Baasan review sengaja aku taruh di atas sendiri yah. Gak papa kan?
Park RinHyun-Uchiha: Tunggu beberapa chapter lagi yak :D... Masih menjadi rahasia. Hehe... Makasih reviewnya. Ditunggu kehadirannya di chap ini dan selanjutnya, okay!
Chjiechjie: Haha xD sengaja dibuat gitu. Kalau sampe ortunya marah2, nanti Kyuhyun suruh pindah lagi. Makasih reviewnya yah. Ditunggu kehadirannya di chap ini dan selanjutnya yah!
FitriYani137: Nantikan di chapter selanjutnya yah. Itu masih rahasia. Kkkk~ #plakk ... Makasih reviewnya :D... Ditunggu kehadirannya di chap ini dan selanjutnya, okay!
whey.K: Kan udah ada beritanya kalau Yesung sekarang udah ganti nama jadi Kim Jong Hoon. Ibunya yang tiba-tiba ngelakuin itu. Yesung sendiri aja kaget pas tahu ibunya udah ganti namanya. Ini udah diusahain update dua hari sekali kok :D. Makasih pujian (kkkk~) dan reviewnya yah :))... Ditunggu kehadirannya di chap ini dan selanjutnya, okay! Salam KMS!
ovallea: Jangan pervert dulu... Pervertnya nanti kalau udah jadian aja hehe (entah itu chapter ke berapa #ehm). Makasih udah review yah. Ditunggu kehadirannya di chap ini dan selanjutnya, okay!
Guest: Kenapa sama Kyukyu?
Orange girls: Kkkkk~ udah dari alam bawah sadarnya Kyu tuh. Dia jadi pengen nyium bininya. Padahal sama author udah dibilang jangan dulu. Eh, dianya gak sabaran #plakk #apasihthor. Tenang aja kok. Di sini Jungmo malah author jadiin sebagai Kyumin Shipper sejati, hehe. Masalah peran utama, tunggu dulu yah. Masih menjadi rahasia yang belum terungkap. Dan juga makasih reviewnya yah! Ditunggu kehadirannya di chap ini dan selanjutnya, okay!
.
Love In Drama
.
Author:
Kim Hyunfha
Genre:
Read, then you will find
Rated:
PG-15
Main Cast:
Cho Kyuhyun
Lee Sungmin
Kim Jong Hoon
Kim Ryeowook
Kim Jungmo
Lee Hyuk Jae
Find by your self…
Disclaimer:
Fanfict ini terinspirasi oleh drama Korea yang judulnya Heartstrings. Tapi aku kurang puas sama ceritanya. Jadilah aku buat Heartstrings versiku sendiri dengan konsep cerita yang sama, namun alur cerita yang berbeda.
Mungkin ada yang berteman sama akun fb-ku dan menemukan cerita dengan judul yang sama karena memang awalnya cerita ini aku post di fb. Namun semenjak aku mulai menulis ff KyuMin, ff ini jadi gak terurus. Jadilah aku mengubah seluruh cast ditambah pengubahan alur sedikit. Dan juga aku sudah menyelesaikan sampai chapter 11. Itu sebabnya ff ku yang Journey For Remembrance masih separuh perjalanan. Aku lebih mengutamakan apa yang lebih dulu aku kerjakan ^^ tapi tenang aja... Kadang aku ngelanjutin keduanya kok.
P.S: FF yang udah aku publish di FB udah aku hapus demi kenyamanan.
Don't Plagiat ! Don't Bash ! RCL sangat dibutuhkan… So,
Happy Reading ^^
.
.
.
Kim Jungmo, lelaki itu kini tengah berhadapan dengan sesorang yang sangat dikenalnya. Bahkan karena begitu mengenalnya, ia jadi sangat membenci orang yang mampu membuatnya berubah drastis seperti ini. Dan orang bahkan itu menyeringai.
"Tiga peran utama pria, namun hanya satu yang paling utama dan siapa sangka jika orang itu adalah 'Dia'. Orang yang tidak pernah dianggap di universitas ini dan selalu mendapat ejekan." Ujar Direktur Shin yang saat ini tengah bersembunyi di balik pohon sambil menatap dua orang yang tengah berhadapan itu.
"Kim Jungmo. Ku kira kau hanya seorang lelaki pengecut yang bisanya hanya duduk di bangku kelas paling belakang, atau lebih tepat pojokan, dan tidak berani menyapa orang-orang," ujar seorang lelaki yang ternyata adalah Yesung itu dengan nada mengejek.
"Kau belum mengenalku, Yesung-ssi. Saat SMA dulu, kau dan teman-temanmu itu hanya bisa membully-nya dengan alasan yang sama sekali tak masuk di akal. Apa kau tahu? 'Dia' akan berdiri dan mengalahkanmu. Dan kau! Hanya mampu menggigit jari tanganmu sendiri."
Berhenti bicara omong kosong!
Kisah ini, kau akan tahu bagaimana bagian akhirnya ketika mengikuti alur dari drama musikal itu dan selanjutnya, biarkan itu terjadi.
Direktur Shin mengerutkan keningnya ketika mendengar ucapan Jungmo. 'Apakah dia mengetahui jalan ceritanya?' tanyanya dalam hati. Ia menatap mereka berdua sekilas sebelum melangkah pergi dan memberikan privasi bagi kedua orang itu. Mungkin saja ada masalah yang belum terselesaikan di masa lalu.
**KM137**
"Cobalah untuk serius!" ujar Kyuhyun dengan nada tinggi pada Sungmin saat mereka tengah berada di ruang latihan. Sementara gadis itu hanya diam. Ia menatap Kyuhyun dengan malas.
"Sudahlah, Kyuhyun-ssi. Kau tidak perlu membantuku lagi. Aku tidak ingin membuatmu repot karena keinginanku," gumam Sungmin lirih. Sontak Kyuhyun mengerutkan keningnya bingung.
"Ada apa denganmu? Bukankah kau yang merengek padaku agar mengajarimu?" tanya Kyuhyun bingung ditambah sedikit rasa kesal karena perubahan sikap Sungmin. Kenapa tiba-tiba gadis ini jadi pesimis? Bahkan dulu Sungmin sendiri yang memaksanya untuk mengajarinya berakting.
.
Flashback
.
Dua hari setelah pendaftaran audisi...
Sungmin berjalan mengendap-endap di depan kamar Kyuhyun layaknya seorang pencuri. Ia menoleh ke kanan dan kiri. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 23.00 KST, lalu, apa yang akan gadis ini lakukan?
Tokk... tokk... tokk
Setelah selesai mengumpulkan keberanian, Sungmin mengetuk pelan pintu kamar Kyuhyun. "Kyuhyun-ssi! Apa kau sudah tidur?" panggil Sungmin setengah berbisik sambil terus mengetuk pintu.
"Kyuhyun-ssi! Kyuhyun-ssi! Kyuh-... Omo!" Sungmin hampir saja terjungkal kebelakang saat menyadari keberadaan seorang lelaki di belakangnya yang tengah menatapnya tajam saat ini. Sontak Sungmin menjadi sedikit salah tingkah. Bahkan untuk menelan ludah saja terasa begitu sulit. Ugh...
"Apa yang kau lakukan di depan kamarku? Mencuri?" tanya Kyuhyun dengan nada datar namun tetap dengan tatapan tajamnya.
"Apa? Ah, bu-bukan begitu... Hmm... A-a-aku... Aisshh... Memangnya kenapa aku harus mencuri di rumahku sendiri, huh?"
Kyuhyun mengedikkan bahunya. "Tapi di dalam sini ada barang-barangku."
Sungmin mengembungkan pipinya. "Umm... Sebenarnya aku... aku ingin... Ehmm..."
Kyuhyun mengangkat sebelah alisnya ketika melihat kegugupan gadis tersebut. Karena terlalu lama menunggu jawaban Sungmin, Kyuhyun pun berjalan masuk ke kamarnya. Tapi siapa sangka jika ternyata gadis itu ikut masuk juga. Sontak Kyuhyun mendelik tajam saat tahu apa yang dilakukan Sungmin itu.
"Hey! Untuk apa kau mengikutiku?" tanya Kyuhyun kesal dengan kedua tangan yang diletakkan di pinggang.
"Huh?" Kyuhyun hanya bisa membuang nafas kasar saat melihat wajah tanpa dosa yang ditunjukkan Sungmin.
"Pergi!" Namun gadis itu masih setia di tempatnya. "Cepat pergi!" usir Kyuhyun sekali lagi. Kali ini dengan sedikit berteriak.
"Aku cuma ingin meminta bantuanmu," ujar Sungmin pelan. Sementar Kyuhyun hanya diam. "Tolong ajari aku cara beradu peran, tolong..."
"Tidak mau," tolak Kyuhyun dingin. "Kita bahkan baru saling mengenal, kenapa malah meminta bantuan padaku?"
"Oh ayolah, Kyuhyun-ssi. Bantu aku, tolong..." mohon Sungmin dengan puppy eyes-nya.
"Kalau aku bilang tidak, ya tidak!" Tapi sepertinya Kyuhyun sama sekali tak terpengaruh.
"Kyuhyun, ayolah.. aku mohon ..." Kyuhyun mendengus sebal karena pemaksaan secara halus yang dilakukan gadis ini. Oh ayolah,.. dia paling tidak suka dengan yang namanya pemaksaan. Yeah, meskipun Kyuhyun sendiri adalah seorang pemaksa.
Kyuhyun mendesah lelah. "Kau memang menyebalkan... Baiklah, baiklah.. aku akan mengajarimu," ujar lelaki itu akhirnya. Sontak Sungmin loncat-loncat kegirangan layaknya seorang anak kecil yang mendapat permen kesukaannya.
"Terima kasih, Kyuhyun. Aku berjanji akan berlatih dengan serius!" ucapnya sambil mengepalkan tangan.
.
Flashback END
.
"Bahkan kau berjanji akan berlatih dengan serius waktu itu. Aku kecewa padamu..." Kyuhyun berbalik dan berjalan meninggalkan Sungmin yang masih menunduk.
"Kenapa kau tidak ikut audisi?" tanya Sungmin yang telah berhasil menghentikan langkah lelaki itu.
Sontak Kyuhyun berhenti. Ia berbalik dan menatap gadis itu bingung. "Kenapa kau sangat ingin tahu?"
"Kau punya bakat akting, bernyanyi, dance... tapi kau tidak mau ikut audisi. Sedangkan aku? Oh ayolah... kau tahu, bukan? Dan sekarang aku tidak yakin jika aku bisa lulus audisi. Walaupun bisa, mungkin aku hanya sebagai cameo," kata Sungmin sedih.
"Terserah kau saja. Kuingatkan padamu, audisi tinggal dua hari lagi. Kalau kau berubah pikiran sekarang, kau akan menyesal," ujar Kyuhyun sebelum ia benar-benar berlalu dari sana.
**KM137**
Yesung, Donghae, dan Henry tengah menikmati makanan mereka di cafeteria. Namun sedari tadi, Yesung nampak terdiam. Entah apa yang sedang ia pikirkan sehingga berani mendiamkan ke- dua orang sahabatnya itu.
"Yesung hyung, Ada apa? Kau terlihat aneh hari ini," ujar Donghae yang sedari tadi memperhatikan Yesung.
"Bukankah setiap hari Yesung hyung itu aneh?" bisik Henry.
Pletaakk...
"Ya! Raja hutan sedang tertidur. Jadi, jangan coba-coba untuk membangunkannya," bisik Donghae setelah tangan manisnya memberikan sentuhan spesial di kepala Henry yang malang. Sementara sang empu kepala hanya menatapnya dengan tatapan bodoh.
"Apa? Apa maksudmu? Raja hutan? Siapa?" Donghae menepuk jidatnya kesal sambil berumpat dalam hati. Kenapa ia harus memiliki teman yang bodoh?
"Cho Kyuhyun... tidak kusangka dia adalah lelaki itu," gumam Yesung pelan namun masih dapat didengar oleh teman-temannya.
"Apa? Maksudmu, Cho Kyuhyun murid baru itu?" tanya Donghae
"Bukan. Dia adalah Si Cupu Udik dengan kacamata tebalnya," sahut Yesung dingin.
"APA! Tidak mungkin! Bagaimana bisa Si Cupu itu..." Donghae dan Henry membulatkan mata mereka tak percaya. Sungguh sebuah kenyataan yang mengejutkan.
Yesung tersenyum remeh. Ia menatap satu-persatu wajah teman-temannya. "Cho Kyuhyun, kau bukan levelku. Mungkin akan sangat mudah mengalahkannya. Walaupun ada tiga peran utama pria, namun akulah yang paling utama."
"Maksudmu, kalian berdua adalah saingan dalam drama musikal itu?" tanya Henry tak percaya. Sepertinya banyak berita mengejutkan hari ini.
"Ck! Asal kalian tahu, dia bukan sainganku." Ujar Yesung meremehkan. "Sebagus apapun dirinya, uang tetap nomor satu." Lelaki itu menyeringai penuh kemenangan.
"Sepertinya Yesung hyung akan menggunakan kekuasaannya," bisik Donghae yang mendapat anggukan kepala dari Henry.
**KM137**
Audition Time...
Hari yang ditunggu oleh ratusan mahasiswa Opera University pun telah tiba. Lebih tepatnya hari dimana audisi untuk setiap peran dalam drama musikal dalam rangka ulang tahun Universitas Opera yang ke-25. Seluruh peserta audisi diharuskan untuk menunggu di aula utama sampai namanya dipanggil oleh juri. Sementara audisi itu sendiri diadakan di ruangan yang menjadi tempat latihan dance dan menyanyi yang jaraknya tidak terlalu jauh dari aula tersebut. Bagi peserta yang telah menyelesaikan audisinya, bisa segera meninggalkan universitas. Hasil audisi akan diumumkan keesokkan harinya.
Tampak ratusan mahasiswa-mahasiswi yang berlatih vokal, tari, akting, dan kemampuan memainkan alat musik. Namun ada juga yang terlalu gugup sampai tidak tahu harus melakukan apa. Bahkan ada yang sampai membawa jimat keberuntungan lalu duduk bersila di lantai aula sambil membaca doa-doa aneh dengan mata yang terpejam. Ada juga beberapa orang yang membawa makanan dalam jumlah besar lalu memakannya dengan wajah tegang dan tangan yang gemetar serta napas yang memburu. Yeah... mereka memang sangat berlebihan.
Di sisi lain, ruang audisi pun tak luput dari orang-orang yang bertingkah aneh. Seperti laki-laki yang menggunakan kostum Snow White lalu berakting adegan dalam kisah Cinderella. Lalu ada juga yang bahkan belum melakukan apa-apa langsung disuruh keluar oleh juri karena tingkahnya yang menyebalkan. Siapa juga yang ingin melihat orang yang berkomat-kamit tak jelas dengan posisi kedua tangan di atas layaknya seorang paranormal yang akan mengusir roh-roh jahat. Sungguh bodoh...
Sementara itu, tampak seorang lelaki dan seorang gadis yang tengah duduk di lantai dengan punggung yang disandarkan ke dinding aula. Kedua orang itu hanya menatap malas orang-orang melakukan aktivitasnya masing-masing. Eunhyuk dan Yesung. Dua nama itu yang tengah kita bicarakan.
"Yesung, kau yakin akan melakukan hal itu demi peran utama?" tanya Eunhyuk dengan pandangan lurus ke depan.
"Tentu saja. Direktur Shin tidak akan memilihku." sahut Yesung.
"Bagaimana kau bisa seyakin itu? Bahkan ini masih audisi umumnya. Audisi untuk peran utama masih dua minggu lagi."
"Aku tahu dia akan memilih Cupu itu. Kau juga tidak mau kan jika posisimu direbut oleh gadis yang bernama Sungmin itu? Jadi, ikuti saja rencanaku."
Eunhyuk menghela napas beratnya kesal. Selalu saja seperti ini. Sejak awal ia menekuni dunia drama musikal, ia memang selalu berhasil mendapat posisi peran utama. Namun itu tidak membuatnya merasa puas jika belum berusaha dengan kemampuannya sendiri, bukan dengan sogokan sejumlah uang yang membuatnya menjadi tampak rendah.
Seorang aktris rendahan...
Eunhyuk tersenyum miris. Kenapa dirinya harus lahir di tengah keluarga kaya raya dan berteman dengan lelaki dari kalangan kaya juga? Yesung, lelaki itu memang dari kalangan pengusaha sukses dengan kekayaan yang tak berbanding dengan apapun. Selain itu ia adalah seorang pewaris tahta.
Di pojok ruangan, terlihat seorang gadis yang tengah menggigit jari-jarinya menahan kegugupan yang dirasakannya saat ini. 'Bagaimana jika aku gagal audisi? Bagaimana jika juri-juri itu menghina kemampuanku? Bagaimana jika...'
"Bagaimana jika kau berhenti menggigit jarimu seperti itu?"
Sungmin sontak tersadar dari pikiran-pikiran bodohnya. Ia mengalihkan pandangan ke arah seorang namja yang tengah menatapnya malas. Gadis itu langsung menjauhkan jarinya dari bibirnya. "Oh, Jungmo. Sejak kapan kau di sini?"
"Hey! Kau lupa jika kau berangkat ke aula ini bersamaku, Huh?"
"Ehm, maaf.. aku terlalu gugup," tutur Sungmin. Jungmo hanya meggeleng-gelengkan kepalanya.
"Jangan selalu bersikap pesimis. Cobalah untuk berpikir positif dan yakinkan pada dirimu sendiri jika kau bisa." Sungmin menatap Jungmo yang tersenyum padanya.
"Nomor urut 54 diharap menuju ruang audisi."
Terdengar suara yang berasal dari speaker yang menunjukkan siapa yang akan di audisi berikutnya.
"Kau nomor urut berapa?" tanya Sungmin.
"58. Kau?"
"55. Tinggal menghitung menit." Sungmin mengangguk-anggukkan kepalanya. Kedua matanya menyapu setiap sudut aula mencari seseorang yang selama ini telah membantunya, meskipun ia sangat menyebalkan.
'Apa dia benar-benar tidak akan datang?' batin Sungmin heran sekaligus khawatir.
Tak jauh berbeda dari Sungmin, ternyata Jungmo juga mencari orang yang sama. Namun hasilnya nihil. Ia tak melihat tanda-tanda keberadaan orang tersebut. 'Bodoh! Jika sampai kau tidak datang, kau benar-benar bodoh, Cho Kyuhyun!'
**KM137**
Sementara itu di dalam ruang audisi...
"Apakah peserta nomor 54 sudah datang?" tanya seorang pria sambil sesekali menengok ke arah jam tangannya.
"Belum, Direktur Shin," sahut salah satu juri dari ke-4 juri yang ada, 4 orang termasuk Direktur Shin sendiri.
'Aisshh, anak itu. Kemana sebenarnya dia?' batin Direktur Shin frustasi. "Profesor Park, coba kau panggil peserta nomor 54 sekali lagi."
"Ya, baiklah, Direktur Shin."
"Sekali lagi, peserta nomor 54 dimohon untuk datang ke ruang audisi sekarang juga. Terima kasih."
**KM137**
"Sekali lagi, peserta nomor 54 dimohon untuk datang ke ruang audisi sekarang juga. Terima kasih."
Seorang lelaki yang tengah berada di luar aula menatap selembar kertas kecil di tangannya yang menunjukkan angka '54'. Ia meremas kertas tersebut sebelum membuangnya ke tempat sampah dan lalu pergi meninggalkan universitas dengan perasaan yang teramat kesal.
"Audisi murahan! Aku tidak mau mengikuti audisi yang hanya berisi orang-orang matrealistis yang hanya menuruti perintah orang yang memiliki uang," lelaki itu berjalan cepat menuju tempat parkir dengan kedua tangan yang menggenggam erat.
Grepp!
Langkahnya terhenti ketika merasa ada seseorang yang menahan tangan kirinya. Ia menatap tajam orang tersebut seolah berkata 'lepaskan tanganku atau kau akan mati!', namun hanya dihiraukan oleh orang tersebut.
"Kenapa kau tidak memasuki ruang audisi?" tanyanya dengan nada dingin. "Aku tahu kertas yang baru saja kau buang itu bertuliskan nomor 54."
"Ck! Untuk apa? Untuk apa aku mengikuti audisi tersebut jika yang berkuasa adalah uang?" balasnya ketus.
"Darimana kau tahu?" Orang tadi mengernyitkan dahinya bingung.
"Kemarin aku melihat dengan kedua mataku sendiri jika Eunhyuk dan si Yesung itu datang ke ruangan Kepala Direktur. Aku bahkan sempat mendengar pembicaraan mereka. Kau tahu? Mereka yang ditemani ibu masing-masing menyogok Kepala direktut agar mengubah alur cerita yang seharusnya dibutuhkan 3 peran utama pria dan 2 peran utama wanita menjadi 1 peran utama pria dan wanita, yaitu mereka sendiri. Bukankah itu egois?"
Orang yang menghentikan langkah namja tersebut tersenyum, entah apa maksudnya. Ia menarik tangan namja itu. "Ikut aku." perintahnya dingin.
**KM137**
Di ruang audisi...
"Direktur Shin, sepertinya kita lewati dulu peserta yang ini," saran Profesor Han yang sudah tidak sabar lagi setelah menunggu 15 menit hanya karena salah satu peserta yang tidak hadir tepat waktu.
Direktur Shin memandang jam tangannya sekali lagi. "Kita tidak bisa melewatkan peserta yang ini. Bukankah dia itu mahasiswa tingkat akhir yang bakat aktingnya telah terbukti?" Ia mencoba meyakinkan juri yang lain agar bersedia menunggu.
"Direktur, kau seharusnya memberi kesempatan yang lain. Kim Jong Hoon misalnya, bukankah dia cukup bagus?" ujar Profesor Han yang merasa kepanasan karena terlalu lama mengulur waktu.
"Kita bisa membicarakan hal itu nanti. Bukankah ada 3 peran utama pria dalam drama ini?"
"Kepala Direktur telah memberi perintah agar alur cerita harus diubah. Jadi, kita hanya memerlukan satu peran utama pria dan wanita saja."
Direktur Shin membulatkan matanya tak percaya. "Apa katamu?! Sudah jelas aku yang membuat alur cerita drama kolosal ini. Kenapa orang itu malah seenaknya sendiri mengubah alur tanpa persetujuanku?"
"Kami tidak tahu, Direktur. Itu keputusan Kepala Direktur," ucap Profesor Park yang sejujurnya juga tidak suka dengan perintah kepala direktur.
"Sekarang juga, katakan pada Kepala Direkturmu itu agar ia harus mencabut perintahnya atau tidak akan pernah ada yang namanya audisi!"
Ketiga juri tersentak melihat Direktur Shin yang berbalik keluar dari ruangan dengan wajah yang jelas menahan amarah.
"Aigoo... sudah aku katakan sejak awal, Direktur Shin pasti akan membuat ulah lagi," ujar Profesor Han kesal.
"Profesor Han, bukankah yang membuat ulah itu seharusnya Kepala Direktur? Setidaknya dia harus mendiskusikannya terlebih dahulu dengan Direktur Shin." Profesor Oh menatap Profesor Han dengan tatapan 'aku-benar-kan' .
"Masalah baru telah muncul," gumam Profesor Park malas.
**KM137**
Jungmo melirik ke arah jam dinding untuk kesekian kalinya. Ini sudah lebih dari 45 menit semenjak peserta nomor 54 itu dipanggil untuk yang kedua kalinya, tapi kenapa sangat lama? Apa yang sebenarnya peserta itu lakukan? Begitulah pertanyaan-pertanyaan yang melintas di pikiran lelaki itu.
"Pasti telah terjadi sesuatu," gumamnya yakin.
Sayangnya tak hanya Jungmo yang merasa demikian. Sebagian besar peserta menyadari jika ini sudah terlalu lama. Belum ada pemanggilan nomor selanjutnya hingga sekarang. Apakah peserta nomor 54 itu tidak hadir? Tapi, bukankah sudah tertulis dalam peraturan jika peserta tidak memasuki ruang audisi lebih dari 10 menit maka secara otomatis akan langsung didiskualifikasi dan dilanjutkan dengan pemanggilan nomor selanjutnya.
"Kenapa Si Nomor 54 itu belum keluar?"
"Aku tidak tahu. Mungkin saja dia tengah memohon untuk lulus audisi."
"Tapi ini sudah terlalu lama. Tidakkah kalian merasa aneh?"
"Sedikit. Tapi... Hey! Bukankah itu bagus? Waktu kita untuk berlatih bisa lebih panjang."
"Benar juga."
Yesung terdiam mendengar perkataan orang-orang di sebelahnya. Ia melirik Eunhyuk yang hanya fokus pada ponsel yang sejak tadi digenggamnya sambil mengetik sesuatu di sana. Yesung mengernyitkan dahinya bingung. Gadis ini bersikap seperti tidak ada apa-apa. Padahal peserta lain mulai membicarakan tentang longgarnya waktu audisi ini.
.
.
.
To Be Continue
Yakk! Chapter 3 telah diupdate!
Gimana pendapat reader-deul dengan chapter yang ini?
Silahkan isi kotak reviewnya dengan sukarela dan jangan malu untuk memberi kritik dan saran kalau masih ada yang kurang (padahal banyak). Pertanyaan apapun akan author jawab di chapter selanjutnya yah...
See you next chapter!
Kamsahamnida!
