You're My Son

Genre: Family, Romance, drama, lit Comedy

Rate: T

Cast: Cho Kyuhyun as Kim Kyuhyun / 15 thn

Kim Kibum as Kim Kibum (Kyuhyun's dad) / 28 thn

Ryeowook [yeoja] / 23 thn

Sungmin [yeoja] / 28 thn

Eunhyuk [yeoja] / 16 thn

Donghae / 16 thn

Siwon / 16 thn

Leeteuk as Kim Jung Soo (Kibum's dad, Kyuhyun's grandpa)

Kim Heechul (Kibum's mom, Kyuhyun's grandma)


hey Readers, ada yang masih menunggu cerita ini? Maaf ya baru bisa update, karena author benar-benar disibukkan dengan UAS, sekarang aja masih belum selesai (curcol dikit hehehe)

Dan maaf lagi, kali ini juga ga bisa balas review-nya satu-satu. karena memang ga sempat! ini aja mengambil kesempatan dalam kesempitan (curcol lagi)

Tapi aku tetap mengucapkan banyak-banyak terima kasih untuk readers yang masih menyempatkan waktu buat baca ff ini, apalagi yang masih sempat review, jeongmal gomawo ne!

Nah sekarang silahkan menikmati chap yang ke-3, kalo alur kecepetan harap maklum ya.. hehehe


Chap 3

Flash Back.

"Anak-anak!" teriak Lee Taemin memanggil anak-anak mereka..

"Ne Umma…." Sahut anak-anaknya, lalu terdengar langkah kaki yang berlari dari lantai 2.

Lee Jong Woon, putra sulung keluarga Lee telah sampai lebih dulu di ruang tamu dan langsung memeluk sang ibu yang sudah 2 minggu ini tidak ditemuinya karena harus mengurus perusahaan peninggalan ayah mereka, Lee Minho. Di belakangnya menyusul yeodongsaeng-nya, Lee Sungmin, gadis manis bergigi kelinci itu langsung menarik tubuh sang kakak hingga terhunyung ke belakang dan segera memonopoli pelukan ibunya.

"Aigo anak umma yang satu ini, masih saja."

"Aku kangen umma," sahut Sungmin, sedang kakaknya hanya bisa tersenyum maklum setelah berhasil mengembalikan keseimbangan tubuhnya.

Jong Woon, sebut saja Yesung julukan dari teman-temannya karena suaranya yang sangat indah, melirik sekilas ke arah pintu yang masih terbuka. Di situ terlihat gadis kecil, sepertinya umurnya baru menginjak sekitar 2 atau 3 tahun. Segera dihampirinya gadis kecil itu. Diperhatikannya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Anak yang imut ditambah dengan postur tubuhnya yang memang kecil (yaiyalah kan masih 2 tahun), hidung mancung, bibir agak tipis, dan pipinya yang chubby.

"Adik kecil. Namamu siapa?" tanyanya.

Si gadis kecil hanya mengerjapkan matanya beberapa kali, sedikit mundur, mungkin takut dengan Yesung yang baru dia lihat. Taemin yang melihat interaksi putranya dengan gadis kecil itu hanya tersenyum. Dirangkulnya Sungmin yang belum mau lepas dari pelukan sang umma.

"Namanya Wookie, Jong Woon-ah, Lee Ryeowook." Katanya menjawab pertanyaan Yesung sambil tersenyum penuh arti. Sedang Yesung dan Sungmin hanya saling berpandangan tak mengerti.

"Mulai sekarang dia adalah adik kalian, jadi… kalian tahu kan apa yang harus kalian dilakukan?"

Kini Lee bersaudara itu memandang Ryeowook intens. Yesung segera menghampiri Wookie kecil dan dengan mudahnya mengangkat tubuh Wookie ke dalam gendongannya. Lalau mencium pipi gadis kecil itu dan melayangkan senyum hangat kepada gadis yang beberapa detik lalu baru saja menjadi anggota baru keluarganya, membuat Wookie juga ikut tersenyum.

"Mulai sekarang panggil aku oppa, Yesung Oppa," katanya lalu melirik Sungmin yang masih diam di tempatnya,"dan gadis kelinci itu adalah Sungmin, unnie-mu, jadi panggil dia Sungmin unnie. Arraci?!"

"Umm" Wookie hanya bisa mengangguk dengan semangat sambil memperlihatkan senyuman manisnya.

Taemin langsung memeluk anak sulungnya yang masih menggendong Wookie kecil, dia sangat senang ternyata anak-anaknya bisa menerima Ryeowook, anak yang dia adopsi saat kunjungannya ke Jepang. Tanpa dia tahu kalau ada seseorang yang sedang menatap sinis adegan di depannya.

"Dasar pengganggu," Lee Sungmin, hah sepertinya dia hanya menganggap Ryeowook sebagai pengganggu daripada adiknya.

Flash Back end.

Ryeowook Pov.

Ku lihat Kyuhyun sepertinya sudah terlelap. Dia benar-benar memaksa ku untuk menemaninya bahkan sampai dia tertidur. Lihatlah wajahnya benar-benar polos kalau tertidur begini. Hah, entah sudah keberapa kalinya aku menghela nafas, tak terpikir oleh ku kenapa Sungmin unnie begitu tak suka padanya.

"Sebenarnya apa salahku sampai Sungmin noona tidak menyukaiku? Aku selalu mencoba menyanyangi orang yang dicintai appa, tapi kenapa dia menyakitiku?"

"Semalam dia bilang aku sama seperti noona apa maksudnya?"

Teringat kembali ucapan yang dilontarkan Kyuhyun tentang Sungmin unnie.

"Unnie, begitu bencinya kah kau padaku, sampai tak bisa menerima keberadaan Kyuhyun," gumam ku.

"Aku ingin noona yang jadi ibuku"

Kyu, aku juga ingin, seandainya bisa. Tak tahu kah aku begitu menyayangi kalian. Hah…

Ryeowook Pov end.

Setelah memastikan Kyuhyun benar-benar terlelap, Ryeowook segera mengambil tasnya dan beranjak dari kamar Kyuhyun. Ditutupnya pintu kamar itu dengan hati-hati, takut membangunkan anak manis didalamnya. Saat dia berbalik, ternyata sudah ada Kibum disana, bersandar pada ujung tangga lantai dua.

"Apa dia sudah tertidur?" tanyanya yang hanya dibalas dengan anggukan oleh Ryeowook.

"Kalau begitu aku pulang dulu oppa, ini sudah malam. Yesung oppa pasti sudah menungguku."

Kibum mengantarkan Ryeowook sampai ke mobilnya. Tak lupa dia mengucapkan terima kasih karena sudah berbaik hati untuk menemani Kyuhyun. Kalau tidak ada Ryeowook mungkin sekarang Kyuhyun tak akan pulang ke rumah, kebiasaannya kalau dia sedang marah dengan sang ayah dia tidak akan pulang dan lebih memilih menginap di rumah Donghae.

Setelah mobil Ryeowook keluar dari halaman rumahnya, Kibum segera masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamar putra tunggalnya. Sebenarnya ini bukan kali pertama mereka bertengkar, namun baru kali ini dia melihat kesedihan yang begitu terasa dari mata Kyuhyun. Rasanya sudah lama sekali sejak peristiwa itu, Kyuhyun tak pernah memancarkan aura suram seperti ini lagi.

Kibum Pov.

Flash back 11 years ago

Aku melangkahkan kaki meninggalkan makam nenekku, hari ini aku baru saja memenangkan Lomba debat bahasa Inggris. Dan sudah kebiasaanku jika mendapatkan atau memenangkan sesuatu pasti akan aku beritahukan kepada nenek seperti hari ini. Namun baru saja aku melewati beberapa makam, tiba-tiba terdengar suara anak kecil yang sedang menangis.

"Hiks…hiks…huuhuuu.. hiks.."

Aku menolehkan kepalaku ke kiri dan ke kanan mencoba mencari sumber suara tersebut. Dan ketemu. Aku melihat sosok anak kecil sedang meringkuk disebuah makam, dan sepertinya makam ini masih baru mungkin baru beberapa hari. Ku coba mendekati anak kecil yang sedang menangis sambil memeluk batu nisan makam itu.

"Adik kecil sedang apa disini?" tanyaku yang tidak mendapat respon apa-apa. Ku coba untuk menyentuh lengannya. Kenapa panas sekali?

"Hey adik kecil kau tidak apa-apa?"

"Eunghh… hiks hiks.." dia hanya melenguh masih dengan isakan yang sangat lemah.

Ku arahkan tanganku untuk mengangkat wajahnya. Deg, Ya Tuhan apa yang terjadi pada anak ini? Pemandangan yang ada didepanku saat ini sangat mengenaskan. Seorang anak kecil yang sedang meringkuk disebuah makam dengan wajah pucat dan keadaan yang sangat lemah ditambah lagi badannya yang sangat panas ini, dia demam. Tanpa berpikir panjang segera ku rengkuh tubuh anak ini ke dalam gendonganku.

Aku berlari menuju mobil yang ku parkirkan di depan pemakaman. Setelah meletakkan anak itu di kursi penumpang, segera ku nyalakan mesin mobil dan melesat menuju rumah sakit. Keadaan anak ini benar-benar memprihatinkan.

at Hospital

"Sepertinya adik anda mengalami depresi yang sangat berat. Apa ada masalah di rumah?" Dokter Jung, dokter yang merawat anak kecil itu, bertanya padaku dan sudah jelas aku kebingungan menjawabnya. Pertama, dia bukan siapa-siapaku. Kedua, aku tidak tahu kenapa dia bisa sampai dalam keadaan seperti ini. Dan ketiga, aku lebih tidak tahu lagi masalah apa yang sedang dihadapi anak ini.

"Aku rasa tidak ada masalah dok," jawabku pada akhirnya, aku benar-benar tidak tega untuk mengatakan bahwa dia bukan siapa-siapaku.

"Lain kali perhatikanlah keadaan adikmu. Dia masih kecil, tidak baik anak seumurnya sudah menghadapi masalah sampai kelelahan menangis begini, ditambah lagi dia terlalu banyak merasakan udara malam hari, apa dia kabur dari rumah?" tanya dokter Jung menyelidik, sedang aku hanya bisa menggelengkan kepala tidak tahu harus menjawab apa, "ini masih awal musim semi, udara masih belum bersahabat." Lanjutnya.

Setelah mengucapkan beberapa –banyak- nasehat dan menuliskan resep obat, Dokter Jung mempersilahkanku untuk keluar dan membawa anak kecil itu untuk pulang.

Kediaman Keluarga Kim

Aku masuk ke dalam kamarku dan menidurkan anak kecil ini di ranjang milikku. Ku perhatikan wajahnya, manis, tapi anak semanis ini kenapa bisa memiliki masalah sampai membuatnya depresi dan menangis semalaman –sepertinya- di makam itu?

Kurebahkan tubuhku disampingnya, masih tak bosan kuperhatikan setiap jengkal wajah anak ini. Sampai ku rasakan kantuk mulai menyerang dan tak menunggu lama kesadaranku perlahan ikut menghilang..

"Hiks hiks.." terdengar sebuah isakan di telingaku. Ku coba abaikan suara itu, aku masih mengantuk.

"Hiks a-appa.." terdengar isakan lagi, ingin mencoba mengabaikannya lagi namun ingatanku kembali pada kejadian beberapa jam yang lalu. Mengingatkan ku bahwa aku tidak sendirian di kamar ini.

Perlahan ku coba membuka mata, sedikit menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina mataku. "Hiks hiks.." masih terdengar isakan itu. Ku tolehkan kepalaku, dan yang ku lihat saat ini adalah seorang anak kecil yang tadi siang aku temukan dimakam sedang memeluk lutut dengan tangannya dan membenamkan wajahnya disana. Hatiku miris melihat sosok rapuhnya.

Aku menggeser tubuhku mendekatinya, ku elus pucuk kepalanya membuat anak itu mendongakkan kepalanya ke arah ku. Aku tersenyum lembut berusaha menenangkannya, dan sepertinya dia sadar bahwa aku ini bukan orang jahat yang berniat menyakitinya. Namun tiba-tiba..

"Ap..pa…" gumamnya lirih. Agak sedikit bingung sebenarnya, panggilan tadi untuk ku kah? Atau dia hanya sekedar menyampaikan bahwa dia butuh ayahnya?

"Ap..pa.." kali suaranya lebih jelas terdengar, tangannya mulai menggapai lenganku dan memeluknya posesif.

"Appa hiks ja..ngan tinggal.. hiks kan kyu lagi hiks.." katanya yang membuatku semakin bingung. Dia menganggapku appanya? Yang benar saja. Rasanya ingin sekali melepaskan pelukan anak ini ditanganku, dia sudah gila, pikirku. Tapi sebagian hatiku tidak mengizinkannya, ada perasaan hangat menjalar saat dia memanggilku appa.

"Kyu sayang appa, jangan tinggalkan kyu, kyu ga mau sendiri." Matanya menatapku dengan pandangan memohon. Mata yang indah itu seharusnya memancarkan keceriaan masa kanak-kanak, bukan tatapan sedih dan kesepian begini.

Hening ini tercipta begitu saja, aku masih menatap mata itu. Mata yang memohon. Bingung sebenarnya mau menjawab apa, aku tidak mungkin membuatnya yang sedang terpuruk ini semakin terpuruk kan?

"N-ne, ne appa tidak akan kemana-mana, appa akan selalu bersama kyu," kata itulah yang akhirnya aku ucapkan, entah atas dasar apa. Yang aku tahu saat itu, aku sudah benar-benar terperangkap pada sosok Kyu kecil.

Flash back off.

Aku sudah berjanji pada Kyuhyun untuk selalu bersamanya. Dan aku juga berjanji pada diriku sendiri untuk selalu membuatnya memancarkan keceriaan dari matanya. Tapi semalam, sosok rapuh itu hadir lagi. Apa aku yang terlalu keras padanya?

Ku rebahkan diriku disamping Kyuhyun, kutarik perlahan tubuhnya untuk mendekat, berusaha agar tak membangunkannya. Ku peluk tubuhnya, sepertinya Kyuhyun menyadari ada orang disampingnya, mencoba menyamankan posisinya sendiri dalam dekapanku. Sudah lama tak tidur sambil memeluknya, terakhir saat dia masih kelas 5 SD, setelahnya dia tidak mau lagi tidur sambil ku peluk.

"Kyu sudah besar appa!" begitu katanya. Dan kenyataannya dia memang sudah besar, tingginya sekarang hampir menyamai tubuhku, padahal saat aku SMA aku tak setinggi dia.

"Hooaamm" aku rasa aku mulai mengantuk. Ku nyamankan posisi tubuhku untuk tidur sambil tetap memeluk Kyuhyun dan bersiap untuk menyusulnya ke alam mimpi.

Kibum Pov. End

Pagi hari..

"Eunghh.." terdengar suara lenguhan dari bibir seorang namja yang tengah dipeluk oleh namja satunya lagi.

Aneh, pikirnya. Kenapa tidak bisa bergerak. Masih mengalami masa transisi seorang yang baru bangun tidur, sepertinya dia belum menyadari kondisi dirinya yang tengah dipeluk oleh seseorang. Dibuka matanya perlahan, dan tampaklah pemandangan seorang namja tampan, yang menurutnya merupakan sumber dari ketampanan dirinya.

"Appa" gumamnya, berkali-kali mengerjapkan matanya memastikan bahwa orang yang tengah memeluknya adalah appanya sendiri.

Seulas senyum terkembang dibibir sintalnya, baru sehari bertengkar sudah membuatnya begitu merindukan sosok ini. Dirinya jadi menyesal sendiri telah mengatakan benci pada orang tua satu-satunya ini.

"Appa" dieratkan pelukan pada appanya.

"Ehhmm…"

"Appa sudah bangun?"

"Ehhmm, ne.."

"Appa…"

"Ne wae Kyu?" Kibum mulai membuka matanya menatap manik coklat gelap milik Kyuhyun, putranya.

"A-appa…" Kibum mengerutkan dahinya, sedikit bingung kenapa dari tadi terus-terusan memanggilnya, apalagi yang terakhir ini dengan ekspresi sedih?

"Appa mian…"

"Ne?"

"Mian, aku.. a-aku.. aku tidak benci appa."

Kibum tersenyum tipis. Putranya ini memang tidak pernah mengecewakannya, sebandel-bandel dan seusilnya seorang Kyuhyun, akan selalu meminta maaf atas kesalahan yang telah dia lakukan. Seperti kali ini, walaupun Kibum tahu Kyuhyun tak bersalah 100%. Karena memang dia sendiri tidak tahu siapa yang salah sebenarnya. Dia tidak ingin membahasnya sekarang.

"Arraseo, appa juga minta maaf tak mendengarkanmu dulu, tapi…" Kibum melepaskan pelukannya dan mengubah posisinya menjadi duduk, sambil tangannya mengelus puncak kepala Kyuhyun, "ada baiknya kau juga minta sama kepada Sungmin noona, Otteo?"

Mendung yang sempat menghilang, kini mulai kembali lagi. Namun Kyuhyun tak mau egois, bagaimana pun appanya mencintai Sungmin dan baginya kebahagian Kibum juga kebahagiannya. Sudah cukup selama 15 tahun ini, Kibum hidup sendiri tanpa seorang wanita untuk menjaganya. Ibunya meninggal tepat setelah melahirkannya, jadi wajar jika sekarang Kibum membutuhkan seorang istri yang bisa mengurusnya. Dan Sungmin adalah pilihan Kibum, wanita yang juga akan menjadi ummanya.

"Seandainya, Sungmin noona itu Wookie noona," oke pikirannya mulai kacau.

Sekali lagi mencoba meyakinkan diri bahwa Sungmin adalah wanita yang baik, mungkin dia salah mengartikan perkataan Sungmin kemarin, mungkin Sungmin memang tidak bermaksud menyakitinya, mungkin memang pembawaan Sungmin yang terlihat agak angkuh, toh tidak ada yang tahu apa yang ada di dalamnya kan? Yah semoga saja.

"Ne appa, aku akan minta maaf pada Sungmin noona. Tapi… appa temani aku ya, kalau-kalau Sungmin noona tidak mau memaafkanku," jawabnya dengan tersenyum, agak tidak rela memang, tapi diyakinkannya sekali lagi. Ini demi appa, batinnya.

Di sekolah

Kyuhyun bersikeras untuk tetap berangkat sekolah sendiri. Entah kenapa dia merasa risih, jika sampai ada yang tahu siapa dirinya.

Kyuhyun melangkah menyusuri lorong sekolah yang masih sepi, kali ini langkahnya jauh lebih ringan dari kemarin, mood pemuda tampan sekaligus manis ini memang benar-benar tergantung dengan keadaan ayahnya. Saat dia berbelok setelah menaiki tangga menuju kelasnya, terlihat seorang gadis sedang bersandar di depan pintu kelas. Sepertinya itu salah satu seniornya.

"Pagi sunbae.." sapa Kyuhyun saat dia sudah ada di depan pintu kelasnya.

"Ah, pa-pagi Kyu, ehmmm…" gadis itu terlihat ragu untuk meneruskan kalimatnya.

"Eh? Ada apa sunbae?"

"…." Kyuhyun semakin heran dengan tingkah seniornya yang bisa dibilang cantik ini.

Tadi gugup sekarang malah diam, batinnya.

"Sunbaenim? Gwenchanayo?" Kyuhyun mengulurkan tangannya sedikit mengguncang tubuh seniornya yang sekarang malah menundukan kepala.

"Eh i-itu aku, aku…. Ini." tiba-tiba saja dia menyodorkan sebuah amplop berwarna biru langit, masih dengan menundukkan kepalanya, yang tentu saja membuat Kyuhyun berjengit karena kaget.

Diambilnya amplop tersebut, "Sunbae ini…."

"Aku pergi dulu, annyeong," belum sempat Kyuhyun menanyakan apapun, gadis itu sudah melesat pergi, membuat Kyuhyun hanya bisa melongo melihat tingkah seniornya.

Pukul 07.40

Kelas sudah ramai dengan kehadiran penghuninya, Donghae dan Hyukkie juga sudah hadir dari 5 menit yang lalu.

"Kyu kenapa diam saja? Masih ada masalah?" tanya Hyukkie yang melihat Kyuhyun sedari tadi menundukkan kepalanya.

Kyuhyun menggelengkan kepalanya, dan segera menunjukkan amplop biru yang sedari tadi dia pegang tanpa membukanya.

"Surat cinta eoh?" sahut Donghae asal.

"Mwo?!"

"Molla."

Kyuhyun dan Hyukkie menjawab berbarengan, kemudian saling menatap dan tertawa bersama. Entah apa yang ditertawakan.

Akhirnya Kyuhyun membuka surat tersebut dan membacanya, dengan Hyukkie dan Donghae yang masih setia disampingnya tentu saja.

Kyuhyun-ah annyeong..

Mungkin kau belum tahu siapa diriku

Atau mungkin kau tak ingin tahu?

Ah, bicara apa aku ini..

Kyu-ah, nan.. saranghaeyo..

Aku tidak tahu harus bicara apa dan bagaimana

Karena sejujurnya aku bukanlah orang yang pandai bicara, aku hanya menuruti kata hatiku.

Kau pasti bilang aku aneh, tiba-tiba muncul dan bilang bahwa aku mencintaimu.

Tapi memang itu yang aku rasakan saat pertama kali melihatmu di sekolah ini, jika kau tanya apa alasannya aku juga tidak tahu.

Ah mianhe jika ini semua mengejutkanmu, aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku, dan jika ada yang ingin kau sampaikan, kau bisa temui aku kapan pun kau mau.

-Song Qian-

"Aww uri kyunnie ternyata punya pengagum rahasia,"

"Iya magnae kita sudah besar ternyata."

Donghae dan Hyukkie langsung sibuk menggoda Kyuhyun setelah mereka bertiga selesai membaca surat cinta untuk Kyuhyun dari senior mereka yang ternyata bernama Victoria. Sedang Kyuhyun hanya bisa melongo tak percaya, ada orang yang menyukainya begitu saja, tanpa alasan khusus. Membuatnya sidikit penasaran, sebenarnya seperti apa sosok Song Qian itu.

Kriiiingg…

Sayang, kegiatan menggoda dan melamun yang dikerjakan 3 sekawan itu harus ditunda dulu, karena bel tanda masuk sudah berbunyi.

Pulang sekolah

Drrtt drttt…

Ponsel Kyuhyun bergetar dikantong celana, menandakan ada pesan yang masuk.

"Minggu ini kita pergi piknik bagaimana? Hanya appa, Kyu, dan Sungmin noona. Kita tidak pernah pergi bertiga kan? Kau juga ingin minta maaf pada sungmin noona kan?"

Kyuhyun menghela napasnya, dia senang tentu saja. Sejak Kibum kembali dari persembunyiaannya diluar negeri selama 3 tahun, mereka belum pernah menghabiskan waktu bersama, kecuali saat main di games center selebihnya tidak pernah. Tapi, kenapa harus dengan Sungmin noona, batinnya.

Ditepisnya pikiran negative tentang Sungmin, merapal kalimat "ini demi appa" berkali-kali seperti mantra. Berharap semua akan baik-baik saja, begitupun hubungannya dengan Sungmin.

"Ne appa aku mau"

Setelah mengetik kalimat tersebut, segera ditekannya tombol "send".

Kyuhyun sedang berjalan menuju pintu gerbang bersama kedua sahabatnya, Donghae dan Siwon, Hyukkie tidak bisa pulang bersama karena ada keperluan di club yang dia ikuti. Mereka saling bercanda, tertawa dan membahas apa saja yang kira-kira enak untuk diperbincangkan. Sedang asyik mengobrol tiba-tiba Kyuhyun melihat sosok orang yang tadi pagi menemuinya. Setelah pamit dengan kedua orang yang bersamanya, dia segera melesat menuju sosok itu, Song Qian.

"Qian Sunbae!" teriaknya membuat beberapa orang mengalihkan perhatian mereka.

Song Qian menghentikan langkahnya saat merasa ada seseorang yang memanggil –meneriakinya. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat orang itu ada Kyuhyun. Orang yang dia sukai.

"Hah hah hah… bisa kita bicara?" tanpa menunggu persetujuan, Kyuhyun langsung menarik tangan Qian mengajaknya entah kemana.

Di halte bus.

Kyuhyun dan Qian masih diam sejak beberapa menit yang lalu saat mereka sampai di halte bus dekat sekolah. Belum ada yang memulai perbincangan di antara keduanya.

"Noona, ehmm boleh kan aku memanggilmu noona?" Kyuhyun mencoba untuk mulai bicara.

"N-ne.." sahut Qian dengan gugup ditambah detak jantungnya yang tidak bisa diajak bekerjasama saat ini.

"Gomawo sudah menyukaiku, tapi saat ini aku belum bisa menyukaimu," Qian hanya menundukkan kepalanya mendengar kalimat yang dikeluarkan Kyuhyun, "jadi tugas noona adalah membuatku menyukai noona, bagaimana?" Qian langsung medongakan kepalanya, apa dia boleh berharap?

"Maksud mu?"

"Aku mau belajar menyukai noona, tapi noona juga harus membantu ku."

Qian rasanya ingin sekali berteriak senang mendengar hal tersebut, apalagi disuguhi senyuman hangat dari Kyuhyun. Dia tak menyangka kalau Kyuhyun akan menanggapi perasaannya seperti ini, membayangkannya saja tidak.

"Jadi sekarang kita berteman dulu ne?" kata Kyuhyun sambil mengangsurkan tangannya didepan Qian.

Qian terdiam sejenak, seperti ada yang ingin diucapkannya, namun dia agak sedikit ragu.

"Noona waeyo?"

"Ehhmm i-itu, ehmm boleh aku…. Boleh aku memelukmu?" tanyanya dengan penuh keraguan dan menundukkan kepalanya.

Kyuhyun hanya tersenyum melihat kelakuan gadis di hadapannya ini. Sikap malu-malunya benar-benar terlihat manis di mata Kyuhyun. Dan tanpa mengucapkan apa-apa lagi, Kyuhyun langsung menarik Qian ke dalam pelukannya.

Di seberang jalan..

Terlihat seorang namja tampan melihat adegan sepasang anak muridnya yang sedang berpelukan. Seulas senyum bahagia terpampang di wajahnya.

"Kau sudah besar Kyu, appa senang melihatnya," gumam Kibum, namja tersebut, sambil terus menyaksikan interaksi putranya dengan salah satu murid di sekolah tempatnya mengajar.

TBC.


Apakah kisah Kyuhyun dan Song Qian berjalan lancar? Bagaimana kegiatan piknikny dengan sang ayah dan sungmin noona ya?

tunggu chap selanjutnya!