DON'T LIKE, DON'T READ
Title : BenCinta
Disclamer : Masashi Kishimoto
Warnings : OOC, AU, Typo (s), Miss typo, Cerita nyerempet ke teenlit campur nyinet, EYD agak kurang baku (untuk beberapa kalimat), Humor garing, Judul alay, dll
Maaf kalau jelek :)
Story by: Bii Akari
Dedicated for: Meong . nbuyung
Enjoy~
.
.
.
NORMAL POV
"Aku menyukaimu, Neji-senpai! Kumohon jadilah pacarku."
Hyuuga Neji menatap prihatin junior perempuan di depannya yang sedang membungkukkan badan dengan gugup. Laki-laki tampan itu mendengus dalam hati, cukup bosan 'ditembak' oleh para kaum hawa seperti ini. Padahal sedikit pun ia tak pernah menunjukkan ketertarikan pada lawan jenisnya itu—tidak, bukan berarti Neji gay.
Satu menit berlalu, Neji masih sibuk dengan khayalannya—mengalkulasi jumlah gadis yang telah ditolaknya sampai sekarang. Sedikit di bawah si Bokong Ayam memang, tapi jumlahnya sama sekali tak bisa dikategorikan sedikit.
"Maaf." Dan sepatah kata Neji itupun, tampaknya cukup ampuh membuat gadis berbandana coklat itu menegang syok. Kepalanya perlahan terangkat, ia berusaha keras menyembunyikan sakit hatinya di depan pangeran sekolah itu.
"Tak apa, Neji-senpai!" Bagaikan pelari marathon profesional, gadis itu langsung lenyap dalam sekali kedipan mata. Neji pun sampai celingak-celinguk heran saking speechless-nya.
Pemuda keturunan bangsawan itu kembali mendaratkan pantatnya pada kursi panjang di taman sekolah. Niat awalnya, sore ini ia ingin menjernihkan pikiran di sana—sekedar melepas penat akan tumpukan berkas yang mesti ia sortir di dalam ruangan OSIS-nya yang legendaris. Ya, masa jabatannya sudah hampir habis—seiring dengan menipisnya hari-hari SMA-nya.
Sebenarnya pekerjaan seperti itu bisa ia serahkan pada sekretarisnya, tapi maklumlah bagaimana peringai si Hyuuga itu. Super perfeksionis—semuanya harus sesuai dengan harapannya. Salah sedikit saja, maka ia akan mengkritik sang sekretaris dengan tak segan—akibatnya belakangan ini sekretarisnya mulai menderita jatuh mental. Salahkan Neji yang diberkahi lidah super tajam—dalam artian berbeda dengan Orochimaru-sensei, tentu saja.
Tiupan angin membelai lembut sisi wajah Neji yang terlihat amat rupawan. Beberapa fansgirl yang diam-diam mengintipnya dari semak-semak berduri cekikikan berjamaan begitu melihat keelokan pangeran pujaan mereka kini.
Fuuh~ Neji tak peduli. Ia tetap diam di tempat menikmati semilir angin yang bermain dengan helaian panjangnya yang sengaja diikat di bagian bawah. Pikirannya sedang terbelenggu sekarang, lupakan sejenak wajah angker Hinata yang tiap hari menyambutnya setiap kali mereka berpapasan—sejak insiden itu, rupanya Hinata masih trauma dekat-dekat dengan Neji. Lupakan juga gosip miring yang menerpa adik gadisnya itu dengan pemuda Uzumaki yang waktu itu tanpa sengaja kepergok anak-anak sekolahan sedang mengantar Hinata pulang di kediamannya—itu perintah Neji, tak apa. Lupakan pula bisikan Orochimaru-sensei yang tak pernah lelah menanyakan resep turun-temurun kaum Hyuuga hingga memperoleh rambut panjang sehat tak berketombe lebat mengkilat sepanjang hari seperti milik Neji—lupakan, lupakan gombalan Orochimaru di lab tadi.
Demi apapun, Neji tak akan membocorkan rahasia keluarga! Terlebih, Orochimaru hanya menawarkan voucher creambath di salon sebanyak dua lembar, kalau tiga mungkin Neji akan berpikir ulang—tidak! Tepis pikiran nista itu dari pikiranmu, Hyuuga!
"Uhm," dehaman Neji mengudara pelan. Pemuda itu memperbaiki posisi duduk a la bangsawannya yang tadi sedikit miring akibat pikirannya yang salah fokus. Otak Hyuuga Neji memang terlalu jenius, sampai-sampai bisa bercabang tiga seperti tadi.
Oke, kembali ke pangkal permasalahan yang diderita pemuda kharismatik itu.
Duel-nya kemarin yang berkhir sad ending—kekalahan mutlak untuk dirinya. Cukup menjatuhkan harga diri, sebenarnya. Tapi, berhubung Neji adalah orang yang cuek dan tidak gampang dirayu—Neji tersenyum dalam hati—maka ia tetap stay cool dan bertingkah seperti biasa, seolah tak terjadi apapun kemarin. Padahal sudah banyak teman-teman gaulnya yang meledeknya ini-itu—dikalahkan oleh seorang junior, perempuan lagi!
Bagi Neji, ini bukan masalah ia dikalahkan oleh junior perempuan atau laki-laki, ini masalah orang yang mengalahkannya—Tenten! Seandainya bukan Tenten, maka Neji tak akan ambil pusing atas peristiwa kemarin—lagi pula ia juga kalah terhormat, lengah akibat robohnya Hinata. Ya, meski itu tak mengubah apapun—ia memang sudah kalah.
Neji kembali putar otak, ekspresi Tenten kemarin benar-benar membuatnya bingung. Perempuan itu menang, 'kan? Lalu, mengapa ia terlihat kesal seperti itu? Seharusnya ia senang bisa mengalahkan si Hebat Hyuuga Neji. Jika Neji yang berada di posisi Tenten, maka pemuda itu pasti sudah mengejek juniornya sepuas-puasnya—melampiaskan kekesalannya yang ia pendam bertahun-tahun pada Tenten.
Huh, 'kan? Neji jadi teringat peristiwa memalukan itu lagi. Cepat-cepat pemuda itu menggeleng elegant, berupaya menepis memori masa kecilnya yang nyaris terputar ulang dalam benaknya. Sudahlah, memikirkan gadis bercepol dua itu memang sangat tidak baik untuk kesehatan Neji—jantungnya berdetak tak karuan dan perutnya mendadak mengalami kontraksi.
Pemuda itu kemudian bangkit dari duduknya, memutar arah kembali menuju ruang OSIS yang jaraknya hanya beberapa meter dari sana.
"Hai, Neji~" Seorang gadis bersurai merah muda menyapa Neji ramah begitu pemuda itu membuka pintu ruang OSIS yang semula hanya ia huni seorang diri—anggota OSIS yang lainnya setahunya sudah pulang duluan sehabis rapat tadi.
Neji tersenyum tipis, "Hn." Alisnya menukik sebelah memperhatikan kesibukan teman sekelasnya itu yang terlihat asyik mengutak-atik gadget-nya sambil sesekali terkikik geli. Berusaha tak menghiraukan itu, Neji pun mulai menyibukkan diri dengan tumpukan kertas di atas meja kerjanya—bersiap memulai tugasnya lagi.
"Aku sedang menunggu Sasuke-kun." Seolah paham arti tatapan Neji yang menusuk tadi, Sakura angkat bicara. Ia mengalihkan perhatiannya dari layar gadged-nya untuk melempar seulas senyum simpul pada Neji—seolah memohon izin agar ia bisa memanfaatkan fasilitas AC dan Wifi gratis di ruang OSIS lebih lama lagi. Neji manggut-manggut mengerti, ia kembali menunduk menekuni dokumennya. "Kau tahu sendiri ekskul basket itu berlangsung sangat lama," keluh Sakura pelan, tampak mulai bosan dengan benda mungil di genggamannya.
Neji melirik Sakura sekilas—yang masih bersandar malas pada dinding ruang OSIS sambil berselonjor kaki. "Ekskul basket baru bubar pukul setengah enam nanti. Kau yakin akan menunggunya?"
Sakura mengalihkan tatapannya dari jendela satu arah—yang memungkinkannya melihat ke luar tapi tak memungkinkan orang luar melihat ke dalam—menuju ke arah pemuda tampan berwajah stoic itu. "Kami sudah janji akan pulang bersama," jawabnya sedikit malu.
Uchiha Sasuke terkenal akan sikap dinginnya pada gadis-gadis—belum pernah ada satu gadis pun yang bisa menaklukkannya. Dan sekarang? Ia meminta Sakura—anak OSIS biasa yang belakangan ini digosipkan dekat dengannya—untuk menunggunya agar bisa pulang bersama? Jika Neji mau, ia bisa saja menyebarkan berita ini untuk memperhangat gosip kedua sejoli itu—tapi tidak, itu sangat bukan Hyuuga Neji.
Dan lagi, Sasuke pasti tak asal meminta Sakura pulang bersama—pemuda itu bukan tipe laki-laki yang mudah mengumbar janji.
Sunyi akhirnya kembali melanda ruang OSIS yang cukup besar itu. Neji dan Sakura sama-sama sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Tak ada percakapan lagi, sampai ketika sebuah bola sepak—yang entah datang dari mana—menghantam kaca depan ruang OSIS. Beruntung kaca riben tebal itu tidak sampai pecah atau tergores—Neji bisa mengamuk kalau sampai itu terjadi.
Belum sempat bangkit memastikan siapa yang berani menampar kaca ruangannya dengan sebuah bola yang ditendang cukup kuat—tebukti dari bunyi gedebuknya yang besar tadi—seorang laki-laki berambut bob sudah berlarian semangat memungut sang bola. Neji mendesah, malas meladeni pemuda hiperaktif itu.
"Lee dan junior perempuan itu—siapa lagi, namanya? Te—Tenten, 'kan? Ah, mereka akrab, ya?" Sakura mencoba membuka obrolan baru, diam bermenit-menit lamanya memang bukan gaya gadis ramah itu.
Sakura mengerling Lee dan Tenten yang sedang berbincang heboh sembari terkekeh senang di luar sana—membuat Neji menautkan alis berusaha membaca gerakan mulut mereka. "Akrab?" tanya Neji balik, tampak ragu sepertinya.
Sakura mengangguk antusias. "Aku sering tanpa sengaja mendapati mereka pulang bersama. Tak hanya itu, mereka juga terlihat sangat menikmati kebe—hei! Mau ke mana kau, Neji?"
"Toilet, kenapa? Kau mau ikut, hm?"
.
Neji menatap pantulan wajahnya di kaca wastafel mengkilap pada toilet sekolahnya yang tak dihuni siapapun selain dia. Aneh, mengapa tadi ia tiba-tiba merasa tidak enak dan berlalu ke toilet seenak dengkulnya—meninggalkan penjelasan panjang lebar Sakura yang sudah ia pahami betul akan mengarah ke mana.
Kedekatan Lee dan Tenten.
Uhm, ia benar-benar muak mendengar nama Tenten—apalagi jika ditambah dengan nama Lee. Tenten dan Lee sama-sama menyebalkan menurut Neji. Jadi, wajar bukan menghindari perbincangan tentang pemuda yang kurang kau sukai dan gadis yang kau benci?
.
Saat Neji kembali, ruang OSIS sudah sunyi tak berpenghuni. Entah ke mana gadis musim semi itu pergi, Neji pun tak peduli—toh Sakura tak mungkin hilang di sekolahnya sendiri. Cepat-cepat pemuda itu duduk di meja kerjanya untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi.
Tak butuh waktu lama bagi Hyuuga tampan itu untuk menyelesaikan dokumen-dokumen penting yang mesti dipilahnya. Pemuda itu bangkit berdiri dari duduknya seraya merilekskan tubuh tegapnya yang terasa kaku. Maniknya melirik, mengintip diam-diam jam dinding yang sudah menunjukkan pukul lima sore itu.
Begitu Neji resmi mengunci ruang OSIS—hendak beranjak pulang—mendadak, seorang gadis berseru memanggil namanya dari arah lapangan. Pemuda itu memicingkan matanya penuh konsentrasi pada siluet Sakura yang disirami sinar mentari jingga—cukup silau dari tempatnya berdiri, sebenarnya.
Sakura menyusul Neji dengan berlari-lari kecil mendekati figur pemuda yang masih terpaku di tempat itu—enggan mendekatinya sedikit pun.
"Kau sudah mau pulang?" tanya Sakura menggebu-gebu, berusaha mengendalikan napasnya yang sedikit memburu. Yang ditanya cuma melipat tangannya di depan dada seraya bergumam absurd—dan Sakura mengerti betul maksud Neji.
Gadis itu mendengus berat sembari memperbaiki posisi tas selempangnya. Manik emerald-nya melirik lapangan basket di bagian timur sekolah sejenak, sebelum menatap Neji lagi dengan penuh harap. "Temani aku sebentar lagi, ya? Aku tida—"
"SAKURA-SAAAN~"
Dan bersamaan dengan itu pula, Haruno Sakura langsung mengumpat kesal dengan gerakan menghentak-hentakkan kaki. Matanya terpejam paksa lengkap dengan jemarinya yang mengepal erat—merasa nasibnya begitu sial karena tertangkap basah oleh orang yang begitu ingin ia hindari. Jika seperti ini jadinya, lebih baik Sakura tetap di ruang OSIS saja sejak tadi.
Rock Lee menghentikan lari-lari dramatisnya di depan kedua muda-mudi yang diam-diam memprotes kedatangannya dalam hati tersebut. Pemuda berambut hitam itu melempar cengiran lebarnya pada Sakura dan Neji yang masih diam membisu di tempat. "Kalian belum pulang?" tanyanya ceria, masih berapi-api seperti sebelumnya.
"Aku sedang menunggu seseorang, Lee-san," jawab Sakura lekas, mengulum sedikit senyum untuk pemuda di hadapannya. Ia tak ingin ambil resiko untuk menghujam Lee dengan senyum penuh—takut memberikan harapan palsu pada pemuda baik hati itu.
Lee mengangguk mengerti, tatapan mata bulatnya kini mengarah ke lavender sang ketua OSIS yang masih bergaya penuh wibawa. "Aku akan pulang sekarang," putus Neji mutlak, tak mengindahkan Sakura yang mati-matian mendelik memohon pertimbangan ke arahnya—tentu saja, Sakura tak ingin ditinggal berdua saja dengan Lee.
Namun, kekerasan kepala Hyuuga Neji sudah terlalu mendominasi. Neji tak bodoh, tentu saja. Jika Lee ada di sini, berarti hanya ada dua dugaan—Tenten sudah pulang duluan atau Tenten ditinggal Lee di suatu tempat. Ya, mengingat Lee memang orang yang sangat gampang teralihkan atensinya jika sudah menyangkut dengan Haruno Sakura—cinta pertamanya—jadi wajar saja jika ia tiba-tiba berlari meninggalkan Tenten demi Sakura. Semua orang di sekolah juga tahu itu, termasuk Neji tentu saja.
Dengan lagak santainya, Neji beranjak pergi meninggalkan Lee—yang terlihat amat kegirangan bisa berduaan bersama gadis idamannya—dan Sakura—yang mulai depresi berat akibat keputusan sepihak Neji.
.
Tepat pukul lima lewat lima belas menit. Seorang gadis manis bercepol dua sedang sibuk mengayun-ayunkan kakinya sembari duduk bersandar pada kursi kayu di taman belakang sekolah. Bola sepak yang semula ia mainkan asal-asalan bersama Lee sudah ia tendang entah ke mana—kesal akibat ditinggal begitu saja oleh Lee sesaat tadi.
Ya, pemuda hiperaktif itu tadi mendadak berbinar-binar ceria dan langsung berteriak heboh menyusul siluet senpai berambut soft pink-nya yang sempat melintas cukup jauh dari mereka. Haruno Sakura, Tenten tahu betul siapa dia. Seorang anggota OSIS incaran Lee yang sempat menyita mp3 Tenten—dan sampai sekarang ia belum mengembalikannya.
Sebenarnya Tenten agak kesal pada Sakura. Pasalnya, perempuan yang berada dua tahun di atas tingkatannya itu sudah berjanji akan mengembalikan mp3-nya jika Tenten bersedia memenuhi permintaannya. Tapi, apa? Sampai sekarang pun janjinya belum ia tepati.
Awalnya Tenten ingin memintanya langsung saja pada Sakura—tidak menutup kemungkinan Sakura lupa pada janjinya. Tapi, gagasannya itu langsung ia lempar jauh-jauh begitu mendengar Sakura berada di kelas yang sama dengan sang ketua OSIS. Berpapasan dengan Hyuuga Neji sama saja dengan berpapasan dengan masalah—dan Tenten tidak ingin terlibat masalah apapun lagi dengan si Rambut Panjang. Namun, menemui Haruno Sakura di luar kelas memang sangat sulit. Selain karena tradisi senioritas yang melarang keras siswa kelas satu memasuki areal kantin khusus kelas tiga yang membuat Tenten mustahil bertemu dengan Sakura di jam istirahat, perempuan bermarga Haruno itu juga sangat jarang terlihat di jam pulang sekolah seperti sekarang. Ia tipikal siswa yang datang tepat waktu dan pulang tepat waktu—berbanding terbalik dengan Tenten.
Gadis manis itu mendesah pelan, tadi sebenarnya adalah kesempatan emas baginya untuk menemui Sakura. Tapi, begitu melihat Lee yang dengan super semangat berlari mengejar Sakura, gadis itu langsung kehilangan fungsi kerja tubuhnya. Ia tahu Sakura memang sangat spesial di mata Lee. Berhubung Lee dan Tenten memang tetanggaan sejak kecil, jadi tak sulit sama sekali bagi Tenten untuk menilai sejauh mana ketertarikan Lee dengan Sakura. Dan hasil pengamatannya benar-benar membuat Tenten kecewa.
Tenten paham, bagi Lee, ia memang hanyalah sosok adik kecil yang selalu dijaganya. Berhubung kedua orang tua mereka juga cukup dekat satu sama lain. Apalagi jika ditambah dengan kesamaan hobi mereka berdua, olah raga. Tenten yang memang penggemar berat olah raga yang menggunakan alat, dan Lee yang sangat terobsesi pada olah raga apapun.
Gadis berambut gelap itu tersenyum kecut, baru kemarin ia menyadari perasaannya pada Lee tapi sekarang ia sudah harus dihadapkan pada kenyataan yang menyakitkan. Lupakan saja mp3-nya, Tenten sudah tidak peduli. Yang terpenting sekarang adalah ... bagaimana caranya ia bisa mengubah perasaannya pada Lee kembali seperti sebelum-sebelumnya—ketika mereka masih kanak-kanak. Tidak berlebihan, tapi cukup kuat untuk disebut sahabat.
Hei, Tenten bukan gadis bodoh yang akan melakukan hal yang tidak berguna. Lee adalah orang paling keras kepala dan tidak peka yang ia kenal, sangat tidak masuk akal jika Tenten nekad melancarkan strategi untuk mencuri hati Lee padahal pemuda itu sudah jelas-jelas terpikat pada pesona Haruno Sakura. Lebih baik Tenten membunuh perasaannya sekarang dibanding menunda-nundanya kelak, ia tahu hubungan dirinya dan Lee memang tak boleh lebih dari sekedar sahabat.
Tenten meringis kecil, merasa dadanya sesak akibat memikirkan segala macam praduga dan kesimpulan yang ia tarik semena-mena itu. Ini keputusannya, dan ia akan konsisten menjalaninya. Melupakan Lee ... dengan harapan agar persahabatan mereka berdua tidak rusak.
Manik hazel milik Tenten mulai berkaca-kaca. Gadis itu mencengkram erat-erat rok seragamnya dengan menahan perih. Ia harus bisa melupakan Lee secepat mungkin, putusnya yakin.
Naas, belum sempat bangkit dari duduknya, suara baritone dari arah belakang mendadak menginterupsi aksinya.
"Kau punya waktu? Ada yang ingin kubicarakan."
.
.
.
TBC
Author's line:
Hellyeah! Thanks to Nabila Aini yang susah payah menagih fic ini berulang kali via facebook :v *sundul Nabila* tanpa dia, mungkin fic ini gabakal apdet hari ini wkwkwk :v #ditendang
Yosh, sejauh ini gimana? maaf kalo kurang memuaskan, maklum yaaa saya buatnya buru-buru di minggu pagi yang cerah ini :''3 soal kasus NejiTenLee udah keliatan jelas kan? X3 Banyak yang mempertanyakan perihal perasaan mereka bertiga, dan kupikir chapter ini udah merangkup semuanya dengan jelas *ngakak nista* #apaanlo
Gajanji bisa apdet rutin lagi tiap minggu T^T sekarang lagi sibuk-sibuknya di RL, free-ku cuma di hari minggu aja, maaf ;_; Tapi kuusahain deh ya, mohon bantuan semangatnyaaa T3T
Makasih buat para reviewer, maap gabisa bales atu-atu lewat PM T3T
GraceAnnesh: ihihi makasih :3 disini Neji jadi orang yang cukup misterius menurutku :/ gaketebak, dia maunya apaaa juga susah dimengerti wkwk :v Lee suka Tenten? ihihi udah tau doong jawabannya~ XP #plak apdeet ^^
Minri: makasih :3 lanjuut ^^
Fumiyo Nakayama: disini Nejinya jadi makin gregeeeeet X3 ambigu kan? keliatan banget dia benci ama Tenten, tapi di satu sisi dia juga keliatan care ama Tenten wkwk :v mau lo apasih, Nej? *ngomong sama Neji* *dibyakugan(?)* wkwk, abang Neji terlalu jenius sih, jadi cara mikir otaknya mejik banget XP *kicked* Neji cemburu? :O bagian mana? :v
Queennara : wkwkwk, rasa bencii dooong~ wkwk :v samaan Naaar T^T saya juga suka banget, pengen mainin tapi gatau mesti belajar dimana :/ *mikir keras* aarrrr saya juga ngebayanginnya gituuu O/O makasih konkritnyaa, ihihi :3 Neji kan jaim, Nar :v justru karna lagi seru, makanya Hinata syok berat wkwkwk :v iyadooong~ kan Lee selalu ngaku-ngaku jadi rivalnya Neji, tapi gapernah ditanggepin, nanti bakal ditanggepin Neji deh wkwk :v *ngapain spoiler disini* cemburu? bagian manasih? :v kok banyak yang ngira Neji cemburu? ._. apdeeet ^^ itu yang kamu sandera bukan Rin tauk, tapi Haru-chan wkwkwk :v *ngakak cantik di pangkuan Rin*
Hima Sakusa-chan: tebak sendiri mmas XP *plak* mending Neji ngelus-ngelus muka daripada ngelus pantat, mmas :''3 *diinjek* ehmasa? *w* serunyaaa~ pengen gitu, seandainya sekolahku sering sepi -_- #curcol
Rara Takanashi: bwahahah Neji gitchuu~ *alay detected* Tenten suka sama Neji? kita liat aja nanti *smirk* Lee jadi siapa? :/ Jadi muridnya Guy :3 *salahfokus* apdet ^^
sasa-hime: wakakak kamu ketularan Hinata ya? :v *gelindingan*
Mega dwi: saya kehabisan kilat T3T apdeeet ^^
Mina Jasmine: kamu deg-degan? :O karna saya? :3 *dibekep* maapin diriku Min :'''3 *gelindingan* seperti yang udah kubilang, jadwalku lagi padet-padetnya di RL, cuma punya waktu hari minggu :''3 *ngenes* tapi makasih bangeeet kamu udah rela nungguin sampai ngecek berkali-kali *terjang Mina* T^T FYI, jadwal apdetku cuma tiap sabtu/minggu, cukup cek di hari itu aja, biar garibet :''3 LeeTennya kupikir udah keliatan jelas XP *plak* scene yang itu, rasanya Neji belum suka sama Tenten, dia cuma heran aja, kenapa Tenten keliatan gasenang pas menang, gitu aja kok XP ngebut ria? wkwkwk :v bayangin deh, kalo kamu gasengaja liat sepasang anak manusia yang lagi dua-duaan, kamu juga pasti gapengen ganggu kan? apalagi kalo mereka berdua itu orang yang kurang kamu sukai, pasti bakal eneg dan langsung mau buru-buru cabut :v *ngebela bang Neji* wkwkwk Tenten dari awal juga udah gasuka Neji (tapi bukan berarti dia benci yaaa :3) seperti yang didalam fic, Tenten gapengen cari masalah kalo deket-deket Neji lagi, karna menurut dia selama ini Neji sudah terlalu banyak membawa masalah dalam hidupnya :''3 dan soal adegan nyaris ciuman itu, Tenten sebenarnya gapekasih, dia flat aja gitu pas Neji mulai mendekat nyaris nyosor dia, kan? pikiran Tenten fokus ke pertandingannya, makanya dia kecewa banget pas Neji malah gafokus dan ngalihin perhatian dari dia :v ihihi, saya gamungkin bikin fic NejiTen kalo saya bukan fans mereka :3 *toss kibasan rambut(?)* NTAR MESTI REVIEW LAGIIII XD *maksa* #plak
Benrina Shinju 2: ufufu~ iyaniih lagi seneng NejiTen X3 jangan diingetiiiin, In ;A; khusus di fic ini, kita anggep Neji itu masih idup yaa :''3 disini bang Neji normal :v cowok mana coba yang bakal tahan kalo ada di posisi Neji? :v *tawa laknat* gatauuu XP belum ada bayangannya bakal sampai mana, plotnya aja masih kabur :v *gelindingan* ADA YANG KEBERATAN YA KALO FIC INI CHAPTERNYA PANJANG? :/ *nanya sama readers* *dibakar* jangan diingetin utangku, In :'''3 *nangis jerit-jeritan di dada Neji* apdeeet ^^
Author's note-nya keliatan lebih panjang dari ficnya :v *gelindingan ngakak* yosh, butuh semangat kaliaaaaaan, hari-hariku di RL semakin menggila T^T helpmee :''3
REVIEW yaaa ^^
Arigatou :)
