Selamat Datang!

Saya datang membawa chapter ketiga. Maaf kalau saya telat updetnya. Sangat telat sekali.

Semoga kalian menyukainya dan saya ucapkan selamat membaca!^^'


Summary:

Kesepian menyelimuti seorang pemuda bernama Ulquiorra Schiffer. Meskipun ia hidup lebih dari kata berkecukupan, ia merasa selalu ada kekosongan dalam kehidupannya. Meskipun begitu ia tidak pernah menunjukkan rasa kesepiannya itu pada orang lain. Apakah pemuda yang dijuluki Pangeran Es ini akan menemukan hal yang bisa mengusir rasa kesepiannya dengan adanya kehadiran gadis pemilik senyuman matahari seperti Orihime Inoue?


Bleach

Tite Kubo

(Bukan punya Lan)

Rate T

Genre

Romance & Friendship

Pairing

Ulquiorra Schiffer & Orihime Inoue

(Grimmjow Jeagerjaquez & Neliel Tu Oderschvank)

The Lonely Prince

Neary Lan


Bab 3

Thoughts That are Not Predictable

Orihime masih berada di rumah Ulquiorra untuk menyelesaikan tugas kelompok mereka. Tentu saja mereka berdua masih mengerjakannya dalam diam dan keheningan. Hanya sesekali terdengar bunyi alat tulis atau buku yang dibuka. Orihime merasa sangat tidak nyaman. Ia melirik Ulquiorra yang sedang serius membaca buku bersampul merah yang kelihatannya sangat tebal. Mata Ulquiorra sangat fokus sekali menelusuri huruf-huruf yang tercetak di buku tersebut. Orihime memanfaatkan kesempatan ini untuk menatap Ulquiorra secara keseluruhan dari balik buku yang dibacanya.

Mula-mula Orihime mengamati rambut Ulquiorra yang berwarna hitam dan kelihatannya sangat halus dan juga indah untuk ukuran seorang laki-laki. Orihime berpikir pasti Ulquiorra sangat rajin merawat rambutnya. Kemudian ia mengamati wajah tampan Ulquiorra. Orihime memang mengakui wajah Ulquiorra sangat tampan meskipun kulitnya putih pucat. Yang membuat Orihime tertarik adalah mata emerald Ulquiorra yang serasa telah menghipnotisnya. Ia memang tidak pernah bosan menatap mata emerald Sang Pangeran Schiffer. Lalu, mata Orihime beralih ke tubuh Ulquiorra yang berkulit putih pucat. Menurut Orihime tubuh Ulquiorra sangat sempurna apalagi dibalut dengan kemeja putih lengan pendek dan celana panjang hitam yang dikenakannya. Dengan kata lain hanya satu kata yang cukup untuk menggambarkan Ulquiorra. Sempurna. Orihime menghela nafas di balik bukunya. Tanpa disadarinya bahwa wajahnya perlahan-lahan memerah.

Schiffer benar-benar tampan.

Ulquiorra mulai menyadari sesuatu yang sejak tadi diberitahukan oleh otaknya. Ia mengalihkan wajahnya dari buku yang dibacanya dan mulai menatap Orihime. Dapat dilihatnya gadis berambut orange itu sedang menatapnya secara diam-diam dari balik buku yang dibacanya. Ada rona merah juga yang terpancar di kedua pipi Orihime. Andaikan saja Ulquiorra tidak bersikap dingin mungkin otaknya akan menyuruhnya berkata bahwa Orihime terlihat 'manis' dengan rona merah di kedua pipinya. Namun, kata itu tidak akan dikatakannya untuk saat ini. Orihime terkesiap ketika menyadari kini Ulquiorra juga menatapnya. Buru-buru ia menutup seluruh wajahnya dengan buku.

Aduh, dia lihat ke sini. Pasti dia merasa aku mengganggunya lagi.

"Apa kamu begitu suka melihat wajahku?" Ulquiorra bertanya dengan nada dingin seperti biasanya. Ia menutup buku tebal yang sedari tadi dibacanya dan meletakkannya di meja.

Orihime menyadari bahwa Ulquiorra sedang berbicara padanya. Dengan ragu-ragu Orihime memunculkan wajahnya dari balik buku. Senyum pun hanya terlukis tipis di bibirnya. Ulquiorra masih menatapnya dengan wajah datar tanpa ekspresi. Mata emeraldnya terus menatap mata abu-abu Orihime. Itu membuat Orihime berpikir bahwa Ulquiorra akan memarahinya. Namun, Orihime mencoba untuk bersikap biasa meskipun ia merasa itu percuma saja.

"Ng, maafkan aku, Schiffer. Aku, aku hanya…" Orihime bingung untuk melanjutkan kata-katanya. Otaknya berputar cepat, namun ia tidak mendapatkan alasan yang tepat.

Apa yang harus aku katakan?

"Apa?" tanya Ulquiorra yang menunggu jawaban dari Orihime.

"Aku harus jawab apa?" gumam Orihime. "A, aku…"

"Ulquiorra!" panggil Neliel yang tiba-tiba masuk ke kamar Ulquiorra. Wajahnya terlihat ceria.

"Permisi Tuan Muda," ujar Kepala Pelayan Aaroniero.

Ulquiorra dan Orihime menoleh ke arah Neliel yang sedang tersenyum kepada mereka berdua dan Kepala Pelayan Aaroniero yang juga tersenyum ramah seperti biasanya. Selain Neliel dan Kepala Pelayan Aaroniero yang datang ke kamar Ulquiorra, Grimmjow juga datang dengan wajah yang masih terlihat cemberut. Neliel membawa nampan berisi St. Honoré Cake, salah satu kue dari Perancis dan Kepala Pelayan Aaroniero juga membawa nampan berisi empat cangkir teh. Sedangkan Grimmjow masih membawa-bawa pedang kayu yang disandarkan di pundaknya. Tampaknya ia masih ingin mencoba untuk mengajak Ulquiorra bertarung.

Kepala Pelayan Aaroniero dan Neliel meletakkan nampan berisi cangkir teh dan St. Honoré Cake di meja. Orihime menyingkirkan beberapa buku dan alat tulis yang berserakan di meja. Neliel masih tersenyum manis dan Grimmjow hanya menyandar di dinding dengan satu tangan di dalam saku celananya. Ulquiorra memandang bosan kepada Neliel dan Grimmjow. Ia hanya menghela nafas.

"Nah, silakan dimakan!" seru Neliel.

"Selamat menikmati, Tuan Muda, Nona." Kepala Pelayan Aaroniero membungkuk hormat kepada Ulquiorra dan Orihime. Orihime mengangguk sementara Ulquiorra menghela nafas.

"Kenapa kamu datang kemari lagi, Neliel?" Ulquiorra menatap Neliel.

"Aku kemari untuk membantu Kak Aaro menyiapkan teh. Kebetulan Ibuku baru pulang dari

Perancis dan bawa oleh-oleh itu," kata Neliel sambil menunjuk St. Honoré Cake di meja.

"Kamu dan Orihime pasti suka."

Kue yang cantik.

Orihime tampak kagum melihat kue yang dibawa oleh Neliel. Menurutnya kue itu sangatlah cantik dan pastinya akan terasa lezat.

"Terima kasih atas bantuannya, Nona Neliel. Seharusnya Nona tidak perlu repot-repot membantu saya."

"Tidak apa-apa, Kak Aaro. Aku tidak merasa direpotkan," kata Neliel sambil tersenyum.

"Tch!" Grimmjow berdecak. Neliel menatapnya bingung.

"Kamu kenapa, Grimmjow?" tanya Neliel.

Grimmjow tidak menjawab dan mengalihkan pandangannya ke jendela. Neliel mengangkat sebelah alisnya. Kembali bingung.

"Lalu si rambut biru itu?" Ulquiorra menunjuk Grimmjow. Pemuda bermata emerald ini memandang tajam ke arah Grimmjow. Grimmjow menyadarinya dan ia balas menatap tajam Ulquiorra.

"Ah, Grimmjow hanya datang menemani saja. Tenang, aku takkan biarkan Grimmjow berbuat seenaknya," ujar Neliel.

"Siapa yang akan berbuat seenaknya? Paling satu serangan saja cukup." Grimmjow mulai menyeringai. Ia memain-mainkan pedang kayu di tangannya.

Neliel menghela nafas. "Sudahlah, Grimmjow."

"Tch!" Grimmjow berdecak lagi.

"Kalau begitu saya permisi dulu." Kepala Pelayan Aaroniero membungkuk hormat lagi kepada Ulquiorra, Neliel dan Orihime. Ketika melewati Grimmjow, ia juga membungkuk hormat. Grimmjow hanya menoleh ke arah lain.

Kepala Pelayan Aaroniero pun keluar dari kamar Ulquiorra. Neliel duduk di sofa di sebelah Orihime yang masih menatap St. Honoré Cake dengan kagum. Kue itu benar-benar cantik dan terlihat lezat sekali jika sudah berada di dalam mulut. Ulquiorra justru memandang St. Honoré Cake itu dengan malas karena dia tidak terlalu suka makanan manis. Pemuda bermata emerald itu mengambil teh dan menyeruputnya perlahan. Neliel menoleh kepada Grimmjow yang masih bersandar di dinding.

"Kenapa kamu bersandar di situ, Grimmjow? Ayo gabung di sini." Neliel melambaikan tangannya pada Grimmjow.

Grimmjow sebenarnya malas tetapi ia menuruti permintaan Neliel. Dengan langkah malas Grimmjow berjalan menghampiri tiga orang yang sedang duduk di sofa empuk milik Pangeran Schiffer sambil menikmati teh. Grimmjow duduk di sebelah Neliel. Mata biru safir Grimmjow menatap Ulquiorra yang sedang menikmati tehnya, namun Ulquiorra tidak mengubrisnya. Neliel menyadarinya, lalu ia mencoba untuk mengalihkan perhatian.

"St. Honoré Cake ini sangat enak. Ayo dicoba, Orihime," ujar Neliel sambil memberikan piring kecil berisi St. Honoré Cake kepada Orihime.

"Terima kasih, Kak Neliel." Orihime mengambil piring kecil dari tangan Neliel. Gadis berambut orange menyuapi sepotong kecil kue itu ke dalam mulutnya. "Hm, enak sekali."

"Iya, 'kan? Sudah kuduga kamu pasti suka. Ng, kamu tidak ingin mencobanya, Ulquiorra?" Neliel menoleh kepada Ulquiorra yang entah sejak kapan sudah membaca buku tebalnya.

"Aku tidak suka makanan manis," jawab Ulquiorra tanpa mengalihkan matanya dari buku.

"Jangan seperti itu, Ulquiorra. Cicipi sedikit saja," pinta Neliel. Ulquiorra mengacuhkannya.

"Aku suapi, ya," katanya lagi sambil mengarahkan garpu yang terdapat potongan kecil St. Honoré Cake kepada Ulquiorra.

"Tidak, Neliel. Aku tidak mau, tetapi aku berterima kasih karena kamu sudah repot-repot membawa kue manis itu." Ulquiorra menatap Neliel sebentar, kemudian mengalihkan matanya ke buku lagi.

Neliel memasang wajah cemberut. Ia tak bisa melakukan apa-apa jika Ulquiorra sudah berkata seperti itu. Grimmjow menutup mulutnya dengan tangan untuk menahan tawanya. Orihime hanya memotong St. Honoré Cake kecil-kecil agar mudah untuk dimakan. Sesekali ia memperhatikan mereka.

"Hahaha… Percuma saja kau suruh Si Pangeran Es untuk makan kue manis mengerikan itu, Neliel. Dia yang suka berekspresi datar seperti itu mana akan mengerti tentang kue lezat yang kau bawa ini," ejek Grimmjow sambil mengacung-acungkan garpunya kepada Neliel. Ia pun tertawa.

Wajah Neliel memerah menahan malu karena ejekan Grimmjow. Gadis berambut hijau itu mencolek sedikit krim St. Honoré Cake dan dengan cepat mengoleskannya di pipi Grimmjow yang masih mentertawakannya. Grimmjow langsung tersadar dan memegang pipinya yang terdapat olesan krim kue Perancis itu. Neliel langsung tertawa melihat Grimmjow yang mulai menggeram marah.

"Apa-apaan ini?" Grimmjow memegang pipinya.

"Hahaha… Kamu lucu sekali, Grimmjow. Rasakan itu karena sudah mengejekku," balas Neliel sambil menjulurkan lidahnya.

"Neliel, kau…" geram Grimmjow. Di tangannya masih terdapat olesan krim St. Honoré Cake. "Jangan tertawa seperti itu."

Neliel masih tertawa. Orihime yang melihat kelakuan mereka berdua hanya tersenyum kecil, sedangkan Ulquiorra hanya menghela nafas dan tidak mempedulikan apa yang dilakukan oleh sepupu serta teman kecilnya itu. Grimmjow masih menggeram marah. Kemudian dengan cepat ia juga mencolek krim St. Honoré Cake banyak-banyak dan langsung mengoleskannya di pipi mulus Neliel. Neliel terlambat menghindar sehingga krim kue itu sudah menghiasi pipinya.

Sekarang giliran Grimmjow yang kembali tertawa terbahak-bahak dan mengejek Neliel yang tambah kacau. Neliel memasang wajah cemberut dan kembali mencolek krim St. Honoré Cake untuk membalas perbuatan Grimmjow tadi. Tetapi kali ini Grimmjow bisa menghindari serangan Neliel.

"Tidak kena!" seru Grimmjow kembali mengejek Neliel. "Nah, sekarang siapa yang paling terlihat lucu? Kau Neliel." Grimmjow memanas-manasi Neliel.

"Uh, awas kamu!" geram Neliel. Dia terus menyerang Grimmjow.

Perang mengoleskan krim di wajah pun dimulai antara Grimmjow dan Neliel. Keduanya semakin bersemangat untuk mengoleskan krim di wajah masing-masing lawan. Grimmjow selalu bisa menghindari serangan-serangan krim St. Honoré Cake Neliel dengan mudah. Itu membuat Neliel kewalahan terlebih lagi malah wajahnya yang sekarang lebih banyak terkena krim St. Honoré Cake. Tawa Grimmjow pun makin keras melihat wajah cantik Neliel yang sekarang tampak kacau. Sedangkan Grimmjow hanya terkena sedikit krim di beberapa bagian wajahnya.

Kue St. Honoré Cake milik Grimmjow dan Neliel masing-masing sudah tidak berbentuk lagi karena krimnya terus diambil yang mana sekarang telah berpindah tempat di wajah satu sama lain. Tidak ada yang mau mengalah di antara keduanya. Orihime hanya menahan tawanya melihat wajah Neliel dan Grimmjow yang penuh dengan krim St. Honoré Cake. Gadis ini sempat berpikir bahwa Grimmjow dan Neliel mirip dengan Ichigo dan Rukia. Keras kepala dan satu sama lain tidak ada yang mau mengalah, tetapi di sisi lain mereka terlihat lucu.

Mereka berdua mirip dengan Kurosaki dan Rukia.

"Kau tidak akan menang dariku, Nel," ejek Grimmjow lagi sambil menahan kedua tangan Neliel.

"Tidak akan jika kamu tidak menahan kedua tanganku, Grimmjow," dengus Neliel yang sedang berusaha melepaskan tangannya dari Grimmjow.

"Ho, benarkah?" Grimmjow menyeringai.

"Kalian berdua seperti anak kecil. Apa kalian tidak malu bertingkah seperti itu di depan tamu?" tanya Ulquiorra tiba-tiba. Ia menutup bukunya dan menatap Grimmjow serta Neliel.

Grimmjow dan Neliel berhenti ketika mendengar perkataan Ulquiorra. Grimmjow melepaskan tangan Neliel. Mereka berdua menatap Ulquiorra dan dapat melihat mata emerald Ulquiorra yang sedikit menyiratkan emosi, kemudian mereka melihat ke arah Orihime yang sedang menyeruput tehnya. Gadis berambut orange ini bingung karena dipandangi secara tiba-tiba oleh Grimmjow dan Neliel.

"A, ada apa?" tanya Orihime polos.

"Dia memang tamu tetapi kami 'kan juga tamu, Ulquiorra," ujar Grimmjow seadanya.

"Dasar bodoh!" Neliel memukul kepala Grimmjow lagi.

"Aduh, sakit! Apa kepalaku ini harus selalu merasakan pukulanmu?" Grimmjow menggeram marah kepada Neliel. Ia memegang kepalanya yang lagi-lagi dipukul Neliel.

"Maaf ya, Orihime. Kami berdua bersikap kekanakan di depanmu, seharusnya kami lebih bersikap sopan lagi di hadapan tamu," ujar Neliel sambil tersenyum. Ia mengacuhkan pertanyaan Grimmjow.

"Tch! Aku malah diacuhkan," gerutu Grimmjow. Ia mengambil teh di meja dan meminumnya dengan wajah kesal.

"Ah, tidak apa-apa, Kak Neliel. Lagipula kalian berdua sangat lucu karena, hmph…" Orihime menahan tawanya. Neliel memandangnya bingung. "Sebelumnya saya minta maaf kalau tidak sopan, tetapi wajah Kak Neliel sangat lucu. Banyak sekali noda krim," kata Orihime. Ia berbicara sambil menutup mulutnya dengan tangan agar tidak tertawa.

"Uh, iya. Banyak krim yang menempel di wajahku. Grimmjow, kamu terlalu banyak mengoleskan krim di wajahku!" Neliel menatap Grimmjow yang duduk di sebelahnya dengan cemberut.

"Itu juga karena ulahmu, 'kan Nel? Jadi, jangan salahkan aku," sahut Grimmjow yang sedang menyeruput tehnya.

"Apa katamu?" geram Neliel. Kedua tangannya terkepal untuk bersiap-siap menghajar Grimmjow.

"Kalian berdua benar-benar selalu membuat keributan. Lebih baik bersihkan wajah kalian yang penuh krim itu," perintah Ulquiorra yang sejak tadi hanya menonton keributan antara Neliel dan Grimmjow. Sepertinya kesabaran Ulquiorra sudah habis oleh sepupu dan teman kecilnya itu.

"Kalau begitu aku pinjam toilet di kamarmu, Pangeran," sahut Grimmjow yang sudah bangkit berdiri.

"Tidak. Aku duluan, Grimmjow!" seru Neliel tidak mau kalah.

"Hei, aku yang seharusnya duluan. Ini semua 'kan karena ulahmu." Grimmjow juga tidak mau kalah. Neliel ingin membalas perkataan Grimmjow, namun dipotong cepat oleh Ulquiorra.

"Tidak ada yang boleh memakai toilet di kamarku. Kalian pakai saja toilet lain di rumah ini." Ulquiorra berkata dingin kepada keduanya. Tentu saja dia sama sekali tidak memiliki maksud untuk melerai kedua orang yang selalu membuat keributan di rumahnya itu.

"Huh, Pangeran Es pelit," dengus Grimmjow. Pemuda berambut biru itu segera berlalu keluar dari kamar Ulquiorra.

"Tunggu aku, Grimmjow! Orihime, aku pergi sebentar, ya." Neliel tersenyum sesaat kepada Orihime sebelum berlalu meninggalkan kamar Ulquiorra. Orihime mengangguk dan membalas senyumannya.

Kedua orang yang wajahnya penuh dengan krim kue St. Honoré Cake itu sudah berlalu keluar dari kamar Ulquiorra. Orihime tertawa kecil melihat tingkah mereka berdua. Kemudian ia melirik sedikit ke arah Ulquiorra. Dapat dilihatnya pemuda berkulit pucat itu menghela nafas panjang seolah baru menghirup udara bebas. Posisi duduknya pun terlihat lebih rileks seperti baru terlepas dari ketegangan yang berkepanjangan. Ulquiorra menyandarkan kepalanya di sofa dan meletakkan tangan kanannya di keningnya. Orihime tidak mengerti dengan apa yang dilakukan Sang Pangeran Schiffer.

"Huft…" Ulquiorra menghela nafas panjang. "Mereka berdua tidak pernah memberikan ketenangan padaku." Matanya menatap lurus ke depan dan mendapatkan seorang gadis berambut orange sedang menatapnya dengan bingung. "Aku lupa kalau kamu masih ada di sini," bisiknya pada diri sendiri.

Ulquiorra membetulkan kembali posisi duduknya. Kini mata emeraldnya menatap mata abu-abu Orihime. Orihime terkesiap karena Ulquiorra menatapnya. Ia merasa malu dan canggung dengan tatapan tanpa ekspresi Ulquiorra. Bibir Ulquiorra bergerak untuk mengucapkan sesuatu.

"Kamu suka St. Honoré Cake itu?" tanya Ulquiorra. Matanya kini tertuju pada kue St. Honoré Cake yang ada di meja.

Orihime tidak mengerti maksud Ulquiorra. Namun, ia mencoba untuk menjawab pertanyaan itu.

"Ya, aku suka," gumam Orihime pelan.

"Begitu? Karena suka dengan rasanya yang manis dan enak kamu sampai tidak menyadari ada noda krim yang juga menempel di sudut bibirmu," ujar Ulquiorra yang bertopang dagu dengan tangan kanannya.

Orihime terkejut mendengar perkataan Ulquiorra. Tangannya memegang sudut bibirnya dan ternyata benar sesuai perkataan Ulquiorra bahwa ada noda krim yang menempel di sudut bibirnya. Buru-buru Orihime menghapus noda krim itu dengan tangannya. Gadis berambut orange itu merasa malu karena ia terlihat ceroboh di hadapan Ulquiorra. Namun, seberapa malunya Orihime itu tidak membuat Ulquiorra merubah raut wajah datarnya.

Aduh, kenapa aku bisa seceroboh ini.

Orihime mengeluh di dalam hatinya. Kemudian ia bangkit dari sofa.

"Kamu mau kemana?" tanya Ulquiorra yang masih menatap Orihime.

"A, aku mau ke toilet," kata Orihime.

"Pakai saja toilet yang ada di kamarku. Toiletnya di sebelah sana." Ulquiorra menunjukkan arah toilet dengan jari telunjuk pucatnya.

"Te, tetapi…"

"Pakai saja. Aku tidak mau ambil resiko jika kamu tersesat di rumahku hanya karena mencari toilet," jelas Ulquiorra dingin.

Orihime tidak bisa membantah perkataan Ulquiorra. Maka ia memilih untuk mengangguk.

"Baiklah, aku permisi dulu." Orihime buru-buru berjalan menuju toilet.

Ulquiorra menatap punggung Orihime yang berjalan terburu-buru ke toilet. Rambut gadis orange itu seperti menari ketika pemiliknya melangkahkan kakinya dengan cepat. Ulquiorra mengalihkan pandangannya menuju meja yang digunakannya untuk belajar kelompok dengan Orihime. Meja itu kini tampak sangat berantakan. Mata emerald Ulquiorra tertuju kepada kue St. Honoré Cake miliknya yang masih dalam keadaan utuh.

Lama Ulquiorra menatap kue Perancis tersebut. Kemudian tangan pucatnya menyentuh kue itu dan mencolek sedikit krimnya. Ulquiorra menjilat krim yang menempel di jarinya. Wajah pucatnya sedikit meringis ketika krim itu sudah masuk ke dalam mulutnya.

"Manis seperti biasanya," gumam Ulquiorra pelan.

Sekelabat ingatan berputar di kepala Ulquiorra. Ingatan ketika dirinya masih kecil.

oOo

Kenapa kamu tidak makan kuemu, Ulquiorra?

Aku tidak suka makanan manis, Bu.

Jangan bilang kalau tidak sukanya kamu dengan makanan manis karena didikan Ayahmu.

Tidak, Bu. Ini bukan karena didikan Ayah, aku sendiri yang memang tidak suka.

Sayang sekali, padahal Ibu sudah membelinya khusus untukmu. Rasanya aneh untuk anak umur delapan tahun sepertimu tidak suka makanan manis. Apa benar kamu tidak mau memakannya?

Kalau hanya sedikit tidak apa-apa, 'kan?

Lebih baik daripada tidak. Nah, makanlah.

Enak. Kuenya sangat enak, Bu. Sepertinya aku belum pernah makan kue ini.

Ibu tahu kamu akan menyukainya. Kue itu adalah salah satu kue dari Prancis, namanya St. Honoré Cake.

oOo

Seorang pemuda berambut biru dan seorang gadis berambut hijau sedang berjalan di koridor rumah Keluarga Schiffer. Tujuan mereka adalah ke toilet untuk membersihkan wajah mereka yang terkena krim kue. Karena rumah Keluarga Schiffer terlalu luas dan besar butuh beberapa menit bagi mereka untuk menuju toilet.

Selama di perjalanan gadis berambut hijau bernama Neliel terus menggerutu kepada pemuda berambut biru di sebelahnya yang bernama Grimmjow. Si pemuda hanya mendengar gerutuan si gadis dengan malas. Semua yang didengarnya hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Namun, sesekali Grimmjow menanggapi juga gerutuan Neliel seperti yang kini sedang berlangsung.

"Kamu memang menyebalkan, Grimmjow. Lihat wajahku yang penuh krim ini," gerutu Neliel.

"Aku menyebalkan? Halo, Nona Neliel Tu Oderschvank yang wajahnya penuh krim kue, siapa yang dengan sengaja mengoleskan krim kue di wajah tampan Tuan Grimmjow Jeagerjaquez ini? Kau Neliel, kau yang memulainya duluan," ledek Grimmjow.

"Jangan meledekku lagi!" Neliel mencubit pergelangan tangan Grimmjow dengan kuat.

"Aduh! Hari ini sudah berapa kali kau menindasku, Nel?" Grimmjow memandang Neliel dengan marah. Ia mengusap tangannya yang dicubit Neliel.

"Siapa yang menindasmu? Aku cuma memberi peringatan," sahut Neliel membela diri. "Coba lihat wajahku dan tanganku yang penuh krim ini? Aku benar-benar harus membersihkannya."

Grimmjow mendengus mendengar perkataan Neliel. Kesabarannya kepada gadis berambut hijau itu sepertinya sudah habis. Rasanya ia ingin membalas perlakuan Neliel. Tiba-tiba bibir Grimmjow membentuk sebuah seringai yang tidak disadari oleh Neliel. Ia mendekatkan dirinya pada Neliel. Dengan cepat Grimmjow mendorong tubuh Neliel dan merapatkannya ke dinding. Kedua tangan Neliel ditahannya.

Beruntung tindakan Grimmjow ini tidak terlihat oleh siapa pun baik dari para pelayan maupun Kepala Pelayan Aaroniero. Koridor yang mereka lewati benar-benar sepi. Neliel membelalak kaget ketika Grimmjow mendorongnya ke dinding. Pemuda berambut biru tersenyum melihat gadis berambut hijau yang menatapnya dengan ekpresi kaget luar biasa. Mungkin Grimmjow sudah bukan tersenyum lagi, tetapi menyeringai senang. Senang melihat wajah Neliel yang sekarang terlihat panik.

"A, apa yang mau kamu lakukan, Grimmjow?" Neliel bertanya panik. Ia berusaha melepaskan tangannya yang ditahan Grimmjow.

"Sederhana. Karena wajah dan tanganmu penuh krim aku jadi ingin membantumu untuk membersihkan noda manis ini," kata Grimmjow tersenyum menyeringai.

Senyum seringai masih menghiasi wajah tampan Grimmjow. Senyuman itu membuat Neliel merasa takut. Gadis berambut hijau menyadari suatu perbedaan yang akan terjadi jika pemuda berambut biru sudah menunjukkan senyum seringai mengerikan miliknya.

"Membantu apa? Kamu menahan kedua tanganku seperti ini. Jangan berbuat macam-macam, Grimmjow!" Neliel memberi peringatan.

"Bagaimana kalau satu macam saja?" tawar Grimmjow.

"Satu macam? Apa maksudmu?" Neliel tidak mengerti. Kepanikan terus melandanya. "Aku sudah memperingatkanmu untuk jangan macam-ma…"

Terlambat. Ucapan Neliel terpotong dengan aksi Grimmjow yang mulai menjilati noda krim yang ada di pipinya. Ia menjilatnya dengan perlahan. Aksi si pemuda berambut biru membuat gadis berambut hijau membelalakkan mata indahnya. Lidah Grimmjow yang tadinya menyapu noda-noda krim di pipi Neliel kini beralih ke jari kanannya. Grimmjow menjilati noda krim di jari kanan Neliel hingga tak bersisa.

"Hentikan, Grimmjow!" pinta Neliel berusaha menjauhkan jarinya dari mulut Grimmjow. Tetapi Grimmjow tidak mempedulikan permintaan Neliel dan terus menjilati jari-jari Neliel yang lain.

"Manis," gumam Grimmjow yang menatap Neliel.

Mau tidak mau wajah Neliel kini sudah memerah. Mata biru safir Grimmjow menangkap rona merah yang kini sudah menghiasi wajah cantik gadis yang selalu memarahinya itu. Hal itu diam-diam sangat disukai oleh Grimmjow. Dia jarang mendapati si gadis dalam keadaan terjepit seperti ini serta dirinya yang diam-diam menikmatinya. Jika ada yang perlu disalahkan, maka salahkan setan kecil yang membisikkan Grimmjow untuk mengerjai Neliel.

"Cukup, Grimmjow!" Neliel mendorong Grimmjow ketika tangannya sudah dalam keadaan bebas.

Grimmjow hanya terdorong beberapa langkah. Wajahnya masih melukiskan senyum seringai yang juga bercampur dengan seringai ejekan. Tentu ejekan yang ditujukan kepada Neliel yang masih belum bisa menghilangkan rona merah di kedua pipinya. Neliel cukup kaget mendapati jantungnya tiba-tiba berdegup kencang.

"Huh, seharusnya kau berterima kasih padaku," kata Grimmjow sambil menyisir rambut birunya ke belakang.

"Bodoh. Kenapa kamu melakukan hal ini padaku?" marah Neliel. Kedua tangannya sudah terkepal erat. Hanya butuh waktu yang tepat untuk mendaratkan pukulan manis di wajah tampan Grimmjow.

"Aku hanya merasa sayang saja jika krim itu kau bersihkan, padahal masih bisa dimakan," ujar Grimmjow santai.

"Jangan bercanda!" seru Neliel. Ia mulai melayangkan pukulan ke arah wajah Grimmjow.

Namun sayang, pukulan itu tidak mengenai wajah Grimmjow. Grimmjow menghindarinya dengan cepat dan malah menangkap tangan mulus itu serta merapatkan kembali tubuh pemiliknya ke dinding. Lengan sebelah Grimmjow melingkar di pinggang Neliel. Mungkin setan kecil benar-benar telah membisikkan sesuatu kepada Grimmjow.

Neliel kembali panik. Tak diragukan lagi wajahnya kembali memerah. Senyum seringai Grimmjow kini terlihat seperti seringai ejekan. Neliel ingin memaki dirinya karena jantungnya kembali berdegup.

"Kamu mau apa lagi, Grimmjow? Lepaskan aku!" seru Neliel lagi. Grimmjow berpura-pura tidak mendengar.

"Apa kau tahu, Nel? Lebih nikmat menjilat krim yang ada di jari orang cantik," goda Grimmjow yang masih memegang sebelah tangan Neliel. Tentu wajah Neliel semakin memerah mendengar godaan Grimmjow.

"Jangan menggodaku! Kalau kamu tidak melepaskan tanganku, aku akan teriak memanggil semua orang di rumah ini," ancam Neliel.

"Oh, ya? Coba saja," tantang Grimmjow.

"Tuan Grimmjow, Nona Neliel? Apa yang sedang Tuan dan Nona lakukan di sini?" tanya seseorang.

Grimmjow dan Neliel menoleh dan mendapatkan bahwa orang tersebut adalah Kepala Pelayan Aaroniero. Neliel terlihat lega sementara Grimmjow terlihat kesal karena merasa terganggu.

"Kak Aaro!" seru Neliel.

"Tch! Rupanya kau," gerutu Grimmjow.

Kepala Pelayan Aaroniero hanya tersenyum ramah. Tetapi sejenak ia menatap kedua orang tersebut dengan pandangan bingung dan bertanya-tanya tentang apa yang dilakukan oleh keduanya. Tentu ia akan memberikan pertanyaan jika melihat posisi kedua orang itu yang sangat dekat. Neliel rapat ke dinding dengan wajah memerah sedangkan Grimmjow memegang tangan Neliel dan sebelah lengannya melingkar di pinggang Neliel. Tidak hanya itu ia juga melihat wajah keduanya yang penuh dengan krim kue.

"Maaf, sepertinya saya mengganggu," ujar Kepala Pelayan Aaroniero seolah mengerti.

Grimmjow dan Neliel baru menyadari posisi mereka yang dilihat oleh Kepala Pelayan Aaroniero. Posisi yang sangat dekat. Buru-buru mereka menjauhkan diri masing-masing. Grimmjow hanya menggaruk belakang kepalanya sementara Neliel menoleh ke arah lain dengan wajah yang memerah. Kemudian Grimmjow berjalan terlebih dahulu, meninggalkan Neliel bersama Kepala Pelayan Aaroniero. Wajahnya terlihat kesal.

"Menyebalkan!" ujar Grimmjow ketika melewati Kepala Pelayan Aaroniero. Neliel hanya menatap Grimmjow dengan bingung.

"Anda tidak apa-apa, Nona?" tegur Kepala Pelayan Aaroniero. "Apa ada sesuatu yang terjadi?"

"Aku tidak apa-apa, Kak Aaro. Semuanya baik-baik saja. Aku ke toilet dulu, sampai nanti," ujar Neliel berlalu sambil melayangkan senyum manisnya kepada Kepala Pelayan Aaroniero. Yang dilayangkan senyuman hanya mengangguk dan membalas dengan senyum ramah andalannya.

oOo

Ulquiorra dan Orihime masih mengerjakan tugas kelompok mereka dengan penuh kediaman. Tak lama senyum Orihime merengkah ketika memandang tugas kelompoknya yang sudah selesai.

"Akhirnya selesai juga," sahut Orihime yang tersenyum kepada Ulquiorra.

Ulquiorra yang sedang menulis reflek mengangkat alisnya ketika mendapati Orihime yang tersenyum padanya. Orihime yang menyadarinya buru-buru menutup wajahnya dengan buku yang ada di tangannya. Ia merasa malu. Ulquiorra menghentikan kegiatan menulisnya, ia menghela nafas sesaat dan menatap Orihime.

Aduh, dia menatapku dengan pandangan seperti itu lagi.

"Sudah selesai?" tanya Ulquiorra.

Orihime menurunkan buku yang menutupi wajahnya."I, iya," gumamnya pelan.

"Tidak ada yang perlu kamu tanyakan padaku?" tanya Ulquiorra lagi. Orihime mengangkat alisnya bingung. Ulquiorra melanjutkan perkataannya. "Seperti katamu tadi, saat ini kita sedang mengerjakan tugas kelompok. Aku tidak bermaksud untuk bekerjasama denganmu tetapi aku hanya melaksanakan apa yang diperintahkan Bu Ochi."

"Sepertinya tidak ada, Schiffer. Tetapi Schiffer mau 'kan mengoreksi hasil kerjaku?" pinta Orihime.

"Apa kamu tidak yakin dengan hasil kerjamu?" Ulquiorra bertanya datar.

"Bu, bukan begitu. Hanya saja…"

"Berikan padaku." Ulquiorra meminta hasil kerja kelompok yang dibuat Orihime. Dengan ragu-ragu Orihime menyerahkannya pada Ulquiorra.

Ulquiorra mengamati hasil kerja Orihime. Orihime takut kalau ada yang salah dalam pekerjaannya. Namun, ekspresi wajah datar Ulquiorra memang tidak dapat dibaca oleh Orihime. Pemuda itu memang sulit sekali untuk ditebak jalan pikirannya. Tiba-tiba mata emerald Ulquiorra menatap Orihime kembali, ia juga meletakkan hasil kerja Orihime di meja.

"Tidak ada yang perlu dikoreksi dari hasil kerjamu," ujar Ulquiorra datar.

Meskipun wajah Ulquiorra tidak menunjukkan ekpresi apa pun, namun Orihime merasa senang karena hasil kerjanya tidak bermasalah. Orihime tersenyum kepada Ulquiorra yang mana dia tahu bahwa pemuda dingin ini tidak akan membalas senyumannya.

Tidak lama kemudian Grimmjow dan Neliel kembali lagi ke kamar Ulquiorra. Ulquiorra dan Orihime menoleh ke arah keduanya. Neliel masih dengan wajah cerianya sedangkan Grimmjow kali ini memilih untuk memasang wajah kesal. Wajah keduanya pun juga sudah bersih dari krim kue. Neliel duduk di samping Orihime. Grimmjow menghampiri Ulquiorra.

"Apa tugasmu sudah selesai, Ulquiorra?" Grimmjow menatap tajam Ulquiorra.

"Memangnya apa urusanmu, rambut biru?" balas Ulquiorra yang juga menatap tajam Grimmjow. Grimmjow menyeringai.

"Jadi, tidak ada alasan untuk menolak permintaanku, 'kan?" Grimmjow mulai mengacungkan pedang kayunya ke leher Ulquiorra. Ulquiorra tetap memasang wajah tenang tanpa ekpresi.

"Kamu pikir kali ini akan menang dariku lagi? Tidakkah kamu berpikir untuk meningkatkan kemampuanmu dulu sebelum menantangku, Grimmjow?"

Ada nada ejekan di balik perkataan Ulquiorra. Seringai di wajah Grimmjow menghilang dan diganti dengan geraman amarah.

Orihime memandang keduanya dengan bingung. Neliel hanya menghela nafas dan bergumam, "Mulai lagi."

"Karena itu aku menantangmu!"

"Boleh saja. Jangan salahkan aku jika kamu kalah lagi dariku, Grimmjow," kata Ulquiorra sambil menjauhkan pedang kayu Grimmjow yang mengarah ke lehernya.

"Tch! Jangan sombong dulu, Pangeran Es. Nikmati saja pertarungan nanti," desis Grimmjow.

"Kalian ingin bertarung lagi?" tanya Neliel cemas.

"Tentu saja. Sebaiknya kau di sini saja bersama gadis itu, Nel," Grimmjow menunjuk Orihime. "Ini urusan antara laki-laki."

Neliel mencibir mendengar ucapan Grimmjow. Ulquiorra bangkit dari tempat duduknya dan mengambil pedang kayunya. Sebelum Ulquiorra melangkahkan kaki untuk keluar dari kamarnya, Orihime mencegatnya.

"Ng, Schiffer," panggil Orihime. Ulquiorra menoleh. "Sebaiknya aku pulang saja. Lagipula tugas kelompok kita sudah selesai," lanjutnya.

"Kalau menurutmu begitu silakan saja," ujar Ulquiorra.

"Kenapa buru-buru, Orihime? Kita belum banyak mengobrol." Neliel mencoba mencegah Orihime untuk pulang.

"Maaf, Kak Neliel. Saya harus pulang, banyak pekerjaan di rumah yang harus saya selesaikan," tolak Orihime halus.

"Baiklah kalau begitu. " Neliel pun mengerti meskipun ia sedikit kecewa. "Kalau begitu aku antar sampai ke depan, ya?"

Orihime mengangguk setuju. Ia bergegas menyusun buku-buku serta alat tulis dan dimasukkan ke dalam tasnya. Ulquiorra menatap gadis berambut orange yang kini berdiri di hadapannya.

"Terima kasih atas semuanya, Schiffer. Aku pamit pulang dulu," kata Orihime tersenyum.

Ulquiorra tidak merespon ucapan Orihime atau membalas senyumannya. Ia mempersilakan Orihime dan Neliel berjalan keluar dari kamarnya. Sesaat mata emerald Ulquiorra menatap punggung Orihime yang semakin berlalu menjauh. Grimmjow yang menyadarinya mendekati Ulquiorra.

"Kau punya teman sekelas yang manis. Apa kau menyukainya?" Grimmjow menggoda Ulquiorra. Senyum seringai menghiasi wajahnya.

"Jangan bicara sembarangan. Kalau bicara sekali lagi aku akan membatalkan pertarungan ini," ancam Ulquiorra. Matanya menatap tajam kepada Grimmjow.

"Hahaha… Jangan marah seperti itu, Pangeran." Grimmjow masih tertawa. Ulquiorra hanya mendengus melihat sepupunya tertawa.

oOo

Aktifitas belajar mengajar di SMU Karakura berjalan seperti hari-hari biasanya. Ichigo dan Rukia juga menjalani perang mulut mereka seperti biasanya. Suasana kelas pun menjadi heboh karena perdebatan kedua pasangan yang entah kenapa memilih jalan adu mulut sebagi bukti saling menyayangi di antara keduanya. Konyol memang, namun itulah cinta. Bebas memilih dalam bentuk apa mereka mengapresiasikannya dalam kehidupan.

Ini baru segelintir dari cara seseorang dalam menunjukkan rasa cintanya kepada seseorang yang disayanginya. Apresiasi cinta dari sang pemeran utama belum terlihat dan kini sedang berlangsung. Tidak mudah memang untuk pemuda dingin mencairkan timbunan es di hatinya dengan adanya gadis ceria yang selalu tersenyum layaknya matahari. Sinar hangat yang sedang berusaha untuk mencairkan timbunan es.

Jam istirahat sedang berlangsung dan itu berarti semua beban pelajaran yang sedari tadi terpikul akan terbebaskan untuk sementara. Menghirup udara segar untuk mengosongkan pikiran dari timbunan deretan-deretan huruf pada buku dan penjelasan sang guru. Bebas melakukan apa pun untuk mengistirahatkan pikiran selama Tuan Waktu berjalan maju dan juga berarti hitungan mundur dari waktu yang diberikan.

Orihime, si gadis pemilik senyuman matahari, sedang berbicara dengan sahabat terbaiknya, Tatsuki. Wajah si gadis tomboy itu terlihat menunjukkan ekspresi permohonan. Atau mungkin permintaan maaf. Itu terlihat dari kedua telapak tangan yang dirapatkan di depan wajahnya sambil sedikit menundukkan kepala.

"Maaf ya, Orihime. Aku tidak bisa makan siang di atap bersamamu," kata Tatsuki.

"Tidak apa, Tatsuki. Aku mengerti kalau kamu punya urusan yang harus diselesaikan." Orihime menjawab dengan senyuman.

"Terima kasih, Orihime. Kalau begitu aku pergi dulu." Tatsuki melambaikan tangannya sambil berlalu keluar dari kelas. Orihime membalas lambaian tangannya.

Gadis berambut orange menghela nafas sesaat. Mata abu-abu Orihime menjelajahi isi kelas dan mendapati beberapa orang yang memilih untuk menghabiskan waktu istirahatnya di kelas. Namun, ada hal yang mengejutkannya. Ia tidak mendapati sosok pemuda pucat yang biasanya selalu memilih berdiam diri di kelas sambil membaca buku tebal dari berbagai pengarang terkenal. Entah dimana pemuda dingin itu memilih tempat baru untuk menghabiskan waktu istirahat dengan hobi membaca bukunya itu.

"Schiffer kemana, ya? Tidak biasanya dia keluar kelas ketika istirahat," gumam Orihime sambil berpikir dimana kini Ulquiorra berada. "Mungkin dia bosan jika di kelas terus. Hm, lebih baik aku ke atap saja untuk makan bekalku ini," tambahnya lagi sambil mengeluarkan kotak bekal dari tasnya.

Orihime berjalan keluar kelas dan bergegas melangkahkan kakinya menuju atap. Tempat itu selalu menjadi tempat favorit Orihime untuk menghabiskan waktu istirahatnya bersama Tatsuki. Sayang sekali saat ini Tatsuki tidak bisa menemaninya karena suatu hal.

Tidak butuh waktu lama untuk menuju tempat itu. Hanya beberapa menit dan kini Orihime sudah berada di atap SMU Karakura. Orihime memilih untuk duduk di tempat yang menurutnya nyaman saat menikmati bekal makan siang. Orihime membuka kotak bekalnya. Hanya lauk sederhana yang dinikmati Orihime untuk makan siangnya.

"Selamat makan." Orihime mulai memakan bekalnya. Ia tampak sangat menikmatinya.

Ketika menikmati bekal makan siangnya angin sepoi bertiup dan menerpa wajah Orihime. Beberapa helai rambut orange panjang Orihime dibuat menari-nari oleh sapuan angin sepoi. Di atas atap yang tinggi ini selalu ada angin sepoi yang bertiup serta langit biru bertemankan matahari dan awan yang membuat latar biru itu terlihat indah.

Orihime sangat menyukai suasana seperti ini. Suasana yang tenang dan damai. Karena itulah ia sangat suka bila menghabiskan waktu di atap ini. Tanpa disadarinya bahwa isi bekal makan siangnya telah dihabiskannya hingga tak bersisa.

"Aku sudah selesai." Orihime menutup kotak bekal dan diletakkan di sebelahnya.

Waktu istirahat masih banyak tersisa. Meskipun bekalnya sudah habis Orihime belum ingin beranjak dari atap sekolah. Ia masih ingin menghabiskan sisa waktu istirahatnya untuk menikmati kanvas tak terhingga berlukiskan langit biru hasil karya Sang Pencipta. Awan-awan putih seperti pasukan domba berbulu lebat saling berarak dan bintang panas bernama matahari terus memancarkan sinarnya untuk bumi tempat Orihime berpijak.

Selagi asyik menikmati pemandangan Kota Karakura yang terhampar di hadapannya, Orihime mendengar suatu suara yang terdengar seperti suara nyanyian di sekitar atap tersebut.

"Suara apa itu?" tanya Orihime pada dirinya sendiri.

Suara asing itu masih terdengar. Orihime berniat untuk mencari asal sumber suara tersebut. Ia menajamkan pendengarannya. Mata abu-abunya terus menjelajahi di sekitar atap untuk menemukan asal suara tersebut. Tak lama suara asing itu berhenti.

"Sekarang suaranya sudah hilang," gumamnya lagi. Ia menjadi bingung sendiri.

Kemungkinan-kemungkinan yang ada berputar-putar di kepala Orihime. Ia merasa ada seseorang selain dirinya di atap tersebut. Meskipun suara asing itu tidak terdengar lagi Orihime terus berusaha mencarinya. Tiba-tiba matanya menangkap sebelah tangan yang berada di sudut atap. Anggota tubuh lainnya tidak terlihat karena terhalang tumpukan kardus-kardus yang sebelumnya tidak pernah dilihat oleh Orihime. Orihime mendekati sosok itu. Ketika sudah mendekat ia terkejut begitu melihat sosok tersebut adalah si pemuda berkulit pucat, Ulquiorra Schiffer.

"Schiff, Schiffer," ujar Orihime. "Ups!" Orihime buru-buru menutup mulutnya.

Orihime baru menyadari bahwa Ulquiorra sedang tertidur dengan kepala tertunduk. Di sebelahnya terletak sebuah buku tebal bersampul hitam dan handphone yang sepertinya memang milik Ulquiorra. Orihime yakin bahwa suara asing yang terdengar seperti nyanyian itu berasal dari handphone milik Ulquiorra.

Keberadaan Ulquiorra di atap ini benar-benar mengejutkan Orihime. Ia mendekati Ulquiorra dan berlutut di sebelah pemuda itu. Dapat dilihatnya pemuda pucat itu tertidur dengan pulas hingga mungkin suara handphonenya tadi tidak terdengar olehnya. Tarikan nafasnya terdengar beraturan. Tidak pernah sekalipun Orihime berpikir akan mendapati Ulquiorra dalam keadaan tertidur.

"Schiffer… Dia tertidur. Aku tidak menyangka kalau dia ada di sini," ujar Orihime pelan. Ia harus memelankan suaranya agar tidak membangunkan Ulquiorra.

Orihime memperhatikan Ulquiorra yang sedang tertidur. Wajah pemuda pucat yang biasanya terlihat dingin itu sekarang tampak tanpa pertahanan. Semilir angin sepoi menerbangkan helai-helai rambut hitamnya. Dalam keadaan tertidur pun Sang Pangeran Schiffer tetap terlihat tampan hingga wajah Orihime memerah dibuatnya.

"Apa dia datang kemari untuk membaca buku? Entah kenapa aku sama sekali tidak mengerti apa yang dipikirkannya," gumamnya lagi. "Meskipun tertidur Schiffer tetap terlihat tampan," ujar Orihime sambil memperhatikan Ulquiorra. Matanya beralih dari wajah ke rambut Ulquiorra. "Rambutnya hitam dan benar-benar terlihat halus. Aku jadi ingin menyentuhnya. Ah, apa yang aku pikirkan?"

Orihime masih tetap menatap Ulquiorra terlebih ke rambutnya. Tangannya terulur untuk menyentuh rambut hitam si pemuda pucat. Hampir menyentuh ujungnya, namun Orihime menarik tangannya kembali.

"Tidak boleh. Bagaimana kalau nanti dia terbangun?"tanyanya. Meskipun telah berusaha untuk menahan keinginannya, namun Orihime tak henti-hentinya menatap rambut hitam itu. "Sedikit saja tidak apa, 'kan? Maaf ya, Schiffer," bisiknya.

Tangan Orihime kembali terulur. Kali ini ia berhasil menyentuh rambut hitam halus itu dengan tangan yang bergetar, ia berusaha agar Ulquiorra tidak terbangun.

Halusnya.

Namun, tiba-tiba saja kepala Ulquiorra yang tadinya menunduk kini terjatuh di pundak Orihime yang duduk di sebelahnya. Orihime terkejut, matanya membelalak dan tangannya yang sedari tadi menyentuh rambut Ulquiorra terhenti.

Wajah gadis berambut orange itu seketika memerah. Tubuhnya tak mau bergerak sesuai instruksi otaknya. Ia benar-benar merasa menjadi patung. Namun, Orihime mencoba untuk menggerakkan tubuhnya sedikit demi sedikit sesuai jeritan otak di kepalanya. Mata abu-abunya menatap pemuda pucat yang kini tertidur pulas di pundaknya. Orihime berusaha mengatur tarikan nafas dan menstabilkan detak jantung yang saat ini terasa melompat-lompat di dalam tubuhnya.

"Schiffer… Kenapa kepalanya kini berada di pundakku? Apa yang harus kulakukan?" ujar Orihime panik. Wajahnya terasa panas dan memerah. Ia tak sanggup berlama-lama dalam kondisi seperti ini.

Berbagai pikiran terlintas di kepala Orihime seperti apakah ini suatu kebetulan yang tak boleh disia-siakan atau hal mengerikan yang seharusnya tidak bolah terjadi. Bagaimana jika seandainya Ulquiorra terbangun dan mendapati dirinya tertidur di pundak gadis yang sejak awal bertemu sudah mendapat sikap dingin darinya. Tatapan emerald yang tak berbicara dan wajah tampan bagaikan Topeng-Datar-Abadi. Pikiran tak tertebak melengkapi keseluruhan dari seorang Ulquiorra Schiffer.

"Aku harus segera pergi dari sini sebelum Schiffer terbangun," ujar Orihime.

Perlahan-lahan Orihime menjauhkan kepala Ulquiorra dari pundaknya dan menyandarkannya di tumpukan kardus-kardus. Hal itu tidak terlalu sulit namun cukup untuk membuat jantungnya berdebar dengan satu kekhawatiran yang diutamakannya, jangan sampai Ulquiorra terbangun hingga menyadari kehadirannya. Orihime lega karena Ulquiorra benar-benar tidak menunjukkan tanda-tanda akan bangun. Ia menghela nafas panjang.

"Syukurlah Schiffer tidak terbangun." Orihime memperhatikan kembali wajah Ulquiorra. "Nyenyak sekali tidurnya hingga ia tidak terbangun sedikit pun. Padahal salah sedikit saja aku memindahkan kepalanya bisa-bisa ia akan terbangun. Lebih baik aku kembali ke kelas dulu sebelum dia menyadari kehadiranku."

Orihime bangkit berdiri. Sebelum kakinya melangkah pergi ia menatap wajah Ulquiorra lagi dan berkata, "Maafkan aku Schiffer karena telah lancang berada di dekatmu yang sedang tertidur. Aku harap kamu bangun sebelum bel masuk berbunyi," katanya tersenyum tipis sambil menyisir rambut di telinganya.

Orihime berjalan meninggalkan Ulquiorra yang masih tertidur. Ia mengambil kotak bekal dan segera bergegas menuju kelas sebelum bel berbunyi. Tanpa Orihime sadari bahwa ia telah menjatuhkan suatu benda di dekat Ulquiorra. Orihime pun mungkin juga tidak menyadari bahwa Ulquiorra telah membuka matanya setelah beberapa menit kepergiannya. Mata emerald itu mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Ia tak menemukan apa ataupun siapa di sekitarnya. Namun, matanya menangkap suatu benda kecil yang terletak tak jauh darinya. Tangan pucatnya mengambil benda tersebut. Ulquiorra mengamati benda tersebut, ia merasa pernah melihatnya di suatu tempat.

"Ternyata tadi dia kemari," gumam Ulquiorra sambil tetap mengamati benda kecil tersebut. Dia menggenggam benda kecil tersebut dan menyimpannya di saku celana. "Sepertinya aku harus segera kembali ke kelas."

Ulquiorra menyambar buku tebal dan handphone yang terletak di sebelahnya. Ia segera bangkit berdiri dan membenahi dirinya kalau-kalau ada yang berantakan ketika ia tertidur. Meskipun baru bangun tidur Ulquiorra masih terlihat tampan dan tidak akan ada yang tahu bahwa tadinya ia tertidur di atap, kecuali satu orang. Ulquiorra menyadari bahwa ada pesan masuk ketika mengecek handphonenya. Buru-buru ia membuka pesan tersebut dan membaca isinya. Isi pesan tersebut hanya ditanggapi Ulquiorra dengan dengusan kekesalan.

"Dasar rambut biru bodoh. Aku tak punya waktu untuk melayani tantangannya itu. Apa dia tidak bosan telah beberapa kali kalah dariku?" gumam Ulquiorra. Ia memasukkan kembali handphonenya dan bergegas kembali ke kelas.

oOo

Ulquiorra sedang menikmati makan siangnya. Kali ini ia tidak menikmati makan siang di kamar seperti biasanya, melainkan di ruang makan. Entah apa yang membuatnya ingin makan siang di tempat bernama ruang makan. Tidak ada yang tahu kenapa pikirannya tiba-tiba berubah. Seperti biasa ia akan makan siang seorang diri karena tidak ada orang-orang yang mengisi banyaknya kursi kosong di ruang makan tersebut. Hanya ia Si Tuan Rumah sekaligus Tuan Muda yang tinggal di rumah megah itu seorang diri beserta pelayan-pelayannya. Itu memang terkesan sangat sepi dan kelebihannya hanyalah ketenangan yang dihadirkan di seluruh ruang makan yang sangat disukai oleh Ulquiorra.

Hidangan makan siang kali ini tentu sangat menggugah selera. Kali ini kepala koki Keluarga Schiffer, Yylfordt Granz, menyajikan makanan yang sangat lezat untuk Ulquiorra seperti steak daging, salad, sosis dan kentang tumbuk yang diberi saus, ayam panggang, sup, spaghetti, serta puding untuk pencuci mulut dan makanan-makanan lezat lainnya. Semua makanan terlihat sangat lezat namun Ulquiorra mengeluhkan kepala koki keluarganya itu yang sangat suka membuat banyak makanan yang tak mungkin dihabiskannya seorang diri.

"Kenapa kepala koki itu suka sekali membuat banyak makanan seperti ini? Aku ini tidak serakus Grimmjow," gumam Ulquiorra.

Ulquiorra memotong steak dagingnya. Kepala koki yang sedari tadi dikeluhkan Ulquiorra berjalan menghampirinya. Senyum tersungging di bibir pria tinggi berambut blonde panjang dan bermata cokelat itu. Ia mengenakan baju yang dipakai para koki pada umumnya minus topi koki, rambut panjang blondenya diikat rapi sehingga kata tampan pantas untuk dikatakan padanya. Ulquiorra menoleh kepadanya dan mendapati Kepala Koki Yylfordt tersenyum padanya.

"Anda menikmati makan siangnya, Tuan Muda?" tanya Kepala Koki Yylfordt ramah.

"Ya." Ulquiorra memasukkan potongan steak ke dalam mulut dan menguyahnya perlahan. Kemudian ia menatap pria blonde itu. "Ini terlalu banyak untuk kuhabiskan seorang diri, Kepala Koki Yylfordt."

"Maafkan saya, Tuan Muda. Saya terlalu senang ketika mengetahui bahwa Tuan ingin makan siangnya tidak diantarkan ke kamar Tuan seperti biasanya. Karena itu saya menyiapkan makanan spesial untuk Tuan Muda," jelas Kepala Koki Yylfordt. Raut wajahnya terlihat sangat senang. Ulquiorra tidak terlalu menanggapi alasannya.

"Lain kali siapkan saja makanan yang sederhana untukku," kata Ulquiorra datar. "Sayang kalau semua makanan ini terbuang sia-sia." Ulquiorra yang dingin ternyata memiliki pemikiran seperti itu.

"Baiklah, Tuan Muda. Saya mengerti dan saya minta maaf atas kelalaian saya ini. Kalau begitu saya permisi dulu, Tuan Muda." Kepala Koki Yylfordt membungkuk sedikit kemudian berlalu meninggalkan ruang makan. Ulquiorra kembali melanjutkan makan siangnya.

Setelah Kepala Koki Yylfordt menghampiri Ulquiorra, kini Kepala Pelayan Aaroniero yang menghampirinya. Lagi-lagi Ulquiorra menoleh untuk melihat kepala pelayan tersebut. Pria berambut raven hitam tetap tersenyum ramah seperti biasanya. Ia berdiri di samping Ulquiorra.

"Anda menikmati makan siangnya, Tuan Muda?" tanya Kepala Pelayan Aaroniero ramah.

Ulquiorra mengangkat sebelah alisnya mendengar pertanyaan Kepala Pelayan Aaroniero yang sama persis dengan pertanyaan yang dilontarkan Kepala Koki Yylfordt.

"Apa aku harus menjawab kembali pertanyaan yang sama diberikan padaku?" tanya Ulquiorra datar. Kali ini Kepala Pelayan Aaroniero yang mengangkat sebelah alisnya. "Baiklah, tak ada salahnya juga aku menjawab. Ya, aku menikmatinya."

"Saya senang mendengarnya, Tuan."

Ulquiorra menghentikan makannya, ia mengelap mulutnya dengan serbet dan meminum air putih yang disediakan. Mata emeraldnya memandang ke luar jendela besar yang ada di ruang makan. Di luar langit terlihat sangat gelap pertanda hujan akan segera membasahi Kota Karakura.

"Aku ingin jalan-jalan," ujar Ulquiorra tenang. Matanya tetap memandang keluar jendela seolah mengabaikan langit gelap yang menyelimuti dan menganggapnya bukanlah hal yang buruk.

"Tetapi di luar sepertinya akan turun hujan, Tuan." gumam Kepala Pelayan Aaroniero yang juga memandang ke luar jendela.

"Aku tidak peduli. Aku tetap ingin pergi keluar." Ulquiorra tetap pada pendiriannya. "Hujan bukanlah hal yang perlu dipermasalahkan."

"Apa Tuan akan pergi dengan menggunakan mobil?"

"Tidak. Aku lebih suka berjalan kaki."

Ulquiorra beranjak dari tempat duduknya. Kepala Pelayan Aaroniero hanya menatap punggung Tuan Muda Schiffer yang semakin menjauh. Mungkin menuju kamarnya di lantai dua. Ia hanya menghela nafas melihat pemuda pucat itu yang jalan pikirannya terkadang sulit untuk ditebak. Ini memang bukan hal yang aneh untuk Kepala Pelayan Aaroniero yang sudah mengenali Ulquiorra sejak kecil, bahkan sebelum ia menjadi kepala pelayan. Satu hal yang selalu membuat Kepala Pelayan Aaroniero bingung, ia heran dengan Ulquiorra yang lebih suka memilih untuk berjalan kaki daripada menggunakan mobil. Namun, yang namanya Ulquiorra adalah seseorang yang benar-benar tidak bisa ditebak jalan pikirannya.

Tidak lama kemudian Kepala Pelayan Aaroniero melihat Ulquiorra yang beranjak menuju pintu depan. Pakaian yang tadi dikenakan Ulquiorra kini sudah berganti. Pemuda pucat itu mengenakan kemeja lengan pendek sewarna dengan matanya serta celana jeans hitam. Sepasang sepatu kets berwarna hitam dengan garis-garis putih di sisinya terpasang di kedua kaki Ulquiorra. Kata tampan pantas untuk diberikan kepada Ulquiorra. Ulquiorra melihat Kepala Pelayan Aaroniero yang berjalan menghampirinya.

"Anda akan segera pergi, Tuan?"

"Ya," gumam Ulquiorra singkat. "Dan sepertinya aku akan pulang terlambat jadi tidak perlu menyiapkan makan malam untukku," tambahnya.

Kepala Pelayan Aaroniero hanya mengangguk. Ia membukakan pintu untuk Ulquiorra dan si pemuda pucat melangkahkan kakinya keluar dari rumah megahnya.

"Hati-hati, Tuan Muda," gumam Kepala Pelayan Aaroniero.

oOo

Los Angeles, Amerika Serikat.

Di dalam sebuah rumah megah yang didominasi oleh warna cokelat susu serta warna kuning dan cokelat yang menghiasi beberapa pilarnya, terdapat seorang wanita cantik berumur sekitar empat puluh tahunan sedang menatap halaman pekarangannya yang luas dari balik jendela besar suatu ruangan. Wanita cantik berambut hitam panjang yang digelung rapi dan bermata biru serta mengenakan pakaian terusan berwarna ungu muda itu menatap dengan tatapan sendu dan terkesan melamun, terlihat seperti sedang merindukan sesuatu.

Suara langkah kaki berirama mendekati wanita cantik tersebut. Kesadaran mengambil alih kembali si wanita. Ia menyadari kehadiran seseorang di belakangnya. Tanpa menoleh ia sudah mengetahui seseorang yang berada di belakangnya tersebut.

"Apakah itu kamu, Kepala Pelayan Sasakibe?" tanya si wanita.

"Ya. Ini saya, Nyonya," jawab si pelayan sambil membungkuk.

Wanita berambut hitam itu berbalik untuk mendapati sosok pria tinggi berkumis dengan rambut abu-abu keperakan dan bermata kuning keemasan yang sedang berdiri di hadapannya. Ia tersenyum kepada pria yang dipanggilnya Kepala Pelayan Sasakibe itu.

"Bagaimana, apakah kamu sudah mendapatkan kabar tentang putraku?" tanyanya lagi.

"Ya, Nyonya. Menurut informasi yang saya terima, Tuan Muda kini sudah mulai masuk sekolah di salah satu sekolah yang terdapat di kota tersebut. Kegiatannya saat ini belum diketahui pasti karena Tuan Muda lebih sering mengurung diri di rumah," jelas Kepala Pelayan Sasakibe.

"Bagaimana dengan keadaannya?"

"Tuan Muda baik-baik saja, Nyonya."

"Syukurlah. Apakah sepupu dan teman kecilnya sering mengunjunginya?"

"Ya, Nyonya. Hanya saja sepertinya Tuan Muda kurang menyukai kehadiran mereka."

Wanita itu tersenyum. "Anak itu," gumamnya pelan. "Dia sama sekali tidak pernah berubah. Tidak pernah sekalipun ingin membuka dirinya kepada orang lain. Benar-benar sulit ditebak jalan pikirannya," tambahnya. "Kalau begitu kamu boleh pergi. Terima kasih atas informasimu, Kepala Pelayan Sasakibe."

"Sama-sama, Nyonya," ujar Kepala Pelayan Sasakibe.

Pria berkumis itu undur diri dan berlalu pergi dari hadapan si wanita. Si wanita kembali menatap ke luar jendela besar untuk melihat halaman pekarangannya. Kali ini wajahnya terlihat lebih ceria dan senyum terlukis di bibirnya.

"Ibu senang mendengar kabarmu, pangeran kecilku. Semoga dirimu selalu dalam keadaan yang sehat." Ada rasa kelegaan di balik ucapan si wanita. "Ibu sangat merindukanmu."

Cuaca cerah tampaknya sedang berpihak kepada Los Angeles sehingga si wanita dapat melihat hangatnya sinar mentari yang bersinar menyilaukan. Hal ini berbanding terbalik dengan langit malam bergerimis Kota Karakura di Jepang. Meskipun sudah pukul sembilan malam masih saja banyak orang-orang yang menikmati suasana malamnya kota yang mulai gerimis, termasuk sesosok pemuda pucat bermata emerald.

Pemuda pucat terus berjalan santai di sekitar pertokoan. Tak dipedulikannya gerimis yang sewaktu-waktu dapat berubah menjadi hujan yang lebat. Pandangan beberapa orang yang mengarah kepadanya tak digubrisnya sedikit pun, seolah tidak menganggap keberadaan mereka. Yang ada dipikirannya hanyalah terus berjalan dan berjalan hingga dirinya merasa bosan dan memilih untuk kembali ke rumah megahnya yang hangat. Tampaknya ia harus memperhitungkan untuk segera kembali ke rumahnya karena hujan yang dikhawatirkan telah turun secara tiba-tiba dengan sangat lebat.

Orang-orang yang berlalu lalang mendadak panik dan buru-buru berlari mencari tempat untuk berteduh. Di antara kepanikan orang-orang tersebut sosok pemuda pucat itu tampak tidak berniat menghentikan perjalanannya untuk sekedar berteduh. Titik-titik air semakin banyak menyelimuti Kota Karakura. Pemuda pucat sudah terlihat basah oleh air hujan, rambut dan seluruh pakaiannya basah. Namun, ia tetap terus melanjutkan perjalanannya di bawah guyuran hujan dari langit malam Sang Pencipta. Baginya rintik hujan terdengar bagai sonata yang mengalunkan sebuah lagu sedih yang akan terus mengiringi perjalanannya.


Hujan…

Titik-titik air yang membasahi bumi beserta isinya

Dapat memberikan hal baik dan hal buruk bagi umat manusia

Aku tak peduli jikalau air dari langit itu membasahi seluruh tubuhku

Mungkin akan ku anggap sebagai penyegaran pikiran

Meskipun nantinya akan berujung ke hal yang menyakitkan

Akibat dari hujan bukanlah suatu hal yang sulit untuk ditebak

Tidak seperti diriku yang selalu dicap memiliki pikiran tak tertebak

Hal-hal tak kasat mata pada diriku memang kututup dengan sempurna

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Hingga aku menjadi manusia yang sulit ditebak baik dari luar maupun dalam

To be continued…


Akhirnya selesai juga chapter tiga. Lagi-lagi chapter yang saya buat sangat panjang.

Sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih sudah mereview fic saya. Itu membuat saya semakin bersemangat untuk membuat chapter selanjutnya fic ini.

Saya juga ingin mengucapkan selamat menyambut bulan puasa yang hanya tinggal beberapa hari lagi. Mari kita sambut bulan suci Ramadhan dengan penuh semangat. Terima kasih juga sudah membaca fic ini hingga akhir.

Review please and see you in the next chapter!^^'