PAIR : YUNJAE gs dll sebagai pendukung
WARNING : cerita ini dari NOVEL berjudul
THE PROPOSITION
(The Propotition #1)
By
KATIE ASHLEY …
ini asli kopy paste dan replace untuk nama tokoh (yang berubah nama pemeran) ,,, …. Entah ada nya perubahan tidak nya tergantung Mood ….. toh saya tidak bias mengarang … jd sepertinya tidak ada perubahan ..
YANG TIDAK SUKA TAK USAH BACA OKE !
Bab 2
Ketika pintu tertutup di belakang Yunho, Jaejoong menghembuskan napasnya yang telah lama ia tahan dengan suara desahan yang berlebihan. Merasa letih, dia bersandar di meja kamar mandi. Pergi minum dengan Jung Yunho, apa kau sinting? Setiap wanita di gedung ini tahu reputasinya "setubuhi-mereka-dan-tinggalkan- mereka", kecuali kau siap patah hati, kau seharusnya menjauhi dirinya. Ingatan tentang pertemuan mereka di pesta Natal terlintas seperti badai petir merasuk ke dalam benaknya.
Menjadi orang baru di perusahaannya, dia mengawasi setiap pria lajang yang berpotensi. Setelah memergoki dia sering menatapnya beberapa kali, dengan polosnya ia menanyakan pada Junsu siapa dia. Junsu langsung menggelengkan kepalanya begitu cepat, Jaejoong yakin kepalanya akan mengalami salah urat. "Dia pria seksi penggoda ,Jae,, jadi kau harus menjauh darinya kecuali kau mau ditiduri!" jawabnya.
Wanita yang lain menimpali dengan deskripsi yang sangat detail mengenai Yunho yang terkenal suka mengeksploitasi wanita yang berbeda di perusahaan itu. Jadi ketika Yunho mendatanginya sambil berjalan santai dengan matanya yang menggoda dengan penuh kesombongan, Jaejoong menolaknya mentah-mentah, lalu kabur begitu saja dengan penolakan keras Jaejoong itu.
Jaejoong mengeluarkan tempat make-up nya dari tas. Menatap ke cermin, ia membubuhi kembali wajahnya dengan bedak tabur. Mata basah karena air mata membutuhkan tambahan eyeliner, maskara, dan eyeshadow. Sebagai sentuhan terakhir, dia mengoleskan lipstik warna merah mawar di bibirnya.
Jaejoong mengamati bayangannya dan mengerang. Mengapa kau bahkan peduli dengan wajahmu? Semua yang ia pedulikan adalah penampilanmu dari leher ke bawah, bagian pinggang paling disukainya! Ya Tuhan, dari semua pria di gedung ini, kenapa harus Yunho yang datang untuk menyelamatkannya. Mr Manwhore Jung (manwhore= pria pelacur). Dia adalah tipe pria yang tidak terbiasa untuk ditolak, jadi dia pasti bangga bisa berhasil mengajaknya kencan.
Dia melemparkan tempat makeup-nya kembali ke dalam tasnya. Dengan satu tarikan napas yang mendalam, dia melangkah keluar.
Sesuai dengan janjinya, Yunho duduk di salah satu bangku di luar kamar mandi. Dia langsung berdiri saat ia melihatnya. "Siap?"
"Yap."
Mereka mendorong pintu putar dan melangkah keluar menuju trotoar. Suara sepatu hak Jaejoong berbunyi disetiap langkahnya di sepanjang trotoar. Udara hangat dari kesibukan lalu lintas yang padat melewati mereka, mengibarkan bagian bawah rok pendeknya, dan Jaejoong berjuang untuk menahannya seperti adegan Marilyn Monroe di film Seven Year Itch. "Kau sering pergi ke O'Malley?" tanyanya, mencoba untuk membuat percakapan.
Yunho mengangguk. "Beberapa malam dalam seminggu aku dan beberapa teman pria dari departemenku minum bir disini. Menonton pertandingan terbaru." Dia menekan tombol untuk menyeberang.
"Bagaimana denganmu?"
Jaejoong mengernyitkan hidungnya saat mereka mulai menyeberang jalan. "Tidak pernah. Aku jarang berada di tempat seperti itu."
Ketika Yunho menaikkan satu alis kearahnya, dengan cepat dia berkata, "maksudku, aku tidak apa-apa pergi denganmu malam ini.
Hanya saja ini bukan tempat nongkrongku bersama teman-teman wanitaku."
Dengan seringai khasnya, Yunho menahan pintu masuk O'Malley terbuka untuknya. "Biar kutebak. Karena kau bersamaku, kau tidak merasa khawatir tentang sekelompok bajingan yang sedang mabuk akan menggodamu."
"Tepat. Well, mungkin hanya satu bajingan yang sedang mabuk."
Sambil melirik ke arah Yunho. "Tergantung seberapa banyak yang kau minum."
Mata Yunho melebar sebelum dia tertawa. "Aku akan mencoba menjaga diriku sendiri."
Seorang wanita muda berambut pirang berdiri di depan meja penerima tamu. Dia tersenyum lebar saat melihat Yunho dan membetulkan bajunya untuk memberinya pemandangan yang lebih baik pada belahan dadanya. Yunho menghargai usahanya dengan memberinya sebuah senyuman. "Bisakah kami mendapatkan satu tempat, Heechul?"
"Tentu, Yunho. Ikuti aku."
Saat Heechul berjalan sambil menggoyangkan pinggulnya di depan mereka, Jaejoong memutar matanya pada Yunho yang meresponnya dengan mengedipkan matanya. Heechul menunjukkan tempat duduk pada mereka di meja remang-remang di belakang bar. Dia menyerahkan menu, kemudian menatap langsung ke arah Yunho.
"Sampai jumpa!"
Yunho memberinya lambaian kecil kemudian mengalihkan perhatiannya ke menu. Merasakan tatapan panas Jaejoong, ia kembali lagi melihatnya. "Apa?"
"Tidak apa-apa," gumamnya.
"Jika tidak apa-apamu mengenai Heechul, aku sudah bilang aku sering datang kemari."
"Aku tidak mengatakan apa-apa," dia membantahnya.
"Kau tidak harus mengatakannya. Tatapanmu yang mematikan itu sudah cukup memberikanku jawaban." Yunho menyeringai kearahnya. "Karena aku tahu kau ingin bertanya, Heechul bukan salah satu dari gadis yang ingin kutaklukan, dan aku tidak pernah melihatnya di luar O'Malley. Selain itu, ayahnya yang pemilik tempat ini, dan ia tidak akan ragu untuk menendangku!"
Untuk beberapa alasan, Jaejoong mendengar pernyataan itu sangat melegakan. Namun, dia berhasil menjaga wajahnya benar-benar tanpa ekspresi sambil mengangkat bahunya. "Itu bukan urusanku."
Yunho hanya tertawa kecil saat pelayan mendatangi meja mereka.
"Apa yang bisa saya bantu untuk kalian berdua malam ini?"
Yunho mengangguk kearah Jaejoong. "Aku ingin segelas margarita dengan es batu tanpa garam, tolong," katanya.
"Heineken dalam botol."
Pelayan menulis pesanan mereka di atas kertas kemudian berjalan menuju ke bar. Jaejoong menyandarkan sikunya diatas meja dan menempatkan kepalanya di tangannya. Sebuah napas panjang kejengkelan lolos dari bibirnya.
"Hari yang buruk, ya?"
Dia mengangkat kepalanya, dan senyuman sedih melintas di wajahnya. "Bukan salah satu hari yang terbaik. Aku benar-benar tidak bisa menyalahkan Siwon untuk hari terburukku juga.
Sebelumnya sudah benar-benar kacau saat menyelenggarakan acara baby shower untuk Taemin."
"Bosmu?" Tanyanya, dan Jaejoong mengangguk. Pelayan kembali dengan membawa minuman mereka. Jaejoong meneguk sedikit margaritanya sementara Yunho menenggak langsung banyak dari botolnya. Sebuah perasaan cemas mendatanginya saat dia melihat ekspresi penasaran Yunho, dan dia takut Yunho akan mengajukan pertanyaan yang cukup kontroversi.
"Apa yang salah dengan baby shower? Seseorang menjadi sangat mabuk karena minumannya dicampuri alkohol dan tidak ingin bermain dengan salah satu permainan konyol seperti 'Tebak apa yang ada di Diaper' ?"
Oke, jadi itu bukan pertanyaan yang Jaejoong harapkan. "Bagaimana mungkin kau tahu apa yang terjadi di acara baby shower?"
Yunho meringis. "Aku punya empat kakak perempuan. Percayalah, aku sudah menghabiskan waktuku beberapa kali di acara baby shower sialan itu."
Jaejoong tersenyum. "Kuduga kau terpaksa mengikuti itu."
"Jadi apa yang terjadi?" Desaknya.
Dengan mengangkat bahu, Jaejoong menjawab, "Tidak ada yang khusus. Hanya saja rasanya lebih sulit daripada apa yang ada dalam pikiranku."
"Karena kau menginginkan bayimu sendiri?"
Jaejoong tersentak dan hampir menjatuhkan margaritanya. "Tunggu, bagaimana kau bisa...?"
" Siwon telah bercerita kepadaku."
Jaejoong melebarkan matanya saat aliran hangat menari-nari melewati pipi dan lehernya. "B-Benarkah? A-Apa lagi yang dia katakan?"
Yunho meneguk minumannya lagi sebelum menjawab. "Dia mengatakan dia seharusnya menjadi ayah bayimu, tapi dia membatalkannya."
Meskipun ia hanya sekali meneguk minumannya, ruangan seakan-akan miring dan berputar di sekelilingnya. Dia menggelengkan kepalanya, mencoba membebaskan dirinya dari mimpi buruk dengan mengalihkan pembicaraannya. Ini tidak boleh terjadi. "Aku akan membunuhnya!"
"Kau tidak perlu melakukan itu."
"Apakah kau bercanda?" Suara Jaejoong naik satu oktaf. "Sudah cukup menyebalkan ketika ia mengirim pesan teks dan menelepon sepanjang waktu. Sekarang dia muncul di tempat kerjaku untuk menggangguku. Tapi bagian terburuk dari semua ini, dia menceritakan hanya kepadamu, dari sekian banyak orang-orang, sangat detail mengenai kehidupan pribadiku!"
Yunho mencondongkan tubuhnya ke depan, sikunya menabrak siku Jaejoong.
"Aku dari sekian banyak orang-orang...apa artinya itu?"
Jaejoong menundukkan kepalanya. "Tidak ada."
"Oh tidak. kau tidak akan bisa menghindar semudah itu."
"Hanya saja dengan tipe pria sepertimu, kau mungkin tidak bisa memahami masalahku atau keinginanku."
Yunho mendengus. "Biar kutebak. Karena diduga aku memiliki reputasi suka main perempuan, aku tidak bisa memahami bagaimana menjadi dirimu yang ingin menjadi seorang ibu sampai begitu buruknya kau menyuruh sahabatmu yang gay untuk menghamilimu?"
"Bukan itu maksudku."
"Kalu begitu katakan padaku."
Jaejoong membungkuk dimana wajah mereka hanya terpisah beberapa inci. "Karena kau pikir kau tahu segalanya, katakan padaku apakah kau memahami hal ini.
Pernahkah kau menginginkan sesuatu yangbegitu buruk sehingga kau berpikir kau akan mati jika kau tidak memilikinya? Hanya memikirkan itu saja akan terus membuatmu terbangun di sepanjang malam. kau tidak bisa tidur, tidak bisa makan, tidak bisa minum. Kau begitu termakan oleh keinginan itu tidak ada hal lain yang penting, dan kau tidak yakin hidupmu akan layak jika kau tidak dapat memilikinya." Air mata kepahitan menyengat matanya, dan dia menggigit bibir bawahnya agar tidak terisak tepat di depan Yunho.
Sementara Yunho tetap diam, Jaejoong menggelengkan kepalanya dan bersandar kembali di kursinya. "Lihat? Aku telah menceritakan semua masalahku. Seorang pria seperti kau tidak mungkin bisa memahami perasaan bagaimana seseorang sangat menginginkan bayi seperti aku."
"Tidak, aku mengerti. Aku benar-benar mengerti."
Jaejoong melengkung alisnya yang coklat kemerahan itu kearahnya.
"Aku sangat ragu."
"Mungkin sampai batas tertentu..." Perlahan-lahan, senyum bergairah menyelinap di wajahnya - sebuah senyuman yang mengirimkan kehangatan ke pipi Jaejoong serta membuatnya menggeliat di kursinya. "Aku sangat menginginkan dirimu di pesta Natal kurasa aku akan mati ketika kau menolak untuk pulang
denganku."
Nada suara serak Yunho membuat Jaejoong terkejut. "Maaf?"
Yunho menggeserkan kursinya begitu dekat dengan Jaejoong sehingga dia menahan reaksi untuk menjauhinya. Dia terkesiap oleh kedekatan Yunho. Kilauan penuh gairah menyala di matanya membuatnya seperti si Big Bad Wolf (tokoh serigala besar dan jahat di cerita fiksi) menjulang di atas Jaejoong. "Seberapa jelas aku harus katakan? Kau begitu sialan seksi dengan gaun hijau itu. Rambutmu terurai jatuh bergelombang di sekeliling bahumu. Dan kau terus memberiku senyuman kecil yang polos dari seberang ruangan."
Napas Yunho serasa menghanguskan pipi Jaejoong sebelum ia berbisik di telinganya. "Aku tidak pernah ingin berhubungan seks dengan seseorang sebegitu inginnya seperti aku menginginkan kau."
Dia mendorong Yunho menjauh dengan segala kekuatan yang bisa dia kerahkan. "Ya Tuhan, kau seperti seorang bajingan yang egois!
Aku terbuka padamu dengan menceritakan keinginanku untuk memiliki seorang anak dan kau mengatakan kau ingin untuk...untuk..."
Yunho menyilangkan tangannya di dadanya. "Kau sudah dewasa, Jaejoong. Tak bisakah kau mengatakan seks?"
"kau benar-benar menjijikkan." Dia mencengkeram pinggiran gelasnya dan menyipitkan matanya ke arah Yunho. "Jika aku tidak sangat membutuhkan sisa margarita-ku, aku akan menyiramkan ke wajah aroganmu!"
Yunho tertawa melihat kemarahannya. "Sekarang, apakah itu caranya berbicara dengan ayah masa depan dari anakmu?"
Dia tersentak kebelakang ke kursinya dengan memantul seperti gelang karet. "M-Maaf?"
"Aku sedang membicarakan mengenai sebuah proposisi (usulan) bagi kita berdua untuk mendapatkan sesuatu yang benar-benar kita inginkan. Aku akan memberikanmu sedikit, dan kau memberikan aku sedikit juga."
"Apa maksudmu?"
"Aku sedang berbicara mengenai menawarkan DNAku untukmu.
Siwon bilang kau menolak pergi ke bank sperma karena kau mungkin berakhir dengan membawa bibit setan, jadi kurasa aku bisa menjadi kandidat yang baik."
Jaejoong melebarkan matanya saat gelombang rasa terkejut menggulung keras dirinya. "kau tidak mungkin serius."
"Tentang bagian yang mana: aku sebagai pendonor atau aku pilihan yang lebih baik daripada bibit Setan?" tanyanya, sambil menyeringai nakal.
"Keduanya...tapi terutama kau ingin mendonorkan spermamu untukku."
"Ya, aku serius."
"Apakah kau tahu syarat apa untuk menjadi pendonor sperma?"
Tanya dia.
Dia menyeringai kearahnya. "Aku punya ide yang cukup bagus."
Jaejoong menggelengkan kepalanya. "Bagaimana bisa kau bertindak begitu sembrono tentang ini? Ini adalah komitmen yang sangat besar."
"Tenanglah. Kita bicara tentang masturbasi ke dalam cangkir plastik, bukan menyumbangkan sebuah organ tubuh."
"Sebenarnya ini sedikit lebih dari itu."
"Aku punya beberapa teman yang pernah melakukan hal seperti itu di perguruan tinggi. Tidak terlalu berat." Yunho sambil mengangkat bahu. "Selain itu, hal ini tidak seperti aku menyetujui untuk menikahimu dan membesarkan anak itu. Ini hanya seperti membagi sedikit DNA antar kenalan. Aku yakin Siwon akan menandatangani sesuatu yang mengatakan ia tidak ikut membesarkan anak itu, kan?"
"Ya, kami telah membahas kontrak itu ketika Kibum tetap tidak menginginkan Siwon terlibat."
"Aku yakin aku bahkan kandidat yang lebih baik daripada Siwon."
"Dan bagaimana kau bisa yakin seperti itu?"
"Semua orang menginginkan seorang anak yang sehat, cerdas, dan menarik, kan? Well, aku baru saja mendapat surat keterangan sehat dari hasil tes kesehatan tahunan perusahaan. Keluargaku tidak memiliki riwayat penyakit berat apapun atau sakit jiwa. Aku lulusan tertinggi dari Universitas Georgia, dan aku memiliki gelar MBA."
Dia mengedipkan matanya kearah Jaejoong. "Dan kupikir sangat tepat untuk mengatakan aku membawa beberapa gen tampan dan perkasa
ke dalam gambaran itu."
Jaejoong menatapnya dengan curiga. "Tapi apa imbalannya? Jangan tersinggung, tapi selain kita bekerja di perusahaan yang sama, aku baru saja mengenalmu. Dan apa yang aku ketahui selama ini tentangmu tidak terlalu menyanjung. Terlepas dari seberapa mudahnya kau menyetujuinya, menawarkan bagian dari esensimu adalah pengorbanan yang sangat besar bagi seseorang. Aku hanya tidak bisa membayangkan kau melakukan sesuatu yang tidak begitu egois."
Yunho menyapu tangannya di atas jantungnya. "Sialan, Jaejoong, kata- katamu benar-benar melukai hatiku. Maksudku, aku baru saja mempertaruhkan hidupku belum sejam yang lalu ketika kau dan Siwon bertengkar, namun aku masih seorang yang benar-benar egois."
Dia memutar matanya. "Jawab saja pertanyaannya."
Dia menyeringai. "Oke, oke, kau benar. Motifku memang bukan sepenuhnya tidak egois."
"Aku tahu itu!" Katanya gusar.
"Ini hanya proposisiku. Aku menawarkan untuk menjadi ayah dari anakmu, dan sebaliknya, kau harus berjanji untuk hamil denganku secara alami."
Ketakutan menyelimuti Jaejoong, membuat dirinya sampai bergidik.
"Alami? Seperti kau dan aku...melakukan hubungan seks?"
"Kebanyakan wanita akan menemukan itu sedikit lebih menarik daripada yang baru saja kau katakan," gumam Yunho.
Jaejoong menggeleng marah. "Aku tidak bisa berhubungan seks denganmu!"
"Kenapa?"
"Aku tidak bisa."
"Kau harus memberiku sebuah alasan."
Jaejoong memutar serbet kertas di tangannya seperti dia yang dia biasa lakukan ketika dia gugup. "Hanya saja aku mempercayai kalau seks itu sesuatu yang sakral dan bermakna istimewa yang dilakukan antara dua orang yang benar-benar berkomitmen satu sama lain dan mereka saling jatuh cinta."
Alis Yunho berkerut. "Dan berapa kali kau benar-benar berkomitmen dengan seseorang?"
Jaejoong menolak bertemu tatapan penuh harap Yunho. "Sekali," bisiknya.
"Astaga." Yunho menggelengkan kepalanya. "Sulit dipercaya."
Jaejoong menyentak tatapannya untuk bertemu dengan mata Yunho.
"Aku yakin pasti sulit bagimu untuk memahami seseorang yang tidak menyetubuhi semua yang bisa bergerak! Tapi aku tidak memainkan permainan itu. Dan ya, aku berumur dua puluh tahun ketika aku kehilangan keperawananku dengan seorang pria yang telah aku pacari selama lebih dari satu tahun yang kemudian menjadi tunanganku."
"Aku tidak tahu kau telah bercerai."
"Aku tidak bercerai. Dia meninggal dalam kecelakaan mobil enam bulan sebelum kami akan menikah." Jaejoong berjuang melawan emosi
yang membanjirinya dengan munculnya kembali ingatannya akan Kangin. Kekecewaan yang ada sebanyak kesedihannya. Sudah berapa kali ia menyiksa diri karena memundurkan tanggal pernikahan mereka? Pada saat itu, dia pikir itu praktis dan masuk akal. Jaejoong ingin menyelesaikan kuliah, kemudian dia menginginkan Kangin menyelesaikan setengah pendidikannya di sekolah kedokteran. Itulah bagaimana dia bertemu Junsu. Pacarnya Junsu, Youchun, dan Kangin bersahabat di Emory.
Yunho membawanya keluar dari lamunannya. Sambil meringis, dia berkata, "Ya Tuhan, Jae, aku minta maaf."
"Terima kasih," gumamnya.
"Sudah berapa lama?"
"empat tahun."
Dia tersedak oleh birnya yang baru saja ia minum. Setelah dia pulih dari terbatuk-batuk, ia bertanya, "Kau belum pernah berhubungan seks lagi selama empat tahun?"
"Belum," bisiknya, sambil menjalankan jarinya disepanjang salah satu lekukan yang dalam pada meja kayu. Dia membenci dirinya sendiri karena telah mengakui itu pada Yunho, tapi dia harus memahami mengapa usulannya tidak masuk akal. Meskipun dia menginginkan bayi sampai begitu putus asanya, hal itu tidaklah cukup sampai seputus asa itu untuk membenarkan berhubungan seks tanpa ikatan dengan playboy yang sangat terkenal itu. Atau apakah...
"Sialan," gumamnya. "Bagaimana kau bisa tahan?"
Jaejoong menyipitkan matanya melihat ekspresi ketidak percayaannya Yunho. "Ketika empat tahun terakhir kehidupanmu telah menjadi neraka, seks benar-benar bukan menjadi peringkat tertinggi pada daftar prioritas hidupmu."
Yunho mengerutkan alisnya. "Apa maksudmu?"
Jaejoong menunduk menatap serbet kertas, yang kini sudah robek diatas pangkuannya, dan mencoba untuk mengendalikan emosinya.
Hal terakhir yang dia ingin lakukan adalah menjadi histeris di depan Yunho untuk kedua kalinya di malam ini. "Setelah Kangin, tunanganku, tewas, aku menutup diri selama satu tahun. Kurasa kau bisa mengatakan aku seperti mayat hidup. Bangun tidur, aku berangkat kerja, dan pulang kerumah. Kemudian saat aku mulai melihat sinar matahari lagi, ibuku didiagnosa menderita kanker. Dia benar-benar seperti duniaku, dan selama delapan belas bulan, seluruh hidupku kugunakan untuk merawatnya." Air mata mengaburkan matanya. "Kemudian dia meninggal."
Saat melihat ekspresi ketakutan Yunho, Jaejoong tertawa dengan gugup. "Aku bisa membayangkan sekarang kau pasti berharap tidak pernah mengajakku keluar untuk minum, apalagi menawarkan proposisimu untukku."
"Sama sekali bukan itu yang kupikirkan."
"Oh benarkah?"
"Jika kau mau tahu, aku berpikir lebih tentang bagaimana aku belum pernah bertemu dengan seorang wanita seperti kau sebelumnya."
"Apakah itu bisa dianggap sebagai pujian?"
Jaejoong tidak bisa menahan mulutnya yang terbuka. "Aku tidak percaya kau baru saja mengatakan sesuatu yang sangat serius dan sensitif."
"Aku sedang memiliki momen baikku," jawabnya, sambil menyeringai.
"Yang berarti, cobalah memiliki momen itu lebih banyak lagi."
Ekspresi riang Yunho berubah serius. "Aku benar-benar menyesal tentang semua yang telah kau lalui beberapa tahun terakhir. Tak seorangpun seharusnya menanggung itu begitu banyak dan melakukannya sendiri."
"Terima kasih," gumamnya, saat ia mencoba untuk tidak menatap Yunho yang seakan tiba-tiba tumbuh tanduknya. Apakah mungkin benar dibalik kepribadiannya yang egois sebenarnya ada kebaikan di hatinya? Salah satunya dia sangat peduli pada semua yang telah dia lalui?
"Dan aku juga minta maaf telah mengkritikmu mengenai seks. Cukup menyegarkan bertemu seorang wanita yang memiliki idiealis kuno."
"Kau serius?"
Yunho tersenyum malu pada Jaejoong. "Ya. Bagus juga mengetahui kalau penolakanmu di pesta Natal itu bukan hanya karena reputasiku, tapi lebih banyak tentang prinsip hidupmu."
"Jujur saja, bisakah kau lebih egois lagi?" Jawab Jaejoong, tapi ia tidak bisa menahan senyumannya pada Yunho.
"Serius, aku bisa melihat mengapa kau ingin memiliki bayi."
"Oh, ya?"
Yunho mengangguk. "Kau sudah mengalami banyak cobaan kematian dan sekarang kau hanya ingin merasakan sedikit kebahagiaan di kehidupanmu." Dia meremas tangan Jaejoong.
"Benarkan?"
Jaejoong menarik napasnya yang agak serak karena kata-kata Yunho seakan bergema merasuki dirinya. Bagaimana mungkin seseorang seperti Yunho bisa memasuki emosinya tepat di jantungnya bahkan ketika terkadang Junsu tidak bisa memahami keinginannya yang begitu mendalam untuk menjadi seorang ibu? "Ya," gumamnya lirih.
"Kalau begitu biarkan aku yang akan menolongmu. Ijinkan aku memberimu seorang bayi."
Jaejoong melawan desakan untuk mencubit dirinya sendiri pada situasi yang tidak masuk akal ini. Bagaimana ia bisa berubah dari seseorang yang begitu emosional di acara baby shower ke seorang pria yang menawarkan untuk memenuhi impiannya yang paling liar? Sisi rasional dari pikirannya mencerca sanubarinya. "Apakah kau memiliki ide bagaimana ini terdengar sangat gila? Aku bahkan tidak mengenalmu! Mengapa kau malah menawarkan bagian dirimu hanya kepadaku?"
"Aku sudah bilang mengapa."
Jaejoong mengendus dengan frustrasi. "Jadi karena kau akan tidur denganku. Hanya itukah motivasimu?"
Dia memberinya senyum miring. "Kau terlampau meremehkan daya pikatmu dan daya tarik seksmu."
"Jika kau mau aku menganggap serius dirimu, kau harus memberikan alasan yang lebih baik dari itu."
Yunho sedikit menggeliat di kursinya dan berdehem sebelum menjawab. "Well, ada alasan lain..."
"Dan?"
Yunho merengut kearahnya. "Oke, baik. Aku berjanji pada ibuku ketika ia sedang sekarat karena kanker, aku akan memiliki anak suatu hari nanti. Dengan cara inilah, kupikir aku bisa menepati janjiku dengan hanya membutuhkan sedikit komitmen."
Meskipun ia mencoba menyembunyikannya, Jaejoong bisa melihat kepedihan di mata Yunho. Tampak jelas betapa dia mencintai almarhum ibunya. "Aku sangat menyesal mengenai ibumu," gumamnya.
Dia mengangkat bahu. "Sudah lima tahun yang lalu."
"Mengapa dia membuatmu berjanji untuk memiliki anak?
Maksudku, bukankah dia bisa beranggapan kalau kau akan memiliki mereka suatu hari nanti?"
"Kenyataannya tidak."
Jaejoong menggoyangkan kepalanya dengan perasaan jijik. "Aku berani bertaruh kau bahkan tidak bisa bertahan berada di dekat anak-anak."
"Sekedar informasi untukmu, aku memiliki sembilan keponakan laki-laki dan perempuan serta seorang cucu keponakan laki-laki berumur tiga bulan. Jika kau berbicara dengan salah satu dari mereka, mereka akan memberitahumu kalau aku seorang paman yang baik." Dia mengeluarkan iPhone-nya dan menggulirkan beberapa foto sebelum menyodorkan layar itu di depan Jaejoong.
"Oh," gumam Jaejoong, saat ia mengamati wajah-wajah tersenyum keponakan Yunho. "Aku tidak tahu kau memiliki keluarga besar."
"Empat saudara perempuan, ingat? Ditambah, kami penganut Irish Catholic (katolik ortodoks di Irlandia)."
Jaejoong mengangguk. "Bukankah kau terlalu muda untuk memiliki cucu keponakan?"
Yunho menunjuk seorang wanita setengah baya yang sangat menarik.
"Angela lima belas tahun lebih tua dari aku, dan Megan sebenarnya tidak mengharapkan menjadi seorang ibu pada usia dua puluh dua tahun."
Jaejoong tersenyum pada bayi yang baru lahir dalam pelukan gadis itu.
"Dia tampan."
"Dalam sembilan bulan, itu bisa saja dirimu," kata Yunho lembut.
Berbagai emosi membengkak didalam dada Jaejoong, dan dia merasa seakan tidak bisa bernapas. Dia memejamkan matanya sejenak, berusaha keras menjaga kewarasannya seperti benang rapuh yang akan putus menjadi dua. Jawaban untuk semua masalahnya sedang duduk tepat di hadapannya. Semua yang perlu ia lakukan hanya mengatakan ya, dan akhirnya dia bisa menjadi seorang ibu. Tapi semua ini terlalu kewalahan untuk dicerna dan dia sangat membutuhkan untuk menjauh dari Yunho agar bisa berpikir dengan jernih.
Ketika akhirnya dia membuka matanya lagi, ia menemukan Yunho menatapnya. Dia tersenyum minta maaf. "Aku sangat kacau pada hari ini. Aku membutuhkan beberapa waktu untuk berpikir tentang hal ini." "Aku mengerti. Ambil semua waktu yang kau butuhkan. Kau tahu
dimana menemukan aku." Jaejoong mengangguk kemudian berdiri. "Terima kasih untuk minumannya ... dan untuk mendengarkan aku."
Yunho mengangguk. "Sama-sama."
Kemudian Jaejoong melakukan sesuatu yang mengejutkan dirinya sendiri. Dia membungkuk dan mencium pipi Yunho. Ketika dia menarik diri, mata Yunho melotot. "Selamat malam," gumam Jaejoong sebelum terburu-buru keluar dari bar.
Udara musim panas seakan menampar wajahnya saat ia mulai berjalan memasuki malam yang telah larut. emosi maupun fisiknya telah terkuras habis, kakinya terasa goyah, dan dia agak tersandung di trotoar yang tidak rata. Dia baru saja memasuki gedung parkir yang remang-remang ketika seseorang menyambar lengannya.
Jaejoong berbalik dengan menggunakan semua kekuatannya, kepalan tangannya tertuju pada wajah penyerangnya. Sangat keras.
"Sialan, kau memiliki pukulan tangan kanan yang baik," Yunho mengerang, dia membawa tangannya ke mata kanannya.
"Ya Tuhan, aku minta maaf! Aku tidak tahu itu kau!" Jaejoong meminta maaf.
"Tidak, tidak apa-apa. Aku sangat bodoh tidak memanggil namamu terlebih dahulu." Dia mengintip kearahnya dengan satu mata. "Biar kutebak. Kau mengikuti kelas kursus program Pelatihan Bela diri untuk Wanita dari Perusahaan?" Jaejoong menganggukkan kepalanya.
"Yeah, well, mereka mengajarimu dengan baik. Aku hanya senang kau tidak memakai metode kuno SING."
"Oh, Solarplexus, Instep, Nose, Groin?" (Ulu hati, Telapak kaki, Hidung, Selangkangan)
Yunho mengangguk. "Menendang tepat di bolaku itu tidak akan bekerja dengan baik pada penawaranku."
Dengan putus asa mengubah topik pembicaraan menjauh dari bagian kejantanannya, Jaejoong bertanya, "Apa yang kau lakukan disini?"
"Mobilku parkir di sini."
"Oh, ya benar," gumamnya, merasa seperti seorang yang idiot.
"Dan aku berjanji pada Siwon aku akan memastikan kau sampai ke mobilmu dengan selamat."
Jaejoong berusaha melawan debar jantungnya melihat kebaikan hati Yunho. "Terima kasih. kau baik sekali. "Dia menunjuk kearah lorong
yang menurun. "Mobilku disana."
"Aku bisa mengantarmu." Ketika Jaejoong menatapnya dengan sinis, dia menyeringai. "Kau tahu, untuk membuktikan etika kesopanan seorang pria pada wanita tidak hilang."
"Oke, kalau begitu."
Suara sepatu mereka bergema di lantai beton, mengisi kesunyian tempat parkir. "Jadi, um, apa kau tinggal di dekat sini?" Tanya Yunho.
"Tidak, aku sekitar tiga puluh menit dari sini, tepatnya di East Cobb."
"Itu tidak terlalu buruk untuk mengendarai mobil sendirian. Kau tahu, ketika jalanan sepi."
Jaejoong menundukkan kepalanya untuk menahan cekikikannya pada upaya buruk Yunho dalam berbasa-basi. Jaejoong pasti tidak bisa menyembunyikan rasa gelinya dengan baik karena tiba-tiba Yunho bertanya, "Apa yang lucu?"
Jaejoong tersenyum. "Oh, aku hanya penasaran kapan kau mungkin akan menyinggung masalah cuaca."
"Aku buruk, ya?"
"Tidak apa-apa."
Yunho menyeringai kearahnya. "Kurasa aku kehilangan trikku karena kau tidak seperti wanita yang biasanya aku dekati." Ketika Jaejoong akan membuka mulut untuk protes, Yunho menggelengkan kepalanya. "Percayalah, Jae, ini sebuah pujian."
"Oh, aku mengerti." Jaejoong menunjuk mobil Accord-nya. "Well, disinilah mobilku."
" Siwon akan bangga aku bisa membuatmu aman tidak kekurangan apapun sampai disini."
Jaejoong mendengus saat ia merogoh kunci keluar dari tasnya. "Jika dia masih hidup untuk melihatku besok setelah mengoceh banyak kepadamu seperti yang dia lakukan. Aku terkejut dia belum mencopot papan billboard di I-75 bertuliskan, "Tolong Hamili Temanku!"
Yunho tertawa. "Jangan terlalu keras pada dirinya. Dia sangat peduli padamu."
Mata Jaejoong membelalak karena terkejut mendengar kelembutan nada suara Yunho. "Aku tahu." Mereka berdiri dengan canggung
sejenak, saling menatap. "Well, terima kasih sekali lagi untuk malam ini dan untuk menemaniku berjalan sampai ke mobilku."
"Sama-sama." Sementara Jaejoong menekan tombol unlock pada remote alarm dikuncinya, Yunho mulai berjalan menjauhinya, tetapi kemudian ia berhenti. Dia berbalik sambil menggelengkan kepalanya. "Oh persetan." Menarik Jaejoong yang sedang lengah, Yunho mendorongnya ke mobil. Yunho membungkus tangannya disekeliling pinggangnya, menyentaknya menempel pada Yunho.
Aliran listrik menggelitik menjalari Jaejoong karena sentuhan Yunho, dan aroma tubuhnya menyerang lubang hidungnya, membuatnya merasa pusing.
Dia menggeliat di dalam pelukannya. "Apa yang kau-"Yunho membungkamnya dengan membungkuk diatasnya dan bibirnya melumat bibir Jaejoong. Dia memprotes dengan mendorongkan tangannya ke dada Yunho, akan tetapi kehangatan saat lidah Yunho membuka bibirnya membuat dirinya tidak berdaya.
Lengan Jaejoong jatuh lemas di sisi tubuhnya.
Tangan Yunho menyapu dari pinggangnya sampai punggungnya. Dia melilitkan jari-jarinya disela-sela rambutnya yang panjang saat lidahnya masuk kedalam mulut Jaejoong, membelai dan menggoda Jaejoong. Tangan Jaejoong naik membungkus lehernya, menarik Yunho
lebih dekat dengannya. Ya Tuhan, sudah begitu lama dia tidak dicium oleh seseorang, dan Kangin setelah seminggu baru tumbuh keberanian untuk menciumnya seperti ini. Yunho sangat panas dan ciumannya terasa nikmat, dia orang pertama yang tidak perlu menunggu untuk melakukannya.
Menggunakan pinggulnya, Yunho menahan Jaejoong dan menjepitnya di mobil saat ia terus melumat bibirnya. Tepat pada saat Jaejoong pikir dia tidak bisa bernapas dan akan pingsan, Yunho melepas bibirnya.
Menatap ke arah Jaejoong dengan matanya yang berkabut dan mabuk akan gairahnya, Yunho tersenyum. "Mungkin ini akan membantumu mengambil keputusan."
Kemudian ia menarik diri dan memulai berjalan kembali menuruni lorong, meninggalkan Jaejoong yang meleleh, kacau, dan sendirian sedang bersandar di mobil.
