Two Sides Girl's Butler
Hai, Minna! Apa kabar semuanya? (readers: berisik!) Reihaka balik lagi nih! Ini adalah chapter ke-3 dari first ficnya Rei. Reihaka udah berusaha sebisa mungkin untuk cepat mem-publish fic ini, dan kayaknya gak terlalu lama juga,( iya kan? Iya kan? )soalnya Reihaka akhirnya punya waktu luang setelah berminggu-minggu penuh derita dan air mata(lebay). Yah… walau rada lemas karena puasa, Reihaka tetap semangat ngetik nih chapter berkat review kalian semua. Nah, udah cukup curcolnya! Sekarang, let's we reply the reviews!
ShinoZuki NiGhtFlame47
Hihihi… buat penasaran, ya?
Hiks, emang bener! Kasian bgt dia! Siapa sih, yang buat dia jadi gini? (plak!)
Siap! Saya sudah meng-update!
Trims udah mau review!
NanaMithrEe
Hohoho… Kushina itu memang bukan manusia, jadinya dia gak pantes sama Minato. Minato hanya milikku! (Kushina: *mengasah pisau daging* Kau mau mati, Author?)
Thanks a lot, nana…
Meg chan
Jangan ngilang dong, Meg chan! Nanti susah nangkepnya lagi…
Arigatou udah review!
shiho Nakahara
Gomen kalo buat bingung… tapi di chap ini dijelasin kok (kalo tambah bingung tanya aja sama Rei)
Benarkah? Benarkah? Benar-plakk- hehehe…makasih ya, udah nyemangatin Reihaka.
Yukira Mirabelle
Hai Yuki!
Ini Reihaka udah update!
Trims!
uchiha cucHan clyne
Jangan kecewa dong… disini ada penjelasannya kok.
Hihihi…nama Cu memang imut kok!(kyaaa)
Reihaka islam, kok. Kita sama-sama semangat dalam berpuasa, ya?
Thanks a lot, Cu…
Ace Sam Luffy
Di chapter ini Sasukenya udah dimunculin, tapi cuma sebentar doang…
Makasih udah review(hiks)
nupY's miE schiffer d'caSsie
iya juga, ya?(garuk-garuk kepala dgn tampang bego). Memang lebih enak sih dibacanya…
trims ya, udah ngingatin(senyum manis).
Apa? Update kilat? Kesambar petir dong. Hehehe…(bruagh!)
Ini udah ada sasunaru, walaupun Cuma dikit…
Thanks berat-errr… manggilnya apa, yah?
Chapter 3: Explanation
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Pairing: SasuXFemnaru
Rated: T
Warning: Gaje,aneh,typo(s),OOC,de-el-el.
Genre: Apa yah? Humornya sedikit,sih. Tentuin sendiri aja, deh!
Summary: Bagaimanakah jika Naruto,seorang gadis otaku tomboy dikutuk menjadi gadis berkepribadian ganda? Lalu apa yang terjadi jika seorang butler tampan nan perfect diutus untuk melayani hidupnya?
DON'T LIKE,DON'T READ!
10 years ago.
Minato menatap pintu ruangannya dengan gelisah. Dia sedang menunggu seseorang, seseorang yang amat berbahaya. Orang itu tidak segan-segan melakukan hal-hal licik untuk menyingkirkan orang yang menganggunya. Sebenarnya dia tidak sudi berurusan dengannya. Tapi masa depan kesehatan masyarakat berada di tangannya. Dan kalau dia tidak menemui orang itu, dia akan mendapat masalah.
" Selamat siang, Minato-san. " terdengar seseorang menyapanya dari balik pintu. Minato bergegas berlari ke seberang ruangan dan membuka pintu.
" Y-ya… Silakan masuk, Madara-san. " balas Minato gugup. Ini dia orang yang telah menyita waktunya beberapa bulan ini. Orang yang dipanggil Madara itu menyeringai seram.
" Tidak perlu, Minato-san. Saya kesini bukan untuk ber-negosiasi dengan Anda. " tolaknya dengan suara semanis madu, beracun.
" Oh? Lalu apa yang membuat orang macam Anda repot-repot datang? " sahut Minato tajam. Kepalanya sudah dipenuhi kekesalan akan keangkuhan sosok tua bangka di depannya.
" Wah… wah… ternyata orang berhati lembut seperti Anda bisa marah juga, rupanya? "
" Saya bukan seorang dewa. "
" Tapi saya iya, " timpal Madara dengan senyum yang membuat Mianto ingin sekali meludahinya. " Tentu Anda ingat tentang kontrak pembagian saham kita pada perusahaan medis di Kirigakure 7 bulan yang lalu? Saya menemukan hal yang aneh disana. Pembagiannya tidak sesuai dengan apa yang kita setujui. " lanjutnya dengan sorot mata yang licik. Minato ternganga sejenak.
" Tentu saja tidak sesuai! Bukankah sudah dicantumkan kalau perubahan saham itu disesuaikan oleh tingkat laba perusahaan? Kan Anda sendiri yang mengusulkan ide itu! " protes Minato cepat. Apa dia sudah sepikun ini? Masa' perjanjian yang diajukannya sendiri saja tidak ingat!
" Wah, sayang sekali Anda baru mengatakannya sekarang… "
" Siapa suruh Anda baru datang hari ini! "
" Simpan kemarahan Anda, Minato-san. Saya masih menghormati Anda. Karena itulah saya telah mengambil langkah jauh-jauh hari. " ujar Madara tenang. Dan entah kenapa, perasaan Minato menjadi tidak enak. Minato langsung paham bahwa 'langkah' yang dimaksud disini adalah 'hukuman'.
" Apa yang telah Anda lakukan pada keluarga saya? " geram Minato dengan kebencian yang sangat. Madara tersenyum senang.
" Anda sangat cerdas, Minato-san! Bagaimana Anda tahu kalau saya telah menyerang keluarga Anda? "
" JAWAB! "
" Baiklah… " ucap Madara dengan senyum licik. " Pernah dengar kisah putri berkepribadian ganda? "
" Heh? "
" Jangan seperti orang bodoh, Minato-san. Tapi saya paham bahwa Anda tidak mengerti maksud saya. Kalau begitu akan saya jelaskan kepada Anda secara singkat. Putri Anda, Namikaze Naruto, telah saya kutuk. " jelas Madara pelan dengan seringai licik yang tak kunjung hilang dari bibirnya. Keangkuhan, kelicikan, dan ketidak-prikemanusiaan mewarnai wajahnya. Mendengar itu, alis Minato langsung terangkat beberapa senti.
" Hmph, " desah Minato menahan tawa. " Anda bercanda, Madara-san? Lucu sekali! Anda pikir saya akan percaya pada ancaman picisan seperti itu? " cela Minato disela-sela tawanya. Si tua ini akan mengutuk Naruto? Hahaha… Yang benar saja!
" Silakan tertawa sepuas hati Anda. Toh, saya yang akan tertawa paling akhir nanti. Kalau begitu, selamat siang, Minato-san. Semoga hari Anda menyenangkan. " katanya sopan, lalu langsung keluar dengan tenang. Namun baru beberapa langkah dia langsung berhenti dan memutar kepalanya ke belakang, menatap Minato.
" Oh, jangan lupa memberi kabar tentang Naruto 10 tahun lagi, ya? "
End Flashback
.
.
.
Kushina menatap wajah Naruto yang terlelap dengan pandangan sedih. Perasaannya bercampur aduk. Dia merasa marah, sedih, benci, dan kecewa. Dia marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa melindungi putrinya walau dia menguasai hampir seluruh seni beladiri. Dia sedih melihat wajah Naruto yang sulit digambarkan. Dia benci pada Madara yang telah mengutuk Naruto hanya karena hal sepele. Dia kecewa pada Minato karena bagaimanapun juga, dia juga terlibat dalam masalah ini.
Kushina muak merasakan semua itu. Dia benci menjadi orang yang terlalu terbawa perasaan. Tapi apa daya, nalurinya sebagai seorang ibu mengalahkan egonya.
Air mata menggenang di pelupuk mata wanita itu. Dihampirinya Naruto yang sedang tertidur lelap dengan wajahnya yang menyayat hati.
Kushina memalingkan wajahnya, tidak sanggup menatap wajah putrinya. Terlalu menyakitkan untuk dilihat. Wajah itu menggambarkan penderitaan berkepanjangan, penderitaan yang tidak pernah diceritakan anaknya itu pada siapapun.
Diam-diam dia menyalahkan Naruto yang tidak pernah menceritakan apa yang dialaminya. Dia sadar bahwa dia merasa marah pada anak berambut kuning itu. Kenapa dia hanya diam saja? Mengapa dia selalu berpura-pura kalau tidak terjadi apa-apa pada dirinya? Padahal, kalau dia menceritakan semua yang dialaminya, tentu mereka dapat mengambil langkah jauh-jauh hari.
Tapi dia langsung tersadar kalau Naruto tidak pernah ingin membuatnya khawatir. Gadis berambut kuning pendek itu selalu ingin menunjukkan bahwa dia orang yang kuat. Naruto jarang menangis dan menceritakan masalahnya mereka, terlebih jika masalah itu masalah yang sepele.
'Aku kan, orang terkuat di Konoha!'
Mau tidak mau Kushina tersenyum pahit. Kata-kata Naruto terngiang jelas di kepalanya. Kata-kata yang sering dikatakan Naruto saat masih kecil.
" Anak ini… " gumamnya pelan sambil mengelus-elus kepala Naruto. Dan tanpa sadar dia teringat percakapannya dengan Minato di ruang bawah tanah.
" Kau sudah tahu asal mula kutukan itu,kan, Kushina? "
" Aku tahu. Madara tengik itu telah mengutuk anak kita 10 tahun yang lalu,dan inilah hasil dari perbuatannya. "
" Kalau begitu, tentunya kau sudah mempunyai perkiraan kapan Naruto terkena efek kutukan itu? ".
" Setahuku, Naruto baru merasakannya sekarang. "
" Kau salah. "
" Eh? "
" Sebenarnya, kutukan itu sudah menimpa Naruto sejak semua itu dimulai. Hanya saja, efek kutukannya masih lemah. "
" Tapi… tapi… bukannya selama ini Naruto baik-baik saja? Maksudku,walaupun dia cukup aneh untuk seorang gadis, namun bukankah baru sekarang dia mengalami perubahan seperti itu? "
" Apa kau pikir orang seperti Madara akan menunggu selama 10 tahun untuk mengutuk putri musuhnya sendiri? "
" Aku tahu kau kuat, Naruto! " seru Kushina dengan suara menahan tangis. Diremasnya pinggir seprai Naruto dengan geram. " Tapi apa salahnya kau menceritakannya pada kami! Kenapa kau tidak mengatakan pada kami kalau kau telah menderita selama 10 tahun, Anak Bodoh! " lanjutnya frustasi. Dia sendiri tidak tahu kenapa dia berteriak begini. Dia tidak tahu dia harus bersikap seperti apa. Yang jelas dia tahu bahwa dia harus menahan semua gejolak di hatinya kalau dia tidak mau semua orang yang ada di rumah ini tewas.(ngeri banget nih orang)
Kushina mencondongkan wajahnya ke wajah Naruto, menguatkan diri melihat wajah anak semata wayangnya. Dan Kushina dapat melihat dengan jelas guratan-guratan luka di sepanjang pipinya. Melihat itu, tanpa sadar jemari Kushina mengelus pipi yang terluka tersebut.
" Jangan marah pada ayahmu, ya? " lirih Kushina sambil terus mengusap pipi Naruto penuh sayang. Air matanya tak terbendung lagi dan segera menciptakan aliran sungai di sepanjang pipi wanita itu.
.
.
.
Hari Minggu.
Naruto terbangun dan menguap panjang. Dapat didengarnya bunyi tulangnya yang berderak saat ia menarik-narik tubuhnya. 'Pegal sekali…' batinnya sambil meringis kecil. Jarang-jarang badannya bisa sakit seperti ini. Biasanya hanya rahangnya yang sakit kalau dia habis berkelahi atau ditinju Kushina kalau Naruto membuat ibunya marah.
Dikerjap-kerjapkannya mata sapphire miliknya. Pandangannya agak kabur dan berkunang-kunang, seperti tidak tidur semalaman. Kepalanya pun terasa berat. Padahal dia yakin kalau dia tidur nyenyak semalam.
Eh?
Apa yang terjadi semalam ya?
Naruto langsung duduk tegak, memandang sekitarnya dengan liar. Lalu setelah dia merasa kalau tidak ada yang aneh dengan kamarnya, dia langsung memeras ingatannya. Dan…
" SIAL! " umpatnya sambil meninju bantalnya kuat-kuat. Dia… dia tidak bisa mengingat apapun! ' Apa yang terjadi tadi malam, hah? Kenapa aku tidak ingat? Kenapa hal yang terakhir kuingat hanya ketika aku memasuki kamarku? Sebenarnya apa yang terjadi? ' batinnya putus asa sambil membentur-benturkan kepalanya ke ranjang, frustasi.
GRR...
Gadis itu beranjak dari tempat tidurnya dengan lunglai sekaligus geram. Kenyataan bahwa dia sudah sepikun ini begitu membuatnya kesal. Sudah tidak pintar di sekolah, pelupa pula. Bagaimana dia bisa lulus nanti?
" HUH! " dengusnya sebal. Cepat-cepat dia memasuki kamar mandi dan membersihkan badannya. Selama mandi dia tidak henti-hentinya mengeluh. Kepalanya pusing lah, badannya pegal-pegal lah, matanya berat lah, dan segala keluhan lain yang membuatnya tampak seperti ibu-ibu yang sedang arisan. Ya, moodnya sedang jelek hari ini. Dia bahkan tidak mengenakan kaus orange kesukaannya melainkan memakai kaus hitam dan celana panjang model tentara. Rambutnya tidak disisir dan dia hanya memakai head band untuk menutupi rambut depannya yang acak-acakan. Penampilannya benar-benar seperti laki-laki!
" Selamat pagi, semuanya…" sapa Naruto malas-malasan pada orang tuanya yang sedang sarapan dan para pelayannya yang setia menunggui mereka. Lalu tanpa ba-bi-bu lagi dia langsung duduk di kursi dan menyambar sepiring nasi goreng lalu melahapnya tanpa minat.
" Selamat pagi, Tuan Naruto. " jawab para pelayan serempak, seolah sudah dilatih mengucapkan salam secara bersamaan. Naruto hanya tersenyum kecut dan melanjutkan kegiatan makannya.
Minato dan Kushina saling berpandangan dengan tatapan pahit. Mereka tahu apa yang menyebabkan Naruto seperti ini.
" Bagaimana tidurmu, Naruto? " Tanya Kushina kaku, membuat Minato menunduk dalam-dalam.
" Ba-baik… nyenyak sekali! " jawabnya berbohong dengan suara yang dibuat seceria mungkin, tidak sadar kalau itu membuat dada Minato semakin sesak. Air mata menggenang di pelupuk matanya. Dia merasa sangat bersalah. Kenyataan bahwa Naruto mengalami semua itu akibat kecerobohan dirinya sangat menyiksa batinnya.
Madara sudah memberitahukannya jauh-jauh hari. Seharusnya dia mempercayai kata-katanya dengan mengingat fakta bahwa Madara tak pernah main-main dengan ucapannya. Seharusnya dia segera bertindak atau memohon pada Madara agar mencabut kutukannya. Seharusnya saat itu dia segera pulang, memeriksa keadaan Naruto sambil berkata: 'Kau baik-baik saja, Naruto?'. Seharusnya dia melakukan semua itu! Tapi apa yang dilakukannya? Dia tertawa! Ya, dia tertawa terbahak-bahak begitu mendengar peringatan Madara. Dia tertawa tanpa menyadari kalau Naruto, putri semata wayangnya, telah mengalami hal yang paling menyedihkan sepanjang hidupnya. Dan dia, ayahnya sendiri, telah membiarkan semua itu terjadi!
' Kau tidak tahu apa-apa… '
" Oh ya, Tuan Naruto. Bagaimana pendapat Tuan mengenai menu makanan semalam? Apa Tuan suka? " Tanya Konan sopan, diikuti anggukan pelayan lain.
Naruto terkesiap. Makan malam? Apa dia sudah makan malam? Tapi dia tidak ingat pernah melakukan itu. Namun apa iya? Mustahil Konan dan yang lainnya akan menanyakan hal yang tidak dilakukannya.
Minato mendongak sejenak untuk menatap Naruto, lalu menunduk lagi.
" Dari apa yang kulihat pada diri Naruto, kutukan yang digunakan oleh Madara adalah kutukan bertipe nocturnal,yaitu kutukan yang hanya bekerja pada malam hari. Kutukan jenis ini tidak akan berdampak apa-apa pada saat matahari ada di langit, namun akan aktif pada saat bulan mulai muncul. Jadi Naruto hanya kehilangan jiwanya pada saat malam. Karena itu, mungkin kau benar kalau kau tak melihat perubahan apapun pada diri Naruto, karena dia hanya terkena efek kutukan pada saat malam hari saja. "
" Tapi, bagaimana saat makan malam? Kita tak pernah melihat Naruto seperti yang kita lihat malam ini,kan?"
" Awalnya kutukan Madara masih lemah, jadi proses nya berjalan lambat dan bertahap sehingga kita tidak melihat perubahan apapun pada malam hari. Selain itu, sebenarnya kutukan ini mempunyai efek awal dan efek lanjutan. Efek awalnya terjadi secara diam-diam. Semua itu menjelaskan mengapa Naruto tak pernah menunjukkan kejanggalan. Tapi Naruto telah mengalami efek awalnya sejak dulu tanpa kita sadari. Sejak 10 tahun yang lalu, sedikit demi sedikit dia kehilangan ingatannya… "
" Lalu sebagai efek lanjutan, barulah jiwanya menghilang. Prosesnya juga berjalan secara bertahap, sehingga kalau kutukannya itu masih lemah, jiwanya itu tidak langsung menghilang, tapi cuma memaksa keluar saja.Itu menyebabkan memori Naruto yang sudah menipis terbagi 2, yaitu memori 'siang' dan memori 'malam'. Memori siang adalah memori yang memuat segala ingatan Naruto saat matahari ada di langit,dan dimiliki oleh Naruto yang tidak kehilangan jiwa. Memori malam adalah kebalikan dari apa yang kukatakan tadi. Kesimpulannya, Naruto yang kehilangan jiwanya akan melupakan semua yang dialaminya di siang hari, sedangkan Naruto 'normal' akan melupakan semua yang terjadi pada malam hari. "
Gadis itu menatap Konan sejenak, lalu tersenyum kecil.
" Ya… sangat suka. Terima kasih, Konan. "
" Aku sudah selesai. " ujar Minato tiba-tiba. Dia yang sedari tadi menunduk langsung berdiri dan menyudahi sarapannya. Lalu tanpa berkata apapun lagi, dia langsung menyambar jaketnya dan keluar dari ruangan itu secepat kilat.
" Kenapa Otousan? " Tanya Naruto setengah berbisik pada Kushina begitu melihat ayahnya keluar. Kushina yang paham betul apa yang menyebabkan Minato bertingkah aneh hanya tersenyum miris.
" Otousan ada pekerjaan. " hanya itu yang dapat dikatakannya.
" Oh… " Naruto ber-oh ria. Dasar, mudah sekali dia mempercayai omongan orang lain!
" Kaasan, Naru harus pergi ke dojo sekarang. Ada pertemuan anggota hari ini. " ujar Naruto sambil menyilangkan garpu dan sendoknya. Yah… walaupun sangat tomboy, Naruto memiliki table manner yang baik.
" Baiklah. Tapi jangan pulang terlalu larut, ya? Kau hanya boleh pulang sebelum jam 6 sore. " kata Kushina memberikan izinnya. Naruto langsung melompat riang dan mengacungkan jempolnya.
" Sip! Naru akan pulang- HOAHMM… "
" Kau akhir-akhir ini sering menguap, Naruto. Bukankah kau mengatakan kalau tidurmu nyenyak? " Tanya Kushina tenang sambil terus memotong telurnya. Naruto yang tadi menguap panjang langsung menutup mulutnya dan menyeringai gugup.
" Hehehe… Oh, sudah jam segini. Naru harus pergi sekarang. Kalau begitu Naru pergi ya, Kaasan! Aku pergi, semuanya! " pamitnya cepat-cepat dan langsung ngeloyor pergi. Ketahuan sekali kalau dia mencoba kabur dari topik pembicaraan.
" Kau menyadarinya, kan? Kalau Naruto amat sering menguap dan tertidur akhir-akhir ini? "
" Aku sudah mengatakan padamu kalau kutukan yang menyerang Naruto adalah kutukan yang hanya aktif saat malam, bukan? "
" Ya… "
" Dan apa yang biasa dilakukan orang pada malam hari? "
" Tidur? "
" Tepat, " ujar Minato serius. " Seharusnya Naruto tidur pada malam hari. Namun karena akhir-akhir ini kutukan itu menyerang semakin kuat, jiwanya akan terus memaksa keluar sehingga Naruto mengalami banyak 'kekosongan ingatan'. Ketika itu terjadi, dia merasa kalau dia sedang tidur. Tapi dia tidak tidur, melainkan hanya terpejam saja. Karena itulah pada siang hari dia sering mengantuk karena kurang tidur. Selama ini dia masih bisa tidur karena jiwanya tidak menghilang secara total. Tapi semalam adalah saat dimana jiwanya benar-benar hilang dan ingatannya terbelah secara sempurna. Sejak tadi malam sampai seterusnya, dia tidak akan bisa tidur. Sehingga tidak heran kalau besok dia akan mengantuk. Namun itu hanya terjadi beberapa hari saja. Kantuknya akan hilang sendiri kalau dia sudah terbiasa. "
Kushina tertawa sedih. Percakapannya dengan Minato terus saja menghantui pikirannya, betapapun dia terus berusaha untuk melupakannya.
.
.
.
Wanita itu menyusuri taman belakang rumah mereka tanpa semangat. Kakinya yang panjang hanya melangkah begitu saja tanpa tahu tujuan. Inilah yang sering dilakukannya kalau dia sedang bimbang atau ada masalah yang mengganjal pikirannya. Jalan-jalan.
Ekspresi dan keadaan Naruto persis seperti yang dikatakan Minato melalui analisisnya. Semuanya tepat. Dalam hati Kushina sangat kagum akan kejeniusan suaminya, sekaligus geram dengan dirinya sendiri yang hanya bisa mendengarkan tanpa bisa mengatakan apapun. Dia hanya menjadi ibu dan istri yang tidak berguna karena kelebihannya adalah di kekuatan fisik, bukan otak seperti Minato.
Lalu apa yang bisa dia lakukan? Membiarkan Naruto tenggelam dalam kutukannya dan melihat Minato bersusah payah sendiri? Tidak mungkin! Dia ingin melakukan sesuatu, sesuatu yang dapat membantu keluarganya! Walaupun dia sadar kalau perannya sebagi seorang ibu dan istri sangat penting, tapi dia tetap ingin melakukan sesuatu yang lebih.
Tapi apa?
" Maaf, Nyonya… " terdengar suara salah seorang pelayan dari belakang Kushina. Kushina segera menoleh dan mendapati Haku sedang membungkuk hormat padanya sambil mengenggam sesuatu.
" Ada apa, Haku? "
" Anu… saya menemukan ini di perpustakaan. Sepertinya ini milik Tuan Naruto yang hilang beberapa hari yang lalu. " jelas Haku seraya menyerahkan buku kecil bewarna orange kusam dengan nama Naruto terukir di sampulnya.
" Oh, terima kasih. " ucap Kushina setelah mengambil buku itu dan mengamatinya sejenak. Lalu dia tersenyum simpul.
" Kalau begitu saya mohon diri, Nyonya. "
Kushina tidak menjawab. Dia asyik membuka-buka buku itu. Buku diari, huh? Tidak disangka gadis tomboy seperti anaknya ternyata memiliki diari. ' Sepertinya masih ada harapan untuk sembuh dari sifat kelaki-lakiannya itu' batin Kushina senang. Lalu dia mulai membaca diari yang isinya tak terlalu banyak itu.
Selasa, 8 Maret 2011
Pukul 13.00
' Aku terpilih menjadi ketua Perkumpulan Seni Bela Diri Konoha! Fiuuhh... akhirnya kerja kerasku terbayar juga. Tapi bukannya kerja keras dalam arti biasa, tapi aku bekerja keras untuk mengurangi kekuatanku saat bertanding dalam memperebutkan posisi itu. Bisa mati aku kalau membunuh peserta lain. Ini gara-gara Kaasan, sih, yang selalu melatihku angkat beban sejak dulu. Jadinya aku terlalu kuat untuk bertanding dalam kelasku…
But I Luv U, Kaasan! '
Kamis, 23 Juni 2011
Pukul 11.00
' Huahaha! Sudah beberapa minggu sejak ujian semester. Walaupun nilai Bahasa Inggrisku tertinggi di kelas(mengalahkan Shikamaru), tetap saja aku mendapat rangking 20. Hiks... apa yang akan dikatakan Kaasan dan Otousan, ya? Kalau Otousan sih, aku yakin pasti baik-baik saja. Tapi Kaasan? Membayangkannya saja aku sudah merinding.
Eh, tapi apa aku sudah mengikuti forum diskusi otaku kemarin malam, yah? Aku lupa, hehehe… Sebenarnya aku ingin menanyakannya dengan Matsuri, teman satu forumku. Tapi aku malu! Soalnya aku telah bertanya apakah aku sudah menyebarkan undangannya Selasa malam, dan dia menjawab sudah.
Tapi kok aku nggak ingat, ya? '
Sabtu, 3 September 2011
Pukul 15.00
' Aku bingung kapan aku mengerjakan PR Astronomi. Seingatku aku tidak pernah mengerjakannya, tapi kenapa Asuma-sensei mengungumkan kalau nilaiku diatas rata-rata, ya? Aku juga lupa dimana aku meletakkan baju berenda pemberian Kaasan, padahal aku sudah berencana menguburnya tengah malam. Wah, kalau ketahuan aku menyobek rendanya bisa gawat nih. Sebenarnya aku ingin menjahitnya kembali, tapi aku malah lupa letak peralatan jahitnya! '
UWAAA! Aku akan mati!
Kamis, 8 September 2011
Pukul 07.00
' Kaasan dan Otousan sudah merayakan ulang tahun pernikahan mereka tidak, ya? '
Senin , 11 Oktober 2011
Pukul 15.00
'Senangnya acara ulang tahunku berlangsung dengan meriah kemarin! Oh ya, kira-kira sejak kapan jaket orange itu ada di kamarku, ya? Kata Kaasan itu hadiah ulang tahunku, tapi kapan mereka memberikannya? Begitu aku tanya, Kaasan bilang mereka memberikannya pada saat makan malam.
Apa iya?'
' Kutukannya akan bekerja secara bertahap. Tahap pertama, Naruto sudah mulai melupakan kejadian di malam hari,tapi yang dia lupakan hanya hal-hal sepele dan dia akan mengingatnya kembali dengan cepat. Tahap kedua, dia semakin mengalami apa yang kusebut 'kekosongan ingatan' dan sulit mengingatnya kembali. Pada tahap ini efek kutukan itu semakin besar,sehingga jiwa Naruto semakin terkikis dan ingatannya juga semakin kacau.
Tahap yang terakhir adalah saat dimana jiwa Naruto sudah benar-benar menghilang dan ingatannya sudah terbelah sempurna. Dia tidak bisa mengingat apapun lagi kecuali memori ' siang ' saja atau memori ' malam ' saja. Itulah keadaan yang dialami Naruto sekarang.
Dan sialnya, kutukan ini berkembang dengan sangat cepat. Apa kau ingat bagaimana dia menceritakan tentang suatu kejadian pada saat kakinya terperosok? Dia baru saja menceritakannya, namun hanya beberapa detik kemudian dia langsung melupakan hal itu. Begitu juga dengan sinar matahari. Apa mungkin orang yang telah hidup selama 16 tahun tidak tahu apa matahari itu, sementara dia baru saja menyebutkannya? Itu membuktikan bahwa kutukan itu akan terus 'memakan' ingatannya dengan sangat cepat, sampai-sampai dia langsung melupakan memori 'siang' terakhirnya.'
' Dia tidak akan dapat merasakan apapun, Kushina. Dia tidak bisa merasa marah,sedih,gembira,kasihan,atau perasaan lainnya. Naruto hanya akan menjadi mayat hidup setiap malam. Dia akan terus hidup dalam kekosongan tanpa dasar…'
'Dan kalau keadaan ini terus berlanjut…'
'Jiwa dan ingatannya tak akan pernah kembali… '
.
.
.
Suasana di ruang keluarga itu agak berbeda. Terlalu sunyi untuk sebuah keluarga seperti keluarga Namikaze. Tidak ada yang berbicara, sehingga membuat atmosfir ruangan bernuansa merah marun itu sedikit mencekam. Minato hanya menyeruput tehnya dalam diam, Kushina mencatat pengeluaran belanja dengan tenang, dan Naruto sibuk komat-kamit membaca majalah anime. Hanya sesekali terdengar kerasak kertas majalah yang dibuka dengan kasar atau coretan pensil Kushina. Ya, sore ini seluruh anggota keluarga Namikaze sedang diam mode-on. Atau dengan kata lain, puasa bicara.
Para pelayan pun kebingungan akan perubahan mendadak ini. Biasanya saat sore rumah ini dipenuhi oleh suara teriakan Naruto atau bentakan Kushina. Terkadang terdengar pula suara keras saat Naruto meninju sand sack atau mengangkat barbel di ruang latihan pribadinya. Dan tak jarang mereka melihat secara live pertempuran Naruto vs Kushina yang bertarung dengan berbagai teknik bela diri. Suara hantaman kaki, pukulan, bantingan, dan lain-lain menemani sore-sore di rumah ini. Tapi sekarang…
" Naruto, Kushina… " terdengar suara Minato memanggil mereka di sela-sela kegiatan minum tehnya, membuat para pelayan menghela napas lega. Untung kesunyian ini tak berlangsung lama. Kalau tidak, mereka pasti mengira kalau sosok-sosok yang ada di depan mereka sekarang adalah alien.
" Hm? "
" Aku… aku akan pergi ke Suna besok. " kata Minato setelah terdiam beberapa saat. Naruto mengangkat sebelah alisnya.
" Suna? Untuk apa? " tanyanya tak perlu. Sudah pasti jawabannya karena dia ingin berbisnis bukan, Naruto?
" Otousan harus membereskan beberapa masalah disana, Naruto. Mungkin membutuhkan waktu lama, tapi Otousan akan berusaha agar masalahnya cepat beres. " jelas Minato kaku, berusaha keras tidak menunjukkan rasa gugupnya. Yah…dia jarang berbohong, sih.
" Masalah apa? " bisik Kushina begitu Naruto ber-oh ria dan kembali menekuni majalahnya. Dia langsung memberi isyarat pada para pelayannya untuk menjauh.
" Aku akan membereskan masalah kutukan itu dengan Madara. " jawab Minato tenang setelah menghabiskan seluruh isi cangkirnya. Mendengar itu, mulut Kushina langsung ternganga lebar.
" Dia ada di Suna sekarang? Kenapa kau tak mengatakannya dari dulu? " tanya Kushina tidak terima. Kalau dia tahu bahwa Madara sial itu berada di Suna yang jaraknya tak terlalu jauh dari Konoha sekarang, sudah dari tadi dia menghabisinya!
" Aku tidak mau kau membunuhnya, Kushina. " jawab Minato memberi alasan. Alasan yang masuk akal memang. Kushina yang terkadang tak mampu mengontrol emosinya bisa saja membunuh Madara dengan sekali tendangan.
" Tapi… tapi… "
" Sudahlah, " potong Minato tajam. " Ini masalah antar lelaki. " lanjutnya tanpa mengalihkan pandangannya dari Kushina, membuat wajah wanita itu langsung merona.
" Baiklah. " kata Kushina akhirnya. Minato tersenyum simpul sambil mengacak-acak rambut Kushina pelan. Syukurlah, tampaknya Minato telah berhasil menenangkan dirinya yang sempat terguncang karena kasus Naruto. Pikirannya yang semula tak mampu mencerna apapun kini sudah bisa berpikir jernih. Ya, dia telah memikirkan rencana untuk memecahkan masalah yang dihadapi Naruto. Dia juga telah mengambil langkah awal untuk rencananya ini. Rencananya agak nyeleneh, memang. Tapi dia yakin kalau itu akan berhasil walau membutuhkan waktu lama.
Dan dia membutuhkan kekuatan Kushina.
.
.
.
Naruto membuka matanya yang terasa berat dengan susah payah. Badannya pegal-pegal(lagi) dan lehernya terasa kaku. Kepalanya juga berdenyut-denyut. Sudah 2 hari dia merasa tidak enak badan saat bangun tidur seperti ini. Rasanya seperti bergadang semalaman.
" HOAHMM… " Naruto menguap panjang. Dia benar-benar mengantuk. Tapi dia tidak bisa tidur sekarang. Hari ini dia harus berangkat ke sekolah dan mengikuti rapat panitia festival kebudayaan yang akan diadakan beberapa minggu lagi. Tidak mungkin dia melewatkan rapat itu karena dia adalah ketua keamanan. Yah…sebenarnya dia tidak mau menjadi salah satu panitia. Namun apa boleh buat karena Kakashi telah memasukkan namanya ke daftar nama panitia. Dan karena dia murid terkuat di KIHS, otomatis dia langsung terpilih menjadi ketua panitia bagian keamanan. Huh! Menyusahkan saja.
Sambil menggerutu dalam hati gadis itu menurunkan kakinya dari tempat tidur dan berjalan terhuyung-huyung. Kantuk semakin menyergapnya. Dengan sekuat tenaga dia menuju westafel di kamar mandinya dan mencuci mukanya. Lalu tanpa menggosok gigi atau berkumur-kumur, dia bergegas menuruni tangga untuk menemui Minato. Anak itu ingin meminta vitamin dari ayahnya karena kondisinya kurang fit hari ini.
" Otousan! Otousan! " panggil Naruto heboh, seperti biasa.
Sunyi.
" Kaasan! Dimana Otousan? " panggilnya lagi, kali ini dengan membawa-bawa ibunya.
SIIING…
" Kemana sih, orang-orang? " gumam Naruto begitu melihat tidak ada siapa-siapa di rumahnya. Bahkan para pelayan yang biasanya sedang bekerja pun tak tampak. Apalagi kedua orang tuanya. Yang ada hanyalah tanda-tanda bahwa rumah ini telah dibersihkan sebelumnya. Semua perabotannya bersih, lantai mengkilat, bahkan tercium bau harum dari ruang makan. Namun tidak ada siapa-siapa selain dirinya.
' Pencuri? ' batin Naruto ngeri. Bergegas diambilnya tongkat golf Minato yang terletak di sudut ruangan. Lalu dengan berjinjit dia berjalan menuju ruang makan.
" HEYAAHH! "
Tidak ada orang.
' Kenapa tidak ada orang? Oh- kamarku! ' batinnya lagi dengan panik begitu melihat ruang makan juga kosong melompong. Yang hanya ada beberapa makanan cepat saji di atas meja makan. Pikirannya langsung macet begitu dia membayangkan kalau pencuri itu sedang mengaduk-aduk lemarinya dan mencuri semua komik serta koleksi DVD nya. Atau yang lebih mengerikan lagi, mencabut poster-poster karakter anime di dinding kamarnya.
…
" MATI KAU, PENCURI! "
Naruto memasuki kamarnya dengan cepat, berguling, dan berdiri tegak dengan mengacungkan pedang samurai yang diambilnya dari ruang latihan Kushina bak James Bond. Matanya bergerak waspada, mengamati setiap inci dari kamarnya. Dan betapa leganya dia ketika mendapati kalau poster-posternya masih melekat dengan aman dan semua koleksinya tidak hilang. Sepertinya pikirannya terlalu berlebihan. Mana ada pencuri masuk ke rumah sebesar ini hanya untuk mencuri barang-barangnya? Well, sepertinya lebih baik kalau dia segera menelepon orang tuanya untuk mencari tahu apa yang terjadi dari pada terus mengacungkan pedang seperti orang gila seperti ini.
" Selamat pagi, Tuan Naruto. "
"WAA! "
Naruto berteriak kaget. Lalu dengan secepat kilat dia memutar badannya dan langsung mengacungkan pedangnya ke arah sumber suara. Dan secara otomatis matanya membeliak seperti baru melihat kuntilanak dan jantungnya hampir melompat keluar ketika menyadari bahwa ada orang lain selain dirinya di kamar ini.
Seorang pria dengan wajah yang sangat tampan sedang menatap dingin padanya. Di bibirnya tersungging senyuman datar. Dia tampan sekali. Matanya hitam kelam, kulitnya putih seperti porselen, dan rambut ravennya berdiri melawan gravitasi. Tubuh tingginya yang dibalut kemeja dan jas hitam semakin menambah kesempurnaannya. Jujur, belum pernah Naruto melihat orang setampan ini. Tapi…
Tetap saja dia memasuki kamarnya tanpa izin!
" Siapa kau? " hardik Naruto kasar. Dia telah menurunkan pedangnya yang nyaris menembus jantung pria itu dan menyarungkannya kembali.
" Maaf kalau saya mengagetkan Anda, Tuan Naruto… "
" Tentu saja aku kaget! Kau tiba-tiba muncul begitu saja di hadapanku! " seru Naruto memotong perkataan pria itu. Bibirnya mengerecut, pertanda kalau dia sedang kesal. Siapa sih orang ini? Datang begitu saja seperti setan! Untung saja pedang itu tidak mengenainya. Coba kalau kena, bisa dipenjara dia karena tindakan kriminal!
" Sekali lagi saya minta maaf, Tuan. " pintanya lagi sambil membungkuk hormat dan menyilangkan sebelah tangannya di depan dada. Huh, formal sekali sikapnya! Apa dia pelayan baru?
" Ya sudah! Tapi dengan minta maaf belum tentu membuatku senang denganmu! " ujar Naruto ketus dengan gigi bergemerutuk.
" Saya mengerti, Tuan. "
" Baguslah. Sekarang kau katakan padaku, kenapa kau masuk ke kamar orang tanpa izin, hah? " tanya Naruto dengan pipi merona menahan malu. Kamarnya berantakan sekali. Seprai acak-acakan, peralatan menggambarnya berserakan di lantai, dan segala hal yang membuat kamarnya tampak seperti kapal pecah. Seolah-olah Perang Dunia Ketiga baru saja berlangsung disini. Bagaimana mungkin dia tidak malu?
" Saya mohon maaf atas kelancangan saya. Walaupun sebagai butler Tuan saya bisa memasuki kamar Anda, tentunya saya tidak boleh melupakan bahwa saya belum memperoleh izin Anda untuk memasuki kamar Tuan. " jelas pria itu dengan kalimat yang sengaja dibuat sesederhana mungkin. Tampaknya orang ini langsung tahu dari tampang Naruto kalau gadis itu tidak terlalu pintar.
SIINGG
Loading…
5 seconds remaining…
" APA? "
Sementara itu…
" Apa tidak apa-apa kita meninggalkannya sendiri begitu saja, Minato? " tanya Kushina khawatir pada Minato yang sedang menatap keluar jendela pesawat. Saat ini mereka sedang berada di pesawat dengan penerbangan pagi yang menuju ke Sunagakure.
" Apa boleh buat, Kushina. Madara mengatakan jika kita ingin bernegosiasi dengannya, Naruto harus berada sendirian di rumah. " jawab Minato santai tanpa melepaskan matanya dari awan-awan yang menggantung indah. Kushina melotot tak percaya.
" Tapi bukankah itu berbahaya? Meninggalkan Naruto sendiri tanpa pengawalan apapun atas perintah Madara? Kepalamu terbentur, ya? "bentak Kushina sambil mencengkram kerah kemeja Minato dan mengguncang-guncang suaminya dengan kasar, membuat Minato kehabisan napas. Menuruti perintah Madara yang jelas-jelas mengutuk Naruto? Yang benar saja!
" Lagipula kenapa kau juga harus memberhentikan seluruh pelayan kita? Kau pikir Naruto bisa mengurus rumah sebesar itu sendirian, heh? " lanjutnya lagi dengan nada yang semakin tinggi. Gigi taringnya berkilauan, membuatnya semakin mirip dengan drakula.
" Te-tenang saja… Aku s-sudah mengutus seseorang unt…uk mene…menema-ninya! " jelas Minato putus-putus. Mendengar itu, Kushina yang sempat berniat mencekik Minato dan melemparnya ke luar pesawat segera melepaskan cengkraman tangannya dan menatap Minato tajam.
" Siapa? " tanyanya cepat.
" Aku telah menyewa seorang butler cakap untuk melayani sekaligus melindunginya. Dan walaupun butler itu agak aneh, aku bersedia menandatangani kontrak dengannya karena kemampuannya melebihi Naruto. " jelas Minato sambil menjaga jarak dengan Kushina. Siapa tahu dia bisa mengamuk lagi.
" Agak aneh? Apa maksudmu? "
" Dia mengatakan kalau dia tidak mau dibayar olehku, melainkan oleh Naruto sendiri. "
" Ha? Apa dia sudah gila? Naruto kan belum bekerja! " protes Kushina tak terima. Orang bodoh macam apa yang minta bayaran dari murid SMA?
" Aku juga sudah berkata demikian padanya. Tapi dia mengatakan kalau dia hanya ingin dibayar oleh orang yang dilayaninya, bukan orang lain walaupun orang tua klien itu sendiri. Lagipula… dia tidak mau dibayar dengan uang. " jelas Minato dengan dahi berkerut. Tampaknya dia juga tak habis pikir dengan tingkah orang yang disewanya.
" Kalau begitu kenapa kau terima? Kan kau bisa mencari orang lain yang lebih waras? " tanya Kushina. Mendengar itu Minato hanya bisa nyengir kuda.
" Hanya dia butler yang lebih kuat dari Naruto. Kau tahu sendiri bagaimana jadinya kalau Naruto dilindungi oleh orang yang lebih lemah darinya? Lagipula kita tak punya banyak waktu untuk mencari orang lain. Waktu kita terbatas. " jelas Minato memberi alasan yang membuat Kushina mau tidak mau mengangguk juga.
" Kalau begitu, apa bayarannya? " tanya Kushina penasaran. Jangan-jangan dia minta yang aneh-aneh dari Naruto.
" Entahlah. Dia bilang dia akan memutuskannya di akhir kontrak. Tapi… "
" Tapi-apa? "
Minato menatap Kushina serius.
" Aku merasa kalau itu bukan hal yang baik. "
Back to Naruto
" Bu-butler katamu? " tanya Naruto terguncang. Tanpa sadar kakinya mundur beberapa langkah. Orang itu mengangguk.
" Kenapa, Tuan? Apa ada yang salah? "
" Ya! " seru Naruto dengan suara bergetar. " Aku tahu siapa kau dan apa maumu sebenarnya! Sebenarnya namamu adalah Sebastian Michaelis, dan kau adalah iblis yang menyamar menjadi butler! Lalu sebagai bayarannya kau akan mengambil jiwaku seperti yang kau lakukan pada Ciel, iya kan? " tuduh Naruto sambil mengacung-acungkan telunjuknya di depan hidung Sasuke.
" Bukan. Nama saya Uchiha Sasuke."
" Haah… " Naruto menghela napas kecewa. Pupus sudah harapannya untuk menjalani kehidupan persis seperti komik yang dibacanya. Padahal ini kesempatan yang bagus sekali. Apalagi wajah Sasuke beda-beda tipis dengan tokoh butler di komik Black Butler. Sama-sama stoic.
" Ya sudahlah. Kalau begitu, apa Otousan yang menyuruhmu kemari? " tanya Naruto kehilangan minat. Sasuke mengangguk.
" Benar, Tuan. Tuan Minato telah mengutus saya untuk melayani serta melindungi Tuan selama beliau dan Nyonya Kushina pergi ke Suna. " jawab Sasuke pelan. Tampangnya yang dingin dan matanya yang kelam kontras sekali dengan sikapnya. ' Sepertinya dia orang yang pendiam tapi terpaksa banyak bicara karena tuntutan pekerjaannya. ' batin Naruto.
" Oh, begitu. Memang sih aku tidak keberatan kalau ditinggal sendiri. Tapi apa susahnya meninggalkan pesan padaku? Lagipula kemana para pelayan? " gumam Naruto kesal sendiri. Orang yang bernama Uchiha Sasuke itu langsung merogoh sakunya dan menyerahkan secarik kertas padanya dengan kesopanan yang patut dipuji.
Naruto…
Kaasan dan Otousan akan pergi ke Suna untuk beberapa minggu. Kami sengaja memberhentikan para pelayan untuk sementara waktu karena akan berbahaya kalau mereka terus disana bersamamu. Tapi kami telah mengutus Sasuke untuk menemanimu sampai kami kembali. Bersikaplah yang sopan padanya, ya?
Nb: Jangan coba-coba menyentuh pedangku!
" A-aku mengerti. " kata Naruto dengan bulir besar keringat berjatuhan dari dahinya. Bayangan Kushina yang akan membakarnya hidup-hidup kalau dia mengetahui Naruto telah mengambil pedangnya membuat gadis itu mengurungkan niatnya untuk menghubungi orang tuanya.
" Lalu, apa yang akan Anda lakukan sekarang, Tuan? " tanya Sasuke membuyarkan lamunan Naruto. Bocah itu terdiam sejenak, lalu menggaruk kepalanya dengan malas.
" Hmm… Kupikir aku akan mandi. " jawab Naruto ogah-ogahan. Badannya lengket dan dia merasa gerah. Lagipula dia harus segera berangkat ke sekolah.
" Apa perlu saya bantu? " tawar Sasuke dengan bahasa sopannya. Naruto menaikkan alis.
" Bantu? Bantu apa? " tanya Naruto nggak ngeh.
" Tentu saja memandikan Tuan. " jawab Sasuke tenang, seolah tidak ada yang salah dengan ucapannya. Lain dengan reaksi Naruto yang langsung ternganga lebar.
" Hei, kau ini bicara apa? Aku bisa mandi sendiri. Kau pikir aku ini mayat yang harus kau mandikan? " bentak Naruto ketus. Tiga garis siku-siku bermunculan dari sudut kepalanya. Kurang ajar sekali dia! Belum 10 menit bertemu sudah bicara yang tidak-tidak!
" Baiklah. Kalau begitu… " Sasuke mengambil baju yang sudah terlipat rapi di atas tempat tidur Naruto dan merapikan lipatannya. " Saya akan membantu memakaikan baju Anda. "
" TIDAK! " tolak Naruto dengan suara yang mampu memecahkan kaca. " Aku-bisa-melakukan-semuanya-sendiri! Kau pergi saja dari sini! " lanjutnya frustasi. Mana mungkin dia akan menerima tawaran itu! Dia kan perem…
Ah, sudahlah.
" Saya mengerti, " akhirnya Sasuke menyerah. Diletakkannya baju itu di dalam lemari. " Saya paham kalau Tuan adalah orang yang pemalu. " sambungnya sambil mengangkat sudut bibirnya. Tersenyum sinis.
Naruto menggeram. Pemalu? PEMALU katanya? Seorang Namikaze Naruto pemalu? Hei, dia adalah orang yang paling berani di Konoha. Tidak ada kata pemalu, takut, atau sejenisnya di dalam Kamus Besar Naruto! Baginya, pemalu dan pengecut itu beda-beda tipis! Kalau di bilang 'malu' saja dia masih bisa terima. Tapi-pemalu?
Orang ini…
" Aku bukan orang yang pemalu, Bodoh! Aku tidak mau menerima tawaranmu karena aku… karena aku-yah… "
" Hm? "
Naruto menatapnya garang.
" Karena aku itu perempuan! "
UPS.
Refleks Naruto mendekap mulutnya.
Sasuke terdiam. Gerakannya langsung membeku. Walaupun wajah stoicnya itu tidak berubah, kedua alisnya yang terangkat beberapa senti cukup untuk menunjukkan kalau dia terkejut.
" Ja-jadi… Anda ini… perempuan? "
TBC
Fiuhh…akhirnya selesai juga chapter ke-3 nya. Kepanjangan kali, ya? Terus penjelasannya juga bertele-tele, jadinya Reihaka yakin kalau readers tambah bingung n bosan bacanya (hiks). Rei nggak bisa buat explain-nya sih… so, kalau readers pengen tanya sama Rei soal penjelasannya, tanya aja. Trus Reihaka juga butuh saran dan kritik para readers, atau tips gimana cara buat penjelasan yang bagus.
Oh ya! reihaka minta maaf kalau SasuNarunya sedikit, soalnya udah kepanjangan. Karena itu, Rei bakal kasih bocoran untuk chap depan, nih.
Ok, check this out!
" Apa yang kau lakukan disini, Sasuke? " seru Naruto syok berat. Untuk apa Sasuke mengikutinya sampai sekolah? Pakai seragam pula!
" Sebagai butler Anda, saya akan melayani dan melindungi Anda kapanpun dan dimanapun, termasuk di sekolah. Karena itu saya mendaftar menjadi murid disini, dan berhasil sekelas dengan Anda. " jelas Sasuke dengan sudut bibir terangkat, puas dengan ekspresi Naruto yang seakan-akan baru melihat jin.
" Aku paham itu. Tapi kenapa kau juga mengikutiku sampai toilet, hah? "
RnR, please… ^_^
