Disclaimer:
Naruto : Kishimoto Masashi
Dear Hinata : Aiiko Aiiyhumi
Warning: AU, OOC, TYPO, CRACK, dll
.
.
Author's Note: Akhirnya chap. 3 update juga… ^_^
Terima kasih sudah membaca dan mereview fic saya selama ini (padahal belum lama) *plak*
Dan mohon maaf atas banyaknya typo. Kelemahan terbesar saya memang pada typonya. Dan saya juga mohon maaf atas kesalahan pada matanya Sasori, terutama untuk penggemarnya Sasori. *timpuked* semua itu terjadi karena saya terlalu, dan terlalu memikirkan Gaara (alasan) *timpuked again*
Semoga karena kesalahan-kesalahan saya di atas tidak membuat readers bosan dengan fic saya… ^_^
Happy reading..!
~O~O~O~O~
Chapter Sebelumnya….
"Baiklah, bagaimana kalau kita bertaruh?" perkataan Sasori kali ini berhasil membuat Gaara melirik ke arahnya.
"Gadis itu, gadis yang bernama Hinata, kau tertarik padanya kan?" Gaara kembali mengalihkan pandangannya ke depan.
"Kita bertaruh, kalau kau berhasil mendapatkannya, kau bebas melakukan apapun yang kau mau, dan aku akan kembali ke Australi, tapi kalau aku yang berhasil mendapatkannya, kau harus kembali bersamaku, bagaimana? Cukup sedrhana kan?" Sasori menyeringai
~O~O~O~O~
Dear Hinata
Jam dinding di kamarnya menunjukan pukul 06.00 sore, dan Hinata sekarang sedang duduk di atas kasurnya, di sampingnya tergeletak beberapa pakaian yang sepertinya baru saja dipilih-pilihnya. Sedangkan di tangan kanannya ia menggenggam sebuah kertas yang mirip dengan undangan. Hinata membaca kembali undangan itu untuk yang kesekian kalinya, untuk memastikan itu undangan ulang tahun. Tidak, bukan itu yang ingin Hinata pastikan, dilihat sekali saja sudah jelas itu undangan pesta ulang tahun, tapi yang ingin dipastikan Hinata adalah benarkah yang sedang ia pegang ini undangan pesta ulang tahunnya Naruto? Hinata hampir tidak percaya, sebab selama ini ia tidak pernah menghadiri acara ulang tahun orang setenar Naruto, putra tunggal pemilik Namikaze Corps. salah satu pemegang saham terbesar di KHS (Konoha High School). Hinata harus berhenti cengo sekarang dan segera bersia-siap, karena menurut yang tercantum dalam undangan itu, acaranya akan diadakan pukul 07.00 malam ini. Hinata kembali menatap beberapa baju yang tergeletak di kasurnya, akhirnya ia memutuskan akan mengenakan dress malam putih dengan motif daun ginko kecil-kecil di sisi bawahnya, sangat cocok untuknya. Segera ia mengganti pakaian, dan memoleskan make up tipis ke wajahnya, sedangkan rambutnya ia biarkan tergerai. Kembali terbayang di kepalanya kata-kata Sasuke ketika memberikan undangan itu padanya tadi sepulang sekolah.'Aku akan menjemputmu pukul setengah tujuh, kalau terlambat, ku tinggal'. Tanpa ba bi bu lagi Hinata langsung mengambil tas yang berwarna senada dengan gaunnya dan segera meninggalkan kamarnya.
~O~O~O~O~
Sudah dua puluh menit Hinata hanya duduk memangku tangan di salah satu meja tamu. Sesekali ia menyeruput orange jus yang beberapa menit lalu disuguhkan pelayan padanya. Suasana café tempat diadakan pesta ulang tahunya Naruto ini sangat meriah, suara music mengalun di seluruh penjuru ruangan, para undangan berlalu lalang, semakin membuat pusing kepala Hinata. Hinata benar-benar tidak menikmati acara ini, terlebih lagi orang yang mengajak, memaksa (sedikit) dan membawanya ke tempat ini malah asyik bersama fansgirlnya.
"Sasuke memang menyebalkan" gerutunya, kemudian kembali menyeruput minumannya.
Seperti merasakan namanya disebut, Sasuke tampak melihat sejenak ke arahnya, kemudian kembali sibuk berbicara dengan gadis-gadis yang selalu memujanya itu.
Hinata merasakan kepalanya semakin pusing, ia memutuskan untuk mencari udara segar ke luar café. Hinata melewati kerumunan orang-orang yang sedang berdansa, beberapa diantaranya ia kenal, orang-orang yang namanya sering di elu-elukan di KHS. Sesampainya di beranda café, Hinata merasakan hembusan angin malam yang begitu menyejukan, dan mulai menghilangkan rasa pusing yang dari tadi menggelayut di kepalanya.
"Angin malam tidak baik loh untuk kesehatan"
Hinata sedikit tersentak dengan suara yang tiba-tiba itu, ia menoleh ke sumber suara dan mendapati sosok yang tidak di sangka-sangka sekarang berdiri di hadapannya.
"Ga-Gaara se-senpai?" Hinata bahkan tidak sadar sekarang mulutnya membulat.
"Hai" Gaara melemparkan senyumannya, dan berhasil memunculkan semburat merah di pipi Hinata.
Merasa tidak direspon, "Hai?" Gaara mengulang sapaannya dengan suara yang sedikit diperkeras.
Hinata tersentak, suara Gaara mengembalikannya ke kenyataan.
"Ah, ha-hai" Hinata tersenyum.
"Aku mengagetkanmu? Maaf ya"
"Ti-tidak apa-apa kok" Hinata tersenyum masam.
"Apa aku mengganggu?"
"Tidak, kok, oh iya, namaku-"
"Hinata"
Hinata kembali terbengong-bengong, ia tak percaya orang yang disukainya selama ini baru saja menyebutkan namanya.
"Hinata Hyuuga tepatnya, iya kan?" lanjut Gaara disertai dengan senyumannya.
"I-iya, dari mana-?
"Kau tidak lupa kan, kalau aku ketua OSIS?"
"Ya, tentu"
"Kenapa diluar saja? Dan sendirian?"
"Kepalaku sedikit pusing, jadi aku mencari udara segar" jawab Hinata jujur.
"Sudah baikan?"
"Lumayan" Hinata tersenyum.
"Mau berdansa denganku?"
Hinata merasa pendengarannya pasti sedang terganggu, Gaara Sabaku mengajaknya berdansa?
"Ta-tapi.."
"Ada yang akan marah?"
"Tidak, maksudku, aku.." Hinata makin salah tingkah
"Kau tidak bisa berdansa?"
"Aku pernah kursus waktu usia sembilan tahun" wajahnya tampak mengingat-ngingat.
"Setidaknya kau tahu gerakan-gerakan dasar, ayo!" Gaara langsung menarik lengan Hinata dan membawanya ke lantai dansa. Mereka berdansa mengikuti alunan musik bersama dengan beberapa pasangan yang lain.
Sasuke semakin risih dengan ulah fans-fansnya yang mulai keterlaluan, beberapa diantara mereka berani menciumi pipi Sasuke hingga meninggalkan bekas tipis lipstick disana.
Sasuke tidak menemukan sosok Hinata di meja yang tadi didudukinya,'kemana gadis itu?' bathinnya. Mata Sasuke seketika membulat ketika mendapati sosok Hinata sedang berdansa dengan seseorang, lalu Sasuke tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya karena menyadari pasangan dansa Hinata. Sasuke berjalan ke arah Hinata dan Gaara dengan langkah-langkah yang cukup besar, tangannya terkepal dan wajahnya terlihat memerah karena menahan marah. Sasuke meraih tangan Hinata yang berada di pundak Gaara, menggenggamnya dengan erat, kemudian menyeretnya, membawa gadis itu berlalu ke luar café. Hinata yang kaget dengan ulah Sasuke yang tiba-tiba itu tidak sempat melakukan perlawanan, ia bingung dengan kelakuan Sasuke, terlebih lagi ia merasakan sakit yang amat sangat di pergelangan tangannya.
"Sasuke, lepaskan aku!"
Sasuke tidak bereaksi apa-apa, dia terus saja menyeret Hinata hingga gadis itu nyaris terjatuh.
"Sasuke kita mau kemana?" Tanya Hinata kemudian karena melihat Sasuke membawanya menjauhi café.
Sasuke terus saja berjalan tanpa memperdulikan perntayaan-perntayaan Hinata.
"Sasuke….sakit"
Sasuke menghentikan langkahnya, melepaskan genggamanya dari pergelangan tangan Hinata karena mendengar gadis itu berbicara dengan suara pelan karena menahan tangis. Sasuke membalikkan badannya dan mendapati Hinata yang berdiri dengan tubuh bergetar, menunduk dan hanya isakan-isakn kecil yang terdengar darinya.
"Hinata.." Sasuke harus mengakui kalau ia betul-betul mengkhawatirkan Hinata sekarang.
"Kenapa?" Hinata mengangkat wajahnya ke arah Sasuke, Sasuke memandangi Hinata tepat pada iris lavender yang sembab itu, pandangan mereka bertemu.
"Kanapa kau selalu menyakitiku? Kau memperlakukanku seakan-akan aku budakmu, kau selalu seenaknya saja, kau tidak pernah memikirkan perasaanku" Hinata berusaha berbicara di sela-sela isakannya. Tapi tahukah Hinata bagaimana perasaan Sasuke sekarang? Tak terbaca.
Melihat tak ada respon dari Sasuke, Hinata kembali bersuara.
"Kau bahkan membawaku ke tempat itu tanpa alasan yang jelas, bahkan menyeretku keluar juga tanpa alasan yang jelas. Katakana Sasuke! Kenapa kau terus membuatku terlihat bodoh?" air matanya tak berhenti mengalir di pipi Hinata.
"Aku tidak suka melihatmu dengan Gaara" akhirnya Sasuke angkat suara.
Hinata memicingkan mata kebingungan merespon pernyataan jujur Sasuke.
"Kau sendiri? Padahal kau yang membawaku ke tempat ini, tapi kau malah membiarkanku sendirian dan kau sibuk dengan semua fansmu itu" Hinata mengalihkan pandangannya ketika melihat samar-samar bekas lipstick di pipi Sasuke, dia merasakan sesuatu yang aneh tapi dia tidak tahu apa itu? Dan karena apa?
"Itu bukan urusanmu"
"Dan apa pedulimu juga padaku dan Gaara?" ini kali pertamanya Hinata mendominasi percakapan, dari sekian percakapan mereka.
"Kau tidak mengerti Hinata, aku-" kelanjutan kata-kata Sasuke terhenti karena Hinata kembali bersuara.
"Kau yang tidak mengerti Sasuke, kau tahu kan perasaanku pada Gaara? Aku menyu-" perkataan Hinata terputus karena Sasuke tiba-tiba mencium lembut bibirnya. Mata Hinata membulat, tubuhnya serasa seketika tidak bisa di gerakan. Ciuman itu tidak lama, beberapa detik kemudian Sasuke melepaskannya.
"Aku tidak mau mendengarnya, kau milikku Hinata!"
Plaakk! Sebuah tamparan mendarat telak di pipi Sasuke.
"Kamu gila Sasuke!" air mata kembali mengalir di pipi Hinata, kemudian ia berlari meninggalkan Sasuke, sambil menutup bibirnya dengan punggung tangannya. Dia terus berlari tanpa sekalipun menoleh kembali ke arah pemuda itu.
Tiba-tiba hujan turun, seakan sang langit ikut menangisi sesuatu. Sementara Sasuke, tidak beranjak dari tempatnya berdiri, membiarkan tetesan air hujan membasahinya, meski ia tahu itu tak akan mampu mencairkan kesedihan yang kini ia rasakan.
~O~O~O~O~
Sudah seminggu Hinata menghindari Sasuke, selama itu juga ia tidak bertemu ataupun makan bersama lagi dengan Sasuke. Tapi ada sesuatu yang berbeda, Sasori murid baru itu akhir-akhir ini justru terlihat lebih dekat dengan Hinata. Bukan hanya itu, Hinata juga sekarang menjadi lebih dekat dengan Gaara, Hinata membantu Gaara bekerja mengurusi urusan OSIS, ia menggantikan sekretaris OSIS yang kini sedang sakit, bukan berarti Hinata menjadi sekretaris OSIS sementara, dia hanya membantu hal-hal yang dianggap bisa ia kerjakan. Ujian kelulusan akan diadakan sebentar lagi, jadi Gaara harus menyelesaikan pekerjaannya sebelum ia meninggalkan sekolah ini, oleh karena itu ia meminta Hinata untuk membantunya. Tapi satu hal yang selalu membuat Hinata bertanya-tanya, 'kenapa harus dirinya?'.
"Maaf ya Hinata, sudah merepotkanmu" Gaara membuka percakapan ketika mereka berjalan di lorong sekolah dengan menggendong banyak kertas-kertas data di tangan mereka.
"Tidak apa-apa kak" Hinata tersenyum.
"Aku sangat tertolong semenjak kau membantuku, kalau saja Matsuri tidak sakit, kau tidak perlu repot-repot begini"
"Aku senang bisa membantu, oh iya bagaimana keadaan kak Matsuri? Apa dia sudah baikan?"
"Sebenarnya hari ini sepulang sekolah aku berniat menjenguknya, kau mau ikut?"
"Eh? A-aku rasa tidak perlu kak"
"Tidak apa-apa, aku mau memperkenalkanmu padanya, dia akan senang bertemu denganmu"
"I-iya"
Sementara itu, beberapa pasang mata sedang memandangi mereka berdua dari atas atap sekolah.
"Sasuke, kapan kau akan berbaikan dengan Hinata? Lihat! Sekarang dia makin dekat saja dengan Gaara". Naruto berkata sambil menyenderkan badannya pada pagar atap.
Sasuke melemparkan deathglarenya pada Naruto.
"Ke-kenapa kau memandangku seperti itu?" Naruto terlihat ketakutan dan mulutnya sedikit membulat.
"A-ku- mem-ben-ci-mu!"
Jleeb! Perkataan Sasuke itu bagai pedang yang menusuk telak ke kepalanya. Alhasil Naruto hanya terdiam, dan hampir saja akan suram ke pojokan kalau Sakura tidak bersuara.
"Sudahlah, jangan salahkan Naruto terus, dia kan berniat menolongmu dengan cara membawa Hinata ke pesta ultahnya, siapa yang tahu kejadiannya akan seperti ini. Sudah, buang gengsimu itu dan cepat minta maaf pada Hinata, atau kau nanti akan menyesal"
Sasuke terlihat diam saja, mungkin sedang mencerna kata-kata Sakura barusan padanya.
"Sakura-chan~ terima kasih sudah membelaku~" Naruto sudah pasang pose hendak memeluk Sakura.
"Jangan senang dulu, kau memang salah"
Jleeb! Naruto merasakan satu pedang lagi menancap tepat ke jantungnya.
"Makanya lain kali, kalau punya rencana harus dipikirkan dulu".
"Iya" suara Naruto terdengar suram.
Entah kenapa dua sejoli ini selalu cerewet, sementara Kiba dan Shikamaru lebih memilih tidak ikut campur dan melakukan hal yang lebih menyenangkan yang bisa dilakukan di atap, apa lagi kalau bukan tidur?
"Kalian lagi liat apa? Liat apa?" Konohamaru tiba-tiba datang, ia meloncat-loncat berusaha melihat sesuatu yang di halangi pagar yang lebih tinggi darinya itu.
"Konohamaru, sini!" Naruto membawa Konohamaru dalam gendongannya, ia menggendongnya seperti seorang ibu. "Kau lihat kakak yang itu? Cantik kan?" lanjutnya sambil menunjuk Hinata.
"Iya, cantik" Konohamaru tersenyum tulus.
"Konohamaru, kau dari mana saja?"
"Aku main dengan Akamalu, Sakula-chan, Sakula-chan! Tadi Akamalu pup di halaman belakang, telus dia bikin istana pasil di atas pupnya, pakai kakinya, gini,gini.." Konohamaru bercerita dengan gaya childishnya sambil mengayun ayunnkan kaki kanannya dalam gendongan Naruto.
"Istana pasir?" Naruto menarik wajah Konohamaru dan menghadapkannya ke wajahnya. Konohamaru hanya bisa mengagguk dengan wajah kebingungan.
"Konohamaru! Sekarang usiamu berapa?" Tanya Naruto antusias.
"Ehm, empat tahun, tapi sebental lagi lima tahun" Konohamaru tampak berpikir sejenak sambil meletakkan telunjuknya di dagu.
"Sempurna!" Naruto tersenyum lebar. "Sasuke, aku punya ide"
Sasuke tampak melemparkan deathglarenya sebelum akhirnya berkata "Terserah!"
Sementara Sakura hanya pasang tampang tidak mengerti.
"Konohamaru, kamu bisa bikin istana pasirkan?" Tanya Naruto pada Konohamaru yang masih berada dalam gendongnnya. Konohamaru tersenyum sambil mengangguk cepat. Dan Naruto menyunggingkan senyum sok misterius. Sasuke dan Sakura tampak berekspresi sama, memutar bola mata.
~O~O~O~O~
Seperti biasa Hinata sedang menghabiskan waktu istrahat siangnya, dan lagi-lagi sendiri karena Hinata masih belum berani bergaul dengan teman-temannya yang lain sejak 'insiden seragam' itu, dan satu-satunya temannya, Ten Ten pun sekarang sedang sibuk mempersiapkan diri untuk ujian kelulusan yang akan di adakan beberapa bulan lagi. Hinata kini sedang menyantap makan siangnya di bawah sebuah pohon di halaman belakang karena menurutnya cuma di tempat ini ia merasa tenang. Tiba-tiba ingatan ketika bersama Sasuke kembali mampir di otaknya, Hinata menggeleng cepat, mungkin sebaiknya Hinata mencari tempat lain besok.
Tepat ketika ia menghabiskan bekalnya, Hinata mendengar suara anak kecil yang sedang menangis. 'Kenapa bisa ada anak kecil di sebuah SMA seperti ini?' pikirnya. Hinata langsung merapikan kotak bekalnya dan mencari sumber suara. Setelah ia mencari beberapa saat, akhirnya ia menemukan seorang anak laki-laki berusia empat atau lima tahun sedang menangis sambil memeluk lututnya, sedangkan di sampingnya ada seekor anjing putih yang cukup besar, dan di depannya ada setumpuk pasir. Awalnya Hinata mengira anak itu menangis karena takut pada anjing itu, tapi ketika anjing itu terlihat menggesek-gesekan kepalanya di kaki anak itu, akhirnya Hinata yakin anak kecil itu, bukan takut pada anjing, bahkan mungkin juga anjing itu miliknya, karena anjing itu terlihat seperti berusaha menghibur si anak. Hinata berjalan mendekati anak laki-laki itu.
"Adik kecil kenapa menangis?" Hinata berjongkok, mensejajarkan dirinya dengan si anak.
Anak itu perlahan mengangkat kepalanya, matanya terlihat sembab dan hidungnya sudah memerah. Melihat Hinata anak kecil itu bukannya berhenti malah makin memperkeras tangisannya.
"Hwaaaaa.."
Hinata tampak khawatir. "Eh? Su-sudah, jangan menangis terus. Nama adik siapa?"
"Ko- hiks – nohamalu" Konohamaru berusaha berbicara di sela isakannya.
"Konohamalu kenapa menangis?"
"Bukan Konohamalu! Tapi Konohamalu!" Konohamaru memberi penekanan pada namanya.
"Pake 'L' bukan L" lanjutnya.
Hinata tahu anak itu berusah menjelaskan sesuatu, tapi di telinganya kedua huruf itu terdengar sama saja. Hinata tersenyum, gemes melihat tingkah anak ini.
"Kenapa kakak telsenyum?"
Hinata belum menghilangkan senyumannya. "Baiklah, Konohamaru kenapa menangis?"
"Akamalu.. hiks" dia menunjuk anjing putih itu. "Dia melusak istana pasilku". Katanya dengan nada childish sambil mengerucutkan bibirnya dan menunjuk ke arah tumpukan pasir yang ada di depannya.
"Ya sudah, Konohamaru jangan nangis lagi ya.. tuh lihat Akamaru jadi ikutan sedih juga kan?"
"Tapi istanaku?" Konohamaru terdengar hampir menangis lagi.
Hinata terdiam, ia tampak sedang memikirkan sesuatu, ia ingat kejadian seperti ini pernah ia alami dengan seseorang di masa kecilnya, tapi ia tidak dapat mengingat wajah orang itu. Rasanya akhir-akhir ini ia jadi sering mengingat tentang masa kecilnya, terutama yang berkaitan tentang istana pasir dan tentang sebuah janji.
"Kak, kakak bikin istana sama-sama Konohamalu ya~" anak kecil itu tampak berusaha tersenyum di sela tangisannya.
"Tapi kakak sebentar lagi masuk"
"Ku mohon~" mata anak itu tampak sedikit membesar, bahkan Hinata bisa melihat air mata sudah berkumpul di pelupuknya, siap meluncur di pipi chubbynya, juga bibir pinknya yang terlihat memelas. Hinata bisa apa lagi selain menurut? Tapi, entah kenapa ia merasa akrab dengan jurus ini.
Sementara dari atap lagi-lagi beberapa pasang mata baru saja mengamati apa yang baru saja terjadi antara Hinata dan Konohamaru.
"Sepertinya rencana ini akan berhasil" Naruto tersenyum sambil memandangi wajah teman-temannya satu per satu, mencari persetujuan. Dan terlihat teman-temannya menunjukan ekspresi yang berbeda-beda.
"Ya, semoga saja, kasian Konohamaru, apa yang kau lakukan padanya Naruto?" Sakura menatap tajam ke arah Naruto.
"Aku tidak melakukan apa-apa, ternyata anak itu punya bakat acting juga yah?" Naruto memasang muka tanpa dosa. Ia tidak akan memberitahukan kepada Sakura bahwa dia sempat menjitak kepala bocah itu untuk membuatnya 'sedikit' menangis.
"Paling hanya akan menimbulkan masalah lagi" Sasuke terlihat sinis, ia belum bisa sepenuhnya memaafkan sahabatnya karena ide konyol seminggu yang lalu.
"Hm.. sebenarnya ada apa sih?" Kiba tampak menggaruk-garuk kepalanya karena baru bangun tidur.
Sementara Shikamaru, walaupun sebenarnya ia sudah bangun, ia lebih memilih bebrpura-pura tidur dari pada terlibat percakapan aneh itu.
~O~O~O~O~
Seperti janjinya dengan Gaara tadi, sepulang sekolah Hinata dan Gaara berkunjung ke rumah sakit tempat Matsuri di rawat. Selama perjalanan Hinata tidak banyak bicara. Walaupun biasanya memang tidak banyak bicara, tapi kali ini ia benar-benar merasa tegang, karena ini pertama kalinya ia jalan berdua dengan Gaara.
Sesampainya di rumah sakit mereka memasuki sebuah kamar rawat di bagian VIP. Ketika pintu kamar rawat itu di buka, tampak berbaring di sana seorang gadis cantik berambut coklat susu, gadis itu tersenyum menyambut kedatangan mereka.
"Bagaimana kabarmu?" Gaara menarik sebuah kursi dan mendudukinya. Hinata terlihat mengikuti Gaara, di tariknya sebuah kursi kemudian ia duduki.
"Lumayan" dia kembali tersenyum, kemudian perhatiannya teralih pada gadis yang datang bersama Gaara. "Kamu pasti Hinata ya?"
"I-iya, salam kenal Matsuri-san" Hinata membungkuk memberi hormat. Keduanya lalu tampak tersenyum.
"Maaf ya, sudah merepotkanmu akhir-akhir ini"
"Ah, tidak apa-apa, saya senang bisa membantu"
"Apa Gaara bersikap baik?" Matsuri tampak melirik Gaara.
"Aku harap kamu maklum, dia ini agak dingin" lanjutnya.
"Tidak, senpai baik kok"
"Hm, bagus lah" Matsuri mengangguk-ngangguk kecil.
"Kenapa kau dibiarkan sendirian saja?" nada Gaara terdengar sedikit khawatir.
"Tidak sendirian kok, barusan ada suster yang memeriksa keadaanku" dia memberikan sedikit jeda pada kalimatnya, dan ekspresinya terlihat berubah, sampai akhirnya berkata. "Dan barusan juga ada seseorang yang datang menjenguk"
"Siapa?" Gaara mengangkat sebelah alisnya, ia menyadari perubahan ekspresi Matsuri.
"Saudaramu"
"Dia datang? Untuk apa?"
Hinata hanya bisa diam menyaksikan percakapan kedua kakak kelasnya ini, yang entah mengapa diselimuti aura yang aneh, ia merasa ada sesuatu yang ia tidak tahu, dan tidak harus ia tahu.
"Hinata!" Hinata tampak sedikit tersentak mendengar namanya tiba-tiba dipanggil oleh Matsuri.
"I-iya?"
"Bisa minta tolong sebentar? Aku mau berbicara berdua dengan Gaara" lagi-lagi senyum mengawal kalimatnya.
Hinata mengerti dengan jelas maksud Matsuri, segera ia memohon diri dan keluar dari ruangan itu. Dari luar, samar-samar Hinata bisa mendengar percakapan mereka. Hinata sebenarnya bukan tipe orang yang suka menguping pembicaraan orang lain, tapi perasaannya pada Gaara mendorong ia untuk mengetahui hal-hal tentang Gaara, terutama tentang keluarganya.
Terdengar Gaara memulai percakapan. "Untuk apa dia ke sini?"
"Entahlah, aku juga tidak mengerti dengan jelas maksud kata-katanya, pembicaraanya berputar-putar, tapi ku rasa ia berusaha menyuruhku membujukmu untuk kembali"
"Dan kau akan menyuruhku kembali?"
"Aku tidak mau bicara apa-apa, aku hanya akan diam dan melihat apa yang akan kau lakukan, aku yakin kau pasti juga sudah bertemu dengannya"
"Hm, dia datang dan membawa perjanjian bodoh"
"Perjanjian?"
"Sudahlah, lupakan saja"
Suasana tampak hening sejenak, kemudian suara Gaara terdengar kembali.
"Aku tidak akan kembali"
Setelah itu keheningan kembali tercipta. Hinata sedikit menyesal karena sudah 'menguping' percakapan mereka, ia tidak dapat mengerti apapun. Tapi satu hal yang ia sadari, Gaara terlihat berbeda jika berbicara dengan Matsuri. Dia tidak dingin seperti pada perempuan-perempuan yang lain. Gaara memang tidak bersikap dingin pada Hinata, tapi Hinata merasa Gaara hanya berusaha terlihat bersikap baik padanya. Tapi kalau bersama Matsuri, Gaara seperti benar-benar menjadi dirinya sendiri. 'Sebenarnya apa hubungan Gaara dan Matsuri?' dadanya tiba-tiba sesak ketika berpikir begitu, rasanya ia ingin menangis tapi ia tahan sekuat tenaga. 'Sesakit inikah yang namanya cemburu?'.
~O~O~O~O~
Sejak pulang dari rumah sakit keadaan Gaara sedikit berubah, ia diam, memikirkan sesuatu, tatapannya terlihat sedih. Oleh karena itu, akhirnya Hinata memutuskan mengajak Gaara ke taman, dengan begitu ia berharap dapat memulihkan kembali perasaan Gaara.
Saat ini mereka sedang berada di taman, duduk di sebuah bangku panjang. Gaara masih belum menampakkan perubahan apa-apa, dia masih diam. Hinata juga belum mengeluarkan suara, ia takut akan salah bicara. Alhasil mereka hanya duduk diam tanpa ada yang memulai percakapan. Hening menyelimuti mereka, sampai akhirnya ada orang-orang yang lewat di depan mereka, seorang anak kecil dan seorang pria paruh baya yang sepertinya adalah ayahnya. Ice cream milik anak itu tiba-tiba terjatuh dan tentu saja itu membuatnya menangis. Hinata tampak memperhatikan ayah dan anak itu, tapi tanpa ia ketahui Gaara pun juga ikut memperhatikannya.
"Sudah, jangan nangis lagi ya" ucap ayah itu pada anaknya dengan halus. "Nanti tou-san belikan yang baru" dan mengakhiri kalimatnya dengan senyuman.
Anak itu mulai menghentikan tangisnya. "Janji ya tou-san?" katanya sambil sesekali terisak.
"Tou-san janji, ayo kita pulang! Kaa-san pasti pasti sudah menunggu kita"
Anak itu tersenyum. "Tou-san, gendong~" ia menggelayut manja di lengan ayahnya.
Ayahnya tersenyum kemudian berjongkok. Anak itu naik ke punggung ayahnya dengan antusias, kemudian mereka berlalu dari hadapan Gaara dan Hinata.
Keheningan sempat kembali tercipta diantara Hinata dan Gaara, sampai akhirnya Gaara membuka suara.
"Apa kau pernah di pukul oleh ayahmu?" tanyannya tanpa melihat ke arah Hinata.
Tapi Hinata tahu pertanyaan itu di tujukan untuknya. Hinata menoleh ke arah Gaara, ia bersyukur akhirnya Gaara berbicara lagi, tapi ekspresinya justru terlihat lebih sedih dari sebelumnya. Kemudian Hinata kembali mengarahkan fokusnya ke depan, dan menjawab pertanyaan Gaara tadi.
"Ya, ketika aku masih kecil, waktu itu aku bermain di rumah tetanggaku sampai lupa waktu, seharian aku tidak pulang. Ternyata di rumah, ayah sangat menghawatirkanku, ia mengira kalau aku diculik, dan ketika aku pulang pada malam harinya, ia memukul dan memarahiku, aku menangis, dan sejak saat itu aku berjanji pada ayahku tidak akan nakal lagi dan menjadi anak yang baik". Hinata bercerita sambil sesekali tersenyum, ia tidak mengetahui perubahan pada ekspresi Gaara, wajahnya semakin dan semakin sedih.
"Aku tidak" Gaara member jeda pada kalimatnya, dan berhasil membuat Hinata menoleh ke arahnya. Tapi Gaara tetap menatap ke depan dengan tatapan kosong.
"Ayahku tidak pernah memukulku, juga tidak pernah memelukku. Aku tidak tahu dia menyayangiku atau tidak, dia hanya selalu mendiamkanku. Jika aku berada di hadapan ayah, maka yang dilihatnya adalah sesuatu yang dibelakangku, aku tidak pernah ada baginya". Gaara tampak menarik nafas, nafas yang terdengar miris.
Hinata belum mampu bersuara, ia hanya menangis, pertama karena mendengar cerita Gaara, dan kedua karena karena ekspresi Gaara. Kenapa? Kenapa ia tidak menangis? Padahal perasaannya sesakit itu. Kenapa ia tidak menangis?
"Ibuku meninggal karena melahirkanku, mungkin karena itu dia membenciku. Tapi kalau ia membenciku, kenapa ia tidak memukulku? Kenapa dia tidak bilang bahwa dia membenciku?"
Gaara, tidak juga terlihat menangis. Hinata mendekat ke Gaara, ia memeluk pemuda itu, ia tidak sanggup melihat Gaara yang seperti ini, Gaara yang rapuh. Melalui pelukannya ia ingin Gaara merasakan bahwa ia tidak sendiri di dunia ini, ada orang yang menyayanginya, dan orang itu adalah yang kini sedang memeluknya, Hinata.
TBC
Lagi-lagi scense SasuHinanya sedikit di chapter ini… T_T
Tapi pairing gak berubah kok… ^_^
Buat yang penasaran ada apa dengan Sasu dan Saso? Tunggu kehadiran chapter depan ya…
Saatnya bales rievew…
hina-chan, yuuaja, harunaru chan muach, demikooo, Lavender chan, Park Hye Lin, Lollytha-chan, uchihyuu nagisa, Sii Pelangi, atacchan, n, Kaka: Terima kasih sudah membaca dan mereview ^_^ saya update lagi nih, jangan bosan-bosan baca fic saya ya.. dan terima kasih atas kritik dan sarannya… ^_^ . lonelyclover: Terima kasih sudah membaca dan mereview ^_^ untuk pertanyaan apakah Gaara suka sama Hinata? Uhm… tunggu aja kelanjutannya yo, kalo di kasih tahu gak seru kan? (sok misterius) *plak*. Mamizu Mei: Terima kasih sudah membaca dan mereview ^_^ maafkan saya karena masih banyak typo, akan saya usahakan perbaiki. Dan mohon maaf lagi karena scense SasuHina belum bisa banyak di chapter ini. Miyabi Kise: Terima kasih sudah membaca dan mereview ^_^ saya menerima dengan lapang dada kritikan anda *plak* itu memang kesalahan saya, jadi saya mohon maaf ya.. Haruno Aoi: Terima kasih sudah membaca dan mereview ^_^ terima kasih juga untuk kritik dan sarannya, akan saya usahakan senapai ^_^. ulva-chan: Terima kasih sudah membaca dan mereview ^_^ maaf ya atas kesalahan matanya Sasori, keep reading …! Deani Shiroonna Hyouichiffer: Terima kasih sudah membaca dan mereview ^_^ ehm, semua pertanyaan-pertanyaanmu akan ada di chapter-chapter selanjutnya ^_^ jadi keep reading ya.. Kagayaku Aomizu: Terima kasih sudah membaca dan mereview ^_^ ehm, begini… maksudnya Gaara menatap kembali ke depan itu, bukan berarti dia cuek atau dia sudah tahu Sasori akan membahas tentang Hinata, tapi ia menatap ke depan untuk berpikir, anggap saja ia sedang berpikir untuk mempertimbangkan tantangan Saso, karena sebenarnya Gaara emang tertarik sama Hina (penjelasannya gaje) *plak* kalau kurang jelas silahkan di tanyakan lagi.. Miya-hime Nakashinki: Terima kasih sudah membaca dan mereview ^_^ ehm.. ada apa dengan SasuGaaSaso? Aku juga gak tahu, *plak* jawabannya tunggu di chapter depan yo.. keep reading.. Kimidori hana: Terima kasih sudah membaca dan mereview ^_^ jawabannya ada di chap depan, jd keep raeding..! YamanakaemO: Terima kasih sudah membaca dan mereview ^_^ maaf yak arena masih banyak kekurangan di sana-sini, akan saya usahakan.. keep reading.. ! Rara-kudo: makasih sayang udah review ^_^. Keep reading yo…!
.
.
Terima kasih udah baca, review dan memnyukai fic saya yang gaje ini. Masih sangat banyak kekuranagn di sana sini, kritik dan saran masih sangat di harapkan.
Tapi yang paling penting, Keep reading…! ^_^
Akhir kata…
Review Please?
