"Tunggu! Hei, hei—kubilang tunggu!" pekik Ino sambil mengejar seorang bocah berambut raven. Gadis yang baru genap 10 tahun itu terseok-seok mengejar langkah sang pemuda. "Kenapa kau mengabaikanku, Sasuke?"

Anak bernama Sasuke itu tak menjawab, langkahnya semakin tergesa dan raut wajahnya sangat tidak ramah. Semakin jauh mereka berjalan—setengah berlari dengan sang gadis yang masih berusaha mengejar dan menyamakan langkah mereka. Si gadis belia itu ingin berseru tapi suaranya tersendat dengan napas yang terengah. Beberapa menit kemudian ia tersenyum ketika langkah mereka semakin melambat, namun Sasuke belum mengatakan apa pun juga, sampai saat mereka tiba di padang rumput belakang gereja kecil yang terletak tak jauh dari Panti Asuhan.

"Kenapa kita ke sini?"

Yang ditanya tak kunjung menjawab malah semakin memberikan tatapan dingin ke arahnya. "Jika kau tak mau mengatakan apa pun, aku lebih baik kembali saja." Kata gadis itu beranjak pergi dengan perasaan kesal, namun langkahnya terhenti ketika lengannya ditarik oleh tangan pemuda itu.

Sang gadis mengehla napas dengan kelakuan pemuda di depannya. Jika sudah begini, mereka hanya akan menghabiskan waktu dengan diam. Namun demikian ia turut duduk di sebelah pemuda itu.

"Kalau kau seperti ini terus, aku benar-benar tak mau bermain denganmu lagi." katanya melihat ke arah Sasuke yang masih tak berkata apa pun.

Ino mendecak kesal, dan hendak berdiri ketika Sasuke akhirnya berkata,"Aku tidak suka dengan bocah berambut merah sialah itu!"

"Jangan berkata seperti itu," kata Ino tenang dan berusaha tersenyum. "Dia itu lebih tua dari kita lho, Sasuke-kun. Dan yang lebih penting, dia sangat butuh dukungan dari kita—"

"Menikahlah denganku."

Ino mengerjapakan matanya tak percaya. Detik berikutnya ia tertawa terbahak-bahak. "Aduh duh, Kau ini kenapa ?" katanya berusaha menahan tawa yang semakin membahana. Sungguh tidak masuk akal rasanya mendengar Uchiha keras kepala itu berkata demikian. "Aku memang pernah memaksamu jadi pengantin priaku, tapi aku tak—"

Ino tersentak kaget saat Sasuke merendahkan pandangannya dan mengecup bibir Ino sekilias. "Kau gadis paling berisik dan cerewat yang pernah kukenal." Kata Sasuke setelah mengabil jarak dari gadis itu.

Oh, ah—hah?

"Dan jelek." Tambahnya yang sukses membuat Ino marah-marah dan mengomel tak terima. Detik berikutnya terdengar tawa menggema dari dua bocah itu yang kini berlari ke arah Gereja. Kenangan yang sangat indah yang akan terus diingat oleh sang pemuda. Hingga waktu terus berlalu dan mengubah segalanya yang ia pernah miliki.

.

Naruto belong to Masashi Kishimoto.

Chapter 3

One Cannot Love And Be Wise

.

Terakhir kali Ino mendapati jam lembur adalah hari kamis minggu lalu, sehari sebelum pesta perayaan perusahaan Sabaku. Biasanya ia akan pulang tepat pukul 22.30, terlalu larut malam memang, tapi untunglah Inuzuka Kiba selalu pengertian dan baik hati menemani dirinya.

Ya, meskipun lelaki itu menyebalkan tapi tetap sangat baik dalam waktu yang bersamaan.

Namun, untuk saat ini Inuzuka bungsu itu sedang ambil cuti selama beberapa hari. Dan Ino seharusnya saat ini sudah tidur cantik di atas kasurnya, ketika mendapati bahwa jam lemburnya digantikan oleh orang lain, Ino bagaikan mendengar suara lonceng indah nan merdu dari surga sana. Jika saja sebuah insiden diluar nalar ini tidak pernah terjadi.

Beberapa menit setelah Ino keluar kantor hendak pulang dengan perasaan bahagia, Hyuuga Hinata dengan mobil mewahnya menanti tepat di depan perusahaan Sabaku. Dengan tampang cengo Ino mengangguk dan masuk mobil yang kelewat mewah itu, ketika Hinata dengan sopan memintanya untuk turut ikut masuk ke dalam mobilnya.

Sepanjang jalan Ino memutar otaknya untuk menemukan sebuah alasan kenapa dirinya bisa terjebak pada situasi seperti itu? Sudah pasti ada alasan logis kenapa seorang Hyuuga mengajaknya pergi bersama. Tapi kenapa? Ada apa? Oh, Ino bahkan hanya bisa membisu saja dalam perjalanan yang terasa memakan waktu bagai berabad tahun lamanya.

Kecanggungan sudah tak terelakan, bahkan ketika mereka tiba di sebuah restoran mewah yang penah Ino lihat di acara tv kesayangannya, yang bisa dibilang pesan satu menu bisa membuat dompetnya sekarat selama sebulan. Oke, untuk ukuran Ino yang hanya sebagai karyawan kantoran pastilah jumlah harga nominal di sana tidak sebanding dengan jumlah nominal untuk hunian dompetnya.

Ino mengambil napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Tiba-tiba saja ia menjadi resah karenanya, ketika melihat Hinata yang menunduk dan sepertinya... hmm terisak?

Mau tidak mau perhatian Ino kini teralihkan pada Hinata sepenuhnya. Gadis itu sepertinya sedang mengatur emosi yang sempat meluap. Karena tak kunjung mengatakan apapun, juga karena Ino benci harus terus merasa canggung, akhirnya ia memutuskan untuk memulai, namun tiba-tiba Hinata bersuara. "Yamanaka-san," Hinata memulai, "Ini mengenai Garaa."

Gaara? Kenapa Hinata ingin membicarakan Gaara dengan dirinya? Apa sih? Kok rasanya Ino mulai tidak suka dengan semua ini.

Dan ketika Ino larut dalam pikirinya, Hinata kembali melanjutkan. "Apa boleh aku bercerita sedikit?"

Ino terdiam sejenak, lalu kemudian ia mengganguk kecil. "Tentu."

Hinata tersenyum lembut, tatapannya yang bersinar terlihat sangat tulus ketika memulai kisahnya. Ino bisa melihat jelas ekspresi gadis itu ketika berkata. "Aku dan Gaara sudah saling kenal sejak kecil," Hinata memberi jeda, pandangannya seolah menerawang, kemudian ia melanjutkan. "ketika itu kami masih berusia tujuh tahun."

Awalnya, Ino hanya menanggapinya dengan sesekali menggangguk kecil, ketika Hinata dengan lancar menceritakan kisah masa lalunya, dimulai dari bagaimana dirinya bertemu dengan Gaara, bagaimana orang tua mereka merencanakan perjodohan, sampai di mana Gaara kabur dari rumah.

Cukup lama bagi Ino untuk mendengar Hinata bercerita, bahkan gadis itu sempat emosional ketika menceritakan klimaks dari kisahnya tersebut. Meskipun Ino masih bertanya-tanya kenapa gadis Hyuuga di hadapannya itu menceritakan hal tersebut kepadanya.

"Jadi, dia pernah kabur ke panti asuhan?" tanya Ino memastikan.

"Sebenarnya aku kurang begitu tau bagaimana Gaara bisa ada di sana, karena dia tak mau cerita apa pun." Hinata membenarkan posisi duduknya dan kembali menatap Ino. Sungguh, Ino tak bisa menebak apa yang difikirkan Gaara. Maksudnya, Ino memang hapal betul sifat bosnya itu.

Tapi... apa yang kurang dari Hyuuga Hinata? Tak hanya cantik dan pintar, ia juga berasal dari keluarga yang terlampau kaya. Ino berani bertaruh Hinata adalah tipe idaman semua lelaki, lalu kenapa Gaara seolah tak menginginkan Hinata?

Ino menepis jauh-jauh segala pemikirannya barusan, hubungan orang lain sama sekali bukan urusannya. Lagipula, masalahnya adalah Ino benar-benar hanya orang luar, dan sungguh, Ino tak ingin terlibat masalah apapun dengan siapa pun.

"Waktu itu aku juga melihat Yamanaka-san ada di sana."

"Apa? Aku? Melihatku di mana?" kata Ino bingung. Seingatnya ia tidak pernah pergi atau tinggal di panti asuhan, dan lagi Ino bertemu dengan Gaara baru setahun yang lalu ketika dirinya pindah ke kota. Itu pun karena Kiba yang memasukan dirinya ke perusahaan Sabaku.

Hinata tidak menjawab, melainkan memberi tatapan bingung. Tiba-tiba saja ia berfikir kalau mungkin saja dirinya waktu itu salah orang, gadis berambut pirang tidak hanya ada satu di Jepang, Tetapi seingatnya pula hanya Ino yang memiliki rambut pirang platinum seperti itu. Dia tahu kalau Ino adalah blasteran, tapi mungkinkah ingatannya yang salah?

"Itu tidak mungkin, Hyuuga-san. Aku bertemu Gaara ketika baru masuk ke perusahaan, sekitar satu tahun yang lalu."

"Tidak, itu benar. Dan juga aku pernah melihat kalian bertemu, tepatnya sebelum Yamanaka-san masuk perusahaan." kata Hinata dengan nada aneh.

"Err... benarkah?" tanya Ino ragu.

Hinata mengangguk. "Waktu itu aku melihat kalian di depan sebuah toko, kulihat Yamanaka-san sedang berdebat dengan penjual bunga di depan toko."

"Lalu?"

"Waktu itu aku mendengar Yamanaka-san berkata seperti ini, JANGAN MAU PANDA-SAN! ORANG INI MENIPUMU! Sambil menunjuk si penjual bunga." Lanjut Hinata dengan sedikit menirukan gaya Ino dalam mode naik pitam. Sedangkan Ino cengo di tempat.

"Memangnya apa yang kami perdebatkan?" tanya Ino dengan wajah masam setengah malu.

Hinata diam sejenak sebelum akhirnya berkata. "Sepertinya penjual bunga itu hendak menipu Gaara, lalu Yamanaka-san datang dan memberitahukan kalau harga bunga itu tidak masuk akal. Dan terakhir, sepertinya Yamanaka-san mengatakan sesuatu tentang lapor polisi, sehingga membuat penjual itu akhirnya pergi."

Sebiji keringat meluncur dari kening Ino. Ia bahkan tak punya kata-kata untuk mengelak, karena itu memang sangat mirip dengan tingkahnya. Tapi benarkah ia pernah bertemu Gaara sebelum bekerja di perusahaannya?

"Sebenarnya aku tidak terlalu ingat, karena aku banyak sekali mengalami kejadian aneh setahun ini. Hahaha" kilahnya. Hilang sudah citranya di depan Gaara maupun Hinata jika cerita Hinata benar adanya. Tapi hey, jangan salahkan Ino jika ia tak ingat sama sekali. Lagipula kejadian memalukan seperti itu siapa yang mau ingat? Dan oh, tuhan, kadang-kadang Ino memang bisa hilang kendali.

"Lalu, setelah Gaara kembali ke rumah, apa hubungan kalian kembali seperti semula?" tanya Ino mengalihkan topik pembicaraan. Cukup mengenai dirinya yang sama sekali Ino tak ingat. "Bagaimana dengan perjodohan kalian?"

Mendengar hal tersebut, tiba-tiba saja mimik wajah Hinata menjadi sendu. "Setelah itu... Gaara tidak pernah lagi berbicara padaku." Pertahanan dirinya pecah. Hinata mulai terisak. "Aku tahu sikap ayah pada keluarganya memang sangat keterlaluan."

Sedikit banyak Ino paham dengan perasaan Gaara setelah mendengar cerita Hinata tadi. Namun, ia juga tak membenarkan sikap Gaara pada Hinata. Yah, tapi ini semua bukan urusannya, ia tidak berhak untuk ikut campur.

"M-maafkan aku," kata Hinata tiba-tiba ditengah isak tangis. Oh, please, kenapa tiba-tiba ia menjadi gagap dan logat gagapnya itu membuatnya menjadi tambah manis. "Yamanaka-san pasti berfikir aku orang aneh."

"Tidak, jangan cemaskan hal seperti itu," Ino menyodorkan tisu yang ia ambil dari tasnya. "Sebenarnya aku tak berhak untuk ikut campur, tapi biarkan aku sedikit memberimu saran."

Hinata menatap Ino lurus-lurus, sebelum akhirnya mengangguk seraya berkata. "Tentu."

"Tidak peduli kau pernah berbuat salah atau tidak, tapi tak ada salahnya memperjuangkan cintamu sekali lagi." Kata Ino serius, lalu Ino tersenyum padanya, senyuman yang sesungguhnya, dan hal itu membuat hati Hinata luluh. "Jadi, jangan menyerah. Berjuanglah!"

Hinata mengangguk, Ia merasa sedih sekaligus senang, dan perasaannya lega karena ia mendapat dukungan tulus sepeti itu untuk pertama kalinya. "Aku tahu Yamanaka-san adalah orang yang baik, aku sangat berterima kasih."

"Ino, " sela Ino cepat, sedangkan Hinata memberi tatapan bingung, membuat Ino tersenyum simpul. "Panggil Ino saja, dan tolong jangan menangis seperti itu, kau adalah gadis yang baik." Kata Ino seraya mengusap punggung Hinata lembut. Entahlah, ini sangat di luar perkiraan Ino. Kejadian seperti ini sangat tidak masuk akal, tapi jika memang demikian, Ino tahu apa yang harus dia lakukan.

"Sekali lagi aku minta maaf karena sudah merepotkanmu, setelah ini biarkan aku mengantar Ino-san pulang."

"Oh, tidak perlu repot-repot! Aku akan pulang naik kereta." Tolak Ino sopan, dan jauh di dalam hatinya ia berharap jika ia masih bisa naik kereta terakhir malam ini.

Setelah itu Hinata pun pamit dan pergi berlalu meninggalkan Ino di restoran. Setidaknya ia bersyukur mereka belum sempat pesan apa pun, meski perutnya mulai terasa lapar. Dan dengan perasaan bercampur aduk Ino mulai meninggalakan area restoran.

.

"Ada perlu apa kau memanggil kami ke sini, Sasuke?" suara dengan nada tidak ramah itu dilontarkan pria berambut putih keperakan, di sampingnya pria yang jauh lebih tinggi berambut oranye memberi tatapan datar ke arah Sasuke.

"Ada tugas untuk kalian." Jawab Sasuke tanpa tendeng aling-aling, datar, dingin dan terdengar sangat menyebalkan. "Urus semuanya dengan benar selagi aku pergi."

Sudut perempatan imajiner muncul di kening pria berambut putih perak. "Kau pikir kami ini kacungmu!?" sahutnya keki. Sedangkan pria di sampingnya menggaruk kepala yang tidak gatal. Tetap tenang, tak ada niatan untuk protes.

"Aku akan memberi bayaran dua kali lipat dari biasanya." Lagi Sasuke berucap tanpa dosa. Dan tanpa menunggu persetujuan dua orang tersebut, Sasuke pergi berlalu tidak memperdulikan protes dan umpatan pedas padanya.

"Kau juga jangan diam saja dong, Jugo!" katanya geram. "Dasar anak ayam Uchiha! Bikin kesal saja!" Lanjutnya seraya meluapkan kekesalannya tersebut pada kaleng yang tak berdosa, menendangnya jauh, tak lupa sumpah serapah lainnya yang tak patut untuk diucapkan.

Jugo menepuk pelan bahu sahabatnya itu. "Sudahlah, daripada marah-marah, lebih baik kita cepat pergi dari sini." Bukannya Jugo rela disuruh-suruh seperti itu oleh Sasuke, namun karena dahulu Uchiha bungsu itu pernah menyelamatkan nyawa sahabatnya, Kimmimaro, jadilah ia merasa harus membalas budi kepadanya. Walau sepertinya Sasuke memanfaatkan dirinya untuk maksud lain. Tapi memang begitulah Sasuke.

Kemudian kedua pria itu berlalu dalam keheningan. Bagi Suigetsu, ada saatnya nanti di mana merekalah yang akan memanfaatkan Sasuke. Suatu saat nanti, pasti. Lagipula, ia lebih suka bagian terbaik dari drama ini. Jadi, menunggu sedikit lebih lama bukanlah masalah. Tinggal menunggu waktu yang tepat, dan yah, melihat bungsu Uchiha itu hancur, sudah cukup baginya. Cukup untuk membalas semua yang telah pria itu rebut darinya.

.

"Aaaah... aahh, aaahhhh."

Sudut perempatan imajiner Ino berkedut kesal ketika terdengar desah tertahan nan erotis. Meskipun pelan, tetapi kereta terakhir yang ia tumpangi sangatlah lenggang. Hanya ada beberapa penumpang dan itu pun sebagian duduk terpisah berjauhan. Kecuali pasangan gila di sampingnya yang tidak tau tempat dan aturan.

Ino membenarkan posisi duduknya, matanya terpejam seolah tak tertanggu dengan kegiatan pasangan gila di sebelahnya. Dia harus pura-pura lupa bawa kuping dan mengacuhkan semua itu karena Ino merasa keki jika ia yang harus pindah dan mengalah, tapi desahan itu kian menggila, membuatnya menggeram kesal.

Oh, Tuhan... tidak bisakah mereka melakukan hal-hal seperti itu di atas ranjang!

Ino hampir hilang kendali dan hendak mengomeli mereka jika saja ia tak merasa ada sepasang telapak tangan hangat yang menutup kedua telinganya. Sontak saja ia kaget dan melihat siapa gerangan si pemilik tangan tersebut. Dan alangkah terkejutnya Ino mendapati orang itu—

Uchiha Sasuke?

Tunggu, apakah dirinya berhalusinasi? Atau apakah ini karena dirinya kurang minum air mineral? Oh, tidak, tidak. Ino yakin dirinya masih bisa fokus 100% dan juga penglihatannya masih dapat dipercaya, tetapi barusan itu apa?

Sasuke menaikan sudut bibirnya seraya berkata. "Aku menemukanmu."

"Hah?" tuhan, apa kali ini pendengarannya yang terganggu?

Ino terperanjat kaget ketika tangan pria itu menggerayami perutnya, menempelkan wajah tampannya pada leher Ino dan memberi kecupan-kecupan lembut di sana.

Baru saja Ino hendak protes, tiba-tiba Sasuke berbisik dengan suara tertahan setengah mendesah. "Jangan bergerak, mereka akan segera pergi." Dengan gerakan cepat Sasuke membalikan posisi Ino membelakangi kedua orang yang kini menghentika kegiatan mereka sebelumnya. Dengan seriangaian licik Sasuke mencium leher jenjang Ino, pelan dan lembut,kemudian menyesapnya dan mengigitnya tanpa segan membuat sang objek menjerit pelan setengah mendesah.

Ino membatu. Tangannya yang hendak menjambak surai hitam milik Sasuke langsung menutup mulutnya begitu sadar ia menjerit seperti itu. Ia memejamkan kedua matanya, sedangkan wajahnya memerah hebat. Dan seringaian Sasuke kian menjadi ketika mendapati pasangan yang melakukan hal-hal tak senonoh tadi beranjak pindah sambil mendecak sebal. Kekesalan tergambar jelas di raut wajah mereka.

Sasuke melepaskan pelukannya dan mengambil jarak di samping Ino, dengan wajah tanpa dosa ia berkata, "Sekarang kau berhutang terimakasih padaku."

Oke, mungkin ini adalah hari tersial untuknya. Ino memang bukan lagi seorang gadis yang akan menjerit senang dalam hati ketika mendapati pria tampan tertarik padanya. Bahkan rasanya ia terlalu tua untuk melakukan hal seperti itu, apalagi di usianya sekarang yang tak lagi remaja.

"Tolong jelaskan apa maksud dari perbuatan anda tadi, Uchiha." Bahkan Ino tak mempedulikan embel-embel untuk menunjukan rasa hormat pada pria itu. Sorot matanya menajam ketika melihat Sasuke dengan santainya bergumam 'Kopi' Tak ada niatan untuk menjawab, apalagi meminta maaf.

Tsk!

Beberapa hari sebelumnya, Ino sempat kagum dan ikut terbawa suasana akan beribu pujian untuk pria itu! Lalu apa ini semua? Mungkin ini yang namanya kenyataan lebih pahit daripada ekspetasi. Ino telah tertipu mentah-mentah.

Padahal ketika mereka berbincang minggu lalu, pria itu nampak normal dan yah, Ino akui jika ia mengagumi pria itu, setidaknya sampai beberapa detik yang lalu, sebelum pria itu melakukan hal seperti tadi padanya. Dan sialnya Sasuke malah memasang wajah datar seolah tak peduli.

Dengan kesal Ino berjalan menjauhi pria itu, dan memilih tempat duduk lain. Yang benar saja, apa-apan itu tadi? Ino mendengus sebal. "Jangan menatapku!" serunya jengkel ketika Sasuke terus melihat ke arahnya.

Sayangnya, Sasuke malah berdiri dan berjalan menghampiri Ino. Ia duduk di sana, di sebelah Ino, dan mengabaikan tatapan heran dari Ino.

Tidak adakah hal yang lebih aneh dari ini?

Dengan cepat Ino mengambil jarak, menjauh dari Sasuke. Sedangkan Sasuke malah kembali berusaha menutup jarak mereka dengan ikut bergeser ke samping, melewati dua kursi penumpang. "Duduklah di manapun kau mau, tapi tidak di dekatku!" teriak Ino ketika Sasuke berusaha menyenderkan tubuhnya.

"Kau berani bicara tidak sopan seperti itu padaku." ucap Sasuke akhirnya dengan nada yang bisa membuat orang langsung bersujud mohon ampun.

Seketika Ino menelan ludahnya susah payah. Tatapan Sasuke padanya sangat jauh berbeda dari yang sebelumnya. "A-ada banyak kursi kosong, mohon menjauhlah dariku—sana."

"Kenapa sekarang kau jadi pemarah seperti itu? Padahal dulu kau lebih berterus terang." Kata Sasuke seraya menjauh. "Dulu kau bahkan mengancamku untuk jadi kekasihmu."

Gila. Pria ini sudah gila.

"Anda bilang apa?" Kata Ino sinis. Ternyata tidak hanya prilakunya yang gila, ucapan pria itu juga sangat tidak masuk akal.

Sasuke menyeringai. "Mendekatlah, aku akan membuatmu mengingat semuanya."

"Tidak." Sahut Ino cepat. Lalu ketika akhirnya kereta berhenti, ia bangkit dan berjalan menuju pintu. Sedetik kemudian pintu itu terbuka, dan dengan cepat Ino keluar menjauh pergi setengah berlari.

Sepanjang perjalanan menuju rumah, Ino tak henti-hentinya merutuki hari ini. Ia bahkan sesekali mengumpat dan menyumpahi orang-orang yang membuat harinya seperti itu.

Orang sialan yang melayangkan kopi hitam kearahnya, dan juga perilaku Uchiha Sasuke yang sangat di luar dugaan. Terkutuklah mereka berdua!

Ino menghela napas. "Esok harus menjadi hari yang lebih baik." Katanya optimis. Saat itu ia sudah sampai di apartemennya, dan ia bersyukur tak menemukan sang pemilik apartemen di sana, di dekat pintu, bersebelahan dengan miliknya. Karena jika nenek itu ada di sana, ia akan mendapat ceramah gratis dan memarahi Ino meskipun hanya karena alasan sepele.

Namun, ketika Ino hendak membuka kunci pintu, terdengar suara tawa nenek sang pemilik apartemen itu menggema, sepertinya ia sedang mendapati tamu. Dan ketika akhirnya pintu itu terbuka, Ino menunduk sekilas, hendak memberi salam ramah, dan bersiap menerima segala ocehan. Namun, begitu ia mendongakan kepalanya—

De fak!

Ino menatap kaget pada sosok tegap yang baru saja turut ke luar rumah nenek pemilik apartemen.

Uchiha Sasuke!

Kenapa? Kenapa pria itu ada di sana? M-mungkinkah... Sasuke dan nenek pemilik apartemen... m-mereka... mungkinkah? Bahkan Ino tak sanggup melanjutkan kalimat dalam benaknya. Terlalu horror—

"Yamanaka! Mana ramah-tamahmu pada tetangga baru!"

Seketika Ino tersadar ketika mendengar nenek itu berteriak ke arahnya. "Ah, maaf aku sedikit melamun— tunggu, tetangga baru?" kata Ino bingung.

Nenek itu mengabaikan Ino dan kembali menatap Sasuke seraya berkata. "Tidak usah pedulikan dia," Kemudian memberi gestur seolah berbisik, padahal jelas-jelas Ino bisa mendengarnya. "Jangan dekat-dekat dengannya, wanita ini kadang-kadang suka menggila."

Hah?

Membuat sudut perempatan di kening Ino berkedut kesal, ditambah wajah menyebalkan Sasuke saat melihat ke arahnya. "Chiyo-san, siapa tentangga baru yang kau maksud?" tanya Ino menuntut. Namun, nenek itu benar-benar mengabaikan Ino.

"Baiklah, ini kunci apartemennya. Ingat, matikan lampu setelah jam tujuh pagi." Dengan itu ia menutup pintu, meninggalkan Ino yang menatap bingung ke arah Sasuke.

"Jangan bilang—"

Sasuke mengabaikannya sambil melengos masuk ke dalam apartemen yang tepat berhadapan dengan milik Ino.

Kami-sama! akuingin pulang kampung, segera!

To be continued.

.

Dear all, I'm so sorry for being late to update this fanfic. I did not have much time, yet I wrote this chapter for ya. Hhehe

Big Thanks to:

Grabiela Isler, Name Park S'tya ai, aiwataru, Wiz-Land609, Minori Hikaru, RyuiMochi97, firdaa, Fruitarian Lover, hime yamanaka, tamiino ciao, INOcent Cassiopeia, silverqueen98, Accasia Li (Vale), Watermelon in summer, hana109710 Yamanaka, Erica719, SasuIno Chubby, cchelsea, Minji-blackjack, Sasukendy, Shiroe ino, Hana, nicka, JelLyFish, xoxo, pipitqueen, Hanna Ael, ikatriplesblingers, donat bunder, ernykim, Ulin Nuha, Arum Junnie, yevaleen, jiyi13.

I'll answer your question in the story. :"))