Pertengahan semester di tahun kedua dirinya berada di sekolah menengah pertama, sebuah aturan baru diterapkan. Tidak ada yang tau siapa orang pertama yang mendeklarasikan, namun orang-orang dengan bodohnya menyetujui gagasan tersebut. Bahkan sampai mereka memasuki bangku SMA.

Aturan tersebut melahirkan beberapa golongan. Mereka seperti menerapkan sistem strata. Ada manusia yang lebih tinggi derajatnya, ada juga yang lebih rendah. Mereka yang dianggap berderajat tinggi adalah orang-orang yang memiliki kemampuan di atas yang lain. Akademik, fisik, tenaga, apapun. Dan mereka bebas melakukan semau mereka, serta terhindar dari sasaran para pembully. Bahkan, mereka bisa melakukan pembullyan sesuai keinginan mereka asal tidak melanggar aturan yang diterapkan dalam sistem tersebut.

Beberapa golongan yang dianggap memiliki derajat di atas manusia adalah Kiseki no Sedai. Masing-masing dari mereka memiliki kelebihan tersendiri. Terdiri dari enam orang dan dipimpin oleh Akashi Seijuurou. Dari semua golongan, Kiseki no Sedai adalah golongan tertinggi.

Kemudian di bawah mereka, adalah Uncrowned King. Sebenarnya mereka adalah senior Kiseki no Sedai, namun kemampuan mereka berada di bawah Kiseki no Sedai. Walaupun demikian, mereka tetap memiliki kuasa.

Yang lainnya adalah mereka yang tidak ingin bergabung dengan kelompok-kelompok semacam itu. Di antaranya adalah Haizaki Sougo, mendapat julukan Traitor's Miracles. Diduga dia pernah masuk ke dalam golongan Kiseki no Sedai, namun tak sudi tunduk di bawah pimpinan Akashi Seijuurou. Ada juga rumor yang mengatakan bahwa dia ditendang keluar oleh Akashi sendiri. Kemudian ada Kagami Taiga, The New Miracle. Orang-orang beranggapan kemampuannya setara dengan Kiseki no Sedai, tapi dia tak mau bergabung. Dan Nijimura Shuuzou, dengan julukannya yaitu The Rainbow.

Lalu, dari semua golongan tersebut, ada sebuah kelompok yang menolak mengikuti aturan bodoh di atas. Mereka melakukan apapun sesuka mereka, bahkan pernah ada seorang anggota Kiseki no Sedai yang terlibat perkelahian dengan pemimpin mereka. Tak ada yang berani berhadapan dengan mereka. Karena bahkan Kiseki no Sedai sendiri hampir pernah dikalahkan. Kelompok ini tak suka disebut atau disamakan dengan golongan apapun. Mereka lebih suka menyebut diri mereka sebagai geng Jabberworck.

Murid-murid yang tidak tergolong dalam golongan tersebut dianggap orang biasa. Tidak punya hak untuk macam-macam dengan orang golongan atas, tapi bebas saling melukai sesamanya. Terserah mereka mau melakukan apa asal tidak menentang golongan atas.

Dan yang terakhir, satu orang yang mendapat title yang paling berbeda. Berada di urutan terbawah dari segala golongan, bahkan dianggap lebih rendah dari hewan. Semua orang bebas melakukan apapun terhadapnya, kecuali membunuh tentunya. Satu orang, yang dianggap penyelamat bagi kaum bawah, dan sebagai pelampiasan bagi kaum atas.

The Lowest Human, Kuroko Tetsuya.

.

.


.

.

.

"Nothing"

Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi

Nothing © Scalytta

WARNING :

AU, slow build, possibly OOC, typo(s), bullying

Rate M for violence and mature content

Friendship/Family/Angst/Drama

AoKuro, AkaKuro

.

.

Chapter 3 : We're Friend!

Hope you enjoy it

.

.


.

Menguap lebar, Aomine Daiki dengan malas meletakan tas dan duduk di bangkunya. Kepala otomatis dijatuhkan di atas meja. Mengantuk. Semalam dirinya benar-benar tidak mendapat tidur yang cukup. Belajar hingga tengah malam dengan Kuroko Tetsuya, kemudian tak bisa memejamkan mata karena sibuk dengan pikirannya mengenai si surai biru muda. Dan ketika dia baru mulai menikmati alam mimpi, dirinya dikagetkan oleh guncangan halus di bahunya. Ah, rupanya Kuroko yang membangunkan.

Aomine menguap sekali lagi, setitik air mengisi ujung matanya. Fix, ia akan balas dendam dan tidur sampai puas selama pelajaran. Toh penjelasan dari guru tidak ada yang bisa dimengerti. Dia lebih memilih begadang di malam hari dan belajar dengan Kuroko sampai pagi.

Namun rencana untuk tidur tidak bisa ia realisasi segera. Pasalnya, ketika ia sedang berkonsentrasi untuk pergi ke alam mimpi, suara-suara berisik mengganggu pendengarannya.

"Hei, kaudengar? Katanya semalam ada yang melihat salah satu anggota Kisedai jalan berdua dengan si makhluk rendahan."

"Hah?! Serius? Siapa yang lihat?"

"Aku lupa namanya. Tapi dia bilang bukan dia saja yang melihat."

"Heee? Aku penasaran siapa yang berani mendekati si makhluk rendahan itu."

"Aku juga. Maksudku—dia anggota Kiseki no Sedai, kan? Apa dia tidak takut nama baiknya tercoreng?"

Dalam hati, Aomine mendecih sebal. Dasar orang-orang kurang kerjaan. Apa tak ada kegiatan lain yang bisa dilakukan selain bergosip seperti perempuan?

"Hei! Kalian dengar? Gosip tentang seseorang jalan berdua dengan si jalang!" Seseorang bergabung dalam pembicaraan. Satu lagi cowok kurang kegiatan. Aomine memejamkan mata, pura-pura tidur. Nyatanya ia memasang pendengaran baik-baik untuk menyimak obrolan—yang dianggapnya tidak penting—mereka.

"Kami baru membicarakannya. Ada info baru?" sahut salah satu dari mereka.

"Well, sebenarnya aku sudah tau siapa orang yang semalam kepergok dengan si jalang."

Tubuh Aomine menegang.

"Whoaaa! Siapa, siapa?!"

"Psst. Katanya sih Aomine Daiki," jawabnya. Bermaksud berbisik-bisik. Tapi sungguh, si surai biru gelap bisa mendengar perkataannya dengan jelas.

"Eh? Maksudmu Aomine yang itu?!" Mereka bertiga refleks mengarahkan pandangan pada sosok yang kini tengah memejamkan mata erat.

"Ssst! Jangan keras-keras, bodoh!"

'Kalian semua yang bodoh! Aku bisa mendengar kalian jelas!' batin Aomine sebal.

Mereka tetap melanjutkan pembicaraan seakan-akan sosok berkulit tan itu tidak berada di sana. Merasa tidak tahan, Aomine pun memutuskan untuk bangkit dan mendekati mereka. Menyerah untuk mencoba tidur.

Merasakan kehadiran berbahaya yang mendekat, ketiga siswa yang tadi tengah bergosip diam seketika. Tak berkutik, menatap takut-takut pada Aomine yang semakin memerpendek jarak antara mereka.

"Yo! Puas bergosip di depan hidungku?" tanya Aomine sarkastis. Satu lengannya dikalungkan pada pundak salah satu siswa itu.

"A—Aomine!"

"Jadi, keberatan untuk melanjutkan isu tak berguna? Sepertinya kalian perlu berguru pada para perempuan agar kalian bisa sedikit menjaga gosip-gosip itu dari telinga sang objek yang dibicarakan," ucap Aomine santai.

Dua orang hanya terdiam tidak berkutik. Sedangkan satu orang yang dalam pembicaraan tadi tidak tahu apapun dan hanya menjadi pihak penerima informasi menatap Aomine lekat. Membuat bahkan Aomine sendiri merasa risih. Merasa diperhatikan, Aomine menatap balik teman sekelasnya seraya bertanya, "Apa?"

Sejenak murid itu—Aomine lupa siapa namanya—nampak ragu, tapi kemudian dia mantapkan keinginannya untuk bertanya.

"Aomine-san! Ano—apa, apa benar semalam kaupergi berdua dengan jalang itu?" tanyanya to the point. Saking beraninya dia bertanya, mulut dua temannya sampai menganga lebar. Shock.

"Hah? Memangnya kenapa kalau benar?" Aomine bertanya balik. Tidak sedikitpun mencoba menyangkal fakta tersebut.

Si penanya tadi kembali bimbang untuk berbicara. Tapi dia toh sudah terlanjur bertanya hal yang tidak-tidak. Jadi menurutnya, sekalian saja utarakan semua rasa penasaran pada objek yang bersangkutan, kan?

"Ah begitu. Jadi itu semua memang benar. Dan tentang alasanmu pergi berdua dengannya, sudah dapat dipastikan."

Mengangkat sebelah alisnya heran, pemilik kulit tan kembali bertanya, "Alasan apa maksudmu?"

"Kau, sedang mencoba metode baru kan?"

"Hah?" Aomine semakin tidak mengerti.

"Maksudku—kau mendekatinya perlahan, kemudian berpura-pura menjadi temannya. Semua itu kau lakukan agar bisa menikmati tubuhnya, kan?" jelas orang—Aomine masih tidak bisa mengingat namanya—itu.

"Wha—,"

"Whoaaah! Jadi begitu? Aomine, kau benar-benar jenius!"

Belum sempat Aomine memberikan reaksi yang tepat terhadap perkataan orang itu, tiga orang lain sudah memotong perkataannya dan bersorak seakan-akan dia adalah orang paling jenius. Orang-orang brengsek! Seberapa jauh mereka mau menginjak-injak harga diri seorang Kuroko Tetsuya? Sampai kapan mereka berlagak seakan-akan objek pembicaraannya bukanlah manusia?!

"Brengsek!" maki laki-laki berambut navy blue. Tangannya mencengkeram erat kerah baju dari laki-laki yang tadi bertanya macam-macam padanya. Ekspresi ketakutan seketika menyelimuti wajah dari laki-laki itu. Kepalan tinjunya sudah melesat menuju beberapa senti di depan hidung korbannya ketika sebuah memori dengan kurang ajarnya muncul begitu saja dalam ingatan.

.

"Sebaiknya Aomine-kun menjauhiku mulai sekarang."

"Hah?! Kau ini kenapa? Diancam?"

"Bukan begitu. Aku hanya tidak ingin citra Aomine-kun menjadi buruk karena dekat denganku."

.

Jadi ini maksudnya.

Dengan kasar Aomine melempar laki-laki di depannya hingga tubuhnya membentur meja dengan keras. Menggeram frustasi, ia menghentakkan kaki menuju luar kelas tanpa peduli akan bel yang sebentar lagi berbunyi.

Hari ini dia mau bolos saja.

.


.

Kuroko Tetsuya duduk termenung di pinggir sungai sore itu. Kedua lutut ia peluk erat, dagu diletakkan di atasnya. Hari ini tidak ada yang datang untuk menghajar, mengerjai, ataupun menyetubuhinya. Hari ini, entah kenapa terasa begitu damai. Namun bagi Kuroko, kedamaian ini begitu menyesakkan. Ada perasaan sepi yang merasuk. Bukan, bukan berarti dia seorang masokis yang berharap setiap kali mendapat perlakuan kasar. Jujur saja dia merasa senang bisa mendapat moment langka di mana dirinya tidak perlu repot-repot mengeluarkan kotak P3K dan melilit tubuhnya sendiri dengan berbagai macam alat-alat penyembuh luka. Hanya saja… hari ini—,

—hari ini Aomine tidak datang.

Seharusnya ia merasa bersyukur karena Aomine mau menuruti permintaannya dengan menjauh. Seharusnya dia merasa lega karena dengan demikian, citra Aomine tidak akan terlihat buruk di mata orang-orang. Seharusnya juga dia merasa senang karena Aomine tidak perlu berjauhan ataupun berselisih tentang dirinya dengan Kiseki no Sedai. Seharusnya memang begitu.

Tapi entah mengapa, jauh di dalam lubuk hatinya, ada perasaan sepi menyelimuti. Mungkin Kuroko sudah terlalu terbiasa dengan kehadiran sosok berambut biru gelap yang selalu menemaninya. Mungkin Kuroko merasa—.

Tidak, tidak boleh. Dia tidak boleh merasakan hal itu lagi. Dia tidak mau hal itu terjadi lagi. Aomine, apapun yang terjadi, Kuroko harus menjaga jarak darinya. Ini untuk kebaikan mereka berdua.

Dia takut.

Menggelengkan kepala kuat-kuat untuk menghilangkan pikiran-pikiran aneh yang mulai bermunculan, Kuroko berdiri dari posisinya semula. Sudahlah, Aomine tidak akan kemari. Lebih baik dia segera pulang sebelum bulan semakin terang menggantikan matahari.

Mengambil langkah pasti, Kuroko menelusuri jalan yang sudah ia hapal di luar kepala. Kaki-kakinya berhenti di depan sebuah mini market sederhana. Ah, dia ingat kalau persediaan makannya mulai menipis. Kuroko pun tanpa pikir panjang masuk ke dalam dan mengambil bahan-bahan yang ia butuhkan. Karena uangnya juga sudah menipis, dia hanya bisa membeli bahan-bahan seadanya; seperti telur, mie instan, dan beberapa sayur.

Setelah merasa cukup akan barang-barang yang ia pilih, ia segera menuju kasir dan membayar sesuai jumlah yang diminta. Keluar dari mini market, tanpa pikir panjang ia melangkah menuju rumah. Hari ini dan seterusnya, dia akan memulai segalanya sendiri lagi.

.

Hari selanjutnya, hari selanjutnya lagi dan seterusnya, Aomine tak pernah datang. Ke tepi sungai maupun ke rumahnya lagi.

.

Rutinitasnya akan kembali.

.


.

Rumah itu begitu sepi.

Kuroko baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan dirinya dari keringat, tanah, dan darah kering. Masuk ke dalam kamar, diambilnya satu setel pakaian dan perlengkapan P3K.

Sudah hampir seminggu Kuroko menghabiskan hari-harinya sendiri. Sebenarnya ini bukanlah hal baru bagi dirinya. Toh, Aomine hanya pernah mampir ke rumahnya satu kali. Lebih bisa disebut jika rutinitasnya kembali seperti dulu. Pergi ke sekolah, mendapat luka sana-sini, merenung di tepi sungai, kemudian pulang ke rumah. Sendirian.

Tok tok

Lamunan anehnya terhenti mendadak ketika dirinya mendengar suara pintu yang diketuk. Eh? Siapa yang malam-malam begini datang berkunjung? Bukan, lebih tepatnya, siapa yang mau berkunjung ke rumahnya?

Tok tok

Suara itu terdengar lagi. Ragu, Kuroko menggerakkan kaki menuju ruang depan.

Pintu dibuka sebatas pandangan mata. Mengintip penasaran, dilihatnya seorang laki-laki berbadan tegap tinggi tengah meringis tak bersalah.

"Yo!"

"Aomine-kun?"

Membuka daun pintu lebih lebar agar sosok tersebut semakin jelas terlihat, Kuroko Tetsuya memiringkan kepala tanda tak mengerti—dan tatapan kaget yang terlukis—ketika mendapati sosok Aomine Daiki datang membawa tas berat berisi buku dan beberapa cemilan di tangan kirinya.

"Maaf baru sempat berkunjung sekarang. Yah, kautahu sendiri, Akashi benar-benar kejam karena tidak memberi kami istirahat. Padahal dia harusnya menyadari kalau kami gagal dalam ujian kali ini, maka tour—,"

"Kenapa?"

Penjelasan panjang lebar laki-laki yang lebih tinggi itu terpotong mendadak tatkala mendengar pertanyaan dari Kuroko Tetsuya. Biru laut dalam bertemu biru langit cerah. Memang tak kentara, tetapi Aomine dapat menemukan sorot tidak percaya yang terpancar di sana. Memaksa menarik sudut bibir ke atas, pemilik kulit tan balik bertanya, "Kenapa apanya?"

Kuroko terdiam sejenak. Kontak mata diputus sepihak. Menunduk dalam, tanpa sadar ia mengepalkan tangannya erat. Badannya bergetar menahan perasaan yang berkecamuk. Bibir bawah ia gigit-gigit kecil.

"Kenapa masih datang?" tanyanya lirih.

Melihat laki-laki di hadapannya, mau tak mau Aomine mengubah tarikan terpaksa itu menjadi senyum tulus. Diangkatnya tangan, mengistirahatkan telapak lebar miliknya di atas kepala berambut baby blue sebelum kemudian mengelusnya lembut.

Dengan tatapan lembut, Aomine berujar, "Maafkan aku karena tak menemuimu ataupun pergi ke tepi sungai itu lagi. Tetsu, aku sekarang mengerti akan perkataanmu yang menyuruhku untuk tidak dekat-dekat denganmu."

Seluruh tubuh Kuroko Tetsuya menegang. Wajahnya tetap menunduk ke bawah, tak berani membiarkan iris matanya bersibobok dengan milik Aomine.

Oh.

Jadi itu sebabnya dia datang kemari.

"Ah…. Begitu? Syukurlah kalau Aomine-kun mengerti," gumamnya lirih.

"Aku sudah banyak memikirkan tentang hal ini. Dan…. Yaah, inilah keputusanku," balas Aomine seraya mengusap tengkuknya, tanda bahwa ia merasa canggung.

Itu benar. Sejak kejadian di dalam kelas hari itu, Aomine memikirkan banyak hal. Tentang perkataan Kise, tentang anggapan orang lain yang melihat mereka berdua, tentang pendapat Kiseki no Sedai, juga tentang ancaman Akashi.

.

.

Pintu masuk gym dibuka kasar. Orang-orang yang dari awal sudah berada di dalam ruangan sontak menoleh ke sumber suara, tak terkecuali kapten dari tim basket di sana—Akashi Seijuuro.

Melihat siapa yang dengan kurang ajarnya mengganggu kegiatan berlatih siang itu, Akashi hanya bisa menghela napas. Diletakkannya bola basket di genggaman. Kemudian, dengan langkah pasti, sang kapten menghampiri orang yang masih berdiri di sekitar pintu dengan wajah garang.

"Kaudatang terlambat. Dan sekarang kau membuat keributan. Apa maumu sebenarnya, Daiki?" tanyanya dingin.

Yang diberi pertanyaan hanya melirik dan menjawab ketus, "Bukan urusanmu!"

Menggelengkan kepala perlahan, Akashi berjalan semakin mendekat. Hari ini dia mendengar berita mengenai seorang anggota Kisedai yang terlihat berjalan berdampingan dengan si makhluk rendahan. Tanpa perlu menebak pun, Akashi sudah tahu siapa orang yang dimaksud.

Hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja.

"Daiki, ada hal yang perlu kau ketahui."

"Hah? Apa?"

"Ini merupakan sebuah peringatan untukmu. Dengar, walaupun kau adalah anggota Kiseki no Sedai, walaupun kau adalah Ace di tim ini, dan walaupun kau memiliki kemampuan di atas rata-rata, jangan pernah berharap untuk bisa mendekati makhluk menjijikkan itu tanpa resiko."

Heran, Aomine memfokuskan pandangannya ke arah sang kapten sebelum bertanya, "Apa maksudmu?"

"Jika kau terus-menerus ingin dekat dengannya tanpa halangan, aku bisa membantumu." Akashi menjawab disertai senyum. Namun entah kenapa senyum tersebut terkesan begitu dingin.

Tidak peka akan keadaannya sekarang, kelereng biru Ace dari tim basket itu berbinar senang.

"Benarkah? Bagaimana caranya?"

Akashi memejamkan mata sejenak, senyum itu masih setia menghiasi paras tampannya sebelum kemudian berubah menjadi seringai kejam. "Tentu saja, dengan menyamakan kedudukan kalian."

Aomine mengeryit tak suka. "Kau—."

"Daiki, jika aku memergokimu masih dekat-dekat dengan jalang itu, aku tak segan-segan untuk menurunkan derajatmu hingga ke dasar."

Emosi meluap dalam sekejap.

"Brengsek!"

.

.

Akashi telah mengancamnya agar tidak dekat-dekat dengan Kuroko Tetsuya. Dan kalau boleh jujur, ia tidak ingin jika harus bernasib sama seperti laki-laki mungil di depannya, terlalu menyakitkan untuk dibayangkan.

Bukan berarti dia takut akan ancaman Akashi, tapi… entah kenapa Aomine mempunyai firasat buruk jika dia tetap saja nekat tidak memedulikan sekitar. Karena itu, lebih baik ia mengalah. Ini demi kebaikan mereka berdua.

Demi kebaikan mereka berdua. Dan Kuroko Tetsuya mengerti.

Kuroko menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. Tidak boleh, dia tidak boleh merasa terpuruk seperti ini. Bukankah dirinya sendiri yang meminta agar Aomine menjauhkan diri? Bukankah dari awal dia memang selalu sendiri? Aomine hanyalah seseorang yang tidak sengaja terlibat dengannya. Jika ini diteruskan, malapetaka akan mendatangi laki-laki berambut gelap itu.

Kuroko Tetsuya seharusnya memang ditakdirkan untuk tidak pernah memiliki apapun.

Baik itu orang tua, saudara, status, maupun teman.

Dia tidak pantas. Dan dirinya mencoba kembali menerima fakta itu. Aomine Daiki adalah kenalan sementaranya, bukan teman atau apapun. Aomine Daiki hanyalah seorang pembully bodoh yang malah mengasihani orang yang seharusnya dia bully.

Benar. Inilah dia, Kuroko Tetsuya—bukan, melainkan manusia rendahan, jalang, orang tidak berguna. Inilah dia.

Hati Kuroko sudah mantap.

"Kalau begitu, ini yang terakhir, ya?" Laki-laki yang lebih pendek akhirnya membuka suara. Dia tersenyum tipis, tatapannya entah kenapa terasa begitu kosong.

Aomine mempertemukan dua pasang mata berbeda warna. Dia memasang ekspresi tidak mengerti, sekaligus nyeri melihat wajah pasrah dan putus asa laki-laki di depannya.

"Tetsu, apa maksud—,"

"Terima kasih. Meski singkat, tapi waktu yang kuhabiskan dengan Aomine-kun sangatlah menyenangkan."

Kenapa kau berwajah seperti itu?

Kenapa kau seakan tidak memiliki pijakan lagi di dunia?

Hey—

"Setelah ini, bahkan jika Aomine-kun ingin menghajarku, aku tidak keberatan. Walau dari awal aku memang tidak keberatan." Senyum itu masih terpasang secara menyakitkan.

Aomine Daiki sudah tidak tahan melihat ekspresi itu.

Berhentilah tersenyum sok kuat!

"Oi! Dengarkan aku dulu!"

Tanpa pikir panjang, Aomine menghapus jarak tipis yang memisahkan mereka. Gigi rapi ia gertakkan kuat. Bahu kecil itu direngkuh erat. Kuroko Tetsuya kehilangan kata-kata.

Apa ini?

"Tetsu, sepertinya kau salah paham," Aomine mulai menjelaskan.

"Eh?"

"Aku tidak tahu pikiran aneh macam apa yang melintas di kepalamu, tapi dengarkan aku dulu!"

"Pikiran aneh? Bukankah Aomine-kun ingin agar kita tidak bertemu maupun saling mengenal lagi?" tanya Kuroko setelah menata kembali perasaannya.

Aomine melepas rengkuhannya. Ditatapnya lekat lautan biru pudar dari lawan bicaranya.

"Dengarkan aku! Aku tidak pernah mengatakan hal itu!"

"Lalu?"

Menghela napas, Aomine menjawab, "Maksudku adalah, kita jangan terang-terangan saling mengenal."

"…." Kuroko tidak menjawab, namun tatapannya menjelaskan ketidakmengertian dirinya.

Laki-laki bersurai biru gelap menggeram frustasi, tidak habis pikir pada orang polos di depannya.

"Jadi, setelah ini, mari kita bertemu secara diam-diam."

"Diam-diam?"

"Iya. Aku tidak sejahat itu sampai tega memutus pertemanan kita,"

"…."

Teman?

"Aku sudah memikirkannya, lebih baik kita pura-pura tidak saling mengenal ketika di sekolah atau ketika ada murid dari sekolah kita berada di tempat yang sama. Lalu kita bisa menghabiskan waktu bersama di rumahmu atau tempat lain yang tidak mengundang kecurigaan. Bagaimana menurutmu? Yah, bukankah ini akan— Oi, Tetsu, kenapa kau menangis?!" Penjelasan panjang Aomine terpotong begitu saja dan digantikan oleh pekikan panik tatkala melihat air mata yang mengalir dari kedua bola mata Kuroko.

"Maaf, kau tidak suka ideku ya? Apa aku sudah keterlaluan?" Dia bertanya bingung, panik.

Kuroko tidak menjawab, tanpa sadar dirinya sudah terisak. Menggelengkan kepala sebagai pengganti kata-kata, dicobanya untuk menyeka air yang terus mengalir tanpa halangan.

Kapan terakhir kali ia punya teman—dianggap sebagai teman?

Entah kenapa, Kuroko merasakan gejolak yang tak terdefinisikan ketika mendengar penjelasan Aomine. Hatinya hangat, kebahagiaan memenuhi perasaannya sampai seperti akan meledak.

Mengetahui Aomine yang memikirkan sampai sejauh itu demi bisa tetap menjalin hubungan, membuat Kuroko tak kuasa menahan air matanya. Dia, orang yang begitu lemah tidak berguna. Kenapa laki-laki di hadapannya mau repot-repot mengurusi dirinya?

Harusnya dia tidak pantas mendapat perlakuan seperti ini.

Harusnya Aomine melempar jauh-jauh kata teman dalam hubungan mereka.

Harusnya ia tetap sendiri.

Harusnya ia marah, mengusir Aomine atau memohon agar laki-laki itu pergi dan tidak memedulikan dirinya lagi.

Tapi kenapa hangat yang dia rasakan? Kenapa bahagia menyeruak keluar?

Isakannya tak bisa dihentikan.

"Te—terima kasih, Aomine-kun. Terima kasih…," ucapnya terbata-bata.

Panik yang baru saja dirasa Aomine hilang seketika. Perasaannya ikut menghangat. Senyum tulus terukir mulus dari paras tampannya. Dipeluknya Kuroko erat namun lembut, seakan takut jika ia mengeluarkan tenaga berlebihan, tubuh ringkih namun kuat tersebut akan hancur.

Kuroko masih mencoba menghentikan tangis memalukannya. Seluruh tubuhnya bergetar hebat. Aomine mengusap punggung kecilnya perlahan. Mencoba menenangkan.

"Tidak apa-apa, Tetsu. Tidak perlu ditahan." Dia berbisik lembut.

Dan Kuroko Tetsuya mengeluarkan segala perasaannya malam itu.

Aomine berjanji, dia akan melindungi laki-laki ini apapun yang terjadi.

.

.

.


To be Continued


.

A/N : Halo~ Lama tidak berjumpa~ /dilempartomat

Ahaha... Maaf ya karena sudah setahun lebih menelantarkan fic ini dan malah nyasar ke fandom sebelah. Saya tidak punya pembelaan yang berarti tentang lamanya fanfic ini update. Yang jelas, saya benar-benar minta maaf dan tidak bermaksud untuk menelantarkan fic ini. *sujud*

Mungkin kualitas fic ini menurun, mungkin gaya tulisan saya juga berubah karena sudah sangat lama tidak menulis fic full angst seperti ini. Semoga saja chapter ini tidak begitu mengecewakan =w=V

.

Eum, saya ingin menegaskan satu hal, fanfic ini tidak berfokus pada romance, melainkan lebih ke friendship/family. Rate M juga saya pakai untuk adegan pembullyan dan bahasa yang eksplisit, jadi jangan terlalu berharap akan ada lemon AoKuro ataupun AkaKuro. Dan kalaupun ada, sudah pasti akan dibuat seimplisit mungkin agar tidak melanggar aturan FFn. Satu lagi, fanfiksi ini slow build, artinya, hubungan Kuroko dan yang lainnya memerlukan progres panjang sebelum diarahkan ke konflik inti. Sekali lagi, sebaiknya jangan terlalu mengharapkan tiba-tiba ada adegan lemon di chapter depan. Kecuali mobxKuroko sebagai ajang pembulian XD /digeplak

Oh iya, saya juga mau minta maaf karena tidak bisa membalas review satu-satu. Tapi percayalah, review kalian semua selalu saya baca dan membuat saya bersemangat untuk melanjutkan fic ini. Atas review, fave, serta follow yang diberikan, saya ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya /tebarcium /najis

.

Err... Ada yang masih bersedia baca? Ada yang masih ingat ceritanya?

Ada yang masih berkenan RnR? /digebuk

.

.

See you in next chapter

Scalytta