Be Your Galaxy

Chapter 2: He is not

.

.

.

Nafasnya berhembus pelan begitu pekerjaannya yang melelahkan akhirnya selesai juga. Selain menjadi perawat ternyata Jungkook harus menjadi pembantu pribadi tuan mudanya karena tidak ada yang boleh masuk ke dalam kamar pemuda itu selain dirinya.

"Banyak juga peraturan disini."

"Jung-kook-kie."

Jungkook menoleh cepat. Ia terkejut tiba-tiba ada yang memanggil namanya dengan suara yang dibuat imut seperti itu.

Begitu melihat siapa pelakunya, nafasnya berhembus gusar. "Taehyung, jangan memanggilku seperti itu."

Dahi tuan mudanya mengerut, "Jungkookie jahat."

Jungkook mengernyit, "Kau siapa sekarang?"

"Kenapa Jungkookie kasar sekali."

Jungkook menghembuskan nafasnya gusar, jadi mengurus kepribadian satu ini agak merepotkan.

Ia mendekati Taehyung yang duduk di sofa lalu berjongkok dihadapan tuannya.

"Maafkan aku." ucapnya lembut.

Sebenarnya Jungkook tidak suka bersikap seperti ini, namun mengingat ini adalah pekerjaannya maka ia harus bersikap profesional.

Tangannya menyentuh pucuk kepala tuannya pelan, "Jadi, siapa yang ada dihadapan Jungkookie saat ini?"

Jungkook tersenyum lebar untuk menyembunyikan rasa jijiknya telah memanggil namanya sendiri dengan tambahan ie, untuk kesan imutnya.

Jungkook bukan orang yang bisa bertahan dengan sesuatu yang menggemaskan. Itu menjijikan baginya.

Pemuda Kim menangkupkan pipi Jungkook dengan tangan lebarnya, mendekatkan wajah mereka hingga ujung hidung mereka bersentuhan.

"Jungkookie, aku ingin selalu dengan Jungkookie."

Jungkook mengerjap, "Eum. A-aku akan selalu denganmu."

Netra tajam tuannya melunak, pandangannya begitu polos.

Jungkook terdiam, sedikit memutar otaknya untuk menebak siapa yang berada dihadapannya saat ini.

"Taetae?" Gumamnya pelan.

Senyum lebar terlukis di wajah tuannya. "Jungkookie mengingatku?"

Jungkook mengernyit tidak mengerti, namun kepalanya tetap mengangguk. "Tentu saja."

Ia mengusap halus helai kelam Taetae, "Sekarang waktunya Taetae beristirahat, oke?"

Taetae menggeleng, "Aku masih ingin bersama Jungkookie."

Jungkook menghembuskan nafasnya pelan. Sebenarnya ia sudah cukup lelah menemani Taehyung yang tidak bisa berhenti bermain.

Jungkook pikir setelah merapikan kamar tuannya ia bisa beristirahat, namun masalah lain datang lagi.

"Taetae, sekarang sudah malam. Jadi sebaiknya kau beristirahat ya."

"Jungkookie hanya ingin main dengan Taehyung, kan?"

Jungkook menggeleng, telinganya terasa berdengung mendengar namanya dipanggil begitu lembut.

"Bukan begitu. Hanya saja Jungkookie lelah sekali hari ini. Taetae tidak kasian melihat Jungkookie kelelahan?"

Jungkook menatap tuannya penuh harap. "Besok Jungkookie janji akan mengajak Taetae bermain, bagaimana?"

Taetae terlihat menimang-nimang tawaran perawatnya. Setelahnya ia kembali menatap Jungkook. "Tapi berikan Taetae sesuatu, ya."

Jungkook mengangguk gamang. Terserah, pikirnya. Jungkook hanya ingin segera tidur diranjangnya. Hari ini ia benar-benar lelah.

Pemuda Kim menangkupkan kembali wajah perawatnya. Menatap dalam netra itu sebelum mengecup lembut bilah bibir Jungkook.

Pupil Jungkook melebar, jantungnya berdegup cepat.

Perasaan ini terasa tidak asing.

Setelah ciuman mereka terlepas, Taetae tersenyum lebar. "Selamat malam, Jungkookie."

.

.

.

"Siapa sebenarnya Kim Taehyung itu."

Jungkook menatap langit-langit kamar barunya. Pikirannya masih berkutat memikirkan tuan mudanya.

Dalam sehari ia mendapatkan banyak kejutan dari Kim Taehyung. Bahkan tuan mudanya telah menciumnya dua kali.

Nafasnya berhembus gusar, "Dalam sehari saja dia sudah membuatku seperti ini. Bagaimana hidupku selanjutnya."

Ia mengacak helainya kasar. Berusaha berhenti memikirkannya dan segera tidur, karena Jungkook yakin besok pekerjaannya akan menjadi lebih berat.

"Jungkookie."

Jungkook menolehkan kepalanya kearah pintu begitu mendengar panggilan lembut tuannya.

Astaga. Jungkook bahkan barusaja memejamkan matanya lima detik yang lalu.

"Apalagi yang diinginkannya."

Dengan malas ia bangkit dari ranjangnya, melangkah sedikit menghentak kesal.

Ia membuka pintu kamarnya hingga menampakkan wajah polos tuannya.

"Ada apa lagi, Taetae?"

Taetae yang berdiri sambil memeluk bonekanya berucap pelan, "Taetae ingin tidur dengan Jungkookie."

Jungkook mendengus, kepalanya bahkan terasa berdenyut sakit. "Astaga, Taetae. Tidurlah dikamarmu."

"Biarkan Taetae tidur disini."

Jungkook ingin sekali mengumpat dan berteriak dihadapan pemuda itu, namun mengingat perjanjian yang telah ia tandatangani, Jungkook mengurungkan niatnya.

"Baiklah. Tapi Taetae langsung tidur ya?"

Tuan mudanya mengangguk sebelum masuk dan langsung menguasai ranjangnya.

Jungkook yang melihatnya hanya bisa menahan diri. Sepertinya istirahat yang tenang pun tidak akan bisa diterimanya.

Ia merebahkan dirinya disebelah Taetae, berusaha kembali memejamkan matanya.

"Selamat malam, Jungkookie."

Jungkook hanya berdehem pelan karena demi Tuhan- ia benar-benar mengantuk. Malam itu Jungkook berusaha menikmati tidurnya ditemani dengan Kim Taehyung yang tidak henti memandang kagum wajah perawatnya.

.

.

.

Jungkook melenguh pelan dalam tidurnya begitu merasa sinar mentari menusuk netranya yang masih tertutup.

Jungkook merasa ia sulit menggerakkan tubuhnya, sesuatu seperti menahan geraknya. Netranya terbuka pelan dan mendapati lengan kekar melingkar dipinggangnya.

Nafasnya berhembus pelan, "Taehyung lepaskan aku." ucapnya malas.

Sementara pemuda yang memeluknya dari belakang hanya tersenyum tipis sembari semakin mengeratkan pelukannya.

"Taehyung!"

Jungkook masih berusaha mencari pasokan rasa sabarnya di pagi hari ini.

"Selamat pagi, sayangku." Suara dalam itu menyentuh pendengarannya membuat tubuhnya meremang.

Dia bukan Taehyung, apalagi Taetae.

Jungkook menahan nafasnya begitu mengingat siapa lagi kepribadian tuannya yang belum ia kenal. Hanya tersisa satu lagi,

"Kau, V?"

Kekehan ringan terdengar dari belakang tubuhnya. "Kau pintar sekali, sayangku."

Jungkook mengernyit, jika ini V kenapa rasanya berbeda dengan kemarin? Kepribadian tuan mudanya yang menyerangnya tiba-tiba sepertinya bukan V, lalu siapa?

Ia menggelengkan kepalanya. Memutuskan untuk membalik tubuhnya agar dapat melihat wajah tuannya. Mungkin dengan begitu ia bisa memastikannya.

"Sayangku, kau cantik bahkan di pagi hari."

Jungkook menatap dalam netra tuannya, tidak ada pandangan mengerikan seperti kemarin.

Yang kemarin itu bukanlah V. Lalu siapa?

Jungkook membingkai wajah tuannya. "V, apa kau yang menciumku kemarin?"

V mengernyit, "Darimana kau tau?"

"Itu sungguh dirimu?"

"Jadi kau menyadarinya? Kau belum tidur?"

Jungkook mengernyit, "Maksudmu?"

V mengalihkan pandangannya, "Kemarin malam aku menciummu saat kau tidur. Aku pikir kau tidak menyadarinya."

Jungkook menghembuskan nafasnya, "Bukan yang itu. Itu aku bahkan tidak menyadarinya."

Rasanya begitu rumit berurusan dengan satu orang yang memiliki banyak orang lain di tubuhnya.

"Maksudku, kemarin siang. Saat aku baru tiba disini."

V mengernyit bingung, "Kemarin aku tidur seharian. Mungkin itu Taehyung. Dia suka mencium orang jika kau belum tau." tuduhnya.

Jungkook kembali mengingat kejadian yang menimpanya kemarin. Jika itu Taehyung, dia pasti akan ketakutan setiap Taehyung muncul. Tapi tidak, cara mereka memandang jelas berbeda.

"Baiklah, lupakan. Sekarang kau pergilah mandi."

V menggeleng, "Aku masih ingin denganmu."

"Kita harus menjalani jadwalmu, V."

Jika diingat kembali, kemarin pelayan Kim memberikannya sebuah notebook yang berisi jadwal tuan mudanya selama seminggu ini.

Bagaimanapun caranya ia harus berhasil membawa tuannya untuk memenuhi seluruh jadwal, jika tidak akan ada konsekuensi untuknya. Meski dirinya sendiri tidak tau apa konsekuensinya.

"Cepatlah mandi!"

"Tidak mau."

V justru semakin merapatkan tubuh mereka. Mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajahnya di ceruk leher Jungkook.

Jungkook mendecak kesal, diantara perbedaan kepribadian mereka ada satu hal persamaan yang mereka miliki.

Taehyung, Taetae maupun V. Mereka bertiga memiliki sifat yang sangat manja.

"Ayolah, V!"

Jungkook berusaha mendorong tubuh tuannya menjauh, meskipun ia tau semua tidak ada gunanya. Bahkan tubuh tuannya tidak bergeser sedikitpun.

"Iya, sayang. Aku akan mandi. Biarkan seperti ini selama sepuluh menit, setelahnya aku akan mandi."

Jungkook menghentikan aksi dorongnya, mungkin sebaiknya kali ini ia mengikuti kehendak tuan mudanya.

"Baiklah, hanya sepuluh menit."

Setelahnya mereka terdiam. Jungkook bahkan tidak mengerti mengapa ia merasa begitu nyaman berada dalam dekapan intim seseorang yang baru dikenalnya kemarin.

Sebenarnya Jungkook bukanlah orang yang menyukai skinship, namun entah mengapa ia merasa senyaman ini jika dengan tuannya.

Jungkook merasa merindukan dekapan hangat ini.

Kepalanya menggeleng keras begitu merasa ia berpikir terlalu jauh.

"Ada apa, sayang?"

Jungkook mendongak menatap V yang juga menunduk menatapnya. Wajah rupawan itu, Jungkook merasa ia pernah mengenalnya.

"Bukankah ini sudah sepuluh menit?"

V tersenyum tipis, "Belum. Tinggal tiga menit lagi."

Jungkook mengangguk, kembali membenamkan wajahnya di dada bidang pemuda Kim. Mendengar debaran jantung yang begitu menenangkan dirinya.

"Aku menunggumu sejak dulu. Aku merindukanmu, sayang."

Jungkook mengernyit, sejak kemarin ia selalu bertanya-tanya mengapa tuannya bersikap seolah telah mengenalnya begitu lama padahal mereka baru saja bertemu.

"V, bisa aku bertanya sesuatu?"

"Apapun, sayang."

Nafasnya berhembus pelan, "Sebelumnya berhenti memanggilku 'sayang' aku memiliki nama. Aku Jungkook jika kau lupa."

Pemuda yang merengkuhnya terkekeh kecil, "Aku tahu. Tapi aku bisa memanggilmu apapun, jika kau tidak lupa perjanjiannya."

Jungkook mendengus, hidupnya sekarang penuh dengan perjanjian. "Baiklah."

Ia menyamankan posisinya dalam dekapan V, rasanya ia bisa kembali tertidur karena kenyamanan yang diberikan tuannya.

"Apa kita pernah saling mengenal sebelumnya?"

Keheningan menemani mereka dalam sejenak. Tuan mudanya seperti memikirkan sesuatu yang tidak bisa ditebaknya.

"Tidak."

Jawaban yang dilontarkan tuannya sedikit membuatnya terkejut, "Lalu mengapa kalian bersikap seolah telah mengenalku?"

"Kami tidak mengenalmu sebelumnya. Tapi Kim Taehyung." Pelukan tuan mudanya terasa mengerat.

"Kim Taehyung begitu memujamu sejak dulu bahkan sampai saat ini."

Jungkook mendongak, "Taehyung?"

V tersenyum, "Kim Taehyung."

Nafasnya berhembus pelan, "Kau tau sebelum aku dan Taetae muncul dalam dirinya. Dia membentuk kepribadian hangat untuk dirinya sendiri. Untuk menyembunyikan semua kekurangannya."

Ia mendekap Jungkook erat, membiarkan lelaki itu mendengar debar jantungnya yang menggila.

"Kim Taehyung membentuk Taehyung yang begitu hangat untuk menyembunyikan dirinya yang terobsesi padamu."

"Dia Kim Taehyung."

Dan saat itu Jungkook merasa nafasnya tercekat begitu bayang-bayang masa lalunya kembali berputar dalam pikirannya.

Tubuhnya bergetar, bahkan ia tidak tahu bagaimana cara mengendalikan ketakutannya saat itu. Sampai ia kehilangan kesadarannya.

.

.

.

Bersambung

.

.

.

"Kepribadian ganda atau DID itu terjadi karena seseorang mengalami suatu tekanan besar dalam hidupnya, trauma masa lalu atau kekerasan seksual. Dimana dalam kasus ini, dalam satu tubuh seseorang tanpa disadari akan hidup atau terbentuk 'kepribadian' lain."

"Penderita DID tidak menyadari apa yang dilakukan 'dirinya' yang lain meski mereka bisa saling mengenal. Jadi begitu mereka 'berganti' posisi maka seluruh sikap dan tingkah laku mereka akan berbeda layaknya mereka memang orang berbeda meski dalam satu tubuh."

Jungkook menghembuskan nafas gusar. Dosennya tidak berhenti mengoceh daritadi padahal ia benar-benar lelah.

"Jeon Jungkook?"

Jungkook terkesiap begitu namanya dipanggil, tangannya terangkat dengan cepat, "Iya bu?"

"Perhatikan dengan baik."

Kepalanya mengangguk cepat, dosennya satu ini benar-benar mengerikan.

"Baiklah saya lanjutkan."

Seluruh perhatian kelas tertuju pada wanita paruh baya itu, dan meskipun Jungkook begitu lelah ia harus tetap memperhatikan dosennya jika tidak ingin mengulang kelas yang sama.

"Namun setiap orang bisa membentuk 'kepribadian' lain dalam dirinya sendiri secara sadar. Seperti kebanyakan artis yang kita kenal, saat mereka menjadi artis mereka akan selalu tersenyum didepan kamera namun saat mereka menjadi diri mereka sendiri, mereka hanya manusia yang penuh luka."

"Namun ada kasus berbeda, saat seseorang membentuk satu 'kepribadian' lain secara sadar namun tidak bisa mengendalikannya atau ada suatu kejadian yang membuat dia dan 'kepribadian'nya itu merasa terguncang, saat itu lah akan muncul 'kepribadian' lain yang tidak akan bisa dikendalikan oleh dirinya."

Jungkook mendengus. Memiliki satu kepribadian saja sudah rumit, bagaimana bisa ada orang berpikir untuk membentuk kepribadian lain?

Seseorang mengacungkan tangannya membuat seluruh perhatian kelas tertuju padanya. "Apakah mereka bisa disembuhkan?"

"Tentu saja. Namun ada satu hal yang harus diperhatikan saat menyembuhkan penyakit ini."

Seluruh mahasiswa terlihat begitu penasaran.

"Kalian harus benar-benar tau yang mana kepribadiannya yang sesungguhnya. Dan kalian harus rela untuk kehilangan 'dirinya' yang lain."

"Karena ada beberapa kasus dimana alter egonya jauh lebih baik dibanding dirinya yang asli. Jadi saat kalian menyembuhkannya, maka kalian harus siap kehilangan itu."

.

.

.

Author's Note:

Semoga kalian gak bingung sama lanjutan ini, aku udah menambah scene flashback tambahan saat Jungkook masih belajar tentang DID ini. Semoga bisa menjawab pertanyaan kalian juga.

Atau mungkin kalian bisa menjawab teka-teki untuk chapter selanjutnya? wkwk

Aku cukup kaget ada yang bisa nebak karakter mereka, meski karakternya V masih meleset wkwkwk

Maaf, authornya gak suka kalo jalan ceritanya mudah ditebak wkwk Jadi setiap ff aku punya alternatif alur dimana kalau alur selanjutnya ketebak, aku akan pake alur yang lain wkwk

Nanti ff nya gak seru kalo mudah ditebak wkwk

Tapi aku suka kalo kalian mencoba memecahkan teori disini wkwkwk

Jangan menyerah untuk menebak ya.

Aii-nim

2018.07.11