Thanks Reviewers, you brighten my day.
Ujianku sudah selesai. tapi, masih ada dua ujian lagi yang menunggu, huff. semua, aku mohon doanya supaya semua ujianku berjalan lancar dan tanpa hambatan dan hasilnya memuaskan serta seperti yang diharapkan.
mr .nsm's-lass-fonder : ide awal ini sebenarnya berasal dari diskusi dengan salah seorang teman tentang Harry Potter, awalnya hanya sekedar bercanda. Tapi, setelah kupikir-pikir bagus juga idenya. Dan dari diskusi kami itu, aku bisa menjamin bahwa Ginny bukan anaknya Voldemort/Bellatrix (kecuali kalau aku berubah pikiran). Dan aku juga menjamin tidak akanada R/Hr atau H/G.
Dan bagi kalian yang belum tahu(tapi aku jamin pasti ndak ada), Harry Potter milik JK Rowling. Dan pastinya aku bukan JK Rowling. Kenapa? Karena kalau aku jadi Mrs. Rowling, nggak ada yang namanya R/Hr and H/G. Peace! :-) :-) :-)
Chapter ini mungkin nggak terlalu bagus. Tapi, bagus atau tidak aku mengharapkan review kalian. Please enjoy.
Jangan harap EYD-nya benar, kawan-kawan. Because I'm suck at that.
Satu September selalu menjadi hari yang paling dinantikan oleh Ginny. Tapi, kali ini Ginny menatap kereta yang akan membawanya ke Hogwarts tak seperti tahun-tahun sebelumnya. Bagi Ginny lencana yang sekarang berkilat didadanya bukan keinginannya. Bukan keinginannya juga untuk berpatroli seluruh kereta ketika ia bisa berkumpul dengan teman-temannya, membicarakan musim panas mereka.
Ya, benar sekali. Secara mengejutkan Ginny telah diangkat menjadi Prefek. Ibunya luar biasa bahagia dan memeluk Ginny hingga rasanya seluruh tulang Ginny remuk. Dan pada malam harinya, Ibunya telah membuat acara makan malam khusus untuk merayakan hal tersebut ditambah hasil ujian OWL Ron, Harry dan Hermione.
"Sampai nanti, Harry," seru Hermione, walaupun Ginny tahu menjadi Prefek adalah keinginan Hermione. Tapi untuk sekali ini, entah kenapa, Hermione tampak tidak suka menjadi seorang Prefek.
"Sampai nanti," balas Harry murung.
"Sampai jumpa nanti, sobat. Ayo, Hermione, Ginny" ajak Ron, dan mendahului mereka. Hermione mengikutinya dengan enggan.
"Sampai nanti, Harry," Ginny menoleh ke arah Harry sekali lagi dan mendengarnya mendesah dan menggumamkan sampai nanti sebelum berbalik pergi.
"Menurut kalian siapa Kepala Murid tahun ini?" tanya Ron.
"Entahlah," jawab Hermione asal. Ginny bisa tahu bahwa pikrian temannya itu telah teralih ke suatu hal yang lain.
"Siapa aja asal bukan anak Slytherine," ujar Ginny.
"Ginny!" seseorang memanggil Ginny. Ginny menoleh dan melihat Luna Lovegood berlari ke arahnya sambil tersenyum lebar, membawa setumpuk majalah ditangannya.
"Hei, Luna," sapa Ginny.
"Kau juga jadi Prefek?" tanyanya.
"Juga?"
"Ya," Luna mengambil sesuatu dari balik jubahnya dan memperlihatkan sebuah lencana Prefek.
Ron mendengus, berusaha menahan tawa. Ginny membelalakkan matanya ke arah kakaknya."Profesor Dumbledore mengangkatmu menjadi Prefek?" tanya Ron tak percaya.
"Ya, Ronald. Dia mengangkatku menjadi Prefek. Ada masalah dengan itu?"
Ron membuka mulut ingin menjawab, tapi Ginny menatapnya, memperingatkanya untuk tidak melanjutkan apapun yang ingin ia katakan.
"Ayo, Luna," Ginny menarik tangannya dan mereka berjalan ke tempat pertemuan Prefek yang berada di kompartemen paling depan.
Beberapa orang Prefek sudah berada di sekitar kompartemen. Dan dari lagaknya, Ginny tahu kalau Kepala Murid belum datang.
"Ginny!"
Ginny berpaling ketika namanya dipanggil. Colin Creevey berlari ke arahnya, rambut coklatnya yang seiring waktu berubah kepirangan dipotong seleher.
"Syukurlah kau yang menjadi Prefek tahun ini, Ginny," ujar Colin girang sambil menunjuk kearah lencananya dan lencana Ginny bergantian, kamera muggle masih tergantung di lehernya. Colin adalah satu satu teman baik Ginny.
Ginny ingin membuka mulut untuk menanyakan kabar kawannya tersebut, tapi sebuah suara menginterupsinya.
"Prefek! Prefek! Berkumpul!"
Ginny melihat Cho Chang berjalan membelah kerumunan Prefek dengan seorang anak lelaki tinggi berambut coklat lebat dibelakangnya. Lencana Kepala Murid bersinar terkena sinar matahari didada mereka.
"Apa? Cho Chang?" seru Hermione tidak percaya,"Bagaimana cewek seperti dia bisa jadi Kepala Murid, sih?" ujar Hermione kesal, tangan ditekuk didepan dada. Matanya menatap Cho Chang dengan sebal.
"Ayo, Hermione," Ginny menarik tangan Hermione sambil menahan tawa. Siapa yang tahu Hermione bisa bersikap seperti ini?
Ginny masuk ke kompartemen tersebut, yang sudah didesain menjadi ruangan Prefek. Tempatnya luas dan ada bangku panjang yang bisa diduduki belasan orang. Mereka berlima mendapatkan tempat duduk paling ujung.
"Baiklah, para Prefek," ujar Cho Chang yang tampaknya akan terus mewakili si anak lelaki tinggi berambut lebat."Bagi kalian yang belum tahu. Namaku adalah Cho Chang dan ini," ia menunjuk ke arah anak lelaki tinggi berambut lebat,"adalah Cormac McLaggen. Kami berdua dipercaya menjadi Kepala Murid perempuan dan laki-laki untuk tahun ini. Nah, langsung saja ke pembagian patroli. Patroli jaga akan dibagi menjadi delapan kelompok, setiap kelompok terdiri dari dua prefek. Sehubungan karena prefek-prefek baru kelas lima masih hijau. Kami berdua memutuskan untuk menjadikan satu kelompok terdiri dari satu prefek kelas enam dan satu prefek kelas lima, untuk membantu prefek kelas lima menjalankan tugasnya. Jelas?"
"Jelas!" seru seluruh prefek bersamaan. Tapi, Hermione masih duduk diam kaku dengan tangan bersedekap didepan dada.
"Baiklah. Kami sudah memilih secara acak siapa yang akan menjadi partner kalian. Aku akan memanggil nama kalian satu-satu dan menyebutkan digerbong mana kalian akan berpatroli. Setiap nama yang kupanggil harus mengangkat tangan.
"Gryffindor, Hermione Granger," Cho menatap Hermione. Dengan enggan Hermione mengangkat tangannya,"dengan Ben Zachary, Hufflepuff" seorang anak lelaki berambut hitam yang Ginny kenal dari kelas Ramalan mengangkat tangannya,"kalian akan ditugaskan digerbong tiga.
"Ron Weasley," Ron mengangkat tangannya,"dengan Luna Lovegood, Ravenclaw," Luna mengangkat tangannya riang. Ginny mendengar Ron mendesah."Kalian akan ditugaskan digerbong satu.
"Hufflepuff. Susan Bones." Susan Bones yang Ginny kenal dari LD tahun lalu mengangkat tangan,"dengan Marvin Jacobs, Ravenclaw," seorang anak lelaki kurus berambut coklat mengangkat tangan,"kalian akan ditugaskan digerbong tiga bersama Hermione Granger dan Ben Zachary,"
"Ernie McMillan," Ernie McMillan yang duduk dipaling pojok mengangkat tangannya,"dengan Catherine Goodblood, Slytherine." Seorang anak perempuan berambut pirang mengangkat tangannya,"Kalian akan ditugaskan digerbong satu bersama Ron Weasley dan Luna Lovegood.
"Ravenclaw. Michael Corner," Ginny melihat mantan pacarnya mengangkat tangan, berharap dalam hati bukan dia yang akan dipasangkan dengannya,"dengan Tobias Powell, Slytherine," Ginny melepaskan nafas lega ketika seorang anak lelaki bertubuh tegap mengangkat tangan,"kalian ditugaskan di gerbong dua.
"Lisa Turpin," seorang anak perempuan berambut hitam panjang mengangkat tangan,"dengan Agnessa Walker, Hufflepuff," seorang anak perempuan kurus mengangkat tangan,"kalian akan ditugaskan digerbong ke-empat.
"Slytherine. Draco Malfoy," Malfoy mengangkat tangannya,"dengan Ginny Weasley,"
Apa? Ia harus tahan bersama si brengsek ular albino itu selama seluruh perjalanan?
"Ginny Weasley,"
Colin memukul siku Ginny,"Apa?" tanya Ginny sebal. Colin memutar bola matanya dan menunjukkan ke arah Cho Chang.
"Ginny Weasley," Cho Chang mengulangi.
"Oh," saking terkejutnya Ginny sampai lupa mengangkat tangan, cepat-cepat ia mengangkat tangannya dengan sebal.
"Aku butuh bantuan kalian. Kalian akan ditugaskan dibagasi, untuk mengatur seluruh barang yang ada disana,"
Bagasi? Apa? Inikah tugas pertamanya sebagai seorang Prefek? Jadi buruh pengangkat koper?
"Pansy Parkinson," Cho Chang melanjutkan. Parkinson langsung mengangkat tangan,"dengan Colin Creevey, Gryffindor" Colin langsung lemas, ia mengangkat tangannya perlahan,"kalian akan ditugaskan digerbong dua dengan Michael Corner dan Tobias Powell. Baiklah, itu adalah jadwal patroli kalian. Sekarang, mulai bekerja!"
"Mati aku," gumam Colin.
"Mereka memasangkanmu dengan Malfoy?" teriak Ron.
"Aku tak percaya Cho Chang menjadi Kepala Murid. Siapa sih yang cowok itu?" ujar Hermione kesal.
"Kalian bisa tenang tidak?" seru Ginny.
"Halo, Weasley,"
Ginny menoleh ke arah suara yang memanggilnya dan melihat Draco Malfoy berdiri didepannya sambil tersenyum.
"Apa maumu, Malfoy?" tanya Ron.
"Well, aku tahu pendengaranmu agak terganggu, Weasel. Aku ke sini karena aku dan adikmu ada tugas yang menunggu. Dan kau juga harus patroli dengan Lonny,"
"Hei, jangan panggil Luna seperti itu, dasar Ferret," Ron berdiri, mukanya berubah semerah rambutnya karena marah.
"Oh, membela pacar barumu, Weasel,"
"Diam, Malfoy," Ron mendesis.
Ginny langsung berdiri, mencegah perang terjadi,"Malfoy! Kita ada pekerjaan yang harus diselesaikan,"
"Sampai jumpa, Weasel," Malfoy menyeringai ke arah Ron yang tampaknya sudah siap menyerang kapan saja."Jadi, apa kabarmu, Weasley?" tanya Malfoy ketika mereka berjalan dikoridor.
"Apa kabarmu, Weasley?" Ginny menirukan,"Ada apa denganmu, Malfoy?" tanya Ginny curiga.
"Apa? Aku hanya mencoba ramah,"
"Bersikap seperti itu dengan keluargaku tidak akan membuatmu ramah, Malfoy,"
"Kau tahu kadang-kadang kau tak bisa menahan godaannya,"
"Kau lebih ramah jika diam saja," ujar Ginny, mereka sudah mencapai bagasi, gerbong paling akhir. Bertumpuk-tumpuk koper dimasukkan begitu saja. Ginny mendesah, ini akan menjadi pekerjaan yang lama dan melelahkan.
"Kenapa Kepala Murid menyuruh kita menata tempat ini?" gumam Malfoy kesal,"mereka bisa mengerjakannya sendiri, mereka sudah diperbolehkan menggunakan sihir. Kita harus menggunakan tangan,"
"Biasakan, Malfoy. Ayo kita kerjakan. Lebih cepat selesai lebih baik," Ginny mendahului Malfoy memasuki bagasi dan mengambil salah satu koper berwarna coklat. Ginny mencoba menariknya, tapi terlalu berat. Kakinya tersandung sesuatu dilantai dan ia kehilangan keseimbangan.
Tepat ketika Ginny menutup mata, berpikir akan menabrak lantai, dua lengan kuat memegangi sikunya. Ketika ia membuka matanya, sepasang mata kelabu menatapnya. Ginny merasakan jantungnya berdebar lebih kencang ketika menatap mata itu. dan tubuhnya membeku.
"Terpesona, Weasley?"
Ginny sadar siapa yang akan memeganginya."Lepaskan aku," serunya.
"Dengan senang hati," ujar Malfoy tenang, melepaskan Ginny seketika itu juga. Membuat Ginny jatuh dengan bunyi debuman.
"Untuk apa itu?" seru Ginny kesal.
"Kau yang bilang suruh aku lepaskan,"
"Tapi, ini bukan maksudku-Uurgh!" Ginny berdiri dan menghentakkan kakinya. Malfoy tertawa. Ginny tertegun, seorang Malfoy tertawa. Ia tak pernah melihatnya tertawa seperti ini. Dan Malfoy menertawakannya, dia, Ginny Weasley ditertawakan oleh seorang Malfoy. Rasanya tak terima."Kenapa kau tertawa?" tanya Ginny sebal.
"Kau lucu jika seperti itu, Weasley," Malfoy berhasil menjawab ditengah tawanya.
"Lucu, ya?" tanya Ginny,"Aku akan tunjukkan apa itu lucu," dan dengan itu, Ginny menghentakkan kakinya diatas kaki Malfoy.
"Ouch!" Malfoy melompat-lompat dengan satu kaki, tangannya memegangi kakinya yang telah diinjak Ginny.
Ginny tertawa,"Itu baru lucu," ia beralih ke arah koper-kopernya dan mulai mengambil satu koper, menatanya kesalah satu sisi gerbong.
Malfoy tampaknya sudah mulai pulih dari kesakitannya,"Aku kasihan dengan Dean Thomas, punya pacar sepertimu," ejeknya, menarik satu koper dari lantai dan menatanya disebelah koper yang sudah ditata Ginny.
"Dan aku kasihan padamu karena tak ada gadis yang mau menjadi pacarmu sehingga kau terjebak dengan si Parkinson itu,"
"Untuk info saja. Aku tidak punya pacar karena memang tidak ada gadis yang aku sukai. Dan Parkinson juga bukan pacarku. Jadi, tak ada istilah aku terjebak dengannya,"
"Ya, tentu saja," balas Ginny sarkatis.
"Banyak gadis yang suka padaku, kau tahu. Dan aku menolak mereka semua,"
"Coba tahun ini, setelah mereka semua tahu jika ayahmu masuk Azkaban. Mungkin anak-anak para pelahap maut pun menjauhimu,"
"Hei, jangan bawa-bawa tentang ayahku disini!" teriak Malfoy. Menatap Ginny tajam dan penuh amarah dengan mata kelabu itu. Ginny membeku.
"Aku..." hanya kata-kata itu yang bisa dikeluarkannya.
Malfoy berpaling, membelakangi Ginny,"Maaf aku berteriak seperti itu padamu. Hanya-jangan bicarakan tentang ayahku, oke, Weasley?"
"Maaf," Ginny bermaksud untuk berkata sedikit lebih keras, tapi kata itu hanya keluar berupa bisikan.
Malfoy tidak bereaksi apapun. Ia hanya berjalan menjauhi Ginny dan mulai menata koper-koper yang tersisa. Ginny, merasa bersalah tapi tahu tak ada hal yang bisa ia lakukan, mulai menata koper yang berada jauh dari Malfoy. Mereka bekerja dalam diam.
Satu jam kemudian, yang serasa puluhan jam bagi Ginny, akhirnya mereka selesai. Ginny berjalan ke arah Malfoy yang tengah memandangi pemandangan dari jendela yang terbuka.
"Mmm... lebih baik kita kembali," ujar Ginny perlahan.
Malfoy menatapnya, tersenyum,"Kau tahu, Weasley. Aku selalu berpikir kau cukup cantik,"
Apa? Ginny tertegun. Apakah Draco Malfoy baru saja berkata kalau dia cantik. Ginny merasakan mukanya memerah.
Malfoy berjalan melewati Ginny menuju pintu gerbong."Tapi..." Malfoy berbalik menatap Ginny dan menyeringai,"aku berbohong," ia tertawa,"lihat mukamu, Weasley. Kau memerah," dengan itu Malfoy berbalik dan berjalan keluar.
Ginny ingin sekali mengutuknya saat itu juga."Dasar Malfoy!" seru Ginny sebal,"lain kali akan aku balas dia,"
"Aku menunggu!" ujar suara dari luar, suara Malfoy. Sedetik kemudian terdengar suara tawanya yang membuat Ginny sebal luar biasa.
