Maaf ya~ lagi-lagi aku telat ngepost chapter baru padahal tadinya aku mau usahain ngepost seminggu sekali, ini gara-gara wifi rumah sempet error kemarin-kemarin T_T Makasih ya buat yang sudah setia ngereview ceritaku ini :D aku baca review kalian dan juga PM yang bertanya "kenapa NaruHina nya sedikit?" oh itu udah direncanain kok haha... pairing utamanya udah pasti NaruHina jadi seiring berjalannya cerita ini moment NaruHina pasti makin lama makin banyak hehe lagi pula meskipun terkesan Hinata yang pemeran utama tapi nantinya Naruto juga akan memenuhi cerita ini... oke deh sekian dulu pesan dari ku... :)

Tittle : Sparkling Secret

Disclaimer : Naruto © Masashi Khisimoto

Story : Keishouta

Pairing : NarutoXHinata, etc

Rate : T

Warning : Typo everywhere, Gaje, Super OOC, Bahasa Tidak Baku

Genre : Fantasy, Friendship, Romance

Selamat Membaca ^^~

Harusnya di hari minggu ini merupakan hari yang paling bahagia bagi Hinata karena sudah bisa pergi ketaman hiburan yangbernama Toshimaen Amusement Park, letaknya di Nerima, Tokyo yang lagi terkenal-terkenalnya itu -biasanya dilarang berpergian oleh ayahnya- juga bisa bermain dengan makhluk paling cute sedunia alias Naruto kecil akan tetapi dia sedikit kesal karena Sasuke juga ikut bersamanya. Hinata kira Sasuke hanya sekedar mengantarnya saja eh ternyata dia malah ikutan naik wahana apapun yang Hinata dan Naruto mainkan. Dari rumah kaca, rumah hantu, kereta kuda hingga istana boneka yang sama sekali tidak cocok dengan image Sasuke tetap saja dia ikut serta. Ya kalau cuman bermain bertiga sih masih wajarlah bagaimana pun berkat Sasuke juga Hinata bisa mendapatkan izin dari ayahnya untuk ketaman hiburan tapi ini banyak yang menatap mereka bertiga dikala mereka berjalan bersama dimana Hinata menggenggam tangan kanan Naruto kecil dan Sasuke menggenggam tangan Naruto kecil yang satunya, memangnya mereka badut apa ditatap-tatap seperti itu!

"Waah keluarga yang harmonis." Ujar salah satu orang yang melewati mereka juga anggukkan setuju dari teman-temannya. Inilah yang Hinata tidak suka, setelah menatap-natap ada juga yang bilang seperti itu sehingga membuat wajah Hinata langsung menjadi cemberut tuh cemberut banget.

The hell! Keluarga katanya? Put your eyes on bro! Hinata itu masih muda kali mana mungkin dia sudah berkeluarga, sama Sasuke lagi. Hinata langsung memberikan death glarenya sehingga orang-orang tersebut lari ketakutan.

Bagaimana reaksi Sasuke? Tentu saja dia tersenyum-senyum sendiri dan itu sangat membuat Hinata risih. Hinata menjadi kesal sekaligus jengkel, bukannya Sasuke mengklarifikasikan kalau mereka bukan keluarga pada orang-orang itu malah dia malah diam saja.

"Huh ayo kita duluan Na-chan!" Hinata langsung menggendong Naruto kecil untuk berjalan cepat tanpa diketahui Sasuke yang tersenyum sendiri atau mungkin Sasuke sambil menghayal hingga tidak menyadarinya.

"Eh, Hinata tunggu!" Sasuke yang tertinggal, sambil berteriak memanggil nama Hinata segera menyusul, jaraknya sudah sedikit jauh tertinggal karena pasti memikirkan hal yang tidak-tidak.

"Suara itu?"

"Kyaa itu suara sexynya Sasuke-kun!"

"Kyaa benar itu Sasuke-kun!"

Entah ini hari keberuntungan atau hari sial bagi Sasuke karena kebetulan para fangirl Sasuke disekolah yang kebanyakan gadis-gadis seangkatannya sedang berada disini juga. Hampir seluruh siswi kelas satu bermain di taman hiburan ini, mereka janjian atau memang sudah merencanakan pergi kesini untuk bertemu Sasuke? Kalau sudah direncanakan bagaimana mereka bisa tau jika hari ini Sasuke akan ke sini? Author sendiri juga gak tau haha!

Mereka yang jumlahnya hampir ratusan berlarian menuju Sasuke. Sang idola sekolah menatap horror ke arah fangirl-fangirl setianya kemudian dia berlari menjahui mereka secepat kilat. Suara "Kyaa Kyaa" dari mereka terdengar hampir keseluruh area ditaman hiburan ini, bahkan yang masih berada di stasiun kereta khusus Toshimaen Park pun bisa mendengarnya dengan jelas hingga mereka sweatdrop berjamaah. Memang disini diselenggarakan konser artis terkenal apa hingga teriak kencang begitu?

"Hinata! Lari!" Sasuke berlari melewati Hinata, sontak Hinata membalikkan badannya. Seperti hal nya Sasuke, Hinata pun langsung menatap horror melihat kerumunan gadis-gadis dengan mata berbentuk heart berlarian kearahnya karena Sasuke tepat berada dibelakangnya.

"Hwaaaa!" Sambil memeluk Naruto kecil, Hinata ikut berlari dibelakang Sasuke. "Kenapa aku juga jadi ikutan dikejaaaaaaar!" Dalam pelukan Hinata, Naruto kecil hanya melihat gerombolan gadis yang berlarian ke arahnya dengan tatapan tidak mengerti.

"Celam." Gumam Naruto kecil dengan suara pelan.

O_O O_O

Setelah naik roller coaster Sakura yakin kalau wahana di taman hiburan bukan mainan yang cocok baginya. Jangankan roller coaster, bianglala pun yang hanya berputar keatas kebawah dengan pelannya sukses membuat Sakura pucat pasi karena dia ketakutan.

"Haaah kau payah Sakura, begitu saja ketakutan! Hahaha." Kiba tertawa terbahak-bahak sampai perutnya kesakitan karena ini pertama kalinya dia melihat orang yang naik wahana seperti bianglala saja sudah menjerit ketakukan, padahal bianglala sama sekali gak menakutkan. Kiba rasa anak bayi sekalipun tidak akan menangis jika hanya naik bianglala.

"Ya, maaf deh aku kan gak begitu mengerti permainan ma-" Baru saja Sakura ingin melanjutkan ucapannya tapi cepat-cepat Gaara membungkam mulut Sakura, Gaara tau persis apa yang akandia katakan.

"Ma-?" Kiba hanya kebingungan dengan kata-kata terakhir Sakura sedangkan Shikamaru hanya menatap mereka dengan malas.

"Maksud Sa-sakura permainan ma...ma...mahal! Ya kan Sakura?" Gaara sedikit memperbaiki kata-kata Sakura, apa jadinya jika Sakura bilang 'gak begitu mengerti dengan permainan manusia?' Bisa-bisa Sakura disangka orang hutan yang biasa tinggal di hutan hingga tidak mengerti hal yang seperti ini atau mungkin disangka alien dari planet lain lagi!

"I-iya itu kok maksud ku hehe." Sakura mengangguk-anggukkan kepalanya, Sakura dan Gaara sweatdrop berbarengan.

"Hoam, mendokusai." Setelah kata-kata tadi yang terlontar dari Shikamaru, mereka berempat berjalan untuk menaiki wahana yang lain akan tetapi langkah mereka berhenti karena didepan mereka berlarian segerombol gadis yang berteriak "Kyaaa Kyaaa". Istilah kata seperti mobil yang menunggu kereta berjalan didepannya karena gerombolan gadis yang berlarian itu panjangnya pakai sekali.

"I-itu bukannya siswi seangkatan kita ya?" Tanya Sakura pada ketiga pemuda lainnya. Mereka bertiga hanya menggangguk karena sempat shock, bagaimanapun juga ada segerombolan gadis yang mereka kenal itu melewati mereka dengan suara yang amat berisik. Mereka yakin kalau di sini juga ada Sasuke karena yang berlarian tadi itu fangirl-fangirlnya Sasuke.

"Hai semuaaaa~" Sapa seseorang dengan suara nyaring yang khas.

"Loh Ino?" Kata Gaara sambil menatap Ino. "Kenapa hanya sendirian? Mana Karin dan anggota klub sepak bola yang lainnya?" Lanjutnya.

Hari minggu ini merupakan hari-hari bebas terakhir karena setelah ini mereka akan menghadapi ujian tengah semester, juga di bulan desember nanti akan ada ujian akhir karena itu Shikamaru sang ketua klub sepak bola mengadakan acara pergi ke taman hiburan untuk refreshing bagi semua anggota klubnya maupun manejernya. Bagaimanapun juga mulai hari senin semua kegiatan klub di sekolah diberhentikan sementara karena jam pelajaran akan ditambah agar semua siswa-siswi fokus dalam persiapan ujian akhir.

"Karin tidak bisa datang, dia ada acara keluarga kalau anggota tim yang lainnya aku gak tau. Ku kira kalian yang bareng anggota lainnya." Ujar Ino.

"Mereka seenaknya saja! Mendokusai." Sambil menguap Shikamaru berjalan sambil menopang kepalanya pada kedua tangannya, yang lain pun memutuskan untuk mengikuti sang kapten.

Disaat yang lainnya berjalan, Sakura hanya terdiam diam tidak mengikuti yang lainnya. 'Gaara menatap Ino dengan tatapan itu... Seperti tatapan orang... Yang sedang jatuh cinta.' Batin Sakura sambil menunduk kemudian dia berbalik meninggalkan yang lainnya tanpa sepengetahuan mereka.

O_O O_O

"Ooi yang didepan minggir!" Teriak Sasuke. Entah sudah berapa orang yang hampir Sasuke tabrak, Sasuke sendiri bingung kenapa tadi taman hiburan ini tidak terlalu ramai tapi sekarang jadi ramai begini sampai-sampai susah bergerak.

Sasuke berlari diikuti Hinata yang menggendong Naruto. Sumpah, sebenarnya nafas Hinata sudah tidak kuat ditambah kakinya mulai merasa pegal dan lelah tapi mau bagaimana lagi, lebih baik dia berlari sampai pingsan daripada tertangkap fans-fansnya Sasuke yang lama-kelamaan malah menatap Hinata dengan penuh hawa membunuh.

"Ini lagi author! Kalau kau mau men-shoot gambarku kau harus lari lebih cepat! Mereka jadi tau posisiku karena kau larinya paling lambat!" Marah Sasuke karena dari tadi para gadis yang mengganggunya itu selalu mengetahui posisinya meskipun telah bersembunyi karena author yang selalu mengikutinya ini gerakannya lamban sekali.

"Ma-maaf! Aku kan bawa-bawa kamera besar ini, berat tau." Kata sang author dengan polosnya sambil menyodorkan kamera besar yang sedari tadi dipakainya untuk merekam gambar selama cerita ini berlangsung.

"Sini biar aku yang bawa, masa cowok bawa beginian aja keberatan sih." Akhirnya Sasuke yang mengambil alih kamera tersebut untuk membawanya. Mereka bertiga kembali berlari tapi kemudian sang author berhenti dan otomatis yang lain pun berhenti sambil memandang author keheranan.

"Ada apa lagi?" Tanya Sasuke, demi apapun ini author nyusahin banget! Udah dibawain kameranya masih aja brenti-brenti dijalan.

"A-ano, kalau kamu yang pegang kamera itu bagaimana cerita ini bisa berlanjut? Kalian kan pemerannya jadi harus aku yang pegang bukan?" Mereka bertiga (Sasuke, Hinata, Naruto) akhirnya diam sebentar untuk mencerna kata-kata sang author.

"Benar juga ya." Kata Hinata dan Sasuke bersamaan sedangkan Naruto hanya mengangguk-angguk. "Ah sudahlah yang penting kita lari dulu! Kalau sudah amat baru lanjut diskusinya." Lanjut Sasuke, yang lain mengangguk setuju.

"Sasuke-sama! Cepat pergi! Biar mereka kami yang hadapi." Tiba-tiba muncul gerombolan pemuda yang membuat barricade untuk menghalangi fans-fans Sasuke.

"A-arigatou." Sasuke sangat bersyukur ternyata pemuda-pemuda itu merupakan teman seklubnya di sekolah yaitu klub sepak bola.

Mereka memanggil Sasuke dengan embel-embel Sasuke-sama karena mereka merupakan penggemar Sasuke. Jangan salah sangka dulu, mereka menjadi penggemar/fanboy Sasuke bukan karena fisik Sasuke yang bisa dibilang 'hampir' sempurna karena bagaimanapun mereka itu juga Laki-laki kan. Mereka itu sangat mengagumi Sasuke karena keahlian Sasuke dalam bermain sepak bola yang posisinya sebagai striker itu patut diacungi jempol. Bukan hanya larinya yang kencang, tapi staminanya yang bagus dan tidak terhitung lagi berapa banyak gol yang dia cetak hingga klub sepak bolanya bisa membawa nama baik sekolahnya ke seluruh kota.

"MINGGIR! Dasar penghalang." Seru para fangirl Sasuke yang terhalang oleh pemuda-pemuda yang juga temannya di sekolah itu. Mereka memasang wajah yang sangat menyeramkan ketika sosok Sasuke yang berlari di ikuti Hinata mulai menghilang. Bagi mereka Hinata merupakan saingan berat karena desas-desus tentang hubungan Hinata dan Sasuke merupakan gosip yang paling hot disekolah. Mereka akan melakukan apapun agar Hinata bisa menyingkir dari Sasuke tanpa mereka tau kalau Hinata dan Sasuke itu tidak ada hubungan apapun kecuali hanya sebatas teman. Jika memang ada apa-apanya dengan hubungan mereka pun itu pasti hanya harapannya Sasuke.

jadi? Disini siapa yang nasibnya sungguh miris? Hinata yang dikambing hitamkan, apa Sasuke yang cintanya bertepuk sebelah tangan? Hahahaha.

"Tidak akan kami biarkan kalian mengganggu Sasuke-sama!" Seru para fanboy tidak mau kalah. Mereka rela mengorbankan diri mereka demi keselamatan Sasuke. Jika Sasuke sampai kenapa-kenapa bisa gawat tim sepak bola mereka.

"Bla bla bla bla bla" Akhirnya terjadilah perang mulut antara fangirl yang bersikukuh ingin dekat-dekat dengan idolanya dan fanboy yang ingin idolanya aman dari gangguan para fangirl. Beretabaran lah urat-urat kemarahan dimana-mana. Para pengujung lain yang tidak tahu apapun sampai kerepotan menghindar dari tebaran-tebaran urat kemarahan, karena jika sampai kena gak lucu juga kan mereka jadi ikutan marah-marah.

"Loh ternyata kalian disini?" Shikamaru cs yang tidak sengaja melihat kerumunan teman-teman sekolahnya dimana yang cewek-cewek merupakan teman seangkatannya dan yang cowok-cowok juga teman seangkatannya sekaligus anggota tim sepak bolanya.

"Kapten tolong kami. Mereka ingin mengganggu Sasuke sama!" Seru para cowok yang tetap dalam posisinya menahan para cewek.

"Bohong! Kami tidak mengganggu Sasuke kok. Kami hanya ingin dekat-dekat dengannya!" Protes para cewek.

Kiba hanya melongo melihat pemandangan didepannya. Tampak seperti para polisi yang bertahan terhadap amukan para zombie demi mempertahankan hidup mereka. "Hii seram." Kiba jadi merinding sendiri. Kenapa juga tiba-tiba ada bayangan seperti itu, mungkin ini gara-gara kiba kebanyakan main game yang berjudul Resident evil. Haha dasar kiba si gamer!

"Apa! ada Sasuke-kun? Dimana? Dimana?" Ino yang excited mencari-cari keberadaan Sasuke yang sekarang entah ada dimana tetapi hasilnya nihil.

Gaara menggeleng-gelengkan kepalanya dan menaikkan bahunya. "Dasar Sasuke, susah juga ya jadi idola sekolah."

O_O O_O

"Hah..haah..haah."

Suara apakah itu? Jika kalian sedikit lebih teliti kalian akan bisa melihat seorang gadis, pemuda dan anak kecil diantara stand-stand suvenir khusus mainan anak-anak. Ternyata itu suara Hinata yang sedang mengatur nafasnya, jantungnya hampir lepas dari tubuhnya, keringatnya terus mengalir dan rambutnya sedikit tak beraturan.

Hinata? Ada, Sasuke? Ada, Naruto? Ada, lalu kemana sang author? Tentu saja sedang sibuk menggambil rekaman gambar para pemeran, sudahlah gak penting juga ngebahas author. Author yang malang! Haha.

"Maaf Hinata kau jadi kerepotan gara-gara aku. Kau pasti haus ya, akan kubelikan minuman ya." Kata Sasuke dan mendapat anggukan dari Hinata tanda dia setuju.

Sesaat setelah Sasuke pergi Hinata mengelus pelan kepala Naruto kecil yang sedang berdiri sambil menatap wajahnya. "kamu pasti masih ingin bermain ya Naru-chan?." Naruto kecil mengangguk pelan. Hilang sudah rasa lelah dalam tubuh Hinata dikala melihat Naruto kecil yang menganggukkan kepala dengan wajah polosnya. Sumpah cute abis!

"Yosh! Ayo kita bermain lagi." Kata Hinata dengan ukiran senyuman diwajahnya, dia juga mengepal tangannya dan diangkat tinggi-tinggi. Tapi tiba-tiba ponsel Hinata berdering.

Suara lantunan piano.

Hinata yang tadinya bersemangat langsung terdiam dengan mimik wajah yang sendu. Hinata tidak akan melupakan suara piano yang berasal dari ponselnya ini.

Ibunya...

Suara lembut piano tersebut merupakan lagu yang biasa dimainkan ibunya. Tanpa sepengetahuan ibunya, Hinata merekam ketika ibunya memainkan piano tersebut untuk dijadikan ringtone khusus ketika sang ibunda menghubunginya. Tapi sekarang...

Sang ibunda telah tiada..

Sekarang Hinata memasang ringtone itu tersebut sebagai alarm penanda bahwa jam sekarang, hari ini, 8 tahun yang lalu, ibunya telah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya. Hinata segera menggendong Naruto kecil dan berlari sekencang-kencangnya sambil menahan air matanya.

Ditengah ramainya keributan yang disebabkan fanboy/girlnya Sasuke, Gaara masih terdiam dan sweatdrop melihat perilaku teman-temannya yang terkesan kekanak-kanakan itu. Tidak sengaja matanya menangkap sosok seorang gadis dengan rambut lurus kebiruan berlari sambil menggendong anak kecil. 'Loh bukankah itu Hinata?' Batinnya, tapi Gaara merasa ada yang salah. Ada sesuatu yang menganjal perasaannya. 'I-ini bukankah tekanan kekuatan sihir? Te-tekanan sihirnya besar sekali, aku belum pernah merasakan tekanan kekuatan sihir yang sebesar ini' Gaara terbujur kaku sambil sedikit gemetar, tubuhnya tidak bisa digerakkan, tetapi matanya terus mengikuti langkah Hinata berlari sampai sosok itu menghilang dari penglihatannya.

"Ada apa Gaara?" Tanya Shikamaru yang melihat temannya itu memasang wajah yang aneh. Gaara hanya menggeleng pelan menandakan kalau tidak ada apa apa. Meskipun begitu Shikamaru masih menatap Gaara sedikit curiga.

Setelah sadar dari lamunannya karena teguran dari Shikamaru, Gaara mengalihkan pemandangannya ke arah teman-temannya. Sepertinya tidak ada yang menyadarinya. Ya, memang tidak ada yang menyadari tekanan sihir tersebut karena hanya sesama penyihir yang bisa merasakannya. 'Se-sebenarnya tadi itu apa?'

O_O O_O

Sakura berjalan sambil tertunduk lesu. Baginya Gaara memang sudah berubah. Gaara yang dulu sangat perhatian padanya, Gaara yang dulu sangat protektif padanya sekarang sudah menghilang entah kemana. Sosok Sakura yang merupakan teman baiknya sudah tergantikan oleh sosok teman-teman barunya. Tidak ada yang lebih menyakitkan dibanding kehilangan teman baik hanya karena teman baik kita memiliki teman baru.

Ino..

Sakura memang anak yang termasuk polos dibanding remaja-remaja seusianya tapi Sakura tau tatapan Gaara terhadap Ino itu sangat berbeda dengan tatapan Gaara terhadap teman-temannya yang lain termasuk Sakura. Tatapan itu sungguh mendalam seperti tatapan orang yang sedang jatuh cinta.

'Ada apa ini? Kenapa dadaku terasa sakit dan sesak?' Sakura tidak tahu kenapa tiba-tiba dadanya terasa seakan tertusuk oleh hujaman tombak, tidak ada luka sedikitpun tapi kenapa rasanya sungguh sakit seperti darah terus mengalir dari dadanya. Apakah Sakura cemburu karena sekarang Gaara mendapatkan sosok teman baru, teman yang mengantikan dirinya? Atau apakah Sakura merasa cemburu karena sepertinya Gaara menyukai Ino?

Sakura duduk disalah satu kursi yang tersedia sambil memasang wajah yang hampir menangis, dia melirik kesebelahnya ternyata ada seorang pemuda yang wajahnya datar sambil memandang layar ponselnya. Wajahnya memang datar akan tetapi Sakura yakin mata pemuda itu menatap layar ponselnya dengan tatapan kosong.

"Sasuke-kun?" Setelah diperjelas ternyata pemuda itu adalah Sasuke. Sasuke hanya memasang wajah dengan penuh tanya ke Sakura. Sakura sedikit mengendus bau Hinata di sekitar Sasuke, waduh memang Sakura itu anjing apa ya? Penciumannya tajam sekali! Pasti karena sering bergaul dengan Kiba. "Wah kamu sedang kencan dengan Hinata-chan ya?"

Sasuke agak terkejut mendengarnya, tidak perduli sih Sakura bisa tau dari mana dia kencan dengan Hinata toh pasti dia salah satu penggemar Sasuke sampai mengetahui hal itu. Sasuke memandangnya dengan wajah datar, kenapa Sakura tidak bereaksi seperti fansnya yang lain? Teriak atau heboh gitu? Apa jangan-jangan Sakura bukan penggemarnya?

"Hn" Balas Sasuke singkat sambil menganggukkan kepalanya sekali.

"Lalu kenapa kamu bersedih? Bukannya berkencan dengan orang yang disuka itu harusnya bahagia ya?" Sakura tidak mengerti kenapa tadi tatapan Sasuke begitu kosong. Sakura pernah beberapa kali melihat Sasuke dan Hinata berjalan bersamaan disekolah, juga dia pernah mendengar gosip dimana Sasuke dan Hinata itu sudah jadian. Harusnya senang bukan bisa kencan dengan pacarnya sendiri tapi kenapa Sasuke tampak bersedih?

Sasuke masih memandang Sakura datar kemudian dia memalingkan wajahnya. "Aku memang berkencan dengannya tapi tidak dengan hatinya." Mungkin cerita dengan Sakura bukanlah hal yang buruk. Sasuke sebelumnya tidak pernah berhubungan dengan gadis manapun selain Hinata, tapi kali ini hatinya ingin sekali berbagi sedikit penderitaanya supaya lebih lega walaupun Sakura merupakan gadis selain Hinata lagi pula tampaknya Sakura benar-benar bukan fansnya. Sasuke menyodorkan ponselnya agar Sakura bisa melihatnya, isinya pesan singkat dari Hinata yang menyatakan dia harus pergi kesuatu tempat. Sakura mengerutkan dahinya untuk mendapat jawaban sebenarnya apa yang terjadi dari Sasuke. "Dia selalu seperti itu, pergi menjauh dariku. Aku selalu berusaha untuk mendapatkan hatinya tapi hatinya itu seperti mengunci dirinya sendiri agar aku tidak bisa membukanya... Walaupun hanya sedikit saja." Sasuke memasukkan ponselnya kedalam kantung celananyanya dan menatap lurus kearas orang-orang yang berlalu-lalang di depannya seakan mereka merupakan objek yang menarik.

Sakura hanya terdiam tidak bisa berkata apapun. Yang dialami Sasuke sama persis dengan apa yang dialaminya saat ini. Jangankan membantu Sasuke, membantu dirinya saja menghapi masalahnya sendiri pun dia tidak bisa. Akhirnya mereka hanya menatap lurus kedepan dalam diam dan tenggelam pada pikirannya masing-masing.

O_O O_O

Berkali-kali Hinata menghubungi ponsel ayahnya tetapi tetap tidak ada jawaban sama sekali, mungkin saja ayahnya sedang sibuk dengan pekerjaannya sampai tidak sempat menjawab panggilan dari putrinya sendiri. Hinata memandang langit senja yang berwarna jingga, menandakan matahari akan segera tenggelam dan akan berganti malam. Surai Hitam kebiruannnya sedikit tertepa oleh sejuknya angin musim gugur disore hari. Dalam diam Hinata meneteskan air matanya, Naruto kecil yang dipeluk Hinata menatap keatas hanya bisa melihat wajah Hinata dengan butiran bening yang berjatuhan mengenai kepala Naruto kecil.

Seluruh tubuh Naruto kecil memancarkan cahaya keemasan. Hinata tidak memperdulikan itu sama sekali, yang saat ini dia butuhkan adalah seseorang yang bisa memberikannya pelukan dan sentuhan yang hangat agar hatinya yang rapuh ini bisa sedikit lebih kuat.

Sosok Naruto yang terus dipeluk Hinata perlahan berubah menjadi sosok Naruto yang remaja. Hinata terus memeluk Naruto hingga sekarang kepala Hinata terpendam diperut Naruto.

"Jangan menangis Hinata-chan." Hinata segera mendongakkan kepalanya keatas dan mendapati wajah Naruto yang menatapnya sedih. Naruto berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Hinata. "Aku mohon jangan menangis." Mendengar tuturan lembut dari Naruto membuat Hinata tidak sanggup lagi menahan air matanya agar tidak keluar. Naruto segera memeluk Hinata dalam dekapannya, dia tidak mau melihat Hinata tampak menderita seperti ini.

"Hiks... Aku ti-tidak kuat lagi Naruto... Aku.. Hiks.. Aku rindu kehidupanku yang dulu." Hinata yang biasa mempunyai image yang tegar dan kuat sekarang terlihat tidak jauh seperti kapas yang mudah diterpa angin. Hinata tidak mengerti kepada perasaanya sendiri, kenapa dia yang selama ini bisa menahan penderitaan yang dia hadapi sekarang dengan mudahnya pertahanannya runtuh ketika berada didekat Naruto. Padahal dia belum mengenal Naruto lebih jauh. Tapi kenapa? Kenapa sosok Naruto itu seperti sosok yang Hinata rindukan?

O_O O_O

"Tadaaam teh hijaunya sudah jadi!" Seru Naruto dengan semangat menyediakan dua gelas teh Hijau di atas kotatsu. Setelah Hinata tampak tenang, Naruto telah membawa Hinata pulang ke apartemennya.

"Arigatou, Naruto-kun." Hinata tersenyum kemudian sedikit meminum tehnya yang hangat.

Karena tidak tau apa yang ingin dibicarakan, Naruto hanya memandang tehnya dalam diam. Naruto tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada Hinata karena dia tidak memberitahukan apapun masalahnya pada Naruto. Hinata hanya diam. Naruto tertawa miris dalam hatinya, Naruto itu hanya orang asing bagi Hinata jadi mana mungkin Hinata mau berbagi masalahnya pada orang asing.

"Hari ini.. Hari peringatan kematian ibuku..." Naruto yang tadinya menatap tehnya segera menatap Hinata tidak percaya. Apakah ini hanya mimpi? Hinata mau bercerita padanya?. "Delapan tahun yang lalu ibuku kecelakaan karena tertabrak mobil sejak saat itu aku selalu merasa kesepian. Berkali-kali aku merasa iri pada teman-teman ku yang medapat kasih sayang dari ibu mereka, berkali-kali juga aku merasa hampa karena tidak ada lagi sosok yang menjagaku, melindungiku, menyayangiku..." Mata Hinata tampak masih bengkak akibat dia menangis tadi. "Tiga tahun kemudian ayah menikah dengan Ms. Yamanaka, tidak hanya mendapat ibu baru tapi aku juga mendapat saudara juga..."

"Ino?" Potong Naruto.

"Hmm." Hinata menganggukkan kepalanya. "Meskipun aku memiliki mereka tetap saja aku merasa kesepian, bagiku hanya ibu yang bisa mengisi kekosongan dalam hatiku." Hinata menggigit bibir bawahnya. "Setelah menikah lagi ayah tampak berubah, kasih sayang terhadapku seakan menghilang tertelan oleh kehadiran dua orang itu. Tadinya ayah selalu ada waktu untuk pergi ke pemakaman ibu minimal sebulan sekali tapi lama kelamaan kami hanya mengunjungi makam ibu setahun sekali, hanya pada saat peringatan kematian ibu saja. Tapi.. Sekarang... Sekarang ayah sama sekali tidak ada waktu... Hiks." Lagi-lagi Hinata kembali menangis.

Naruto benar-benar merasa dadanya sesak setiap kali melihat Hinata menangis. "Jangan khawatir, ada aku disini." Dia memeluk Hinata yang masih menangis, ada jeda sebentar sebelum akhirnya Naruto melepaskan pelukan mereka. Naruto menatap mata Hinata dengan tatapan yang tulus, kemudian dia menghapus air mata Hinata dengan kedua ibu jarinya. "Jangan menangis lagi ya."

Hinata mengangguk pelan sebelum dia merebahkan kepalanya di paha Naruto. Naruto agak terkejut tetapi dia lebih memilih membiarkan Hinata yang tertidur disana. "Sebentar saja Naruto... Aku pinjam pahamu... Dulu aku sering tiduran seperti ini di paha ibu... Aku sangat merindukannya... Zzzzz." Gumam Hinata pelan, akhirnya dia tertidur dengan dengkuran yang pelan.

Naruto memandang Hinata sambil tersenyum, dia mengelus pelan kepala Hinata... Sangat pelan, takut sang pemilik terbangun dari tidurnya. "Aku berjanji akan memberikanmu kebahagiaan, karena..." Naruto sedikit menyingkirkan poni yang menutup dahi Hinata yang terlelap, perlahan Naruto mendekatkan wajahnya dan mencium dahi Hinata dengan lembutnya. "Karena dari dulu aku sangat mencintaimu."

To Be Continue...

Akhirnya chapter 3 selesai~ nah mulai dari chapter ini aku akan memberikan beberapa biodata karakter yang terlibat dalam Sparkling Secret (Khusus buatan sang karakter sendiri loh haha)... -mencari-cari formulir biodata pemain yang sudah diisi- hmm nah pertama-tama dia dulu...

Nama : Hyuuga Hinata

Tanggal Lahir : 27 Desember 1996

Tinggi : 160 cm

Berat : RAHASIA

Ras : Manusia

Makanan Favorit : Salad buah

Minuman Favorit : Teh hijau

Hal Yang Paling Disukai : Bunga lavender dan semua hal yang bersifat lucu, cute, imut, manis

Hal Yang Paling Dibenci : Kesendirian

Kata-kata Favorit : "Di masa depan kita memang dihadapkan oleh takdir yang lebih sulit dari masa lalu, tetapi hadapilah dan jangan pernah lari dari takdirmu."

Sekian biodata dari Hinata~

Mind to review? ^^