[chaptered FanFic]Labyrinth Memories
黒子のバスケ © Fujimaki Tadatoshi
Labyrinth Memories ― chapter 3 © Ai Natha [Alenta93]
.
Length : 3025 words
Pairings : Lets guess n check 'em on next chapter XD
Warnings :
AU, complex situation, possibly OOC,
all in Akashi's POV [for this chapter], not edited yet
Summary :
Tadi pelayan bersurai biru langit itu bilang, alasan kenapa café ini memiliki lapangan basket outdoor adalah karena pemilik dan para pelayannya menyukai basket. Ayo one-on-one! / Kalau begitu, aku juga akan masuk klub yang sama dengan Tetsuya. / A-akashi-kun? Tadi kau memanggilku― / Akachin― kau juga sudah bertemu dengan Kisechin? /
Satomi.
Otakku menyimpulkan sebuah nama yang terkubur dalam dan tak pernah kuucapkan lagi.
.
Comments :
Hwaaaaaahhh~ osoku natte gomenasaaaaaiii~ *bows deeply*
Maaf banget, seriusan aku stuck 2 scenes awal huweee TwT terus sisanya kukebut hari ini. Maaf klo banyak typo nya, nggak sempet ngedit~~
Entah kenapa pengen apdet juga di 11/4 hhe lets celebration akakuro days ! o/
.
.
Labyrinth Memories
chapter 3 – aitsu ni niteru [similar with him]
.
[Akashi Seijuurou's POV]
.
Criinng~
Lonceng yang tergantung dibelakang pintu depan RedFlag berbunyi saat aku mendorongnya.
"Sei-kun? Kau baik-baik saja?" Tanya Tetsuya begitu aku menyurukkan kantung kertas berisi belanjaan itu ke atas pantry.
"Tidak apa, Tetsuya." Jawabku seraya mengulurkan tangan kananku, mengacak surai blue aquanya―
―yang sepertinya merupakan sebuah kesalahan. Dengan posisi seperti ini, Tetsuya dapat melihat dengan jelas sikuku yang terasa nyeri―yang ternyata lecet dan masih mengeluarkan darah. Tetsuya menatapku dalam. Manik saffirnya terlihat khawatir dibalik wajah datarnya.
"Sei-kun, apa yang terjadi?"
"Tidak apa, ―"
Aku belum menyelesaikan kalimatku saat seseorang menyeletuk, "Kau terjatuh dan kakimu terkilir, Sei-chan?" Aku mengalihkan manik merahku dan mendapati Himuro yang tengah mengelap gelas di balik pantry itu menatapku―lembut, entahlah. Aku mengangkat sebelah alisku. Entah kenapa, dia seolah tahu segala hal. "Tadi kulihat kau menyeret kakimu saat berjalan, rahang bawah sebelah kanan juga sikumu terdapat luka gores. Lalu kantung kertas yang kau bawa juga robek." Tuturnya panjang lebar.
Yah, alasan yang logis.
Aku menutup mataku sejenak sebelum mengarahkan pandanganku pada Himuro, menatapnya tajam. Berharap ia menghentikan segala ocehannya. Hei, ini hanya luka kecil, aku tak mau membuat semuanya khawatir. Sekarang lihat, bahkan Murasakibara sampai melongok dari dapur. "Tadi seseorang menabrakku. Aku baik-baik saja." Tukasku. Dan memang itulah yang terjadi.
"Kizu no teate o shimasu, Sei-kun~ (Biar aku yang mengobati lukamu, Sei-kun~)" Tetsuya kemudian melangkah keluar pantry dengan membawa kotak P3K yang Midorima angsurkan padanya. Menghela nafas, aku mendudukkan diri di kursi tinggi dekat pantry.
Hari ini hanya ada dua pengunjung di depan dekat pintu masuk dan tiga orang yang mengisi sofa empuk di teras. Jam masih menunjukkan pukul 11.04. Aku membiarkan Tetsuya mengobati lukaku saat aku kembali teringat bagaimana aku terjatuh tadi dan menceritakannya pada Tetsuya usai ia bertanya, "Mau menceritakannya padaku?"
.
.
[flashback]
.
Aku tak mengerti apa yang terjadi hingga aku tersungkur dengan sisi kanan kepalaku yang membentur aspal trotoar, tangan kananku yang terjulur ke depan sementara tangan kiriku tertekuk menahan tubuhku. Aku mendesis, mencoba menarik bangun tubuhku. Kukernyitkan dahiku saat sisi kepalaku berdenyut. Seingatku tadi aku tengah berjalan sembari mendekap belanjaan RedFlag yang sekarang bertebaran jatuh dari kantungnya.
Aku duduk setengah berjongkok dengan lutut kiri yang menopang sementara tanganku meraih kantung belanjaanku. Aku kembali mendesis saat tangan kiriku menjatuhkan kaleng creamer yang kupungut. Sepertinya terkilir. Aku berdecak, merepotkan saja!
Aku berniat memutar tubuhku untuk memungut belanjaanku yang lain saat pemuda berkulit tan itu mengangsurkan beberapa kaleng creamer dan plastik berisi ribuan biji kopi. Tanpa menunggu responku, pemuda itu memasukkannya kedalam kantung belanjaanku usai manik biru kelamnya menatap lurus padaku.
"Maaf aku sudah menabrakmu. Aku sedang bermain skateboard."
Suara berat pemuda itu menyusupi indera pendengaranku dan membuatku berdecak untuk kesekian kalinya saat mendengar alasannya.
"Na, apa kau bekerja di café sekitar sini?―"
Aku menatapnya.
"―Kau membeli bahan dalam jumlah besar." Terangnya.
Aku diam, menghiraukannya, kembali sibuk menge-cek belanjaanku.
"Oy! Aku bertanya padamu!" Tegurnya lagi, manik biru kelam itu masih menatapku lurus.
Aku kemudian membawa kantung itu dalam dekapanku sebelum beranjak berdiri. Aku mendesis kesal saat kedua kakiku terasa ngilu begitu menopang berat tubuhku.
"Perlu kuantar?" Pemuda tinggi itu menawarkan seraya menunjuk kantung kertas dalam dekapanku yang sobek disalah satu sisinya.
Aku menghela nafas―lelah. Kesal. Kau kira ini sobek karena siapa? Aku masih mendiamkannya. Tak perlu berurusan lebih lanjut dengan orang yang baru kau temui, bukan? Terlebih dia sudah membuatmu kerepotan.
"Hey." Panggilnya lagi.
Aku berdecak. "Tidak perlu, terima kasih." Ujarku singkat sebelum melangkah meninggalkannya. Mendokusai! (Mengganggu saja!)
.
[flashback end]
.
*55*
.
Hari ini aku menolak mentah-mentah pernyataan Tetsuya yang menyuruhku untuk tetap istirahat di apato. Bagaimana tidak, aku baik-baik saja, hanya perlu melemaskan sikuku yang terluka, sementara kakiku yang kemarin terkilir sudah tidak apa-apa. Ya, kemarin aku hanya duduk di meja kasir, bertukar posisi dengan Himuro yang membantu mengantar pesanan. Kemarin aku sudah berhutang pada Himuro yang bukan karyawan RedFlag untuk mengantar pesanan. Ya, Himuro adalah kekasih Murasakibara, oleh karena itu ia sering―bahkan setiap hari―datang untuk membantu kami. Hari ini Midorima juga sedang off, aku tak mau berhutang pada Murasakibara juga dan menambah pekerjaannya yang hari ini merangkap sebagai wasit untuk penyisihan pertandingan bola basket dalam rangkaian RedFlag's Special Summer Events.
Dan disinilah aku, kembali menolak Tetsuya yang menawarkan untuk menggantikanku mengantar pesanan. "Tidak perlu, Tetsuya, aku tidak apa-apa." Ujarku menatap manik saffirnya sebelum beranjak ke teras, menuruni beberapa anak tangga dan mengangsurkan secangkir espresso dan sepiring baked potato di hadapan salah satu pengunjung kami. "Satu espresso dan satu baked potato. Silahka―"
"Kinou― warukatta na. Kega o sasete, gomen. Kega― douda? (Aku― yang salah kemarin. Maaf sudah membuatmu terluka. Bagaimana― lukamu?)"
Aku yang tengah membungkuk sopan sontak mengangkat kembali wajahku. Senyum tipis yang kutorehkan pudar begitu pendanganku menangkap manik kelam sosok tinggi berkulit tan dan bersurai navyblue itu. Pemuda yang menabrakku kemarin. Aku menghela nafas. Sedang apa dia disini?
"Ternyata benar, kau bekerja di café sekitar tempat aku menabrakmu kemarin. Aku benar-benar minta maaf, kemarin aku sedang menghindari anak kecil yang memu―"
"Heiki―desu. Chanto naotta, kizu wa. Shinpai o kakete, sumimasen deshita. Shitsureishimasu. (Bukan apa-apa. Lukanya sudah sembuh. Maaf sudah membuat Anda khawatir. Saya permisi.)" Ujarku sopan memotong kalimatnya―tentu saja, dia tamuku disini. Ya, kurasa tidak penting mendengarkan alasannya. Semua sudah terjadi kemarin. Aku kemudian melangkah meninggalkannya bersama kopi dan baked potato yang masih mengepulkan asap.
.
*55*
.
Hari jumat. Pertandingan basket antar team yang digelar dalam rangkaian RedFlag's Special Summer Event masih berlanjut. Kagami membantuku membagi handuk dan minuman pada para pemain saat rentang waktu sebelum pertandingan berikutnya. Matahari masih menyengat dengan serpihan awan putih di langit biru cerah khas musim panas yang terbentang luas menaungi lapangan outdoor.
Sebuah tepukan di bahu membuatku menoleh. Dan kembali kudapati pemuda tinggi berkulit tan itu berdiri memandangku, melontarkan kalimat ajakan―atau lebih tepat kukatakan sebagai tantangan? Ayo one-on-one denganku. Menghiraukannya, aku kembali membungkuk, menata kembali nampan berisi botol-botol air mineral kosong―yang sudah kupisahkan antara tutup dan labelnya―hendak kubawa kembali ke RedFlag.
"Tadi pelayan bersurai biru langit itu bilang, alasan kenapa café ini memiliki lapangan basket outdoor adalah karena pemilik dan para pelayannya menyukai basket. Sangat menyukai basket. Dan lapangan ini mengingatkan mereka pada klub di masa sekolah mereka. Ayo one-on-one!" Mengutarakan alasannya, pemuda itu kembali menantangku.
Aku memicingkan mata. "Yaritakunai―desu. (Aku tidak mau.)" Tolakku. Aku tak mengerti, sebenarnya apa yang diinginkan pemuda ini. Menabrakku, menyerbuku dengan berbagai pertanyaan, menemukan dan mampir ke RedFlag, meminta maaf, kembali dan malah mengajakku one-on-one.
Dan ia tidak menyerah. "Hey, kenapa? Aku tahu, tentunya kau juga menyukai basket kan? Bermainlah 1 quarter denganku." Aku memandangnya tajam. Tak suka. Bisakah kau berhenti mengganggu―
"Maaf, kami sedang bekerja. Kalau kau ingin one-on-one, kau bisa menantang pengunjung yang lain sore nanti saat pertandingan usai." Kagami menyuarakan tegurannya dengan sopan―sangat jarang seseorang tempramen seperti chef RedFlag satu ini mampu meredam emosinya. Yah, perkembangan yang bagus~
Tak lama terdengar suara Himuro memberitahukan pemain pertandingan berikutnya melalui pengeras suara. Ya, Himuro bertugas menjadi wasit untuk pertandingan antar team hari ini.
Aku mengangkat nampan, bersiap melangkah keluar dari lapangan saat―
"Baiklah, bermainlah satu quarter denganku. Nanti malam lapangan tidak di pakai kan? Kotowaru riyuu ga naindayo? Saa, one-on-one shiyou! (Kau tak ada alasan untuk menolakku kan? Kalau begitu, ayo one-on-one!)"
Mendengarnya, aku sontak melemparkan pandanganku pada manik biru kelamnya. Pernyataan terakhirnya― tsk! "Omae nante, nani o shiteru― ore no koto?! (Kau― memangnya kau tahu apa tentangku?!)"
Aku menahan nafas kesal usai mengatakannya. Melangkah kembali ke RedFlag, menuju tempat pembuangan sampah dan menyurukkan bagian botol-botol kosong itu sesuai dengan kotaknya. Aku berdecak. Pernyataan terakhirnya, seolah ia tahu segala hal tentangku.
.
*55*
.
"Maafkan saya, saya tidak bisa lagi melatih anak-anak. Saya, ingin berhenti."
"Tapi kenapa, Akashi-san? Kulihat menu latihanmu memang berat, tapi kurasa anak-anak sudah mulai terbiasa dengan gayamu melatih mereka."
"Saya benar-benar minta maaf, tapi keputusan saya sudah final. Saya akan berhenti melatih mereka."
.
.
"Akashi-kun, mau mengambil klub apa?" Tetsuya yang saat itu memiliki tinggi yang sama denganku bertanya mengisi keheningan saat berjalan bersama sepulang sekolah.
"Apa di sekolah ada klub shogi*? Atau igo*?"
(*Shogi : catur Jepang―cara mainnya hampir sama dengan catur pada umumnya (chess) tapi bidaknya menggunakan kayu berbentuk segi lima. Jumlah bidak dan cara mainnya sedikit berbeda dengan chess.
*Igo/go : catur Jepang―biasa disebut permainan adu strategi menggunakan papan 19x19 petak. Pemain harus membuat teritori seluas-luasnya, juga mengepung dan menyingkirkan biji lawan dari papan. Bidak yang dipakai berwarna hitam dan putih berbentuk bulat.)
Kulihat Tetsuya memutar bola mata saffirnya seraya menggembungkan pipinya lucu. Tengah berpikir. "Hmm? Rasanya tidak ada, Akashi-kun. Aku tak melihat ada yang menawarkan klub semacam itu saat awal masuk sekolah kemarin."
Aku membenarkan posisi syal yang melilit leherku. "Kuroko sendiri mengambil klub apa?" Aku balik bertanya.
Dia memandangku. "Aku? Aku mengambil klub basket."
Aku menolehnya, ingin ia menjelaskan tentang klubnya. Dan yang kudapatkan adalah jawaban yang menarik, namun kesan menarik itu lenyap saat ia menceritakan dengan wajah datarnya.
"Salah satu klub olah raga yang menyenangkan, Akashi-kun. Kau akan belajar dorai― (Dribble―Kuroko bermaksud mengatakan dribble dengan mengejanya dalam pelafalan bahasa Jepang XD)" Tetsuya kembali memutar matanya, mencoba mengingat-ingat. "Ah, aku lupa namanya, tapi kau akan belajar memantulkan bola dengan tangan, membuat lemparan akurat yang mampu menerobos ring baik dari dekat juga dari jauh. Lalu, belajar untuk mempercayai teman!"
Aku memicingkan mata membalas tatapan lembutnya. "Mempercayai― teman?"
Kulihat ia mengangguk antusias. "Ya, karena basket bermain secara team berisi lima orang, maka harus ada kerja sama antar team. Jadi, kau harus percaya pada kemampuan teman se-team-mu untuk menang bersama." Dan kudapati Tetsuya tersenyum lembut.
Aku melebarkan mataku menatapnya. Ini kedua kalinya aku melihat Tetsuya tersenyum begitu lembut padaku. "Kalau begitu, aku juga akan masuk klub yang sama dengan Tetsuya." Ujarku yang tanpa sadar memanggilnya dengan nama depan.
"A-akashi-kun? Tadi kau memanggilku―"
"Ha!" Aku tercekat. Aku kemudian memalingkan wajah. "Maaf, aku tak―"
Ia beralih ke sisi aku membuang wajah, sengaja menatapku lurus dengan wajah seriusnya. "Tidak apa-apa. Aku merasa lebih dekat dengan Akashi-kun kalau Akashi-kun memanggilku begitu."
Kulihat rona merah menyambangi wajah chubbynya. Dan entah mengapa, wajahku menghangat. "Kau juga― jangan memanggilku Akashi." Ujarku. Kembali membuang muka. Kali ini mengarahkannya pada jalan di depan kami.
"Kalau begitu― Seijuurou-kun?"
Mendengarnya, aku merasa wajahku semakin memanas. Padahal udara cukup dingin dengan angin yang berhembus membekukan jemariku yang tak terbungkus sarung tangan.
"Terlalu panjang. Baik, aku akan memanggil Sei-kun."
Sontak aku menolehnya. "Katakan sekali lagi, Te–tetsuya." Entah kenapa aku kesulitan memanggil namanya saat menatap manik saffir itu langsung seperti ini.
"Se–sei-kun." Ujarnya yang membuat pipinya yang nyaris pucat itu kini merona merah.
.
*55*
.
"―kun... Sei-kun."
Aku melompat bangun dan terduduk begitu saja. Nafasku terengah. Baru saja aku bermimpi?
"Sei -kun?"
Aku menoleh dan mendapati Tetsuya berlutut disamping ranjangku. "Ah, maaf, Tetsuya. Aku mengagetkanmu?" Ia menggeleng. Aku menghela nafas. "Sankyuu sudah membangunkanku." Aku mengulurkan tangan, mengacak surai blue aquanya. Katakanlah aku mengacak surai lembutnya, tapi nyatanya aku merapikannya dari badhairnya setiap pagi.
"Ohayo gozaimasu!"
Aku mengulaskan senyum, "Ohayo!" Menarik tanganku, aku beranjak menuruni ranjang. "Aku akan mandi duluan, setelah itu aku akan membuat sarapan untuk kita sementara kau berganti mandi." Ujarku.
"Hai, aku akan memberi Riku susu pagi."
"Tanomu zo, Tetsuya. (Tolong ya, Tetsuya.)" Aku kemudian melesat ke kamar mandi di dekat dapur usai menghampiri Riku―anjing dengan jenis Siberian Husky berbulu copper-red yang merupakan hadiah dari Oyaji saat aku berusia 10 tahun―yang langsung menjilat pipiku gemas.
Hari Sabtu, hari ini berganti, Midorima yang menjadi wasit pertandingan RedFlag's Special Summer Events, dengan Tetsuya yang membantunya. Usai memasak dan menghabiskan sarapan, kami berangkat ke RedFlag dengan jalan kaki yang memakan waktu sekitar 15 menit.
Melipat lengan kemeja putihku hingga siku, aku kemudian meraih nampan bertuliskan meja nomor 13 yang berisi satu piring waffle dengan topping ice cream vanilla, taburan choco chips dan beberapa potong buah kiwi segar di atasnya, satu piring potato chips dan satu gelas Iced Blended Orange Coffee―minuman favoritku. Tersenyum samar, aku berpikir untuk membuat segelas Iced Blended Orange Coffee juga setelah mengantar pesana-pesanan ini.
Beralih ke teras, aku meniup poniku yang setengah basah oleh keringat, kemudian menyapa Kagami yang juga mengantar pesanan. Menghampiri meja 13, aku meletakkan sisi nampan pada meja itu― "Permisi~" Ujarku sebelum pandanganku tertuju pada sosok pemuda bersurai pirang yang duduk dengan menopang dagunya di depanku, tengah menyapu pandangannya pada lapangan outdoor di bawah sana sebelum menoleh padaku. Manik emasnya menyapa kedua manik merahku. Mendadak tubuhku kaku. Pandangan mataku tak lepas dari sosoknya.
Satomi.
Otakku menyimpulkan sebuah nama yang terkubur dalam dan tak pernah kuucapkan lagi.
"Ara, Iced Blended Orange Coffee pesananku?" Tanyanya, namun otakku tak mau memproses sebuah jawaban simple untuk menjawabnya. Segalanya seolah terlepas dari segel, melimpah ruah mendorong untuk keluar dan memaksa untuk berputar-putar dalam kepalaku.
Surai pirang itu― Satomi. Manik keemasan yang berbinar itu― Satomi. Senyum lebar secerah musim panas itu― Satomi. Kulit putih dengan tubuh semampai itu― Suara itu― Sato―
Tanpa sadar, punggungku sudah bersandar pada dada bidang itu. Satu tepukan pelan menyambangi bahu kananku. Aku menoleh dan mendapati Kagami yang menopang berat tubuhku tengah membungkukkan sedikit tubuhnya untuk mengangsurkan piring-piring itu dan meletakkannya di depan meja pemuda pirang itu. Sebelah tangan Kagami menangkup tanganku, menahan nampan yang kubawa.
"Sumimasen~ Satu Waffle, satu Potato Chips dan satu Iced Blended Orange Coffee. Silahkan~" Kagami mengulaskan senyumnya. "Aka―?"
Mengatasi tubuhku yang masih bergetar dan pening yang menguar dari kepalaku, aku menumpu berat tubuhku pada kedua kakiku. Sedikit mendorong Kagami dibelakangku untuk meminta jalan, aku kemudian beranjak pergi meninggalkan meja 13 itu.
Sial! Bukan. Pemuda itu bukan Satomi. Aku melemparkan diri pada sofa di sudut dapur, memijit keningku. Chigau. (Bukan.) Sonna arienai (Itu tidak mungkin), Satomi sudah lama pergi. Tada, aitsu ni niteru― darou? (Dia hanya mirip dengan Satomi, kan?)
.
*55*
.
"Ada apa, Tetsuya?" Tanyaku saat melihat Tetsuya duduk di pantry kemudian menyurukkan badannya. Aku yang tengah meracik parfait, mengulurkan tanganku menepuk kepalanya pelan.
"Pemuda bersurai navyblue itu meminta ijin untuk meminjam lapangan." Tetsuya kemudian meniup poninya lucu, masih menidurkan kepalanya diatas lengannya.
Aku melirik jam dinding di sudut RedFlag. Pukul 9.30 p.m, aku mengerutkan dahi. "Apa maunya?"
Tetsuya menarik bangun dirinya kemudian menopang dagunya. "Kenapa, Sei-kun?"
Usai memberikan sentuhan terakhir, aku meletakkan gelas berleher rendah itu di atas nampan yang kemudian diraih Midorima sebelum berucap, "Terima kasih." dan melesat keluar dari pantry.
"Dia yang menabrakku tempo hari." Kulihat Tetsuya membulatkan matanya sejenak sebelum diam, memintaku melanjutkan. Mengerti, aku kembali membuka mulutku. "Dia juga meminta maaf saat aku mengantar pesanannya dan berusaha menjelaskan."
"Lalu apa yang dikatakannya, Sei-kun?"
Aku mengangkat bahu. "Wakaran ya (Aku tak tahu), aku pergi sebelum ia menyelesaikan kalimatnya."
"Sei-kun, seharusnya kau mendengarkan alasannya dulu―"
"Tidak perlu. Aku tak perlu membuang waktu mendengarkannya, toh dia sudah membuatku terjatuh." Aku melirik Tetsuya dengan pandangan―mari kita lupakan yang ini. Aku kemudian melanjutkan. "Kemarin, pemuda berkulit tan itu juga menantangku one-on-one."
"Sore ni? (Lalu?)"
Aku menatap Tetsuya di depanku. "Aku menolaknya. Tentu saja."
Kulihat Tetsuya menghela nafas. "Aku tak menyangka usai menanyaiku soal lapangan outdoor yang dimiliki RedFlag, dia akan langsung manantang Sei-kun."
Aku kembali mengangkat bahuku. Hening, hanya terdengar alunan lagu All Mine milik One Ok Rock yang mengisi RedFlag, juga suara Murasakibara dan Himuro yang bercakap di meja kasir.
"Na, Tetsuya." Aku kembali menarik perhatiannya. "Siang tadi, aku mengantar pesanan milik pemuda pirang― yang mirip dengan Satomi." Ujarku, yang entah kenapa membuat Murasakibara dan Himuro menghentikan obrolannya.
"Akachin― kau juga sudah bertemu dengan Kisechin?"
Aku mengerutkan dahi mendengar Senpaiku dan Tetsuya di Middle School ini saat mengatakan kata 'juga'. "Kau tahu namanya, Murasakibara?"
Pemuda bersurai lavender itu mengangguk.
"Aku yang mengetahui namanya saat ia berkunjung kemari untuk kedua kalinya." Kini giliran Himuro bersuara.
Sudah berapa lama pemuda itu berkunjung kemari dan aku tak pernah bertemu dengannya? Bahkan aku tak mendengar apapun. Kulempar pandanganku pada Tetsuya yang masih duduk di depanku. "Kau tahu sesuatu, Tetsuya?"
Tetsuya menunduk, menyapu pandangannya pada jemarinya yang bertautan. "Aku yang pertama kali mengantarkan pesanannya― sekitar dua minggu lalu saat Sei-kun pergi ke Kyoto." Aku menahan nafas. Sudah selama itu? "Lalu, Kise-kun ternyata juga teman satu kelasku."
Aku tak bisa tidak melontarkan seruan, "Apa kau bilang?!" sementara mataku terbelalak. Aku menelan ludahku susah payah. "Kenapa― kenapa kau tak menceritakannya padaku? Jangan bilang yang tidak tahu akan hal ini hanya aku?!" Aku mengepalkan tanganku kuat.
Tetsuya memandangku, "Aku juga baru mengerti kami sekelas setelah dia berkunjung, Sei -kun~"
"Lalu kenapa kau tak menceritakan apapun padaku, Tetusya?!" Aku mengecilkan suaraku, sadar akan beberapa pengunjung yang masih menikmati kopi dan pesanannya di RedFlag.
"Maafkan aku, Sei-kun, aku―"
"Tetsu-chan hanya tidak ingin kau kembali mengingat kenangan terburukmu, Sei-chan~" Aku melemparkan pandangan tajamku pada Himuro. "Kami juga tetap diam sekalipun kami tahu, lama-kelamaan, akan datang saat Sei-chan bertatap langsung dengannya." Aku kesal. Seolah aku yang dibohongi disini. Seolah aku sendiri yang tak tahu kebenarannya disini.
.
*55*
.
Murasakibara, Himuro dan Midorima sudah beranjak pulang sekitar setengah jam yang lalu. Kemudian Kagami baru saja pamit dengan terburu-buru untuk mengejar kereta terakhir. Sementara Tetsuya, ia berniat menyuruh pemuda berkulit tan itu untuk pulang dan berhenti memakai lapangan outdoor karena café sudah tutup. Entahlah, apa yang membuat pemuda itu masih mondar-mandir memainkan bolanya hingga larut. Ya, jam sudah menunjukkn pukul 11 p.m.
Mendapati Tetsuya yang tak kunjung kembali, aku mengunci pintu samping dan melangkah turun ke lapangan dari teras.
Samar-samar aku mendengar suara Tetsuya, "Maaf, tapi tolong, jangan memaksa Sei-kun untuk bermain basket."
"Kenapa? Kau sendiri yang mengatakannya. Bukannya kalian menyukai basket? Aku hanya ingin bermain dengannya."
Kulihat pemuda tinggi itu menyapu peluh di lehernya seraya menelengkan kepalanya, sebelum kudengar Tetsuya kembali mengeluarkan suaranya.
"Memang, tapi―"
"Tetsuya." Tegurku begitu memasuki lapangan. Aku memicingkan mata menatap pemuda tinggi yang tengah mengatur nafasnya itu. "Aku akan meladeninya."
"Tapi, Sei-kun―"
Aku melepas kemeja lengan panjang yang kukenakan, menyisakan kaus merah tanpa lengan. "Warui, jadilah wasit untuk satu―tidak, dua quarter, Tetsuya. Tanomu." Aku menepuk pundaknya kemudian melambaikan tanganku pada Tetsuya sebelum melangkah ke tengah lapangan berhadapan dengan pemuda tinggi dengan kaus tanpa lengan biru dongkernya yang hampir basah itu.
Kulihat pemuda itu tersenyum senang. "Kau butuh pemanasan dulu―" Ia mengerutkan dahinya, "Se―"
"Panggil aku Akashi." Sahutku yang membuat senyumnya melebar. "Tidak perlu." Ujarku menjawab pertanyaannya.
"Ceh, aku Aomine Daiki." Ujarnya. Ia memutar bola di tangan kirinya, sebelum meregangakan badannya. "Hai hai~ sepertinya ada yang sudah tidak sabar. Yarou ze! (Lets do it!)"
.
.
*ToBeContinued*
.
.
A/N :
.
Hwa ! Kepanjangaaaaannnn~~ aaaaa~~ padahal kukira chapter ini bakal pendek, tapi ternyata malah hampir 3k words .. maaaafff~~ tapi moga kalian puas, teringat aku lama banget ngapdetnya .. warukatta, gomen~ *bows*
Nah, gimana chapter ini ? Plotnya kecepetan nggak minna ? terus, Akashi nya OOC nggak ? Ni aku pke karakter Akashi yang belom dapet emperor's eyes, jadi kesannya nggak seberapa arogan~ Mohon kritik, saran n komennya yak~ yoroshiku~ *bows*
.
.
Hai, as usual, you can skip this part guys, I'll reply all reviews on previous chapter :D Thanks to all of you who mind to leave your reviews .. So lovely~ sankyuu /
Akashi Keita : hhaha drama korea apakah Keita-san? Kalo' aku keingetnya ama komik-komik hhe XD
Hmm, buat akashi yang suka anjing disini― err ada alesannya, nanti bakal kujelasin .. :D
Hhaha kuroko? Well dia emang uke, jadi sudah selayaknya dia jadi uke *plakkplakk* XDD
Hai, sankyuu udah nemu, baca n nyempetin buat review Labyrinth Memoriesnya, Keita-san :*
.
usane-san : hhaha halo, usane-san, makasih udah baca n nyempetin buat ninggalin review yak~ :*
Hmm soal pairing, coba tebak~ ntar kukasih tau di chapter depan hhehe XD
Makasih yak~ di tunggu aja next chapternya, moga bisa cepet .. hhe
.
Yuna Seijuurou : hwaaaa hhehe makasih ka'yuna~ duh, jadi sungkan di bilang amazing / *plakplaaaakk* XDD
Hhehe sengaja beberapa kuselipin pke nihongo yang sering di pake' kak, sapa tau bisa buat perbendaharaan kata :D
Hhohoho yes ! tunggu kejutan-kejutan di chapter berikutnya .. sudah menemukan kejutan atau mungkin malah pertanyaan tambahan di chapter ini ? fufufu #hoy! XDD
Hai, ganbarimaaaassuu~ o9
.
ryuu dearu : iya, heiki wa yo .. kocchi mo, osoku natte suman~ /\
Oh iyaaa~ okeoke, soal yang keluar-masuk ntu aku jadi mikir-mikir di chapter ini .. moga" udah nggak ada yang salah lagi hhe
Hmm, gitu kah ? Yang nafas diganti udara .. hmm yokai, sankyuu koreksi nya yak~ :*
Hhehe iyaa sih, maksud kukasih deskrip yang detail juga biar readers bisa bayangin gimana RedFlag itu sendiri, soalnya settingnya sebagian besar bakal ada di redFlag .. :D
Hhoho shyukurlah klo Kise nya keliatan Kise. Takut OOC aja .. moga-moga ni Akashinya nggak terlalu OOC juga yak *wondering*
Hish, jangan geli donk~ kan wajar klo orang lagi tertarik ama orang laen sikapnya rada abnormal gitu~ *ditimpuk aomine* XDD
Hhaha yang soal di kampus ntu, kan aku pengen nongolin kesan "deja vu" sesuai ama judul chapternya .. hhe yah ntu nggak sengaja juga kebikin yang KiKuro XD
Hai, maaf sudah membuatmu menunggu .. ini chapter 3 nya udah .. moga chapter 4 nya bisa cepet *hopefully* /\
Maidoari, udah baca, review n keep supporting me :*
