Saputangan biru susu itulah benang merah mereka.


Such A Story

Disclaimer :

Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki

Such A Story © Aoko Himawari

Enjoy!


"Jelaskan hasil ini Seijuurou," suara dingin seorang pria paruh baya membuat copy-an dirinya, hanya saja yang lebih kecil, tersentak. Anak berambut merah bernama Seijuurou ini masih lebih memilih ia dipukul dibanding mendapat tatapan dingin ayahnya yang tajam dan terkesan membunuh.

Jantungnya berdebar kencang. Keringat dingin mengucur di bagian-bagian tubuhnya. "Ta-tapi aku sudah berusaha sangat keras, otou-sama. Dan hari itu aku sedang kurang enak badan."

Sang pewaris Akashi Corporation menjawab dengan jujur apa adanya, sedangkan nahkoda Akashi Corporation mendelik.

"Aku tidak menerima hasil ini. Manusia yang menerima hasil ini tidak lebih dari sampah. Kau dihukum tidak boleh masuk ke rumah sampai jam makan malam."

Titah itu membuat sang pewaris mengeluarkan air mata. Ia tahu ia tak mampu melawan titah sang ayah. Tubuhnya berbalik dan melarikan diri dengan cepat keluar dari rumah megah dengan papan bertuliskan Akashi di depan gerbangnya. Kepergian sang ibu di usianya yang masih belia membuat sang ayah tidak pernah bersikap lembut lagi kepadanya.

Hal ini secara langsung berefek kepada dirinya, dimana sang ayah yang dulu masih menyimpan waktu untuk keluarga, kini tidak lagi seakan Seijuurou bukanlah anggota dari keluarga dan ia bersikap lembut dulu demi sang ibu.

Sepasang kaki kecil Seijuurou terus membawa tubuhnya dengan kecepatan sedang yang perlahan menurun seiring tempat yang sudah berbeda. Ia tidak tahu ia ada dimana, yang ada di otaknya adalah pergi dari rumah megah milik Akashi itu.

Ia duduk di sebuah ayunan saat dirasa kakinya mulai lelah. Butiran bening masih bergulir pelan dari matanya dan menyentuh pipinya. Tubuhnya ia ayunkan perlahan, berharap bisa mengurangi rasa kesal, marah, gundah, sedih, dan lainnya yang bercampur menjadi satu.

Ayunan pada tubuhnya berhenti saat ia melihat sebuah warna yang berbeda dari yang tadi ada di depan matanya; tanah dengan warna cokelat muda. Warna biru susu itu sangat indah, ia mengakuinya.

"Silahkan pakai," suara yang datang dari orang, yang baru ia sadari, ada di hadapannya membuatnya mendongak. Wajah pucat dan datar, dengan perban berukuran cukup besar di pipi kirinya membuatnya terenyak.

Anak di depannya terlihat lebih tersiksa dengan banyak bekas luka yang tidak dirawat dengan baik di seluruh tubuhnya.

Namun mata birunya yang nampak kosong memancarkan kekuatan.

"A-ano, aku harus cepat-cepat pulang, jadi tolong diambil."

Lagi, suara lebut khas malaikat yang terlontar dari bibir berwarna merah pucat. Dan, lagi, suara itu seakan membius Seijuurou. Suara itu seakan menghipnotis tangannya, mengambil barang berwarna biru susu yang dipegang oleh tangan pucat yang kurus kering itu.

Dan, tanpa ia sadari pemuda berambut biru langit itu telah pergi dari hadapannya, dengan matanya yang masih menatap kemana pemuda itu pergi.

Saputangan berwarna bitu susu itu ia genggam erat seakan jika ia tidak memegangnya dengan erat, saputangan itu akan hilang. Saputangan biru susu itu tidak ia gunakan sesuai fungsinya seakan jika ia membersihkan sisa-sisa air matanya, saputangan itu akan rusak.

Ia mendapatkan sebuah jahitan yang tidak rapi khas anak kecil bertuliskan 'Kuroko Tetsuya'.


"Akashicchi," gumaman bayi besar bersurai ungu menggema ke seluruh ruangan. Tidak ada jawaban untuknya selain lirikan sekilas pemuda yang ia panggil.

"Mengapa harus aku yang menggendong anak ini? Aku jadi tidak bisa memakan camilanku." Murasakiara memprotes sambil memajukan sedikit bibirnya.

Akashi tidak menjawabnya. Ia tahu Murasakibara memprotes namun ia memilih untuk tidak mengacuhkannya. Tangannya menggenggam sebuah benda yang sudah sedikit rusak, jahitannya mulai mencuat keluar.

Benda itu. Saputangan biru susu yang ia yakini sebagai benang merah antara Akashi Seijuurou dan Kuroko Tetsuya.


A/N :

mari bunuh author atas keterbatasan otak author

Author ga bisa bikin lebih dari ini, ini tuntutan cerita

maafkan author karena author cuma bisa majuin cerita ini pake drabble, ini seakan masih prolognya, tapi sebenernya ini author udah perhitungkan, kenapa akashi bisa suka sampe segitunya sama kuroko

dan maafkan author juga karena lamaaaa banget update, sekolah udah mulai sangat aktif sekali dan author sering kecapean gara-gara itu -_- tolong dimaklumi

last but not least, review?