*OLALA*
Disclaimer : Naruto milik Om Masashi tapi cerita ini milikku~
Genre : Romance & Humor
Rating : Teen
Warning : amat sangat OOC,missed typo(s),alur cepat,drabble(?),judul gak sesuai cerita
Dont like? Dont read,minna^^
.
.
.
"Ohayou~" sapa Hanabi dengan riang mendekati meja makan.
Senyum yang sangat lebar terpasang di bibirnya yang biasanya selalu merengut atau datar seperti papan, tapi kali ini begitu berbeda. Beberapa 'bunga' bahkan nampak dari punggung kecilnya yang ditumbuhi rambut coklat sepunggung kurang sedikit.
Hiashi, Neji dan Hinata yang sudah berada di meja makan sedari tadi hanya menatap anggota keluarga mereka yang paling muda itu dengan tatapan heran, ada apa gerangan dengan salah satu Hyuuga ini?
"Wah... sarapannya kelihatan sangat lezat ya," ucapnya lagi ketika tiba ditempat duduknya, tidak mempedulikan suasana meja makan yang hening. "Ittedakimasu~"
Tidak terdengar tanggapan apapun.
"Tou-san, nii-san dan nee-chan tidak makan?" tanya Hanabi ketika menyadari keheningan yang cukup jelas dari ketiga anggota keluarganya itu.
Ketiga Hyuuga itu mengerjapkan mata bingung kemudian mulai sibuk menggerakkan peralatan makan mereka. Hanabi mengangkat bahunya acuh tak acuh kemudian melanjutkan makannya lagi.
"Ha... nabi?" panggil Hinata tiba-tiba terdengar ragu, dia merasa sangat penasaran dengan apa yang kira-kira terjadi pada adik kecilnya itu.
"Ada apa, nee-chan?"
"Apa yang terjadi padamu?" tanya Hinata menatap Hanabi dengan raut wajah yang sangat penasaran. "Apa kau sakit?"
Hanabi yang melihatnya hanya mengerutkan keningnya bingung, dia sama sekali tidak mengerti apa maksud dari ucapan kakak perempuan yang sangat disayanginya itu. Dia merasa baik-baik saja kok, amat-sangat baik malah.
"Aku baik-baik saja kok, nee-chan," jawab Hanabi akhirnya dengan nada heran. "Memang ada apa?"
"Kau terlihat... berbeda."
Hinata mengerutkan keningnya ketika jawaban itu keluar dari mulutnya. Hiashi dan Neji yang sedang makan dalam diam pun tampak menampilkan ekspresi yang tidak jauh berbada meskipun tidak sedang bertatapan langsung pada Hanabi.
Hanabi terdiam selama beberapa saat ketika mendengar pernyataan kakak perempuannya itu, dia segera melepaskan genggaman tangannya dari sumpit kayunya lalu mulai memasang ekspresi serius untuk berpikir. Setelah beberapa saat anak perempuan itu terdiam lalu kembali menatap kakaknya itu dengan gelengan kepala perlahan dan mata yang terkesan sangat polos.
"Aku tidak apa-apa kok, nee-chan."
Hinata hanya bisa terdiam mendengar jawaban adiknya yang tidak menghilangkan rasa penasarannya. Apa dia sedang menyembunyikan sesuatu?
"Naruto-nii."
Naruto menoleh dan mendapati Hanabi sudah berdiri dihadapannya dan sedang menatapnya dengan tatapan menyelidik. Laki-laki itu menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal, entah kenapa dia selalu merasa gugup ketika berhadapan dengan adik perempuan Hinata itu.
"A-ada perlu apa, Hanabi-chan?" tanya Naruto sedikit tersendat pada akhirnya.
Hanabi menatapnya selama beberapa saat lalu mendekati Naruto dan menjijitkan kakinya agar dia bisa membisiki kekasih kakaknya itu. Naruto sedikit berjengit ketika mendapat perlakuan itu tapi akhirnya dia berusaha mendengarkan dengan sebaik mungkin apa yang dikatakan Hanabi.
Naruto mengernyit selama beberapa saat lalu melongo.
Hanabi menarik tubuhnya menjauh dari Naruto sembari menatap kekasih kakaknya itu dengan seenyum lebar dan tampak sangat puas.
"Kau benar-benar Hanabi kan?" tanya Naruto menatap Hanabi lekat. Kemana ekspresi datar yang biasa dimiliki oleh seorang Hanabi Hyuuga?
Hanabi mengerutkan keningnya. "Tentu saja aku Hanabi, memang siapa lagi?"
"Baiklah," ucap Naruto mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti lalu kembali mengajukan pertanyaan. "Kapan kita memulainya?"
Hanabi kembali memasang senyum lebarnya tadi yang sempat lenyap. "Sekarang."
Hinata melangkahkan kakinya dengan riang menyusuri lorong sekolahnya, kedua kakinya membawa dirinya masuk ke sebuah ruangan yang lumayan besar dengan banyak rak buku yang menghiasi hampir segala penjuru ruangan. Sambil bersenandung pelan dia melewati lorong yang tercipta diantara rak buku sambil menyusuri jarinya ke sampul buku yang terlihat jelas dari sisi bagian samping. Dengan gerakan pelan dia memilah-milah buku yang tersaji di depannya lalu membuka beberapa halaman untuk dibacanya sekilas.
Setelah beberapa menit mengelilingi hampir semua rak buku di perpustakaan, Hinata akhirnya memilih dua buku yang cukup tebal lalu berjalan ke tempat duduk yang tersedia di perpustakaannya itu. Mengambil posisi yang nyaman di sebuah sofa yang cukup sering dia tempati lalu mulai membuka halaman bukunya untuk dibaca.
Disisi lain, terlihat dua bayangan berbeda ukuran yang terlihat mencurigakan mengendap-endap mendekati tempat Hinata berada. Dengan langkah sepelan dan sehati-hati mungkin mereka melewati lantai kayu perpustakaan yang sedikit menimbulkan suara lalu tiba dengan cepat dibagian belakang kursi Hinata.
"Naruto-nii disebelah sana..." bisik Hanabi menunjuk salah satu rak yang berada tepat disamping Hinata duduk.
Naruto mengangguk lalu memutar tubuhnya untuk bersiap diposisi, Hanabi dibelakang kursi kakaknya sedangkan Naruto dibalik rak buku. Mereka sudah sangat siap menghadapi segala resiko yang akan mereka hadapi.
1
2
3
Hanabi segera menjulurkan tangannya kebalik kursi lalu dengan cepat menyibak rambut kakaknya yang kebetulan tidak sedang diikat sehingga terayun dengan bebas melewati wajahnya. Dengan sukses Hinata yang tentunya merasakan hal itu segera menolehkan kepalanya kebalik kursinya untuk mencari tahu penyebab rambutnya bergerak sendiri, tapi dia tidak menemukan siapapun disana kecuali rak buku lain yang berdiri menjulang dibelakangnya.
Hinata dapat merasakan tubuhnya merinding lalu dengan perlahan meletakkan bukunya diatas kursi untuk segera berdiri dari tempat duduknya–berniat untuk mengecek rak buku itu. Entah kenapa dia bisa merasakan bahwa seseorang yang menyibakkan rambutnya tadi bersembunyi dibalik rak buku itu. Dengan langkah yang sangat pelan dan jantung yang agak berdebar akibat adrenalin, Hinata mendekati lemari itu, perlahan-lahan hingga membutuhkan satu menit lebih lama dari seharusnya.
Tiba-tiba sesuatu menyentuh ringan pundaknya, Hinata yang kaget segera menoleh dan dengan cepat dapat merasakan sesuatu yang lembut dan hangat sudah menyentuh pipi kanannya. Matanya segera terbelalak lebar ketika melihat seseorang yang saat ini berdiri dihadapannya tersenyum khas dengan pipi yang sedikit merona setelah menyudahi ciuman singkat di pipi ranum gadis berambut indigo tersebut.
"Na-na-naruto-kun?" tanya Hinata terkejut.
"Halo, Hinata-chan," sapa laki-laki itu santai.
Hinata dapat merasakan wajahnya memanas, Naruto baru saja mencium pipinya. Tanpa berkata apapun lagi Hinata dapat merasakan matanya mangabur dan kakinya terasa seperti jeli hingga tidak bisa lagi menopangnya. Sebelum merasakan kegelapan merengkuhnya, Hinata dapat merasakan Naruto berseru terkejut dan sebuah tangan merangkul tubuhnya.
Naruto-kun.
.
.
.
.
.
TBC
A/N:
Halo, aku datang membawa update-an~ masih garing ya :'3
Makasih buat kalian yang sudah repot-repot meluangkan waktunya untuk membaca fic gaje ini. Makasih juga buat Waffle R. Dewey dan Amu B yang sudah mereview chapter lalu.
Sekian, sampai ketemu lagi (kalau mau -,-)a
