioskop.
"Kenapa kemari?" Naru bertanya ketus ketika mereka sudah di luar gedung
"Kau tidak membalas smsku, nomormu mati. Aku merindukanmu" Gaara mendekat berusaha memeluk Naru.
"Ihh….. jangan dekat-dekat!" Naru mendorong tubuh Gaara dengan kasar. " Heh! Dengar ya, urusan kita tuh sudah selesai. UAS udah lewat, jadi tidak usah berharap lebih denganku." Naru memandang Gaara dengan tatapan jijik.
"A-apa maksudmu Naru? Kau mau melupakan semuanya?" Gaara memicingkan matanya. Mencoba bertanya sekali lagi. Hatinya masih tidak percaya Naru mencampakkannya begitu saja.
"Apa kau tidak dengar?! Aku tidak membutuhkanmu lagi. Dan jangan coba-coba mendekatiku lagi. Aku tidak ingin terlihat bersamamu."
Naru meninggalkan Gaara yang masih memandangnya dengan tatapan tidak percaya.
DUAK!
Gaara meninju dinding di sampingnya, buku-buku tangannya mengeluarkan darah.
Naru…aku pikir kau menyukaiku… ternyata…. Kau hanya memanfaatkanku. Naru…. Padahal sikapmu begitu manis di hadapanku dulu.
Naru Sayang….. Jangan…berpikir kau bisa lari begitu saja dari hadapanku
Kau akan kubuat menyesal telah bertemu denganku. Kita lihat saja nanti, siapa yang akan memohon di hadapanku.
.
.
Sekolah Konoha.
Hari ini tahun ajaran baru bagi semua murid di SMA Konoha. Bagi murid kelas tiga, tahun terakhir di sekolah adalah tahun belajar lebih giat. Tidak terkecuali dengan Sasuke yang di hari pertamanya masuk sekolah kembali harus berada di ruangan kepala sekolah. Sasuke sebenarnya tidak mengeluh berada di ruang Kepsek. Sasuke tidak pernah melanggar peraturan, tapi yang menyebalkan adalah Sasuke harus berada di ruang Kepsek bersama Gaara yang kini duduk di sampingnya.
Sasuke berusaha tidak perduli terhadap kehadiran Gaara. Walaupun Sasuke merasa Gaara terlihat pucat dan kurus, lingkaran di matanya terlihat jelas menandakan Gaara kurang tidur. Gaara mengingatkannya pada tokoh vampire yang sering di tontonnya di rumah.
Sasuke mengalihkan perhatiannya ketika Kepala sekolah Tsunade duduk di depan mereka.
"Ehm, pertama-tama saya ucapkan selamat untuk Sasuke. Selain mendapatkan beasiswa penuh kedokteran di Universitas Suna, Sasuke juga berhak untuk magang di salah satu rumah sakit di Suna pada pertengahan semester ini. Biasanya Magang untuk mahasiswa akhir, dikarenakan nilaimu yang memuaskan. Pihak Suna ingin merekrutmu secepatnya ."
Sasuke tersenyum kecil. Sudah dari kecil dia ingin menjadi seorang dokter. Sasuke ingin mengikuti jejak kakaknya yang sekarang telah menjadi dokter ahli di Jerman. Dengan masuk Universitas Suna, Sasuke memiliki batu loncatan untuk bisa menjadi dokter ahli seperti kakaknya Itachi.
"Untuk Gaara, selamat. Penelitianmu bersama dengan guru Orochimaru mengenai pemisahan Gas murni di Udara berhasil mendapat posisi nomor satu, selain itu salah satu temuanmu memukau peserta seminar science. Untuk itu Pihak Universitas suna yang biasanya menawarkan beasiswa satu orang untuk satu sekolah menawarkanmu untuk beasiswa penuh kedokteran. Kau bisa magang bersama dengan Sasuke pertengahan semester ini." Lanjut Kepsek Tsunade sembari memberikan formulir dan surat aplikasi dari Universitas Suna.
Sasuke yang mendengar berita ini seakan tidak percaya. Dia keluar dari ruang kepala sekolah sambil melihat formulir yang dipegangnya. Sabaku Gaara menyamai prestasinya, Kenapa pihak Suna bisa mengeluarkan beasiswa untuk dua orang? Apa sebegitu memukaunya kah hasil penelitian Gaara. Selama ini Sasuke tidak pernah mengintip apa kegiatan Gaara di lab.
Sasuke melihat Gaara yang menutup pintu ruang kepala sekolah. Gaara juga melihat Sasuke sejenak.
"Terkejut eh, Sasuke Uchiha bukan lagi nomor satu di sekolah ini." Gaara berkata sinis meninggalkan Sasuke di koridor. Setiap melihat Sasuke Gaara jadi teringat Naru yang meninggalkannya. Membuat hati Gaara serasa ditusuk pisau.
Gaara memasuki kelas dengan langkah sedikit terhuyung. Sudah seminggu ini dia sama sekali tidak bisa tidur. Di pikirannya hanya ada Naru…Naru…Naru. Desahan Naru, Tubuh Naru…hh…
Gaara berusaha menahan sakit di kepalanya karena memikirkan Naru. Naru, Jangan pernah berpikir lari dariku, jangan pernah coba-coba lari diriku.
.
.
.
Kelas 3 IPA-4
Naru melongo melihat namanya berada di kelas 3 IPA-4. Naru tidak mempermasalahkan kelasnya, tapi Naru geram melihat dia harus sekelas dengan Sakura dan Ino lagi. Kenapa harus mereka berdua? Ihh….
Jika bisa memilih, Naru ingin sekelas lagi dengan Temari dan Tenten di 3 IPA-6. Naru melangkahkan kaki memasuki kelas. Mencari nomor bangku nya dan melihat gadis berambut indigo duduk di samping bangkunya. Jadi dia teman sebangku ku yang baru?
"Hai, Namamu Naru Uzumaki ya? Perkenalkan, aku Hinata Hyuuga." Gadis bernama Hinata itu memperkenalkan dirinya dengan ramah di depan Naru.
Tanpa menjawab Naru segera duduk di sampingnya, memainkan Hp android keluaran terbarunya. Huft…. Sebenarnya Naru ingin sekali main ke kelas Sasuke, tapi Naru tidak ingin bertemu dengan Gaara. Naru tidak ingin cari masalah lagi. Dia sudah cukup bahagia dengan Sasuke sekarang. Naru memencet jari-jarinya di hp. Mencoba mengrimkan sms kepada Sasuke.
"Naru, Mau ikut bersama ku ke bawah? Di depan ruang administrasi. Jadwal pelajaran kita sudah di pasang di sana." Ajak hinata sambil berdiri.
"Hah? Umm oke aku ikut.." Naru segera berjalan menyusul hinata.
Sepertinya Hinata anak yang ramah. Naru tidak mengenal Hinata tapi dia mengenal betul keluarga Hyuuga. Turunan bangsawan, pantas saja kelakuannya manis seperti putri raja, selama dia tidak bertingkah depanku mungkin Naru bisa berteman lebih akrab lagi dengan Hinata.
Di depan ruang administrasi sudah banyak siswa berkumpul. Rata-rata dari mereka mencatat jadwal pelajaran yang akan di ambil.
"Heh! Minggir semua! " Naru memerintah dengan nada ketus. Rata-rata yang ada di depannya adalah anak kelas satu dan dua. Kerumunan itu langsung menepi ketika Naru datang. Naru mengambil hpnya dan mulai mencatat jadwal pelajarannya.
"Hinata.. kelas 3 IPA-1 itu terletak di mana?" Tanya Naru sambil mengetik di hpnya. Semenjak tadi Naru belum sempat mencari tahu dimana letak kelas Sasuke.
"Naru, bukankah tadi kita melewatinya? Kelasnya di lantai 3 dekat tangga." Jawab Hinata.
Naru manggut-manggut, kalau begitu setiap pulang sekolah aku bisa menjemput Sasuke. Detik berikutnya Naru makin akrab berbicara dengan Hinata. Mereka bercanda akrab menuju kelas. Naru terkejut ketika melihat Sakura dan Ino sudah bergegas pulang.
"Loh? Memangnya sekarang sudah jam pulang?" Tanya Naru pada Sakura yang kini bersiap pulang.
"Hari pertama sekolah kan hanya mencatat jadwal, besok baru pembelajaran dimulai. Pakai otak donk" Sakura menjawab ketus sambil melewati Naru yang mendelik kesal.
Naru menyesal harusnya tadi bertanya dengan Hinata saja bukannya Sakura. Dia segera mengambil tasnya dan bergegas menuju kelas Sasuke. Kepalanya melongok ke dalam kelas mencari dimana Sasuke duduk. Tanpa sengaja matanya bertemu dengan Gaara.
Deg!
Jantung Naru berdegup. Gaara tengah melihatnya sekarang. Hii… Naru merinding ngeri, pandangan mata Gaara seperti bukan biasanya, matanya memandang Naru dengan tajam seakan ingin memakan dirinya hidup-hidup. Naru sudah bisa menebak Gaara masih dendam dengan kejadian kemarin.
Menyadari Sasuke tidak ada, Naru segera memutar langkah, dia tidak ingin Gaara makin kalap melihatnya. Setengah berlari dia menyalakan hpnya dan menelpon Sasuke.
"Kau dimana?!" Tanya Naru setengah berteriak. Kakinya menuruni anak tangga hingga lantai 1.
"Aku ada di ruang administrasi, harus meminjam stempel dari pihak sekolah." Jawab Sasuke.
"Aku kesana sekarang." Naru mematikan Hpnya, tapi sejurus kemudian tangan Naru serasa ditarik paksa ke samping anak tangga.
"Aahh..!"
Naru menjerit kaget melihat Gaara sudah berdiri di sampingnya. Matanya yang hijau menyipit menatap mata biru Naru. Gaara segera menarik masuk Naru ke dalam kelas kosong.
"Sa-sakit! Maumu apa?!" Naru berusaha melepaskan tangannya dari Gaara yang kian erat mencengkramnya.
"Kenapa mengacuhkanku Naru? Kenapa bersikap menjauh dariku? Kau tahu aku tak pernah berhenti memikirkanmu!" Gaara langsung menarik tubuh Naru ke dalam pelukannya yang kokoh. Dihimpitnya tubuh Naru dengan lengannya didekapkan ke tubuhnya sendiri.
Dan tanpa peringatan sama sekali, Gaara langsung mendaratkan ciuman yang paling ganas dan paling brutal pada bibir Naru. Dilumatnya bibir seksi itu dengan sebuah kuluman kuat yang membuat bibir Naru seolah-olah tersedot ke dalam bibir Gaara yang dingin. Naru sampai membeliak dan meronta-ronta merasakan lumatan bibir Gaara yang brutal, tapi lengan Gaara mendekap tubuh Naru dengan erat membuat Naru tidak bisa bergerak sedikitpun.
"hmm… Naru, aku tidak puas jika hanya mencium bibirmu saja.." Gaara berkata Lirih memandangi Naru yang sekarang berada dalam dekapannya.
PLAK!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Gaara. Ya..Naru menampar Gaara, tangan Naru serasa sakit, dalam hati Naru takut sekali. Gaara sudah gila, baru kali ini Naru bertemu dengan orang sakit jiwa seperti Gaara.
"Kau sakit Gaara! Kau sakit jiwa!" Naru berusaha mendorong tubuh Gaara, tapi Gaara lebih cepat. Dia mendorong Naru ke lantai dan menindihnya.
"Siapa yang kau sebut sakit?! Siapa yang kau sebut sakit jiwa hah?! Jadi menurutmu aku sakit jiwa?!" Gaara makin mempererat cengkramannya pada kedua tangan Naru yang kini terlentang di lantai.
"Iya! Kau memang sakit jiwa! Sekarang lepaskan aku kalau tidak aku teriak!" Naru balas mengancam. Keringat dingin sudah mulai mengalir ke pori-porinya. Sungguh Naru merasa takut sekarang dengan Gaara.
"Teriak saja sesukamu Naru." Gaara mulai menjilat bibir Naru. "Kau tahu ini ruangan apa hmm? Ini ruang Audio Bahasa. Kedap suara….tidak akan ada yang mendengarmu."
Naru sungguh merinding mendengar perkataan Gaara. Sekarang Naru menyesali perbuatannya. Seandainya dia tidak menerima bantuan Gaara pasti sekarang dia tidak akan ada di sini.
"Gaara, aku mohon lepaskan….. a-aku minta maaf." Suara Naru kini melemah. Rasanya Naru ingin menangis tapi ditahannya air matanya keluar.
"Sekarang kau baru minta maaf? Sudah terlambat cantik, sekarang layani aku Naru, aku sungguh merindukanmu, biarkan aku menciummu, seperti yang pernah kita lakukan dulu."
Selama beberapa menit Naru terpaksa pasrah merelakan bibirnya dilumat habis-habisan oleh pemuda berambut merah itu. Selama berciuman Naru juga merasa lidah Gaara mendesak-desak mencoba menerobos ke dalam mulutnya. Dalam keadaan seperti itu Naru pasrah dengan membiarkan gaara tersebut meluncur ke dalam mulutnya. Maka dengan leluasa lidah Gaara mengaduk-aduk rongga mulut Naru, dibelitnya lidah Naru dengan lidahnya sendiri selama beberapa menit.
Sementara bibir dan lidahnya menyerbu bibir Naru, tangan Gaara juga bergerilya menikmati keindahan tubuh Naru. Gaara menggerayangi punggung Naru, dan ketika sampai ke daerah pantat, tangan itu langsung mencengkeram bongkahan pantat Naru dan meremasinya dengan penuh kegemasan.
Puas menikmati bibir Naru, Gaara lalu menarik seragam Naru itu sehingga membuat Naru menjerit.
"Kya! Sudah Gaara! He-hentikan! Ku mohon jangan lanjutkan lagi. Aku mau pu-pulang, a-aku ingin pulang.." Kini Naru tidak bisa menghentikan air matanya. Tubuhnya gemetar melihat Gaara yang kini menindihnya. Gaara seperti kerasukan setan.
"Aku tidak akan berhenti Naru! Sekarang hanya ada kau dan aku"
Lalu tanpa merasa perlu membuka kancing kemeja Naru, Gaara langsung menarik paksa seragam Naru dengan kasar, kancing kemeja Naru langsung terburai menampakkan bagian dada dan perut yang putih mulus.
"Aku sebenarnya tidak ingin kasar padamu Naru, tapi kau terpaksa membuatku melakukannya." kata Gaara garang.
Dia segera melolosi kemeja itu dari tubuh Naru, lalu dengan keganasan yang sama, Gaara segera menarik BH Naru sampai BH itu terlepas dari tubuh Naru. Sepasang payudara indah yang bulat dan padat segera mencuat telanjang di depan mata, seolah menunggu untuk dijamah, membuat birahi Gaara menggelegak dengan cepat.
Ohh.. indah sekali….
Gaara meneguk ludah dan menghirup penuh nafsu menatap keindahan payudara Naru yang telanjang. Bentuknya yang bulat dan padat membuat Gaara tidak tahan lagi untuk segera menjamahnya. Dielus-elusnya payudara yang kenyal itu seolah ingin menaksir nilai keindahannya. Lalu dengan sekuat tenaga, Gaara mulai meremas-remas payudara indah Naru, membuat Naru meringis antara sakit bercampur geli.
Tidak cukup hanya dengan belaian dan remasan, Gaara kemudian mulai mendaratkan ciuman dan jilatan pada kedua belah payudara Naru membuat Naru merinding merasakan sesuatu yang basah menari-nari di atas payudaranya.
"Ahh.. ahhk.. nhh.. nhh.. Ga-Gaara ohhh.."
Naru mulai merintih-rintih merasakan rangsangan yang diberikan oleh Gaara. Rintihan Naru yang menyebut namanya seakan menambah libido Gaara yang sedari tadi sudah naik. Lidah Gaara kemudian bergerak menjilati puting payudara Naru dengan ganas. Disentil-sentilnya puting yang mulai mengeras itu dengan ujung lidahnya sambil sesekali digigiti menggunakan bibir, sementara tangan Gaara juga tidak berhenti meremasi payudara indah itu.
Dirangsang sedemikian gencarnya oleh Gaara dengan permainan yang sangat lihai membuat birahi Naru pelan tapi pasti mulai menggelegak. Gaara melihat perubahan pada diri Naru. Naru mulai megap-megap dan wajahnya merah padam menahan desakan nafsu yang membakar tubuhnya.
Mendapat apa yang dicarinya, membuat Gaara tersenyum puas. Gaara tahu sekali Naru paling sensitif di daerah payudaranya. Kedua tangan Naru diaturnya pada posisi di atas kepala sehingga dia bisa dengan leluasa menggeluti kembali sepasang payudara montok itu. Payudara mulus itu diremasi, dijilati dan dikenyot dengan segala macam cara yang bisa dia lakukan. Kemudian Gaara mulai mengarahkan tangannya ke bagian bawah. Dia mulai membuka celana dalam yang dipakai Naru.
"A-apa yang kau lakukan?" Naru berkata panik, ditahannya tangan Gaara yang kini masuk ke dalam roknya.
"Menidurimu Naru, hal yang harusnya aku lakukan dari dulu." Gaara melebarkan paha Naru, menarik paksa celana dalamnya. Tapi Naru segera menendang perut Gaara sehingga Gaara terjatuh ke belakang.
"AAh..! Tolong..! Saasukee! Sasukee tolong aku..!" Naru berteriak sekuat tenaga. Gaara tidak boleh tidur dengannya, harusnya Sasuke lah yang tidur dengannnya. Di ambilnya Hpnya yang terjatuh di lantai, dengan cepat di tekannya nomor Sasuke. Tapi Gaara segera mengambil paksa Hp Naru dan membantingnya ke lantai hingga hancur.
"Ja—ngan menyebut nama lelaki lain selain aku.!" Gaara mengancam Naru, menarik tubuh Naru ke arahnya dan melumat kasar bibirnya.
Naru menggelengkan kepalanya dengan keras.
"To-tolong! TOLONG! Si-siapa saja tolong akuu..!" Naru berteriak kencang.
PLAAK!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Naru.
Sakit
Ya inilah yang dirasakan Naru..Hatinya sakit dan kini rasa sakit itu pindah ke pipinya yang memerah. Naru terpaku seketika, seumur hidupnya Gaara orang pertama yang menamparnya.
"Kau—liar sekali Naru." Gaara sudah habis kesabaran. Dipeluknya erat Naru yang terdiam di hadapannya. "Aku tidak ingin menampar wajahmu yang cantik Naru, tapi kau terus menyebut namanya. Aku tidak suka…"
"ngh…" Naru merasakan ada yang menyengat di lehernya. Dilihatnya Gaara memegang sebuah suntik di tangannya.
"A-Apa yang kau—Ga-Gaaraa…" Kesadaran Naru mulai melemah. Pandangannya mengabur dan sedetik kemudian Naru sudah terjatuh pingsan di hadapan Gaara.
Gaara mengambil jas Lab dari dalam tasnya. Dibungkusnya tubuh Naru dengan jas Labnya. Merapikan isi tas dan pakaian Naru yang berantakan. Gaara mengambil kunci mobil milik Naru.
"Gadis sombong, sekarang kau adalah milikku Naru, kau adalah milikku hari ini dan selamanya. "
Gumam Gaara dengan seringai liciknya.
.
.
.
CHAPTER 2
Naru membuka perlahan matanya, berusaha mengumpulkan kesadarannya. Mmhh… empuk… Naru merasakan dirinya berbaring di ranjang yang empuk. Apakah dia di rumah sekarang? Naru berusaha mengingat kejadian yang di alaminya. Bukannya tadi dia hampir diperkosa Gaara? Syukurlah ternyata Naru hanya mimpi. Naru mulai bangkit perlahan.
Ng…dingin…Naru melihat dirinya dan terkejut ketika mengetahui dia hanya memakai jas lab dan celana dalam.
Hah?! Kesadaran Naru kini kembali. Dimana ini?! Rasa panik langsung menyergap diri Naru. Naru terduduk di tempat tidur, melihat ke sekelilingnya.
I-ini kamar siapa? Naru melihat ke sekeliling, Ini bukan kamar, ini apartment. Naru tahu ini apartment karena dalam ruangan ini ada pantry, sofa untuk menonton tv, meja makan. Apartment ini kecil, Naru bisa membedakannya dengan apartment sasuke yang besar dan luas.
Mata Naru kini terpaku pada dinding di depannya. Seluruh sisi dinding itu penuh fotonya. Banyak sekali foto dirinya di dinding. Siapa yang menaruh foto Naru sebanyak itu? Naru merinding ngeri.
Cklik…. Naru mendengar suara pintu di buka. Refleks Naru menutupi tubuhnya memakai selimut.
"Kau sudah bangun?" Gaara menyapa Naru, dia masih mengenakan seragam sekolahnya. Di tangannya memegang beberapa kantung belanjaan. Gaara langsung mengunci pintu. Kini Naru ingat, siang tadi dia pingsan. Entah sudah berapa lama dia pingsan. Gaara menyuntiknya hingga pingsan. Naru mendadak panik.
"Dimana pakaianku? Aku mau pulang…AKU MAU PULANG!" Naru meninggikan suaranya.
"Ck ck ck untuk apa pulang? Rumahmu disini, bersamaku." Gaara melangkah maju mendekati Naru yang kini meringkuk di ujung tempat tidur.
"Ja-jangan mendekat, kumohon jangan lakukan ini padaku Gaara." Naru memohon. Tubuh Naru bergetar seiring dengan rasa takut yang dia alami.
"Sst, jangan takut Naru—malam ini kau akan mendapatkan kenikmatan yang belum pernah kau rasakan sebelumnya. "
Gaara memeluk tubuh Naru dari belakang. Bibir Gaara mulai menjelajahi dan menciumi leher serta pundak Naru yang putih mulus, sementara tangan Gaara menggerayangi payudara Naru yang berada di balik Jas Lab nya.
"mmhh" Naru berusaha menahan mati-matian untuk mendesah karena rangsangan yang diberikan Gaara.
"Kumohon Gaara. Hh...Le-lepas kan a-aku." Naru meronta pelan ketika tangan Gaara mulai mencengkeram payudaranya dan meremasinya dengan ganas.
"Sst….. nikmati saja Naru, hari ini kita akan bersenang-senang."
Gaara terus mendesak Naru. Dia menyibakkan rambut Naru yang pirang sehingga tengkuk Naru yang bening terlihat dengan jelas. Gaara lalu mulai menciumi dan menjilati tengkuk gadis kesukaannya itu. Rangsangan pada daerah sensitif itu membuat Naru seperti tersengat listrik. Kakinya langsung lemas saat daerah peka rangsangan itu tersentuh oleh kecupan dan jilatan Gaara.
"aahh ahh." Naru mendesah-desah. "Jangan. ahh.."
Naru menggeliat menolak rangsangan yang diberikan oleh Gaara, tapi tubuh dan libidonya tidak bisa dibohongi dan ingin terus menikmati cumbuan dari Gaara. Hal itu pula yang membuat Naru tidak kuasa menolak saat Gaara menarik jas Lab yang dipakainya sampai lepas, membuat tubuh Naru bagian atas polos menyisakan celana dalam berwarna putih berenda.
"Ahh, Naru kau cantik" kata Gaara saat membalikkan tubuh Naru sehingga keduanya saling berhadap-hadapan. Kemudian tanpa basa-basi lagi, Gaara langsung melumat bibir Naru dengan sebuah ciuman ganas, sementara tangan Gaara yang satunya meremas-remas payudara montok Naru.
"Ohh... mmhh... mmh... jangan... ahh Ga-Gaara..."
Naru makin tidak tahan. Dia mendesah-desah merasakan gelombang libido yang kian meninggi. Putting Naru yang merah segar terlihat menegang mengundang nafsu, seolah payudara mulus itu berkata 'remasi dan cumbui aku'. Dan segera Gaara mencumbui sepasang payudara indah itu dengan remasan dan jilatan. Lidah Gaara yang kasar menari di atas puting payudara Naru, Gaara menjilati dan menyentil-nyentil puting payudara itu, membuat puting yang merah segar itu mengeras.
"Ahh... ahh... nnhh... nhh... Ga-Gaara…..ahh Gaara"
Naru mengerang tak terkendali merasakan cumbuan ganas Gaara pada payudaranya,
Naru…semakin kau mendesah menyebut namaku..semakin ingin aku menidurimu. Desahanmu… wajahmu…tubuhmu….membuatku rela melakukan apapun untuk bisa memilikimu.
Gaara yang makin ganas sekarang mengenyot-ngenyot dan menghisap-hisap payudara Naru, membuat dirinya tampak seperti bayi besar. Gaara menyusu pada payudara Naru dengan kenyotan yang ganas, membuat akal sehat Naru benar-benar dilumpuhkan, sampai-sampai Naru menurut saja saat Gaara mulai menjamah celana dalam miliknya, dengan kasar Gaara merenggut celana dalamnya.
"Naru..."
Gaara terpana melihat kemolekan tubuh putih mulus Naru yang terlentang telanjang bulat di hadapannya. Meskipun sudah pernah melihat tubuh Naru sebelumnya, tapi Gaara tetap saja kagum pada keindahan tubuh Naru yang luar biasa itu.
Gaara kemudian mengatur posisi kaki Naru sampai mengangkang. Dengan posisi seperti itu, vagina Naru menjadi terkuak sangat lebar. Gaara lalu mendekatkan wajahnya ke daerah kemaluan Naru. Naru merinding saat merasakan hembusan nafas Gaara, yang menandakan wajah Gaara sudah begitu dekat dengan vaginanya.
"Ahh..."
Naru mendesah ketika Gaara mulai menyapukan lidahnya pada bibir vagina Naru. Jilatan pertama itu serentak merontokkan penolakan terakhir Naru. Getaran kenikmatan yang diterimanya membuat Naru takluk sepenuhnya. Kepasrahan total Naru membuat Gaara kian bersemangat, dia makin gencar mengobok-obok kemaluan Naru. Gaara menguak bibir vagina Naru dengan jari-jarinya lalu menjilati liang vagina Naru, dengan lincah lidah itu mengaduk-aduk liang vagina Naru membuat birahi Naru makin tak tertahan.
"Oohh... oohh...aahh... aahh..."
Lenguhan Naru kian tak terkendali. Tubuhnya yang putih mulus menggeliat ke kiri ke kanan. Tubuh telanjang Naru bergetar hebat menahan sensasi orgasme yang kian tak tertahan yang menghantam syaraf seksualnya. Apalagi saat Gaara menjilati klitoris Naru. Tubuh mulus itu bergetar makin liar dan meronta hebat seolah ada api yang memanggangnya. Tidak tahan menerima rangsangan itu, Naru akhirnya meledak dalam gelombang orgasme.
"AAHHHGGHHH...!"
Naru mengerang keras. Tubuhnya menggeliat makin kuat dan menekuk ke atas membuat payudaranya makin membusung tegak dan bergoyang liar. Wajah Naru berubah merah, lebih merah dari kepiting rebus. Dia menggigit bibir sambil tersengal-sengal. Naru merasa tubuhnya seolah diremas oleh kekuatan dahsyat dari arah dalam. Orgasme itu begitu kuat menghantam tubuh Naru membuat tubuh itu menegang dan menggeliat-geliat cukup lama diiringi oleh cairan yang mengalir keluar dari vagina Naru. Gaara tanpa ragu langsung menjilati cairan vagina itu.
Naru yang baru saja dilanda gelombang orgasme terbaring tak berdaya, nafasnya terengah-engah, keringat membasahi sekujur tubuhnya membuat tubuh putih mulus yang telanjang itu tampak berkilat tertimpa cahaya lampu. Tubuh itu tergolek pasrah, siap untuk diapakan saja. Melihat kepasrahan Naru, Gaara tidak mau membuang waktu lagi. Dia segera membuka celana panjangnya dan celana dalamnya sekaligus. Penisnya yang berukuran besar segera mencuat tegak. Gaara segera menempatkan dirinya di depan kemaluan Naru yang sudah basah. Diarahkannya penis besarnya ke vagina Naru.
Naru menggeliat lemah saat ujung penis Gaara menggesek bibir vaginanya. Gaara kemudian memegangi pinggul Naru, lalu dia mendorong pantatnya maju sambil menarik pinggul Naru. dengan satu dorongan keras, penis Gaara langsung membenam di dalam liang vagina Naru.
"Ahhhkk..."
Naru merintih sambil menggeliat saat penis besar Gaara menembus cantiknya mengernyit menahan sakit yang mendera bagian bawah perutnya, seolah penis Gaara merobek kemaluannya jadi dua. Perlahan Gaara menggerakkan pantatnya. Penisnya yang sudah menyatu dengan vagina Naru tertarik keluar dengan seret. Vagina Naru seolah tidak merelakan penis itu dari cengkeramannya.
"Nnhhh... ohh..."
Naru melenguh pelan. Wajah cantiknya mengernyit merasakan gesekan penis Gaara pada dinding vaginanya saat Gaara mendorongkan penisnya kembali. Penis besar itu kembali membenam di dalam liang vagina Naru, membuat tubuh mulus itu menggeliat. Seketika tangannya memeluk erat pinggang Gaara. Gaara menanggapinya dengan mencengkeram pundak Naru. Lalu kembali Gaara menggerakkan pantatnya, penisnya mulai menggenjot vagina Naru dengan gerakan teratur.
"Ohh..Naru...a-aku tidak ingin berhenti"
Gaara meracau merasakan nikmatnya bersenggama dengan Naru. Dekapan tangan Gaara makin erat dan sodokan penisnya kian kuat membuat tubuh Naru mengejang-ngejang dan menggeliat-geliat. Sodokan penis Gaara pada vagina Naru jelas berhasil membangkitkan kembali birahinya. Desahan dan erangan kenikmatan meluncur dari mulut Naru tanpa bisa dicegah.
"Ahhkh... oohh... oohhkh... Ga~~raahh nnhh...nnhh... ohh..."
Erangan Naru makin tak terkendali, tubuh mulusnya menggeliat liar di bawah dekapan pemuda berambut merah itu. Desahan yang keluar dari mulut Naru mulai berubah menjadi desahan manja seolah mengatakan 'jangan berhenti' pada pemuda yang sedang menggumuli tubuh mulusnya yang telanjang bulat. Gaara makin bersemangat mengetahui respon Naru. Gerakannya makin kuat menggenjot vagina Naru sampai tubuh Naru terbanting-banting di atas ranjang.
Selama hampir sepuluh menit mereka bersenggama. Birahi Naru makin memuncak tak terbendung lagi. Tubuh mulus gadis cantik itu menggelepar liar sementara kakinya menyepak-nyepak tak terkendali.
"AAAHHHHKKHH... OHH...!"
Naru mengerang keras. Seperti ada aliran listrik tegangan tinggi menyengatnya, tubuh Naru menegang dan bergetar keras. Tangan Naru makin kuat memeluk punggung Gaara, kuku jarinya mencakar punggung Gaara, menciptakan goresan-goresan lecet pada punggung Gaara. Birahi Naru meledak dahsyat membuat tubuhnya menegang selama beberapa detik.
"Sebut namaku Naru!"
Gaara makin bersemangat menggenjot vagina Naru. Sodokan-sodokan penis Gaara membuat tubuh Naru tersentak-sentak lemah tanpa daya. Tapi Gaara belum puas. Dia memaksa Naru berdiri dengan agak membungkuk dan tangannya menumpu pada dinding. Gaara menyuruh Naru membuka kedua kakinya sampai vaginanya terbuka lebar. Gaara melihat cairan vagina Naru menetes-netes membasahi bagian dalam paha Gadis cantik tersebut.
Posisi seperti itu membuat pantat Naru yang bulat padat terlihat makin menantang. Gaara tidak tahan untuk tidak meremasi pantat mulus itu. Selama beberapa puluh detik Gaara meremasi pantat Naru, sebelum penisnya kembali membenam ke dalam gadis pirang bermata biru itu.
"Ohhkk... ohh... Ga-Garaaah… aahh... aahh... oohh...Ga-garaa.."
Naru kembali mengerang penuh nikmat ketika Gaara menggerakkan pantatnya. Penis besar gaara kembali menyodok dan menggenjot vagina Naru. Kali ini gerakan Gaara lebih kasar dan tidak beraturan. Kadang penis Gaara menyodok dengan gerakan cepat, kadang gerakannya pelan dan kasar. Tubuh mulus Naru yang telanjang tersentak maju mundur mengikuti irama genjotan penis Gaara. Payudara Naru bergoyang liar tiap kali tubuhnya tersentak maju mundur. Hal itu membuat Gaara gemas.
Dia segera menjamah sepasang payudara indah yang menggantung telanjang itu dan meremasinya dengan kuat sampai Naru meringis-ringis kesakitan. Erangan kenikmatannya bercampur dengan jerit kesakitan yang sesekali meluncur lirih dari bibir Naru. Tidak jarang pula Gaara mempermainkan puting payudara Naru.
Dipencet-pencetnya dan dipilin-pilinnya puting payudara Naru yang menegang itu dengan jarinya, membuat birahi Naru segera kembali memuncak. Kali ini orgasmenya meledak lebih cepat dari sebelumnya. Tubuh Naru kembali menegang dan menggeliat liar.
"Ahhkk... ahh..."
Naru berteriak dengan kepala menengadah ke atas. Kedua kakinya gemetar seolah tidak mampu lagi menyangga berat badannya sendiri. Cairan vaginanya makin membanjir setelah orgasme untuk kali ketiga. Tapi meskipun sudah meniduri Naru sampai berkali-kali mengalami orgasme, Gaara sama sekali belum terpuaskan. Penisnya masih saja mencuat tegang, sama kokohnya seperti sebelumnya.
Kemudian dengan kasar dia mendorong Naru sampai tersungkur ke lantai lalu ditariknya pantat montok itu sampai menungging lebih tinggi ketimbang kepalanya yang nyaris menyentuh lantai. dengan posisi itu, Gaara sangat leluasa untuk membenamkan penisnya sedalam mungkin pada liang vagina Naru.
"Ahhk..." Naru megerang lirih saat penis Gaara seperti bor menerobos vaginanya.
Rasa nyeri membuat Naru tak kuasa menahan air matanya. Kembali Naru bertubuh putih mulus itu harus merasakan penderitaan ketika penis Gaara menggenjot vaginanya.
"Oohhkkhh... ohh..."
Naru kembali mengerang, kali ini tidak sekeras sebelumnya karena tenaganya sudah habis terkuras, tapi vaginanya tetap berdenyut kuat meremas dan membetot penis Gaara yang membenam di dalamnya. Akhirnya Gaara menyerah setelah sekian kali sensasi orgasme vagina Naru merajam penisnya.
"Ohh... Ga-Gaaara sa-sakitt aahh.." Lirih Naru di antara desahannya.
"Shit!" Gaara melenguh, spermanya yang sedari tadi ditahan akhirnya menyembur tak tertahan. Cairan putih kental itu menyembur deras di dalam vagina Naru sampai nyaris tak tertampung, sebagian cairan sperma itu menetes-netes membasahi lantai.
Naru terbaring lemas di atas ranjang setelah percintaanya dengan Gaara. Kepalanya pening dan dirasakannya Gaara kini ikut berbaring bersamanya. Selama beberapa menit keduanya terdiam.
Marah
Perasaan marah mulai menjalar di pikiran Naru. Dia marah dengan Gaara dan juga dengan dirinya sendiri. Kenapa dia mendesah terus selama berhubungan dengan Gaara. Perasaan seperti ini baru pertama kali dirasakannya. Dan itu membuatnya kesal terhadap dirinya sendiri.
"Kau tahu Gaara, aku akan melaporkanmu pada ayahku!"Kata Naru sambil bangkit dari tempat tidur.
Gaara memutar matanya tidak perduli, " Silahkan lapor dengan ayahmu. Biar ayahmu tahu kalau kau curang pada saat ujian kenaikan kelas. Apa kau suka semua orang tahu kalau kau curang dalam ujian? Ayahmu pasti malu sekali sebagai pemilik sekolah."
"Aku BENCI PADAMU!" teriak Naru dengan keras. Diambilnya bantal guling dan dihantamkannya ke kepala Gaara. "Aku menyesal bertemu denganmu! Aku menyesal menerima tawaranmu! Aku benci padamu! Kau manusia rendahan!" Naru tetap berteriak histeris.
"Terserah, tapi aku menyukaimu Naru." Gaara mengelus kepalanya yang tadi terhantam bantal guling. " Jadi sekarang sebaiknya simpan teriakanmu untuk nanti, aku masih mau menidurimu sayang."
Selanjutnya selama semalam suntuk Gaara terus-menerus memaksa Naru untuk melakukan hubungan badan. Seolah tidak ada puasnya, Gaara terus-menerus meniduri tubuh mulus Naru. Naru ingin berontak, tapi tidak bisa berbuat lain kecuali menuruti keinginan Gaara. Disamping karena terpaksa, diam-diam hati kecil Naru juga menikmati persetubuhannya dengan Gaara.
.
.
.
TO BE CONTINUE
