Chapter 3 : Kesaksian Korban

Hari Senin, upacara bendera harus dilakukan. Bedanya, jelas. Bendera Jepang yang berkibar. Bukan bendera negara lain. Lagu kebangsaan? Ya, Kimigayo. Bukan yang lain.

Di luar pagar adalah orang-orang yang terlambat. Diantaranya Joe, seperti biasanya. Itu kebiasaannya sejak SMA.

Di tingkat dasar, Takato lolos dari keterlambatan dan bisa mengikuti pelajaran. Saat itu adalah pelajaran Matematika. Pelajaran yang mitosnya adalah pelajaran tersulit. Gurunya adalah seorang ibu-ibu yang mungkin umurnya kepala 5. Guru senior.

Di tengah pelajaran, sang guru berbicara, "Ada yang ingin bertanya?"

Takato mengangkat tangan dan menyampaikan pertanyaannya. "Ibu..."

"Ya, Takato. Silakan bertanya."

"Boleh saya pergi ke kamar kecil?" Teman sekelasnya menatapnya. Pasalnya, guru itu tidak pernah memperbolehkan siswanya keluar saat jam pelajaran.

"Maaf, kamu harus ikut jam pelajaran saya dengan lengkap. Tidak boleh keluar saat jam pelajaran. Semoga kamu bisa menahannya."

Takato mulai tegang. Dia mengambil HP dan menelepon nomor Tai. Saat itu adalah jam 10. Masih 2 jam sebelum waktu pulang sekolah.

Tai ternyata sedang waktu bebas. Guru yang bersangkutan tidak hadir, sehingga dirinya bisa mengangkat telepon dari Takato.

"Halo?" Tai memulai dialog.

"Tai, kau bolos? Kenapa kau bisa mengangkat telepon?" Takato berbisik.

"Tidak, guru disini tak datang. Ada apa?"

"Aku harus ke kamar kecil."

"Yassalam... Izin ke guru kamu!"

"Dia keras kepala! Tidak diperbolehkan!"

"Kau tahan saja. Oh ya... Guru kamu kalau pulang lewat mana?"

"Rumahnya menyeberang ke Odaiba."

"Kalau begitu, kita harus melakukan Salam Jasmani."

"Senam Jasmani? Kau mau olahraga?"

"Kamu ada gangguan telinga? Maksudku Salam Jasmani. Tidak, itu sebuah istilah untuk... "

"J-jangan, nanti kita semua kena! Itu maksudnya itu kan...? "

"Tepat sekali! Sudah dulu ya..."

2 jam kemudian, Takato langsung keluar dari kelas dan menuju ke kamar kecil. Luar biasa. Penuh tempatnya. Takato langsung lari ke Markas Besar sembari menahan keperluannya.

Di lapangan, mereka berbaris. Namun, Tai melihat seseorang merapat ke semak di taman bermain. Dia membawa tas coklat dan baju biru. Tai mendekatinya dan segera menarik tasnya.

"Ayo loh... Mau menyebarkan saringan ginjal di taman ini? Sini kamu!"

"Ampun, Tai... Ampun... "

Takato dihadapkan kepada barisan. Tai langsung berbicara, "Kamu ini! Kayak anak kecil saja. Mengerti umurmu dong! Kamu tidak malu dilihat orang?"

"Malu, Tai... Karena mereka bisa melihat..."

"Apa? Maksudmu... "

"Iya, ritsletingnya belum ditarik."

Semua orang sontak balik kanan dan menutup mata. Namun, ada hal tidak baik yang dilakukan Tai, yaitu dia malah tertawa melihat kejadian itu. Pemimpin macam apa itu?

"Aduhai, tak patut..." Matt berkomentar. "Benar, benar, benar" T.K. langsung meneruskan.

"Apa kalian? Eh... Aduh, apa yang kulakukan?"

""Kamu ini copet mata, Tai. Bisa lebih berbahaya dari copet tangan."

"Sudah, langsung kita tanya saksi tentang kejadian itu!"

Tak lama kemudian, mereka mengumpulkan korban copet di Markas Kecil, tepatnya di rumah keluarga Izumi, agar Izzy bisa mencatat kesaksian mereka.

"Kami sedang berolahraga. Tas kami ditinggalkan di kelas. Memang kami jarang membawa HP ke lapangan. Kami takut HP itu jika disakukan akan jatuh. Tetapi, saat kami kembali ke kelas, HP-ku sudah hilang. Selain itu, beberapa temanku juga kehilangan benda lain seperti dompet, arloji, dan masih banyak lagi."

Izzy mencatat kesaksian itu lalu membacakan prakiraan kasusnya.

"Jadi, menurut kesaksian tersebut, disimpulkan hipotesis..."

"Hipotesis itu Bahasa Inggris dari kuda nil, bukan?" T.K. mendadak memotong.

"Itu hippopotamus. Ini hipotesis. Baik, jadi menurutku, mungkin si copet ini memiliki berbagai metode mencopet. Bisa memanfaatkan kelengahan korban ataupun memantau situasi yang pas."

Lalu, apa taktik mereka untuk menghentikan para copet?

Preview Chapter 4:

Matt memakai tas yang sudah dia pakai sejak SD. Hal itu menyebabkan tasnya mulai rusak ritsletingnya. Belum lagi jam olahraga para DigiDestined di hari Selasa besok. Apa yang akan terjadi?

Pertanyaan hari ini:

Tai sering menandakan rasa terkejut dengan kata-kata khas Indonesia. Berikut diantaranya, kecuali...

A. Hueladalah
B. Yassalam
C. Tobat
D. Ampun

Jawaban edisi lalu:

A. Joe tidak memakai baju ke sekolah

Di cerita, tidak ada indikasi bahwa Joe berpakaian. Jadi, yassalam... Itu yang aneh rupanya...