Terhitung sudah dua minggu Baekhyun menginap ditempatnya, membuat Chanyeol mengira ini hanyalah sebuah ilusi yang kapan saja bisa menghilang.
Tetapi perasaan takutnya hilang karena setiap paginya wajah bantal Baekhyun lah yang pertama kali dilihatnya. Setiap hari disuguhi yang seperti ini terus ia merasa sangat semangat untuk segera menyelesaikan deadline.
Mungkin bagi Chanyeol, Baekhyun adalah sebuah charger yang kapan saja bisa mengisi energi semangatnya kembali.
Seperti sekarang ini, Chanyeol sangat menempel seperti permen karet. Tidak ingin melepaskan pengawasan pada kekasihnya, untung hari ini Baekhyun tidak ada jadwal kuliah.
Sebenarnya sih Baekhyun merasa sedikit risih, tapi dia tidak bisa menolak karena Chanyeol pasti akan melakukan sesuatu agar dia bisa diam. Daripada begitu, lebih baik Baekhyun biarkan saja sampai si tuan novelis puas memeluknya dengan manja.
"Hei Baekhyun, bagaimana kalo nanti sore kita jalan-jalan hm?!"
"Bukankah hyung ada deadline yang harus dikerjakan? Kenapa malah mengajakku jalan-jalan disaat sibuk begini?" Ucap Baekhyun lembut sembari mengusap-usap kepala Chanyeol yang ada di pangkuannya.
Chanyeol mendengus karena teringat kembali akan deadline. Mood-nya benar-benar mudah berubah.
"Ck, jangan ingatkan lagi tentang tugas menyebalkan itu! Siapa suruh mereka membuat bukuku laris, bahkan sampai best seller! Padahal aku menjadi novelis hanya sekedar iseng saja, tidak berharap mendapatkan penghargaan atau semacamnya."
Tiba-tiba saja Baekhyun ingin menghantamkan kepala Chanyeol ke dinding agar si novelis sadar betapa bagus karya yang dibuatnya dan pantas mendapatkan penghargaan.
Menghela nafas, Baekhyun tau seharusnya dia harus extra bersabar jika dihadapkan oleh Chanyeol yang seperti anak yang baru masuk SMA.
Labilnya bukan main, jadi Baekhyun menyusun kalimat agar Chanyeol mengerti.
"Kau tidak boleh melantarkan pekerjaan hyung. Itu kan profesimu sebagai novelis, sudah sewajarnya jika bukumu bagus dan banyak orang yang menyukainya. Kau adalah si novelis dengan nama pena Loene P, bukumu adalah sebuah karya yang pantas mendapatkan penghargaan. Jadi selesaikan deadline itu, baru aku mau menerima tawaranmu. Bagaimana hm?!"
Chanyeol malah berpura-pura tidak dengar dan malah sok sibuk dengan ponselnya sembari bersiul keras dengan sengaja.
Pelipis Baekhyun jadi berkedut, tanda bahwa dia sudah diujung tanduk dan menunggu amarahnya meledak.
Tapi ada satu cara yang paling ampuh untuk mendapatkan perhatian Chanyeol.
"Baiklah tuan keras kepala, bagaimana kalau hyung selesaikan deadline secepatnya lalu hyung boleh meminta apapun padaku."
Mendengar penawaran yang membuatnya untuk, Chanyeol langsung mengubah posisi menjadi duduk dihadapan Baekhyun dengan mata yang berbinar. Persis seperti anak anjing meminta makan.
"Benarkah? Hyung boleh meminta apapun padamu?"
Baekhyun mengangguk sebagai jawaban, tidak sadar jika Chanyeol menyeringai bak iblis.
"Nah, kalau begitu apa boleh aku minta sekarang?"
"Eh?! Mana boleh, hyung kan belom menyelesaikan deadline-nya."
"Aku sudah menyelesaikannya kok."
Jawaban Chanyeol membuat Baekhyun terkejut. Bukankah tadi Chanyeol bilang belom mengerjakan deadline-nya? Lalu kenapa sekarang ia berkata sudah selesai?!
Atau jangan-jangan...
"Yak! Hyung lepaskan aku! Bukannya tadi bilang ingin jalan-jalan keluar rumah-ahhh~"
Selagi Chanyeol mencoba menyerang, Baekhyun berusaha menghindari dan mencoba berbicara pada Chanyeol.
Akhirnya Chanyeol mendengarkan perkataan Baekhyun. Membuat yang lebih pendek bernafas lega.
"Tadinya begitu, tapi aku merasa berduaan dengan kau yang memanjakanku itu membuatku lebih bahagia." Gumamnya sembari menenggelamkan kepala pada perut Baekhyun.
Chanyeol yang tiba-tiba menjadi romantis begini membuatnya malu sekaligus bahagia.
"K-Kalau begitu apa boleh buat, lakukan semau hyung saja. Untuk kali ini..."
Suara Baekhyun yang mencicit membuat Chanyeol gemas sendiri, tanpa sadar jika Baekhyun baru saja membangunkan singa lapar.
"Baiklah, jangan coba untuk menarik kembali perkataanmu itu..sweety."
Chanyeol bangkit dan mengurung Baekhyun dibawah tubuhnya yang besar, lalu mendekatkan menjilati telinga Baekhyun dengan sensual.
Desahan yang masih ditahan dikeluarkan oleh bibir tipis itu. Tanpa basa-basi, Chanyeol membuka sweater yang dipakai si pendek dan menyesap rakus puting yang sudah mencuat karena rangsangan.
"Ahhhh~ hyunghh.."
Baekhyun mengacak-acak rambut Chanyeol sebagai pelampiasan, saat ini dirinya seperti menyusui bayi besar yang sangat kehausan.
Mereka saling bersilat lidah, tidak peduli pada bel apartemen yang berbunyi nyaring.
Baekhyun mencoba memberitahu pada si novelis ada suara bel yang berbunyi, tapi tidak bisa. Dia sedang sibuk mendesah dibawah kontrol Chanyeol dan tidak bisa menolak.
Tapi lama-lama Chanyeol jadi kesal, dengan mengerang marah karena hasratnya ditunda. Ia bangkit dan melangkahkan kaki panjangnya menuju pintu.
KLIK
Pintu terbuka dan Chanyeol sudah siap dengan segala makian di tenggorokan. Tapi ternyata orang yang dihadapannya kini bukan tamu biasa.
Melainkan tamu istimewa.
Sampai membuat Chanyeol membeku seketika.
"Chanyeol hyung, siapa itu?"
Bahkan suara Baekhyun tidak dapat menyadarkannya, membuat si pendek ikut mengintip dibalik tubuh raksasa itu.
Betapa terkejutnya sampai mata bulan sabit itu membola keukuran maksimal. Sebelum berteriak.
"Eh, Changmin hyung?!!"
e)(o
Baekhyun sedang membuat jamuan di dapur, sehingga Chanyeol harus menemani kakak sepupu kekasihnya itu.
Rasa canggung, takut, gelisah dan gugup bercampur menjadi satu. Bahkan matanya tidak fokus, selalu menghindari tatapan Changmin yang tajam.
"Tidak usah tegang begitu Chanyeol-ah."
Chanyeol meringis, apa terlihat sekali?
"Ah maaf Changmin-ssi."
"Tidak perlu minta maaf, aku tau kalau ini kali pertama kita bertemu. Pasti rasanya aneh jika ada orang asing yang datang kerumahmu."
Chanyeol hanya bisa mengangguk dan sesekali menggaruk tengkuknya. Rasanya sangat canggung, kenapa Baekhyun begitu lama di dapur?
"Kalau aku boleh tau, kenapa Changmin-ssi datang dan tau kalau Baekhyun ada disini?"
Tiba-tiba saja suara tawa mengisi apartemen yang sepi itu sampai terdengar ke dapur. Membuat Baekhyun ikut bertanya-tanya, lelucon apa yang dilontarkan Chanyeol pada Changmin?
"Oh maaf, aku tidak bermaksud tertawa. Tapi sungguh, pertanyaanmu tadi lucu sekali! Dengar Chanyeol-ah, kita sudah hidup di jaman modern. Aku berada disini karena aku tau dimana lokasi Baekhyun setelah paman memintaku untuk mencarikan anaknya yang kabur dari rumah."
Chanyeol paham sekarang, pasti Changmin memakai GPS.
Sangat praktis.
"Kalian bicara apa sampai tertawa begitu. Tidak biasanya."
Baekhyun datang membawa kue kering, buah apel yang sudah dipotong dan tiga gelas jus jeruk beserta botolnya.
"Kapan kau akan pulang Baek? Paman dan bibi mencarimu kemana-mana."
"Mereka tidak mengkhawatirkan aku, jadi untuk apa aku pulang kalau pada akhirnya ditinggal sendirian?"
Changmin menghela nafas sementara Chanyeol hanya bisa diam sambil mengemil kue.
"Setidaknya kau kabari mereka, jangan seperti ini caranya."
"Kalau aku beritahu pasti mereka langsung membawaku pulang dengan paksa. Dan aku tidak mau hyung, mengertilah."
Suasana menjadi tegang, dua orang berbeda umur itu saling tidak mau mengalah.
Chanyeol yang dari tadi menyimak pun tidak bisa berkomentar apa-apa, ia tidak tau inti permasalahannya. Ingin ikut menengahi pun percuma. Ia belum menjadi bagian keluarga, jadi Chanyeol tau posisinya.
"Huft, baiklah kalau itu keputusanmu. Hyung akan pergi dari sini dan tidak akan memberitahu siapapun termasuk paman dan bibi. Tapi tolong jangan sembunyi terlalu lama, ketika kau siap kembalilah ke rumah."
Setelah pamit, Changmin langsung pergi begitu saja. Meninggalkan Chanyeol dan Baekhyun.
Ingin mengantar Changmin sampai pintu, tapi mungkin Baekhyun tidak akan menyukai hal itu. Jadi sebisa mungkin Chanyeol memikirkan cara untuk membuat Baekhyun tersenyum cerah lagi.
"Butuh pelukan?"
Baekhyun menggeleng, kedua tangan yang semula melipat didada dibawa untuk saling memilin baju. Wajah yang tadi terlihat marah dan kecewa berubah sendu. Chanyeol jadi ikut sedih.
"Chanyeol hyung, maaf ya membuat keributan di apartemenmu. Aku tidak menyangka Changmin hyung akan kesini."
"Tidak apa-apa, aku mengerti. Jadi, bisakah kau berbagi ceritamu padaku? Itu kalau kau tidak keberatan, soalnya menyimak orang yang sama keras kepala itu membuatku gemas ingin ikut campur."
Baekhyun terkekeh kecil dipelukan si novelis, membuat Chanyeol ikut tersenyum.
"Baiklah, tapi dengan satu syarat."
"Apa?"
"Cium aku!"
Tanpa menunggu lama, Chanyeol menyerang ganas bibir tipis yang berani menantangnya itu.
Dan kalian pasti tau kelanjutannya bukan?
Mari kita berimajinasi bersama.
THE END
Annyeong haseyo minna!
Balik lagi di ff My Novelis punya Shiro~
Ini adalah bonus buat kalian, tapi gak jamin bagus. Karena Shiro lagi kena WB, padahal suka mampir ke ff author lain atau baca manga/manhwa, dan tiap hari liat anime. Tapi KENAPA? KENAPA WB INI TAK KUNJUNG HILANG??? HUWEEE TT_TT
Serius deh, kata kalian ff sequel My Novelis ini aneh gak sih? Shiro ngerasa gak pede pas mau publish, gak tau kenapa.
Mau minta saran si Izahina98, dia sibuk. Chat Shiro kemaren aja gak dibaca, apalagi dibales :v.
Padahal mau diskusi ff Hydrangea wkwk
Maaf jadi curhat :3
Di sequel ini juga Shiro ngajak kalian buat tentuin sendiri kenapa Baekhyun kabur dari rumah ehe.
Oh satu lagi, buat reader ff Shiro yang Story Of The Devil Master and I dimohon bersabar. Seperti keterangan diatas, Shiro lagi kena WB. Jadi mohon pengertiannya dan tetap tunggu dan berdo'a biar penyakit WB punya Shiro lekas hilang wkwk
Udah ah segini aja, takutnya malah jadi sesi curhat.
See you!
