Di sudut sebuah cafe tengah kota terlihat sepasang kekasih yang sedang menghabiskan waktu berduanya. Menghabiskan waktu seperti yang berwajah imut seperti kelinci sibuk bermain dengan ponselnya, dan satu lainnya membunuh waktu dengan memperhatikan kekasihnya sesekali mendengus, mengerucutkan bibirnya, dan akhirnya tersenyum tipis melihat kelakuan namja di depannya yang mulai meletakkan ponselnya kembali ke meja.
"Hmmm, hyung sibuk?" Jaehyun bertanya dengan nada yang tenang, tidak ada nada kekesalan atau marah di dalamnya. Ia sungguh namja yang sangat penyabar. Tak lupa senyum selalu terpatri di wajah tampannya.
"Jaehyuniee, maafkan aku mengabaikanmu daritadi. Ya kau tahu, ada beberapa hal yang harus kuurus sebelum aku mulai magang di rumah sakit." Doyoung memberikan tatapan rasa bersalahnya pada Jaehyun. Hanya sebentar, lalu kemudian mulai mengambil ponselnya kembali karena ada bunyi pesan masuk.
"Apakah pesan yang masuk pada ponsel hyung juga sangat penting?" Jaehyun kembali bertanya, sambil menyeruput Americano-nya.
"Neee, ini temanku yang akan ditugaskan di rumah sakit yang sama denganku..." Doyoung menjawab tanpa menatap Jaehyun.
"Hyungieeeee, sudah dong main ponselnya..." Jaehyun mulai menunjukkan mood nya yang terganggu karena daritadi ia diabaikan oleh kekasihnya.
"Sebentar sedikit lagi, nah sudah selesai. Hmm jadi Jaehyunieee kita akan pergi kemana hari ini? Apa kau mau mengantarkanku ke toko pakaian?" Doyoung meletakkan kembali ponselnya dan menatap Jaehyun dengan wajah memohon. Dasar kelinci licik.
"Call ! Tapi habiskan cake ini dulu manis, ayo coba buka mulutmu.. Aaaaa..." Jaehyun akhirnya bisa tersenyum bahagia, ia juga mulai mencoba menyuapi Doyoung cake kesukaan kekasihnya itu. Hmm rasanya ia ingin membuang ponsel Doyoung saja daritadi.
"Aaaaaa... hmm manis, kau harus mencobanya juga Jaehyunieee, ayo buka mulutmu..." Doyoung mulai memperhatikan Jaehyun kembali dan mereka akhirnya bersuap-suapan ria.
Setelah menghabiskan waktu yang lama untuk berbincang di Cafe akhirnya mereka beranjak. Keduanya keluar Cafe dengan bergandengan tangan. Doyoung bergelayut manja pada Jaehyun, dan Jaehyun hanya bisa mengusak gemas rambut Doyoung. Tiba-tiba mata Doyoung bersinar ketika melihat Toko aksesoris sampai menarik Jaehyun untuk masuk ke dalamnya. Di sana mereka menghabiskan waktu untuk bersenang-senang dan melupakan sejenak beban pikiran mereka. Tertawa sesuka hati karena saling mencoba aksesoris couple dan berfoto bersama. Jika dilihat mereka sungguh pasangan yang sangat bahagia. Keduanya menghabiskan waktu berdua hari itu, menjelajah kota, berjalan-jalan dan tidak lupa Jaehyun menepati janjinya untuk mengantar Doyoung pergi ke toko pakaian.
Taeyong POV
Pagi hari. Aku perlahan membuka mataku karena sudah seharusnya jika pagi hari harus bangun tidur. Masih dalam posisi miring, aku mencoba mengingat mimpiku semalam, mengingat hari apa ini, mengingat apa yang harus kulakukan hari ini. Butuh waktu beberapa menit untuk mengembalikan kesadaranku sepenuhnya. Aku mengganti posisi tubuhku menjadi duduk, memeluk kedua lututku karena pagi ini dingin sekali, meraih segelas air yang selalu kusiapkan di nakas dan meminumnya. Ketika mengembalikan gelasnya ke nakas, aku melihat ponselku. Huft. Aku jadi ingat, sudah beberapa hari ini Jaehyun jarang mengirimiku pesan, ia sedang bersenang-senang dengan kekasihnya. Jelas, karena ia mempunyai kekasih, tidak sepertiku. Tanganku meraih ponsel itu dan menyalakannya, berharap jika ada pesan selamat pagi darinya atau setidaknya balaslah pesanku yang kukirim tadi malam. Namun, aku hanya bisa tersenyum tipis karena dari sekian banyak pesan masuk, tidak ada pesan atas namanya. Tanganku sudah gatal ingin mematikan lagi ponselku tetapi tiba-tiba ada panggilan masuk. Panggilan dari sahabat sekaligus tetangga apartemenku.
"Ya, halo Chittapon. Ada apa?" Suara serak khas tidurku masih belum hilang, padahal aku sudah meminum air.
"Sudah cukup tidurnya princess. Sekarang cepat mandi, ganti baju, dan sarapan. Aku akan berada di depan apartemenmu satu jam lagi. Tidak perlu protes." Wow. Ten sangat to the point.
"Hah? Sebentar... Bukannya hari ini libur tidak ada kuliah? Aku ingin bermalas-malasan di rumah. Kau akan membawaku kemana? Yak !"
"Sudah kubilang. Tidak. Ada. Protes. Cepat sana bersiap. Aku tutup ya, bye!" peep. Sial, Chittapon tidak akan membiarkanku tidur hari ini. Apa ia akan membawaku jalan-jalan karena aku stress memikirkan temannya itu? Hmm semoga aku bisa bersenang-senang hari ini.
Akhirnya setelah berguling-guling melawan rasa malas di otakku, aku segera beranjak untuk mandi, ganti baju, dan sarapan seperti kata Chittapon. Ketika sibuk bersiap-siap banyak sekali hal-hal menyenangkan yang hinggap di kepalaku. Aku ingin melakukan berbagai hal dengan Chittapon hari ini, dan itu semua harus terwujud. Tak terasa tiba-tiba sudah ada yang memencet bel apartemenku. Itu dia Ten. Setelah kuamati ruangan, mengecek jika tidak ada barang yang tertinggal, aku lalu pergi keluar menemui Ten dan akhirnya berangkat bersamanya. Taeyong sengaja meninggalkan ponselnya mati di kamar. Ia hanya tidak ingin memikirkan Jaehyun terlalu dalam hari ini.
"Ten, ajak aku bersenang-senang hari ini.." Ucapku pada Ten ketika kami masuk ke lift untuk turun ke bawah.
"Absolutely, hyung ! Jangan seperti orang putus asa yang mengurung diri di kamar saja. Whooo..." Ejek Ten sambil memeletkan lidahnya.
"Yak, sialan." Aku hanya bisa mengerucutkan bibirku mendengar ucapan Ten yang terasa benar di telingaku.
"Hyunggg aku kan hanya berniat untuk mengajakmu ke cafe yang baru opening hari ini..." Ten berucap dengan nada menggodaku.
"BENARKAH?! APAKAH PENUH COKLAT?" Rasanya mataku langsung berbinar bahagia ketika Ten menyebut kata Cafe.
"Lihat sendiri saja nanti hyung, ayo cepat berjalan sebelum hujan, ini sudah mendung.." Ten segera menarikku untuk berjalan lebih cepat menuju cafe incaran kami.
Setelah beberapa waktu berjalan sambil bercanda gurau, kami tiba di depan Cafe yang memiliki arsitektur indah. Ternyata Ten tidak salah memilih tempat, tipeku sekali. Sayangnya, ada tanda "CLOSE" tergantung di pintu utama. Seluruh Cafe padam tanpa terihat orang berlalu lalang di dalamnya. Huft. Gagal menikmati sajian Cafe terbaru. Sebenarnya kami kecewa, dan karena Ten berjanji akan membahagiakan aku hari ini, ia mengajakku pergi ke Cafe langganan kami. Kebetulan aku lama tidak kesana, karena tugas dan ujian yang menghadangku kemarin.
"Hyung, ayo ke Cafe Chanyeol hyung saja.." ajak Ten dengan semangat.
"Geureu, aku rindu suasana live music disana.." Aku akhirnya membalas senyuman Ten dan menggandeng tangannya, menariknya agar berlari kecil.
Ketika ku ingat bahwa semalam mimpi apa yang sebenarnya aku peroleh. Apakah dalam mimpi itu aku melakukan hal ceroboh? Atau kemarin aku tertawa berlebihan mengenai suatu hal? Apa aku menggoda seseorang sampai keterlaluan kemarin? Lantas untuk hal apa aku harus menerima kesialan siang ini. Sudah Cafe baru tutup, dan sekarang apa ini. Rasanya aku tidak bernafsu lagi main ke Cafe. Aku hanya bisa berdiam diri agak jauh dari Cafe Chanyeol hyung. Aku melamun dan Ten berusaha menyadarkanku dengan menggoyang-goyangkan bahuku.
"Hyunggg kenapa melamun sih, ayo masuk..." Ten berusaha menarik pergelangan tanganku tapi kakiku sudah lemas dan tidak berdaya untuk menuruti namja Thailand itu.
"Eungg Ten-ah lebih baik kita ke tempat lain.." Aku berusaha menanggapi ajakan Ten dengan senyum yang terlihat sangat terpaksa, karena mata senduku mengatakan hal lain.
"W-waeyooo...?" Ten yang sepersekian detik langsung bisa membaca arti mata senduku. Ia tahu ada yang tidak beres denganku, ia jadi memperkecil volume suaranya.
"Hmm, tidak enak saja.." Aku hanya menjawab seadanya, yang menurutku adalah jawaban paling baik. Aku juga berusaha menggerak-nggerakkan mataku agar Ten tahu apa yang sebenarnya ingin aku beritahukan kepadanya.
"Whoahhh, sepertinya memang kita tidak boleh kemari, kajja hyung sebelum mereka tahu keberadaan kita.." Ten mengikuti gerak mataku menuju balik kaca Cafe yang sangat terlihat jelas, dua sejoli sedang bermesraan. Aku dan Ten kemari bukan untuk mencari masalah ataupun memperkeruh moodku, dan karena itu Ten sangat buru-buru sekali menarikku pergi. Whoah Kim Doyoung pujaan Jaehyun, aku baru pertama kali melihatnya secara langsung.
"Hyung kau tidak apa-apa kan?" Ten berusaha menanyakan jika aku baik-baik saja atau tidak. Kami sedang berjalan menuju Toko Aksesoris tengah kota karena ya Cafe membenci kami hari itu.
"Aku tidak apa-apa. Memangnya aku kenapa?" Aku menjawab sekaligus tersenyum bohong. Mengapa aku menjadi berbohong seperti ini. Sudah jelas sekali Chittapon jika wajahku mengatakan yang sebaliknya.
"Hmm aku tahu kau sedang tidak baik-baik saja. Hyung kau berjanji akan bersenang-senang denganku. Maafkan dari tadi rencana kita kacau balau seperti ini..." Tidakkkk, Ten-ahh ini bukan salahmu, ini hari sialku saja mungkin.
"Aniyoooo, yakk jangan minta maaf. Hey bukankah kita masih punya beberapa rencana hmm? Taraaa kita sudah sampai di toko aksesoris!" Nada bicaraku kubuat sedemikian riang agar Ten tidak merasa bersalah lagi, sebisa mungkin aku membuatnya melupakan segala permintaan maafnya dengan menjelajah toko aksesoris ini.
"Hyunggg.. hyungg coba lihat topi kucing ini ! Coba pakai ! Ahhh pasti kau terlihat sangat imut.." Ten sudah kembali ke mode mood senangnya dan berusaha memakaikanku topi kucing yang dimaksudnya. Hmmm, memang dasar aku adalah namja cantik dan juga tampan pasti memakai apapun akan terlihat lucu. Kuperhatikan wajahku di kaca, membuat beberapa ekspresi wajah dan mengajak Ten untuk ikut denganku. Kami gila-gilaan di depan kaca dengan mencoba berbagai aksesoris yang ada dan tertawa bersama. Setelah beberapa waktu kami tertawa lepas, kami lelah dan akhirnya mencoba mencari Cafetaria terdekat untuk mengisi perut kosong kami. Sebelumnya kulepaskan topi kucing lucu itu dan secara tidak rela menaruhnya kembali sebelum kami keluar dari toko tersebut. Kapan-kapan akan kubeli hehe.
Setelah puas mengisi perut kosong, kami tergoda dengan toko pakaian yang sedang promo besar-besaran di sebrang Cafetaria. Hmmm. Aku sebenarnya ingin hemat tapi promo tidak setiap hari terjadi. Maka dari itu kami cepat-cepat menuju ke surga promo tersebut. Mataku dan Ten berbinar-binar dengan isi toko pakaian ini. Daebak. Dasar tukang belanja, lihat yang bagus sedikit langsung ingin dibawa pulang. Aku berpencar dari Ten, kami sibuk memilih-milih pakaian yang sesuai dengan tipe kami masing-masing. Aku membawa beberapa yang menurutku cocok dan pergi ke bilik ganti untuk mencoba beberapa potong baju itu.
Jaehyun POV
Rasanya bahagia, akhirnya aku bisa berjalan-jalan hari ini dengan kekasihku. Tadinya aku sempat kesal karena bukannya sibuk memperhatikanku tetapi Doyoung hyung malah asyik bermain ponsel. Aku tapi akhirnya mengerti kalau itu hal penting untuk Doyoung hyung, aku mengalah untuk diam memperhatikannya. Sekarang lihat kelinci hiperaktif ini sudah kembali. Ia berjalan girang sambil menggandengku sepanjang jalan. Aku harap jalan ini panjang tetapi kita sudah sampai di depan toko aksesoris yang ingin sekali Doyoung hyung kunjungi dari dulu. Memang, toko ini isinya adalah tipe Doyoung hyung sekali, segalanya tentang keimutan. Aku sebagai namja sejati kurang begitu suka dengan benda-benda fluffy seperti disini, makanya dari tadi aku hanya bisa mengikuti Doyoung hyung berkeliling dan tersenyum manis ketika ia mencoba beberapa aksesoris, aku tersenyum karena Doyoung hyung yang manis. Hmm. Setelahnya dunia Doyoung hyung serasa ditelan oleh toko aksesoris ini, ia sudah berkeliaran entah kemana. Aku lalu memutuskan untuk melihat-lihat ke berbagai macam rak untuk menghabiskan waktuku. Tiba-tiba tanganku tergerak untuk menggapai topi kucing yang menarik perhatianku. Mengingatkanku pada seseorang.
"Uwahhh, Taeyongie pasti akan sangat imut jika memakai topi ini.." Aku tersenyum sendiri ketika membayangkan Taeyong hyung memakai topi ini. Kucingku yang manis. Aku mengambil gambar topi kucing itu dan mengirimkannya pada Taeyong hyung. Sekaligus aku akan membelikannya. Aku membawa topi itu dan juga sebuah chokker yang pasti akan seksi jika dipakai Taeyong hyung. Membawanya ke kasir cepat-cepat untuk membayarnya sebelum Doyoung hyung tahu.
Setelah membayar belanjaanku aku menunggu Doyoung hyung dengan duduk di kursi yang telah disediakan di depan toko aksesoris. Aku memainkan ponselku berharap jika Taeyongie akan membalas pesanku, tetapi di read saja belum. Huft. Betapa asyiknya jika ia cepat membalas seperti biasanya. Aku memakluminya, mungkin Taeyongie sedang tidur panjang karena beberapa hari kemarin ia banyak ujian dan tugas. Aku akan mengejutkannya nanti malam. Tanpa sadar bibirku tersungging jahil.
"Maaf Jaehyunieee, kau bosan ya? Kau kan tidak suka tempat aksesoris seperti ini.." Aku terkejut karena tiba-tiba Doyoung hyung keluar dan memeluk leherku dari belakang.
"Aniii, aku hanya membereskan beberapa urusan dengan temanku hyung..." Jaehyun tersenyum kecil sambil mengusap sayang lengan Doyoung yang melingkar di lehernya.
"Hmm..Baiklah Jaehyunieee, sekarang kita ke toko pakaian incaranku okay?" Doyoung hyung menggoyang-goyangkan tubuhku ke kanan dan ke kiri. Manja.
"Baik princess, pangeran sudah siap untuk mengantar.." Jawabku sambil beranjak dari duduk dan tidak lupa mengambil bungkusan aksesoris untuk Taeyongie. Doyoung hyung menatap bungkusan itu bingung dan akhirnya bertanya padaku.
"Kupikir kau tidak suka dengan aksesoris lucu seperti ini Jaehyunie, tapi kau membeli beberapa?" Doyoung hyung bertanya penuh selidik. Seketika keringat dingin bertempur di tengkukku, aku mencari jawaban semasuk-akalnya.
"Eung ini, Ten hyung titip padaku. Untuk kado temannya." Aku berusaha menjawab dengan baik. Diikuti anggukan dan senyuman dari Doyoung hyung. Ia akhirnya menarikku buru-buru menuju toko pakaian incarannya. Langit sudah mendung, kami takut kehujanan.
"Hmm pantas kau mengajakku kemari, karena sedang promo ya hyung?" Tanyaku menggoda Doyoung hyung yang sudah cengingisan di hadapanku.
"HEHEHE, Jaehyunie tahu saja. Kebetulan aku juga akan membelikan sepotong pakaian untuk kado temanku.." Doyoung hyung menjawab dan ia sudah sibuk dengan dunia "mari memilih pakaian mana yang paling baik" dan aku? Jangan tanya. Aku diabaikan lagi.
Aku hanya bisa mengikuti Doyoung hyung dari belakang, sesekali menimpali pertanyaannya tentang
"Jaehyuniee bagaimana dengan yang ini?"
"Apakah ini bagus Jaehyuniee?"
"Jaehyuniee apa ini pantas jika kupakai?"
Hmmm... aku hanya bisa mengangguk dan tersenyum. Apapun yang Doyoung hyung inginkan sudah pasti kuanggap bagus, ya karena aku sayang Doyoung hyung. Lama-lama mengantuk juga jika hanya mengikutinya seperti ekor. Agar tidak semakin mengantuk aku mencoba mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk mencari hal yang lebih asyik daripada harus ikut memilih pakaian untuk kado teman Doyoung hyung.
GOT IT..
Itu dia. Tiba-tiba saja kantukku hilang melihat seseorang yang aku kenal masuk ke dalam bilik. Mimpi apa aku semalam bisa kebetulan bertemu dengannya disini. Hmm, aku akan mengerjainya. Aku ingin segera menyusulnya ke bilik tetapi panggilan Doyoung hyung membuatku menoleh dan menghentikan langkahku.
"Jaehyuniee.."
"Ne hyung?" aku hanya menjawab Doyoung hyung singkat, sesekali menoleh ke bilik. Memastikan jika orang itu tidak tiba-tiba hilang.
"Coba kau pakai ini.. Kupikir baju ini sangat pas di tubuhmu.." Doyoung hyung menyodorkan beberapa pakaian padaku untuk kucoba. Wah kebetulan sekali.
"Hmm begitukah? Aku akan mencobanya kalau begitu hyungiee.." Ucapku dengan nada sangat riang.
"Geure..aku akan pergi ke toilet dulu ya, kau coba saja bajunya.." Doyoung hyung lalu beranjak kecil sampai menghilang dari hadapanku. Akhirnya aku tersenyum licik, membawa beberapa potong baju tadi dan masuk menghilang ke dalam sebuah bilik.
Taeyong POV
Kyaaa baju-baju ini sungguh style ku sekali. Selain promo juga bahannya bagus. Hmm aku tidak akan menyesal membeli beberapa nanti. Aku sibuk mencoba beberapa baju di bilik ganti, dan kini mungkin ini sudah baju ke-lima ku. Sebuah kemeja panjang. Aku mencoba memakainya dan kulihat lengannya sangat panjang. Kemeja ini sangat besar hmm. Aku fokus untuk mengaitkan beberapa kancing kemeja tersebut tanpa kusadari tiba-tiba ada sepasang lengan melingkar hangat pada perutku. Menghantarkan perasaaan menggelikan ke dalam perutku. Beberapa kecupan di leher kudapat. Aku sangat pandai menghafal fitur orang lain. Dan fitur serta aroma ini adalah yang paling kuhafal di luar kepala. Aku masih fokus untuk mengaitkan beberapa kancing tanpa harus menoleh pada pemilik tangan besar ini.
"Kenapa kau bisa menemukanku, kau mengikutiku?" Tanyaku tanpa menoleh.
Cupp..Cupp..Cupp beberapa kecupan mendarat di leherku. Geli sekali.
"Hmm...insting?" Shit suara serak berat ini.
"Tuan Jung sebentar lepaskan pelukanmu, aku sedang mencoba kemeja ini.." Kusingkirkan halus tangan yang melingkar erat di perutku. Aku memberanikan diri menatapnya lewat kaca besar di depan kami. Berusaha kembali mengaitkan beberapa kancing yang tadinya sudah ia pasang tetapi tangan nakal Jaehyun membuka kaitannya.
"Baiklah aku juga akan mencoba beberapa baju.." Dasar Tuan Jung yang tak tahu diri. Begitu santainya ia membuka kaosnya mempertontonkan perut bagusnya yang terpantul di kaca depan. Sial, aku malu melihatnya. Ahh wajahku menjadi panas kan. Lihat wajahku memerah. Aku hanya bisa terpaku melihat kaca di depan. Jaehyun menarik tubuhku mendekat, menghadapkan dada seksinya di depanku, perlahan ia membuka kembali kaitan kancing yang berhasil aku pasang tadi. Aku hanya bisa melihat diam tangan terampil itu. Ia lalu mencoba menggendongku. Aku yang tidak ingin jatuh lalu mengaitkan kakiku ke pinggulnya dan tanganku ke lehernya. Kami bersitatap.
"Lihat, wajah Taeyongie merah sekali.." Jaehyun berkata menggoda tepat di depan bibirku. Rasanya ingin sekali langsung kugigit bibir itu, tapi sekarang aku sedang dalam mode jual mahal.
"Tidak ingin membuat tanda merah di leherku Tuan Jung?" Sial. Kenapa malah kata-kata itu yang keluar. Sial. Dasar aku jalang yang rindu belaian Jaehyun.
Tanpa banyak pikir akhirnya Jaehyun meraup penuh bibirku. Kecupan yang lama-lama menjadi lumatan kasar penuh nafsu. Aku hanya bisa mengacak rambutnya dan beberapa kali menggesek ke atas dan ke bawah tubuh kami.
"Eunghhh.." Aku kehabisan nafas, aku butuh bernafas, dan Jaehyun tahu itu. Ia melepaskan ciuman kami tetapi bibirnya merambat menuju leherku. Menyesapnya, menggigitnya kecil, menjilatnya hingga muncul tanda kemerahan yang kumaksud. Setelah terbuat satu, ia lalu menambah dan menambahnya di sisi leherku yang lain. Aku hanya bisa mendesah pelan sekaligus menahan desahanku agar tidak ada orang yang tahu. Namun tiba-tiba ada suara dari luar yang mengganggu aktivitas kami.
"Jaehyun-ahhh, kau di dalam? Apa kau sudah mencoba beberapa?" Suara ini? Apa ini suara Kim Doyoung? Seketika kami berhenti dan memfokuskan pendengaran kami ke luar. Jaehyun mengisyaratkan agar aku menutup mulutku diam. Ia mencoba menormalkan nafasnya dan suaranya.
"Ne hyung, aku suka beberapa pakaian ini.." Tuan Jung yang pandai sekali memainkan situasi. Ia bisa menjawab dengan sesantai ini, tapi pada kenyataannya tangannya tidak berhenti meremas-remas bokongku. Aku rasanya ingin mendesah. Aku hanya bisa menggigit bibir menahan desahanku. Mengalungkan tanganku lebih erat ke lehernya dan menyusupkan wajahku ke lehernya. Sesekali mengecupnya.
"Kalau sudah, cepat keluar ya? Ayo segera pulang. Aku ada keperluan mendadak.." Whoahh sungguh hebat. Di dalam bilik, aku dan Jaehyun sedang bercumbu mesra sedang di luar sana kekasih Jaehyun meneriakinya untuk segera keluar dan pulang. Kasian ya menjadi Jaehyun, kekasihnya sangat sibuk. Ia pasti tidak benar-benar menikmati kencannya hari ini. Aku hanya bisa melamun dalam gendongan Jaehyun.
"Ne hyung, tunggulah di dekat kasir.." Jaehyun menutup percakapannya dengan kekasihnya, lalu kembali memagut bibirku. Aku membalasnya untuk beberapa waktu lalu Jaehyun memutusnya menurunkanku dari gendongannya. Aku diam hanya bisa melihatnya memakai kaosnya kembali dan sedikit merapikan rambutnya. Menghilangkan sedikit saliva di lekukan bibirnya. Ia lalu melihatku sambil tersenyum. Tanpa sadar aku membalas senyumannya dan mengangguk pelan. Memberi maksud jika "tidak apa-apa kau keluar dan meninggalkanku sekarang..." Jaehyun mengerti maksudku, mengusak rambutku pelan dan mengecup kecil pucuk kepalaku. Sebelum keluar ia sempat berbisik
"Nanti malam. Apartemenmu." Aku hanya bisa mengangguk pasrah.
Ketika ia sudah pergi keluar, aku hanya bisa terjatuh terperosok ke bawah, sambil menghembuskan nafas. Fiuh... apa yang kulakukan...
HAI HAI MAAF BANGET KALAU PART INI ADA DOJAE..DOJAE..NYA HMMM
PLEASE READ N REVIEW, CHAPTER DEPAN AKU BAKAL BALESIN REVIEW KALIAN SEMUA
MAKASIH YA BUAT REVIEW-REVIEW YANG KEMAREN, DOAKAN TUGAS KULIAH GA NUMPUK BGT BIAR BISA UPDATE SETIAP SAAT ^^
SEKALI LAGI TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA ^^ DITUNGGU REVIEWNYA
