'Tokyo Ghoul' by Ishida Sui

Peringatan sudah tertulis di chapter pertama. Intinya tokoh disini didominasi oleh trio Kaneki dan bergenre Family. Rating T untuk bahasa serta kemungkinan typo yang tidak terdeteksi saat diperiksa ulang. Gomennnasai~


LAST CHAPTER

"Kau tidak ingat kejadian tahun lalu? Saat kau mengajak Touka kerumah untuk membantumu mencari contoh dokumen milik lulusan sebelumnya untuk kau jadikan referensi acara tak jelas itu?"

'Kenapa Shiro tidak menyukai Touka? Bukankah mereka bahkan belum saling kenal? Dan niisan... Kenapa niisan tiba-tiba pingsan?'

'Sebenarnya ada apa denganmu, aniki?'


Inside Me

Sudah lima hari Haise dirawat dan telah diperbolehkan untuk pulang. Kini Shiro tengah menebus beberapa obat untuk diminum sang kakak sementara kedua saudaranya menunggu di dalam mobil. Beberapa menit kemudian Shiro kembali dengan sebuah plastik kecil tergenggam di tangan kanannya. Ia membuka pintu mobil dan duduk di kursi pengemudi sementara Kuro dan Haise duduk si kursi penumpang di belakangnya. Haise melirik bungkus obat yang diletakkan pada dashboard mobil.

"Obat apa itu? Niisan 'kan tidak sakit," pemuda itu bersuara.

"Ini obat supaya aniki tidak pusing lagi," Shiro menjawab asal sementara Haise hanya ber–"Oohh"ria. Dia menyalakan mesin mobil lalu keluar dari halaman rumah sakit itu.

Dua puluh menit cukup untuk mereka kembali menuju rumah. Mobil telah terparkir rapi oleh Shiro dan kini ketiganya memasuki rumah kecil mereka.

"Niisan, lebih baik kau langsung istirahat saja," Kuro berjalan disamping kakaknya.

"Perlu aku bantu ke kamar, aniki?" Shiro membuka pintu rumah dengan kunci perak yang baru saja ia ambil dari saku celananya.

"Kalian terlalu berlebihan, niisan tidak separah itu," pemuda itu menjawab dengan nada yang terdengar risih.

"Niisan mau dibuatkan makan apa? Kata dokter, niisan harus segera minum obat begitu sampai dirumah," Kuro mengekor kakak tertuanya kedalam rumah.

"Apa aniki perlu sesuatu? Tunggulah dikamar, aku akan membawakannya," Shiro menambahkan sambil menutup pintu dibelakangnya.

"Niisan sudah sehat, Shiro-Kuro. Jangan bertingkah seolah niisan terkena sakit keras," pemuda itu sedikit jerah dengan tingkah kedua adiknya.

"Tapi dokter bilang niisan harus istirahat," Kuro berusaha membujuk kakaknya.

"Ya. Dokter juga bilang aniki tidak boleh terlalu le—"

"DISINI NIISAN YANG SAKIT, BUKAN DOKTER ITU! KALIAN LEBIH BAIK DIAM!"

Haise membentak kedua adiknya dengan tatapan tajam, membuat mereka sedikit terhenyak. Tak pernah ada dalam sejarah kehidupan si kembar bahwa kakak mereka pernah membentak mereka. Jangankan memarahi, menunjukkan sorot mata sedingin itu saja Haise tidak pernah. Ia dikenal oleh kedua adiknya itu sebagai seorang yang ceria, selalu tersenyum, lembut, sedikit kekanak-kanakan dan konyol. Tapi coba lihat sekarang, orang itu bahkan telah membentak kedua adik kembarnya!

"Tapi niisan, kau per—"

"DIAM!"

Haise kembali membentak Kuro yang memberanikan diri untuk membuka suara. Kuro tersentak untuk yang kedua kalinya. Omongannya dipotong sang kakak yang justru membalasnya dengan tatapan sengit, bahkan sorot matanya itu juga menunjukkan kebencian! Kali ini nyalinya benar-benar ciut.

"PERGI KE KAMAR KALIAN, SEKARANG!"

Perintah dengan nada mutlak itu jelas menyiratkan keinginan untuk tidak dibantah. Dan detik selanjutnya, sepasang kembar itu menuju lantai dua tempat kamar mereka dengan diikuti tatapan marah sang kakak. Keduanya tak ada yang membuka suara. Kuro membuka pintu kamarnya dan berjalan masuk dengan Shiro dibelakangnya. Si adik duduk dipinggir ranjangnya sementara sang kakak mengambil tempat di kursi belajar kembarannya. Didalam, kedua orang itu menghela nafas panjang.

"Ada apa dengan niisan? Kenapa dia memarahi kita?" Kuro bertanya dengan tatapan sendu memandang lantai.

"Mulai lagi."

"Apa maksudmu?"

"Ada yang tidak beres dengan aniki," Shiro menjawab.

"MAKSUDMU NIISAN GILA, BEGITU?!" Kuro mendongakan kepalanya dan menatap sang kakak tidak terima.

"Bukan tidak beres seperti itu. Begini saja, mana ponselmu?"

Shiro meminta sang adik memberikan telepon genggam kepunyaannya karena miliknya berada di kamar dan dia malas untuk kesana. Kuro tidak bergerak, ia hanya menunjuk sesuatu di belakang Shiro, menunjuk sesuatu diatas meja belajarnya. Shiro mengikuti arah pandangan adiknya dan menemukan sebuah telepon genggam berwarna hitam tergeletak disana. Ia mengambil itu lalu mengusap layarnya dan mengurut layar telepon itu. Dua menit dan layar telepon itu langsung ditunjukkan kepada sang adik. Kuro membaca tulisan itu seksama. Perlahan, sorot matanya berubah menjadi ketakutan.

Kuro menegak ludahnya.

"Kau mengerti 'kan, Kuro?" Shiro berucap sambil menerima telepon sang adik yang terjulur padanya.

"Tidak mungkin. Hanya karena niisan membentak kita dan kau langsung memutuskan niisan terkena penyakit itu? Kau gila!" Kuro berusaha menentang spekulasi sang kakak.

"Ya, aku hanya memutuskan sepihak! Dan ya, aku gila! Kita tidak bisa apa-apa, Kuro! Kita bukan dokter! Kalau misalkan terbukti asumsiku benar, kita dapat bertanya pada dokter itu lagi! Kau harus tahu, aku sama sekali tidak pernah menganggap aniki memiliki kelainan jiwa! Kau paham?!" Shiro tegas pada adiknya.

"Tapi sebelumnya niisan tidak pernah seperti ini..." Kuro membalas. Suaranya bergetar, menandakan ketakutan yang besar.

"Maaf terlalu keras padamu, Kuro. Kau tahu sendiri 'kan beberapa tahun yang lalu aniki juga suka seperti ini, tapi tidak sampai seekstrim sekarang," Shiro meminta maaf setelah mendengar suara adiknya lalu memberi pendapatnya.

"Jadi?"

"Sebut saja kebiasan buruk aniki mulai kambuh lagi."

"Terus terang saja Shiro, aku sama sekali tidak mengerti penyakit apa yang diderita niisan."

"Bukan cuma kita, dokter itu sendiri juga tidak tahu. Karena itu aku menyimpulkan aniki mengidap sakit ini, setidaknya lebih masuk akal."

Kuro bangkit berdiri setelah mendengar pernyataan Shiro dan berjalan menuju jendela kamarnya yang terbuka. Panasnya matahari membuat si surai hitam menoleh memandangi jam yang tertempel pada dinding kamarnya. Pukul sepuluh pagi. Ia kembali memandang keluar jendela kemudian menghirup nafasnya dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya.

"Apa ada yang bisa kita lakukan untuk menolong niisan?"

"Memastikannya untuk selalu minum obat dan tidak mengucilkannya, itu yang dikatakan dokter kemarin."

"Mengucilkannya?"

"Ya. Penderita ini selalu berhalusinasi sehingga orang-orang menganggapnya gila."

"NIISAN TIDAK GILA!"

"Aku tahu. Karena itu kita harus membantu aniki."

"Itu sudah pasti! Tapi Shiro, sebenarnya apa yang kau dan dokter itu bicarakan?"

"Tidak usah kau pikirkan. Yang penting sekarang kita harus memprioritaskan kesembuhan aniki. Itu nanti saja."

"Ya!"

XXXX

Enam jam berlalu. Kedua kembar itu tertidur di kamar si surai hitam, Kuro diranjangnya dan Shiro di meja belajar adiknya. Mereka sangat lelah. Tentu saja! Selama Haise dirawat, kedua orang ini tidak henti-hentinya mengawasi sang kakak, tidur sebentar dan makan tidak teratur.

Tak berapa lama, pemuda diatas ranjang itu mulai bergeliat gelisah. Begitupun dengan pemuda yang menempelkan wajahnya pada lengannya diatas meja belajar. Perlahan keempat iris asap itu terbuka bersamaan. Kuro duduk di tepi ranjangnya dan Shiro menegakkan tubuhnya pada senderan kursi. Setelah kesadaraan mereka pulih, mereka langsung turun menuju lantai satu untuk memastikan keadaan kakak mereka.

"Oh, kalian sudah bangun? Apa kalian lapar? Makanan ada diatas meja. Ambil saja."

Haise mengalihkan pandangannya dari televisi yang sedang ia tonton dan tersenyum melihat si kembar memasuki ruang tengah. Kuro dan Shiro nampak terkejut.

"Niisan? Apa kau baik-baik saja?" Kuro berjalan ke sisi sofa tempat sang kakak duduk.

"Ya, niisan baik-baik saja. Memangnya kenapa, Kuro?"

Haise bergeser, memberi ruang dan menepuk-nepuk bagian sofa yang kosong disampingnya, mengajak sang adik duduk. Saat Kuro hendak menempati ruang itu, lengannya langsung ditahan oleh Shiro.

"Kami akan makan dulu, aniki. Kami sangat lapar. Apa aniki sudah makan?" Shiro berbasa-basi. Kuro hanya menatapnya heran.

"Sudah. Maaf ya niisan makan duluan. Tadi niisan ke kamarmu tapi tidak ada orang. Saat niisan mengetuk kamar Kuro, tidak ada yang menjawab juga. Ya sudah, langsung saja niisan buka. Ternyata kalian berdua didalam dan sedang tertidur. Kalian pulas sekali, niisan jadi tidak tega membangunkan kalian. Maaf ya niisan masuk kamar kalian tidak izin," Haise menggaruk pipinya dengan telunjuk kanannya, tersenyum kecil.

"Tidak apa-apa! Niisan bebas keluar-masuk kamarku!" Kuro menjawab dengan sangat antusias, membuatnya kini ditarik paksa oleh Shiro menuju dapur. Haise hanya menggeleng kepalanya melihat kelakuan adik kembarnya dan kini ia kembali menonton acara sorenya.

Sekarang kedua kembar itu berada di dapur. Shiro melepaskan pegangannya pada Kuro yang meringis kecil karena genggaman sang kakak yang terlalu keras. Ia mengusap lengannya lalu beralih pada Shiro yang berdiri bersandar pada kulkas disana.

"Maaf," Shiro berujar pelan ketika melihat adiknya mengelus lengannya sendiri.

"Tak masalah. Jadi ada apa, Shiro? Kenapa kau menarikku?"

"Kau lihat aniki? Sifatnya berubah."

"Berubah? Apa maksudmu?"

"Kau tidak merasa aneh dengan sikap aniki barusan?"

"Tidak. Memangnya apa yang aneh dari niisan?"

"Tiba-tiba aniki menjadi baik."

"Hah? Bukankah niisan memang selalu baik? Kenapa kau justru berkata seperti itu?"

"Tadi pagi aniki memarahi kita, Kuro! Dan lihat sekarang, dia kembali baik seperti biasa! Apa itu tidak aneh?"

"Sebenarnya apa yang mau kau katakan?"

"Aku hanya mau bilang kalau perilaku aniki kacau!"

"Apa yang kacau? Tidak ada yang salah dengan niisan!"

"Ah, sudahlah. Lupakan saja."

Shiro menarik nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan. Sepertinya sore hari bukan saat yang tepat untuk berbicara serius dengan Kuro. Sepertinya otak anak itu memang dirancang untuk beristirahat di sore dan malam hari. Benar-benar istirahat sampai keadaan otaknya berada di posisi terendah sehingga pembicaraan seperti ini saja dia tidak mengerti.

"Masih ada yang mau kau ucapkan? Aku mau ke ruang tengah bersama niisan," Kuro mengangkat salah satu alisnya, bertanya.

"Ya, satu lagi."

"Apa?"

Shiro menarik adiknya untuk duduk di meja makan. Kuro menurut dan duduk disebelah Shiro. Ia menatap sang kembar dengan heran sementara yang ditatap melayangkan pandangan tajam padanya. Kuro menegak ludahnya, tampaknya ini adalah pembicaraan yang serius. Dilihat dari ekspresi si surai putih, bisa dipastikan jawaban itu adalah 'ya'. Dan Shiro pun mulai membuka suaranya.

"Ayo kita lakukan!"

"Lakukan apa?"

"Melakukan yang kau inginkan. Besok siang, kau telpon Touka dan suruh dia ke rumah," Shiro melipat kedua tangannya di depan dada sementara Kuro menggaruk belakang kepalanya, tidak mengerti.

"Huh? Buat apa aku menelpon Touka-chan?"

"Kau ini pelupa ya, Kuro! Kita akan membantu niisan mengingat semuanya."

Kuro terlonjak. Ah, benar juga! Sebelumnya Shiro memang sudah berjanji padanya akan membantunya membuat sang kakak mengingat kejadian itu. Dia tidak menyangka si surai putih benar-benar memegang perkataannya!

"Kau serius, Shiro?"

"Bukankah aku sudah pernah bilang akan membantumu menolong aniki?"

"Aah... Ya, memang. Tapi aku tidak menyangka kau benar-benar serius."

Shiro hanya membalasnya dengan mengangkat bahu dan mengangguk kecil. Kuro tersenyum lebar. Akhirnya dia bisa menolong sang kakak tanpa harus takut dengan kembarannya. Sebenarnya bukan maksud Shiro tidak mau membantu Haise. Hanya saja setiap Haise mencoba mengingat sesuatu, ia akan menjadi pusing, bahkan beberapa kali ia pingsan karena terlalu keras mencobanya. Shiro tidak suka melihat sang kakak menderita. Karena itu ia tidak mau menolong sang kakak. Ah, lebih tepatnya untuk sementara enggan menolong sang Kakak.

Mari kita luruskan terlebih dahulu apa yang sebenarnya terjadi. Si sulung, Haise Sasaki, mengalami hilang ingatan akibat kecelakaan yang terjadi beberapa tahun lalu. Dan kedua adik kembarnya, Shironeki dan Kuroneki, tengah berupaya untuk membantu sang kakak mengingat kembali semuanya. Jika kau bertanya tentang sikap ganjil yang ditunjukkan Haise beberapa hari yang lalu, maka tidak akan ada yang menjawab. Bahkan kedua adiknya juga tidak. Bukan! Bukan karena mereka tidak mau membicarakannya! Mereka justru tidak tahu jawabannya!

Kuro berjalan kembali menuju ruang tengah dan duduk di sisi yang kosong di sebelah kiri Haise. Pemuda itu sempat terkejut dengan kemunculan adiknya yang tiba-tiba. Ia lantas kembali menggeser tubuhnya agar sang adik mendapat tempat yang lebih luas.

"Kau sudah makan, Kuro? Cepat sekali!" pemuda itu tersenyum.

"Ya. Aku masih kenyang, jadi tidak makan terlalu banyak," Kuro menjawab dengan cengiran khasnya, menggaruk pipinya dengan telunjuknya, kebiasaan yang sama persis dengan Haise dan kembarannya.

"Oh, begitu. Lalu dimana Shiro sekarang?"

"Uummm... Tadi dia bilang mau langsung mandi, jadi mungkin sekarang dia berada di kamar mandi. Oh iya, bagaimana pekerjaan niisan? Apa ada masalah?" Kuro yang ingin sekali mengobrol lama dengan sang kakak akhirnya mengeluarkan pertanyaan absurd yang tidak penting, tentu saja karena si surai hitam ini sudah kehabisan topik pembicaraan.

"Yaah, pekerjaan niisan baik-baik saja. Sekarang niisan sedang libur panjang. Kau sendiri bagaimana? Apa kuliahmu baik?" pemuda itu balik bertanya, membuat Kuro berteriak gembira dalam hati dengan perhatian sang kakak. Ya, si bungsu ini memang senang sekali diperhatikan si sulung Haise.

"Kuliahku baik! Tidak ada masalah! Kampusku juga sudah masuk libur musim dingin!" Kuro menjawab dengan penuh semangat, membuat lawan bicaranya mengernyitkan alis.

"Kau pasti terkena demam musim dingin, Kuro! Sebaiknya niisan membawamu ke rumah sakit!" Haise bangkit berdiri dan bersiap menuju kamarnya untuk mengambil kunci mobil saat pergerakannya terhenti karena Kuro yang menggenggam lengannya.

"Ish, niisan kenapa sih? Aku tidak sakit!" Kuro merasa kesal sendiri.

"Kau tidak sakit?" Haise bingung.

"Aku tidak sakit, niisan! Memangnya aku terlihat seperti itu?"

"Oh, niisan kira kau sakit, Kuro! Kau tiba-tiba terlihat semangat begitu, niisan jadi takut demam musim dingin membuat otakmu eror," Haise menjawab polos sambil menggaruk pipinya dengan telunjuknya seperti Kuro tadi.

"NISAAAAANNNNNN~!" Kuro semakin frustasi, membuat Haise terkikik geli dengan tingkah adiknya. Pemuda itu lantas kembali duduk dan mengelus pucuk surai hitam sang adik.

'Kapan terakhir kali niisan bersikap seperti ini padaku? Pasti dulu okaasan senang mengelusku seperti ini juga ya? Niisan pasti memiliki sifat penyayang okaasan! Aku ingin tahu seperti apa rasanya jika okaasan dan otousan masih ada. Pasti menyenangkan tinggal bersama'

Ia memeluk sang kakak yang juga ikut memeluknya lembut sambil masih mengelus surai gelapnya, sesekali menenggelamkan wajahnya untuk menghirup aroma segar disana. Damai. Sekali lagi Kuro merasakan kedamaian dari kakaknya. Ya, kedamaian yang ia rasakan dari Shiro dan Haise selalu membuatnya tenang.

'Niisan baik-baik saja! Niisan tidak sakit! Cedera otak? Hah! Dokter itu pasti bercanda! Niisan benar-benar sehat!'

Tanpa diketahui keduanya, si surai putih mengintip mereka dari balik tembok pembatas dapur dengan senyum yang jelas terukir di bibirnya.

'Aku akan menjaga kalian. Pasti!'

XXXX

("Moshi moshi. Ada perlu apa Kuro?")

"Maaf mengganggu, Touka-chan. Apa sekarang kau berada di rumah?"

("Ya, aku berada di rumah. Ada apa, Kuro?")

"Apa bisa kau datang ke rumahku sekarang?"

("Eh? Untuk apa?")

"Aku perlu bantuanmu. Bisa kau datang sekarang? Ini sangat penting."

("Aku ingin sekali datang kesana. Tapi maaf Kuro, aku tidak bisa.")

"Kenapa? Bukankah kau ingin sekali bertemu niisan?"

("Ya, aku memang ingin sekali bertemu Haise-nii. Tapi maaf Kuro, aku tidak bisa. Aku tidak mau Shiro melihatku dan kembali menyeretku keluar.")

"Shiro tidak akan menyeretmu. Justru dia yang memintamu datang kesini."

("Eh? Kau serius, Kuro? Kembaranmu yang menyebalkan itu? Masa sih? Aku tidak percaya.")

"Aku sedang tidak bercanda. Cepatlah datang ke rumahku, Touka-chan. Kami menunggumu. Shiro juga ingin minta maaf padamu."

("Oke oke, aku kesana sekarang! Sampai jumpa!")

"Ya, sampai jumpa!"

PIP!

"Jadi bagaimana? Gadis itu akan kesini 'kan?" Shiro bertanya sambil menopang dagu di kamar sang adik.

"Ya, dia akan datang. Tapi Shiro, kau jangan bersikap kasar padanya! Aku bilang kau yang memintanya kesini untuk minta maaf, jadi tolong perlakukan dia dengan baik," Kuro melempar ponselnya diatas kasur lalu balik menatap Shiro yang menganggukan kepalanya.

"Ya sudah, kita tunggu mereka dibawah saja," dan kedua kembar itu langsung melesat menuju lantai satu.

"Kau sudah menyiapkan itu?" tanya Shiro begitu mereka duduk di ruang tengah.

"Ya, sesuai permintaanmu," Kuro meletakkan tiga buah foto diatas meja. Shiro memungutnya lalu memandangi tiap-tiap foto itu dengan detail, tak ingin sedikitpun luput dari pandangannya.

"Baiklah, kita tunggu saja dia."

Setengah jam kemudian, Touka tiba dirumah si kembar. Gadis itu menekan bel dan Kuro keluar untuk membukakan pagar. Mereka berjalan masuk. Namun begitu sampai di pintu utama, Touka berhenti. Ia melihat Shiro tengah bersandar pada daun pintu, menatap lurus padanya. Kuro yang melihatnya menepuk pundak gadis itu pelan.

"Tak apa, dia tidak marah," lalu tersenyum. Gadis itu mengangguk kemudian berjalan masuk dibelakang Kuro. Begitu melewati Shiro, Touka tersenyum kecil dan hanya dibalas anggukan singkat dari si penerima. Shiro mengikuti mereka dibelakang begitu menutup pintu dan langsung menuju dapur untuk membuatkan mereka bertiga minum.

"Jadi Kuro, ada hal penting apa?" gadis itu kini telah duduk pada sofa nyaman di ruang tengah. Kuro duduk diseberangnya. Touka mengedarkan pandangannya mencari seseorang.

"Dimana Haise-nii?" dia melanjutkan kalimatnya.

"Nanti aku jelaskan. Niisan sedang mandi, sebentar lagi dia keluar," Kuro membalas sambil tersenyum. Tak berapa lama, Shiro muncul dari dapur dengan nampan berisi tiga buah cangkir. Ia berlutut lalu membagikan ketiga cangkir itu diatas meja.

"Terima kasih," Touka tersenyum canggung.

"Ya."

Shiro langsung kembali menuju dapur. Kuro yang melihat sedikit ketidaksukaan sang kakak lantas bangkit dan menyusul Shiro setelah meminta izin dari tamunya.

"Jangan bersikap seperti itu, Shiro. Minta maaflah pada Touka-chan," ia berpesan.

"Ya, aku juga ingin melakukannya. Kau temani saja gadis itu di depan," Shiro menjawab. Kuro mengangguk lalu kembali menuju ruang tengah, mengobrol beberapa hal dengan gadis indigo itu sementara Shiro di dapur telah berkali-kali menarik nafas panjang untuk menjernihkan pikirannya.

'Santai saja, Shiro. Kau hanya perlu minta maaf, jangan terlalu gengsi. Ini demi aniki'

Setelah pergumulannya dengan kata 'gengsi' itu mereda, Shiro memberanikan diri untuk kembali ke ruang tengah. Ia berjalan mendekati sofa disana lalu duduk di tempat kosong samping gadis beriris ungu itu dengan memberi ruang diantara mereka berdua. Touka yang menyadari kehadiran Shiro disampingnya langsung beringsut menjauh.

"Kenapa kau menghindar?" Shiro bertanya dengan suaranya yang rendah, membuat gadis itu sedikit ketakutan. Kuro menatap sang kakak sengit dan siap mengeluarkan suara ketika Shiro balik memandang adiknya dengan sorot mata yang seolah mengatakan 'Let me do my job, okay?'

"Tidak. Tidak ada apa-apa," Touka membalas sembari menyunggingkan senyum tipis.

"Kau tidak banyak berbicara seperti di kampus waktu itu ya?" Shiro kembali dengan nada sarkatisnya, membuat Touka sedikit kesal.

"Sepertinya kau senang saat aku melawanmu ya?" kini Touka berani untuk menantang si surai putih. Ia justru memberikan pemuda itu senyum mengejek andalannya. Kuro yang melihat itu hanya tepuk jidat. Ternyata Touka mudah sekali tersulut emosinya.

"Santai saja, gadis sialan. Aku hanya ingin minta maaf padamu," Shiro membalas enteng dengan ekspresi tak peduli, membuat permintaan maafnya terlihat tidak ikhlas. Dan sekali lagi itu membuat adiknya kembali tepuk jidat.

"Apa?" tampaknya Touka tidak mendengarnya.

"Aku hanya ingin minta maaf, gadis sialan," Shiro mengulangnya.

"Ah, apa? Maaf, tadi saat kau bicara ada nyamuk terbang dekat telingaku jadi aku tidak mendengarmu. Bisa kau ulang?" Touka memandang si rambut putih dengan tatapan maaf. Shiro menghela nafas lalu kembali mengulang perkataannya.

"Aku minta maaf, gadis sialan."

"Apa? Kau tidak mengatakannya dengan jelas. Tadi kau bilang 'Aku minta' apa?" Touka kembali bertanya. Kuro yang mengetahui bahwa Touka sedang mengerjai kakaknya hanya bisa tersenyum geli. Sementara Shiro yang kesalnya sudah diubun-ubun menjawab dengan kesal.

"AKU MINTA MAAF! PUAS?!"

"Ya, sangat!" gadis itu menjawab bangga. Kuro akhirnya melepaskan tawa yang sedari tadi ia tahan sementara Shiro mendengus tak suka. Mereka terus tertawa sampai akhirnya berhenti karena merasa ada yang aneh dengan aura di ruangan itu.

"Eh, ada Touka-chan. Lama tak jumpa!" Haise keluar dari kamarnya, sebuah handuk kecil bertengger manis di kepalanya. Kedua tangan pemuda itu memegang handuk tersebut dan mengusapnya, mengeringkan helaian rambut basah disana.

"Niisan mendengar suara Shiro yang berteriak. Apa ada masalah?" Haise berjalan mendekati ketiganya. Dan begitu ia berdiri di pinggir sofa samping Kuro, mendadak tubuhnya bergidik.

"Apa kalian merasakan sesuatu? Uumm.. Seperti aura membunuh?" dan seketika semua mata tertuju kepada Shiro.

"Apa?" pemuda itu menatap ketiganya sinis.

"Ah, tidak ada," ketiganya berusaha tersenyum ramah. Haise segera duduk di sebuah kursi untuk satu orang disana. Ia masih mengeringkan rambutnya, membuat kaus hitam bagian pundaknya sedikit basah.

"Jadi Touka-chan, bagaimana kabarmu? Sepertinya kau banyak berubah ya?" seketika wajah gadis bersurai ungu itu memerah. Ia tidak menyangka Haise akan menanyakan kabarnya.

"Kabarku baik! Haise-nii sendiri bagaimana? Apa yang berubah dariku?" Touka menjawab dengan penuh antusias.

"Aku juga baik-baik saja. Sepertinya hari ini kau semangat sekali, Touka-chan. Persis seperti tingkah Kuro saat aku menanyai tentang kuliahnya," Haise tertawa kecil mengingat bagaimana adik bungsunya itu bersemangat saat ia bertanya.

"Niisan!" Kuro menegur kakaknya, merasa malu karena perkataan si sulung yang seperti menganggapnya masih kecil. Shiro hanya menunjukkan tampang datarnya, sama sekali tidak tertarik dengan topik ini.

"Oh, maaf Kuro," Haise hanya tertawa seperti biasa.

"Uumm... Jadi Haise-nii, apa yang berubah dariku?" nampaknya Touka masih penasaran dengan jawabannya.

"Hhmm... Apa ya? Mungkin wajahmu. Ya, wajah Touka-chan! Wajahmu sangat familiar!" Haise mengalungkan handuk putih itu pada lehernya lalu membawa jari telunjuknya tepat didepan wajah gadis indigo tersebut. Kuro yang melihat itu merasa sang kakak tidak sopan. Ia ingin sekali menegur Haise, tapi toh kakak yang satu ini memang tingkahnya seperti anak-anak. Jadi biarkanlah saja.

"Wajahku familiar?" Touka ikut menunjuk dirinya sendiri, merasa deja vu dengan kejadian seperti ini.

"Ya ya ya!" Haise mengangguk kuat.

"Dulu saat Touka-chan datang ke rumah, niisan juga bilang kalau sepertinya niisan pernah bertemu Touka-chan sebelumnya," Kuro ikut ambil bagian dalam percakapan ini.

"Nah, iya! Tapi pertanyaannya, siapa? Wajahmu mirip siapa?" Haise memasang tampang berfikir. Shiro segera mengeluarkan foto yang ia simpan dalam saku celananya lalu meletakkannya diatas meja.

"Mungkin mirip gadis ini. Aniki ingat siapa dia?" Shiro langsung to the point. Haise dan Touka nampak terkejut sementara Kuro mulai panik.

"Eh? Ini kan Touka-chan! Tapi kenapa Touka-chan berfoto denganku?"

Haise mengambil salah satu dari ketiga foto yang tersebar rapi diatas meja. Disana, difoto itu, seorang gadis berambut biru muda dengan potongan pendek tengah menggandeng lengan kanan seorang pemuda bersurai abu-abu. Si gadis memeluk sebuah boneka kelinci putih besar sedangkan pemuda disebelahnya memegang sebuah es krim. Dari background foto itu dapat dipastikan mereka sedang berada di taman bermain, dilihat dari rangkaian rangka-rangka baja besar dibelakangnya yang teridentifikasi sebagai sebuah wahana roller coaster. Keduanya tampak bahagia.

"Itu bukan aku!" Touka mengelak.

"Apa kau pernah pergi bersamaku, Touka-chan?" Haise bertanya sambil melihat foto yang lain, masih tidak percaya. Di foto kedua, nampak lima orang yang tengah berada di sebuah ruang tamu. Salah satunya adalah seorang pemuda berusia belasan tahun dengan rambut hitam legam yang sedang berlari dan menarik lengan seorang berambut cokelat berkacamata yang berada di pojok bawah foto tersebut. Hanya kepalanya saja, menunjukkan ekspresi penolakan. Tiga lainnya adalah seorang remaja dengan warna rambut putih dan ekspresi dingin, pemuda bersurai abu-abu serta gadis bersurai blue sky tadi.

"Aku tidak pernah pergi bersama Haise-nii!" Touka kembali menentang. Ia sendiri tertegun dengan gadis pada foto itu. Sungguh, gadis itu benar-benar mirip dengannya! Walau mungkin hanya berbeda pada warna rambutnya saja. Haise yang mendengar itu semakin bingung. Ia beralih pada kedua remaja yang berada di foto itu.

"Bukankah ini kalian berdua, Shiro-Kuro?" Haise menunjuk orang pada foto kedua yang menurutnya sangat mirip dengan adik kembarnya. Kuro menundukkan kepalanya.

"Ya, aniki. Itu kami," Shiro menjawab dan menatap lurus kearah Haise.

"Dan ini–" Haise menunjuk sang pemuda brunette.

"–bukankah ini Nishiki-nii?" ia berucap.

"Ya, itu Nishiki-nii," Shiro kembali menjawab sang kakak.

Haise semakin bingung. Bagaimana mungkin ia bisa bersama Touka? Kenal saja baru satu tahun yang lalu. Dan kalau dilihat dari foto ini, sepertinya sudah lama diambil. Kuro dan Shiro saja terlihat seperti remaja berusia 17 tahun. Dan ia sendiri tampak seperti pemuda setengah matang.

'Apa-apaan foto ini? Bagaimana mungkin aku bisa bersama Touka-chan? Bahkan difoto ini kami terlihat sangat dekat! Apa maksudnya?'

Haise berusaha keras mengingat sesuatu. Mungkin ada yang ia lupakan. Namun seberapa tangguh ia berusaha, tetap saja memori itu tidak datang kepadanya. Masih dengan tekad mengingat beberapa potong kenangan yang mungkin ia lupakan begitu saja, Haise mengambil foto yang ketiga. Kali ini kedua sejoli tersebut tengah berada di dalam sebuah mobil. Sang gadis mengenakan coat ungu sementara si pemuda duduk di kursi pengemudi mengenakan sarung tangan hitam. Tangan pemuda itu sedang memegangi setir dan sedikit menoleh kearah kamera yang dipegang oleh si gadis dan tersenyum lebar. Sepertinya mereka akan pergi ke suatu tempat.

"Coba kau jelaskan, Shiro. Niisan ingin mendengarmu," Haise meletakkan ketiga foto itu diatas meja dan menatap tajam adik putihnya. Kepalanya mulai terasa nyeri dan itu membuatnya mulai sedikit kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

"Apa yang harus aku jelaskan, aniki?" Shiro justru menanyai sang kakak.

"Jelaskan darimana kau dapat foto itu. Jelaskan siapa yang ada di foto itu. Dan jelaskan mengapa niisan tidak mengingat semua foto itu," nadanya meninggi, terdengar seperti memerintah.

"Aniki harus mencoba mengingatnya sendiri," Shiro menjawab tenang.

"Sudah cukup, Shiro! Kau jelaskan saja sekarang! Siapa gadis di foto itu? Kenapa niisan tidak mengingat semua kejadian di foto itu?" Haise kembali menaikkan nada suaranya lagi, dia benar-benar pusing.

"Gadis itu Kirishima-neesan, aniki ingat?" Shiro masih menjawab pertanyaan sang kakak dengan tenang.

"Siapa itu Kirishima? Kenapa wajahnya mirip sekali dengan Touka-chan?" Haise telah kembali memasuki mode normalnya, walau rasa perih di kepalanya yang tiba-tiba muncul itu belum hilang

"Menurut aniki sendiri dia siapa?" Shiro justru kembali menanyai Haise, membuat pemuda itu geram dan bangkit berdiri.

"Kenapa kau jadi melawan niisan, Shiro?! Katakan saja siapa dia! Niisan hanya ing—"

"Dia pacar niisan."

"Eh?"

"Dulu."

Touka tersentak dengan pernyataan tiba-tiba dari si surai legam. Kuro sendiri merasa tubuhnya lemas setelah mengatakan hal tersebut. Shiro masih menatap sang kakak, kini ekspresinya mulai terlihat cemas lantaran tingkah si sulung yang mulai aneh. Sementara Haise adalah orang yang paling terkejut di ruangan itu. Hening beberapa saat dan tubuhnya mulai bergetar.

"Pacar niisan? Dulu? Apa maksudmu, Kuro?" pemuda itu berusaha membuka suara, kepalanya makin terasa pening dan kakinya kini mulai bergetar hebat.

"Kirishima-neesan dulu adalah pacar niisan," Kuro menjawab pelan. Haise terlonjak. Pantas saja ia merasa ada yang aneh saat melihat Touka-chan, ternyata itu karena wajahnya mirip sekali dengan pacarnya dulu. Sekarang pertanyaannya, kenapa ia bisa sampai lupa dengan pacarnya sendiri? Lalu kemana perginya si Kirishima itu?

"Jadi, sekarang dimana gadis itu?" Haise memijit keningnya yang telah pusing sejak tadi, matanya mulai tidak fokus menatap kedua adik kembarnya. Kuro menegak ludah sebelum menjawab sang kakak.

"Akan kutunjukkan tempat Kirishima-neesan sekarang bera—"

BUGH!

To be continue...


Yosha! Chapter 3 telah diliris! Author sadar diri di chapter ini nggak ada seru-serunya. Maaf juga lama diupdate, kehidupan di dunia nyata jauh lebih rumit dan menyusahkan. Yah, namanya juga manusia... Hidup nggak akan enak kalau cuma nongol di dunia maya aja kan? :v

Sedikit penerangan kalau ada yang bingung, disini author memasukkan Touka dan Kirishima sebagai dua karakter yang berbeda, mereka berdiri sendiri. Untuk lebih paham mengenai karakteristik mereka berdua, silahkan bayangkan Touka adalah Kirishima Touka yang ada di Tokyo Ghoul (bersurai indigo) sementara tokoh Kirishima yang menjadi kekasih Haise adalah Kirishima Touka yang ada di Tokyo Ghoul:re (bersurai blue sky).

Akhir kata, semoga menghibur! Arigatou minna-san! :D