Disclaimer : demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura
Warning : OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan, tidak di ijinkan untuk mengcopy fic ini tanpa ijin dari author.
Catatan : cerita ini hanya fiksi belaka yang di karang-karang author, tidak bermaksud menyinggung apapun, sedikit menggabungkan iblis dan miko, tidak ada unsur buruk apapun dalam membuat cerita ini, hanya sekedar cerita bergender supernatural-humor, berharap ini akan lucu, jika tidak lucu maka author kembali gagal membuat cerita humor.
.
.
!Don't Like Don't Read !
.
~ Gadis Kuil Dan Para Pengikutnya ~
.
Chapter 2
[ Pengendalian Diri ]
.
.
Sakura merasa jauh lebih tertolong saat ada Kiba dan Sai, meskipun mereka berdua jarang untuk akur. Kali ini Sakura hanya akan melenyapkan para hantu jahat itu, Kiba yang akan melawan dan menangkap mereka, tapi semua itu hanya bertahan sebentar saja. Berikutnya.
"Jangan menghalangiku!" Teriak Kiba saat Sai yang akan melawan hantu jahat yang tengah mereka kejar, sosok hantu itu seperti seekor anjing dengan ukuran yang sangat besar, tubuhnya di penuhi bayangan hitam dan sorot mata yang bersinar, bukannya melawan hantu itu, Sai dan Kiba malah berkelahi.
"Kau yang menghalangiku." Ucap Sai,
Naruto tertawa terbahak-bahak melihat mereka, Sasuke hanya mengamati, sekali lagi Sakura yang akan turun tangan, berharap semuanya baik-baik saja selama ada Kiba dan Sai tapi kata akur sangat akan sulit mereka miliki.
Huff...~ pada akhirnya mereka tidak bisa aku harapkan dan juga aku tidak sadar jika sampai sebanyak itu, serigala, rubah, anjing, dan kucing, ini terlalu berlebihan, apa sekarang aku bisa tanya pada nenek? Apa dia tidak akan marah padaku? Aku semakin bimbang dengan hal ini, di satu sisi mereka semua sangat membantu, di sisi lain, aku sebagai Miko yang sangat-sangat boros untuk memanggil iblis pembantu.
Selain menjadi iblis pembantu, mereka benar-benar menjadi pembantu di kuil, Kiba yang akan membersihkan seluruh halaman dan di dalam bangunan rumah dan bangunan kuil, Naruto akan mencuci apapun, dari piring kotor hingga baju kotor, Sai kucing yang sedikit pemalas, tapi jika Sakura ada keperluan, dia langsung bergerak, Sasuke, Sakura tidak bisa berharap banyak pada serigala itu, dia selalu terlihat santai sendirian tanpa di bebani sebuah pekerjaan di kuil.
Sampai detik ini Sakura belum mengatakan pada neneknya, dia harus membatalkan kontraknya dengan Sasuke dan mungkin Naruto akan termasuk dalam pembatalan itu, Sakura cukup memiliki Kiba dan Sai, mereka jauh lebih berguna, yaa dia juga harus tetap waspada pada Sai yang entah kenapa iblis kucing itu sangat agresif padanya.
Apa tidak apa-apa aku batalkan saja? Sasuke, wajib, Naruto, aku masih menimbang-nimbangnya, Kiba, tentu saja, dia yang paling berguna, Sai, dia memang berguna juga, tapi tidak bisa jaga tingkah laku, mungkin hanya Kiba saja yang akan ku pertahankan, untuk sementara, biarkan saja mereka dulu.
"Ada apa Sakura?" Ucap Ino, saat ini mereka berdua tengah berjalan di koridor, menuju lab. Tenten dan Temari akan menyusul.
"Tidak, hanya saja aku harus mengurus kucing dan anjing juga." Ucap Sakura.
"He? Kau menambah peliharaan lagi?" Ucap Ino.
"Ya, mereka yang datang ke kuil, aku jadi tidak tega untuk membiarkan mereka." Bohong Sakura.
"Hoo, apa boleh kami melihat mereka?" Ucap Ino, berencana melihat peliharaan Sakura, Ino cukup penasaran.
"Me-melihat mereka?" Ucap Sakura, cukup terkejut dengan ucapan Ino.
"Tentu, hanya ingin melihat peliharaanmu itu, aku penasaran dengan serigala peliharaanmu." Ucap Ino.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Ucap Temari, Tenten dan Temari sudah menyusul mereka.
"Kita akan berkunjung ke rumah Sakura, lagi pula aku tidak pernah ke rumah Sakura, kalau kuil, kita pernah berkunjung, bagaimana?" Ucap Ino.
"Ide yang bagus, bagaimana kalau sekalian kita membuat makan siang di rumah Sakura." Ucap Tenten.
"Setuju, lagi pula seperti yang kau katakan, saat ini kau tinggal sendirian kan Sakura." Ucap Temari.
"Uhm... baiklah, kalian boleh datang berkunjung, bagaimana kalau minggu depan saja." Ucap Sakura, dia butuh persiapan sebelum teman-temannya datang.
Ino, Temari, dan Tenten merespon baik ucapan Sakura, mereka akan datang berkunjung.
.
.
Apa yang harus aku lakukan? Mereka adalah makhluk yang cukup berbahaya. Kenapa harus ada ide berkunjung? Untuk saat ini aku harus bisa menjinakkan mereka dulu.
Melirik ke arah Sasuke, Naruto, Kiba, dan Sai. Mereka menikmati makan malam mereka dengan tenang, beberapa minggu sebelumnya, Sakura di buat pusing oleh mereka yang tidak bisa akur, selalu saja ada yang memicuh pertengkaran, Sakura belum mampu mendisplinkan mereka dan tidak tahu cara agar membuat mereka benar-benar patuh padanya.
"Ingat, kalian tidak boleh berwujud manusia dan tidak ada yang membantah, teman-temanku bisa curiga jika kalian tidak terlihat seperti hewan normal, mengerti!" Ucap Sakura, dia harus lebih tegas agar para iblis hewan ini mau memahaminya.
"Baik tuan." Semua menjawab kecuali Sasuke.
"Tunggu, kecuali Naruto, kau harus di sembunyikan." Ucap Sakura.
"Ke-kenapa cuma aku?" Ucap Naruto, dia juga ingin bertemu teman-teman tuannya.
"Makhluk rubah berekor 9 cuma ada di cerita rakyat jaman dulu, jika mereka melihatmu, mereka akan segera lapor polisi atau pun perlindungan hewan langka. Kau akan menjadi objek penelitian oleh orang-orang yang kejam, aku tidak jamin kau akan selamat." Sakura sengaja membuat Naruto takut.
"Ba-baik, tuan." Ucap Naruto. raut wajahnya terlihat takut, menanggapi ucapan Sakura dengan serius.
Oh, aku baru sadar, mereka terus-terusan memanggilku dengan sebutan 'tuan' ya memang aku tuan mereka, hanya saja jadi terkesan seperti pria tua, ini cukup mengganggu.
"Mulai detik ini berhenti memanggilku dengan sebutan 'tuan', panggil namaku, Sakura." Ucap Sakura, dia tidak ingin di panggil 'tuan' lagi.
"Kenapa tiba-tiba tuan?" Ucap Naruto.
"Kau adalah tuan kami dan tentu saja sebutan 'tuan' itu sebagai tanda kami menghormatimu sebagai majikan kami." Ucap Kiba.
"Kalau aku lebih suka memanggilmu dengan sebutan 'sayang'." Ucap Sai, tangan nakalnya bergerak akan memegang tangan Sakura, aksinya terhenti, Sasuke yang selalu berada di samping Sakura menarik gadis itu menjauh dan menggeram marah di depan Sai.
"Kucing sialan! Jaga sikapmu!" Ucap Kiba, dia bisa melihat tingkah Sai yang selalu menggoda majikan mereka.
"Kalian jangan bertengkar lagi." Ucap Naruto, setiap hari selalu bertengkar.
"Sudah! Sudah!" Ucap Sakura, mereka masih susah untuk akur.
Yang benar saja, kalian bahkan sangat merepotkan dan sangat membangkang, aku sampai malas untuk meladeni kalian semua, terutama si tuan serigala menyebalkan ini, sampai detik ini pun dia tidak banyak bicara dan terus diam, tidak ingin di atur dan perintah, lalu untuk apa dia berada di dunia manusia jika tidak membantuku, sia-sia aku memanggilnya, Naruto, meskipun ceroboh, dia rajin bersih-bersih, hanya Kiba dan Sai yang bisa aku andalkan. Haaa..~ aku butuh saran nenek agar bisa mengendalikan mereka semua.
Sakura menggerakan tubuhnya perlahan, melepaskan Sasuke yang menariknya tadi, gadis ini tidak akan pilih kasih pada siapapun. Makan malam berakhir, Sakura harus segera tidur, memandangi sejenak telpon rumah, Sakura ingin menghubungi neneknya, namun rasa takut itu masih menghantuinya, nenek Chiyo terlihat sangat menakutkan jika sedang marah.
Ada beberapa kamar di rumah ini, Naruto akan tidur satu kamar dengan Kiba, kucing dan anjing tidak akan di satu kamar, Sai akan tidur sekamar dengan Sasuke, pemuda bermata onyx ini akan menjaga Sai jika dia macam-macam beranjak masuk ke kamar Sakura di saat semua sudah tertidur.
.
.
ooooo
.
.
Keesokan harinya, bergegas pulang setelah kegiatan sekolah berakhir, Sakura sudah siap untuk menceritakan pada neneknya, teman-temannya akan datang minggu depannya dan Sakura sudah harus bisa mengendalikan mereka semua.
"Sialan kau!" Teriak Kiba, Sai tidak ada kerjaan dan malah mengganggu Kiba yang tengah bersih-bersih. Kiba berlarian sepanjang area kuil, mengejar Sai yang santai berlari, lebih mudah menjadi wujud aslinya, seekor anjing berlari dan tidak sengaja melawati jemuran Naruto dan semua jatuh ke tanah, kotor.
"Kiba!" Teriak Naruto. usahanya mencuci hari ini sia-sia. Suasana kembali ribut. Sasuke bersantai menikmati tehnya di ruang tengah, Sakura hanya menghela napas melihat tingkah mereka, melirik ke arah Sasuke, dia jauh lebih tenang.
Lagi-lagi, sebenarnya umur mereka berapa? Apa tampang mereka saja yang dewasa tapi watak mereka masih anak kecil, melerai pun besok lagi akan ada saja masalah.
Sakura mengabaikan mereka, menghubungi nomer neneknya, dia tidak bisa berdiam diri jika tidak mampu mengendalikan mereka.
"Ha-halo, nek." Ucap Sakura, sedikit gugup.
"Ada apa Sakura?" Ucap nenek Chiyo.
"Ada yang ingin aku bicarakan, apa nenek bisa datang ke kuil?" Ucap Sakura.
"Apa ada masalah?"
"Sedikit."
"Aku akan datang segera, tunggu lah." Ucap nenek Chiyo. Setelah menutup telpon, nenek Chiyo bergegas pergi menaiki taksi akan jauh lebih cepat. Merasakan jika ada yang tidak beres di kuil, nada suara Sakura terdengar aneh. Sebuah taksi berhenti, nenek Chiyo segera naik dan meminta taksi itu untuk ngebut ke kuil Konoha.
"Pasang sabuk pengamanmu nek, mobil ini akan terbang, hehehe." Canda supir taksi itu, sesuai permintaan nenek itu, supir ini membawa taksinya dengan kecepatan yang tidak main-main, ngebut di jalanan.
Sementara itu di kuil.
Ribut-ribut biasa, sekarang menjadi adu serang, Sakura menatap ke arah halaman dan melihat Kiba, Naruto, Sai tengah berkelahi.
"Jangan sampai tetangga melihat kalian!" Teriak Sakura. Mereka tidak boleh terlihat mencolok. "Apa kau tidak bisa membuat mereka tenang?" Ucap Sakura pada Sasuke yang tidak pusing dengan apapun di sekitarnya.
"Mereka tidak akan berhenti." Ucap Sasuke.
"Makanya aku memintamu untuk menghentikan mereka." Ucap Sakura, sedikit kesal dengan sikap Sasuke.
"Tidak ada gunanya, mereka tidak akan mendengarkanku. Kau yang harus bisa membuat mereka berhenti." Ucap Sasuke.
"Jika bisa aku akan melakukannya sekarang juga!" Ucap Sakura.
Beberapa ranting pohon berjatuhan, halaman yang tadinya sudah di bersihkan Kiba menjadi kotor kembali, beberapa patung-patung kecil yang tertata di taman tidak luput terkena kegiatan berkelahi mereka. Sakura menepuk jidat dan tidak tahu harus berbuat apa. kuil akan semakin kacau jika mereka tidak berhenti.
"Kekkai!"
Seketika Naruto, Kiba dan Sai membeku di tempat, tidak ada yang bisa bergerak atau pun saling menyerang, tatapan Sakura cukup terkejut, Sasuke sendiri merasa sedikit takut dengan seseorang yang datang dan langsung melewati halaman.
"Apa-apaan ini Sakura!" Ucap nenek Chiyo, wajahnya terlihat marah.
kemudian...
Di ruangan tengah, Sakura duduk bersimpuh, di belakangnya, Kiba, Naruto, Sai, Sasuke. Nenek Chiyo duduk bersilah di dekat meja, menepuk keras meja itu dan membuat mereka tersentak kaget.
"Jelaskan semua yang sudah terjadi?" Ucap nenek Chiyo.
Sakura terlihat sangat takut, menceritakan semua yag sudah di lakukannya, nenek Chiyo juga terlihat sangat marah, para iblis itu pun tidak berani berbicara, mereka sudah sangat takut di buat membeku tadi.
"Ah, seharusnya kau mengatakannya dulu padaku, Sakura, kau tahu, memanggil iblis pembantu itu tidak bisa semau yang kau inginkan." Ucap nenek Chiyo, suaranya mulai terdengar lebih santai.
"Maaf, aku hanya kesulitan, nek." Ucap Sakura, menundukkan wajahnya.
"Aku tahu, kau kesulitan untuk berkelahi, seorang miko akan sangat jarang memiliki kemampuan seperti itu." Ucap nenek Chiyo.
"Aku hanya butuh sedikit bantuan dan berakhir seperti ini." Ucap Sakura, wajahnya masih menunduk, dia benar-benar merasa bersalah dan sangat cereboh untuk menjadi seorang miko.
"Lagi pula, kenapa mereka tidak patuh padamu! Kalian pikir siapa kalian! Hewan peliharaannya harus patuh pada majikan!" Nenek Chiyo meledak-meledak ke arah para iblis pemanggil itu, mereka mundur menjauh ke arah tembok dan berwajah cukup takut. Meskipun cuma seorang nenek-nenek, para iblis pemanggil ini bisa merasa aura yang berbeda dari nenek Chiyo. Semua bersujud untuk meminta maaf di hadapan nenek Chiyo, Sasuke yang tetap keras kepala masih terlihat duduk, satu tangan Naruto memegang kepala Sasuke dan berusaha membuat pria angkuh itu ikut bersujud. "Bertengkar seenaknya di area kuil, jika kalian terlihat oleh para warga, Sakura yang akan mendapat masalah, seharus kalian sudah tahu apa yang telah terjadi pada jaman ini, ini bukan jaman kuno yang dimana kehadiran kalian di anggap sah-sah saja, di jaman ini, kalian akan di anggap aneh dan sesuatu yang tidak bisa di terima di publik. Haa.. ya ampun, Sakura, baru saja aku meninggalkanmu sebentar dan kau sudah berbuat seperti ini." Ucap nenek Chiyo.
"Maaf." Hanya itu yang bisa di ucapkan Sakura.
Menghela napas, nenek Chiyo cukup lelah, datang dan hanya memarahi Sakura beserta hewan pemanggilnya. Menatap ke arah mereka, menyuruh mereka untuk bangun. Nenek Chiyo mengamati satu persatu.
"Serigala, rubah, anjing, dan kucing. Ini terlalu banyak, para miko kadang hanya memiliki satu atau dua hewan pemanggil." Ucap nenek Chiyo.
"Aku sudah menceritakan semuanya nek, jadi apa yang harus aku lakukan?" Ucap Sakura. Sekarang semua tergantung pada neneknya, Sakura masih butuh banyak belajar lagi sebagai miko dari neneknya.
"Musnahkan dua dari mereka." Ucap nenek Chiyo, tatapan yang terlihat tenang dan tegas.
Para iblis itu sangat terkejut, mereka akan di musnahkan secara paksa dari dunia ini, hanya dua dari mereka yang akan tinggal, Sakura menatap ke arah mereka, memikirkan jika dua dari mereka harus tinggal dan dua lagi harus di musnahkan, pikirannya menjadi bimbang, ada rasa di mana gadis ini tidak ingin dua dari mereka menghilang, seakan-akan mereka sudah melengkapi kehidupan Sakura selama di summon ke dunia ini.
"Kalian harus berusaha keras untuk tetap tinggal di dunia ini." Ucap nenek Chiyo, beranjak dari ruang tengah. "Sakura, kenakan pakaian mikomu dan nenek akan menunggumu di ruang latihan." Tambah nenek Chiyo.
"Baik." Ucap Sakura dan sudah menghilang dari ruang tengah.
Para iblis itu akhirnya bernapas lega. Nenek Chiyo sudah pergi dan mereka bisa duduk santai.
"Nenek tua itu sungguh menakutkan, sekarang bagaimana nasib kita?" Ucap Naruto, merosotkan dirinya dan berbaring di lantai, seakan napasnya tercekik saat nenek Chiyo menatap mereka.
"Tenanglah, kita harus membujuk tuan kita agar tidak ada yang di musnahkan." Ucap Kiba.
"Seharusnya kau yang lebih tenang Kiba, kita tidak akan di musnahkan, hanya rubah dan serigala ini yang akan pergi." Ucap Sai dan tersenyum miring.
"Berisik! Seharusnya yang di musnahkan itu hanya kau!" Ucap Kiba, awal pertengkaran mereka selalu dari ulah Sai, Kiba berharap hanya Sai yang menghilang. Sasuke orang yang selalu tenang dan Naruto yang paling rajin tidak ada alasan mereka harus di hilangkan.
"Majikan kita sejak awal sudah punya rencana untuk menghilangkan iblis yang tidak membantunya sama sekali." Ucap Sai, dia sudah membaca pikiran Sakura, dulu, saat mereka berkumpul di satu tempat, menatap sejenak ke arah Sasuke dan pergi, Sai sudah memprediksikan keadaan ini.
"Sai! Masalah kita belum selesai!" Teriak Kiba. Naruto berusaha menahan Kiba untuk tidak kembali melawan Sai, bukan hanya dua yang di musnahkan, tapi mungkin saja mereka semua akan lenyap jika nenek Chiyo tahu mereka kembali bertengkar.
"Tidak ada gunanya kita melawannya sekarang, saat ini Sakura akan tinggal memilih siapa saja yang akan tinggal dan pergi." Ucap Naruto, dia pun merasa sedih jika harus berpisah dengan iblis lainnya.
"Sasuke, katakan sesuatu, kau jauh lebih duluan berada di sini dari pada kami." Ucap Kiba.
"Di lenyapkan pun aku tidak masalah." Ucap Sasuke, beranjak dari ruang tengah itu.
"Sial! Ada apa dengan mereka?" Ucap Kiba, merasa sangat kesal dengan sikap Sai dan Sasuke.
Suasana hati yang cukup menjadikan mereka tidak tenang, keadaan nyaman itu mulai di dapat mereka saat di panggil ke dunia manusia ini, keadaan yang berbeda, jaman yang berbeda, semua terlihat sangat baru dan awam bagi para iblis ini, Sakura yang selalu memperlakukan baik mereka, padahal mereka hanya hewan iblis dan kadang membuat kacau keadaan.
Sasuke memang selalu yang paling tenang di antara ketiganya, tapi memikirkan apa yang Sakura pikirkan sekarang ini, Sasuke tidak bisa berharap banyak untuk tetap di biarkan di dunia manusia. Naruto merasa dia cukup payah dan keputusan pun ada pada tuannya. Kiba, dia memang yang paling bisa di andalkan, tapi sikapnya yang tidak bisa tenang jika selalu saja ada Sai di sekitarnya. Iblis kucing, dia bisa melakukan apapun sesuka hatinya, tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan yang lain setiap dia berulah, Sai harus lebih banyak mendapat pelajaran agar menjaga sikapnya.
Salah satu ruangan yang terdapat di dalam kuil, Sakura bisa menenangkan dirinya di sana, keadaannya jauh lebih tenang dari pada di dalam bangunan rumah.
"Apa kau sudah putuskan untuk memilih dua di antara mereka atau mungkin hanya satu?" Ucap nenek Chiyo. Dia melihat tatapan bimbang di mata Sakura, cucunya ini sama sekali tidak memutuskan apapun. "Kau harus memutuskannya sekarang juga, mereka akan cukup mencolok di dunia kita, apalagi dengan kondisimu yang sama sekali tidak bisa mengendalikan mereka, kau harus tahu, ada resiko di mana mereka tidak bisa mengendalikan diri dan bisa menjadi ancaman untuk warga sekitar, apa kau sanggup?" Ucap nenek Chiyo.
Gadis itu menutup matanya, mengembuskan napasnya perlahan dan melirik ke lantai, memikirkan jika dia harus memilih di antara mereka, jika ingin jujur, Sakura merasa mereka semua berguna, hanya ada sedikit masalah dengan sikap dan keadaan mereka yang seperti anak kecil, perkelahian kecil hanya gara-gara masalah sepeleh.
"Sai, aku rasa dia hanya perlu menjaga sikap, Kiba, dia mungkin perlu sedikit pengendalian diri, Naruto, dia butuh banyak berlatih, dan Sasuke, aku rasa dia perlu sedikit di kendalikan. Aku sudah melewatkan hari-hari bersama mereka, cukup ribut sih, tapi, mereka membuat rumah menjadi sedikit ramai, nenek tahu, sebenarnya aku sangat kesepian saat nenek tidak ada, aku butuh banyak berlatih, aku sama sekali tidak bisa berkelahi, berkali-kali aku harus terluka, kadang aku selalu berpikir untuk mengabaikan setiap panggilan warga untuk melawan hantu-hantu jahat itu, aku merasa sangat lelah untuk semua tugas miko, putus asa, aku benar-benar putus asa saat itu-" Sakura terdiam sejenak. nenek Chiyo menatap cucunya itu, ucapan Sakura sangat serius, gadis ini seperti sudah menyerah akan takdirnya. "-Aku tahu takdir ini sungguh tidak adil, tapi jika bukan marga Haruno, siapa lagi yang akan menjadi pelindung warga di sini, pikiran jaman sekarang tentang makhluk halus itu hanya sebatas mitos, mitos yang di anggap aneh, mereka tidak tahu bahaya serius jika mengabaikan amukan para makhluk halus itu, takdir kita cukup berat, aku pun tidak bisa membayangkan jika kita lebih di butuhkan dari jaman ke jaman, ini menjadi sebuah kebanggaan tersendiri. Maaf nek, aku jadi kebanyakan bicara, aku hanya sedang mengutarakan apa yang sudah ku simpan di kepalaku selama mulai mengambil posisi miko." Ucap Sakura. perasaannya mulai sedikit lega dan berusaha untuk tidak bimbang lagi.
"Dulu, nenek juga selalu berpikir untuk apa melawan para makhluk halus itu? Nenek ingin keluar bersama teman-teman sebaya nenek dulu, menjadi gadis biasa dan hidup normal, nenek ingin melakukan semua itu, tapi takdir ini sungguh mengikat keluarga kita. Saat putus asa seperti mu, nenek mencoba memanggil seorang iblis, awalnya semua berjalan lancar, iblis itu muncul, tapi apa yang terjadi? Iblis itu melawan nenek, para tetua yang berkediaman di sekitar kuil bisa merasakan kehadiran iblis yang jahat, mereka berdatangan dan memusnahkan iblis itu, nenek sampai harus kena marah besar dan minta untuk kembali berlatih menjadi miko." Ucap nenek Chiyo, kembali menceritakan saat dia berada di posisi cucunya.
"Aku sudah memutuskannya nenek." Ucap Sakura dan tersenyum.
"Haa.. nenek sudah tahu kau akan memutuskan seperti apa, jadi, mulai sekarang, nenek akan melatihmu agar bisa mengendalikan mereka semua." Ucap nenek Chiyo.
Tatapan Sakura terlihat serius dan mengangguk pasti, akan kembali belajar dari neneknya. Nenek Chiyo meminta Sakura untuk mengambil sebuah vas bunga yang di taruh di sudut ruangan ini.
"Lempar vas bunga itu." Ucap nenek Chiyo.
"Eh? Di lempar?" Ucap Sakura.
"Iya, sekarang." Ucap nenek Chiyo.
Sakura melempar vas bunga itu ke atas, jika di biarkan begitu, vas bunga itu akan jatuh dan pecah, Sakura mengamati vas itu yang sebentar lagi mendarat ke lantai, seketika vas itu berhenti dan seakan melayang.
"Ini di sebut kekkai, sebuah pelindung, kau tidak akan bisa melihatnya, pelindung itu berada di sekitar vas ini dan membuatnya tidak sampai jatuh ke bawah, kau bisa menggunakan kekuatan ini pada mereka, tidak ada iblis yang bisa melawan kekuatan ini, semakin mereka melawan, mereka akan semakin merasa tersiksa, kekkai ini akan otomatis membungkus hingga sampai mereka tunduk dan tidak bisa berbuat apa-apa." Jelas nenek Chiyo, Sakura memperhatikan jari nenek Chiyo, hanya ada jari tengah dan jari telunjuk yang berdiri tegak, jarinya lainnya menutup.
"Baik!" Ucap Sakura.
Sesuai arahan jari nenek Chiyo, vas itu turun perlahan hingga ke lantai.
"Untuk sementara gunakan botol air mineral ini, jika kau menggunakan vas itu sekarang, kau akan menghancurkannya." Ucap nenek Chiyo.
Sakura mulai mencobanya, melihat dari pada di lakukan sangat berbeda, botol air mineral itu selalu jatuh dan tidak pernah melayang. Cukup sulit, Sakura tidak bisa melakukannya begitu saja.
"Cukup untuk hari ini." Ucap nenek Chiyo.
"Tapi, aku belum bisa melakukannya." Ucap Sakura.
"Tentu saja, kau harus berlatih terus untuk mencobanya, dulunya nenek tidak jadi memanggil iblis lagi dan terus berlatih menggunakan kekkai." Ucap nenek Chiyo.
"Haa, baiklah." Ucap Sakura pasrah, kekuatan ini cukup menguras energinya.
"Untuk sementara nenek akan tinggal untuk melatihmu dan juga, mereka harus di beri pelajaran." Ucap nenek Chiyo, Sakura menelan ludahnya, menatap neneknya yang berwajah horor, Sakura tidak tahu apa yang akan neneknya lakukan pada iblis-iblis panggilannya itu.
Kembali ke ruang tengah, di sana ada Naruto yang berbaring terlentang di lantai, Kiba yang duduk berdekatan dengan meja, Sasuke sudah berada ruang tengah dan berdiri bersandar pada dinding, melihat tingkah kedua temannya itu seperti iblis yang tidak memiliki hidup, Sai memilih duduk di teras luar, menatap langit malam yang cukup cerah, Sakura sejak tadi terus berada di dalam ruangan kuil dan belum juga kembali.
"Gara-gara kita, tuan jadi kena marah. Apa sekarang dia tidak apa-apa?" Ucap Naruto. menatap langit-langit ruang tengah.
"Kita harus percaya padanya." Ucap Kiba. Benar, tidak ada yang bisa di pikirkan Kiba sekarang ini, mereka hanya akan menunggu saja.
Brakk...!
Pintu tergeser dengan cukup keras membuat para iblis itu terkejut.
"Kalian para iblis yang tidak berguna, mulai sekarang aku akan melatih kalian, jika ada yang membangkang, detik ini juga akan ku musnahkan kalian." Ucap nenek Chiyo, tegas.
Kiba dan Naruto sudah berwajah takut, Sasuke dan Sai terlihat santai, tapi sejujurnya mereka juga cukup takut mendengar ucapan nenek Chiyo.
.
.
Setiap harinya Sakura akan terus berlatih menahan botol air itu agar tidak jatuh, masih tetap sama seperti sebelumnya, lagi-lagi botol air minum itu terjatuh, gadis itu bahkan mencobanya di sekolah saat kelas masih sepi, mencoba dengan pensilnya, membuangnya ke atas dan mencobanya lagi.
"Kekkai!" Menutup matanya, berharap pensil itu tidak tahu jatuh, membuka matanya sedikit, wajahnya terlihat begitu senang, "Berhasil!" seketika pensil itu di jatuhkan, beberapa murid berdatangan masuk ke kelas, Sakura mencoba mengambil pensilnya dengan tenang, dia terlalu cereboh untuk mencobanya di sekolah.
Syukurlah tidak ada yang melihatnya tadi.
Sementara Sakura terus berlatih, keempat iblis itu di buat susah oleh nenek Chiyo, terutama pengendalian diri, selama bermenit-menit mereka akan duduk bersimpuh, jika ada yang bergerak sedikit saja, sebuah papan berukuran panjang 1 meter, lebar 8 senti, dan ketebalan 2 senti siap-siap mendarat di bahu mereka.
Plaakk...!
"Iblis rubah, apa kau tidak bisa tenang sedikit saja." Tegur nenek Chiyo, berkali-kali Naruto mendapatkan papan itu di bahunya, kiri-kanan-kiri-kanan, sampai-sampai membuat Naruto ingin menyerah, tapi jika menyerah dia akan merasa malu sebagai iblis lagendaris dari ketiga iblis yang ada.
Plaakk...!
Kali ini Kiba, Sasuke dan Sai masih tenang pada tempatnya, nenek Chiyo hanya sedang mengetes mereka, sesuai apa yang di ucapkan Sakura, Naruto dan Kiba yang paling harus di beri latihan untuk mengendalikan diri.
Setelah latihan yang cukup berat, nenek Chiyo terlihat santai di ruang tengah Naruto menjamunya dengan baik, pria rubah itu pandai membuat teh hangat.
"Kita bisa mati perlahan-lahan." Ucap Naruto, membaringkan tubuhnya, dia merasa cukup lelah dan sakit pada kedua bahunya, begitu juga Kiba, Sasuke dan Sai masih terlihat santai, meluruskan kaki mereka perlahan, ini bukan apa-apa bagi mereka.
"Arrghhtt, kesal! Nenek tua itu jauh lebih berbahaya dari hantu-hantu yang kita lawan, padahal aku bisa melawan hantu-hantu itu dengan mudah, kenapa aku harus juga ikut latihan semacam ini." Ucap Kiba, seakan dia hanya seekor semut kecil di hadapan nenek Chiyo, merasa jika dia iblis yang sudah siap untuk bertarung tanpa harus di latih.
"Kau terlalu berkepala besar, tandanya kalian belum ada apa-apanya." Ucap Sai, ucapannya selalu menjadi pemicu masalah untuk Kiba. Tidak ada ucapan lagi dan Kiba mulai mengejar Sai untuk di hajarnya, keadaan ruangan itu kembali ricuh.
"Hei kalian, tenanglah, jika nenek tahu kalian bertengkar, kalian bisa di buat-" Naruto menutup mulutnya dan menjauh dari area pertengkaran Sai dan Kiba. Mereka berdua di buat tidak bisa bergerak, bukan dengan mantra kekkai lagi, tapi mantra yang membuat mereka seperti terkena sambaran petir, Sai dan Kiba terbaring dan meringkuk kesakitan.
"Baru di tinggal sebentar saja kalian sudah berbuat ulah." Ucap nenek Chiyo. Kiba tidak bisa bergerak begitu juga Sai, tubuh mereka seakan tidak memiliki tenaga untuk bergerak lagi. "Kembali pada posisi kalian." Lanjut nenek Chiyo, Naruto buru-buru kembali duduk bersimpuh, Sasuke masih dengan suasana tenangnya meskipun dia cukup terkejut tadi melihat petir menyambar dua iblis yang masih tergeletak di lantai, nenek Chiyo bukan sembarang mantan miko, dia jauh lebih kuat dan berpengalaman dari Sakura.
"Iblis rubah." Ucap nenek Chiyo.
"I-iya, nenek." Ucap Naruto, dia cukup terkejut.
"Sering-seringlah ke belakang hutan, di sana cukup sepi dan ada areanya luas, kau harus berlatih untuk bisa mengontrol diri dan kekuatanmu." Ucap nenek Chiyo,
"Baik nek!" Ucap tegas Naruto.
Nenek Chiyo memang sangat tegas, tapi dia tidak hanya memberi latihan seperti mengendalikan diri, nenek Chiyo seakan bisa memahami karakter dari masing-masing iblis yang di panggil sakura, melirik ke arah Sasuke, iblis ini hanya duduk tenang dan matanya fokus menatap ke depan, untuk pengendalian diri, Sasuke tidak perlu di masukkan, dia dengan mudah mengendalikan kekuatan dan sikapnya di dunia ini.
Iblis serigala, dunianya terkenal sebagai bangsa yang memiliki kasta tertinggi, mereka tidak mudah di tundukkan dan di perintah oleh miko mana pun, kenapa Sakura bisa memanggil iblis seperti dia? Dia iblis yang cukup merepotkan, tidak ada bedanya jika mereka kuat tapi hanya bergerak sesuai keinginan mereka. Aku tidak bisa berbuat banyak untuk iblis yang satu ini, berharap Sakura bisa mengendalikannya suatu saat nanti.
.
.
Hari berikutnya, setelah berhasil menggunakan kekkai, Sakura kembali di latih untuk mantra petir, kali ini lebih sulit, jika salah gerakkan, maka Sakura yang akan terkena mantranya sendiri.
"Mulailah untuk fokus pada boneka itu." Ucap nenek Chiyo.
Sakura kembali berlatih, sama halnya dengan mantra kekkai, mantra petir ini jauh lebih sulit, awalnya gadis ini harus bisa menciptakan semacam ruang untuk petir itu muncul, ketika ruang itu sudah terbentuk maka petir itu bisa menyambar, arahnya pun harus dengan dorongan dari kekuatan miko, berkali-kali Sakura terus menggunakannya dan boneka itu tetap aman-aman saja, petir itu hanya menyambar pada bagian kiri-kanan bahkan hampir terkena dirinya sendirinya.
"Istirahat, jangan terlalu memaksakan diri." Ucap nenek Chiyo.
Sakura langsung merebah dirinya di lantai, dia cukup kelelahan. Nenek Chiyo kembali ke bangunan rumah, dia pun butuh istirahat, di usianya, terlalu lama berdiri cukup membuat kakinya pegal. Para iblis itu tidak terlihat di ruangan tengah, mungkin saja mereka kabur sementara, satu-satunya orang paling mereka takuti hanya nenek Chiyo.
Sementara itu, mereka berada di satu kamar, kamar milik Sai dan Sasuke. Kiba dan Naruto memilih berada di sana sementara waktu, semacam curhat para iblis.
"Aku kapok kena petir itu lagi." Ucap Kiba dan berbaring di kasur lantai, tubuhnya tidak bisa bergerak dalam beberapa menit, seakan seluruh tubuhnya mati rasa.
"Aku sudah memperingatimu sejak awal." Ucap Naruto.
"Jika saja bukan karena ulah bodohmu, aku juga tidak akan ikutan." Keluh Sai.
"Apa kau belum puas ku hajar?" Ucap Kiba, dia cepat sekali kesal gara-gara ucapan Sai, seakan apapun yang di ucapkan Sai terdengar seperti gangguan untuknya.
"Kiba, ingat petir itu." Tegur Naruto.
"Ahk! Sial!" Ucap Kiba dan menenangkan dirinya, tidur menyamping dan menutup matanya, dia harus jauh lebih bisa mengendalikan diri.
"Nah Sasuke, katakan sesuatu." Ucap Naruto, iblis rubah ini merasa dia lebih bodoh dari semuanya, mereka butuh seseorang yang jauh lebih pandai untuk berbicara.
"Kendalikan diri kalian dan nenek itu akan cepat pergi." Ucap Sasuke, keadaan tenang seperti biasanya, dia hanya bersandar dekat jendela yang terbuka.
"Ha? Apa semudah itu?" Ucap Kiba dan bangun dari tempatnya berbaring, menatap serius ke arah Sasuke, kalau bisa dia ingin nenek itu secepatnya pergi.
"Aku tidak pernah setuju dengan siapapun, tapi yang di ucapkan serigala ini benar, nenek itu akan terus melatih kalian jika tidak mengendalikan diri, hei rubah, sebaiknya kau cepat melakukan apa yang sarankan nenek tua itu." Ucap Sai.
"Sepertinya memang tidak ada jalan lain, baiklah, aku akan pergi sekarang ke sana dan berlatih." Ucap Naruto, bergegas keluar dari ruangan ini dengan melompat dari jendela yang berada di lantai dua.
"Dia terlalu bersemangat." Ucap Kiba. Melirik ke bawah dan Naruto sudah berlari ke arah hutan yang berada di belakang kuil.
"Pada akhirnya meskipun kalian sudah bisa mengendalikan diri, apapun keputusan Sakura, dua iblis harus di lenyapkan, semua seakan sia-sia." Ucap Sai, membaringkan dirinya di kasur miliknya, dia sudah sangat lelah untuk hari ini.
"Dan aku harap kau yang harus di lenyapkan." Ucap Kiba sebelum beranjak dari kamar itu, dia akan kembali ke kamarnya.
Setelah kamarnya menjadi tenang, Sai sepertinya sudah tertidur, Sasuke terlihat menghela napas, jendela masih terbuka, mengubah wujudnya menjadi serigala, melompat keluar dan naik ke atap, saat ini bulan sedang terang, dari kejauhan di dalam hutan, Sasuke bisa melihat Naruto yang tengah berlatih untuk menggunakan kekuatannya dengan baik. Angin berhembus perlahan, bulu lebat pada tubuh serigala ini ikut bergerak perlahan saat angin berhembus padanya. Melirik ke arah kuil, Sasuke bisa melihat ada cahaya terang seketika dan redup dengan cepat, berulang kali cahaya itu akan terlihat, seperti cahaya petir yang nenek Chiyo keluarkan.
Melompat ke arah atap kuil dan turun perlahan, salah satu pintu ruangan di dalam kuil sedikit terbuka, Sasuke bisa melihat Sakura yang sudah keringatan untuk berusaha membuat petir menyambar sebuah boneka, gagal, gagal, dan gagal, Sakura sama sekali tidak bisa mengenai petirnya ke arah boneka itu.
"Tidak baik untuk mengintip seorang gadis."
Sasuke cukup terkejut dan menjauh dari pintu yang terbuka itu. menundukkan sedikit kepalanya di hadapan nenek Chiyo.
"Kemarilah, aku ingin berbicara denganmu." Ucap nenek Chiyo.
Sasuke mengubah wujudnya menjadi manusia dan mengikuti nenek Chiyo ke ruang tengah. Duduk di lantai yang beralaskan bantal duduk, saling berhadapan pada sisi-sisi meja kayu segi empat, Sasuke seperti biasanya, tenang, itulah yang membuat nenek Chiyo cukup menyukai iblis yang satu ini.
"Iblis dengan kedudukan tertinggi, aku tahu, kedudukan tertinggi itu bukan hanya sekedar ucapan semata saja, kalian di beri julukan seperti itu karena kemampuan kalian yang bahkan tidak bisa di tandingi iblis manapun, tapi keserakahan dan emosi berlebihan sangat melekat pada bangsamu, aku tidak terkejut mengetahui hal ini, dulunya iblis yang ku panggil adalah bangsamu dan dia sama sekali tidak bisa bersahabat dengan dunia ini atau pun miko yang memanggilnya, berakhir dengan dia di musnahkan paksa oleh para tetua marga Haruno-" Ucap nenek Chiyo, semuanya sudah di ketahuinya dari para marga Haruno yang tugasnya untuk meneliti iblis pada jaman dulu.
Sasuke terdiam, dia hanya mendengar semua ucapan nenek Chiyo, semua benar, yang di katakan nenek Chiyo benar tentang bangsanya dan julukan yang di beri di dunianya.
"Aku sedikit salut padamu, kau bisa mengendalikan emosimu di dunia ini, kau bahkan bisa dengan mudah menyesuikan diri, ada apa? kau tidak memiliki rencana di balik sikap tenangmu?" Ucap nenek Chiyo, menatap tajam ke arah Sasuke.
"Tidak ada." Ucap singkat Sasuke, sejak awal di panggil Sasuke tidak tahu dia harus berbuat apa di dunia ini, melihat gadis lemah yang pingsan dan tetap saja ingin memanggilnya, saat itu dia ingin sekali melenyapkan Sakura, namun saat melihat keadaan sekitar, iblis ini tidak jadi melakukannya, dia merasa ketenangan di dunia ini.
"Uhm... berbohong pun tidak ada gunanya." Ucap nenek Chiyo.
"Aku tidak memiliki tujuan jika berada di sini." Ucap Sasuke.
"Ya, aku rasa kau tidak bisa berdebat atau saling beradu di sini, apa di dunia mu masih ribut untuk masalah memperebutkan kedudukan? Kekuatan dan serakah, benar-benar tidak bisa lepas, kehidupan kalian masih tetap tertulis di buku-buku penelitian marga Haruno." Ucap nenek Chiyo.
"Sampai detik ini pun, tidak ada yang akan menyerah, berperang dan saling melukai sesamanya." Ucap Sasuke, di jamannya sekarang, para iblis serigala masih saling berperang antara beberapa kubu untuk memenangkan kedudukan tertinggi. "Di sini jauh lebih damai, aku sudah muak untuk semua hal di duniaku, mereka sudah memiliki kedudukan tertinggi dan masih ingin memiliki kekuasaan tertinggi, sungguh bodoh." Tambah Sasuke, menyalahkan perang yang tidak ada gunanya, seakan Sakura tengah menyelamatkan hidupnya. Memindahkannya dari dunianya ke dunia ini.
"Hoo, seperti itu ternyata, aku rasa cuma kau iblis serigala yang menggunakan otak, aku terkesan akan hal itu." Ucap nenek Chiyo, tatapan Sasuke terlihat seperti keadaannya sekarang, dia tidak berucap untuk sekedar membuat nenek Chiyo terkesan, tapi itulah faktanya, Sasuke bersyukur untuk berada di dunia ini.
Sementara nenek Chiyo dan Sasuke tengah bercerita, Sakura kembali berusaha membuat boneka itu menjadi sasaran yang tepat.
Gagal.
Gagal.
Gagal.
Dan akhirnya, Sakura terlihat bahagia, dia hanya butuh kosentrasi dan fokus pada boneka itu, petir mulai menyambar pada satu tempat, gadis ini kembali melakukannya, lagi, lagi, dan lagi. Terduduk di lantai dan membaringkan tubuhnya, dia sudah sangat lelah, latihannya tidak sia-sia, gadis ini sudah mendapat pelajaran penting dari neneknya.
Kembali ke ruang tengah.
"Bukan cuma pada kekuatan, kalian pun terkenal dengan memiliki daya penyembuhan yang sangat cepat. Aku rasa kau sudah menggunakan itu berkali-kali pada Sakura, dia bahkan tidak menyadarinya, cucuku itu, meskipun dia memanggil kalian, dia tidak mengetahui apapun dari kalian, dia harus lebih banyak belajar tentang iblis yang di panggil." Ucap nenek Chiyo.
"Aku rasa dia bisa mempelajarinya secara langsung." Ucap Sasuke, diam pun tidak berarti iblis ini cuek seperti sikapnya, dia mengamati apapun dari Sakura.
"Bagaimana dengan ketiga iblis itu?" Ucap nenek Chiyo.
"Sai dan Kiba sudah tertidur, mereka kelelahan, Naruto, dia tengah berada di hutan dan berlatih." Jelas Sasuke.
"Rubah itu cepat juga mendengar ucapanku, baguslah, dengan begini aku bisa tenang. Oh, sudah saatnya, sepertinya Sakura sudah tidak sadarkan diri." Ucap nenek Chiyo.
Keduanya beranjak dari ruang tengah ke arah bangunan kuil, benar saja, gadis itu tertidur di sana, boneka yang menjadi targetnya cukup mengenaskan, Sakura berkali-kali menghantarkan petir pada boneka itu.
"Aku rasa sudah cukup." Ucap nenek Chiyo, melihat boneka yang sudah sangat gosong, jika gadis ini melakukan pada iblisnya mereka akan kapok hanya dengan satu kali sambaran. "Bawa dia ke kamarnya, tidur di tempat seperti ini akan membuatnya masuk angin." Ucap nenek Chiyo. Sasuke mengikuti perintah nenek Chiyo, mengangkat gadis itu ala bridal style, mata onyx itu menatap Sakura, wajahnya terlihat sangat kelelahan, dia sudah berlatih sangat keras. "Jangan katakan pada mereka, aku akan pulang, jemputanku sudah datang, tolong amati ketiga iblis itu dan jaga Sakura, hanya kau yang bisa aku andalkan saat ini." Ucap nenek Chiyo. Berjalan keluar bangunan kuil dan terus berjalan, mobil jemputannya sudah tiba beberapa menit yang lalu, malam ini juga nenek Chiyo akan pulang, tugasnya sudah selesai, sisanya akan dia serahkan pada Sakura.
Sebelum nenek Chiyo menuruni tangga, iblis serigala ini menundukkan kepalanya, mengucapkan 'hati-hati di jalan dan selamat jalan' untuk nenek Chiyo, hanya ada lambaian pelan dari nenek Chiyo, dia pun cukup lelah menggertak semua iblis yang ada.
Nenek Chiyo sudah menaiki sebuah mobil sedan, Kizashi, ayah Sakura yang menjemputnya.
"Apa Sakura baik-baik saja?" Ucap Kizashi, dia tidak sempat turun dari mobil dan di minta menunggu di dalam mobil.
"Tenanglah, anakmu baik-baik saja, dia cucuku yang paling kuat." Ucap nenek Chiyo dan tertawa.
"Ibu juga seharusnya lebih banyak istirahat. Sebaiknya malam ini ibu menginap di rumahku, Mebuki sedikit rindu pada ibu." Ucap Kizashi.
"Baiklah. Lagi pula di rumah cukup sunyi." Ucap nenek Chiyo.
Mobil sedan itu sudah tidak terlihat lagi setelah pembelokan, Sasuke sudah membaringkan Sakura di kamarnya. Menatap sejenak wajah tuannya, gadis itu tiba-tiba tersenyum, mungkin saja dia tengah mimpi indah. Sasuke beranjak pergi dari kamar Sakura, sebuah senyum pun terukir di wajahnya, tuannya adalah penyelamat baginya. Mengingat kembali sebelum dia di panggil, saat itu Sasuke tengah terpojok dalam situasi perang, dia akan mati jika saja tubuhnya tidak berpindah tempat.
.
.
Keesokan paginya, di ruang makan, Sakura menatap aneh ke arah iblis-iblisnya. Kiba, Naruto, dan Sai, terlihat sangat suram, kecuali Sasuke yang terkesan berseri-seri, meskipun tidak terlalu tampak, hanya terkesan bagi penglihatan Sakura. Sasuke sudah menyampaikan jika nenek Chiyo pulang kemarin malam, Sakura masih ingin berlatih lagi, tapi neneknya meminta untuk Sakura harus bisa berlatih sendirian.
"Mimpi yang buruk." Batin ketiga iblis ini kecuali Sasuke.
Mereka bertiga mendapat mimpi buruk tentang nenek Chiyo yang menyiksa mereka tanpa henti, wajah mereka terlihat seperti orang yang kurang tidur, sedangkan Sasuke, baru kali ini dia di puji oleh seorang manusia, ucapan nenek Chiyo tentang mengandalkannya seakan dialah yang paling penting berada di sisi Sakura, cukup membuatnya besar kepala dan senang sendiri.
"Baiklah, aku akan pergi ke sekolah, keputusan tentang siapa yang tinggal dan akan di musnahkan, uhm... mungkin saat pulang sekolah, aku pergi dulu." Ucap Sakura, wajah terlihat berat hati untuk memutuskan keadaan ini.
.
.
TBC
.
.
update lagi..., terima kasih untuk yang sudah menunggu fic ini, cih, Pe-De banget berasa ada yang nunggu fic ini, *lompat ke jurang*, author sedikit cepat mengerjakan fic ini karena sedang tidak jenuh, hanya pada fic ini, HAHAHAHA, sebenernya semakin konflik memuncak semakin jenuh untuk di selesaikan, kenapa? entahlah, setiap ketik fic ini bawaannya pengen ketawa terus, nggak tahu kalau reader yang baca bakalan ketawa atau nggak, biasanya selera humor setiap orang berbeda-beda, benar kan? benar kan? tentu.. kalau author, sangat mudah sekali untuk di buat tertawa, hahahahah...
ya sudah, oh author, balas-balas review kalau gitu. beberapa ada yang baru author lihat nge-review, semacam reader yang mungkin baru baca fic aneh buatan sasuke-fans. :D
.
ohshyn76 : update...~
YukiSakura Kensei29 : syukurlah, ada yang rasa fic ini lucu, XD update! update!
dewisetyawati411 : berharap Saku nggak terlihat seperti nge-harem di sini, semoga, aarrggt, author gatal mau buat harem, tapi saku cuma milik sasu, (author sedang galau nggak jelas) Gaara.. heeem...~ okey, sarannya author tampung dulu yaa, makasih :)
CEKBIOAURORAN : uhuk, sarannya author tampung, kalau ceritanya udah mulai bahaya tolong tegur auhtor saja biar di ubah rate M, hahah soalanya fic author ini pada rate M mulu, hahahaha.
matarinegan : horornya santai aja kok, hehe, nggak menonjol juga, lebih banyak ceritain para iblis koplak itu. pfffff
DeShadyLady : perjuangan ngetik fic, fiuuh..~ sumpah! kurang kerjaan banget, hahahaha, yaa, author suka sifat sasu yang diam-diam tenggelam, eh, menghayutkan, haa...~ bukan kah sasu seperti itu, / *author yg heboh* :D
hanazono yuri : lanjut...~
Hoshi Riri : Makasih, heem..~ karena menurut author dari beberapa chara di anime Naruto, Sai paling pas untuk sikap seperti itu, sudah itu minta maaf sama fans Sai, *sembah sujud*
Uchiha Cherry 286 : Kan sudah di jelaskan, dia panggil iblis karena nggak kuat berkelahi, tapi ujung-ujung iblis yang dia panggil nggak berguna, jadinya dia coba lagi sampai betul-betul dapat iblis yang sesuai harapannya, dan berakhir sama saja, hahahahah, di buat harem atau nggak yaaa...~ ah, suka-suka author kan, alurnya author yang pikir, pffff... mereka nggak usah sekolah, bikin ribet lagi, nanti sekolah saku rusuh gara-gara mereka, sebenarnya mereka jauh lebih tua dari Saku, makanya author menggunakan penyebutan 'pria' pada mereka.
Nurulita as Lita-san : Sasu emang cocok jadi cowok tsun /
Amamiya Rizumu : yosh...! makasih semangatnya. karena author tipe penakut akan hal-hal semacam hantu, jadi agak sulit mau menggambarkan sosok hantu yang ada di fic ini dan jangan harap author mau cari referensi seperti nonton atau baca horor *kabur*, haa..~ maafkan auhtor, sungguh, tak bisa membayangkannya, *malah takut* =_=" Masih sasu-saku atau nggk yaa... nikmatin aja deh alur ficnya. XD
Ibnu999 : wah, kebetulan sekali, di chapter ini author udah ubah panggilan saku.
Dwisuke : kamisama hajimemasta, OWO itu anime yang author suka, sampe bikin baper, tapi bukan terinspirasi dari situ sih, cuman emang anim itu baguuuuusss bangeeett... ^^ ah, jadi ikut keingat juga XD
.
okey, sampai ketemu di next chapter. :)
