"Aku sudah lama menyukaimu. Apa kamu mau menjadi pacarku?" Seorang lelaki bertopi berkata dengan mantapnya di hadapan gadis yang dia sukai. Sang gadis berambut pendek yang menjadi lawan bicaranya hanya tersenyum manis.

"Maaf, aku tidak bisa menerima ajakanmu."

"Apa kamu masih marah karena perkataanku tempo hari?"

"Tidak. Aku sudah memaafkanmu sejak lama."

"Lalu kenapa? Apa kamu tidak bisa memikirkannya sekali lagi?"

"Maaf, aku sudah benar-benar yakin dengan keputusanku."

Si lelaki bertopi terlihat kecewa. Namun dia tetap berusaha untuk terlihat tegar. Pergi menjauh dengan berat hati karena mau tidak mau harus menyerah meraih cintanya.

"Sakunoooo! Apa yang kamu lakukaaan?!" teriak seorang gadis berkuncir dua yang baru saja berlari mendekat.

"Ada apa Tomo chan? Kenapa berlari seperti itu?"

"Ini sudah keempat kalinya kamu menolak laki-laki yang menyatakan perasaannya padamu! Sampai-sampai senpai tampan barusan jugaaaa! Apa sih yang ada dalam pikiranmu?!" Tomoka tampak lemas.

"Lagipula kalau aku tidak suka kenapa harus aku terima?"

"Aah, kamu ini! Padahal kalau hari ini kamu punya pacar. Besok pasti akan jadi hari ulang tahun yang paling indah! Lalu, aku sempat berpikir kamu tertarik pada senpai itu, lho."

Sakuno tertawa kecil. "Tidak kok, aku hanya tertarik pada topi yang dia pakai."

Tomoka sedikit tertegun mendengar perkataan Sakuno. Dia mengerti benar kemana arah pembicaraan mereka akan menuju. "Kenapa sih kamu masih memikirkan orang itu? Padahal dia pergi tanpa berkata apa-apa. Tiga tahun tidak memberi kabar. Bahkan dia mengingkari janjinya begitu saja!"

"Tidak, Tomo chan. Dia tidak mengingkari janjinya. Dia hanya belum bisa menepatinya."

"Kamu ini… tahu tidak sih rasanya mirip sekali seperti tokoh dalam komik yang aku baca! Seorang gadis bernama Ran yang setia menunggu kepulangan Shinichi. Padahal dia tidak tahu kapan laki-laki itu akan kembali. Rasanya dia sedang menyiksa dirinya sendiri! Kamu jangan seperti itu Sakuno! Bagaimana kalau di Amerika dia sudah punya pacar?!"

"Tenanglah Tomo chan! Lagipula siapa yang menunggunya? Kalau pada saatnya ada laki-laki tepat yang datang, aku tidak akan menolak kok," Sakuno kembali tersenyum sembari sedikit tertawa melihat ekspresi lucu dari temannya. "Ayo cepat, kita akan terlambat latihan!"

Sakuno dan Tomoka bergegas berlari menuju lapangan tenis. Sakuno ternyata tidak bisa memungkiri bahwa dia masih mencintai tenis, jadi saat baru saja masuk SMA pun dia langsung memilih untuk bergabung dengan klub tenis. Sementara Tomoka sendiri tidak terlalu tertarik, namun dia tergoda bergabung karena banyak sekali senpai yang tampan di dalam klub. Tapi berkat keberadaan sang sahabat, Sakuno menjadi tambah bersemangat.

"Kyaa, hari ini Ueda senpai tetap keren seperti biasanya! Kyaa, Motoyama senpai juga tidak kalah menawan!"

"Tomo chan, jangan teriak-teriak seperti itu ah…"

"Tapi mereka memang tampan. Ya kan Rina chan? Ako chan?"

"Iya! Mereka memang senpai yang paling tampan! Tidak salah aku bergabung dengan klub tenis."

"Terima kasih sudah mengajakku bergabung, Tomo chan!"

"Kalian ini sama sekali tidak tertarik pada tenis ya…" Sakuno menggaruk-garuk kepalanya. "Aku duluan ke lapang ya."

"Yap. Kami akan menyusul!" jawab Tomochan.

"Lalu, lalu, sampai mana tadi? Umm… mereka berdua pasti bisa jadi atlet professional ya nantinya," sambung Rina.

"Iya. Bahkan katanya sudah ada tawaran untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri."

"Benarkah? Yah, sedih sekali kalau mereka tidak ada di sini…"

"Tapi kita kan masih bisa melihat mereka dalam majalah, Tomo chan."

"Iya sih…"

"Eh iya, ngomong-ngomong sudah lihat majalah pro tenis terbaru?" tanya Ako dengan penuh semangat.

"Memang ada apa?"

"Ada liputan tentang atlet terkenal itu. Ryoma Echizen!"

"Hah, berita apa?" tanya Tomo dengan penuh rasa penasaran.

"Dia kembali memenangkan turnamen internasional!"

"Benarkah?"

"Yap. Keren sekali! Tomo chan pasti bangga ya pernah satu sekolah dengannya."

"Iya, tentu saja dong. Hehe."

"Oiya, lalu ada gosip gosip juga kalau dia…"

Matahari bersinar dengan teriknya, namun angin membuat hari ini tidak terasa panas. Sakuno merasa kondisinya sedang sangat prima dan siap berlatih seperti biasa. Meski dua bulan lalu dia berhasil meraih juara satu dalam turnamen tenis tingkat SMA, namun hal itu tidak menghentikan semangatnya untuk tetap berlatih dengan keras. Bagaimanapun dia tidak ingin cepat menyerah dan akan menjadi atlet professional suatu saat nanti.

"Sakuno rajin sekali," komentar seorang anggota klub benama Jun.

"Ah, tidak kok. Kan sebentar lagi latihan akan dimulai."

"Lho kamu memangnya tidak tahu ya?"

"Hah, tahu apa?"

"Pak guru sedang ada rapat, jadi latihan ditunda sampai pelatih lain datang."

"Hee? Aku baru tahu."

"Haha, lebih baik kamu istirahat saja dulu. Bisa-bisa sebelum latihan mulai sudah kelelahan duluan."

"Iya. Terima kasih Jun."

"Yap."

Sakuno lekas mengambil botol minumnya lalu duduk pada bangku di pinggir lapang. Hanya ada beberapa orang yang terlihat sedang serius berlatih di sana. Sementara sisanya terlihat masih bersantai karena tahu sang pelatih akan datang terlambat.

"Bagaimana bisa menjadi atlet professional kalau bermalas-malasan seperti itu?"

Sebuah suara yang muncul dari belakang mengejutkan Sakuno yang tengah terdiam memandangi langit. Bagaimana pun dia masih ingat benar siapa pemilik dari suara tersebut. Orang yang hingga saat ini masih selalu menganggu pikirannya.

"Ryo-ryoma kun?! Ke-kenapa ada di sini?" tanyanya dengan penuh rasa panik dan keterkejutan. "Bukankah seharusnya Ryoma kun ada di Amerika?"

Lelaki bertopi di hadapan Sakuno benar-benar tidak berubah sama sekali. Semua masih terlihat sama, selain postur tubuhnya yang bertambah tinggi dan wajahnya yang tampak lebih dewasa serta tampan.

"Kupikira kamu tidak akan memotong rambut panjangmu," komentar Ryoma tanpa menjawab pertanyaan Sakuno lebih dulu.

"I-iya. A-apa terlihat aneh?"

"Hmm," Ryoma terlihat berpikir. "Aku sedikit kecewa."

"Hah, kenapa?"

"Karena sudah tidak bisa melihat wajah panic seseorang saat rambut panjangnya tersangkut pada raket."

Wajah Sakuno langsung memerah dengan seketika. Namun dia tidak bisa berkata apa-apa. Sementara Itu Ryoma tertawa melihat wajah lucu temannya itu. "Haha, aku hanya bercanda. Kamu cocok sekali dengan rambut seperti itu."

"Te-terima kasih." Sakuno sedikit kewalahan menyembunyikan salah tingkahnya. Dia pun segera mencari topik lain sebelum keadaan terasa canggung. "La-lu kenapa ada di sini? Ryoma kun belum menjawab pertanyaanku."

"Ah, iya. Hem… Sebenarnya ada beberapa hal yang membuatku ada di sini. Pertama, aku akan menggantikan pelatih yang hari ini tidak bisa datang. Kedua, aku sudah bosan dengan Amerika. Ketiga, karena aku sudah jadi siswa sekolah ini jadi tidak aneh kalau ada di sini."

Betapa senangnya Sakuno saat tahu bahwa mulai sekarang dia akan kembali berada di satu sekolah dengan lelaki yang sebenarnya merupakan cinta pertamanya itu.

"Dan terakhir…" Entah kenapa Ryoma menggantungkan kata-katanya. Hal itu berhasil membuat Sakuno merasa sangat penasaran.

"Terakhir?"

Ryoma tersenyum kecil. "Karena aku masih memiliki janji kepada seseorang."

Wajah Sakuno kembali memerah. Dia masih tidak bisa memberikan jawaban apa-apa dan sedikit salah tingkah.

"Lalu apa jawabanmu?"

"Ja-jawaban?"

"Besok, di kafe block C?"

Sakuno tidak menyangka Ryoma masih mengingat janjinya yang dia kira telah terkubur selama tiga tahun. Bahkan dia sempat pesimis dapat bertemu kembali dengan teman SMPnya itu. Dan kini waktu seakan mundur kembali ke hari itu. Memberikan berbagai perasaan yang unik dan membuatnya tidak bisa berhenti tersenyum.

"Un!" jawab Sakuno tanpa ragu.

Ryoma pun berjalan menjauh, meninggalkan Sakuno yang masih terus tersenyum bahagia. Namun belum terlalu jauh melangkah, dia berhenti. Membalikkan badan sesaat, menatap ke arah Sakuno yang juga masih memandanginya.

"Pastikan datang! Karena aku masih memiliki sesuatu yang ingin aku katakan."