Typo merajalela...

DLDR

Enjoy...

Chapter 3

"Jadi?" Sakura memulai sesi tanya jawab.

Mereka berlima kini sudah duduk di ruang keluarga apartement Sasuke. Naruto, Sakura, dan Sasori kini menatap penuh tanya pada pasangan SasuHina yang duduk berdampingan di kursi paling tengah.

"Apa yang kalian ingin tahu?" balas Sasuke dengan suara datarnya. Wajahnya terlihat sangat tenang, karena sebenarnya dia tidak peduli jika semua orang tahu tentang hubungannya dengan Hinata, justru itu yang dia inginkan.

Lain halnya dengan Hinata yang terlihat begitu canggung dan gelisah, karena tertangkap basah oleh teman-teman suaminya.

"Tentu saja kami ingin tahu semuanya," ujar Naruto.

Hinata semakin gelisah, tapi dia pun sangat tahu jika mereka tak bisa mengelak lagi kali ini.

Sasuke yang mengetahui kegelisahan sang istri kemudian menggenggam tangannya.

Hinata menatap suaminya. Sasuke pun tersenyum tipis seolah berkata jika semuanya akan baik-baik saja. Kemudian Hinata pun menganggukkan kepalanya, tanda bahwa dia mempercayakan semua pada suaminya.

Naruto, Sakura, dan Sasori semakin memandang mereka penuh tanya.

"Jadi?" kali ini Sasori mengulang pertanyaan yang tadi dilontarkan kekasih pinkynya.

"Hinata istriku. Kami sudah menikah," jawab Sasuke singkat.

Loading sekejap, sebelum...

"APAAA??" seru mereka bertiga kompak. Ketiganya menatap tak percaya ke arah Sasuke dan Hinata.

Tak lama kemudian justru terdengar tawa menggelegar milik Naruto.

"Hahahahahaha...Jangan bercanda Teme!"

"Ba-bagaiman mungkin? Sejak kapan kalian menikah?" tanya Sakura tak percaya.

"Bukankah kalian baru saling mengenal saat pesta pertunangan Ino dan Sai?" Sasori pun tak ketinggalan untuk bertanya.

Sasuke menghembuskan napasnya kasar. "Apa aku terlihat seperti sedang bercanda?"

Tawa Naruto seketika terhenti. Sasori dan Sakura pun terus menatap lekat ke arah Sasuke mencari kebenaran dari mata kelamnya.

"Ba-bagaimana bi-bisa?" tanya Naruto terbata. Terlalu terkejut dengan kabar yang dibawa Sasuke.

Akhirnya, mau tak mau Sasuke pun menceritakan semuanya kepada ketiga temannya itu.

Flashbck on...

Sasuke PoV

Aku pertama kali melihatnya saat dia berusia 5 tahun, dan aku berusia 10 tahun. Saat itu ibu dan ayahku membawa kami ke rumah salah satu teman lamanya yang baru saja kembali ke Konoha setelah beberapa lama menetap di Tokyo.

Awalnya, aku menolak ajakan ibuku. Aku terlalu malas untuk mendengarkan para orang tua bergosip. Tapi, saat kami tiba disana, aku sedikit tertegun kala melihat seorang gadis kecil yang sedang asyik bermain dengan lelaki seumuran denganku yang sangat mirip dengannya. Hanya saja, mereka memiliki warna rambut yang berbeda.

Entah kenapa gadis kecil itu begitu menarik perhatianku. Dia terlihat sangat cantik dengan rambut indigo pendeknya serta mata bulannya dan pipi yang bulat disertai rona merah yang menghiasinya.

"Mikoto-chan, Fugaku-kun, sudah lama sekali kita tidak bertemu." Sepasang suami istri seumuran ibu dan ayahku menyambut kami. "Apa ini Itachi-kun dan Sasuke-kun?" Bibi itu kembali bertanya pada ibuku, namun matanya menatapku dan kakakku.

"Iya, Hikari-chan," jawab ibuku lalu beliau memperkenalkan kami.

"Itachi-kun, Sasuke-kun, kenalkan ini teman ayah dan ibu sejak SMU, namanya Paman Hiashi dan Bibi Hikari."

"Salam kenal paman, bibi, aku Uchiha Itachi." Kakakku memperkenalkan diri.

"Aku Uchiha Sasuke, salam kenal paman, bibi," aku pun melakukan hal yang sama dengan kakakku namun fokusku tetap pada kedua anak yang sedang bermain tak jauh dari kami berdiri.

"Kalian sudah besar rupanya," ujar bibi Hikari sambil tersenyum.

Kemudian, ibu menyadari kemana arah tatapanku yang sejak tadi terlihat tidak fokus.

"Apa itu Neji-kun dan Hinata-chan?" ibu bertanya pada Bibi Hikari.

Kulihat Bibi Hikari menganggukkan kepalanya kemudian memanggil kedua anak itu.

"Neji-kun, Hinata-chan, kemari sayang!" ujarnya. Kemudian kedua anak itu pun menghampiri ke arah kami.

"Ada apa, bu?"

Lelaki yang seumuran denganku bertanya pada ibunya.

"Kenalkan, ini Bibi Mikoto dan Paman Fugaku, lalu mereka Itachi-kun dan Sasuke-kun." Bibi Hikari memperkenalkan kami pada kedua anaknya.

"Salam kenal, namaku Hyuga Neji." Bocah lelaki tadi sedikit membungkukkan badannya memperkenalkan diri.

Kulihat gadis kecil itu bersembunyi dibelakang bocah bernama Neji tadi.

"Ne, Hinata-chan. Jangan seperti itu, tidak sopan!" Paman Hiashi menegur putrinya. "Ayo perkenalkan dirimu!" pinta ayahnya lagi.

"Ma-maaf!" cicitnya.

"Wah, Hinata-chan cantik sekali, benarkan anata?" ibuku meminta persetujuan ayah, dan ayahku mengangguk setuju.

"Halo, adik manis! Siapa namamu?" kakakku berjalan menghampirinya dan sedikit berjongkok untuk menyamakan tingginya.

"Na-namaku Hyuga Hi-hinata," ujarnya pelan.

"Namaku Itachi, kau boleh memanggilku Itachi-nii. Kalian sedang main apa? Apa aku boleh ikut bermain?" Itachi kembali bertanya. Dia memang ramah pada semua orang dan juga pandai bergaul. Berbeda sekali denganku yang sedikit kesulitan untuk bersosialisasi.

"Kami sedang main lego. Itachi-nii mau ikut main?" gadis kecil itu balik bertanya.

"Jika kau boleh."

Kulihat gadis itu menatap kedua orangtuanya kemudian beralih menatap kakaknya. Mereka mengangguk setuju.

"Ayo, Itachi-nii!" ajaknya pada anikiku.

"Ajak Sasuke-kun juga Hinata-chan!" pinta ibunya.

"Sa-sasuke-nii mau ikut main?" tanya gadis itu seraya memiringkan kepalanya.

Entah seolah terhipnotis atau apa, aku hanya bisa mengangguk mengiyakan kemudian berjalan mengikuti mereka bertiga.

Akhirnya kami berempat pun main bersama sementara para orangtua kami mengobrol. Ini pertama kalinya aku merasa senang bermain bersama, terutama dengan gadis kecil bernama Hinata.

Setelah pertemuan itu, aku semakin sering bertemu dengan Hinata dan Neji karena ibuku yang sering berkunjung ke kediaman Hyuga atau pun sebaliknya. Hingga aku dan Itachi pun berteman baik dengan Hinata dan Neji

Hari-hari terus berlalu hingga 5 tahun setelah pertemuan pertama kami, kabut duka menyelimuti keluarga Hyuga atas meninggalnya Bibi Hikari. Saat itu usia Hinata 10 tahun, sementara aku dan Neji 15 tahun, serta Itachi 18 tahun.

Aku, Neji, dan Itachi, berusaha menghibur Hinata yang terus menerus menangis memanggil ibunya. Satu bulan berlalu dan kondisi Hinata masih tetap sama, bahkan lebih buruk. Kehilangan ibu yang begitu dicintainya membuat dia begitu terpukul, hingga paman Hiashi membawanya untuk pindah ke London, ke tempat neneknya, ibu dari Bibi Hikari berada.

Sebenarnya aku tak rela Hinata pindah tapi aku bisa apa? Aku hanya berharap untuk kebaikkannya. Aku hanya ingin Hinata kami kembali ceria.

Sejak kepindahan Hinata, aku tidak pernah lagi bertemu dengannya. Aku hanya sesekali mendengar kabarnya dari Neji yang kini menjadi teman sekolahku, atau dari aniki yang kebetulan sedang menempuh pendidikannya di London.

Lima tahun kemudian, aku mendapatkan kesempatan untuk bertemu kembali dengan Hinata. Saat itu keluargaku datang ke London untuk menghadiri acara wisuda S2 Itachi.

Aku sendiri sudah menjadi seorang penyanyi terkenal saat itu. Aku memulai debutku saat lulus dari SMU. Awalnya aku tak bisa ikut dengan kedua orangtuaku karena jadwalku yang begitu padat, tapi saat mereka berkata akan mengunjungi keluarga Hyuga, aku pun meminta pada manager untuk mengatur ulang jadwalku.

Rasa rindu pada Hinata kecilku kembali meluap. Sudah 5 tahun kami tidak bertemu. Bagaimana dia sekarang? Seperti apa dia. Apa dia masih mengingatku? Karena aku disini tak pernah melupakannya.

Pertemuan pertama kami setelah 5 tahun berlalu membuatku merasakan seperti ada ribuan kupu-kupu yang beterbangan dalam perutku.

Hinata kecilku kini sudah tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik, dan aku langsung jatuh cinta kepadanya. Aku juga sangat senang karena ternyata dia pun tidak lupa padaku.

Selama 2 minggu di London, aku lebih sering menghabiskan waktuku bersama Hinata. Aku begitu bahagia, dan aku tidak menyesal ikut kemari bersama orangtuaku.

Sehari sebelum aku kembali ke Jepang, aku memberanikan diri mengungkapkan perasaanku pada Hinata.

"Apa Sasuke-nii sungguh-sungguh?" Hinata menatapku tak percaya saat aku mengungkapkan perasaanku padanya.

"Aku sungguh-sungguh, Hinata. Aku bahkan sudah menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu dulu," ujarku.

"Sasuke-nii sangat terkenal, pasti banyak gadis cantik yang menyukaimu dan ingin bersamamu. Sedangkan aku, aku hanya gadis biasa. Aku bahkan masih berusia 15 tahun."

Ucapannya terdengar seperti dia tak percaya diri. Padahal, jika aku boleh berterus terang, meskipun Hinata masih berusia 15 tahun tapi dia tak terlihat seperti gadis seusianya. Dia terlihat sangat dewasa dan keibuan. Wajahnya sangat cantik meskipun tidak memakai riasan. Postur tubuhnya pun terlalu bagus untuk ukuran gadis berusia 15 tahun.

"Ya, kau memang benar. Banyak gadis cantik disekitarku dan mereka menyukaiku, mereka bahkan memujaku, mereka ingin bersamaku," ujarku. Aku bisa melihat tatapannya yang tiba-tiba berubah sendu. "Tapi, aku sama sekali tak tertarik dengan mereka. Aku hanya menyukaimu. Tidak. Aku tidak menyukaimu, tapi aku mencintaimu Hyuga Hinata," lanjutku. Kulihat matanya kembali berbinar.

"Jadilah kekasihku, Hinata!" aku kembali berujar. Hinata membolakan kedua mata indahnya saat mendengar ucapanku.

"Sa-sasuke-nii..."

"Aku benar-benar mencintaimu," ucapku sungguh-sungguh. Aku hanya berharap Hinata mempercayai kata-kataku.

Hinata terlihat sedikit bimbang, tapi aku sangat yakin jika pancaran matanya merasakan hal yang sama seperti apa yang kurasakan.

"Hinata..." aku kembali memanggilnya. "...bagaimana?" tanyaku sedikit memaksanya.

Kulihat kepalanya mengangguk. Hatiku sedikit bersorak kala melihat anggukkannya. "Apa maksudnya itu?" tanyaku meyakinkan.

"A-aku mau, Sa-sasuke-nii," jawabnya malu-malu. Tidak bisa kujelaskan bagaimana bahagianya aku saat itu. Gadis yang sedari kecil aku sukai kini menjadi kekasihku.

"Benarkah?" tanyaku tak percaya.

Hinata menganggukkan kepalanya. "I-iya," cicitnya pelan tapi aku masih bisa mendengar jelas suaranya.

Aku begitu bahagia hingga tak lagi mampu berkata-kata. Hanya pelukan erat yang mampu aku lakukan sebagai luapan bahagiaku. "Terima kasih, Hinata. Terima kasih," bisikku tepat ditelinganya.

Saat kembali ke Jepang aku menceritakan semuanya pada keluargaku. Tentang hubunganku dengan Hinata. Kedua orangtua dan kakakku begitu bahagia saat mendengarnya, terutama ibuku. Beliau bahkan langsung menelpon Hinata saat itu juga, dan keesokan harinya mereka mendatangi Paman Hiashi untuk memberitahu kabar ini. Aku pun menemui beliau seminggu kemudian untuk meminta ijin. Syukurlah beliau mengijinkan. Begitu pun dengan Neji, meskipun terkadang sikapnya begitu menyebalkan jika sudah menyangkut Hinata.

Setelah itu, aku dan Hinata mulai menjalani hubungan jarak jauh kami. Setiap hari aku selalu menyempatkan waktu untuk berkirim kabar meskipun hanya dalam bentuk sebuah pesan singkat.

Setahun berlalu, aku kembali mengutarakan niatku untuk mengikat Hinata pada kedua orangtuaku. Aku meminta ayah dan ibu melamarkan Hinata untukku. Aku ingin kami bertunangan terlebih dahulu agar tak ada yang bisa merebutnya dariku.

Namun, ternyata ibuku justru memiliki ide yang lebih baik. Ibu ingin agar aku dan Hinata langsung menikah saja. Tentu saja aku sangat bersedia.

Kami sekeluarga pun kembali mendatangi Paman Hiashi dan mengutarakan niat kami untuk meminang Hinata. Awalnya, beliau dan Neji tak setuju jika kami langsung menikah. Tapi, dengan kegigihan ibu meyakinkan mereka, serta melihat kesungguhanku, akhirnya Paman Hiashi dan Neji pun memberikan restunya. Tapi, tentu saja ada syaratnya. Aku tidak diperbolehkan untuk menemui, bahkan berhubungan dengan Hinata sebelum usia Hinata mencapai 20 tahun. Aku tahu, mereka hanya berniat menguji kesetiaan dan kesungguhanku. Akan aku buktikan jika aku benar-benar mencintai Hinata dan sungguh-sungguh padanya. Neji bahkan tahu, jika selama ini aku tak pernah sekalipun memiliki hubungan dengan gadis manapun. Dengan berat hati aku pun menyetujuinya. Aku bersedia melakukan ini hanya demi Hinata. Aku ingin dia menjadi milikku selamanya.

Akhirnya, aku dan Hinata pun menikah di London. Pernikahan kami hanya dihadiri oleh keluarga dan kerabat dekat saja, termasuk managerku, Hatake Kakashi, dan bos agencyku Namikaze Jiraya beserta istrinya Namikaze Tsunade yang tak lain adalah kakek dan nenek dari Naruto karena kebetulan mereka berdua berteman baik dengan nenek Hinata dan sedang berada di London saat itu.

Pernikahan kami pun dirahasiakan karena Hinata masih berusia 16 tahun saat itu, sedangkan aku sudah 21 tahun. Hinata juga tak ingin menjadi incaran paparazi untuk saat ini karena hubungannya denganku. Aku hanya menurutinya saja, karena suatu hari nanti aku pastikan dunia akan tahu jika Hinata adalah milikku, dan aku hanya miliknya.

Satu minggu setelah pernikahan, aku pun kembali ke Jepang. Itulah terakhir kalinya aku bertemu dan berhubungan dengan istriku sebelum dia kembali dan kami bertemu diacara pertunangan Ino malam itu."

Flashback off...

Naruto, Sakura, dan Sasori masih sedikit loading setelah mendengar cerita Sasuke tentang awal mula hubungannya dengan Hinata.

"Jadi, kalian sudah lama saling mengenal?" Sasori yang pertama kali tersadar dari keterkejutannya.

"Yep." Sasuke menganggukkan kepalanya.

"Kalian sudah menikah selama 4 tahun?" giliran Sakura bertanya.

"Aa."

"Kakek dan nenekku bahkan hadir dipernikahan kalian dan aku tidak tahu?" Naruto benar-benar tal percaya. Matanya melotot horor.

Sasuke terkekeh. "Dasar baka."

"Na-naruto-san, Sakura-san, dan Sasori-san, kumohon jangan mengatakan pada siapapun terlebih dahulu tentang hal ini!" Hinata kini membuka suaranya.

"Kenapa?" Sakura mengernyit heran.

"A-aku belum siap," Hinata mencicit seraya menundukkan kepalanya.

Sasuke masih menggenggam kedua tangannya. "Aku akan membuat kejutan saat konserku nanti," ujar Sasuke menimpali.

"Kau akan mengatakan semuanya saat konsermu nanti?" tanya Sasori.

"Hn."

"Ya ampun, ini benar-benar gila. Aku masih tak percaya. Pantas saja kau tidak pernah berpacaran dengan gadis manapun. Kukira kau tidak normal, ternyata kau sudah beristri." Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Sekarang kalian sudah tahu, jadi sebaiknya kalian tutup mulut sampai aku membuat pengumuman," tegas Sasuke. "Lalu, untuk apa kalian kemari?" Sasuke balik bertanya, teringat pertanyaan yang sedari tadi ingin diucapkannya.

Naruto terlihat merengut mendengar pertanyaan Sasuke.

"Ada apa?" Sasuke mengerutkan keningnya melihat wajah kusut sahabat dobenya.

"Dia bertengkar dengan Shizuka, dan dia menyeret kami kemari." Sakura yang menjawab pertanyaan Sasuke.

"Dia benar-benar bertingkah kekanakan," Sasori mencibir.

"Diamlah, Sasori! Seharusnya kalian juga berterima kasih padaku, karena akulah kalian bisa mengetahui kabar mengejutkan ini." Naruto membela diri.

"Apalagi kali ini?" tanya Sasuke yang sepertinya sudah paham dengan tingkah sahabat-sahabatnya.

"Seperti biasa, kau tahu sendiri bagaimana kelakuannya saat melihat Shizuka beradu akting dengan mantan kekasihnya." Sasori menatap remeh Naruto yang terlihat semakin manyun. Mereka pun menertawakan wajah kesal Naruto.

Tak lama kemudian Itachi pun datang. Dia cukup terkejut melihat Naruto, Sakura, dan Sasori ada disana. Namun, Hinata kemudian menjelaskannya. Dan kini mereka pun mengobrol bersama, membicarakan hal-hal ringan yang membuat mereka terlihat begitu akrab.

Seminggu telah berlalu sejak insiden terbongkarnya hubungan Hinata dan Sasuke oleh Naruto, Sakura, dan Sasori.

Hari ini adalah pembukaan cafe yang menyatu dengan toko kue milik Hinata. Sejak pagi Hinata sudah sibuk mengatur sana sini. Sasuke pun sebenarnya sedang disibukkan oleh persiapan konsernya minggu depan hingga mereka jarang menghabiskan waktu bersama akhir-akhir ini.

Cukup banyak orang yang hadir dalam acara pembukaan cafe sekaligus toko kue Hinata yang diberi nama Himawari's Cafe and Pastry. Kebanyakan memang teman-teman suaminya yang juga merupakan teman-teman kakaknya, Neji, karena Hinata tidak memiliki banyak teman disini.

Sampai acara pembukaan berlangsung pun Sasuke masih tak menampakkan batang hidungnya, karena dia pun sama-sama sedang sibuk, dan Hinata cukup mengerti serta memaklumi hal itu.

Semua tamu yang hadir cukup terkejut dengan kedatangan keluarga Uchiha yang disambut begitu hangat oleh Hinata dan Hiashi. Kedatangan Jiraya dan Tsunade pun tak kalah mengejutkan. Mereka tak menyangka sama sekali jika orang-orang yang cukup berpengaruh di negeri itu mau menyempatkan diri hanya untuk menghadiri acara sederhana pembukaan sebuak cafe dan toko kue. Meskipun jika dilihat memang itu bisa saja terjadi karena Hinata yang seorang putri dari Hyuga Hiashi.

"Apa dia belum datang?" Mikoto memeluk Hinata dan berbisik ditelinga menantunya.

"Kurasa dia sibuk, bu. Seminggu lagi dia akan menggelar konsernya," balas Hinata.

"Bagaimana kabarmu? Kau terlihat kurus. Apa dia tidak mengurusmu dengan baik?" protes Fugaku seraya memeluk menantunya. Hal itu kembali membuat para tamu terkejut ketika melihat sang kepal keluarga Uchiha memeluk Hinata dengan begitu sayang.

Semakin terkejut lagi saat sulung Uchiha ikut memeluknya kemudian mengecup keningnya. "Selamat, Hime. Kau membuat kami bangga," ujar Itachi.

"Ini semua berkat dia Nii-san," balas Hinata seraya memeluk Itachi.

Namun, mereka yang sudah mengetahui perihal hubungan Hinata dengan keluarga Uchiha tidak terkejut lagi. Termasuk Naruto, Sakura, dan Sasori yang baru mengetahuinya seminggu yang lalu. Itu pun karena tidak disengaja.

"Kelihatannya mereka dekat sekali," komentar Toneri saat melihat kedekatan Hinata dengan para Uchiha.

"Tentu saja mereka dekat. Mereka itu kan..." ucapan Naruto terpotong saat Sakura yang kebetulan duduk disampingnya menginjak kakinya. "Aaww...sakit, Sakura-chan. Kenapa kau menginjak kakiku?" sungut Naruto tak terima.

"Sepertinya julukan Sasuke untukmu memang tepat Naruto. DOBE," ujar Sasori penuh penekanan.

"Mungkin dia minta dihajar, sayang," Sakura menimpali seraya menatap tajam Naruto seolah berkata, 'Tutup mulutmu atau kau mati!'

Naruto teringat kembali dengan percakapan mereka seminggu yang lalu dan permintaan Hinata agar tidak memberi tahu terlebih dahulu perihal hubungannya dengan Sasuke kepada yang lain.

Akhirnya, Naruto pun kembali bungkam dengan wajah cemberut. Jujur saja, mulutnya begitu gatal ingin memberitahu kebenaran tentang siapa wanita yang selalu diposting fotonya oleh Sasuke dalam akun pribadi media sosialnya.

Teman-teman mereka yang lain pun hanya bisa memandang heran ketiganya kecuali Neji dan Tenten yang hanya menggelengkan kepala mereka.

Acara pembukaan Himawari's Cafe and Pastry berjalan lancar, mereka sangat menyukai kue-kue yang dibuat oleh Hinata. Tidak hanya penampilannya saja yang menarik tapi rasanya juga sangat enak. Begitupun makanan-makanan lain di cafe yang tak kalah enak hingga membuat cafe berlantai 2 itu terlihat sangat ramai pengunjung dihari pertama pembukaannya. Apalagi ditambah dengan kehadiran para artis dan orang-orang penting disana hingga membuat banyak orang semakin tertarik untuk datang.

Harga yang ditawarkan pun tidak sampai menguras kantong, karena Hinata ingin agar kuenya bisa dinikmati segala kalangan. Dia memang tidak terlalu memikirkan tentang keuntungan. Bagi Hinata, bisa menyalurkan hobi dan bakatnya dalam membuat kue merupakan kebahagian tersendiri. Lagipula hidupnua tidak kekurangan, jadi untuk apalagi dia memikirkan keuntungan. Kuenya disukai banyak orang sudah membuat dia sangat senang.

Tepat jam makan siang, Sasuke datang bersama Kakashi.

"Teme, kau terlambat!" seru Naruto yang sedang menikmati hidangan makan siangnya.

"Hn," Sasuke hanya menanggapinya malas.

Sasuke menghampiri kedua orangtua dan kakaknya yang sedang mengobrol dengan Hiashi untuk memberi salam.

"Kenapa kau baru datang, Sasuke-kun?" protes Mikoto.

"Maaf, bu! Aku sedikit sibuk," ujar Sasuke.

"Kudengar kau akan melakukan konser?" tanya Hiashi.

Sasuke menganggukkan kepalanya. "Aku berharap ayah bisa hadir nanti," balas Sasuke.

"Terima kasih, ayah." Sasuke sedikit membungkukkan badannya pada sang mertua.

"Kalau begitu aku permisi, aku ingin menemui Hinata." Sasuke pun undur diri dari hadapan keluarganya untuk mencari istrinya.

Sasuke duduk dimeja tempat teman-temannya berkumpul. Namun, mata kelamnya berkeliling mencari sosok wanita pujaannya.

"Kau mencari siapa, Sasuke?" tanya Gaara.

"Hn, dimana pemilik cafenya?"

"Kau mencari Hinata-chan? Untuk apa?" tanya Ino penasaran.

"Dia sedang sibuk, kau hanya akan mengganggunya," ujar Naruto ketus.

Sasuke menautkan kedua alisnya heran dengan sikap Naruto. "Ada apa dengannya?"

Teman-temannya hanya mengangkat bahu mereka acuh.

"Oh, kau sudah datang?" Hinata berjalan menghampiri meja Sasuke dan teman-temannya.

"Hn, aku sedikit sibuk tadi. Maaf!" ujar Sasuke terlihat menyesal. Hinata hanya tersenyum menanggapi.

"Kau sudah makan? Atau memesan sesuatu?" Sasuke menggeleng pelan menjawab pertanyaan Hinata.

"Apa ada yang kau inginkan?" Hinata kembali bertanya.

"Aku ingin spaghetti ektra saus tomat, pie tomat, dan jus tomat." Hinata terkekeh mendengar permintaan suaminya. Sementara teman-temannya hanya memandang Sasuke malas.

"Apa tidak ada makanan lain bagimu selain tomat?" ejek Neji.

Sasuke menatap malas sahabat sekaligus kakak iparnya itu.

"Buatkan yang special!" pintanya penuh penekanan.

Hinata tersenyum menanggapi, mengerti akan permintaan suaminya yang secara tidak langsung meminta agar Hinata sendiri yang membuatnya.

"Baiklah, pesananmu akan segera diantar. Mohon tunggu sebentar!" ujar Hinata sebelum meninggalkan mereka menuju dapur.

Setelah menikmati hidangan specialnya sembari bercengkrama dengan teman-temannya, Sasuke kembali tak melihat Hinata. Dia pun berjalan untuk mencari istri indigonya itu. Saat menuju ke arah dapur, dia bisa melihat sang istri tercinta memasuki sebuah ruangan yang diyakininya sebagai ruang pribadi Hinata. Sasuke pun mengikutinya kemudian langsung membuka pintunya kemudian menutupnya lagi dan menguncinya.

Hinata yang sedang merapikan mejanya sedikit terkejut melihat sang suami sudah ada diruangannya.

"Kenapa kau kesini?"

"Memangnya kenapa? Kau tak suka aku disini?" Sasuke berjalan menghampiri Hinata dan langsung memeluknya. "Aku merindukanmu." Menyurukkan kepalanya diperpotongan leher Hinata, menyesap wangi khas sang istri yang selalu menenangkannya.

Hinata tersenyum dan membalas pelukan suaminya. Mereka terus berpelukan selama beberapa menit hingga akhirnya Sasuke mulai menciumi leher istrinya.

"Sayang, aku benar-benar merindukanmu," ujar Sasuke lagi. Nada suaranya terdengar serak.

"Sa-sasuke-kun, ja-jangan seperti ini!" Hinata menggigit bibir bawahnya menahan desahan yang hampir lolos akibat ulah suaminya.

"Aku sudah mengunci pintunya. Lagipula, ruangan ini sudah aku buat kedap suara," bisik Sasuke menggoda.

"Mereka pasti mencari kita, Sasuke-kun."

"Sebentar saja, sayang. Kita lakukan dengan cepat." Sasuke terus menciumi wajah cantik Hinata. "Aku benar-benar merindukanmu. Sudah seminggu aku tidak menyentuhmu," ujarnya lagi kemudian mengangkat tubuh istrinya dan mendudukkannya dimeja.

"Kita lakukan di rumah saja, Sasuke-kun! Setelah kita pulang nanti," Hinata masih mencoba bernegosiasi.

"Aku sudah tidak bisa menahannya lagi, Hinata. Aku ingin berada di dalammu saat ini juga. 'Dia' sudah merindukan 'rumahnya'." Suara Sasuke semakin memberat, tangannya mulai bergerilya memasuki rok istrinya.

"Sa-sasuke-kuhn..."

Sasuke melumat bibir mungil Hinata. Mengobrak-abrik didalam mulutnya hingga membuat Hinata terlena.

"Aku janji hanya sebentar. Lagipula kau sudah basah di bawah sana."

Sasuke menempelkan kening mereka. Matanya menatap mata istrinya penuh damba. Begitu pun Hinata. Sasuke sudah membuatnya bergairah. Dia pun menginginkan suaminya. Dengan pasti dia pun menganggukkan kepalanya.

"Sekali saja dan lakukan dengan cepat!" ujar Hinata akhirnya.

Sasuke tersenyum penuh kemenangan. "Hn. Hanya sekali dan kita lakukan dengan cepat." Sasuke membalas ucapan Hinata.

Dengan tergesa-gesa Sasuke membuka celananya dan menurunkan celana dalam Hinata.

Selama 10 menit ruang kerja Hinata dipenuhi oleh suara-suara decapan lidah, gesekan antar kulit, serta lenguhan kenikmatan. Untung saja Sasuke membuat ruangan itu kedap suara. Ruangan itu pun kini terasa panas meskipun AC sudah dipasang dengan suhu paling rendah.

20 menit kemudian, Sasuke keluar ruangan Hinata terlebih dahulu, tentu saja setelah mereka merapikan diri. Sementara Hinata masih menormalkan detak jantungnya setelah kegiatan panas mereka.

Sasuke cukup terkejut saat dia keluar ruangan Hinata dan berpapasan dengan Gaara.

"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Gaara mengernyitkan dahinya saat melihat Sasuke yang keluar dari ruangan milik Hinata.

"Aku hanya memberinya ucapan selamat," ujarnya datar sambil berjalan menjauhi ruangan Hinata.

Gaara memicingkan matanya curiga. Terlebih dia bisa melihat raut penuh bahagia diwajah sahabatnya. Namun kemudian dia mengendikkan bahunya acuh dan mengikuti Sasuke kembali ke meja mereka.

Sasuke dan Gaara duduk kembali duduk diantara teman-temannya. Mereka saling bercakap-cakap sambil menikmati hidangan yang ada.

"Neji, apa kau melihat adikmu?" Hiashi menghampiri meja putra sulungnya bersama Fugaku, Mikoto, dan Itachi.

"Tadi Hinata masih di ruangannya," Sasuke yang menjawab pertanyaan ayah mertuanya hingga membuat semua kepala menoleh padanya.

Tak lama Hinata muncul diantara mereka.

"Kau kenapa, sayang? Wajahmu terlihat pucat." Mikoto mendekati menantunya dengan cemas.

"Aku tidak apa-apa, mungkin hanya sedikit kelelahan," jawab Hinata sedikit canggung.

Sasuke menyeringai hingga membuat Neji, Itachi, Tenten, Naruto, dan pasangan SasoSaku, menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihatnya. Mereka sudah bisa menduga jika itu adalah ulah Sasuke.

"Jangan terlalu lelah dan memaksakan dirimu, sayang!" pesan sang ayah yang langsung diangguki Hinata.

"Kami harus pergi sekarang, masih ada urusan. Kau jaga diri baik-baik. Jika ada apa-apa kau bisa hubungi kami," ujar Fugaku seraya mengelus kepala menantunya.

"Aku mengerti. Terima kasih sudah meluangkan waktu datang kemari. Kami akan mengunjungi kalian semua nanti," balas Hinata.

Orangtua mereka pun meninggalkan cafenya setelah berpamitan. Hinata mengantar mereka hingga ke depan.

Hinata kembali ke dalam dan kembali bergabung dengan teman-teman suami dan juga kakaknya. Itachi pun sudah ada diantara mereka. Namun tak lama kemudian dia pun pamit untuk kembali ke kantornya. Sisanya benar-benar menghabiskan waktu mereka di cafe Hinata seharian penuh berhubung mereka khusus mengosongkan jadwal mereka hari ini. Jarang juga mereka bisa menghabiskan waktu seperti sekarang ini.

Hari-hari berlalu begitu cepat. Hinata mulai disibukkan dengan urusan cafe dan tokonya. Sasuke pun semakin sibuk mempersiapkan konsernya. Waktu kebersamaan mereka pun semakin berkurang selama seminggu terakhir ini.

"Sayang, aku berangkat dulu." Sasuke pamit pada Hinata. Malam nanti dia akan menggelar konser tunggalnya.

Hinata menganggukkan kepalanya. "Kakashi-nii, tolong jaga Sasuke-kun! Ingatkan dia untuk makan!" Hinata melirik Kakashi yang kebetulan ada disana.

"Tentu saja, kau tak perlu khawatir!" balas Kakashi. "Baiklah, kita harus berangkat sekarang, Sasuke," lanjutnya kemudian.

"Hn." Sasuke memeluk istrinya. "Pastikan kau datang nanti malam! Kau berangkat dengan siapa?"

"Itachi-nii akan menjemputku."

"Baiklah, aku pergi dulu." Dikecupnya bibir tipis Hinata. Tak puas hanya sekedar kecupan, Sasuke pun melumatnya pelan.

Namun, ciuman itupun harus berakhir saat Kakashi menginterupsi.

"Ekhem...bisakah kalian melanjutkannya nanti?"

Sasuke melepaskan ciumannya meski tak rela. Hinata begitu malu hingga membuat wajahnya merona.

"Pergilah!"

Sasuke mengangguk mendengar ucapan istrinya. Dikecupnya kening Hinata sebelum dia keluar dari pintu apartementnya.

Waktu kembali bergerak begitu cepat. Tepat pukul 6 sore Itachi menjemput Hinata. Mantan gadis Hyuga itu pun terlihat sangat cantik dengan dress selutut lengan panjang berwarna krem dengan motif floral dibagian bawahnya. Kakinya dibalut dengan flatshoes berwarna coklat tua keluaran terbaru dari Chanel hadiah dari Sasuke minggu lalu. Rambutnya dibiarkan tergerai begitu saja. Penampilannya begitu sederhana namun sama sekali tak mengurangi kecantikannya.

"Kau cantik sekali, Hinata-chan. Apa kau sudah siap?" tanya sang kakak ipar saat menjemput Hinata di apartementnya.

"Aku sudah siap, Nii-san. Apa kita langsung berangkat sekarang?"

"Kurasa begitu. Jalanan mungkin akan macet jika kita terlambat. Bukankah acaranya dimulai pukul 19.00?"

Hinata menganggukkan kepalanya. "Baiklah, kita berangkat sekarang saja."

Butuh waktu sekitar 15 menit menuju Konoha Convention Centre tempat Sasuke menggelar konsernya. Namun karena jalanan cukup ramai akhirnya Hinata dan Itachi menghabiskan waktu selama 30 menit dalam perjalanan. Tersisa 30 menit sebelum acara dimulai. Mereka pun bergegas menuju kursi VIP yang sudah disediakan.

Hinata bisa melihat jika ayah dan kedua mertuanya sudah berada disana. Dia pun menyapa mereka sebelum duduk disamping ibu mertuanya. Neji dan Tenten juga sudah berada disana bersama teman-teman Sasuke lainnya yang juga hadir. Tak lupa Hinata pun menyapa Jiraya dan Tsunade yang ternyata juga datang.

Tepat 30 menit kemudian acara pun dimulai. Sasuke menyempatkan diri melirik ke arah bangku VIP untuk melihat istri dan keluarganya. Senyumnya mengembang saat melihat mereka telah hadir.

Lagu demi lagu telah dinyanyikan dengan apik oleh Sasuke. Suara merdu dan khasnya benar-benar membuat para penonton terpesona terutama para wanita.

Beberapa kali Sasuke melakukan kolaborasi dengan para penyanyi lainnya termasuk Sasori dan Shion. Hinata cukup cemburu saat melihat Sasuke berduet dengan Shion, wanita yang pernah digosipkan memiliki hubungan dengan suaminya. Terlebih wanita itu seperti mencuri-curi kesempatan agar bisa lebih dekat dengan Sasuke.

Dipertengahan acara, Sasuke membawakan sebuah lagu yang berjudul 'A Mother's Love' dari Jim Brickman khusus untuk Mikoto. Ibunya menangis haru saat mendengarnya, dia bahkan langsung naik ke panggung untuk memeluk putra bungsunya itu.

Dipenghujung acara Sasuke kembali menyanyikan lagu untuk seseorang yang dicintainya. Dia sudah duduk manis dengan gitar kesayangannya yang berada dipangkuan.

"Setelah tadi aku menyanyikan lagu untuk ibuku, kali ini aku akan menyanyikan lagu untuk seseorang yang juga sangat berarti bagiku." Sasuke mengambil napas sejenak sebelum kembali berbicara.

"Seperti yang kalian tahu, akhir-akhir ini aku sering memposting foto seorang wanita. Kali ini aku akan memperkenalkannya pada kalian semua." Mendadak suasana yang tadi ramai menjadi hening seketika. "Lagu yang akan kubawakan ini merupakan salah satu lagu favoritnya." Sasuke memainkan intronya. "Sayang, lagu ini untukmu," ujarnya. Matanya tak lepas menatap seorang wanita yang tengah duduk disamping ibunya.

Musik pun mulai terdengar. Jari-jari Sasuke bergerak lincah memainkan gitarnya. Lagu 'Just The Way You Are' dari Bruno Mars terdengar merdu ditelinga melalui suara khasnya.

Tampak orang-orang mengikuti arah pandangannya, namun karena ruangan yang cukup gelap, mereka tak bisa melihat dengan jelas siapa sosok wanita yang tengah dipandangi oleh Sasuke.

Berbeda dengan teman-teman Sasuke yang ada dibarisan depan Hinata. Mereka membelalakkan matanya tak percaya ketika menyadari Sasuke yang tengah memandang ke arah Hinata.

"Sepertinya kau tidak terkejut?" ujar Gaara saat melihat Naruto dan Sakura yang tampak biasa saja. Sasori tidak ada bersama mereka karena dia menjadi salah satu pengisi acara.

"Kami sudah mengetahuinya sejak 2 minggu yang lalu," balas Naruto.

"Kami?" Shizuka kekasihnya bertanya.

"Aku, Sasori, dan Naruto," Sakura menimpali.

"Kenapa kau tidak memberitahuku?" protes Shizuka tak terima.

"Hinata-chan meminta kami tutup mulut," jawab Naruto.

"Kau tidak mempercayaiku?"

"Kami sudah berjanji, sayang. Maafkan aku!"

Shizuka mencebikkan bibirnya merajuk.

"Ayolah!! Kau boleh memarahi mereka setelah ini." Naruto mencoba membujuk kekasihnya.

"Aku pasti akan melakukannya," Shizuka menimpali.

Hinata sendiri tersenyum manis saat mendengar Sasuke menyanyikan salah satu lagu favoritnya, terlebih lagu itu dinyanyikan khusus untuknya. Tatapan mereka saling beradu, tak ada satu pun yang berniat memutuskan pandangannya. Bahkan hingga lagu berakhir.

When I see your face

There's not a thing that I would change

'Cause you're amazing

Just the way you are

And when you smile

The whole world stops and stares for a while

'Cause girl you're amazing

Just the way you are

Sasuke mengakhiri lagunya dengan sempurna. Gemuruh tepuk tangan kembali memenuhi ruangan.

"Aku ucapkan terima kasih banyak atas dukungan kalian. Seperti kataku tadi, aku ingin memperkenalkan pada kalian semua seseorang yang begitu berharga." Sasuke mengambil jeda. Matanya kembali memandang Hinata.

"Aku mengenalnya sejak lama. Bahkan bisa dibilang kami tumbuh bersama. Meskipun kami sempat terpisah untuk beberapa waktu, namun pada akhirnya kami kembali bersama."

Ruangan besar itu kembali hening. Mereka mendengarkan Sasuke dengan seksama. Begitu penasaran akan siapa gadis yang bisa meluluhkan hati sang idola.

"Namanya adalah Hyuga Hinata. Aa, tidak! Maksudku Uchiha Hinata, karena aku telah mengubah namanya menjadi Uchiha sejak 4 tahun yang lalu dengan menikahinya."

Semua penonton terkesiap. Begitu terkejut dengan apa yang Sasuke ucapkan. Begitu pun dengan teman-temannya dan para kru yang baru mengetahuinya.

"Maaf, aku tak bermaksud menyembunyikannya. Hanya saja istriku tak suka terlalu diekspos. Lagipula, selama ini dia tidak tinggal disini dan baru kembali beberapa waktu yang lalu."

Sasuke tersenyum begitu manis. "Bisa kau naik kemari, sayang?" tanyanya pada Hinata. Kini semua orang memandang ke arahnya. Bahkan lampu sorot pun mengarah padanya.

Hinata melirik pada ayah dan kedua mertuanya.

"Pergilah! Sudah saatnya mereka mengetahuinya," ujar sang ibu mertua.

Hinata pun berdiri, melangkah dengan pasti menuju sang suami. Langkahnya begitu percaya diri, kecantikannya memancar alami sehingga banyak yang mengagumi.

Sasuke maju menyambut sang istri. Mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan wanita yang dicintainya.

"Kuharap kalian tidak penasaran lagi dengan sosoknya," ujarnya. Para penonton terkesima. Mereka terlihat begitu serasi sehingga banyak yang memuji. Namun, tak sedikit pula yang patah hati, termasuk Shion, saat melihat idolanya sudah ada yang memiliki.

"Ini adalah lagu terakhir yang kupersembahkan untuk kalian semua." Sasuke menatap Hinata. "Kau mau bernyanyi bersamaku?" tanyanya. Hinata pun menganggukkan kepalanya.

Mereka pun kemudian menyanyikan lagu yang sama saat berduet dalam acara pertunangan Ino.

Para penonton pun kembali dibuat terkejut saat mendengarkan suara Hinata. Mereka sama sekali tak menyangka jika istri idolanya memiliki suara yang tak kalah merdunya.

Saat lagu berakhir, Sasuke memeluk Hinata dan menciumnya mesra disaksikan oleh kedua orang tua mereka, teman-teman dan para penonton yang hadir dalam konsernya.

Sasuke begitu lega, akhirnya dunia tahu jika Hinata adalah miliknya, dan dia milik Hinata. Tak ada lagi yang Sasuke inginkan saat ini karena semua sudah sempurna. Tinggal menunggu tahun depan untuk melengkapi hidup mereka dengan kehadiran sang buah hati. Sesuai dengan rencana yang sudah mereka sepakati. Berharap semua akan berjalan dengan lancar dan tanpa hambatan yang berarti. Semoga.

END...

note : saya copas trs upload, diedit beberapa kali tp ttp aja kyk gini hasilnya...kaciiaau..tp mdh2n readers sekalian msh bs paham yaa..atau klo pengen lbh jls bisa kunjungi wattpad saya @zenaamaya..sy msh newbie di ffn jd blm terlalu ngerti cara makenya