~Summary~

Cinta memang dapat membutakan segalanya. Namun, alangkah baiknya kita membiarkan orang yang kita cintai bahagia bersama pilihannya. Tapi, apabila hati tak menginzinkan, akankah cinta itu berubah menjadi obsesi?

~Genre~

Drama, Hurt/Comfort, Romance

~Rate~

T (Rate dapat berubah sesuai keinginan author ^^v)

~Warning~

Boys Love, Angst, Psychopath

.

.

Jika kau mampu menelaah lebih jauh apa arti cinta sesungguhnya. Kau tidak akan pernah menyalah artikan arti cinta. Namun, jika engkau terlanjur salah, mampukah engkau kembali?

.

.

You're Mine, Dear

~Chapter 2~

.

.

Siwon memperhatikan wajah Sungmin dengan seksama. Saat ini, ia dan Sungmin sedang berada di kamar Sungmin yang didominasi dengan warna pink yah walaupun ia telah mengatakan akan mengurangi pemakaian warna tersebut, toh ia tak pernah jauh-jauh dari warna itu.

Sungmin yang merasa dipandang intens oleh tunangannya hanya mengerjap bingung dengan kelakuan Siwon. Bukankah mereka telah bercanda tadi? Lalu kenapa ia malah bungkam? Sungmin melambaikan tangannya di depan wajah Siwon, berharap Siwon sadar dari lamunannya.

"Wonnie.. gwenchana?" tanya Sungmin lembut.

"Eh?" Siwon mengerjap ia memandang Sungmin yang saat ini menggembungkan pipinya sebal.

"Aish, kau kenapa wonnie?"

"Eh? Aku? Aku tak apa-apa Min."

Sungmin memicingkan matanya curiga kearah siwon.

"Sungguh?" Siwon yang dipandangi seperti itu oleh Sungmin mendadak gugup.

"Err, yah. Sungguh."

"Huh, baiklah."

Hening. Baik Sungmin maupun Siwon sama-sama mengatupkan bibir mereka. Ini aneh bagi mereka berdua. Biasanya, baik Sungmin maupun Siwon mudah mendapatkan bahan pembicaraan untuk mengisi keheningan dan kebosanan mereka. Namun, kali ini sangat berbeda.

"Hyung.." panggil Siwon

"Hmm"

"Kau sungguh tak apa-apa?"

"Wae? Kau tak percaya padaku?"

"Aniya, hanya saja aku tak percaya pada bocah setan itu." Jelas Siwon. Sungmin menghela napasnya pelan sedikit menutup matanya mencoba merilekskan dirinya.

Terkadang, Sungmin bingung dengan kelakuan Siwon. Akhir-akhir ini ia selalu mencurigai Kyuhyun dan selalu Kyuhyun, tidak ada yang lain.

"Ck, aku sungguh tak apa Wonnie. Justru kau harus percaya padanya, jangan curiga terus."

"Aku ingin. Tapi, melihat caranya menatapmu membuat aku berpikiran buruk Min."

"Hah, mungkin itu hanya perasaanmu saja."

"Min."

"Ya."

"Hati-hati." Ucap Siwon, sungmin mengernyitkan dahinya pertanda bingung.

"Maksudmu?"

"Ah! Tak ada, hanya saja aku mengkhawatirkanmu."

"Baiklah" balas Sungmin. Siwon menatap Sungmin sekali lagi, sungguh entah kenapa ia selalu bepikiran buruk jika namjachingunya ini berdekatan dengan Kyuhyun. Bahkan ketika mereka pertama kali bertemu, ia telah merasakan hal negative jika Kyuhyun berada di sekitar Sungmin.

"Minnie-ah." Panggil Siwon.

"Hmm."

"Saranghae." Sungmin menolehkan wajahnya kearah Siwon dan tersenyum lembut ketika melihat wajah tampan itu.

"Nado sarannghae, Siwonie." Balas Sungmin. Entah siapa yang memulai, yang pasti saat ini kedua bibir itu telah bertaut dengan panasnya.

"Nggh..mmph" Erang Sungmin. Ia menepuk dada Siwon pertanda ia mulai kekurangan oksigen. Perlahan Siwon melepas ciumannya dan memandang lembut wajah yang ada dihadapannya.

Siwon mengusap pipi Sungmin lembut, perlahan mata foxy itu terbuka menampilkan iris coklat kehitaman yang berbinar membuat ia makin jatuh kedalamnya.

"Min." Bisik Siwon

"Hmm"

"Be Mine.." Bersamaan dengan itu, Sungmin rebah di ranjangnya dengan lembut bersamaan Siwon yang menindihnya tanpa menyadari ada sepasang mata yang melihat mereka dari kejauhan dengan pandangan terluka.

.

.

.

.

Kyuhyun melangkahkan kakinya cepat ketika melihat kejadian itu. Walaupun jarak yang ia lihat jauh, namun ia merasa ia mampu melihatnya dengan jelas. Padahal awalnya, ia hanya ingin melihat wajah manis Sungmin namun sepertinya kesialan menghampirinya sehingga ia melihat lelaki itu mencumbu Sungmin-nya.

"Kalau tahu begini jadinya, pagi itu aku tidak akan melepaskanmu Minnie." Desisnya. Tangannya terkepal kuat berusaha meredam gejolak amarah yang menghampirinya saat ini.

"Kau akan menjadi milikku Min. Hanya milikku, tidak Siwon ataupun yang lain." Ia menyunggingkan senyuman misteriusnya. Dan pastinya, untuk kali ini ia tidak akan melepaskan kelinci itu lagi. Yah, anggap saja itu sebagai salam perpisahan yang indah yang diberikannya untuk kelinci tersebut dengan tunanggannya.

"Dan jika waktunya tiba, kau tidak akan bisa lari dariku."

.

.

Flashback on

Kyuhyun menggendong Sungmin yang tak sadarkan diri ke apartemennya. Apartemen yang terletak di pinggiran kota Seoul ini membuat ia yakin, tak akan ada kerabat Sungmin yang mencarinya disini. Lagi pula, letak apartemen ini sedikit strategis, strategis dalam arti sedikit tersembunyi dan tentu saja, hal ini membuat Kyuhyun semakin mengembangkan senyuman kemenanggannya. Karena ia yakin, setelah ini tak akan ada lagi lalat-lalat pengganggu yang akan mengusik ketenangannya.

Kyuhyun membaringkan Sungmin di ranjangnya. Mengusap lembut surai hitam itu dan mencium kening itu dengan penuh cinta. Sungguh, ia sebenarnya tak ingin melakukan ini tapi dengan melihat kenyataan yang ada bahwa Sungmin-nya saat ini telah ada yang memiliki membuatnya geram dan ingin merampasnya dengan segera. Baik itu dengan perasaan sayang yang ditujukan untuk tunangannya-siwon- ataupun untuk dirinya, ia tidak peduli.

Ia memandang lembuut wajah damai yang ada di sampingnya, mulai menggerakkan jemarinya membelai wajah putih mulus itu, mengurutkannya dan berhenti dibelahan chery yang berada tepat di bawah hidung, mengusapnya lembut dan perlahan mulai merundukkan wajahnya menggapai belahan itu. Menautkannya dengan bibir tebalnya dan melumatnya lembut, dan setelah puas ia melepaskannya dengan perlahan mengusap saliva yang menyebar di belahan chery tersebut dan mengecupnya singkat.

Tangannya terulur menggapai lampu yang ada di meja nakas dan menghidupkannya setelah sebelumnya mematikan lampu utama yang ada di kamar tersebut. Dan mulai merebahkan tubuhnya di samping Sungmin dan melingkarkan tangannya dipinggang ramping tersebut dan mulai menjelajahi alam mimpinya.

"Mianhae."

.

.

"Eungh.." Sungmin melenguh ketika kesadaran menghampirinnya. Sang Lunar telah digantikan dengan Sang Mentari yang dengan gagahnya menduduki lautan biru diangkasa tersebut. Ia mengedarkan pandangannya dan mengerutkan keningnya ketika merasa asing dengan suasana kamar yang saat ini ia tempati. Tangannya terulur mengusap belakang kepalanya ketika ia merasakan nyeri yang menjalan saat ia mencoba duduk.

"Hyung.." Sungmin menolehkan kepalanya ketika sebuah suara menyapa indra pendengarnya.

"Kyu, kenapa?.."

"Kenapa kau ada disini, begitu?" Sela Kyuhyun. Ia memperhatikan Sungmin yang memandangnya dengan penuh tanya.

"Kau semalam pingsan." Kata Kyuhyun. Ia memberi jeda sedikit ketika melihat Sungmin mengerutkan keningnya. "Aku panik saat itu, jadi yah tanpa pikir panjang aku membawa hyung ke apartemenku, tak apa kan?" jelas Kyuhyun dan setelahnya ia tersenyum ketika indra pendengarnya mendengar respon positif dari lawan bicaranya.

"Emm, tak apa. Hanya saja, aku sedikit bingung tadi."

"Oh, sebelumnya aku telah memanggil dokter. Ia bilang anemiamu kambuh." Dusta Kyuhyun. Tentu saja, mana mungkin ia memanggil dokter ke apartemennya kalau ia menginginkan rencananya berjalan lancar.

"Benarkah?"

"Emm" Kyuhyun hanya menggumam dan mengangguk sebagai jawabannya.

"Hyung, kalau kau mau aku telah menyiapkan makanan didapur."

"Kau...bisa memasak Kyu?" tanya Sungmin ragu.

"Ya! Jangan meremehkanku hyung."

"Baiklah, aku minta maaf. Tunggu aku sebentar ne." Pinta Sungmin. Ia memijakkan kakinya ke lantai dan sedikit mendesis ketika dinginnya lantai menyentuh kulit kakinya. Sedangkan Kyuhyun, ia langsung berbalik dan melangkahkan kakinya menauhi kamar tersebut.

.

.

"Bagaimana?"

"Mashita, kukira kau tak bisa memasak kyu."

"Err, hyung." Panggil Kyuhyun.

"Ya."

"Sebenarnya, bukan aku yang memasak. Aku membelinya tadi." Jelas Kyuhyun. Ia sedikit salah tingkah ketika Sungmin tertawa kecil dihadapannya.

"Gwaenchana, aku mengerti Kyunie."

"Ah,pukul berapa sekarang?" sambung Sungmin. Ia menyapu pandangannya mencari jam dinding yang mungkin terletak di ruang makan ini.

"Pukul 9 hyung, wae?"

"Aku harus pulang sekarang."

"Kenapa terburu-buru?"

"Aku ada janji dengan Siwon nanti." Jelas Sungmin. Ia memandang Kyuhyun yang menatapnya penuh arti.

"Tidak boleh." Desis Kyuhyun.

"Huh?" Sungmin memiringkan kepalanya bingung. "Kau..mengucapkan sesuatu Kyu?"

"Kau tidak boleh pergi hyung."

"Wae?"

"Aku membutuhkanmu hyung."

" Tapi,," Jawab Sungmin ragu. Ia mau saja meng-iyakan permintaan Kyuhyun tapi mengingat janjinya dengan Siwon terlebih ia tak membawa handpone-nya, ia jadi ragu.

'Bagaimanapun kau tak boleh pergi hyung.'

'Tapi melihat wajahnya aku tak tega. Bagaimapun juga, aku mencintainya.'

"Baiklah." Ujar Kyuhyun. Setelah ia berpikir mungkin ini yang terbaik untuknya.

"Kau mengatakan apa Kyu?" tanya Sungmin.

"Kau boleh pergi hyung."

"Benarkah?"

"Ya. Setelah kupikir, aku tak terlalu membutuhkan bantuan darimu."

"Baiklah, aku pergi dulu ne?"

"Ya, hati-hati dijalan. Hubungi aku jika sudah sampai dengan selamat hyung." Teriak Kyuhyun ketika punggung Sungmin mulai menjauh.

"Siap tuan." Balas Sungmin seraya mengangkat tangannya memberi tanda hormat. Kyuhyun terkekeh dibuatnya.

'Setidaknya, aku memberimu kesempatan untuk bertemu dengan pangeranmu itu hyung.'

Flashback Off

.

i.i.i.i.i.i.i.i.

"Mau apa kau?" ketus Siwon ketika ia melihat Kyuhyun berdiri di depan kelasnya. Ia benar-benar tak suka dengan anak itu.

"Kau bertanya padaku?"

"Tentu saja. Siapa lagi manusia yang dengan seenaknya memblock jalan masuk ke kelas ini, huh?"

"Aku tak berniat untuk adu mulut denganmu pagi ini. Lagipula, aku hanya mencari Sungmin hyung." Jelas Kyuhyun.

"Sungmin tak ada." Balas Siwon cepat. Ia tak mau Sungmin bertemu dengan manusia dihadapannya. Ia hanya tak ingin terjadi hal buruk dengan kekasihnya itu. Ya, meskipun firasatnya itu tak beralasan setidaknya ia akan mencegahnya terlebih dahulu.

"Kau bohong. Dimana Sungmin hyung? Ia pasti sudah datang." Balas Kyuhyun tak terima. Ia hanya ingin pagi harinya di awali dengan melihat wajah manis Sungmin. Emangnya salah?

"Untuk apa aku berbohong kepada kau. Tak ada untungnya denganku. Asal kau tahu saja."

"Tentu saja ada untungnya untukmu. Kau cemburu padaku kan?"

"Heh..?" Siwon menaikkan alisnya heran. Cemburu pada manusia dihadapannya? Kalaupun ia cemburu, ia tak mau mengakuinya. Terlebih ia tak mau melihat raut kemenangan di wajah bocah dihadapannya, dari pertama bertemu ia sudah tahu jika manusia dihadapannya ini menaruh hati pada kekasihnya.

"Kenapa diam?" Suara bass Kyuhyun menyapa indra pendengarnya membuat lamunannya buyar. Ia memfokuskan matanya melihat sosok dihadappnya.

"Aku cemburu padamu? Yang benar saja. Yang kutahu Sungmin cinta padaku dan kau.." ia menggantung ucapannya dan perlahan melangkahkan kakinya menuju manusia dihadapannya seraya menudingkan telunjuknya kearah manusia itu. "Tak bisa merebutnya dariku." Sambung Siwon.

Kyuhyun menaikkan alisnya meremehkan dan sedetik kemudian tertawa pelan.

"Cih, percaya diri sekali."

"Kau.."

"Siwon, Kyuhyun kenapa berdiri disitu? Kalian menghalangi jalan tahu." Baru saja Siwon mau membalas perkataan Kyuhyun sebuah suara menyela pembicaraan mereka. Kyuhyun dan Siwon menolehkan wajah mereka kesumber suara dan kemudian tersenyum lembut kearahnya.

"Hyung."/"Min."

"Haha, kalian aneh. Minggir, kalian menghalangi pintu masuk tahu." Respon Sungmin. Ia melangkahkan kakinya memsuki kelasnya setelah Siwon dan Kyuhyun menggeser posisi mereka dan menghampiri namja manis itu.

"Kenapa lama sekali?" tanya Siwon. Kyuhyun memandangnya tak suka.

"Aku ada keperluan sedikit tadi. Jangan khawatirkan aku Wonnie." Balas Sungmin.

Kyuhyun mengerutkan alisnya tak suka. Panggilan macam apa itu? 'Wonnie' mendengarnya saja Kyuhyun sudah merinding. Lebih bagus 'Kyunie' itu panggilan yang keren kan, pikir Kyuhyun. Ia menolehkan wajahnya memandang namja manis tersebut.

"Hyung, kenapa tak menelpon ku semalam?" Kali ini Kyuhyun yang bersuara dan Siwon tak memperdulikannya. Ia malah kembali ke mejanya daan entah melakukan apa disana. Ya, setidaknya dengan begitu Kyuhyun bebas mendekati Sungmin.

"Ah, hyung lupa. Mianhae kyu."

"Gwaenchana. Hyung, kau mau menemaniku ketaman nanti?" Ujar Kyuhyun, sebenarnya ia sedikit kecewa dengan respon Sungmin tadi tapi tak apalah toh nantinya Sungmin akan selalu berada disisinya dan tak akan pernah lepas lagi.

Diam-diam Siwon menguping pembicaraan mereka. Ia menghindar bukan berarti memberi kuasa kepada Kyuhyun atas Sungmin, ia hanya ingin mendengarkan apa yang dibicarakan oleh evil itu kepada kekasihnya.

"Baiklah, aku akan menemanimu nanti."

"Jeongmal? Huaa, gomawoyo hyung-ie." Setelah itu ia memeluk Sungmin dan mengecup pipinya kilat yang dibalas pelototan Siwon dan raut terkejut Sungmin.

'Apa-apaan dia itu.' Pikir Siwon.

"Baiklah, aku pergi dulu hyung. Pay pay." Pamit Kyuhyun kemudia melangkahkan kaki jenjangnya menjauhi kelas tersebut. Ia menyunggingkan senyuman kemenangannya.

'Mungkin aku tidak menggunakan cara yang sama, tapi aku akan menggunakan cara lain untuk membawaku bersama ku.'

Kyuhyun tahu, Siwon mendengar ucapannya dan dari raut mukanya, ia tahu bahwa Siwon telah curiga padanya dari awal. Tatapan tak suka itu, kebenciannya itu, kepossesivan-nya terhadap Sungmin ketika ia berada di sekitar mereka dan masih banyak lagi yang tidak bisa ia jabarkan satu per satu.

Dan mengenai ajakannya terhadap Sungmin tadi, itu merupakan salah satu trick yang digunakannya untuk membawa Sungmin. Tidak tidak, ia tidak akan menggunakan cara yang sam kali ini. Ia tak mau Siwon mengetahui ia membawa Sungmin dan mengetahui kemana ia akan membawa Sungmin. Ia tentu tidak akan bertindak seceroboh itu. Ia tahu Siwon akan mengikuti mereka nanti lebih tepatnya mengikuti Sungmin-nya dan dalam waktu singkat ia telah menyusun rencana untuk mengecoh Siwon sekaligus membawa kekasih hatinya.

'Mungkin tindakan ini salah tetapi setidaknya kau berada disisiku selamanya.'

'Waktu yang kuberikan padamu telah habis Chagi-ya, dan sekarang waktunya kau disisiku selamanya.'

.

i.i.i.i.i.i.i.

Cinta itu buta bukan? Dan ia membenarkannya. Menggunakan segala cara untuk mendapatkan cintanya dan menangkis semua resiko yang akan dihadapinya. Yang ada hanya satu, cinta ada disisinya atau tidak sama sekali.

.

.

To be Continued

.

Anyeong chingudeul. #lambai-lambai

Masih ingat saya dan FF jamuran ini?

Hah, setelah sekian lama hiatus tanpa pemberitahuan –v saya kembali membawa FF gaje ini. Ada yang menunggu kah? Tidak ada ya.#peluk Sungmin

Okok sekarang saatnya membalas review, yuk mari...

JOYeerr Elpeu : Mian, ga bisa bikin NC. Saya masih polos#plak. Nanti saya usahakan deh, ini sudah dilanjut, semoga suka.^^

Liaa kyuminelf: hiks, kyu emang kasian yah, ia sudah merasa kalah sebelum bertanding. Ini sudah dilanjut chingu, semoga suka.^^

Kanaya : nado anyeong ^^. Gomawo sudah di koreksi, kali ini ada typo-nya kah?. Ini sudah dilanjut chingu, semoga suka.^^

Fariny : ini sudah dilanjut, semoga suka ya.. ^^

WidiwMin : gomawoyo chingu. Ini sudah dilanjut, semoga suka. ^^

KimShippo : Siwon tunangannya Min, chingu. Kyu masih berusaha mendapatkan Min. Ini sudah dilanjut.^^

ChwangMine95 : gomawoyo chingu ^^. Kyu-ppa emang udah lengket sama Ming-ppa. Ini sudah dilanjut chingu.^^

kyurin minnie : gomawoyo. Ini sudah dilanjut, semoga suka ya. ^^

beibhy kyuminalways89 : setuju sama Chingu. Ini sudah dilanjut. ^^

ANAKNYADONGHAE : di Chap ini sudah di jawabkan. Ini sudah dilanjut. Gomawoyo.^^

MinnieGalz : Ini sudah dilanjut. Gomawoyo.^^

yukiLOVESUNGMIN : panggil saya Youngra saja chingu. Di chap ini sudah di jawab kan. Ini sudah dilanjut. Gomawo.^^

Rima KyuMin Elf : ini sudah dilanjut chingu. Gomawo atas review-nya.^^

.

Gomawoyo kepada readerdul yang telah membaca dan menyumbangkan reviewnya. Yang minta Simin moment dibanyakin udah saya banyakin nih ^^. Semoga tidak mengecewakan.

At last, Mind to Review?^^