Disclaimer: Masashi Kishimoto.

Genre: Romance, Humor

Warning: OOC n AU

Pairing: ItachixHinata

~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~

DARE, MARKET, LOVE

~*~*~*~*~*~*~

Itachi berjalan cepat dengan Hinata –yang telah pingsan secara gak elit- berada di dua lengan kekarnya. Pelayan-pelayan segera menyingkir agar dapat memberikan jalan lebih lebar bagi penerus Uchiha yang berwajah lebih sangar dibanding hari-hari lain.

Ia berteriak memanggil nama beberapa pelayan sambil tetap setengah berlari kemudian memberikan satu-dua perintah yang langsung dikerjakan para pelayanan tanpa banyak tanya kemudian menaiki tangga tergesa-gesa agar dapat segera mencapai kamarnya yang berada di lantai dua.

"Itachi-kun!" Pekik Mikoto.

Itachi mendesah. Jangan sekarang, ada banyak misi yang perlu ia kerjakan demi kelangsungan hidup umat manusia khususnya klan Uchiha "Nanti." Kata Itachi, menendang kuat pintu kamarnya yang pasrah terbuka dengan bunyi berdebam.

Seandainya situasinya berbeda, yang tadi itu cukup mirip adegan di action movie ketika pahlawan yang gagah perkasa menyelamatkan wanita yang sedang dalam keadaan sulit.

Tapi ini bukan film.

Ini FANFIC, ajang pembantaian karakter oleh author-author psikopat.

"Itachi!" Mikoto dengan tampang horror berlari memasuki kamar, semakin shock melihat Itachi meletakkan seorang wanita di atas ranjang "Ibu memang ingin punya cucu, tapi tidak secepat ini!"

"Panggil dokter."

Semua warna dengan suka rela meninggalkan wajah Mikoto yang kini pucat pasi. Hyuuga-san benar, ia gagal mendidik anak-anaknya. Itachi yang ia banggakan ternyata… "D-dia…" Mikoto menelan ludah. Leluhur, ampuni aku yang tidak becus ini "H-h-ha-ham—"

Mata Itachi berkilat berbahaya "Jangan ngeres." Ia lalu memperbaiki posisi kepala Hinata di atas bantal agar lebih nyaman, terlalu capek untuk komplain tentang otak ibunya. Kenapa ia harus terlahir di klan abnormal? Mungkin jika ia menikah dengan Hinata –seperti kata ibu kasir- dan menjadi seorang Hyuuga semua gak akan begitu buruk. Hyuuga kelihatannya cukup keren.

Itachi mengerjap. Pikiran bodoh. Kalopun dia menikah dengan Hinata, bukan dia yang jadi Hyuuga, yang ada Hinata jadi Uchiha. Sebal, Itachi menjitak pelan kepala Hinata. Toh orangnya gak tahu. Lagi pingsan ini.

"Tapi! Dokter? Buat apa? Mau ngecek keh—keham- ham—"

"Kehamilan!!" Nada suara Itachi meninggi. Ngomong itu saja susah banget. Lagian, gimana mo hamil? Memangnya pegangan tangan bisa bikin hamil!

Setelah banyak kata 'h-h-ham-hamil', death glare, teriakan frustasi, dan gerakan membenturkan kepala ke tembok akhirnya seorang dokter dengan penampilan gak meyakinkan hadir di kamar yang mirip lokasi syuting Titanic (baca: kapal pecah).

Si dokter yang menurut kecurigaan Itachi adalah salah satu model iklan Sunsilk mulai memperhatikan Hinata. Itachi sendiri deg-degan. Mudah-mudahan gak terjadi apa-apa. Lecet pasti ada, tapi semoga gak lebih dari itu. Bayangan Hyuuga Hiashi dengan golok kinclong dan seringai setan sekilas terbersit. Amit-amit… Jangan sampe.

Lagian, kalo mo pingsan kasih kode kek, biar langsung dibawa pulang dan gak perlu melibatkan dirinya yang memang dari 'kalangan susah' ini.

"Hmm…" dr. Orochimaru mengelus dagunya dengan kening berkerut. Itachi dan Mikoto pasang telinga "Saya rasa… dia hamil."

-

-

-

-

JEDERRR!!

Itachi bingung antara pengen nangis ato ngikut Hinata supaya pingsan dengan tenang, tapi matanya gak mau ketutup dan malah terbuka lebar. Nasib memang gak pernah berpihak padanya. Dia selalu ada di sisi buruk, ada ketika Hinata marah-marah, ada ketika Hinata pingsan, ada juga ketika Hinata dinyatakan hamil.

Buruknya lagi, udah dituduh-tuduh, si cowok sialan dapet enaknya ma Hyuuga Heiress, dia cuman kebagian maki-maki doang. Kurang ajar.

"Itachi-kun! Liat! Kalo sudah begini, bagaimana?!" Mikoto histeris "Kamu, sih! Ya ampuuuun! Mana sama anaknya Hyuuga-san!! Nyadar gak waktu itu!! Ntar kamu bisa bla… bla… bla… terus dibunuh bla… bla… Ayah dan adikmu… bla… bla… GIMANA??!"

Ibunya kurang peka ato memang katarak? Kalo itu anaknya, dari tadi Itachi udah berderai air mata bahagia, meluk Hinata mesra, sambil teriak 'AKU JADI AYAAAHH!!' yang kemungkinan besar disusul 'Aku jadi jenazah' jika Hyuuga-san tahu. Tapi paling gak, itu cukup adil dari pada keadannya yang sekarang. 50:50 lah.

Dan lagi… Hinata hamil?

Itachi mendapat tabokan kesadaran saat itu juga. Ia mengerling dr. Oro yang sedang mengeluarkan sesuatu yang terlihat seperti cream. Hinata hamil… diluar nikah. Terdengar gak benar. Wajah innocent… Memang bisa?

Meski tahu keselamatannya terancam plus ia belum meluruskan asumsi Mikoto yang masih berteriak histeris, mau gak mau Itachi merasa kasian pada Hinata. Mungkin dia korban. Dunia modern, gak ada yang tahu. "Berapa lama?" Tanya Itachi, berlutut di samping ranjang dan mengamati Hinata yang tetap damai dalam 'tidur'nya.

dr. Oro terdiam "Maaf?"

"Kehamilannya." Jelas Itachi, mengeluarkan sapu tangan untuk mengelap dahi Hinata yang mulai menunjukkan jejak keringat. Pertemuan mereka memang merupakan hal yang paling ia hindari, tapi dilubuk hatinya yang paliiiiiiiiiing d-a-l-a-m, Itachi merasa prihatin pada keadaan Hinata.

Ia juga manusia.

dr. Oro mengernyit "Hamil apa?"

Twitch. Hamil apa? Ya hamil oranglah! Masa' hamil kingkong! "Bukannya tadi Anda sendiri yang bilang Hinata hamil?"

dr. Oro masih sibuk dengan cream-nya, grepe-grepe Hinata sebentar, keluarin senter kecil, maksa buka matanya Hinata trus teriak lebay sendiri pas liat mata putih gak berpupil kemudian nyengir dan menjawab lugu "Lha… Itu kan baru dugaan sementara, Itachi-san. Hipotesis, gitu lho. Makanya sekarang saya periksa dulu, dugaan saya benar atau tidak."

Twitch. Itachi dengan tatapan jijik menjauh dari ranjang, meninggalkan Hinata sepunuhnya di tangan dr. Orochimaru. Dia sudah gatel pengen ngegampar si dokter edan yang bikin dugaan sembarangan. Pantesan banyak mal praktek. Dokter kayak gini kok dipake.

"Oh… Jadi Hinata gak hamil?" Tanya Mikoto innocent, mengelap air matanya.

Itachi mengeraskan tinju. Sabar… sabar…

Bodohnya, Mikoto masih sempat-sempatnya bergumam "Itachi-kun payah…"

ARGGHHHH!! BISA GILAAA!

dr. Orochimaru mencatat beberapa hal di selembar kertas, manggut-maggut lagi, menyentuh lembut dahi Hinata lalu berdehem "Sebenarnya ini bukan sesuatu yang perlu dicemaskan." Katanya "Kehilangsan kesadaran bisa terjadi karena capek, kurang energy, atau terlalu stress. Makanya disarankan untuk selalu mendekatkan diri kepada Yang Kuasa… Pesugihan ular bagus lho… Saya punya sama Kabuto. Trus…"

Twitch. Twitch.

Itachi gak yakin bisa bersabar lebih lama, gak yakin pesugihan ular berhubungan dengan Yang Kuasa, gak yakin pula dr. Oro berpengalaman. Tapi yang ia yakini, dokter yang sedang ceramah panjang lebar ini lulus dengan tangisan prihatin para dosen dan mahasiswa yang percaya nama fakultas kedokteran di Universitas mereka akan hancur berkeping-keping di kemudian hari.

"Intinyaaa?" Itachi gregetan, diam-diam membayangkan melakukan penyiksaan tingkat tinggi pada si dokter sementara Mikoto mendengar ceramah (sesat) Orochimaru dengan antusias.

"Intinya, semua baik-baik saja." dr. Oro membenahi perlengkapannya, memasukkan ke dalam tas setelah itu berdiri tegak untuk berjalan menuju pintu mengingat tugasnya telah selesai "Hanya masalah rambut bercabang, kulit kering, juga berat badan. Terlalu kurus. Hmm… Dan jerawat, berminyak juga… Itu saja. Saya duluan Itachi-san! Cup! Cup! Ah~" Dengan salam persahabatan hangat dr. Oro keluar secara resmi.

Itachi membeku, tinggal ditambahin sirup ma susu kental manis pasti enak. "Dia… apa?"

Mikoto yang sudah berlari mengejar dr. Oro membalas cepat "Ahli kecantikan! Duh, ibu mau konsultasi dulu. Flek hitam. Jaga Hinata-chan." Sebelum menutup pintu, Mikoto menambahkan "Dan jangan ngamuk-ngamuk. Ahli kecantikan dokter juga kan? Penyembuh!"

Pintu tertutup dibelakangnya dengan bunyi 'blam'. Itachi jatuh berlutut, wajahnya tersembunyi dibalik jemari yang merapat. Jadi, di klan Uchiha yang waras hanya dia seorang, itu sudah pasti dan gak bisa diganggu gugat. Perlahan, Itachi merayap mendekati ranjang, memandangi Hinata dengan kesal.

Semenjak Hinata datang dia selalu ketiban sial. Gak perlu diabsen satu-satu kesialan macam apa yang telah menimpanya. Seandainya dia punya sharingan, Hinata sudah diamaterasu dari tadi. Ato kirim ke dimensi lain, sejauh mungkin.

Itachi mendegus, mempersiapkan mental dan fisik begitu mata Hinata mengarah ke gejala-gejala membuka. Ia menelan ludah. Baginya, semua ini sudah lebih dari cukup. Ia lelah bergerilya, mending sekalian front terbuka. Kalo Hinata lapor ke Ayahnya ya sudah. Ia juga punya Ayah! Ia bisa saja melapor pada Fugaku. Nah, jadinya kan Ayah vs Ayah. Setelah itu dia gampang mengurus si kucing kecil gak berdaya.

Mew!

"Uchiha-san…"

Itachi memberikan tatapan menantang. Ia gak takut! Apapun itu, maju! Laporin ke Ayah, laporin ke pihak berwajib, terserah! "Hinata-san."

"Aku pingsan." Bisikan Hinata masih dapat ditangkap Itachi yang hanya duduk tenang saat Hinata berusaha bangun dan menyandarkan punggungnya "Kamar… siapa?"

Itachi menarik nafas, berniat memberi tahu Hinata bahwa kamar-rapih-mewah-bersih INI kamarnya. Ia mundur agar jauh dari jangkauan lengan Hinata. Jangan sampe ditonjok lagi. Yang sebelumnya malah belum sembuh benar. "Kamarku."

Itachi menunggu jika Hinata akan melempar tonjokkan lain atau melakukan tarian khas suku aborigin, tapi setelah lama menunggu dan reaksi yang diterima hanya 'O-oh…' dan wajah memerah, Itachi menghembuskan nafas lega. Ia menaikkan sebelah alis begitu Hinata -yang telah sadar di kamar siapa ia berada- mencoba menenggelamkan dirinya di tempat tidur. Ia menyelimuti hampir seluruh tunuhnya dengan selimut tebal hitam bercorak milik Itachi dan hanya menyisakan sebagian kecil kepalanya yang menyembul serta sepasang mata lavender yang terus mengerjap. Hidung serta mulutnya tertutup sempurna.

"Sering pingsan?" Bukannya dia khawatir, Itachi sekedar memilih mengisi kesunyian dengan pertanyaan basa-basi. Dia lebih suka diam tapi diam terus-terusan juga gak baik terutama di depan tamu gak diundang yang berpotensi membawa bencana sewaktu-waktu. sigh…

Hinata mengangguk, menarik selimut lebih tinggi "T-terima kasih, Uchiha-san."

Itachi balas mengangguk, menggaruk pipinya yang sama sekali gak gatal lalu… Sigh lagi… "Aku jadi mirip kakek tua." Komentar tulus ikhlas yang meluncur mulus tanpa bisa dikendalikan itu membuat Itachi berjengit, berharap Hinata cukup tuli untuk gak mendengarkan apa yang baru saja ia katakan.

Itachi melirik Hinata,

Hinata melirik balik.

Itachi membuang muka.

Hinata masih konsisten lirik-lirik.

Waktu berlalu dan Itachi perlu menggenggam tangannya sendiri agar terdakwa gak narik-narik rambut mengingat ia malas sekali nyari-nyari hair tonic –dan ia gak mengandalkan ibunya untuk ini-. Bikin frustasi!

"Apa? Baru sadar aku tampan?"

Setelah sekian lama! Akhirnya dia bisa bilang kalimat keramat itu!! Dia gak perlu pura-pura baik pada Nona Hyuuga sekarang, karena dia sebagai seorang lelaki pemberani telah bersumpah, dengan background matahari tenggelam dan ombak yang saling berkejaran, bahwa dia akan mendapatkan harga dirinya kembali. Apapun bayarannya.

Kalo bisa jangan mahal-mahal, sih. Diskon malah lebih bagus.

Rambut indogo mengikuti gerakan kepala yang menggeleng "T-tidak…"

Itachi mencibir. Jadi, dia mau bilang apa? Bahwa Itachi jelek? Grrr…

"…a-aku… sudah… sadar s-sebelumnya… eeh!" Dan sebagian kecil porsi tubuh Hinata yang tersisa kini menghilang sepenuhnya dibalik selimut.

Itachi mengerjap. Wajahnya terasa panas, jantung berdegup kencang. Ohok-ohok… Kayaknya dia kena demam. Iya, kena demam. Lagi musimnya ini. Tetangga sebelah malah sampe gak bisa keluar rumah. Super parah pokoknya, mungkin stadium 4.

"H-hey…" Itachi berdehem. Ini hanya deman… flu… busung lapar… kudis… panu… wateper lah. "Kau bisa mati, bodoh." Ia berdiri, mencoba menarik paksa selimut yang menutup tubuh Hinata yang sialnya juga ditarik kuat oleh lawannya. Itachi meng-huff lalu mencoba lagi, kali ini dengan kekuatan berlipat.

Gosh!

Ternyata badan kecilpun bisa menyimpan tenaga cukup banyak. Ah.. Maaf, dia lupa bahwa dia bahkan menerima kehormatan untuk menjadi sansak pukul Hinata.

Itachi melipat lengan kemejanya, ia gak akan kalah! Menaikkan sebelah kaki diujung tempat tidur, Itachi kembali melanjutkan usaha (sia-sia)nya. Ia bisa mendengar Hinata berteriak "J-jangan!"

Jangan? Sudah terlambat untuk mengatakan itu.

Setelah usaha sia-sia beruntun, Itachi mengguncangkan tubuh Hinata, pilihan lain yang gak ia pikirkan tadi "Ini punyaku."

Hinata: Badan manusia, tenaga babon.

Yang diatas itu hasil penelitian Itachi yang akan segera disahkan oleh pihak yang berwenang. Mohon do'a restu. Dan ia yakin 100% akan kebenarannya, seluruh pertemuannya dengan Hinata telah membuktikan itu.

"Paling tidak matamu." Lanjut Itachi, sangat-sangat gak sopan berbicara dengan orang yang lebih tua tanpa melihat matanya. Bukannya sok tua, tapi di sini kan dia yang tertua selain itu, dia tuan rumahnya. Sudah semestinya Hinata menaruh hormat padanya!

Hinata perlahan menurunkan selimut Itachi, memamerkan dahi yang merah dan mata yang berkaca, menolak untuk lebih merendahkannya lagi.

Itachi hanya bisa memandang dua mata lavender Hinata. Tanpa bisa dikendalikan –Itachi juga bingung apakah demam mengacaukan kontrol yang kita punya atas diri kita sendiri- tangannya terulur, berusaha menyibak selimut yang menutupi hidung serta mulut Hinata. Untungnya, Hinata gak melawan, maka selimut tebal itu menemukan pemberhentian tepat di lehernya.

Hinata memerah. Itachi juga perlu berusaha mati-matian menahan keinginannya untuk tertawa. Ok, tambah satu dalam daftar, ia perlu pergi ke psikiater sesegera mungkin.

Itachi menyentuh lembut dahi Hinata. Hinata tersenyum malu tanpa melakukan gerakan lain yang berarti, sesuatu yang perlu disyukuri Itachi nanti. Ia teringat perkataan Hinata tadi. Kalo diterjemahkan kurang lebih jadinya begini 'Kyaaaaa!! Itachi-samaaa!! Anda tampan sekali!'. Itachi mengeluarkan tawa kecil atas analisisnya yang terdengar agak menyeramkan bagi jiwa-jiwa beriman.

"Kau…" Itachi bernafas cepat, mendekatkan kepalanya ke dahi Hinata.

Sang Hyuuga merona dengan seulas senyum kecil bertengger manis. Melihatnya, bibir Itachi juga membentuk sebuah senyum kecil yang nyaris gak bisa ditangkap mata manusia kecuali menggunakan mikroskop. Entah sudah berapa lama ia absen dalam bidang senyum tulus… Kini, mata Hinata terpejam, maka senyum Itachi melebar sembari memperpendek jarak di antara mereka… dan ia baru sadar bahwa Hinata ternyata "Im…" Imut "…bisil!"

Mata Hinata sontak terbuka, wajahnya menampakkan raut terluka, gak percaya dan tentu saja malu.

Itachi meluruskan punggung, menjauh dari Hinata. Yang tadi… hampir saja! Mulut kadang gak ada gemboknya!

"Dan dokter sinting itu benar. Jerawat di dahimu. Makanya, jaga kebersihan." Seru Itachi blak-blakan plus menunjuk dramatis pada jerawat kecil yang mejeng di dahi Hinata. Berhubung Hinata kayaknya pengen nangis, Itachi buru-buru menyimpan tangan kriminalnya sambil meyakinkan diri bahwa ia bukan merasa bersalah melainkan hanya capek karena rutinitas yang melelahkan.

Kedengaran lebih masuk akal.

Itachi kemudian berdiri, menjauh dari Hinata, dan membongkar isi lemarinya yang berada di seberang ranjang. Menemuka apa yang ia cari, Itachi kembali ke tempat awalnya, menjulurkan tangan yang menggenggam sebuah bungkusan kecil kepada Hinata dan memalingkan wajah untuk menyembunyikan rona merah tipis yang menjadi warna pemanis di kedua pipinya.

Bosan dengan reaksi Hinata yang lamban,Itachi memaksakan bungkusan itu pada tangan Hinata yang sebelumnya tertutup selimut tebalnya "Ini…" Ia mengedik pada bungkusan mini yang telah berpindah ke tangan Hinata "…bisa menghilangkan jerawatmu dalam waktu yang cepat. Ingat apa kataku, jaga kebersihan."

"A-aku… dokter!" Bela Hinata. Seumur hidup belum pernah ia dibilang gak bersih apa lagi pake acara nyebut-nyebut masalah jerawat. Di hari ini pula… dunianya terasa hancur lebur. Belum pernah ia merasa semalu ini sebelumnya.

"Dokter yang jorok." Timpal Itachi tanpa pri kemanusiaan dan pri keadilan. Dan ia baru ingat sekarang bahwa Hinata adalah seorang dokter. Kalo tahu begini ia gak perlu repot-repot manggil dr. Orochimaru, pengganti dr. Tsunade yang sedang jatuh sakit pada waktu yang gak tepat. Buang-buang uang saja… Kalo ia tahu kan ia bisa menunggu sampe Hinata sadar, setelah itu Hinata bisa memeriksa dirinya sendiri.

Kalo begitu kan beres.

Tapi Itachi juga lupa tentang hukum alam, manusia membutuhkan manusia lain untuk tetap bertahan hidup.

"Hinata-chan!"

"Nee-chan!"

Itachi dan Hinata menoleh. Di ambang pintu berdiri dua orang wanita berambut coklat, keduanya dengan wajah shock. Yang satu Itachi kenali sebagai adik Hinata, Hyuuga Hanabi yang gak hadir pada pesta naas beberapa hari lalu. Ia mengenali Hanabi karena yang bersangkutan sudah rutin muncul di layar TV khususnya departeman gossip-menggosip. Gosip yang terakhir sih, Hanabi lagi dekat sama cucu pemilik perusahaan Sarutobi, Konohamaru.

Dan sekedar meluruskan pemikiran-pemikiran sesat, gak, Itachi gak suka nonton acara gossip. Semua hanya kebetulan. Kebetulan dia bangun pagi dan acara yang pertama muncul justru menampilkan orang-orang ternama dan gossip-gosip murahannya, kebetulan jarinya kelewat pegal buat milih chanel lain, kebetulan pula ia setiap pagi selalu ketabrak ma program itu.

Wanita yang satunya lagi, Itachi merasa gak mengenalnya. Yang jelas dia bukan Hyuuga, matanya bukan putih, rambutnya dicepol dua dan menggunakan pakaian khas China. Ah… dia baru ingat sekarang, wanita ini Tenten, rekan kerja Neji –Hyuuga prodigy- bersama seorang pria ber-spandex aneh… Namanya… Namanya…

"HINATA-CHAN!!"

…Rock Lee. Umur panjang ni anak.

"Hanabi-chan… Tenten-chan… uhm, L-lee-kun…" Hinata menyapa dua orang yang pertama kemudian Lee yang terakhir kali memasuki kamar dengan teriakan membahana.

Nah, dugaan Itachi telah terkonfirmasi, semuanya benar.

Itachi mengangguk kaku sebagai pengganti salam, sebenarnya agak geram karena area pribadinya dimasuki tanpa izin. Mau bagaimana lagi, mungkin mereka berniat menjemput Hinata. Heh, Good bye Hinata-san.

Tapi, melihat mereka semua membatu di tempat semula, Tenten dengan raut terharu, Hanabi yang berusaha stay cool tapi kecolongan karena ujung matanya berbinar-binar dan Lee yang terisak, maka Itachi tahu masih terlalu cepat baginya untuk mengambil kesimpulan.

Hanabi yang pertama dapat mengendalikan diri "Selamat siang, Uchiha-san." Kalimat pendek yang dibalas anggukan kaku lain Itachi

Disusul Tenten yang langsung berlari dengan ekspresi panik, membenahi selimut Hinata agar makin merapat, mendorong Itachi sebelumnya yang perlu berusaha keras agar lantai gak menjadi airport-nya.

Kemudian Lee yang memberikan hadiah pelukan menghancurkan tulang kepada Itachi, air mata bagai air terjun membasahi pipi, gak lupa pula 'air hidung'… "Terima kasih telah menjaga Hinata-chan, sang bunga matahari mekar mewangi sepanjang hari!"

Itachi berusaha melonggarkan pelukan Lee, sedikit berjengit. Yang tadi itu, entah puisi, pet name atau apapun, kedengarannya alay sekali. Bahkan dia yang gak romantis sekalipun bisa memberikan yang lebih baik. Untuk Hinata… Hemm… rasanya Mata Putih benar-benar pas.

Ketahuan Itachi nonton gossip-nya di 'Konosiar', stasiun TV yang secara sepihak merubah byakugan jadi mata putih, berakibat pada para fans Hyuuga kejang-kejang saking kagetnya (ato katawa nista saking lucunya).

"Hn." Setelah usaha yang cukup panjang, Itachi berhasil bebas dari cengkeraman Lee yang kini tengah meratapi Hinata, membisikkan nasehat serta kalimat-kalimat penyemangat yang membuat Hinata memerah.

"Kami sudah dengar semuanya, dari Mikoto-san." Kata Tenten ceria "Seperti kata Hinata-chan, Anda memang baik!"

"Maaf Neji tidak bisa datang, banyak tugas." Kata Hanabi, membantu kakaknya berdiri "Sekali lagi terima kasih, saya rasa sudah waktunya kami pergi."

Itachi mengangguk lesu, tapi buru-buru menegakkan kepalanya kembali sambil mengulangi kalimat-kalimat bagai mantra: Gak, dia gak merasa kecewa karena sekarang Hinata pake pura-pura buta no jutsu, udah ngerasa jadi Miss Universe sehingga gak mau liatin dia lagi. Dia gak merasa bersalah… Gak kecewa… apalagi SEDIH! GAAAAKKKKH!

Sejujurnya, ini konyol! Dia hanya mengatakan fakta!! Kenapa wanita sulit sekali menerima kebenaran?!

Maka dengan hati berat Itachi menuruni tangga, mengikuti jejak langkah para wanita di depannya bersama Lee yang setia di sisi kiri.

Ia berpapasan dengan Sasuke yang cuek, gak pake say hi apa lagi salam sampe cium tangan, cuman jalan seenaknya dengan tangan aman di dalam saku, bikin Itachi makin dongkol. Dasar adik durhaka…

Sesampainya di depan pintu, Itachi berhenti dan membiarkan iring-iringan Hyuuga Heiress menjauh… Memasuki mobil super mahalnya. Hanya bisa menatap pilu…

Itachi berbalik dengan satu tarikan nafas berat. Hari yang melelahkan dan seperti yang telah dijadwalkan, ia harus menemui dokter secepat mungkin… Ia mengalami gangguan jantung, pernafasan dan untuk alasan yang gak jelas ia selalu merasa… kepanasan. Khususnya daerah wajah. Ugh… Kesehatan…

Hyuuga Hinata benar-benar pembawa bencana.

"Uhm…"

Itachi berhenti. Suara itu… Hah… Penyakitnya kambuh lagi.

Ia membentuk putaran 180 derajat, berhadapan langsung dengan Hinata yang tertunduk dan menggenggam bungkusan kecil.

Itachi mengernyit, ternyata belum pulang… dan ternyata, oh ternyata Hinata gak marah. Itachi menyeringai senang. Memang seharusnya begitu, ia hanya mengungkapkan fakta. Hinata gak punya hak buat marah.

"S-sebagai ucapan t-terima kasih…" Tangan putih menyodorkan bungkusan kecil yang sedari tadi digenggamnya kepada Itachi, badan setengah membungkuk dengan mata terpejam rapat. Setelah bungkusan itu selamat sampai ke tujuan, Hinata langsung tancap gas, berlari menuju mobil dengan wajah merah. Saudara dan kawannya-kawannya memberikan cengiran lebar kemudian mobil Hyuuga itu menghilang di balik pagar tinggi Uchiha.

Itachi mengerjap. Manatap bungkusan itu, semburat merah kembali merayapi pipinya.

Dengan setengah-seringai setengah-cengiran Itachi merobek kertas putih yang menjadi pembatas baginya untuk bertemu langsung dengan hadiah Hinata untuknya. Kotak merah dengan tulisan tebal…

Cream Anti-Penuaan

-

-

"Ho… Yah, bagus untuk kerutanmu, Itachi." Kata Sasuke lancar yang entah sejak kapan berdiri tegak dibelakang Itachi, memandang benda pemberian Hinata dari balik bahu kakaknya.

Senyum Itachi memudar, tangannya meremas kotak merah yang retak menahan kekuatannya tanpa memperdulikan komentar Sasuke.

Ini PERANG!!

T B C . . .

o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o

Jadi… Hinata sudah menunjukkan tanda-tanda suka sementara Itachi kekeuh bahwa dia membenci Hinata. Hehe…

R E V I E W, PLZ!!

Salam,

Ava^^v