The Dark Heroine (Remake MinGa verse)

Disclaimer: remake from novel The Dark Heroine by Abigail Gibbs (dengan sedikit bumbu yang pas untuk pair ini); Tuhan YME, Their parents and Agency.

Cast: Park Jimin/Min Yoongi and another cast from BTS and the others; OC

Warning: Typos, AU, OOC, GS (for uke), R-18, DLDR~

Genre: Romance, Thriller, Hurt/Comfort

Summary:

pertemuan tak disengaja di jalanan gelap malam itu membawanya ke garis hidup yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya... sosok yang tak hanya menyebabkan sekujur bulu kuduknya merinding, tetapi juga membuat jantungnya berdebar hebat... Ini adalah perasaan yang mampu melampaui batas antara dunia mereka berdua... cinta itu tidak mengharapkan keduanya mengorbankan takdir masa depan mereka...

.

Last Chapter

...

"kau melihat semua itu." Kata-kata Jimin sedingin es. Itu sebuah pernyataan, bukan pertanyaan, tapi aku tetap menjawabnya.

"menurutmu?" balasku, berusaha membuat suaraku terdengar sesinis mungkin.

"menurutku, kau harus ikut dengan kami," geram Jimin, mencengkeram sikuku dan mulai menyeretku pergi. Aku membuka mulutku, tetapi Jimin lebih cepat. Ia membekap mulutku. "jika kau berani menjerit, aku bersumpah akan membunuhmu."

Dan, aku dibawa pergi, masih dalam keadaan meronta dan menggigit. Diseret menjauh dari pertumpahan darah mengerikan yang diciptakan oleh monster-monster pucat ini.

~Yoongi PoV end~

.

Chapter 2

.

.

.

.

Mereka hampir terbang melewati satu demi satu jalanan, berlari dengan sangat cepat meninggalkan alun-alun. Jimin mencengkeram kuat pergelangan tangan Yoongi, menariknya kebelakang tubuhnya. Kuku tangan Jimin menusuk lengan Yoongi dan ia dapat merasakan kulitnya sobek hingga dagingnya dapat terlihat jelas. Yoongi meringis –rasanya seperti jatuh dari ketinggian dan menggores lengannya dalam gerakan lambat- tetapi ia tidak mengatakan apa-apa; ia tidak ingin memberikan kepuasan lebih kepada Jimin. Jimin berbelok dari satu gang ke gang lain, ia berada paling depan, mengarahkan kelompok menyusuri jalan yang Yoongi sendiri tidak tahu bahwa ada jalan di sana. Yoongi dapat mendengar suara sirine mobil polisi dan jalanan sudah dipenuhi lampu biru yang terang benderang.

"Polisi sialan," maki Jimin. "tunggu di sini," perintahnya lagi pada Yoongi. Jimin mendorong Yoongi ke depan, membuatnya langsung mendarat di dada pria yang lain. "Namjoon, awasi si Sweety."

Selama sedetik, Yoongi pikir dirinya akan menghantam tembok. Namjoon juga terasa dingin, dan ia melompat mundur dengan kaget, jatuh ke got yang ada di samping trotoar. Namun, ia tidak pernah mendarat di got. Yoongi menunduk dan menyadari bahwa ia diangkat oleh lengan yang sama pucatnya dengan lengannya.

.

"jangan jatuh," ujar sebuah suara yang terdengar berat. Yoongi mengikuti lengan itu ke atas, tercengang saat mendapati wajah tersenyum pemuda yang melompatinya di alun-alun Gwanghwamun, dan mata sebiru langit malam yang menatapnya dengan geli. Selama sejenak, kegilaan Yoongi muncul muncul karena justru ia mengagumi rambutnya yang berantakan dan dadanya yang berotot, mengintip sedikit dari balik kerah kemejanya yang tak terkancing, sebelum Yoongi menyadarkan diri sendiri, lalu menarik tangannya dari cengkeraman pemuda itu. Yoongi merasa takut oleh arah pikirannya sendiri. Namun, sepertinya pria itu tidak terpengaruh oleh tatapan kagumnya.

"aku Namjoon," ujar pria itu, mengulurkan lagi tangannya pada Yoongi.

Yoongi melangkah mundur, menggosok tangan dan pergelangan tangannya ke mantel karena ada noda darah yang tertinggal dari tangan Namjoon. Namjoon mengerutkan kening, menatap Yoongi saat ia mundur, tangannya tetap menggantung di udara.

"kau tahu, kami tidak akan menyakitimu"

Empat pasang mata lain mengawasi merek, menegang, dan menunggu Yoongi melarikan diri. Namun, Yoongi sudah melepas harapan untuk bisa melarikan diri. Yoongi hanya bisa mengandalkan fakta bahwa Jimin akan pergi cukup lama hingga mobil polisi sempat melewati mereka.

"kejadian disana tadi" –Namjoon menunjuk alun-alun- "memang harus dilakukan. Aku tahu kelihatannya tidak seperti itu, tapi kau harus percaya kepadaku saat aku mengatakan itu suatu keharusan"

Yoongi berhenti mundur. "keharusan? Itu bukan keharusan, tapi kesalahan. Jangan membodohiku; aku bukan anak kecil."

Kata-kata itu sudah terlontar dari mulut Yoongi sebelum ia sempat memikirkan apa pun, selain mencari cara untuk mengulur waktu. Yoongi mencengkeram pergelangan tangannya sendiri dan berhenti menggosoknya. Sepertinya, mereka terkejut karena Yoongi masih berani bicara, dan sesekali mata Namjoon beralih kebelakangnya.

"memangnya, berapa usiamu, hingga kau tahu begitu banyak soal moralitas?" Namjoon memiringkan kepalanya ke satu sisi. Yoongi menutup mulutnya, ragu-ragu apakah harus mengatakan usianya yang sebenarnya pada mereka, tapi di sisi lain ia lega karena mereka mengabaikan ocehannya tadi. "berapa?"

Yoongi menggigit bibirnya. "tujuh belas," gumamnya.

"aku tidak tahu jika zaman sekarang gadis tujuh belas tahun biasa mengenakan gaun sependek itu."

Yoongi terlonjak mendengar suara dari belakangnya dan langsung berbalik, rambut gelapnya berayun sehingga sejumput menempel di matanya. Jimin sedang bersandar di tiang lampu dengan tangan dimasukkan ke saku dan ibu jarinya mencuat ke luar, seringai kejam tersungging lagi di bibirnya. Matanya memandangi tubuh Yoongi, dan Yoongi merapatkan mantel untuk menutupi gaunnya yang pendek.

Seringaian Jimin melebar. "wajah yang merona terlihat kontras dengan kulitmu yang pucat itu, Sweety."

Yoongi meringis mendengar Jimin menyebut warna kulitnya–putih, dapat dikatakan pucat menjadikannya terlihat sedikit aneh di kalangan temannya. Seharusnya, Yoongi sudah biasa dengan ejekan semacam itu. Yoongi membuka dan menutup mulutnya beberapa kali. Namun saat ia menatap Jimin lagi, seringai pria itu sudah lenyap.

"pergi!"

.

Yang lain sudah menghilang, ditelan oleh kegelapan gang saat Yoongi dilempar ke samping dengan keras dan mendarat di belakang jejeran tong sampah. Yoongi menoleh ke sekeliling dengan bingung. Satu-satunya cahaya berasal dari bar kumuh yang ada di ujung jalan, terselip di antara tangga darurat dan bak sampah yang kelebihan isi. Sambil menarik napas panjang, Yoongi mulai berdiri, tapi ada tangan yang membekap mulutnya, sementara tangan yang lain menariknya hingga Yoongi setengah terseret dan setengah digendong di sepanjang gang yang sempit, kakinya tertutup debu jalanan.

Persis saat mereka berbelok di tikungan yang ada di ujung gang, cahaya biru menerangi tembok bata di samping mereka. Pemabuk yang tertidur di sana mengerang keras dan menggumamkan umpatan. Namun, erangannya teredam oleh suara sirine yang sepertinya berada tidak jauh dari mereka.

"kau harus berlari lebih cepat," kata Jimin pada Yoongi. Tak ada sedikit pun kepanikan yang terdengar dalam suara Jimin, tapi lain halnya dengan ekspresi wajahnya. Yoongi melompat mundur.

"kau sudah gila ya? Kenapa aku harus berlari lebih cepat untukmu? Kau pembunuh!" kata-kata itu terlontar dari mulut Yoongi tanpa disaring lagi –adrenalinnya terpacu, dan itu menyingkirkan ketakutan yang dirasakannya.

Mata Jimin berkilat marah, dan selama sejenak, sepertinya mata itu tidak lagi terlihat seperti biru kehijauan. "kami bukan pembunuh." Meskipun Jimin tidak meninggikan suaranya atau mengubah nadanya, Yoongi tetap merinding negeri dan bulu kuduknya langsung berdiri.

"kalau begitu, siapa dirimu sebenarnya dan kenapa kau membunuh orang-orang itu?"

Pertaanyaan itu menggantung di udara; tidak ada yang menjawab. Yoongi justru didorong ke depan, ditarik dari satu gang ke gang lain, bergonta-ganti arah saat polisi terus melakukan pengintaian, berada persis di jalanan belakang mereka saat mereka berlari ke pusat kota.

Seoul menggeliat bangun. Setiap jendela memantulkan cahaya biru dari lampu mobil polisi.

"ayolah!" desis Jimin, menarik lengan mantel Yoongi.

"aku tidak bisa!" jerit Yoongi. Dan ia benar-benar tidak bisa berlari lagi. Bekas jahitan di bagian samping tulang rusuknya terasa sakit, dan napasnya terputus-putus.

"kau harus tetap berlari," ujar Jimin dengan dingin.

"aku tidak bisa be—bernapas," Yoongi berucap sambil berusaha menarik napas. Air mata mengalir di pipinya, lalu ia menyekanya dengan cepat. "aku akan pingsan dan mati!"

"oh memang apa ruginya untukku?" gumam Jimin sambil memutar bola matanya.

"aku tidak ikut denganmu secara sukarela!" Yoongi meringis, jatuh berlutut, bertanya-tanya kenapa Jimin repot-repot mempertahankan nyawanya jika hidup matinya tidak ada beda untuk Jimin?

"tidak, kau memang tidak ikut secara sukarela. Tapi, sekarang kau sudah terlibat, dan dari apa yang kulihat, Sweety," Jimin menarik kerah mantel Yoongi, "kau tidak punya pilihan. Ayo jalan."

Yoongi tidak bergerak, masih menggosok dadanya. "namaku bukan Sweety! Namaku Yoongi!"

Tiba-tiba saja, Jimin sudah berada beberapa senti dari Yoongi, memaksanya merapat ke tembok saat tangannya mencekik leher Yoongi. Satu jarinya menekan urat nadi Yoongi, membelainya.

"dan, aku adalah pangeran!" bentak Jimin. Yoongi terbelalak dan berusaha meronta, tetapi cengkeraman Jimin justru semakin kuat. Yoongi memejamkan mata, tak ingin melihat wajah Jimin yang begitu dekat dengan wajahnya. Bayangan berkelebat di balik matanya yang terpejam; tubuh Oh Sejun yang sudah tak bernyawa, bersimbah darah di atas lantai.

"aku bisa mematahkan leher indahmu dengan mudah," bisik Jimin pada telinga Yoongi. "jadi aku sarankan kau melakukan apa yang aku katakan karena kau tidak akan bisa mengalahkan kami dan polisi tidak akan bisa menghentikan kami."

Yoongi tak tahu maksud Jimin mengatakan bahwa dirinya adalah pangeran, tetapi ia memercayai perkataannya yang lain. Kesungguhan dalam suara Jimin memiliki efek yang sama dengan sebuah ancaman. Yoongi menundukkan kepala, merasa kalah.

"begitu lebih baik," gumam Jimin. Jimin meraih tangan Yoongi, lalu menariknya. Saat Yoongi berbalik untuk mengikuti Jimin, ia melihat seorang pria di ujung jalan. Setelannya yang berwarna krem terlihat aneh jika dibandingkan dengan jalanan sempit dan bar kumuh di sekitarnya. Langkah pria itu melambat, lalu berhenti, menatap lurus ke arah Yoongi dan Jimin, tangan pria itu terangkat ke atas seperti orang menyerah kalah. Yoongi menarik napas panjang. Pria itu bekerja dengan ayahnya. Atau lebih tepatnya, bekerja untuk ayahnya.

Pria itu melangkah maju dengan ragu-ragu, tatapannya masih terfokus pada Yoongi. Selama sejenak, Yoongi bertemu pandang dengan pria itu, tetapi kemudian pria itu mengalihkan pandangannya dan mundur. Dengan tangan terangkat, pria itu menunjuk ke belakang saat polisi berbelok di tikungan. Langkah polisi-polisi itu melambat, dan akhirnya berhenti, mengamati enam remaja dan satu gadis itu dengan sorot takut saat Jimin berbalik dan menatap satu per satu petugas polisi itu, seolah menantang. Jimin menghela napas dan menegakkan bahunya, menarik Yoongi ke dadanya. Yoongi mencoba meronta dan berteriak meminta bantuan, tetapi Jimin memelintir tangannya ke belakang tubuhnya, membuat Yoongi menjerit kesakitan seperti ada pisau yang ditusukkan ke bekas jahitannya. Dengan lengan yang melingkari pinggang Yoongi, Jimin melangkah mundur beberapa langkah, menyeret Yoongi bersamanya.

Yoongi side~

Jimin menunduk dekat telingaku, lalu berkata, "terlalu lambat." Tanpa berkata apa-apa Jimin mengangkat, lalu membopongku di atas bahunya. Aku langsung protes, memukuli punggungnya. tetapi sepertinya Jimin tak menyadari hal itu karena tiba-tiba saja segalanya menjadi kabur. Bangunan-bangunan berkelebat dengan cepat, dan saat aku mengangkat kepala, kerumunan polisi sudah tidak ada. Bahkan, kami sudah tidak berada di jalan yang sama lagi. Aku kecewa. Jimin memang benar. Mereka tidak akan mengejar kami. Kenapa mereka tidak mencoba menghentikan kami?

Dalam hitungan menit, kami sudah meninggalkan kekacauan tadi. Aku tidak ingin tahu seberapa cepat kami berlari—yang aku tahu hanyalah kami berlari cukup cepat hingga membuat kepalaku berputar. Aku memejamkan mata untuk menghilangkan rasa pusing dan menenangkan napasku. Namun, beberapa detik kemudian, kakiku menyentuh tanah dan aku tersungkur di kaki Jimin, di samping dua mobil yang terlihat sangan mahal.

Aku mengerjapkan mata, merasa yakin pandanganku dobel. Mobil itu sangat identik, dengan warna hitam mengilap dan jendela gelap yang sama. Bahkan, pelat nomornya sama, kecuali satu huruf.

Siapa sebenarnya orang-orang ini? Mereka tampan dan luar biasa kaya; kekurangan fatal mereka adalah mereka pembunuh. Aku menelan ludah dengan susah payah saat pikiran itu memudar. Aku cukup mengenal kota Seoul untuk mengenali tanda-tanda suatu kejahatan yang terorganisasi. Tapi polisi sama sekali tidak menghentikan kami.

Suara raungan sirine di kejauhan memecah kesunyian di jalanan, dan seseorang di belakangku mengangkatku, mendudukkanku di kursi belakang mobil terdekat. Orang itu membanting pintu mobil, lalu masuk melalui pintu di sisi lain. Aku mengenali orang itu sebagai satu pemuda yang memiliki warna mata sama dengan Jimin—biru kehijauan. Jimin dan Namjoon duduk di kursi depan mobil yang sama, dengan Jimin di balik kemudi.

"pasang sabuk pengamanmu," perintah pemuda yang duduk di sampingku. Aku mengabikannya, duduk sekaku papan, dengan lengan disilangkan di depan dada. Pemuda itu menghela napas jengkel, lalu mengulurkan tangan untuk mengambil sabuk pengamanku.

"orang gila," gumamku. Pemuda itu tergelak.

"namaku Taehyung, bukan orang gila. Aku adiknya," ungkap pemuda itu, mengangguk ke arah Jimin. Itu menjelaskan kemiripan di antara mereka. "tadi kau bilang siapa namamu?"

"Yoongi. Min Yoongi," gumamku dan langsung terdiam. Saat melihat ke luar jendela, aku bisa melihat lebih banyak mobil polisi yang lewat. Perutku bergolak saat melihat seorang oetugas polisi menoleh ke arah kami. Pandangan matanya terkunci dengan mataku selama sejenak, sebelum ia berbalik seolah tidak melihatku sama sekali.

Sekarang, kami sudah meninggalkan kota, sudah berada di luar jalur patroli polisi. Saat memasuki jalanan terbuka, aku merasakan mobil melaju lebih cepat dan aku melirik ke layar penunjuk kecepatan. Jarumnya menunjuk ke angka seratus. Aku merasakan gelenyar familier di perutku, dan untuk pertama kalinya, aku tidak menyukainya. Kepalaku berdenyut, dan bekas luka di bagian samping tulang rusukku semakin terasa sakit. Aku menekankan tanganku di sana dan rasa sakitnya sedikit berkurang.

Aku meringkuk di kursi, menekuk lututku ke dada, lalu menyandarkan kepalaku ke jendela yang dingin. Mataku terpejam dan tubuhku memohon agar diitirahatkan, tetapi aku tidak berani membayangkan apa yang terjadi jika aku membiarkan diriku tertidur. Sambil menahan air mata, aku mulai menganalisis situasiku dengan sebanyak mungkin kemungkinan.

Aku baru saja menyaksikan pembunuhan masal tiga puluh orang pria di pusat Kota Seoul. Aku diculik oleh enam pemuda kuat dan cepat yang sepertinya tidak mau membunuhku—belum. Aku tidak tahu ke mana akan dibawa pergi, siapa orang-orang ini, apa yang akan terjadi, atau berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai ada seseorang yang menyadari aku menghilang.

Aku mulai mempertimbangkan kemungkinan melompat dari mobil, tetapi saat rencanaku baru saja tersusun, terdengar suara pintu mobil terkunci. Isakan kecil keluar dari bibirku.

Saat berbelok ke arah GS25 di perempatan, kami meninggalkan kota yang ku cintai. Pemandangannya berubah perlahan dari kota menjadi pemandangan daerah pinggiran dan pada akhirnya kami melewati lahan yang membentang luas, dan aku mulai bertanya-tanya apakah kami akan pergi ke bandara di Bucheon untuk melarikan diri ke luar negeri. Secercah harapan mulai muncul di hatiku. Tidak mungkin mereka bisa melewati bandara.namun, harapan itu pupus saat kami bukan melaju ke selatan, melainkan ke barat, ke arah Kota Gimpo.

Aku terisak lagi, dan melihat Jimin memelototiku dari kaca spion dalam. Adiknya, Taehyung, meletakkan tangan di bahuku. Aku menoleh ke arahnya dengan mata terbelalak. Taehyung tidak terlihat sperti pembunuh. Ia terlihat seperti anak-anak berwajah polos.

Taehyung tersenyum. Di dalam kepalaku, aku mendengar seorang pria menjerit ketakutan.

Aku menepiskan tangan Taehyung dari bahuku dan berbalik di kursiku, rambutku jatuh tergerai membentuk tirai, menutupi wajahku dari pandangan yang lain. Aku membiarkan keningku bersandar di kaca jendela. Sambil melingkarkan lengan di bahuku sendiri, aku larut dalam pikiranku.

Aku tahu apa yang sudah kutinggalkan. Pertanyaannya sekarang: apa yang akan kutemukan di depan?

.

Author side~

Terperangkap selama tiga jam di dalam mobil bersama tiga pembunuh sadis sama sekali bukan ide Yoongi untuk bersenang-senang. Yoongi terlalu takut untuk tertidur karena takut pada apa yang akan terjadi. Yoongi juga tidak bisa bicara karena Jimin terus mengingatkannya bahwa ia ada dalam belas kasihan Jimin dan itu sebabnya hanya bisa diam. Yoongi bahkan tidak bisa melihat keluar jendela karena di luar sangat gelap, jadi ia hanya bisa mendengarkan percakapan animasi tentang seseorang yang dipanggil Victory.

Matahari mulai terbit dan Yoongi melirik jam tangannya: hadiah ulang tahun lebih awal dari ayahnya. Seketika Yoongi teringan akan ayahnya, apa yang akan dilakukan ayah dan ibunya ketika mereka mengetahui apa yang telah terjadi pada dirinya? Bagaimana dengan Jungkook, adik kecilnya? Usia Jungkook baru tiga belas tahun; tidak seharusnya anak itu menghadapi hal semacam ini.

Namun, pikiran yang lebih penting terlintas dalam kepala Yoongi: apa yang akan dilakukan oleh para pembunuh ini? Menyanderanya dan meminta tebusan? Membungkam mulutnya? Yoongi bahkan tidak berani memikirkan hal itu lebih jauh.

Saat melihat jam tangannya lagi, ia menyadari bahwa ini sudah pukul lima pagi dan sinar pertama mentari mulai muncul di langit. Ladang yang luas telah mereka tinggalkan, bergaanti dengan hutan lebat. Jalanan menjadi lebih sepi, semakin sedikit mobil yang lewat saat mereka melewati jalanan yang menanjak.

Jalanan berbelok tajam ke kiri setelah mereka melewati gerbang yang terbuka. Saat mereka melewati gerbang, Yoongi merasa telah melihat sesuatu, tetapi sebelum ia sempat memastikannya, jalanan sudah kembali dikelilingi hutan. Pepohonannya cukup lebat hingga hanya sedikit atensi matahari yang masuk, namun saat deretan perpohonan habis, terbentanglah halaman luas yang mengelilingi sebuah mansion yang menakjubkan. Dengan arsitektur yang cukup aneh, bangunan besar tiga lantai itu mampu menarik seluruh atensi Yoongi. Ia hanya bisa berdecak kagum melihat itu semua.

Mereka melewati jalanan berpasir, mengutari air mancur, lalu berhenti di depan rumah yang mengesankan.

"lalu, di mana jembatan tariknya?" tanya Yoongi dengan ura pelan. Bukannya jembatan tarik namun ada tangga lebar yang mengarah ke pintu dobel yang sangat megah dan tertutup pagar batu.

Pintu mobil di sisi Yoongi terbuka dan seseorang mencengkeram bahunya, menariknya bangun dari kursi.

"lapaskan aku!" bentak Yoongi. Namun orang itu tetap memaksa menarik Yoongi, yang akhirnya ia dapat keluar sendiri walaupun kakinya menginjak batu kerikil yang membuat jari kakinya menggelung menahan sakit. Orang tadi hanya mengangkat bahu lalu pergi. Jimin melempar kunci mobil ke pemuda seusia Yoongi yang mengenakan setelan hitam dengan kancing biru kehijauan, yang kemudian pemuda itu memarkirkan mobil Jimin ke garasi.

Yoongi dipaksa mengalihkan pandangannya saat Jimin mencengkeram pergelangan tangannya, lalu menariknya menaiki tangga, dan lainnya mengikuti di belakang mereka. Pintu dobel terbuka, dan Yoongi kembali merasa takjub ketika melihat kemegahan bagian dalam rumah tersebut. Mereka melewati kepala pelayang, yang langsung membungkuk hormat.

"Your Highness. Lords. Sir... dan Madam," tambah kepala pelayan itu ketika melihat ke arah Yoongi. Kepala pelayan itu nampak terkejut dengan penampilan Yoongi, seperti tidak yakin, namun kepala pelayan itu berhasil mengatasi keterkejutannya. "tamu, Your Highness?"

Jimin tergelak. "bukan, hanya mainan."

"baiklah Your Highness."

Yoongi dibuat bingung dengan panggilan kepala pelayan itu pada Jimin. Jimin memang pernah mengatakan kalau dirinya adalah seorang pangeran, namun Korea Selatan adalah negara republik, kecuali ia adalah seorang kerabat kerajaan jaman dahulu.

Jimin mengeluarkan suara dengusan, sebelum tergelak lagi. Tiba-tiba Jimin tak lagi memperhatikan Yoongi, lalu dengan satu dorongan yang keras, Yoongi sudah ada di dalam ruang santai yang dekorasinya berbeda dengan ruang utama tadi. Sangat berbeda dengan arsitektur aneh di luar, di dalam ruang santai ini lebih banyak peralatan modern. Jimin berjalan ke arah jendela, lalu membuka sedikit tirainya, sehingga ada sedikit cahaya matahari yang masuk.

"apakah kau mau aku menyimpan mantelmu?" tanya seseorang di belakang Yoongi. Saat Yoongi menoleh, ia melihat Namjoon, lalu menggeleng. "yakin?" tambah Namjoon sambil tersenyum yang memperlihatkan lesung pipinya itu. Akhirnya Yoongi menyerah, dan memberikan mantelnya pada Namjoon. Namjoon mengambilnya dengan tersenyum lalu mengarahkan pandangan pada sebuah sofa, mengisyaratkan Yoongi untuk duduk. Namun Yoongi hanya bergeser sedikit dari tempatnya semula, dan melihat sekeliling ruangan.

Tiba-tiba saja, Jimin melompat maju, merogoh salah satu saku mantel Yoongi yang sedang di pegang Namjoon. Jimin menarik keluar tangannya, dan Yoongi sadar bahwa Jimin mengambil ponselnya.

"aku akan menyimpan ini," ujar Jimin sambil menyeringai. Jimin menekan tombol buka kunci, menggeser layar lalu seperti mencari sesuatu.

"jangan!" teriak Yoongi, berusaha mengambil kembali ponselnya dari Jimin. Namun dengan mudah Jimin mengelaknya dan membiarkan Yoongi sedikit terhuyung ke depan.

"kenapa ada sesuatu yang kau sembunyikan?" ejek Jimin. Jari Jimin masih sibuk dengan layar ponsel Yoongi. "mungkin pesan jorok dari pacarmu?"

"tidak!" Yoongi kembali menghambur ke arah Jimin untuk mengambil ponselnya, namun Jimin membuat Yoongi kesusahan menggapai ponselnya. "kembalikan!" teriak Yoongi lagi, melompat, dan mencoba merebut ponselnya dari tangan Jimin yang malah memegang ponselnya lebih tinggi.

"kalau begitu, siapa Zhoumi?"

Yoongi mencengkeram pergelangan tangan Jimin, yang malah dibalas cengkeraman di tangan Yoongi lalu memelintirnya ke belakang tubuh Yoongi. Yoongi berteriak kesakitan, Jimin akhirnya melepaskan tangannya, Yoongi bergerak mundur sambil menggosok pergelangan tangannya. Sambil tergelak, Jimin mulai membaca, suaranya sedikit meninggi, penuh dengan nada yang mengejek.

"hei, aku ingin bertanya apakah kita bisa bertemu kapan-kapan? Hanya kau dan aku. Kita harus membicarakan apa yang sudah aku lakukan. Aku merindukanmu, Babe. Balas pesanku, Zhoumi." Jimin terdiam dan cemberut. "dan, ooh, lihat, dia bahkan menambahkan simbol cium di bagian akhirnya." Jelas sekali Jimin sangat menikmati momen ini. Yoongi memelototkan mata kepada Jimin.

"mengenai sasaran dengan tepat , iya kan?"

"pergi kau," gumam Yoongi dengan suara pelan, tidak berniat agar didengar Jimin.

"dengan senang hati, Sweety, dengan senang hati."

"Jimin," desis Namjoon. Namjoon memelototkan matanya pada Jimin, dan hampir semenit mereka hanya berpandangan dan tak mengatakan apa-apa, sampai akhirnya Jimin melemparkan ponsel Yoongi ke Namjoon, lalu menyimpannya ke saku celananya. Jimin mengendikkan bahu tak peduli lalu melempar tubuhnya ke sofa.

"kau sudah melihat terlalu banyak, dan itu menjadi masalah untuk kami. Jadi kau punya pilihan, Sweety. Kau bisa menjadi salah satu dari kami atau kami akan terus menawanmu di sini, sampai batas waktu yang tidak ditemtukan."

Yoongi maih tetap berpikir, dan telah mengambil keputusan, bahkan sebelum Jimin mengakhiri kalimatnya. "aku bukan pembunuh dan tidak akan pernah menjadi pembunuh."

Jimin mengangkat bahu. "kalau begitu, kau akan tetap di sini sampai kau setuju untuk berubah. Dan, jangan harap akan ada orang yang menyelamatkanmu. Tidak ada satu pun manusia yang bisa masuk ke sini tanpa sepengetahuan kami."

Yoongi mengerutkan kening. "manusia?"

"iya. Manusia." Jimin berbalik ke arah yang lain, menyeringai. "akan jauh lenih baik jika mereka tidak tahu, bagaimana menurut kalian?" terdengar gumaman setuju dari yang lain, kecuali Namjoon.

"tidak tahu soal apa?" tanya Yoongi penasaran, menatap wajah mereka satu per satu.

"menurutmu, berapa usiaku?" tanya Jimin.

Pertanyaan yang konyol memang, namun Yoongi tetap menjawabnya. "sekitar sembilan belas tahun?" mereka bertatapan, terkekeh setelah mendengar jawaban Yoongi. Namun, sepertinya mereka telah memutuskan sesuatu.

"salah. Usiaku seratus sembilan puluh tujuh tahun."

Yoongi menaikkan sebelah alisnya. "tidak ada orang yang bisa hidup selama itu—"

"kaumku hidup selama itu, bahkan lebih lama lagi," sela Jimin. "kami vampir, Sweety."

Yoongi menggelengkan kepalanya, melangkah mundur dan tertawa gugup. Memikirkan segala ucapan Jimin dan pemikirannya sendiri. "apakah ini semacam lelucon gila?"

Seringai Jimin lenyap. "apakah aku tertawa?" jawab Jimin, membuka mulutnya, dan membiarkan sebagian giginya terekspos. Dua gigi yang tajam menekan bibir bawahnya, yang tadinya tidak terlalu jelas, namun sekarang dapat Yoongi pastikan bahwa itu adalah sepasang taring.

"itu gigi palsu," ujar Yoongi, menatap taring Jimin, terdengar lebih yakin.

"mau mengujinya?" jawab Jimin.

"vampir tidak nyata," gumam Yoongi, masih menggelengkan kepala. "kalian hanya orang-orang gila."

.

Yoongi side~

Sebelum aku bisa mengatakan apa pun, aku ditekan ke dinding dan bibir Jimin menyapu leherku. Dadanya membbusung, dan aku bisa merasakan kekuatannya, ketangguhannya, rasa laparnya. Napas Jimin tak sehangat napasku, justru sangat dingin, mengirimkan rasa merinding dari bahu hingga sepanjang lenganku. Aku bisa merasakan jantungku berdetak tidak teratur hingga pembuluh darah di tanganku seperti menekan kulitku, membuatnya menonjol dan berbintik. Saat memejamkan mata, aku merasakan tekanan lembut saat gigi taring Jimin yang tajam menggesek pembuluh darah di leherku, sebelum salah satu taringnya menggores kulitku dan menembus lapisan kulitku. Aku menjerit, mataku langsung terbuka, tanganku terkepal, jari-jariku menekan telapak tanganku saat menggertakkan gigiku. Aku benar-benar tidak berdaya. Jimin terlatih untuk membunuh dan aku tidak.

Jimin mengangkat kepalanya dari leherku, tubuhnya masih menekan tubuhku, mencegahku melarikan diri. Ia menatap langsung mataku, dan napasku tertahan. Mata itu tak lagi berwarna biru kehijauan, melainkan merah.

"dengar baik-baik, Sweety. Aku bukan sekadar vampir. Aku anggota keluarga kerajaan vampir, dan kau akan melakukan apa pun yang kuinginkan. Jadi berhati-hatilah dengan apa yang kau katakan karena kau tidak pernah tahu kapan aku merasa lapar." Jimin menjauh dan mundur. "bergabung dengan kami atau tetap di sini. Itu pilihanmu."

Tidak butuh waktu lama untuk menghindar dari Jimin saat tanganku telah menemukan kenop pintu. Aku terhuyung keluar dan membanting pintunya sampai tertutup lagi lalu bersandar di dinding sambil menetralkan napasku. Aku membungkuk, pikiranku kalut. Sesuatu yang hangat mengalir di leherku dan aku menyusurinya dengan jariku. Saat menarik lagi tanganku, dengan ngeri, aku menatap jariku yang sekarang berwarna merah dan basah.

Mereka bukan pembunuh; mereka predator.

Pikiranku berputar dan adrenalinku terpacu di pembuluh darahku. Aku berlari ke pintu, merasa bersyukur karena kepala pelayan sudah tidak ada.

Aku harus berlari dan harus melakukannya sekarang.

.

.

.

~TBC~

.

.

P.S:

hai readers, aku balik lagi..

terimakasih buat yang sudah minta lanjut, kemaren.

semoga menikmati ini.

maaf lama karena sibuk persiapan UN sama USM. dan kayaknya interval apdet yang chap ini dan chap selajuntnya bakal lamaa banget. harap maklum ya readers ^^

yang review aku bales lewat pm buat yg on^^

RnR juseyo~

MRR_Kj