All of the character is not mine. They're belong to J.K Rowling.

Hermione Granger and The Hawthorn Book Loft

Chapter 3

3.

Draco Malfoy menarik nafasnya, memastikan bajunya rapih, dan bunga yang ada di tangannya masih dalam keadaan sempurna. Ia berdiri di Apparation Point tidak jauh dari The Hawthorn Book Loft.

Draco berjalan ke arah toko buku milik Hermione Granger itu, ia baru akan masuk saat kemudian melihat bayangannya di kaca, menjijikan, untuk apa membawa bunga segala?

Draco membuang bunga yang dipegangnya ke tempat sampah terdekat kemudian memasuki toko buku itu.

"Selamat Dat….ang." kata-kata Hermione terputus begitu melihat siapa yang memasuki toko bukunya.

"Er…. Selamat Pagi Granger." Draco berkata canggung.

"Pagi…. Malfoy." Hermione menambahkan nama belakang pria yang berdiri di depan pintu toko bukunya itu agar sapaannya tidak terdengar begitu kasar. "Ugh, ada yang bisa kubantu?" Hermione bertanya pelan, menghindari mata silver yang menatapnya.

"Ugh, well, aku ingin mencari sebuah buku." Draco berkata pelan.

"Malfoy, kau bisa masuk, jangan berdiri di pintu." Hermione berkata.

"Oh… iya." Draco menyadari kalau ia berdiri tepat di pintu, ia kemudian berjalan mendekati konter di mana Hermione berdiri, mereka berhadapan dipisahkan oleh meja konter panjang yang terbuat dari kayu.

"Buku apa yang kau cari?" Hermione bertanya ramah.

"Nicholas Flamel : Alchemy." Seketika wajah Hermione berubah menjadi muram.

"Malfoy, kau ingin mencari masalah denganku?" Hermione bertanya pelan. "Kau tahu kan itu buku langka yang tidak diketahui keberadaan salinannya? Kau sengaja datang untuk menginjak-injak harga diriku?" Hermione bertanya kesal.

"Tidak, tidak, bukan begitu maksudku." Draco membelalak.

"Lalu apa? Kau ingin memberi tahu semua orang kalau The Hawthorn Book Loft adalah toko buku kecil yang tidak memiliki koleksi buku langka dan berharga? Begitu?" Hermione mulai benar-benar marah.

"Tidak, oh shit, bukan itu maksudku Granger, bukan begitu." Draco berusaha menjelaskan dirinya.

"Sebaiknya kau pergi!" Hermione berusaha mengontrol dirinya.

"Blimey! Granger, dengarkan aku dulu." Draco berseru, terdengar sedikit putus asa.

Hermione mengangkat sebelah alisnya.

"Aku tidak bermaksud mencari masalah denganmu, sama sekali tidak, apalagi menginjak-injak harga dirimu, sama sekali tidak."

"Lalu kau mau apa?" Hermione bertanya.

"Aku benar-benar mencari buku itu, aku kira kau mungkin memiliki salinannya atau semacamnya, maaf." Draco mengucapkan kata maafnya pelan.

Hermione menghela nafasnya. "Tidak ada, maaf Malfoy, aku tidak memiliki buku yang kau minta." Hermione berkata lagi, penjelasan Malfoy barusan paling tidak membuat amarahnya sedikit mereda.

Draco mengangguk, ia kemudian melihat-lihat rak-rak buku yang ada di sekeliling mereka.

"Malfoy, apa kau tertarik pada fiksi?" Hermione bertanya.

"Lumayan." Draco menjawab.

"Well, aku punya beberapa buku, Muggle, tentang cerita fiksi yang menjadikan Nicholas Flamel sebagai tokohnya."

.

Akhirnya Draco Malfoy keluar dari The Hawthorn Book Loft sekitar pukul empat sore dengan membawa hampir dua puluh buku, delapan belas tepatnya, Ia terkesima akan semua pemaparan Hermione tentang buku-buku Muggle yang dipegangnya.

Hermione menjelaskan tentang bagaimana Muggle bisa membuat cerita fiksi yang menjadikan Nicholas Flamel sebagai tokoh utama atau pendukung, Hermione juga menjelaskan bahwa di dunia Muggle, Nicholas Flamel adalah tokoh fiksi, semacam cerita yang beredar turun temurun dari Prancis.

Enam buku dari delapan belas buku yang dipegangnya bahkan merupakan suatu kesatuan yang tokoh pendukung utamanya adalah Nicholas Flamel. Draco merupakan fans berat Flamel dan memang sedang fokus mencari buku asli atau paling tidak salinan dari bukunya yang paling terkenal, Nicholas Flamel : Alchemy.

"Terimakasih banyak Granger." Draco berkata sebelum beranjak dari depan konter.

"Sama-sama, jika kau sudah selesai membaca itu semua dan masih kurang, kau bisa datang lagi kesini." Hermione tersenyum padanya.

Draco balas tersenyum. "Aku pergi dulu." Kayanya lalu berjalan keluar.

"Terimakasih banyak, silahkan datang kembali." Hermione berseru, sama seperti biasa ia berseru pada orang yang baru saja mengunjungi tokonya, tapi anehnya kali ini hatinya berdebar saat mengatakan hal itu.

Tentu saja, aku akan datang kembali. Draco bergumam pelan sebelum menghilang dari balik pintu.

.

"Draco, kau darimana?" Narcissa bertanya saat Draco berjalan dan duduk di salah satu kursi paling jauh di meja makan mereka.

Lucius duduk di bagian kepala meja, sementara Narcissa duduk di sebelah kanannya, biasanya Draco akan duduk di sebelah kirinya, tapi karena belakangan ini hubungannya dengan Lucius sedang tidak baik, ia duduk sekitar tujuh kursi jauhnya dari Lucius.

"Draco, kau darimana? Kenapa baru kembali malam? Aku kan sudah bilang kita harus membicarakan masalah peraturan mentri sihir yang baru keluar kemarin!" Lucius berkata dengan nada tinggi.

"Aku dari kementrian." Draco bergumam pelan, membiarkan seorang peri rumah menyusuh peralatan makan di depannya.

"Selalu bertindak semaunya!" Lucius melirik Draco kesal. "Jangan bilang kau sudah mengajukan petisi pada seorang perempuan? Siapa? Half-blood? Muggleborn? Segera cabut petisimu!" Lucius marah.

Draco hanya diam dan mulai memakan makanan yang ada di depannya.

"Aku kan sudah bilang padamu kalau kita harus membicarakan penyihir mana yang bisa kau jadikan pasangan, kiat harus mempertimbangkannya matang-matang, penyihir ini harus membawa keuntungan pada keluarga kita, paling tidak ia harus kaya, punya perusahaan atau harta warisan yang banyak, atau paling tidak nama baik, sehingga bisa membuat nama keluarga Malfoy kembali berjaya!" Lucius menjelaskan alasannya pada Draco.

Tapi Draco hanya sibuk makan, tidak memperhatikan ayahnya yang sudah berbusa dari ujung meja.

"Draco Malfoy! Kau dengar aku tidak?" Lucius marah dan memukul meja sampai bergetar.

"Sudahlah Lucius, sudah." Narcissa berusaha menenangkan suaminya. Ia mengelus-elus lengan Lucius agar pria itu sedikit tenang. Lucius menarik nafasnya, berusaha agar tekanan darahnya tidak naik lagi.

Draco meletakkan garpu dan pisaunya kemudian meminum air yang ada di depannya. Ia kemudian berdiri dan baru akan beranjak ke luar ruang makan saat Narcissa memanggilnya.

"Son, kau mengajukan petisi pada siapa?" Narcissa bertanya pelan.

Draco membalikkan badannya, melihat ibunya kemudian tersenyum, ia kemudian mengalihkan pandangannya pada ayahnya kemudian menyeringai.

"Hermione Granger."

.

Hermione tidak habis pikir, apa yang membuat Ron berasumsi bahwa ia menginginkan Ron untuk mengajukan petisi ke kementrian. Ia bahkan sudah sama sekali tidak punya perasaan pada Ron, apalagi berharap Ron mengajukan petisi untuknya.

Hermione tertawa lama sekali, pertama ia tertawa karena absurdnya perkataan Ron dan kedua ia tertawa karena ia tidak menyangka Ron bisa berpikiran seperti itu.

"Jadi Ron benar-benar datang dan mengatakan itu padamu?" Ginny bertanya tidak percaya.

Hermione mengangguk.

"Dasar bodoh." Ginny berseru, kemudian mereka berdua tertawa lagi.

Ginny datang dan mengunjungi Hermione setelah tahu Ron mendatangi Hermione kemarin dan mengatakan hal bodoh macam itu.

"Umm, Hermione, jadi apa kau akan melakukan sesuatu?" Ginny bertanya.

Hermione menggeleng. "TIdak, aku tidak akan melakukan apa-apa." Hermione berkata lagi. "Aku merasa, apapun yang terjadi tidak akan mempengaruhi kehidupanku, aku hanya berharap siapapun yang nanti menjadi pasanganku paling tidak bisa ku ajak bicara sepanjang sisa hidupku." Hermione menjelaskan.

Ginny menghela nafasnya. "Cedric?" Ia bertanya pelan.

Hermione tersenyum.

Mungkin selain Hermione dan Cedric satu-satunya orang yang tahu kalau Hermione dulu memiliki hubungan dengan Cedric adalah Ginny, Ron dan Harry bahkan tidak tahu, ia hanya memberitahu Ginny, jadi ketika Hermione akhirnya menyerah dalam kehidupan percintaannya, Ginny mengerti.

"Apa kau tidak mengharapkan seseorang tertentu? Maksudku, jika kau punya crush pada seseorang, aku rasa Harry dan George bisa meyakinkan orang itu untuk mengajukan petisi untukmu." Ginny menjelaskan idenya.

Hermione tertawa. "Tidak Gin, tidak." Hermione berkata, ia tahu betul apa yang dimaksud Ginny dengan kata meyakinkan, tentu saja bukan meyakinkan yang akan dilakukan dua orang itu, tapi lebih tepat disebut memaksan ,mengancam atau sejenisnya. Meskipun Hermione berkata tidak tapi anehnya tiba-tiba Draco Malfoy terlintas di pikirannya.

"Benarkah?" Ginny bertanya.

Hermione mengangguk.

"Yah, Well, jika kau sedang berjalan di suatu tempat, dan menemukan pria yang tepat, kau bisa memberitahu kami, dan kami akan membuatnya mengajukan petisi untukmu." Ginny memberitahu.

Hermione tertawa, keluarga Weasley, terutama Ginny dan George benar-benar sudah seperti keluarga kandungnya, dan ia percaya jika memang ia menunjuk satu orang pria, maka George dan Ginny akan melakukan apapun untuk membuat orang itu mengajukan petisi padanya, dan Hermione bahkan ingin tertawa membayangkan apa yang mungkin di lakukan mereka, George terutama.

"George bahkan berkata bahwa jika sampai akhir tahun ini tidak ada yang mengajukan petisi padamu maka ia akan mengajukan petisi." Kata Ginny berusaha melucu.

Hermione tertawa. "Sial."

George setelah perang, berbeda dengan George sebelum perang. Selera humornya masih sama, kemampuan mengerjai orangnya juga semakin hebat, hanya saja semua orang tahu ia pahit di dalam. Semua orang terdekatnya bisa melihat bahwa George bukan lagi pria yang sama.

.

"Lucius." Narcissa membangunkan suaminya yang sudah tertidur.

"Ada apa?" Lucius bertanya pelan.

"Aku masih tidak menyangka kalau Draco akan mengajukan petisi untuk Miss Granger." Narcissa berseru.

"Setidaknya kali ini ia membuat keputusan yang benar." Kata Lucius bergumam, ia mengantuk sekali dan istrinya punya kebiasaan mengajaknya bicara di tengah malam.

"Apa keputusannya sudah benar?" Narcissa bertanya lagi.

"Entahlah, tapi sejujurnya, Miss Granger berada di peringkat pertama di daftar perempuan yang bisa dinikahi Draco." kata Lucius.

"Siapa yang membuat daftarnya?" Narcissa bertanya.

"Tentu saja aku." Lucius berkata lagi.

Narcissa tertawa pelan. "Jadi menurutmu Miss Granger merupakan pilihan yang tepat?"

Lucius mengangguk pelan kemudian menutup matanya lagi.

Begitu tahu kalau kementrian akan mengeluarkan peraturan menyedihkan seperti ini, ia tahu kalau Draco harus mendapatkan Muggleborn atau Half-Blodd terbaik, Malfoy selalu mendapatkan yang terbaik. Dan ia sudah membuat daftar nama-nama perempuan yang akan memberikan keuntungan pada keluarga Malfoy.

Hermione Granger jelas berada di urutan pertama.

Setelah Voldemort jatuh, keluarga Malfoy sedikit banyak kehilangan nama besar mereka di mata public, dan jika Draco bisa menikah dengan Hermione Granger, War Heroine maka keluarga mereka akan kembali mendapatkan penghargaan dari masyarakat.

Jadi ketika Lucius mendengar dari mulut anaknya yang kadang kurang ajar itu kalau ia sudah mengajukan petisi untuk Hermione Granger, maka Lucius tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.

Ia bahkan belum membicarakan hal ini dengan Draco, Draco bahkan belum melihat daftar yang dibuatnya, tapi ia sudah membuat keputusan yang tepat.

Lagipula Lucius tahu.

Ia tahu kalau Hermione Granger memiliki tempat khusus di hati anak satu-satunya itu.

Ia selalu tahu kalau Hermione Granger memiliki tempat khusus di hati Draco, Draco Malfoy.

-To Be Continued-

Read and Review….

-dramioneyoja.