Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rate : T
Pairing : NaruHina, Slight SasuHina
Genre : Angst/Hurt/Comfort
Warning : AU, Typo(maybe), maybe OOC, gaje, abal, ide pasaran, dll lah… masih belum paham*plak*
Summary : Uzumaki Naruto, seorang anak yang menderita penyakit kanker harus dirawat di luar kota selama setahun. Tetapi setelah kepulangannya, bukan kesembuhan yang didapat malah penyakitnya bertambah parah.
Don't like don't read
And don't flame ^^.
.
.
.
.
.
Really Hurts
Chapter 3
.
.
.
.
"Naruto..! Naruto..NARUTO…!" Kiba sangat panic melihat Naruto pingsan dengan hidung yang mengeluarkan darah. Teriakan Kiba membuat orang-orang di sekitar mereka penasaran dengan apa yang terjadi.
Merasa diperhatikan, Kiba mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dan benar saja, Naruto dan Kiba berada di tengah-tengah kerumunan orang. Tapi tidak ada seorangpun yang mau membantunya.
"APA YANG KALIAN LIHAT HAH…!" teriak Kiba. Kiba jadi emosi sendiri, bukanya mereka membantu malah hanya menonton saja.
Mereka masih saja tidak mau membantu Kiba dan hanya menonton saja, sampai seseorang berambut merah bermata hijau zambrut dengan tato 'ai' di dahinya datang menghampiri Kiba dan Naruto.
"Ada apa ini? HEI…Kiba apa yang kau lakukan pada Naruto?" tanya lelaki itu. Ya dia tidak lain dan tidak bukan adalah Sabaku Gaara –sahabat Naruto-. Gaara yang biasanya terlihat tanpa ekspresi, kini tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya melihat sahabat baiknya tak berdaya.
"Hei jangan salah paham dulu! Sudahlah, sekarang yang terpenting adalah kita harus segera membawa Naruto ke rumah sakit. Bantu aku mengangkat Naruto sampai mobil!"
"Ok, ayo kita pergi!"
Akhirnya Kiba dan Gaara mambawa Naruto ke mobil yang di bawa oleh Kiba. Kiba berada di depan untuk menyetir mobil, sedangkan Gaara berada di belakang untuk menjaga Naruto yang pingsan. Mereka menuju Rumah Sakit terdekat disana. Yaitu rumah sakit Konoha.
Ooo0O0ooO
"Kiba cepatlah sedikit!" kata Gaara tidak sabar.
"Hei sabarlah, kau mau aku mengebut lalu kita kecelakaan begitu? Tenanglah Gaara, aku juga sudah cukup cepat." Kiba mencoba menenangkan Gaara.
"Hn baiklah." ucap Gaara. Ia sudah sedikit tenang sekarang.
Sesampainya di rumah sakit, mereka segera membawa Naruto masuk ke ruangan UGD bersama para suster. Tapi sebelum mereka bisa masuk, salah satu perawat melarang mereka berdua untuk masuk. Akhirnya mereka hanya bisa menunggu di luar.
Keheningan tercipta antara Gaara dan Kiba.
"Sebenarnya ada apa? Mengapa Naruto bisa menjadi seperti itu?" Gaara memecah kesunyian.
"Haah.. Aku juga tidak tahu. Tadi kami hanya jalan-jalan keliling taman saja, tapi tiba-tiba Naruto menghentikan langkahnya lalu dia memegang dada dan kepalanya."
"Kemudian dia pingsan?" tebak Gaara.
"Ya." Kiba mengiyakan.
"Sebaiknya kita hubungi orang tua Naruto." usul Gaara yang langsung disetujui oleh Kiba.
Keheningan kembali tercipta sesaat setelah Gaara menghubungi orang tua Naruto. Kali ini Kiba yang memecah kesunyian yang ada.
"Hei Gaara."
"Hmm..?"
"Apa kita perlu mamberitahunya juga tentang keadaan Naruto?"
Gaara mengeryit heran. Tapi dia segera menangkap maksud dari Kiba.
Gaara PoV
Apa aku harus memberitahunya tentang keadaan Naruto seperti yang Kiba katakan? Entahlah. Aku hanya tidak ingin begitu Naruto sadar, Naruto melihatnya dan hatinya kembali sakit.
Aku tak tega.
"Entahlah." aku menjawab pertanyaan Kiba setelah beberapa saat keheningan kembali tercipta.
Hening. Lagi-lagi suasana kembali hening antara aku dan Kiba. Aku tidak berniat untuk memecah keheningan ini sampai seorang dokter berambut pirang dikucir dua kebelakang keluar dari ruangan Naruto. Disaat yang bersamaan aku juga melihat orang tua Naruto datang.
"Bagaimana keadaan Naruto dok?" tanpa pikir panjang aku langsung bertanya kepada dokter yang telah memeriksa keadaan Naruto.
"Maaf, siapa di antara kalian yang menjadi keluarga Naruto-san?"
"Kami orang tuanya dokter." paman Minato dan bibi Kushina langsung menjawab pertanyaan dokter tadi secara bersamaan.
"Baiklah, mari kita bicarakan keadaan Naruto-san di ruangan saya." dokter itu, yang kuketahui bernama dokter Tsunade mengajak paman Minato dan bibi Kushina ke ruangannya.
Ada apa ini?
Perasaanku tak enak.
Kami-sama jangan sampai sesuatu yang buruk terjadi pada Naruto.
End Gaara PoV
Normal PoV
Namikaze Minato dan Uzumaki Kushina. Di sinilah mereka sekarang, di sebuah ruangan yang bertuliskan 'Tsunade's Room'. Sebuah ruangan di salah satu Rumah sakit di Konoha, bersama seorang dokter yang tentu saja penghuni ruangan ini.
"Jadi bagaimana keadaan anak saya dok?" Minato memulai percakapan.
Dokter Tsunade menghela nafas berat sebelum menjawab pertanyaan Minato.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" bukanya menjawab, dokter Tsunade malah balik bertanya.
"Maksud dokter?" tanya Kushina-istri Minato- penasaran.
"Haah… Seharusnya penyakit kanker yang diderita Naruto-san sudah sembuh total." Tsunade mulai menjelaskan.
"Ya, dokter Kabuto yang merawat Naruto di Otogakure mengatakan bahwa Naruto sudah sembuh total." kata Minato mengiyakan.
"Jadi apa masalahnya dok? Ada apa dengan Naruto?" tanya Kushina tidak sabaran. Jujur, sebagai seorang Ibu Kushina sangat khawatir dengan keadaan Naruto. Terlebih Naruto baru saja sembuh dari penyakit mematikan yang ia derita.
"Begini, memang seharusnya Naruto-san bisa benar-benar sembuh total dari penyakitnya setelah menjalani perawatan selama setahun di Oto. Tetapi dengan catatan setelah kepulangannya, ia harus istirahat total dan tidak boleh banyak pikiran."Tsunade berhenti sejenak sebelum kembali menjelaskan.
"Tetapi, setelah saya periksa keadaan Naruto malah sebaliknya."
"Sebaliknya? Ya, Naruto memang banyak pikiran akhir-akhir ini." Minato menjawab.
"Jadi ada kemungkinan penyakit Naruto kembali dan bahkan bisa lebih parah?" tanya Kushina semakin khawatir. Perasaannya semakin tidak enak saja.
"Ya, penyakit kanker Naruto-san…-"
Ooo0O0ooO
Malam hari di kediaman Hyuga, mereka sedang menikmati makan malam bersama. Tapi ada satu tambahan anggota lagi di rumah itu. Ya Uchiha Sasuke tinggal di kediaman Hyuga setelah dirinya dan Hinata bertunangan. Tapi bukan berarti mereka tidur di satu kamar, itu salah. Mereka memang tinggal seatap, tetapi mereka tidur di kamar yang berbeda.
Mereka makan dalam diam sampai Sasuke meminta izin untuk pergi kekamar bersama Hinata.
"Aku sudah selesai, dan Hinata, kau ikut aku!"
"Hmm baik."
Sesampainya di kamar Sasuke, Hinata langsung ditarik dan disudutkan di tembok oleh Sasuke.
"A- ada ap-apa Sasuke-sa- maksudku Sasuke-kun?"
"Dimana?"
"Huh?"
"DIMANA CINCIN PERTUNANGAN KITA?" tanya Sasuke frustasi. Ternyata selama acara makan, Sasuke selalu memperhatikan jari-jari Hinata. Dia merasa marah karena ternyata Hinata tidak mengenakan cincin pertunangan mereka. Tetapi Hinata malah menggunakan cincin lain.
Ya, sebuah cincin berbentuk dua hati yang menyatu ditengahnya dengan warna biru shappire yang menghiasi dua hati di cincin itu. Cincin itu bukanlah cincin dari Uchiha Sasuke, melainkan dari seorang lelaki yang bernama Uzumaki Naruto.
"Ano etto… Cincin kita ada di-" Hinata mencoba menjawab dengan terbata-bata setelah beberapa saat ia terdiam. Tapi, belum semat Hinata selesai menjawab Sasuke sudah memotong perkataannya.
"Lepaskan cincin yang kau pakai itu!" Sasuke berkata datar setelah ia bisa sedikit menenangkan dirinya. Ia memperhatikan cincin yang Hinata kenakan itu. Sasuke berpikir, apa kelebihan dari cincin bodoh itu? Apakah cincin itu jauh lebih mahal dari cincin pemberiannya? Entahlah, hanya Hinata yang tahu.
Hinata terbelalak mendengar penuturan Sasuke. Hinata harus melepaskan cincin itu? Cincin dari seorang Uzumaki Naruto?
Tidak.
Dia tidak mau.
Dia tidak mau mengingkari satu janji lagi bersama Naruto.
Sudah cukup Hinata mengingkari janji bersama Naruto dengan meninggalkannya.
Dia tidak mau melepas cincin itu.
Tidak mau.
Dan tidak akan pernah mau.
"Hinata-chan, maukah kau berjanji padaku?"
"Hmm..? Janji apa Naruto-kun?"
"Jangan pernah kau lepas cincin dan kalung kita! Ok?"
"Ya, aku akan berjanji akan tetap memakai kalung dan cincin kita apapun yang terjadi."
"Janji?"
"Janji."
"TIDAK!" Hinata menolak keras. Bulir-bulir air mata jatuh membasahi mata lavendernya. Ia tidak mau melepaskan satu-satunya barang yang paling berharga yang pernah ia miliki. Segera saja ia dorong tubuh Sasuke dengan keras, menyebabkan Sasuke harus mundur beberapa langkah.
"KAU BERANI MEMBANTAHKU HAH?" Sasuke kembali frustasi, ia menarik tangan Hinata agar Hinata kembali terpojok di dinding kamarnya dan…
PLAK
Hinata merasakan rasa sakit dan panas yang menjalar di pipi kirinya. Uchiha Sasuke telah menampar tunangannya sendiri. Ia telah menampar Hyuga Hinata.
Hinata tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa menangis. Sasuke memegang tangan kiri Hinata dan melepas paksa cincin yang Hinata kenakan.
"Hiks..akkhh sa-sakit hiks…" jarinya terasa perih karena Sasuke telah melepas cincin Hinata dengan paksa sehingga jari Hinata tergores oleh cincin itu dan mengeluarkan darah segar. Lagi, dengan paksa Sasuke memasangkan cincin pertunangannya di jari manis Hinata. Tentu saja membuat rasa perih di jari Hinata semakin terasa.
"Jangan pernah kau mengenakan cincin lain selain cincin perberian dariku atau aku akan mematahkan jari-jarimu!" ancam Sasuke.
"Sudah..hiks..cu- CUKUP!" dengan segenap kekuatan yang ada Hinata kembali mendorong Sasuke. Dan itu membuat Sasuke kembali mundur beberapa langkah. Kesempatan kali ini tidak disia-siakan oleh Hinata. Segera saja ia berlari keluar kamar Sasuke.
"Hinata tunggu du-" Sasuke mencoba mencegah Hinata keluar tetapi sudah terlambat.
BLAM
Hinata menutup pintu kamar Sasuke dengan cukup keras. Selepas kepergian Hinata, Sasuke langsung mengerang frustasi.
"ARGHH…! Apa yang telah kulakulan? Dasar bodoh!" maki Sasuke pada dirinya sendiri. Sebenarnya ia menyesal. Menyesal telah menampar Hinata dan menyebabkan jari Hinata terluka. Entah apa yang dipikirkannya. Yang jelas, ia sangat marah dan emosi saat melihat Hinata memakai cincin pemberian orang lain. Hatinya terasa panas saat Hinata menolak untuk melepaskan cincin itu.
Cincin yang Hinata kenakan sebelumnya tidak lebih mahal dari cincin pemberian Sasuke. Tapi mengapa? Mengapa Hinata lebih memilih mengenakan cincin itu? Yang ia tahu cincin itu adalah cincin permberian seseorang yang bernama Naruto. Siapa sebenarnya lelaki itu? Apakah Naruto adalah orang terpenting di kehidupan Hinata?
Banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepala Sasuke. Ia jadi pusing sendiri memikirkannya.
'Uzumaki Naruto. Sebenarnya siapa dirimu?'
Ooo0O0ooO
Rumah Sakit Konoha
Minato dan Kushina baru saja keluar dari ruangan Tsunade. Mereka berdua nampak begitu terpukul setelah mendengar penjelasan dari dokter Tsunade.
"Hiks..hiks..Naru-chan..hiks.." Kushina tidak bisa membendung air matanya lagi. Diapun menangis di pelukan suami tercinta.
Gaara dan Kiba yang melihat mereka berdua keluar dari ruangan Tsunade, langsung menghampiri mereka dan bertanya tentang keadaan Naruto.
"Bagaimana keadaan Naruto?" Gaara bertanya mendahului Kiba. Ya Gaara sangatlah khawatir akan keadaan sahabatnya itu. Terlebih setelah melihat Kushina yang menangis, ia jadi semakin khawatir.
"Dia akan dipindah ke ruang rawat, sehingga kita bisa melihat keadaannya." jelas Minato. Bersamaan dengan itu, nampak para perawat keluar dari ruang UGD dengan membawa Naruto yang pingsan di atas tempat tidurnya.
"Syukurlah. Jadi, Naruto baik-baik saja?" tanya Kiba. Sebelum Minato sempat menjawab, Gaara kembali bertanya.
"Keadaan sebenarnya?"
"Naruto- dia…" Minato mencoba menjelaskan. Tetapi rasanya sulit sekali untuk memberitahukan keadaan anak satu-satunya itu.
"Ya? Ada apa dengan Naruto paman? Katakan yang sebenarnya!" tanya Gaara lagi, perasaannya semakin tidak enak saja. Sedangkan Kiba hanya diam tidak mengerti. Karena setahunya Naruto akan baik-baik saja.
"Sebenarnya, kanker di otak Naruto memasuki stadium tiga." jelas Minato akhirnya.
"Tiga? Bukankah sebelumnya baru stadium dua? Itu berarti penyakit Naruto bukannya sembuh malah bertambah parah?" kali ini Kiba yang buka suara. Dia sudah mengerti keadaan.
"…" Minato hanya diam, tetapi ia menganggukkan kepalanya.
"Tidak mungkin. Ini TIDAK MUNGKIN BISA TERJADI!"
PRANK
.
.
TBC
.
.
Fiuh.. –nengok fict di atas-
Gimana minna? Masih pendek ya? GOMEEENNN….. T.T
Ini juga uda Nessa panjangin dikit.
Chap depan Nessa janji bakal manjangin nih fict.
Oh iya, kayaknya chap 2 agak mengecewakan yah?
Haah… sudahlah, mending Nessa bales Review ^^
-Yuki : Iya Yuki-chan…Nessa bakal berusaha buat manjangin chapter-chapter berikutnya ^-^ thx udah review. Mind to Review again?
-Uchiha Murasaki : Gooommmeeeennn…. Uchiha-san. Nessa lagi terserang virus sarap-?- yang ditularin ma temen-temen di kelas Nessa =.=
Jadi gini deh..Nessa malah nyelipin Humor garing di fict bergenre Hurt/Comfort ini…hueee-mewek- gomen ya? *bungkuk-bungkuk*. Nih uda update.
Thx udah review. Mind to Review again?
-Earia : Makasih uda bilang fict Nessa keren :3 iya nih… Nessa sadar kalau fict Nessa terlalu pendek =.=. Thx udah review. Mind to Review again?
-Hiru'Na' Fourthok'og : Iya Hinata OOC =.= . Sebenernya Naruto uda sembuh. Tapi gara-gara kebanyakan pikiran –mikirin Hinata- jadi tambah parah penyakitnya. Wah wah…firasat apa nih?
Hmm*manggut-manggut* ok Nessa paham. Thx udah review. Mind to Review again?
-Lovely Orihime : Yeah..gimana? judulnya pas ngga nih? Oh ya nih uda update
Thx udah review. Mind to Review again?
-Mizukichan Aino Yuki : Nih udah Update…Naruto belum mati lah… Nessa pengen nyiksa Naruto dulu khukhukhu *Dikeroyok Naruto FC* Heeee? Itu mah ide Nessa :P disini Nessa emang bikin Sasuke suka ma Hinata, tapi ngga tau nanti Sasuke cinta atau ngga ma Hinata.
Iya gapapa panggil Nessa ^^ wanna be ur friend? Sure *jabat tangan*
Thx udah review. Mind to Review again?
-Rhyme A. Black : Chapter 1 : Halo Rhyme-senpai(?).. Salam kenal juga.^^
Makasih atas kritikannya. Nessa seneng banget ada yang mau mengkritik fict Nessa :D
Iya Nessa salah nulis itu =.= gomen. Uchiha ya? Pantesan pas baca nama Sasuke ada yang aneh gitu hehe-alasan-.
Waaah..Rhyme-senpai suka lagu India ya? Jangan-jangan lagi ngedengerin lagu Chaiya-chaiya lagi*-PLAK-emang chaiya-chaiya lagu mellow?*
Emang endingnya buru-buru hehe =.=a Nessa selalu bingung kalau uda bagian ending
Dan Rhyme-senpai, masa lalunya NaruHina tuh pas masa-masa SMA gituh…iya Nessa juga bingung pas ngetik 'pria'. Tadinya Nessa juga pengennya Naru pergi selama 3th, tpi kayaknya kelamaan deh. Arigatou Kritik dan Informasinya…
Chapter 2 : Well, Nessa emang agak bingung pas nulis chap duanya, jadi sering pindah-pindah setting T.T. Kalau chap tiganya gimana? Masih terlalu sering pindah-pindah setting nggak?
Thx udah review. Mind to Review again?
Kyaaa… Nessa seneng banget karena yang ngereview tambah *_*
I LOVE YOU ALL :*
REVIEW PLEASE
*Puppy Eyes*
