Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate : T posibbel M

Genre : Romance, Family, Drama, Hurt/Comfort

Pair : Sasuke Uchiha X Hinata Hyuuga

(SasuHina)

~ My Young Husband ~

WARNING : AU, TYPO'S, CRACK PAIR, OOC SUPER AKUT, OC, NO BAKU, EYD BERANTAKAN, ALUR KADANG CEPAT DAN LAMBAT, DLL

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

X0X0X0X0X0X0X0X0X0X0X0X0X

Suara dengkuran pelan terdengar di telinga Sasuke seperti sebuah irama musik begitu indah sekaligus melegakan hati menandakan kalau wanita disampingnya tertidur nyenyak tanpa mengalami mimpi buruk, iris kelamnya seperti malam menatap lembut serta penuh kasih sosok wanita bersurai indigo panjang dalam balutan pakaian rumah sakit, dimana sebagian tubuhnya tertutupi selimut bewarna cream, tidak terlalu tebal namun cukup membuat hangat tubuh. Bekas jejak air mata masih terlihat jelas di pipi gembil milik wanita cantik nan manis ini dimana biasanya selalu bersemu merah seperti buah plum. Wanita yang selama hampir dua minggu ini selalu terus dipikirkan sekaligus rindukan.

Karena terlalu rindu dan ingin bertemu, saat pulang ke Tokyo dari perjalanan bisinisnya tanpa membuang waktu ataupun beristirahat sejenak Sasuke langsung memerintahkan supir pribadinya untuk melajukan mobil ke arah apartemen Hinata.

Niatan awalnya Sasuke ingin memberikan kejutan pada Hinata setelah hampir dua minggu tak bertemu dengan datang secara tiba-tiba, tapi saat tiba disana bukannya mengejutkan tapi Sasuke sendiri yang dibuat terkejut melihat wanita bersurai indigo tersebut jatuh pingsan tepat di depan mata.

"Hinata!" teriak Sasuke panik.

Untung saja Sasuke memiliki gerakkan reflek tubuh yang sangat bagus, saat Hinata jatuh pingsan kedua tangannya sudah sigap menangkap tubuh Hinata agar tak menyentuh lantai. Merasa ada yang tak beres dengan keadaan Hinata, Sasuke langsung menggendong keluar Hinata, membawanya ke rumah sakit terdekat. Dengan wajah panik, cemas serta pucat pasi disertai keringat dingin membanjiri wajah Sasuke berlarian menuruni anak tangga apartemen Hinata dari lantai tiga ke pinggir jalan dimana mobilnya terparkir.

Namun bukan hanya Sasuke saja yang panik, supir pribadi Sasuke pun ikut merasa kaget melihat sang Tuan muda menggendong Hinata yang tak sadarkan diri.

"Tuan muda, apa yang terjadi dengan Nona Hinata."

"Nanti aku jelaskan, sekarang bawa aku ke rumah sakit." Kata Sasuke panik seraya masuk kedalam mobil dengan masih menggendong tubuh Hinata.

Satu tempat yang langsung terpikir di otak Sasuke adalah rumah sakit karena wanita dalam dekapannya ini butuh pertolongan dokter namun ditengah kepanikannya tanpa sengaja iris kelamnya menangkap sebuah bungkusan kecil yang masih tergenggam erat ditangan Hinata. Ketika melihat isi bungkusan kedua mata kelam Sasuke melotot keluar mendapati benda apa yang ada didalamnya. Yaitu sebuah test pack, alat test kehamilan yang biasa dibeli para wanita untuk mengetahui apakah mereka hamil atau tidak.

"Test pack?!" Pikir Sasuke bingung.

Otak jenius Sasuke yang biasanya selalu berjalan lancar tidak ada hambatan atau kendala sama sekali seperti sebuah mobil yang sedang melaju kencang di jalan tol bebas hambatan ataupun macet, tapi entah kenapa saat ini tiba-tiba saja macet tak bisa cepat tanggap ataupun mengerti arti sekaligus alasan kenapa Hinata harus membeli alat tersebut.

Sasuke sendiri malah merasa sangat bingung mengapa wanita bersurai indigo ini harus membeli sebuah alat test kehamilan padahal belum menikah alias lajang.

Untuk beberapa detik Sasuke terdiam.

Satu

Dua

Tiga

Empat

Lima

Otak Sasuke yang tadinya macet kini bekerja cepat dan baru mencerna dengan test pack yang ditemukannya dalam bungkusan kecil ditangan Hinata. Kedua sudut ujung bibir Sasuke langsung terangkat tinggi membentuk sebuah senyuman lebar yang sangat jarang dilihat ataupun terjadi bahkan Jugo merasa begitu penasaran melihat sang Tuan tersenyum seorang diri terlebih disaat genting seperti ini.

Meremas kuat-kuat test pack ditangan, Sasuke berteriak senang dalam hati.

"YES! Aku berhasil!"

Sasuke merasa sudah menjadi seorang pria sejati karena berhasil menghamili seorang wanita.

Jugo yang diam-diam memperhatikan dari kaca kecil didepannya merasa heran dengan sikap Sasuke yang tak seperti biasa, "Tu-Tuan muda..." panggilnya takut.

"Tetaplah fokus menyetir, jangan bertanya apapun." Sahut Sasuke datar.

"Baik."

Hati Sasuke langsung berbunga-bunga, seperti ada ribuan kupu-kupu sedang menari-menari di atas perutnya yang membuatnya merasa geli namun terasa sangat menyenangkan, dan bukannya merasa sedih ataupun terbebani karena akan menjadi seorang ayah di usia yang sangat muda, Sasuke malah terlihat sangat senang bahkan terus tersenyum lebar. Ada rasa bangga, puas dihati Sasuke karena bisa menghamili Hinata.

Dan saat Sasuke membawa Hinata ke rumah sakit terdekat, dokter yang memeriksa keadaan Hinata mengatakan kalau wanita bersurai indigo tersebut mengalami anemia ringan karena tengah hamil beberapa minggu, bahkan dokter menyarankan agar Hinata lebih banyak beristirahat tidak melakukan pekerjaan berat agar kondisinya cepat pulih. Setelah diperiksa oleh dokter, Hinata langsung dibawa ke ruang inap dan besok pagi sudah bisa pulang ke rumah, Sasuke sendiri meminta pihak rumah sakit memberikan fasilitas nomor satu untuk calon istrinya dan mengenai biaya rumah sakit itu masalah kecil.

Duduk di pinggir ranjang memandangi wajah damai wanita bersurai indigo yang sebentar lagi akan menjadi istri sekaligus ibu dari anak yang tengah dikandungnya saat ini. Tangan Sasuke terulur ke depan mengusap pelan penuh kelembutan seakan-akan pipi wanita disampingnya begitu rapuh jika di usap terlalu keras akan hancur. Kedua sudut ujung bibir Sasuke terangkat membentuk sebuah senyuman bukan seringai ataupun senyuman sinis yang selalu ditujukkan pada orang-orang melainkan senyuman kebahagian terpancar jelas di wajah lelahnya setelah menempuh perjalan beberapa jam menggunakan mobil demi bisa bertemu dengan Hinata.

Tak ketinggalan perut datar Hinata yang tertutupi selimut di usap Sasuke perlahan menyalurkan perasaan sayang pada calon sang buah hati, "Tumbuhlah dengan baik, ayah menantikan kelahiranmu di dunia." Katanya lembut penuh ketulusan.

Sasuke menggengam erat tangannya yang terasa hangat dan selalu bisa membuat Sasuke merasa nyaman juga aman. Kedua mata Sasuke ikut terpejam sambil memegang tangan Hinata, dan tidurnya terlihat begitu pulas membuat Jugo yang mengintip dari lewat kaca kecil di pintu kamar pasien merasa ikut senang melihat Sasuke begitu perhatian bahkan dengan terang-terangan menunjukkan perasaannya pada Hinata sebuah hal langka dan baru pertama kali terjadi.

~(-)-(-)~

.

.

.

.

.

.

.

~(-_-)~

Pagi-pagi sekali atau masih dibilang pagi buta karena matahari belum terbit dan semua orang masih berada di alam mimpi mereka masing-masing tapi Sasuke sudah pergi dari rumah sakit dengan terburu-buru meninggalkan Hinata seorang diri di ruang inap dan masih terlelap dalam tidurnya, sebelum meninggalkan rumah sakit Sasuke meminta Jugo pelayan sekaligus orang kepercayaannya untuk selalu berjaga didepan ruang inap Hinata, menjaga dan memastikan kalau calon istrinya itu tidak kabur dari rumah sakit.

Dengan mengendarai mobil mewah miliknya yang terparkir di basment rumah sakit sejak semalam Sasuke pergi meninggalkan area rumah sakit seorang diri tanpa di temani pengawal atau pun supir pribadi seperti biasanya karena saat ini Sasuke harus pergi ke suatu tempat untuk mengurus sesuatu yang sangat penting dan ini tak bisa ditunda lagi.

Mobil mewah berwarna hitam keluaran pabrikan luar negeri yang tengah di kendarai Sasuke melaju kencang ditengah jalanan kota Tokyo yang lengang membuat Sasuke bebas memacu kenderaannya dalam kecepatan tinggi tanpa takut menabrak kendaraan lain ataupun orang yang tengah menyeberang.

Kawasan apartemen mewah di pusat kota Tokyo, yang menjadi tujuan Sasuke.

Mobil milik Sasuke diparkir dibasment yang berada tepat dibawah gedung apartemen, saat keluar dari dalam mobil tanpa sengaja Sasuke berpapasan dengan dua orang penjaga yang sedang bertugas berkeliling mengontrol keamanan namun bukannya di tegur atau ditanya mau kemana Sasuke ditengah pagi buta seperti ini keduanya malah menyapa dengan ramah serta sopan pada Sasuke bahkan terlihat begitu hormat seperti seorang bawahan bertemu atasan.

Bukan hal aneh ataupun mengherankan jika kedua penjaga di komplek gedung apartemen mewah ini bersikap seperti itu karena seluruh gedung ini salah satu aset milik keluarga Uchiha dan Sasuke sendiri yang membangun gedung dengan lantai tiga puluh empat ini sebagai kawasan apartemen elit di pusat kota Tokyo, dan satu dari ratusan apartemen disini ditempati oleh sepupunya.

Dengan menaiki lift, Apartement di lantai delapan nomor seratus sepuluh yang dituju Sasuke.

Tanpa mengetuk atau memencet bel meminta ijin pada pemilik apartement untuk masuk, Sasuke langsung membuka pintu tanpa perlu bersusah payah memencet kode pengaman atau menggesekkan kartu bewarna silver metalik mirip seperti kartu ATM yang didalamnya berisikan chip khusus untuk bisa membuka pintu apartemen, Sasuke hanya menggunakan sebuah kartu berwarna hitam metalik yang ia rogoh dari kantung kantong celana panjangnya membuat Sasuke dapat bebas melenggang masuk ke dalam tanpa perlu ijin atau menunggu pintu dibuka oleh sang pemilik. Kartu ditangan Sasuke adalah kunci masuk seluruh kamar apartemen yang sengaja di buat khusus untuk kejadian genting seperti ini dan hanya ada tiga kartu seperti ini yang dibuat dan salah satunya ditangan Sasuke.

Ketika masuk ke dalam apartemen kedua mata Sasuke di manjakan dengan berbagai macam hasil karya lukisan minyak yang terpajang rapih serta simeteris pada dinding berbagai ukuran dengan objek yang berbeda-beda seakan-akan Sasuke sedang berada didalam geleri lukis.

Tanpa mengingat tata krama juga sopan santun dalam bertamu ke rumah orang terlebih di pagi hari buta, Sasuke langsung masuk saja ke dalam kamar tidur lalu menyalakan lampu tak peduli kalau perbuatannya itu menggangu atau tidak sipemilik rumah tapi apa peduli Sasuke.

Kedua mata kelam milik Sasuke fokus menatap seorang pria bersurai hitam berkulit pucat hanya mengenakan kaos hitam berlengan panjang tampak tengah terlelap tidur di atas ranjang berukuran king size di tengah-tengah kamar dengan sprei berwarna biru langit berbahan sutra khusus hadiah ulang tahun dari Sasuke tahun lalu.

"Sai!" teriak Sasuke membangunkan.

Sasuke berdiri di pinggir ranjang menatap datar sosok pemuda bernama Sai yang barusan diteriakinya.

"Aah~" erang Sai seraya berbalik kesamping membelakangi Sasuke, enggan peduli sekaligus malas menyahuti teriakkan dari Sasuke yang terdengar seperti suara jam beker rusak apalagi ia baru tidur beberapa jam setelah mengerjakan karya lukis terbarunya untuk dipamerkan bulan depan di Itali.

Merasa teriakkan darinya tak mempan, Sasuke langsung menarik paksa selimut Sai, membuat pemuda berkulit pucat itu akhirnya terbangun walau terpaksa sekaligus dipaksa, "Bangun!" kata Sasuke dengan nada cukup keras membangunkan Sai.

Perlahan-lahan Sai membuka kedua mata dengan susah payah, walau hanya setengah terbuka tapi Sai bisa melihat jelas siapa orang yang membangunkannya sejak tadi. Pemuda bernama Sai itu pun kaget setengah mati mendapati Sasuke berada di rumahnya terlebih di kamarnya bahkan sudah berdiri di pinggir ranjang dengan memegangi selimut tebal yang jadi benteng pertahan Sai sejak tadi.

"Sasuke, kau!" geram Sai kesal karena masih mengantuk, tak mau waktu tidurnya yang begitu berharga diganggu.

"Cepat bangun pemalas, ini sudah pagi," Sasuke menarik tangan Sai untuk bangun dan tidak tidur lagi apalagi Sai berniat menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.

"Jam berapa ini?" tanya Sai serak dengan mata setengah terbuka.

"Jam empat lewat sepuluh menit," jawab Sasuke tanpa dosa melirik jam besar milik Sai yang tergantung di tengah kamar.

Sai mengacak-acak cepat rambut hitamnya, merasa kesal sekaligus heran dengan tingkah laku Sasuke yang terkadang selalu membuat emosi juga naik darah, seperti saat ini datang ke rumah di pagi buta.

"Ya Tuhan! Sasuke!" Geram Sai kesal.

Mata hitamnya memandang sebal pada Sasuke, "Ini masih pagi buta, Sasuke. Jika ada hal yang ingin kau katakan nanti saja...aku masih mengantuk." Ucap Sai seraya merebahkan kembali tubuh ke atas kasur yang menurutnya adalah sebuah surga.

"Bangun, jangan tidur lagi!"

"Tidak mau!" tolak Sai keras.

Sasuke menghela nafas cepat, "Bangun atau aku tarik semua danaku untuk pagelaran senimu minggu depan," ucap Sasuke mengancam.

"Bisakah kau tidak selalu mengancam!" Dengus Sai.

Sasuke hanya tersenyum kecil menanggapi.

Sai menghela nafas frustasi karena waktu tidurnya terganggu, rasa sebal terasa membungbung di dada pada Sasuke yang merupakan sepupunya. Jika saja Sasuke bukan kepala keluarga Uchiha, pemilik Uchiha Corporation sekaligus orang yang selama ini membiayai seluruh kegiatan seni lukisnya hingga bisa memiliki dua geleri lukis di Jepang dan Perancis sudah pasti tanpa sungkan akan Sai lempar jauh-jauh tubuh Sasuke dari rumahnya karena datang tanpa diundang apalagi bertamu di jam seperti ini, dimana semua orang sedang terlelap tidur dan beristirahat bukan didatangi tamu.

Sai meminta Sasuke untuk duduk menunggu di ruang tamu, ia akan membasuh wajah dan menggosok gigi terlebih dahulu karena tak mau nantinya saat berbicara Sasuke menutup hidung karena mencium bau tak sedap dari mulutnya walau setiap hari Sai selalu rajin menyikat gigi tak ketinggalan obat kumur mulut selalu digunakan bahkan mendatangi dokter gigi setiap tiga bulan sekali untuk memeriksakan kondisi giginya, apakah ada karang atau tidak karena Sai selalu harus tampil sempurna di hadapan orang-orang mengingat setiap harinya selalu bertemu banyak orang.

Dua gelas kopi panas tersaji di atas meja, asap putih mengepul terlihat jelas dari dalam cangkir dimana didalamnya ada cairan berwarna hitam pekat yang mengeluarkan aroma khas.

"Sebelumnya aku minta maaf karena sudah membuatmu terganggu dengan kedatanganku," ucap Sasuke dengan nada sedikit bersalah.

"Memang." Batin Sai sebal.

Sai menyesap kopi buatannya sendiri yang terasa manis dilidah, "Lalu, ada hal penting apa yang ingin kau sampaikan padaku,"

Wajah Sasuke agak sedikit tegang dan Sai bisa menangkap gelagat aneh dari Sasuke yang tak seperti biasanya membuat Sai merasa sangat penasaran.

"Apa kau mengenal, Hinata Hyuga?" tanya Sasuke membuka pembicaraan.

"Ya. Dia gadis yang sangat manis, cantik, baik dan teman baik dari Ino. Memang kenapa kau menanyakan tentang Hinata?" tanya Sai balik merasa penasaran sekaligus bingung.

Sasuke terdiam sesaat nampak sedikit berpikir sejenak, Sai masih asik menikmati kopi digelasnya hingga Sasuke akhirnya membuka suara, "Aku ingin menikahinya,"

Deg!

Jantung Sai serasa mau copot dari rongganya saat ini juga, sesaat nafasnya terhenti dan minumannya yang sedang dinikmati terasa menyangkut ditenggerokkan tak bisa tertelan, "Uhuk...uhuk..." Sai tersedak minumannya.

Menaruh cepat cangkir keramik bewarna putih gading dengan gagang berwarna emas, Sai memandang sepupunya itu dengan tatapan kaget sekaligus tak percaya, "Jangan bercanda, Sasuke!" omel Sai.

"Apa wajah dan sorot mataku menunjukkan kalau aku sedang bercanda?!" sahut Sasuke dingin karena menganggap perkataannya sebuah lelucon padahal ia sangat serius mengatakannya.

"Tidak. Tapi apakah kau sedang mabuk, hingga berbicara melantur seperti ini," ujar Sai mencoba menebak dengan sikap aneh Sasuke saat ini.

Sasuke menatap tajam menjawab pertanyaannya Sai tadi, "Maaf. Tapi kau benar-benar membuatku terkejut, bagaimana mungkin kau ingin menikahi Hinata? Kau itu masih dibawah umur sedangkan Hinata seumuran denganku," kata Sai seraya mengelap mulutnya menggunakan tisu membersihkan sisa kopi disekitar mulutnya.

"Apa masalahnya?! Kami hanya terpaut delapan tahun, apalah arti sebuah angka jika aku memang mencintainya," kata Sasuke mantap.

Sai menggeleng-gelengkan kepala heran, "Tetap saja, kalian berdua tidak serasi dan cocok sama sekali. Apalagi perbedaan umur kalian yang sangat mencolok. Lain cerita jika usia Hinata dibawahmu, apa kata orang di luar sana nantinya, Sasuke!" ujar Sai memperingati.

"Apa peduliku! Memang apa salahnya dengan usia kami berdua, lagi pula kini Hinata sedang mengandung anakku dan aku ingin segera menikahinya walau belum bisa secara hukum karena usiaku masih tujuh belas tahun."

"Apa? Hamil?!" Seru Sai kaget.

Wajah Sai pucat pasi dengan kedua mata melebar menatap syok Sasuke, "Apa katamu tadi, hamil?" tanya Sai mengulang kata-kata Sasuke barusan takut jika pendengarannya salah.

"Ya. Hamil dan usia kandungannya baru jalan tiga minggu." Jawab Sasuke santai membenarkan.

"Apa kau sudah gila, Sasuke!"

"Jaga ucapanmu, Sai Uchiha." Sasuke memperingatkan.

Sai memijit keningnya yang terasa berdenyu-denyut. Kali ini Sasuke benar-benar membuat Sai terkena serangan jantung, memang Sasuke terkadang suka berbuat ulah disekolah yang membuat pusing kepala dan Sai juga yang selalu harus menyelesaikan masalahnya hingga tuntas. Tapi perbuatan Sasuke kali ini benar-benar bisa membuat Sai mati mendadak karena dengan ulahnya yang sungguhi luar biasa.

Memang waktu itu Sasuke pernah memaksa ingin ikut pergi ke pesta pernikahan antara Naruto dan Sakura padahal tidak mengenal mereka berdua tapi dengan alasan bosan sendirian dirumah, Sai pun mengajak. Awalnya saat datang ke pesta tak ada hal aneh, Sasuke bersikap diam tak banyak bicara walau sebenarnya kehadirannya sangat mencuri perhatian para gadis di ballroom hotel tapi Sasuke selalu memasang sikap stay cool pada setiap gadis yang ingin mendekati ataupun sekedar menyapa.

Sai terpaksa meninggalkan Sasuke sendirian karena harus pergi ke tolilet, dan saat setelah selesai ke kamar mandi Sai melihat sang sepupunya itu tengah berdiri menyapa Hinata yang sedang duduk berjongkok dipojokkan ballroom hotel. Merasa penasaran Sai ingin mendekati tapi ditahan oleh Ino, sang kekasih yang tiba-tiba datang menarik tangannya ingin memperkenalkan Sai kepada beberapa teman perempuannya sekaligus untuk dibanggakan.

Awalnya Sai sempat merasa khawatir pada Sasuke tapi melihat gadis yang diajak berbicara adalah Hinata, membuatnya tidak perlu cemas karena Hinata bukan tipe gadis penggoda. Tapi selang setengah jam kemudian, Sai dibuat panik karena tiba-tiba saja Sasuke hilang tak ada dimanapun bahkan diluar hotel sekalipun dan saat dihubungi Sasuke dengan santainya berkata kalau sudah pulang ke rumah padahal sejak tadi Sai sangat panik seperti orang gila mencari Sasuke kemana-mana karena hilang mendadak. Dan hal tak terduga sekaligus mengejutkan terjadi setelah kejadian malam itu dipesta pernikahan Sakura dengan Naruto.

Pemuda berkulit pucat ini memijit keningnya yang terasa pusing juga pening mendadak efek dari kurang tidur sekaligus syok dengan kelakuan sang sepupu, bagaimana bisa pemuda bersurai raven yang masih dikategorikan anak dibawah umur bisa berbuat hal tak terduga seperti menghamili anak orang dan yang lebih mengejutkan lagi adalah wanita yang sudah dihamilinya adalah Hinata teman baik Ino, kekasihnya sendiri terlebih usia Hinata sendiri bisa dikatakan sebagai wanita dewasa dari pada menjadi istri Hinata lebih cocok di panggil kakak oleh Sasuke nantinya.

"Kapan kalian berdua melakukannya?" tanya Sai penasaran.

"Malam dipesta pernikahan temanmu itu," jawab Sasuke memberitahu.

"Lalu setelahnya kapan kalian melakukannya lagi,"

"Tidak pernah. Hanya malam itu tapi sepertinya kualitas dari spermaku sangat bagus hingga bisa menghamilinya hanya dalam sekali melakukan." Ucap Sasuke penuh bangga.

Sai menghela nafas berat, "Apa kau yakin dengan keputusanmu ingin menikahi Hinata,"

"Ya. Dan aku berencana akan mengadakan upacara pernikahan minggu ini di sebuah kuil dekat perbukitan,"

"Itu terlalu cepat Sasuke. Apa kau tak memikirkan kembali tentang pendidikan serta posisimu sebagai kepala keluarga Uchiha. Dan bagaimana tanggapan para tetua klan nantinya jika kau menikah dengan Hinata, wanita yang bukan dari keluarga bangsawan serta lebih tua darimu,"

"Apa peduliku pada para tua bangka itu yang hanya memikirkan harta, kekuasaan serta nama baik mereka saja. Dimana mereka saat kejadian itu berlangsung," desis Sasuke, sorot mata miliknya terlihat sendu bercampur amarah, "Jangan lupa Sai kalau merekalah yang membuatku harus mengalami tragedi kelam itu." Sambung Sasuke lirih.

Sai terdiam, wajahnya nampak bersalah karena sudah menyinggung kejadian beberapa tahun lalu dimana itu adalah sebuah hal kelam dan akan menjadi kenangan buruk seumur hidup Sasuke.

"Maaf, aku tak bermaksud membuatmu mengingat kejadian itu. Tapi sebagai sahabat sekaligus keluargmu aku hanya menginginkan yang terbaik untukmu dan demi masa depanmu, apa kau tak mau memikirkannya kembali mengenai pernikahan ini?"

"Tidak."

"Apa perlu aku berbicara pada Hinata untuk menggurkan kandungannya." Ujar Sai mencoba memberi bantuan tanpa tahu kalau perkataan sudah memancing amarah dari Sasuke.

GREP!

Sasuke langsug mencengkeram kuat kos Sai, iris kelamnya menatap tajam sekaligus dingin pada pemuda berkulit pucat tersebut, "Berani kau menyentuh anakku dan Hinata, akan aku bunuh kau dengan tanganku sendiri tak peduli kau itu sepupuku atau anak dari adik ibuku!" desis Sasuke dengan sorot mata penuh benci bercampur amarah.

Wajah Sai nampak panik sekaligus takut melihat ekspresi Sasuke yang menakutkan, "Maaf, aku hanya ingin memberikan solusi tak bermaksud membuatmu marah,"

Sasuke menghempaskan tubuh Sai keras, sorot matanya penuh benci pada Sai, "Aku bukan pria pengecut dan brengsek yang tega membunuh darah dagingku sendiri dengan meminta wanita yang kucintai menggugurkan kandungannya karena bagiku 'dia' adalah buah cinta kami berdua," kata Sasuke tegas.

"Hinata dan bayinya adalah hartaku yang paling berharga, jika harus meninggalkan keluarga Uchiha untuk bisa bersama mereka akan aku lakukan. Sebanyak apapun harta yang aku miliki itu tak akan ada artinya jika Hinata tak disisiku," sambung Sasuke dengan wajah sedih.

Sai pun menyerah tak ingin memaksa Sasuke untuk berpikir kembali atau membuatnya mengurungkan niatannya ingin menikah karena sepertinya Sasuke sangat mencintai keduanya, "Jika memang kau sudah siap dengan segala resikonya, aku tak bisa berkata apa-apa lagi, semuanya sudah keputusanmu, aku hanya bisa mendukungnya asalkan kau merasa bahagia,"

"Terima kasih. Aku harap kau membantuku menyiapkan upacara serta pesta pernikahanku,"

"Baiklah. Memang kau ingin mengundang berapa ribu orang?"

"Tidak banyak, hanya mengundang orang-orang terdekat saja termasuk kau juga kekasihmu itu."

"Akan aku lakukan sebisaku dan memberikan yang terbaik untuk pernikahanmu. Dan aku ucapkan selamat."

"Terima kasih."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Menikah adalah sebuah moment terindah di setiap perjalan kehidupan setiap orang di dunia, menikah berarti menjalin sebuah hubungan sakral yang menyatukan dua hati menjadi satu keluarga, hidup bersama dan membangun kehidupan baru bersama orang terkasih. Setiap gadis di dunia ini pasti mempunyai mimpi, harapan serta khayalan tinggi tentang pernikahan termasuk dengan Hinata yang dulu sempat berpikir mengenai pernikahannya bersama Naruto semasa mereka masih merajut kasih.

Merancang masa depan berdua, membayangkan pesta pernikahan kecil nan sederhana namun khidmat di sebuah padang bunga yang luas dengan langit sebagai atap, hembusan angin dan daun-daun yang bergoyang menjadi irama tersendiri mengiri upacara pernikahan. Tapi sayang semua tinggal kenangan yang dulu terasa manis kini menjadi pahit dan suram jika dibayangkan apalagi diingat.

Takdir dari Tuhan terkadang sangat mengejutkan sekaligus tak terduga, seperti yang dialami Hinata.

Datang ke pesta pernikahan mantan kekasih dengan sahabat sendiri sebagai bukti kalau sudah ikhlas dan merelakan pria bersurai kuning dengan mata seindah langit itu untuk bersanding dengan Sakura, gadis cantik nan manis dengan surai seperti permen kapas anak dari pemilik rumah sakit ternama. Keduanya memang sangat cocok, pantas jika bersanding dan menjadi pasangan, karena terlahir dari keluarga terpandang. Walau pun berat sekaligus menyakitkan untuk bisa merelakan sekaligus melupakan orang yang pernah mengisi hati dan hari-harinya selama bertahun-tahun tapi Hinata berusaha mengikhlaskan karena percaya Tuhan akan mengirimkan pangeran tampan nan baik hati yang akan selalu menjaga dan mencintainya setulus hati menggantikan air matanya saat ini dengan sebuah senyuman kebahagian. Tapi Hinata tak pernah mengira sama sekali kalau Tuhan menggantinya dengan cepat dan memberikan kejutan besar di dalam hidupnya seperti sebuah ledakan kembang api sangat mengagetkan namun begitu indah terlihat. Kedatangan Sasuke sebuah hadiah tak terduga dari Tuhan dikehidupan Hinata bahkan kini, pemuda bersurai raven itu akan segera menjadi suami sekaligus ayah dari anak dikandungnnya. Perberdaan usia mereka berdua cukup mencolok yaitu delapan tahun, andai saja angka itu dibalik menjadi Hinata yang berusia tujuh belas tahun dan Sasuke dua puluh lima tahun mungkin ceritanya tidak akan menjadi aneh seperti ini.

Dari pada disebut istri mungkin Hinata lebih cocok dipanggil kakak karena jarak perbedaan umur mereka berdua, tapi bukan namanya Sasuke jika tidak memaksa juga mengancam tentunya karena ternyata korban dari kejadian malam panas itu adalah Sasuke sedangkan Hinata sendiri adalah pelaku. Jika mengingat-ingat hal itu selalu membuat Hinata malu setengah mati karena merasa tidak bermoral dengan menyerang anak dibawah umur.

Upacara pernikahan akan Sasuke gelar dalam minggu ini secara sederhana disebuah kuil dekat perbukitan, tak banyak orang yang akan hadir dihari istimewanya bersama Hinata karena hanya mengundang orang-orang terdekat terlebih baik Hinata maupun Sasuke sudah tidak memiliki orang tua serta keluarga walaupun sebenarnya Sasuke sendiri masih memiliki banyak saudara dari pihak keluarga sang ayah mengingat didalam dirinya masih mengalir darah keluarga bangsawan Uchiha.

Sasuke memilih menikah secara agama Shinto tidak di gereja karena masih memegang teguh tradisi keluarga Uchiha yang secara turun temurun setiap generasinya menikah di kuil dengan dipimpin oleh pendeta Shinto atau Kanushi.

Hari pun berlalu sangat cepat dan waktu yang dinanti-natikan oleh Sasuke tiba juga.

Sejak pagi buta, Hinata sudah didandani oleh penata rias profesional yang biasa menangani artis papan atas Jepang merubah wajah cantik Hinata yang setiap harinya polos tanpa make up hanya mengenakan pelembab bibir menjadi cantik sekaligus menawan karena terlihat sangat berbeda dari biasanya. Kulit wajah Hinata nampak lebih putih, bibirnya berwarna merah seperti buah starwberry begitu menggoda, kedua pipi tembabnya dipoles blush on berwarna peach seperti buah plum.

Rambut indigo panjangnya di tata rapih keatas, Hinata sendiri nampak sangat cantik sekaligus mempesoana dalam balutan Shiromoku putih dengan lambang kipas dibelakang, gambar klan dari keluarga Uchiha dan setiap gadis yang menikah dengan kepala keluarga Uchiha pasti akan mengenakan Shiromoku yang dikenakan Hinata saat ini dan sudah turun menurun.

Hinata sendiri adalah orang ke sepuluh yang mengenakan, Shiromoku ini yang dulu dijahit tangan oleh Nyonya Uchiha generasi pertama. Setelah mengenakan Shiromoku biasanya sebelum pernikahan dimulai biasanya mempelai wanita akan diminta memilih antara dua topi pernikahan tadisional. Yang pertama adalah penutup kepala pernikahan berwarna putih yang disebut tsuni kakushi secara harfiah bermakna menyembunyikan tanduk. Tutup kepala ini dipenuhi dengan ornament rambut kanzashi di bagian atasnya dimana mempelai perempuan mengenakannya sebagai tudung untuk menyembunyikan tanduk kecemburuan, keakuan, dan egois dari ibu mertua yang sekarang akan menjadi kepala keluarga. Ada juga yang menyebutkan tutup kepala ini melambangkan ketetapan hatinya untuk menjadi istri yang patuh dan kesediaannya untuk melaksanakan perannya dengan kesabaran dan ketenangan. Hiasan kepala lain yang dapat dipilih adalah wata boushi. Menurut adat, wajah mempelai wanita benar-benar tersembunyi dari siapapun kecuali mempelai pria. Hal ini menunjukkan kesopanan sekaligus mencerminkan kualitas kebijakan yang paling dihargai dalam pribadi perempuan. Dan sendiri Hinata memilih mengenakan wata boshi sebagai hiasan kepalanya.

Jika Hinata nampak cantik dalam balutan Shiromoku dengan wata boshi sebagai hiasan kepala, sang mempelai pria yaitu Sasuke juga terlihat begitu tampan sekaligus gagah dalam balutan Montsuki Haori Hakama.

Dengan dibantu Ino dan Konan teman yang Hinata undang sebagai saksi pernikahan dan menemaninya sejak tadi di ruang rias pengantin. Keduanya nampak cantik dalam balutan Kimono berbeda warna serta corak. Hinata berjalan perlahan menuju kuil dengan digandeng Ino serta Konan, karena Shiromoku serta hiasan kepalanya cukup berat membuatnya agak sedikit sulit berjalan.

Saat masuk kedalam kuil Hinata hanya melihat beberapa orang tamu yang hadir, Sai sepupu Sasuke dan teman-teman Hinata di Akatsuki Kafe.

Semua mata langsung tertuju ke arah Hinata yang sangat cantik, anggun sekaligus menawan bahkan Sasuke hampir berhenti bernafas melihat betapa mempesonanya mempelai wanitanya itu.

Diawal pernikahan Sasuke dan Hinata dimurnikan oleh pendeta Shinto. Kemudian keduanya berpatisipasi dalam sebuah ritual yang dinamakan San-sankudo. Selama ritual ini Sasuke dan Hinata bergiliran meminum sembilan kali dari tiga cangkir yang disediakan. Saat Sasuke dan Hinata meninum sake dari cawan, mereka berdua juga mengucapkan ikrar perkawinan.

Setelah ikrar perkawinan keluarga mereka masing-masing berhadapan, umumnya kedua mempelai saling berhadapan. Setelah itu anggota keluarga dan kerabat dekat dari kedua mempelai saling bergantian minum sake yang menandakan adanya persatuan dan ikatan dalam pernikahan. Upacara ditutup dengan mengeluarkan sesaji berupa ranting Sasaki, sejenis pohon keramat yang ditujukan kepada Shinto. Tujuan kebanyakan ritual Shinto adalah untuk mengusir roh-roh jahat dengan cara pembersihan, doa, dan persembahan kepada Dewa.

Setelah upacara pernikahan selesai, Sasuke dan Hinata mengundang seluruh tamu undangan yang hadir ke pesta lanjutan yang disebut Nijikai yang memang sengaja dibuat oleh Sai. Biasanya hidangan yang disajikan dalam pernikahan menyimbolkan sebuah harapan kebahagian, kemakmuran, keabadian, dan mendapatkan keturunan dari pernikahan tersebut. Contohnya Konbu adalah makanan Jepang yang mempunyai nama dari bagian kata Yorokubu yang artinya kebahagian, ikan yang kepalanya dan ekornya disajikan berbentuk lingkaran yang melambangkan keabadian atau eternity, kerang yang disajikan berpasangan melambangkan kedua mempelai akan terus bersama-sama, lobster yang disajikan dengan warna merah hati yang melambangkan keberuntungan, dan jumlah makanan yang disajikan tidak boleh berjumlah empat karena angka empat atau Shi dalam bahasa Jepang melambangkan kematian, dan untuk makanan penutupnya seringkali menyajikan Komochi mantju yang mempunyai rasa kenyal, manis dan berisi.

Semua orang silih berganti mengucapkan kata selamat untuk kedua pasangan fenomenal ini karena tak pernah menduga sama sekali kalau akan menjadi sepasang suami istri terlebih Hinata sedang hamil beberapa minggu dan itu adalah anak Sasuke, pemilik Akatsuki kafe yang baru, sepupu dari Sai dan seorang murid SMA di Empire Gakuen.

Ucapan selamat pun mengalir dari sahabat serta keluarga keduanya, bahkan Ino terlihat sangat emosional karena terus menangis haru sekaligus bahagia melihat Hinata menikah walaupun pemuda yang dinikahi lebih muda delapan tahun tapi dari lubuk hati yang terdalam Ino berharap pada Kami-sama untuk selalu memberikan kebahagian bagi keduanya. Andai saja Naruto dan Sakura tahu kalau Hinata sudah menikah bahkan sebentar lagi akan menjadi seorang ibu dari Sasuke, pemuda yang lebih tampan, keren, gagah bahkan kaya raya dari Naruto entah apa reaksi dari pria bersurai kuning itu nantinya.

Apakah pria bermata seindah langit itu akan menyesal karena sudah meninggalkan Hinata dan memilih menikahi Sakura sahabat Hinata sendiri termasuk Ino, andai saja ia tidak berjanji untuk tidak memberitahukan mengenai pernikahannya kepada kedua orang itu sudah pasti Ino akan menghubungi mereka.

Kini air mata sekaligus rasa sakit Hinata karena ditinggalkan sudah terbayar mahal oleh Sasuke karena suaminya kini adalah sosok yang luar biasa, wajahnya lebih tampan, kaya dari Naruto, kekurangannya hanya satu usianya yang lebih muda delapan tahun dari Hinata tapi apalah arti dari sebuah angka jika memang Sasuke mencintai Hinata dengan setulus hati, dan sudah berjanji akan melindungi wanita bersurai indigo tersebut dari apapun yang bisa menyakitinya.

"Kekkon omedeto gozaimasu. Hinata!" Ino memeluk erat Hinata dengan berlinang air mata.

"Terima kasih, Ino-chan."

Sai tak ketinggalan mengucapkan selamat atas pernikahan Sasuke dan Hinata, ia pun ikut merasa senang akhirnya semua berjalan lancar tanpa adanya hambatan ataupun kendala sama sekali terlebih campur tangan dari para tetua klan Uchiha yang takut sewaktu-waktu datang menghancurkan prosesi upacara pernikahan tapi spertinya sekumpulan pak tua itu tidak berani datang ataupun merusak moment indah Sasuke karena sudah diancam terlebih dahulu oleh Sasuke.

"Kekkon omedeto gozaimasu. Ofutari de, nakayoku, atatakai katei o kizuiteitte kudasai." Ucap Hidan serta Deidara secara bersamaan memberi selamat.

"Kekkon omedeto gozaimasu. Suenagaku o shiawaseni." Kata Sasori memberi ucapan selamat, walau ekspresi wajahnya terlihat agak sedikit sendu.

"Terima kasih, Sasori-kun." Balas Hinata seraya tersenyum kecil menatap penuh sedih pada pemuda bersurai merah tersebut karena sehari sebelum pernikahannya dengan Sasuke, pemuda tampan dengan surai merah itu mengatakan mengenai seluruh perasaannya selama ini padanya namun Hinata tak bisa menerima perasaan Sasori karena akan menikah.

Hanya kata maaf serta ucapan penuh sesal yang bisa Hinata katakan waktu itu sebagai jawaban atas pernyataan cinta dari Sasori. Sebenarnya kedatangan Sasori ke pesta pernikahan Hinata saat ini adalah sebuah hal tak terduga karena merasa penolakkannya waktu itu sudah pasti membuat Sasori merasa sedih, marah sekaligus kecewa tapi sepertinya Sasori memiliki hati yang begitu lapang karena mau datang bahkan memberikan ucapan selamat walau ekspresi wajah Sasori tidak terlihat senang sama sekali tapi Hinata sangat hargai kedatangan Sasori dipernikahannya. Sebelum pesta berakhir Hinata dan Sasuke berserta para tamu undangan yang hadir berdiri berkumpul di depan kuil untuk berfoto bersama sebagai kenang-kenangan. Wajah Hinata dan Sasuke terlihat begitu bahagia dengan senyuman lebar menghias wajah begitupun dengan teman-temannya.

Pernikahan bukanlah akhir dari segalanya melainkan langkah serta awal baru di kehidupan baru bersama seseorang, entah rintangan, masalah apa yang akan menanti didepan tapi bisa Sasuke pastikan kalau akan terus berada disisi Hinata, menggengam erat tangannya tak akan pernah melepaskannya sekalipun badai menerjang karena didalam hati Sasuke sudah berjanji kalau hanya akan ada Hinata dan selalu Hinata didalam kehidupannya.

TBC

A/N : Terima kasih banyak kepada siapapun yang sudah mau meluangkan waktunya untuk membaca Fic ini. Terima kasih banyak juga kepada para reader yang sudah memberikan riview, tanggapan, komentar, saran sekaligus semangatnya. Saya merasa sangat senang sekali dan mohon maaf baru bisa melanjutkan Fic ini kembali. Untuk jalan ceritanya maaf kalau alurnya kecepatan dan tidak sesuai#Bungkuk badan dalam-dalam.

BIG THANK'S TO : Mikku hatsune,Reo Malida,chika kyuchan,Higurashi HimeKA,icaraissa11,Hime,Bernadette Dei,ameyukio2,Green Oshu,raniablue,elmou,TheTomatoShop,NillaariezqysekarrSarry470,Febri593,Sabaku no Yanie,Zizah,mprill Uchiga,noname,yulia,scarlett zora,Hinataholic,Baenah231,Lovely sasuhina,budii,uchiha wulan,Pengagumlavender,Tia,rikarika,Kawaii Uchiga,Ranita 752,hinatauchiha69,uchiha,Daracan' Hyuga,lottus indigo, 120,suyamti1987,AjHyuuga,Nao mi chan,Mi2 tio,Guest.

Mohon maaf apabila ada kesalahan pengetikan nama.

Terima kasih banyak atas riviewnya, semoga senang dengan kelanjutan Fic 'My Young Husband'.

Jika berkenan Read and Riviewnya.

Ogami Benjiro II