Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Warning: OOC, OC(s), typo(s), shonen-ai, semi canon / canon modified.
~Wounded~
.
Perjalanan Sasori dan Deidara kembali ke markas dihiasi dengan keheningan. Sasori sama sekali tidak bicara mengingat ia masih sangat kesal atas perbuatan bodoh parternya. Deidara, walaupun beberapa kali mencoba meminta maaf, namun akhirnya ia memutuskan untuk diam dan berjalan mengikuti Sasori dari belakang. Ia tahu ia telah mengacaukan misi pertamanya dan telah membuat Sasori marah besar, tapi bagaimana pun juga yang terpenting adalah mereka sudah menyelesaikan misi mereka.
"Danna, aku sudah meminta maaf padamu, 'kan?" Remaja berusia enam belas tahun itu membuka suara karena lelah dengan keheningan yang menemani perjalanan mereka.
Sama seperti sebelumnya, Sasori tidak menjawab.
Deidara mengerang frustasi seraya mengacak rambut pirangnya yang panjang sepinggang. "Hei un! Aku 'kan sudah meminta maaf. Apa lagi yang kau inginkan dariku, Danna? Aku melakukan itu bukan untuk memancing perhatian mereka tapi untuk menunjukkan seniku padamu, un!"
Sepertinya salah satu dari kalimat yang Deidara ucapkan berhasil menarik perhatian Sasori karena saat ini kugutsu itu mengentikan langkahnya, membuat Deidara yang berada di belakangnya juga ikut menghentikan langkah karena bingung.
"Seni, katamu?" Hiruko menoleh ke belakang. "Ledakan berisik yang mengacaukan misi kita itu seni? Aku tidak menyangka kau hanyalah seorang bocah bodoh yang tidak bisa berpikir," geramnya.
"Memangnya senimu lebih baik?" tanya Deidara, ketus.
Meringis pelan karena kesal, Sasori berkata, "Ya, seniku yang menyelamatkan keadaan. Dan senimu menghancurkan semuanya."
"Kau tidak bisa menyalahkan seniku atas apa yang terjadi un! Lagipula misi sudah berjalan dengan lancar dan tidak ada yang perlu disesali!"
"Jelas saja misi berjalan lancar, akulah yang menyelamatkan keadaan. Kalau tidak, kau bisa saja ditangkap dan dibunuh oleh orang-orang itu. Berterimakasihlah kau bocah yang tak tahu malu."
Kilat amarah mulai terlihat di iris mata kanan Deidara –karena mata kirinya tertutupi oleh rambutnya. "Aku tidak akan berterimakasih kepada pria tua yang terlalu membesar-besarkan masalah sepertimu, un! Masalah kecil saja kau ributkan hingga seperti ini!"
"Membesar-besarkan masalah, katamu?" Tubuh Hiruko kini berbalik untuk menghadap Deidara. Ekornya yang beracun terangkat ke udara. "Kalau saja kau tidak membuat masalah, tidak ada yang bisa dibesar-besarkan!"
Sasori menggerakkan ekor Hiruko dengan cepat ke arah Deidara. Sebelum remaja itu berhasil menghindarinya, ekor Hiruko telah melilit tubuhnya dan mengangkatnya ke udara sehingga kaki Deidara tak lagi menyentuh tanah yang basah oleh embun.
"Lepaskan aku, un!" pekik Deidara yang meronta di dalam lilitan ekor Hiruko.
"Apa seperti ini caramu meminta maaf?" tanya Sasori seraya menggerakkan ekor Hiruko sehingga ujung ekor yang beracun itu kini berada tepat di depan mata kanan Deidara.
Mendengar pertanyaan Sasori, Deidara kembali berpikir. Bukankah tujuan awalnya adalah untuk meminta maaf? Tapi mengapa mereka berakhir pada situasi yang seperti ini?
"Aku tidak akan meminta maaf lagi setelah mendengar Danna menyalahkan seniku atas apa yang terjadi!" seru Deidara, keras kepala seperti biasa.
Melihat betapa keras kepalanya Deidara, membuat amarah Sasori semakin meningkat. Namun ia tak tahu lagi apa yang harus ia katakan kepada remaja itu. Karena amarahnya yang tak terbendung, namun juga tak bisa dituangkan, akhirnya—dengan nada yang mematikan—Sasori berucap, "Kau partner yang tidak berguna, Deidara," seraya menggores pipi Deidara dengan ekor Hiruko yang beracun.
Deidara tersentak dan meringis kesakitan saat benda setajam ekor Hiruko melukai pipinya membuat darah segar mentetes dari luka yang cukup dalam.
Setelah melukai pipi Deidara, Sasori menjatuhkan Deidara begitu saja, membuat remaja bersurai pirang tersebut memekik karena terkejut saat ia jatuh terduduk di tanah.
"Aku tidak pernah menginginkan partner sepertimu," ucap Sasori datar kemudian berbalik untuk mulai berjalan kembali, meninggalkan Deidara yang masih duduk di tanah.
"Kau pikir aku menginginkan partner sepertimu, un?" bisik Deidara, lebih kepada dirinya sendiri. Mengusap darah di pipinya dengan punggung tangannya, Deidara berdiri lalu segera mengejar langkah Sasori.
Selama perjalanan, Deidara hanya mengamati punggung partnernya yang berjalan dalam diam di depannya. Ia tahu partnernya itu adalah seseorang yang sangat emosional, tetapi ia tidak tahu tindakannya akan membuatnya semarah ini. Deidara berharap partnernya bukan Sasori. Mungkin Kisame bisa menjadi partner yang lebih baik, bisiknya dalam hati.
Deidara mengerutkan dahinya saat kepalanya terasa pening, tubuhnya melemas, dan napasnya terengah. Ia mencoba mengabaikan rasa asing di tubuhnya dengan cara tetap melanjutkan langkahnya, namun perlahan pandangannya mengabur.
Apa yang terjadi denganku? Batinnya.
Semakin Deidara memaksakan kakinya untuk melangkah, semakin pening kepalanya. Luka di pipinya mulai terasa berdenyut. Mengangkat kepalanya, bisa ia lihat dengan samar sang partner yang semakin menjauh darinya.
"D-Danna..." bisiknya sebelum tubuhnya ambruk di tanah.
.
.
Sasori mengernyit saat tak mendengar derap langkah di belakangnya. Derap langkah yang sedari tadi terdengar di dalam hutan hanyalah derap langkah milik Deidara, karena Hiruko tidaklah melangkah –melainkan menyeret tubuh besarnya. Namun anehnya sejak beberapa menit yang lalu Sasori tidak mendengar derap langkah sama sekali. Penasaran, ia menolehkan kepala Hiruko ke belakang. Tidak ada apa-apa. Kosong.
Sasori berbalik arah untuk mengetahui keadaan partnernya. Tak lama berselang, dari kejauhan ia bisa melihat seorang remaja bertubuh ramping tergeletak di tanah dengan mata terpejam. Helaian rambut pirangnya berserakan di sekitar wajahnya.
"Sepertinya racun itu sudah bekerja," bisik Sasori seraya menyeringai.
Craaack
Tubuh Hiruko terbelah menjadi dua. Bagian atas tubuh kugutsu itu terangkat oleh sebuah benang chakra yang tak terlihat. Sinar mentari pagi menyinari ruangan di dalam tubuh Hiruko yang terbuka, menyorot sesosok pria berambut merah yang memiliki sepasang mata cokelat Hazel. Sosok yang merupakan wujud asli Sasori itu bangkit berdiri kemudian melangkah keluar dari tubuh Hiruko. Perlahan ia berjalan mendekati sang partner yang tergeletak tak berdaya di tanah.
"Ini hukuman untukmu, bocah," bisiknya seraya berjongkok. "Sayang sekali aku tidak diperbolehkan untuk membunuhmu."
Sasori menyelipkan poni yang menutupi wajah bagian kiri Deidara ke belakang telinga remaja itu. Sayang sekali kedua mata remaja itu tertutup, sehingga Sasori tidak bisa melihat apa yang dicarinya: kedua bola mata yang indah. Sasori tidak akan berbohong kepada dirinya sendiri, ia menyukai iris Azure mata Deidara. Begitu tenang dan menenggelamkan.
Perlahan, Sasori berdiri dalam sekali sentakan dengan menggendong Deidara bridal style. Ia berjalan kembali mendekati Hiruko yang masih terbuka –dengan keberadaan Deidara di lengannya. Dengan sangat perlahan, ia memasukkan tubuh Deidara ke dalam Hiruko kemudian menutup kugutsu tersebut.
Mendongak menatap langit beberapa saat, Sasori memejamkan mata setelahnya. Tentu, ia memang telah menyakiti partnernya, dari perkataan maupun perbuatan. Ia ingin memberikan sebuah pelajaran kepada Deidara agar Deidara tidak lagi mengulangi perbuatannya.
Sasori menggeleng pelan, kemudian menggerakkan jemarinya untuk mengendalikan Hiruko, dan melanjutkan kembali perjalanan menuju markas.
_TBC_
1043 words.
Waa Sasori jahat ih. Tapi ada niat baiknya juga lho di balik tindakan jahatnya. Ada yang bisa nangkep niat baik Sasori? Implisit banget sih, hehe. Tapi tenang saja kawan, suatu saat Sasori akan menyesali tindakannya hahaha #plak.
