Ingatan

.

Main cast : Taehyung

Pair : Vmin

Happy reading

Love and peace :3

.

.

.

TAEHYUNG P.O.V

Aku melihatnya terbaring dengan begitu lemah. Berbagai macam alat bantu yang akan membuat dia tetap bertahan dengan keadaan koma membuat hatiku meringis kecil. Tangan kiriku meremas jas putih yang aku kenakan secara perlahan. Perlahan aku melihat tangan kananku dan tersenyum kecil.

Berterima kasih dengan kedua tangan dingin ini… aku bisa menyelamatkan Jimin dari kecelakaan mobil yang mengerikan. Walaupun saat operasi tadi tanganku bergetar hebat dan pikiranku tidak fokus, tapi aku bisa membuat Jimin melewati masa kritis.

Aku bahagia… bisa menunda kematian orang yang kucintai. Aku bahagia…

Sedikit terkejut dan spontan memegang tangan Jimin saat melihat kedua mata yang indah itu bergerak. Pelan tapi pasti, mata itu terbuka… menampakkan dua bola mata berwarna coklat. Kedua mata yang sangat kucintai.

"Jimin?" tanyaku pelan sambil tersenyum kecil. Tanganku terulur untuk mengelus pelan rambut Jimin.

Jimin melihatku dengan tatapan sendu. Dengan cepat aku melakukan pengecekan pertama sambil tersenyum senang. "Akhirnya kau sadar Jimin… aku bahagia…" gumamku kecil saat sudah selesai melakukan pengecekan. Dan merasa aman, karena tidak ada yang salah dari Jimin.

"Siapa?" tanya Jimin pelan. Membuat aku terdiam menatapnya.

"Jimin? Ini aku Taehyung… Kim Taehyung…" kataku dengan pelan. Tapi dia menatapku sambil mengkerutkan dahinya bingung.

"Jimin? Kau berbicara denganku?"

Tubuhku langsung membeku, tidak jarang aku mendapat pasien seperti ini. Dan untuk pertama kalinya mendapat pasien yang mengalami kerusakan otak adalah orang yang paling kusayangi sendiri membuat aku langsung merasakan lemas di kedua kakiku.

Berusaha untuk bersikap professional, aku mencoba menetralisirkan rasa gemetar yang sudah kurasakan di sekujur tubuh. Aku adalah dokter, aku harus tau apa yang aku lakukan jika mendapat pasien seperti ini.

"Ka—kau… namamu Park Jimin." Kataku sedikit terbata-bata dan melihat dirinya yang sekarang menatapku dengan tatapan kosong.

"Jika begitu… kenapa aku berada di sini?" tanyanya dengan wajah bingung. Aku meneguk ludah dengan sangat susah. Tanganku yang sedikit begetar sengaja aku kepalkan dengan kuat.

"Jimin… kita harus melakukan pengecekan lebih lanjut." Kataku dengan suara tegas dan nada sedikit tertahan.

.

.

.

Hasilnya, Fugue Amnesia. Dimana si penderita mengalami kehilangan ingatan yang sangat parah akibat trauma mendalam. Jimin tidak bisa mengingat siapa dirinya dan masa lalunya. Kemungkinan terbesar bersifat permanent atau tidak bisa disembuhkan.

Tapi… kau trauma karena apa?

Tidak mungkin kecelakaan kecil dan terantuknya kepala dapat menyebabkan dia mengalami trauma mendalam. Tidak mungkin…

Aku melihat Jimin yang sedang memakan nasinya secara perlahan. Satu pertanyaan terus memutar di kepalaku. Trauma kenapa? Dia trauma karena apa? Jarang sekali seseorang yang kecelakaan mobil terkena penyakit ini. Kasus pada umumnya, sang korban hanya terkena amnesia biasa yang tidak bersifat permanent. Dan hanya melupakan beberapa memori saja, tidak seluruhnya.

Aku menghela napas kecil, bagaimanapun juga aku harus menceritakan sedikit kisahnya kepada Jimin. Bagaimanapun juga, dia harus tau dirinya yang dulu… walaupun dia tidak mengingatnya.

"Park Jimin. Orang tuamu sudah meninggal dunia waktu kau masih kecil. Kau di asuh bibimu dan memutuskan untuk tidak merepotkan bibimu lagi. Kau pergi ke Seoul dan tinggal di sini sambil bekerja sebagai pelayan café. Kau bertemu denganku dan Jungkook yang seorang reporter beberapa tahun lalu."

"Siapa Jungkook?" tanya Jimin dengan cepat. Membuat aku merasakan rasa bersalah yang sangat besar.

"Kau—kau… pergi dengan Jungkook untuk makan malam bersama. Aku tidak bisa ikut dengan kalian karena aku ada urusan di rumah." Jelasku dengan sedikit berat. Mataku mulai sedikit mengabur, entah kenapa sekarang… aku membenci tanganku sendiri…

"Dimana Jungkook?" tanyamu dan seakan menusuk hatiku yang paling dalam. Tanpa sengaja air mata menetes di kedua mataku.

"Maaf… aku tidak bisa menyelamatkan dirinya Jimin… maaf… maaf… dia… terlambat untuk diselamatkan. Saat mencapai rumah sakit, hanya kau yang selamat. Waktu itu, aku sangat terburu-buru ke rumah sakit saat mendengar ada pasien yang sekarat. Aku tidak tau kalau pasien itu adalah kau Jimin… dan aku tidak tau… kalau di sana ada sahabatku sendiri yang sudah mati... maaf…"

Tiba-tiba sebuah tangan menepuk pelan kepalaku, membuat aku melihat Jimin yang sedang tersenyum kecil. "Tidak apa, bukan salahmu… terima kasih sudah menyelamatkanku dokter…" kata Jimin yang membuat hatiku menghangat.

"Kalau boleh tau, apa kau sahabatku juga?" tanya Jimin dengan muka bingung. Membuat aku hanya bisa tersenyum kecil dan menatapnya dengan penuh sayang.

"Bukan, kau kekasihku." Kataku pelan. Membuat wajah manisnya menimbulkan warna merah yang membuatku gemas.

"Benarkah? Aku mempunyai kekasih yang sangat tampan?" tanya Jimin sekali lagi dan hanya aku jawab anggukan kepala. "Apa kita saling mencintai?" Jimin bertanya dengan pelan. Tapi mampu membuat aku merasakan sakit di hati.

"Iya… kita saling mencintai." Balasku sambil tersenyum pelan.

Bohong.

Suara hati kecilku membuat aku menutup mata sebentar.

"Hei ada apa?" tanya Jimin yang membuatku melihatnya dan aku hanya tersenyum kecil sambil menggeleng kecil. "Apa aku mencintaimu?" tanyanya sekali lagi dan hanya aku jawab dengan anggukan kepala.

"Kau sangat mencintaiku Jimin."

Bohong, dia tidak pernah mencintaimu Taehyung.

"Benarkah? Apa kau mencintaiku?"

"Aku mencintaimu… sangat mencintaimu…"

Seperti Jungkook mencintai Jimin? Begitu maksudmu, Taehyung?

Kali ini suara hatiku sudah mengejek diriku sendiri. Membuat aku hanya bisa mengepalkan kedua tangan dan merasa kesal dengan diri sendiri.

"Apa kita pasangan yang bahagia?"

"Iya… kita adalah pasangan yang paling bahagia."

Kau bohong sekali lagi Taehyung… Jimin dan Jungkook lah pasangan yang bahagia.

"Apa kau menangis hebat saat melihat aku dengan Jungkook kecelakaan?"

"Iya, aku menangis. Sangat kuat! Saat mendengar kalian kecelakaan. Tapi, aku harus tegar untuk melakukan operasi untukmu Jimin… walau waktu itu aku sangat shock mendengar Jungkook yang tidak selamat."

Bohong lagi… kau tidak shock. Kau bahagia.

"Benarkah? Berarti kau telah mengalami hal yang berat Tae… dan… entah mengapa, aku merasa kau tidak berbohong. Kurasa kau benar-benar mencintaiku." Kata Jimin dengan wajah malu-malu. Membuat aku bergerak untuk mencium pipinya pelan dan tersenyum kecil.

Kau bahagia Tae… kau bahagia melihat Jungkook mati…

Suara hati kecilku membuat aku terdiam terpaku. Sedangkan Jimin hanya melanjutkan makanannya sambil tersenyum kecil.

Dengan begitu, kau bisa melanjutkan misi kecil ini bukan?

Tanya hati kecilku sekali lagi. Membuat sebuah senyum terukir di mulutku.

"Jangan menyalahkan dirimu lagi soal Jungkook, Taehyung… kurasa memang sudah waktunya dia meninggalkan dunia…" kata Jimin sambil mengelus pelan pundakku. Membuat aku menicum jidatnya dan mengucapkan terima kasih karena sudah berusaha menghiburku.

Tidak Jimin-ah…

"Terima kasih… kau benar-benar kekasih yang sangat baik. Aku mencintaimu jimin-ah…"

Kau seharusnya menyalahkanku soal Jungkook…

"Kurasa… aku juga mencintaimu Taehyungie…"

Karena aku…

Yang membunuh Jungkook…

.

.

.

AUTHOR P.O.V

36 jam sebelum Jimin sadar.

"Too—long!" teriak Jimin dengan susah payah. Setelah mengalami kecelakaan mobil yang begitu parah membuat kepalanya berkunang-kunang dan dia juga merasakan sakit yang menyerang seluruh tubuhnya. Kepalanya terus mengeluarkan darah dan kaki sebelah kiri tidak bisa digerakkan. Dia melihat Jungkook yang bergumam kecil dan memegang kepalanya pelan.

"Maaf Jimin… kurasa rem nya putus." Kata Jungkook dengan pelan. Membuat Jimin menggelengkan kepala kuat.

"Tidak apa, kita masih selamat! Taehyung pasti bisa menyembuhkan kita…" Jimin berkata seperti itu dengan tubuh yang bergetar hebat.

Mobil mereka sudah terbalik, membuat Jimin dengan susah payah harus melepaskan seat belt dan membuka pintu. Tapi, bagaikan sebuah cahaya… seseorang dengan pakaian serba hitam mendatangi mereka sambil membawa tongkat baseball.

Jimin tersenyum kecil saat melihat adanya pertolongan. Jimin berpikir, orang itu akan memecahkan kaca mobil lalu menarik mereka berdua keluar. Ternyata, Tuhan masih memberikan mereka kesempatan untuk hidup.

BRAK

BRAK

BRAK

Suara kaca yang dipecahkan dengan kuat berhenti saat kaca di hadapan mereka pecah. Tangan orang tersebut yang tertutupi sarung tangan hitam menarik tubuh lemah Jungkook keluar. Jimin sudah tersenyum senang dan menunggu dengan sabar supaya dirinya juga di bantu keluar. Sebelum akhirnya matanya melebar saat kepala Jungkook yang dipukul dengan tongkat baseball berkali-kali.

Membuat kepala Jungkook hancur dan teriakan Jungkook yang terdengar sangat jelas di telinga Jimin. Dan sebuah suara yang sangat Jimin kenali.

"Kau mati… aku yang mendapatkannya."

Suara yang membuat Jimin mengalami detak jantung meningkat drastis. Kepala beputar-putar dan merasa mual seketika. Sebelum akhirnya pandangannya memudar dan mengalami pingsan karena terlalu shock.

Jimin mengalami trauma…

Satu hal yang dilewatkan Taehyung…

Dan satu hal yang dilupakan Jimin…

Bahwa, Jimin melihatnya...

Dan…

Melupakannya…

.

.

.

END

Actually, not a happy ending and not a sad ending~~~

BUT, it's VMIN! Yeah…

Okay, pertama terimakasih dengan pengertian kalian semua soal hiatusnya a mask… aku bahagia… wkwkwkwk.

Jujur saja, kalau kalian mau tau… ada satu buku yang berisi kasus-kasus a mask. Mulai dari kasus kang doo yoon, kasus kecil yang kedua, hingga kasus utama yaitu pembunuhan kanibal.

Dan itu aku buat satu harian penuh (iyap, aku buat saat pelajaran sekolah sedang membosankan), baru siap setengah saja. Ternyata banyak sekali bagian penting yang aku lewatkan. Hehehe, author ceroboh sih…

BTW! Kagak bisa balas review nih… lagi di warnet ditemani sama cemilan dan coca cola. Intinya aku terjebak hujan… dan berhenti sebentar di salah satu warnet terdekat untuk ngelanjutin cerita ini dan nge-post cerita ini doang sih…

Tapi itu tinggal 5 menit lagi waktunya XD

Segini aja deh~~~

Next chap bakal ada balas-balas cinta (review maksudnya)

Love and peace :3