CHAPTER 3

.

.

S

.

.

Tubuh lemah Taekwoon kini terbaring di atas ranjang bersprei putih. Hakyeon yang baru saja menyelesaikan pekerjaan di tokonya langsung masuk ke dalam ruangan yang merupakan bagian kamar tamu. Setelah meletakkan nampan berisikan beberapa obat pereda nyeri dan segelas air, Hakyeon menghela nafas. Aku akan bertanya padanya kalau dia sudah pulih sepenuhnya.

"Engh.." Atensi Hakyeon langsung tertuju pada si pria asing. Ia segera duduk di samping ranjang dan memeriksa denyut nadi di tangannya juga menempelkan punggung tangannya pada dahi sempit si pria asing. Ia sudah lumayan stabil.

Kedua mata tajam namun disisi lain menyiratkan kelembutan itu terbuka perlahan, menyesuaikan dengan cahaya sekitar yang masuk ke retina matanya, ia kembali meringis saat sakit dikepalanya belum juga hilang.

"Tenangkan dirimu. Minum dulu obat ini" Hakyeon berseru sembari membantunya duduk dan bersandar pada kepala ranjang.

Setelah ia meminum obatnya ia menatap Hakyeon dengan sayu "Sshh sebenarnya apa yang terjadi padaku?" Tanyanya. Hakyeon mengernyit heran lalu tak lama ia tersenyum. "Kau tadi jatuh pingsan di depan rumahku." Jelas Hakyeon, Taekwoon pun berusaha mengingat kembali apa yang barusan terjadi, dan sekelibat ingatan terbesit di kepalanya. perkataan orang-orang di mobil tadi –Cha Hakyeon adalah nama yang hanya dia ingat, katanya ia harus datang padanya.

"A-apa kau Cha Hakyeon?" Hakyeon sedikit terkejut namun ia mengangguk telak. "Iya, aku Cha Hakyeon, kau kenal aku?" Dahi Hakyeon kembali mengernyit dan matanya memandang pria di depannya dengan penuh selidik.

"Aku Taekwoon, sebenarnya.. aku sudah lama ingin mengunjungi.. itu.. toko mu! Iya toko bunga kan? Kau punya toko bunga?" Taekwoon berujar seperti apa yang dikatakan oleh si pesuruh.

"Tentu saja, aku punya toko bunga. Tapi, apakah kau baik-baik saja? Maksudku kalau bisa aku akan mengantarkanmu pulang." Ujar Hakyeon khawatir.

"Aku tidak tahu rumahku dima.." Sontak Taekwoon membulatkan matanya, lalu meringis. Hakyeon semakin merasa aneh akan sikap pria bernama Taekwoon ini.

"Taekwoon-ssi apa kau tersesat atau sebagainya?" Hakyeon sempat berfikir jika ia bukan orang yang tinggal dekat di daerah sini, jadi saat ia jauh-jauh datang ke tokonya malah tersesat.

"Arghh! Ini membuatku gila sungguh.." Taekwoon meringis sembari mencengkram helaian rambut hitamnya dengan kedua tangannya.

"Hei.. Tenanglah Taekwoon-ssi jika memang ada yang tidak beres denganmu aku akan membawa mu ke rumah sakit, bagaimana?" Hakyeon mencoba melepaskan genggaman Taekwoon yang terlihat semakin kuat.

"Tolong.. aku tidak ingat apapun.. aku.."

"Taekwoon-ssi!?"

.

.

S

.

.

"Kudengar kau tinggal di daerah Dongdaemun dengan kakakmu, apa itu benar?" Ujar pria berjas sambil menuangkan cairan pekat berwarna ungu ke gelas piala nya. Sanghyuk langsung mendongak pada pria itu "Kenapa kau tahu? Tolong katakan sebenarnya siapa kau?" Baiklah Sanghyuk kali ini mulai gelisah, bagaimana ia tahu segalanya mulai dari namanya, kakaknya, juga tempat tinggalnya.

"Hahaha.. jangan terburu-buru Hyuk-ah, kau itu sangat nakal ya. Berani sekali datang ketempat pertarungan para anjing seperti ini. Ah atau mungkin otakmu kriminal juga ya.." Pria itu mulai duduk di kursi single nya sambil menyesap wine nya.

Sanghyuk tidak menjawab, ia menunduk dalam dan nafasnya sedikit tersenggal. "Katakan saja siapa dirimu!?" Ujar Sanghyuk dengan penekanan.

"Aku? Sebegitu penasarankah kau dengan namaku? Hahaha.. baiklah aku Jisoo, sudah cukup? Aku teman ayahmu dulu, ah mungkin tidak pantas untuk disebut teman mungkin budaknya tuan Cha." Pria itu memandang remeh pada anak sekolahan didepannya.

"Apa maksudmu dengan semua ini?" Emosi Sanghyuk mulai muncul.

"Semua ini?" Pria itu mengangkat sebelah alisnya dan menyeringai tajam.

"Baiklah biarkan aku pulang.." Sanghyuk berdiri dari duduknya dan segera berjalan ke pintu depan, langkahnya tidak akan berhenti jika saja perkataan si Pria bernama Jisoo itu terlontar, "Hei kau tidak ingin mayatmu terbujur kaku di depan pintu itu kan?" Sontak Sanghyuk menghentikan langkahnya dan membalikan tubuhnya.

"Apa maumu?!"

"Aku ingin kakakmu! Cha Hakyeon!"

"Brengsek!"

'DORR'

Disaat peluru itu terlepas bebas Sanghyuk segera berlari sekencang mungkin, menuruni anak tangga dengan terburu-buru. Ia bisa merasakan para pekerja tadi masih mengejarnya, sementara Jisoo hanya menyaksikan dari tempatnya semula sambil tertawa renyah. "Lucu sekali anak itu, seperti seekor kancil yang akan diburu. Dan ia berlari ketakutan, terbirit-birit. Hahahaha.."

.

.

S

.

.

"Apa yang terjadi dengannya?" Tanya Hakyeon penasaran.

"Hakyeon.. memangnya siapa dia?" Bukannya menjawab wanita itu malah balik tanya pada Hakyeon sambil menghela nafas.

"Aku menemukannya pingsan di depan toko, jadi aku bawa saja disini. Sebelumnya ia sudah sadar dan minum obat pereda nyeri." Jelas Hakyeon.

"Baiklah, ikut ke ruanganku sebentar. Aku akan menjelaskannya padamu." Wanita itu berjalan mendahului dan disusul Hakyeon setelahnya.

.

.

S

.

.

"SUNGJAE!" Kaki Sanghyuk bergemetar bahkan saat berlari tadi, untung saja sahabatnya tidak menghilang kemana-mana jadi ia tidak perlu susah payah untuk menariknya keluar.

"YA! Ada apa denganmu!?" Sanghyuk sama sekali menulikan pendengarannya, yang ia fikirkan sekarang hanya pulang ke rumah dengan selamat. Akhirnya ia berhasil keluar dengan Sungjae yang masih mengeluh akan sikapnya.

"Sanghyuk! Kau ini habis melihat hantu di toilet hah!?" Sungjae sudah terlepas dari cengkraman Sanghyuk langsung membenahi bajunya yang sedikit berantakan.

"Sebaiknya kita pulang saja.."

"Apa?"

"PERCAYALAH PADAKU! Tempat ini tidak aman.. kumohon.." Kedua mata Sanghyuk berair, membuat Sungjae hanya bisa mengatupkan kedua belah bibirnya. Sanghyuk berlari menjauh dengan Sungjae yang mengikutinya tanpa bicara.

.

.

S

.

.

"Hakyeon-ah.. tidak ada penyakit serius yang perlu di khawatirkan, namun aku mulai penasaran. Apa yang membuat pria itu menjadi hilang ingatan untuk sementara? Hal ini adalah tindak kriminal, sebaiknya kau lebih berhati-hati." Hakyeon hanya bisa menatap bingung, meminta penjelasan lebih.

"Aku tahu, kau berniat baik untuk menolongnya. Tapi, dari sekarang biarkan dia dalam pengawasanku di rumah sakit sampai ingatannya pulih." Dokter wanita itu memohon.

"Tapi Eunji-ah, aku tidak mau merepotkanmu." Hakyeon tidak tahu harus bicara apa lagi, hanya rasa tidak enak nya saja jika menambah pekerjaan si dokter yang juga berstatus sebagai sahabatnya.

Eunji meraih kedua tangan Hakyeon, sedikit merematnya "Tenang saja, para perawat akan membantuku." Ia tersenyum, sedangkan Hakyeon hanya bisa terdiam dengan pikirannya.

"Apa mungkin ini ada hubungannya dengan kasus Ibu dan Ayahku?"

"Tidak mungkin, memangnya ada urusan apa dengan mu? Bahkan mereka tidak pernah muncul selama lima tahun ini." Hakyeon sedikit membenarkan ucapan sahabatnya.

"Baiklah, aku harus kembali bekerja. Silahkan jika kau ingin menjenguk Taekwoon." Ujar Eunji yang membuat Hakyeon tersenyum.

"Terimakasih.."

"Tidak masalah Hakyeon-ah.."

.

.

S

.

.

"HYUNG! KAU DIMANA!?" Sanghyuk yang sudah pulang ke rumah sontak panik bukan main, masalahnya Hakyeon tidak ada di rumah maupun di toko saat ia mengecek tadi. Rasa takut menjalar ke seluruh tubuhnya yang bergetar "Hyung..." Sanghyuk menangis berlari keluar rumah bersiap untuk mencari Hakyeon dengan motornya. Namun pergerakannya terhenti begitu ia melihat mobil sedan putih di depan rumah.

"Sanghyuk!?" Itu suara Hakyeon, baru saja keluar dari mobil tersebut. Disusul dengan seorang wanita yang diyakininya memberi kakaknya tumpangan.

"HYUNG!" Sanghyuk langsung menghambur ke pelukan Hakyeon dan menangis sejadi-jadinya tanpa malu dilihat oleh wanita cantik yang kini menatap keduanya kaget sekaligus heran.

"Sanghyuk-ah.. kau kenapa?" Sanghyuk tidak menjawab, ia hanya semakin membenamkan wajahnya di dada kakaknya sambil memeluk lebih erat, menangis.

"Sebaiknya kita masuk dulu, dan katakan apa yang baru saja terjadi sampai kau se.."

"Tolong maafkan aku hyung.. hiks ini semua salahku.."

.

.

S

.

.

Suara vas bunga yang baru saja di lempar membuat asisten Park sedikit berjengit, kepalanya semakin ia tundukkan. Tidak berani menatap si tuan muda yang seolah-olah ingin membakarnya hidup-hidup.

"Ck.. bagaimana bisa dia berada di rumah sakit sekarang!?"

"Maaf tuan muda, ini benar-benar di luar nalar kami. Sebelumnya kami sudah memberi tahu jika Tuan muda Taekwoon tidak berbicara hal lain-lain. Sepertinya Tuan muda Taekwoon sendiri yang menyebabkan ia masuk ke ru..."

"JADI KAU MENYALAHKAN HYUNG KU BEGITU!? BAWA DIA KELUAR DARI RUMAH SAKIT! Jangan sampai ada yang mengetahuinya MENGERTI!?"

"Baik.. Tuan muda, segera dilaksanakan."

"Keluarlah.. kau membuat moodku rusak hari ini asisten Park!"

"Saya minta maaf, permisi."

'blam'

Setelah pintu tertutup si Tuan muda mengerang sambil mengusap kasar wajahnya frustasi. Ia berfikir semua rencananya akan gagal begitu saja, kalau sampai pihak Rumah Sakit berhasil membantu kembalinya ingatan Taekwoon maka ia akan berurusan dengan polisi. Bisa saja hyung nya itu ingat apa yang tengah direncanakannya.

"Jisoo-ya.. Hakyeon membawa Taekwoon ke rumah sakit."

.

.

S

.

.

"Kenapa kau datang ke tempat seperti itu hm!?" Sanghyuk hanya bisa menundukkan kepalanya ketika Hakyeon mulai menaikkan nada bicaranya, matanya menatap tajam sekaligus khawatir pada sang adik.

"Maafkan aku hyung.. tadinya aku hanya iseng saja, aku tidak pernah menyangka bahwa aku akan ber.."

"Ya..Mana bisa orang menyangka jika nantinya ia akan tertimpa musibah Sanghyuk! Seharusnya kau izin terlebih dahulu padaku, jika kau masih menganggapku sebagai seorang kakak disini." Sanghyuk langsung menatap Hakyeon dengan air mata yang masih berjatuhan di pipinya.

"Hyung..."

"Kita bukanlah keluarga yang tinggal menikmati hasil lalu bersenang-senang! Semua mata sedang mengawasi kita! Kau harus mulai mengerti betapa sayangnya aku padamu, aku tidak mau kehilangan satu-satunya anggota keluarga ku yang tersisa." Hakyeon mulai berkaca-kaca, air mata yang ingin keluar ia tahan untuk berusaha tegar dan bijak. Eunji yang duduk disebelah Hakyeon hanya bisa diam tanpa berkata sedikitpun.

"Maafkan aku hyung.. kau boleh menghukumku sekarang.." Sanghyuk menghampiri Hakyeon yang duduk di kursi seberang, hampir bersujud di depannya kalau Hakyeon tidak menariknya kedalam sebuah pelukan.

"Semua sudah terlambat, ini bukan akhir.. tapi kita baru saja memulai perjuangan hidup." Air mata Hakyeon jatuh, pertahanannya runtuh.

"Berjanjilah untuk bersama hyung hingga akhir.. mengerti!?" Sanghyuk mengangguk dalam pelukan Hakyeon, mereka menangis bersama. Termasuk Eunji yang sedari tadi hanya menonton keduanya.

.

.

S

.

.

To Be Continued

Maaf ya updatenya lama banget, soalnya udah mulai sibuk sama kuliah. Aku bakal sempat-sempatin update di tengah kesibukkan ini. Tapi tidak pasti entah itu beberapa hari bahkan beberapa minggu. Terimakasih yang sudah support cerita ini, dan terimakasih juga yang sudah review.. maaf belum bisa menjawab review dari kalian. Kalau ada waktu aku bakal bales ya.. Oke sekian.. sampai jumpa di chapter selanjutnya.