Because You're Mine

Yoooo. . . minna, apa kabar semuanya? Semoga kabar baik yah.. .. .. hahahahaha! Sophia seneng banget nieh bisa up date lagi di fic. Udah satu bulan lebih nih kayay Sophia ngilang. Ma'lum yah minna, Sophia bener-bener gk bisa fokus sama dua duanya, belajar dan hobi, apalafi Sophia lagi buat novel nieh, do'ain yah semoga cepet kelar. Dan juga terima kasih buat kawan yang udah riviuuuu, semoga kalian diberi limpahan rezeki dari Allah swt. Amin. . .

Ini chapter 3, semoga kalian tetap ngikutin jalan ceritanya yaaah, karena lebih seru nanti pastinya. . . stay here!^^

^^SELAMAT MEMBACA^^

Chapter 3

Pertemuan kebetulan dengan Sasori kemarin itu membuat Hinata semakin frustasi, dia bingung harus melakukan apa sekarang, karena dia tidak berani memberitahu Naruto, tapi Sasuke bilang dia harus banyak bercerita pada Naruto mengenai Sasori. Naruto... "ah iyah, apaakah dia bekerja hari ini, aku harus menelponya!" Hinata memanggil Naruto dan dia terhubung, "kau di kantor kan, awas saja jika kau tidak di kantor!" ancam Hinata, "lalu kau akan melakukan apa padaku hah, lagi pula aku akan pergi sekarang jika kau tidak datang kesini!" Naruto balik mengancam, ini kesempatan Hinata untuk bertemu Naruo dan menceritakan kejadian kemarin. "baiklah aku akan kesana, tunggu aku!"

Hinata segera meninggalkan rumahnya dan bergegas ke kantor Naruto. beberapa menit kemudian dia telah sampai, langsung memasuki loby dan bertanya, "nona Hinata anda langsung masuk saja ke ruangan tuan Naruto, beliau sudah menunggu anda!" Hinata benci seperti ini, dia menjadi pusat perhatian para karyawan, "selamat siang nona Hinata!"

"siang... siang... yah, siang... ah yah saya baik, terima kasih.. iyah..."

Ya ampun, semua karyawan yang ia temui menyapanya, apa karena dia calon menantu dari pemiliki perusahaan ini, makanya mereka semua baik. Tapi Hinata tidak mau berperasangka buruk, dia harus berpikir positiv. Hinata tiba di ruangan Naruto, dan disanalah Naruto berada, langsung mentapanya dari pintu hingga Hinata masuk ke dalam dan berdiri di hadapannya, "sepertinya kau sibuk!" Hinta melihat beberaapa dokumen yang menumpk, "aku akan duduk di sofa, kau kerjakan saja dulu tugas mu, aku tidak akan mengganggu!" Hinata berlalu dari hadapan Naruto lalu mulai duduk di sofa, tapi Naruto masih memperhatikannya.

Mungkin dengan aku menelpon seseorang dia akan teralihkan, "hallo Sakura, kau ada dimana... bersama Sasuke, dimana... mhhh, aku hanya ingin bertanya mengenai dia...iyah, apa dia menemui mu saat ini...entahlah, sepertinya dia sedang sibuk!" Naruto menyipitkan matanya, Naruto tahu kalau Hinata tengah membicarakannya, "aku belum memberitahunya Sakura, aku takut dia marah!" Hinata melirik ke arah Naruto yang masih menatapnya, "iyah, aku akan kesana sebentar lagi, sampai jumpa!" Hinata menutup telponnya dan melirik ke arah Naruto, "ya tuhan, bisa tidak kau sedetik saja mengalihkan perhatian mu padaku, aku takut kau terus menatap ku seperti itu!"Naruto terkekeh.

"lagian dari tadi, kenapa kau tidak bekerja, apa aku mengganggu mu?"

"aku sedang bekerja sekarang!"

"dengan hanya memandangiku, itu yang kau maksud bekerja, sepertinya aku hanya mengganggu, aku akan pergi!"

"tetap di tempat mu!" perintah Naruto.

Hinata tetap ditempatnya, dan Naruto melangkah menuju ke arahnya, duduk berjongkok seperti waktu itu dan memegang kedua tangannya dengan lembut, "dia siapa, katakan padaku?" ya ampun tenyata Naruto bertanya mengenai Sasori, aku kira dia hanya akan menanyakan kemana setelah aku ke kantornya, tapi tidak. Ini hal yang bagus bukan, Naruto bertanya, "aku akan becerita, tapi kau dudukah disebelahku!" Naruto pun duduk disebelah Hinata, "aku pernah mengatakan pada mu kan sebelumnya mengenai pria yang kau tahu saat di bar... dia yang sedang aku biacakan dengan Sakura. Dia kau tahu bukan... dia mencintaiku, tapi aku tidak berterus terang padanya bahwa aku sebenarnya menolak, dan dia tidak mengerti caraku menghindar darinya adalah sebuah penolakan, maka dari itu dia marah saat aku mengatakan kalau aku akan menikah dengan mu, dia..."

"sudah, jangan diteruskan, aku tahu orang seperti apa dia, jika dia masih mendekati mu maka ucapan terima kasih ku tidak akan pernah ku ucapkan, aku akan menghajarnya jika dia masih mendekati mu!"

"tidak tolong, jangan lakukan itu, aku tidak menyukai kekerasan..."

"tapi jika dia menyakiti mu..."

"dia tidak akan menyakitiku, dia tidak akan bisa, aku mohon kau jangan berkelahi, aku tidak suka orang yang berkelahi!"

Hinata menunduk menatap lantai, dan Naruto dia semakin mendekat ke arah Hinata hingga tak ada jarak yang memisahkan mereka. Naruto menyentuh dagu Hinata dan membawanya menghadap Naruto, "aku tidak akan berkelahi tanpa adanya alasan, aku mohon pada mu percayalah padaku, jika memang dia tidak meyakiti mu maka aku pun hanya akan diam, tapi jika dia menyakiti mu, aku tidak segan-segan menghajarnya, kau adalah segalanya bagiku untuk saat ini dan seterusnya..."

Katak-katanya benar-benar meyakinkan, batin Hinata menolak menatap Naruto dan memalingkan wajahnya, tapi Naruto membawa Hinata menatapnya kembali, semakin dekat tanpa ada jarak, dan akhirnya Naruto mencium Hinata. Hinata berpegangan pada bahu Naruto, melingkupinya lalu memeluk erat leher Naruto. Mereka berdua melepasnya tapi masih saling menyentuh, "umm.. kau mau bertemu dengan teman-teman ku lagi kan, hari ini!" ujar Hinata, napasnya memenuhi wajah Naruto, "aku mau, ayo kita pergi sekarang!"

"tidak, kau kan masih bekerja, aku akan menunggu sampai kau selesai!"

"tidak perlu sayang, ayo!"

Hinata tidak bermaksud mengganggu pekerjaan Naruto, karena Naruto juga yang mengancam kalau Hinata tidak datang ke kantor dia akan membolos bekerja, tapi tanpa di duga Naruto memanfaatkan ajakan Hinata untuk membolos. Mereka berjalan bergandengan tangan, dan itu membuat para karyawan memperhatikan mereka, terlihat kagum dengan dua pasangan itu. Hinata, tentu saja dia terlihat canggung dan malu, dia ingin cepat-cepat kelur dari kantor ini, "kau harus terbiasa dengan hal ini sayang, sebentar lagi kau akan menjadi istriku, dan kau akan menjadi nyonya di perusahaan ini!" Hinata tersenyum malu mendengar Naruto mengatakan hal itu.

"dimana mereka?"

"mereka ada di caffe yang waktu kita bertemu itu, di..."

"aku masih ingat tempatnya."

Hinata tersenyum malu. Tentu saja Naruto ingat, dia yang mengajak Sakura dan Sasuke bertemu disana, dasar bodoh kau Hinata. Beberapa menit kemudian mereka sampai di caffe dan disitu sudah ada Sakura dan Sasuke, "wah, wah... jangan mentang-mentang kalian sebentar lagi akan menikah, dan sok sibuk menyiapkan segalanya, kalian jadi menelantarkan kami seperti ini!" ujar Sakura. Hinata hanya tersenyum dan tanpa rasa bersalah dia dan Naruto duduk bersebelahan, tanpa melepaskan gandengan tangan mereka, "bagaimana, apa yang akan kalian lakukan mengenai Sasori?" Naruto berubah menjadi serius, "selama dia tidak menyakiti Hinata, aku akan membiarkannya!"

"dia tidak akan berbuat seperti itu!" ujar Hinata.

"tidak Hinata, selama kita bertiga berteman dengan Sasori, kau tahu sendiri kan, dia itu terlalu tempramen, dan kadang-kadang kita juga lihat kan dia itu bisa hilang kendali, kau tahu maksud ku Hinata!"

"apa yang dikatakan Sakura benar, kau harus berhati-hati Naruto, meskipun dia menyukai Hinata dia juga bisa menyakitinya, kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya bukan!" Naruto dan Hinata saling memandang. Apapun yang terjadi nanti Naruto akan selalu melindungi Hinata, karena dia tahu bahwa sedari awal Hinata hanyalah milikinya.

~~~###~~~

Sudah satu bulan hubungan mereka berjalan dengan lancar, dan semakin mesra saja. Namun masih ada halangan juga yang mengganggu, tak lain dan tak bukan gangguan itu adalah Sasori. Dalam satu bulan itu Sasori tak henti-hentinya menemui Hinata dan mengajaknya untuk bertemu, tapi Naruto tak tinggal diam, dia selalu mencegah Sasori untuk menemui Hinata. Hinata semakin takut jikalau Naruto akan bertindak gegabah dan menyerang Sasori. Kini Hinata tak lagi bisa pergi kemana-mana sendirian, harus ada Naruto disampingnya. Tapi kini Hinata keluar rumah sendirian dan Naruto tidak tahu kalau Hinata akan memberi kejutan padanya, dengan datang ke rumahnya.

"dia masih tidur di kamarnya, tapi ini sebuah kejutan kau datang lagi berkunjung."

"sebenarnya aku tidak boleh pergi sendirian, itu karena Naruto khawatir padaku bi, tapi aku ingin memberinya kejutan hari ini. Apakah dia selalu bangun siang seperti ini?"

"itu benar sayang, dia sangat malas, maka dari itu dia jarang bekerja. yaaa walaupun kalau dia bekerja itu karena paman Minato yang memaksanya, makanya, kau harus menjadi istri yang baik nanti, agar Naruto tidak lagi malas, mengerti sayang?" Hinata mengangguk pelan dan berdiri membantu Kushina mencuci piring, "sudah, kau tidak perlu membantu bibi, coba kau bangunkan dia, kau ingin bertemu dengannya kan, ayo bangunkan dia!" apa boleh buat, Hinata memang ingin bertemu Naruto saat ini, dia ingin mengobati rasa rindunya.

Hinata melihat Naruto masih tertidur nyenyak, dia sudah beberapa kali masuk ke kamar ini dan itu pun hanya untuk membangunkannya. Dan bibi Kushina tak henti-hentinya memberitahu Hinata kalau Naruto sangat lah malas, dia berjanji akan membuat Naruto berubah, menjadi lebih baik lagi dan tidak malas-malasan. Hinata menghela napas panjang saat melihat kamar Naruto berantakan, "ya ampun, apa yang dia lakukan semalam?" Hinata membereskan pakai-pakain kotor itu dan meletakannya ke ranjang cucian, buku-buku yang berserakan dan beberapa kaleng minuman, ramen cup, semuanya ada di atas meja yang juga kotor.

Hinata menarik selimut Naruto dan Naruto meringkuk ditempat tidur, "Naruto bangun, ayo cepat bangun!" Hinata memukul-mukul lengan Naruto yang sedikit demi sedikit membuka matanya, dia melihat Hinata tapi masih sedikit samar, akhirnya dia tersenyum. Dan itu membuat Hinata bingung, "kau mau tidur juga sayang, kemarilah!" Hinata memekik terkejut kala Naruto menarik tubuhnya ke tempat tidur dan bergabung dengannya, "apa yang kau lakukan, Naruto, bagaimana kalau bibi melihat, aku malu!" Naruto tidak menghiraukan Hinata yang mengoceh, "kau terus saja mengoceh tapi tidak memberontak, itu artinya kau ingin bukan!" Hinata tersipu malu, bodoh sekali kau Hinata, rutuk Hinata dalam hati.

"siapa bilang aku ingin, lepaskan aku, cepat lepaskan aku!" kali ini Hinata memberontak, tapi semakin dia memberontak Naruto semakin memeluknya erat dan akhirnya dia terbangun miring dan menatap Hinata yang masih dalam pelukannya, "kau nakal sekali, sebentar lagi kau akan menjadi istriku, dan kau harus terbiasa dengan hal ini!"

"hal apa maksud mu?"

"kau tahu maksud ku!"

Naruto semakin mendekatkan wajahnya, tapi Hinata menghentikannya dengan tangan yang terbebas dan menyentuh rahang Naruto, "kalau bibi melihat bagaimana, aku malu!" Naruto tersenyum menggoda, "biar saja ibu melihat, mereka akan menikahkan kita secepatnya, mungkin besok atau... aku tidak bisa menahannya, hanya dengan melihat mu dan mencium aroma mu, aku... aku tidak bisa!" Hinata menelan dengan susah payah, sebesar inikah Naruto menginginkannya, batin Hinata lalu tanpa sadar dia membelai pipi Naruto dengan jari jemarinya, "seberapa besar kau menginginkan aku?" tanya Hinata.

"entahlah, mungkin aku bisa memberikan jantung ku pada mu, jika..."

Hinata menutup mulut bibir Naruto dengan jarinya, "jika kau memberikan jantung mu, itu berarti kau akan mati."

"aku rela mati demi memiliki mu!" ujar Naruto dan tanpa basa basi mencium Hinata tepat dibibirnya, Hinata meneirma ciuman itu dan dia juga membalas ciuman Naruto, tiba-tiba Hinata meneteskan air mata, "aku berjanji saat pertama kali bertemu dengan mu aku tidak akan membuat mu menangis, tapi aku..." Hinata tidak tahu hal itu, walapun sudah satu bulan Naruto tidak pernah bercerita mengenai pertemuan pertamanya. Dan tidak pernah tahu atau pun bertanya apakah Naruto mempunyai rasa cinta dan bukan hanya sekedar ingin memiliki.

"ini air mata kebahagiaan, aku bahagia karena aku bertemu dengan mu, aku..." aku mencintai mu Naruto, batin Hinata, tapi dia tidak bisa mengungkapkannya, kapan dia akan mengungkapkannya, apakah menunggu sampai mereka menikah atau... "Hinata, apakah Naruto sudah bangun?" terdengar suara Kushina menaiki tangga menuju kamar naruto, "itu bibi, ayo cepat lepaskan aku!" Hinata mendorong naruto karena dia tahu Naruto juga pasti akan melepaskannya, syukur ada bibi Kushina, batin Hinata lalu keluar dari tempat tidur dan berdiri tepat saat Kushina masuk ke kamar. "ya ampun, apakah dia susah dibangunkan?" Hinata mengangguk kaku, "baiklah, ibu akan tunggu kalian di dapur untuk makan siang, bersiaplah Naruto!"

"baik ibu." Ujar Naruto.

Hinata menghela napas lega. Naruto buru-buru memeluk Hinata dari belakang sebelum Hinata keluar kamar, "kau buru-buru sekali, aku belum selesai sayang!" bisik Naruto di telinga Hinata, Hinata berbalik menghadap Naruto dan melingkarkan lengannya dileher Naruto, "masih banyak waktu untuk melakukannya lagi!" ujar Hinata. Naruto menyeringai, "ooh, jadi kau menunggu juga, saat-saat kita hanya berdua saja, aku tahu kau juga menginginkannya bukan?" Hinata tidak menjawab, dia menjawab pertanyaan Naruto dengan tindakan, yaitu mencium Naruto sekilas. Naruto tersenyum menyeringai, kau miliku, batin Naruto.

~~~###~~~

"kau dimana?"

"aku ada di taman bersama Sakura, kau tidak perlu khawatir!"

"ya tuhan, kenapa kau tidak memberitahu ku kalau kau ingin keluar, aku bisa datang menjemput mu dan membawa mu pergi ke mana pun kau mau, tapi kau melanggar janji mu Hinata, aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu!"

"tidak akan ada yang terjadi Naruto, lagi pula kau harus bekerja, sudahlah, sampai nanti!"

"Hinata... sial!"

Naruto gelagapan, dia mondar mandir kesana kemari dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Kalau dia meninggalkan kantor, ayahnya akan marah lagi, tapi jika dia tidak menemui Hinata, dia takut terjadi sesuatu padanya, "sial, minggu lalu dia (Sasori) hampir membawa Hinata pergi jauh, dan aku memiliki perasaan buruk saat ini kalau dia juga akan melakukannya, aku harus menemuinya... Sasuke, bantu aku!" Naruto keluar dari kantor dan bertemu dengan ayahnya, "kau mau kemana?" jika Naruto mengatakan ingin bertemu Hinata lagi, apa ayahnya akan mengijinkan, "aku ingin menemui Hinata ayah, dia ingin memilih cincin." Ujar Naruto.

"ooh itu bagus, baiklah kau boleh pergi, jangan sampai Hinata menunggu!"

Mhhh.. bagus sekali, ini sangat mudah untuk mengelabui ayah, batin Naruto lalu keluar dari kantor menuju mobil dan bertemu dengan Sasuke. Beberapa menit kemudian mereka berdua sampai di taman dan bertemu dengan Sakura, "dimana Hinata?" tanya Naruto cemas. "tadi dia membeli minuman untuk kami berdua, tapi sampai sekarang dia belum juga kembali, aku kahwatir terjadi sesuatu!" ujar Sakura ketakutan. "baiklah, untuk saat ini kita tidak usah panik, kita harus mencarinya Naruto, kau tahu dimana dia membeli minuman?"

"disana!" tunjuk Sakura

"ayo cepat!" ujar Naruto lalu berlari ke arah Hinata membeli minuman. Sesampainya disana dia melihat Hinata membawa sekantong makanan, dia tersenyum saat melihat Naruto, dan Naruto bernapas lega karena Hinata baik-baik saja, "ya ampun dia membuatku kahwatir, Hinata... Hinata!" Sakura melambaikan tangan pada Hinata, "ya ampun, dia energik sekali bertemu dengan Sasuke, lagian kenapa ada Naruto dan Sasuke disana, tapi ini membuatku senang." tentu saja dia senang, lihat saja Naruto yang terus mengamatinya dari kejauhan. Hinata hendak menyebrang jalan untuk menemui mereka bertiga, tapi tiba-tiba sebuah mobil berhenti di hadapannya. "kenapa mobil itu menghalangi?" ujar Sakura. "oh tidak!" ujar Naruto. dia langsung berlari.

Beberapa orang keluar dari mobil, dan membawa Hinata masuk kedalam mobil, "tolong.." teriak Hinata. Naruto bergegas mendekati mobil itu, tapi sayang mobil itu sudah melaju dengan membawa Hinata serta. "sial!" umpat Naruto. tiba-tiba Sasuke datang dengan mobilnya, "ayo cepat Naruto!" mereka mengejar mobil yang membawa Hinata, "siapa mereka?' tanya Sakura. "siapapun mereka, ini pasti berhubungan dengan Sasori, kenapa dia bertindak kelewat batas seperti ini!"

"apapun yang dia lakukan pada Hinata, aku tidak akan memaafkannya, ayo cepat Sasuke!"

Mobil itu melaju semakin cepat, tapi Sasuke tidak mau kalah, mereka membawa Hinata jauh dari keramaian kota hingga memudahkan mereka untuk mengejarnya, "mereka memabwa Hinata ke tengah hutan, dasar brengesek!" umat Sakura. "sepertinya mereka tidak menghiraukan kita sama sekali, mereka ingin kita tahu kemana Hinata di bawa," ujar Sasuke, "kenapa seperti itu?"

"karena Sasori ingin melihat bagaimana reaksi ku saat Hinata ada dalam genggamannya."

"apa sebegitu kejam Sasori melakukannya, dia pasti sangat membenci mu Naruto."

"Sakura, kau tetap disini, aku dan Naruto.."

"tidak perlu Sasuke, aku akan kesana sendiri!"

"kau gila yah, aku tidak akan membiarkannya!"

Naruto tak mendengarkan kata-kata Sasuke, dia keluar dari mobil dan bergegas menemui Hinata, jantungnya berpacu takut akan keadaan Hinata, pikirannya tak menentu jika terjadi sesuatu padanya, dia mendengar suara Hinata dari luar, "kurang ajar!" desis Naruto. "ya ampun, dia seperti kemasukan setan saja." Ujar Sasuke yang mengikuti Naruto dari belakang. Ketika dia sampai di rumah itu dia melihat Sasori yang sedang berdiri dan disana ada Hinata yang diikat, "kau menyakitinya, aku akan membunuh mu!"

Sasori tertawa mengejek, "coba saja kalau kau bisa merebut dia dariku, lagi pula aku tidak akan membiarkan mu memiliki Hinata. Hinata itu milikku, dan kau tiba-tiba datang dalam kehidupan kami, kau harus ku singkirkan!"

"tidak!" teriak Hinata.

"kau harus dia manis!" ujar Sasori, dan Hinata benci mendengar kata-kata manis.

"Sasori..." Sasuke datang, "kenapa kau jadi seperti ini, Hinata itu teman mu dan kami juga, aku dan Sakura, apa kau tidak malu melakukan hal ini?"

"untuk apa aku malu, kalian berdua tidak pernah mendukungku, tidak pernah membantuku untuk mendekati Hinata, kenapa hah? Kalian tidak sepenuhnya menginginkan aku menjadi teman kalian bukan, kalian berdua munafik, kalian sama sekali tidak menganggapku teman."

"omong kosong, kami seperti itu karena kami menghargai keputusan Hinata, dia tidak mau bersama mu karena dia tahu kalau kau hanya ingin memilkinya, tidak mencintai nya. Aku dan Sakura sadar, bahwa kelakuan mu itu memperlihatkan hal yang berbeda, kau terobsesi memilki Hinata, kau tidak mencintainya..."

"tidak, aku mencintai Hinata lebih dari apapun, camkan itu. Kalian, hajar mereka berdua!"

Teriak Sasori pada semua suruhannya, "Hinata.." teriak Naruto yang berusaha kabur dari para orang suruhan Sasori , "kejar Hinata, Naruto kejar dia..." bentak Sasuke.

"tapi..."

"aku yang akan menghadapi mereka, cepat!"

"baiklah, terima kasih!"

Sasuke mengangguk cepat, Naruto segara menyusul Sasori. Mereka keluar dari rumah dan menuju hutan, "lepaskan aku, Sasori aku mohon lepaskan aku!" Sasori tidak mendengarkan, dia terus berajalan cepat Karena dia tahu Naruto pasti menyusulnya. Sasori berhenti, dia tidak akan terus berlari karena itu akan membuatnya lelah juga, lagi pula Naruto pasti tidak akan berhenti mengejaranya, "kau tunggu disini!" Sasori mendudukkan Hinata dan mengikat kakinya, menutup mulutnya, "lihat bagaimana nanti reaksinya jika aku melakukan hal ini pada mu!" Hinata mengelak untuk diikat, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa.

Beberapa menit kemudian Naruto melihat Hinata tengah sendirian dan ikat, mulutnya di tutupi dengan kain, "bajingan," ujar Naruto lalu menghampiri Hinata. Hinata membelalakan mata ketakutan, dia meggeleng-gelengkan kepalanya, tanda agar Naruto tidak mendekatinya, "tidak, jangan Naruto, ini jebakan!" ujar Hinta dalam hati. Tentu saja Naruto tidak mengerti apa maksudnya, dia semakin dekat ke arah Hinata, tapi tiba-tiba rasa sakit di pundak Naruto tidak tertahankan, akhirnya dia jatuh dan pingsan, "rasakan itu!" ujar Sasori penuh kemenangan. Hinata menangis melihat Naruto dipukul begitu keras, "Naruto!" ujar Hinata lirih.

~~~###~~~

"ya tuhan, semoga mereka baik-baik saja, ini sudah malam, apa yang akan kita lakukan Sasuke?"

"entahlah, pasti sesuatu terjadi pada mereka, kita harus mencari mereka!"

"tapi ini sudah malam."

"dan aku yakin mereka masih disekitar sini, ayo!"

Kini sudah malam dan Naruto bangun dari pingsannya, dia melihat Hinata berada disebarangnya, tengah menatapnya, penuh dengan ketakutan dan kekhawatiran. Dia tidak ingin melihat Hinata bersedih seperti itu, Naruto pasti akan membalas, air mata yang Hinata teteskan, akan terbalaskan dengan apa yang akan Naruto lakukan pada Sasori terduduk, diantara Hinata dan Naruto, dia tengah memadang Naruto dan Hinata bergantian, "lihat kalian berdua, sepasang kekasih yang menyebalkan. Hinata, kenapa kau harus bersamanya, kenapa kau memilihnya, kenapa bukan aku. Kau membuat kesalahan Hinata, aku tidak akan memaafkan mu!"

"dan kau, kau adalah virus dalam hubungan ku dengan Hinata, kenapa kau tiba-tiba menghalangi untuk menemui Hinata di bar, kalian tidak ada hubungan bukan saat itu, kapan kau bertemu lagi dengan Hinata, katakan!"

"bodoh, tidak bertemu pun dengan Hinata, toh pastinya aku akan bertemu dengannya, kami di jodohkan dan kau harus sadar mengenai hal itu!"

"huh.. dijodohkan, aku tidak mau tahu hal itu, yang penting untuk kau ketahui adalah bahwa aku mencintainya, dan akan selalu begitu. Kau, kau bahkan hanya bertemu dengannya satu kali di bar, apakah kau saat itu sudah mencintainya, tidak... kau yang hanya ingin memilikinya bukan, kau tidak mencintainya, sadarlah Hinata, dia tidak mencintai mu, kau telah ditipu olehnya, aku yang mencintai mu. Kau akan bahagia dengan ku karena aku akan memberikan cinta ku sepenuhnya pada mu Hinata..."

"jangan dengarkan dia Hinata, dia hanya seorang bajingan, jangan kau percaya!"

Tentu saja Hinata tidak akan percaya dengan Sasori, dia melakukan hal sekejam ini, mana mungkin dia percaya. Tapi dia juga agak sedikit tidak percaya pada Naruto. Sasori benar, apakah Naruto mencintainya atau tidak, dia tidak pernah tahu mengenai hal itu. Tapi... mengapa kau ragu Hinata, bukankah Naruto sudah menunjukannya pada mu selama sau buan penuh dia selalu bersama mu dan kau merasa nyaman, aman dan merasa dicintai dengan perhatiannya yang begitu besar. Mungkin Naruto hanya tidak tahu bagaimana caranya mengungkapkan perasaannya.

Iyah.. mungkin dia hanya perlu sedikit lagi waktu untuk mengungkapkannya, atau semua perhatian dan keinginannya memilki Hinata adalah tanda bahwa Naruto benar-benar mencintainya, entahlah, tapi yang pasti Hinata percaya pada Naruto, sepenuhnya. "jangan diam saja Hinata, ayo.. pilih aku atau dia?"

"tentu saja aku memilihnya, aku tidak mungkin memilih orang seperti dirimu, kau jahat Sasori, padahal aku sudah mengaggap mu sebagai sahabat baikku, tapi kau..."

"cukup, aku tidak mau lagi kau bicara. Lihat bagaimana aku akan menyiksanya!"

Sasori berdiri di hadapan Naruto dan menendang tubuhnya keras, "Naruto!" teriak Hinata. Sasori tidak menghiraukan teriakan Hinata, dia terus menendang Naruto, memukulnya dengan sagat keras. Naruto berteriak kesakitan, dia tidak bisa melawan karena tangannya di ikat. Sasori berlalu dari Naruto dan menghampiri Hinata, dia menarik rambut Hinata, Hinata memekik terkejut, tak menyangka sasori akan melakukan hal itu, "lihat dia Naruto, apakah kau melihatnya, dia kesakitan apakakah kau tidak mau menolongnya. Dan Hinata... lihat dia yang tidak bisa menolong mu, kalian adalah pasangan yang payah!" Sasori tertawa terbahak bahak melihat keduanya merintih kesakitan.

Ternyata Sasuke memang benar kalau sebenarnya Sasori tidak mencintai Hinata, dia hanya terobsesi dengannya, "lepaskan tangan mu darinya, aku akan membunhmu!" Sasori semakin terbahak-bahak, "ooo yah, bagamana caranya kau akan menyelamatkan dia Naruto?" Sasori semakin menarik rambut Hinata dan Hinata mengeluarkan air mata, itu membuat Naruto marah, dia sangat marah, "aku bilang lepaskan, lepaskan dia..." Naruto bangkit berdiri dan entah bagaimana dia bisa melepaskan ikatannya, Naruto berlari ke arah Sasori dan langsung memukulnya keras.

"kurang ajar, dasar bajingan, kau pantas mendapatkan ini!"

Naruto memukul Sasori sampai-sampai tak ada waktu untuknya membalas, "kau harus mati, kau harus..." Naruto didorong kuat oleh Sasori, mereka saling pukul, dan kini Naruto yang harus berjuang melawan Sasori yang tiba-tiba bangkit, "Naruto!" teriak Hinata. Dia belum lepas dari ikatannya, Hinata berusaha melepaskan diri dengan menggesek-gesekan tali di batu yang runcing, "Naruto!" ujar Hinata.

Naruto dan Sasori saling mendorong satu sama lain hingga mereka tak sadar bahwa di bawah mereka adalah jurang, "kau harus mati Naruto, aku tidak akan membiarkan dirimu mendapatkan Hinata!" Sasori mendorong Naruto kedalam jurang, namun Naruto tidak akan membiarkan dia jatuh sendiri, dia menarik tangan Sasori hingga mereka terjatuh bersama di dalam jurang. Ketika itu pula Hinata datang, berteriak memanggil nama Naruto, "tidak, tuhan selamatkanlah dia!"

"Hinata, kau kah itu, ini aku Sakura!"

Dia mendengar suara Sakura, saat itu juga Sakura dan Sasuke datang, "Sakura, Naruto... dia.. dia jatuh ke dalam jurang.."

"ooh ya tuhan, Sasuke, kita harus bagaimana?"

"kita harus melihat mereka, ayo kita telusuri jurang ini!"

Mereka bertiga bergerak menyrusuri jurang, ada sebuah jalan setapak yang menuruni jurang, ternayata benar bahwa jurang in tidak dalam, dan kemungkinan besar mereka selamat. Mereka turun satu persatu kedalam jurang dan mulai mencari Naruto, tempat Naruto terjatuh tidak terlalu jauh dari jalan setapak itu, "kalau mereka masih berada disekitar sini, itu berarti mereka pingsan, kita harus mencari mereka segera!" ujar Sasuke. Tidak jauh dari mereka Hinata menemukan tubuh Sasori, "lalu dimana Naruto?" tanya Hinata.

"Hinata, Naruto disini!"

Sakura menemukan Naruto yang tergeletak, tubuhnya sangat dingin dan Hinata memeluknya dengan erat, "kita harus mengobati luka-lukanya!" ujar Saskura. Mereka berdua Sasuke dan sakura mengobati luka-luka Sasori sedangkan Hinata, tentu saja dia mengobati Naruto, "bagaimana pun juga Sasori ini teman kita, dia hanya sedikit kurang, waras kukira..."

Sakura dan Hinata tertawa kecil mendengar pengakuan jujur dari Sasuke, "bukankah benar begitu, dia teman kita, tapi dia sama sekali tidak pernah mendengar kata-kata kita, aku harus apa dengan mu Sasori?"

"apa dia akan di penjara Sasuke?"

"entahlah Sakura, aku jadi kasihan dengannya, dia hanya korban dari semua ambisinya yang jahat, kau pasti tidak akan tahan dengan orang ini Hinata, beruntung kau menemukan Naruto dan dia juga menyayangi mu, dia cocok untuk mu!"

"Sasuke benar, kami berdua akan selalu mendukung mu dan Naruto!"

"terima kasih teman-teman."

Hinata kembali dengan sapu tangan yang ia usapkan pada kening Naruto yang berdarah, untung saja Sakura membawa beberapa perlengkapan medis, dia bisa membalu luka-luka Naruto yang memar, "kita harus menunggu sampai pagi, baru kita mencari bantuan, sekarang tidurlah!" mereka tertidur disana, walau tidak nyaman tapi Hinata senang karena Naruto ada disisinya.

Saat itu masih larut dan Naruto terbangun, dengan kepala dan bagian tubuhnya yang lain yang merasa sakit dia tetap bergerak hingga menemukan bahwa dirinya berada dipelukan Hinata, gerakan itu tidak membuat Hinata terbangun, kini Naruto yang bergantian menyangga Hinata dan memeluknya. Dia merintih kesakitan, namun sakit itu tidak berarti apa-apa karena Hinata ada disampingnya.

^^Bersambung...^^