Tittle : Always, Luhan
Author : nebula
Length : Chaptered
Main Cast :
Luhan (GS)
Sehun
Summary :
Luhan seharusnya sadar, betapa pentingnya untuk selalu berkata cinta kepada orang yang dicintainya, seperti tidak akan ada lagi hari esok yang menjelang. Dan bahwa mungkin memang ada seseorang yang selalu menjadi sebagian jiwanya dan tentang seseorang yang selalu ia cintai-through times.
"Beri satu alasan kenapa kamu lebih memilih Sehun."
"Karena mungkin kami berjodoh."
This fanfic based on Andi Eriawan novel, but this storyline is belong to me.
Dilarang keras mengcopy, memperbanyak, atau menyalin sebagian kecil, setengah atau keseluruhan dari ff ini tanpa seijin penulis.
- Happy Reading -
Ruang kelas yang Luhan tuju berada di pojok sebelah barat sekolah. Untuk sampai ke sana, dia harus melewati beberapa kelas dengan orang-orang yang memandangnya heran. Tentu saja, saat ini masih jam pelajaran berlangsung. Seharusnya dia berada di lapangan untuk mengikuti pelajaran olahraga. Dengan alasan sakit, Luhan berhasil bolos.
Pasti dia pemilik payung hitam ini…
Lelaki itu sedang duduk di bangku ujung deretan belakang. Bahu kirinya bersandar pada kaca jendela kelas yang sedikit terbuka. Dengan mengendap-endap, Luhan menghampirinya. Ia ketuk kaca jendela itu dua kali dan lelaki itu menoleh.
"Hai, Sehun..." sapa Luhan setengah berbisik.
Sehun tidak terlihat terkejut dengan kehadiran Luhan. Tapi ekspresi wajahnya yang bahagia terlihat jelas.
"Hai... bagaimana kau tahu aku ada di sini?" tanya Sehun sambil tersenyum.
"Mudah saja. Tadi pagi aku mengikutimu dari gerbang sekolah. Dan ternyata kau masuk ke kelas ini," jawab Luhan dengan bangga. "Karena kau sudah membohongiku, sekarang kau harus keluar kelas dan temani aku jalan-jalan," ucap Luhan dengan nada memerintah.
Tetapi Sehun menolaknya. "Sepertinya tidak bisa, Lu. Baru saja kemarin bolos, mana mungkin hari ini aku bolos lagi?"
"Oh... jadi kau tidak mau, ya? Kalau begitu, aku akan memberitahu semua teman-temanmu tentang kejadian tempo hari," ancam Luhan sambil memperlihatkan sebuah payung hitam di tangannya.
Kali ini Sehun tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. kedua bibir lelaki itu terbuka lebar.
Chapter 2 : Sepuluh alasan bodoh
Selama tiga minggu berikutnya Luhan selalu bersama Sehun. Saat jam istirahat dan sepulang sekolah, atau bahkan sejak pagi sebelum pelajaran pertama dimulai. Terkadang Luhan mampir ke kelasnya, atau sebaliknya.
Sehun memang tampan. Luhan bahkan memberinya nilai sembilan setengah untuknya. Sorot mata lelaki itu begitu hidup. Matanya menyorot tajam-walau terkadang bagi Luhan terasa hangat. Badannya yang tegap dan atletis, menunjukkan Sehun sering berolahraga. Bila tertawa, tawanya lepas hingga matanya membentuk bulan sabit. Luhan juga menyukai gaya bicaranya yang lugas, meski sepertiga omongannya tidak dapat dipercaya.
Dengannya, Luhan banyak tertawa. Mereka begitu akrab meski Sehun yang lebih banyak mengalah. Luhan tidak segan-segan memukul bahunya, mencubit lengannya atau menjewer telinganya bila suasana hatinya sedang kesal, dan Sehun tidak pernah mengeluhkan itu. Luhan telah menemukan seseorang yang menyenangkan, seorang pendengar yang setia dan... orang yang sabar menghadapinya.
Seperti beberapa hari yang lalu, saat mereka makan siang di sebuah restoran masakan China. Sehun mengajaknya ke sana karena beberapa hari sebelumnya Luhan bialng dia ingin makan di restoran masakan China, dia rindu masakan khas negara asalnya. Kebetulan sekali Sehun hampir tahu semua tempat makan yang enak dan murah di Seoul.
Setelah memesan dua porsi capcai goreng tanpa daun kol–Luhan membenci daun kol, mereka berdua duduk di bangku paling pojok dekat jendela. Suasana hati Luhan begitu cerah sampai makanan itu diantar. Koki dapur ternyata lupa untuk tidak memasukkan daun kol ke dalamnya. Seketika wajah Luhan cemberut dan terlihat kesal. Hampir saja ia memanggil pelayan itu dan memarahinya, tapi Sehun punya cara untuk membujuk Luhan.
"Hei, begini saja. Pisahkan daun kolnya dan berikan padaku setengah. Kalau kau bisa menghabiskan sisa kol itu, aku akan memberimu satu buah cokelat."
"Shireo..." tolak Luhan datar. "Kalau empat aku baru mau."
"Itu terlalu banyak, Lu. Bagaimana kalau dua?"
"Tiga, atau aku panggil pelayan tadi."
"Baiklah..." jawab Sehun cepat-cepat, "asal kau yang membayar capcainya."
Ada hal yang baru Luhan ketahui tentang Sehun hari ini–yang kemudian ia kagumi. Lelaki itu ternyata suka menulis puisi.
Pagi tadi, Luhan mendapatkan sepucuk surat yang tidak terduga ada di kolong meja kelasnya. Memang tertulis untuknya, tapi disana tidak tertera siapa nama si pengirim. Karena penasaran, Luhan dengan tergesa-gesa membuka sampul surat itu dan membaca isinya. Luhan tertegun setelah membaca puisi itu. Senyuman tipis menghiasi bibirnya.
"Sehun, terima kasih untuk puisimu," ujar Luhan dengan kaku. Saat itu mereka sedang berdiri di halte, menunggu bus untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.
"Sama-sama...", Sehun menjawab sambil tersenyum dengan kepala mengangguk-angguk kecil.
"Lalu?" tanya Luhan yang heran dengan jawaban Sehun yang terlalu singkat. Sejak bertemu saat isitirahat sekolah. Sehun tidak pernah menyinggung puisi itu.
"Lalu bagaimana?"
"Lalu, apa maksdumu memberiku puisi itu?" Luhan hanya mendapatkan wajah Sehun dengan mengernyitkan dahi sebagai jawaban.
"Kenapa diam?"
"Karena kau bodoh," jawab Sehun di tengah deru kendaraan yang melintas.
Luhan segera mendaratkan sebuah pukulan keras di lengan kanan Sehun. "Aku serius, Sehun!" serunya.
"Tentu saja aku menulisnya agar kau tahu perasaanku, Lu. Aku menyukaimu. Aku suka hubungan kita. Aku menyukai kita yang selalu melakukan hal-hal yang kita sukai bersama. Memangnya salah aku mengungkapkan itu semua?"
"Tentu saja salah!" tukas Luhan.
"Mwo?"
"Justru karena puisimu yang merusak hubungan itu. Sekarang aku harus berlaku hati-hati agar tidak menyakiti perasaanmu. Dan aku benci hal itu. Aku ingin hubungan kita tetap apa adanya. Alami, tidak terencana. Tidak harus dengan embel-embel... pacar."
"Memangnya kau... tidak suka... aku menjadi... pacarmu?" tanya Sehun dengan pandangan memelas.
Tapi Luhan tahu itu hanya pura-pua. "Tidak," jawabnya setelah jeda beberapa detik. Dia sendiri tidak yakin dengan jawabannya.
"Kenapa?" tanya Sehun dengan pandangan yang tidak berubah.
Sekarang giliran Luhan yang terdiam.
"Kenapa diam?"
"Aku tidak menemukan alasan kenapa aku harus menerimamu menjadi pacarku," jawab Luhan seadanya. Luhan memunggungi Sehun, dia tidak berani melihat reaksi lelaki itu.
"Aku bisa memberimu sepuluh alasan, bahkan lebih!" tantang Sehun.
Mendengar tantangan itu, Luhan kini tidak sungkan lagi. "Kau tidak tampan," ledek Luhan dengan mencibirkan bibirnya.
"Tapi sangat tampan," bela Sehun. "Dan itu alasan pertama. Alasan kedua, aku sudah dari dulu menyukaimu."
"Kau bercanda! Kita baru kenal tidak lebih dari sebulan. Apalagi, banyak anak laki-laki yang menyukaiku."
"Mereka hanya main-main, tapi aku berbeda. Aku menyukaimu dengan sungguh-sungguh. Dan itu alasan ketiga."
"Kau curang, membalikkan omonganku!" seru Luhan sambil membalikkan badan ke arah Sehun.
"Yang benar itu cerdik," tukas Sehun, "Dan itu alasan keempat. Berikutnya, karena hanya aku yang bisa membuatmu tertawa di sekolah ini." Katanya sambil menyeringai.
"Huh... percaya diri sekali!"
"Kau benar, Lu... aku orang yang penuh percaya diri. Itu alasan nomor enam. Dan kalau tebakanku benar, itu bisa jadi alasan ketujuh."
Luhan menjadi penasaran. "Apa?"
"Sebenarnya... kau menyukai puisiku."
Luhan tidak bisa berkata apa-apa. Dilihatnya wajah Sehun perlahan-lahan menunjukkan ekspresi menahan tawa.
"Aku tahu, karena aku diam-diam mengintipmu waktu kau baca puisi itu di kelas. Setelah itu kau tersenyum, Lu..."
Kali ini Luhan mencubit keras lengan kiri Sehun. "Kebiasaan jelekmu tidak pernah sembuh! Dasar tukang intip!" serunya setengah berteriak. "Cukup... aku tidak mau mendengarnya lagi!" tambah Luhan sambil menutup kedua telinganya dengan telunjuk.
Tapi bukan Sehun namanya kalau segampang itu menuruti perintah Luhan. Dengan serius, lelaki itu justru berkata, "Aku juga seorang pendengar setia, Lu. Aku selalu mendengarkan ceritamu, keluh kesahmu, cacian dan celotehmu. Bahkan, aku suka mendengarnya. Aku bukan hanya menyukaimu sebagai seorang sahabat, tapi aku menyukaimu sebagai perempuan."
Melihat kesungguhan di wajah dan kata-kata Sehun, Luhan jadi merasa tak enak hati. Kini ia hanya terdiam.
"Lu..."
"Aku tidak tahu harus berkata apa, Hun," ujar Luhan lirih. "Aku... hanya menyukaimu sebagai sahabat. Lebih dari itu..." Hal seperti inilah yang selalu dihindarinya. Mata Luhan mulai berkaca-kaca. Hampir saja air mata itu jatuh kalau saja Sehun tidak segera menyekanya.
"Hei... hei..., jangan menangis, Lu. Aku mengerti. Begini saja, kalau dalam waktu tiga hari aku tidak bisa merubah perasaanmu, kita lupakan saja masalah ini. Kita tetap menjadi teman yang paling dekat dan membuat orang-orang iri dengan kita. Bagaimana?" kemudian Sehun mengusap-usap kepala Luhan seperti sedang menghibur anak kecil yang kehilangan mainan. Lelaki itu memandangnya dengan sorot mata yang tetap, seperti yang sering Luhan lihat–tajam namun terasa hangat. Tidak ada sedikit pun rasa sedih atau kecewa yang tertangkap disana.
Luhan menjawab dengan anggukan kecil.
-Always, Luhan-
Sudah tiga hari sejak Luhan menerima puisi itu, Sehun menghilang dari pandangannya. Lelaki itu tidak ada di kelas, di kantin, atau bahkan di perpustakaan. Sudah selama itu pula Sehun tidak masuk sekolah. Luhan beberapa kali menelepin rumahnya, tapi tidak ada jawaban.
Hal yang membuatnya tak kuasa menahan airmata adalah apa yang didengarnya tadi siang. Beredar berita bahwa Sehun akan pindah sekolah ke Jepang karena ayahnya harus bekerja di sana. Luhan sendiri tidak mengerti mengapa ia menangis. Ada rasa kehilangan yang begitu besar.
Luhan pernah kehilangan sahabat dekatnya yang bernama Kris waktu ia masih bersekolah di China dulu. Persahabatan mereka yang terjalin selama dua tahun, Kris putuskan begitu saja karena Luhan tidak membalas perasaannya. Mungkinkah kejadian itu diulang kembali oleh Sehun?
Luhan menghirup nafas dalam-dalam. Ia gadis yang kuat, pikirnya. Ia takkan membiarkan dirinya larut dalam kesedihan.
Aku pasti bisa melupakanmu, Sehun...
-Always, Luhan-
Sudah sejak setengah jam yang lalu Sehun berdiri di depan gerbang sekolah, mirip dengan Kolonel Sanders di pintu depan restoran Kentucky. Bel masuk tinggal lima menit lagi berdering saat perempuan yang ditunggunya itu turun dari sebuah bus.
Tiga hari ini dia bertambah cantik saja, Ibu...
Dengan sedikit mengendap-endap Sehun menghampiri Luhan. Perempuan itu baru menyadari kehadirannya setelah jarak mereka tinggal satu-dua meter saja.
"Hai..." Sapa Sehun lebih dulu.
Yang disapa tidak segera menjawab. Ia hanya terpaku dengan tatapan penuh heran, seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Mata Luhan mulai terlihat berkaca-kaca. Bibirnya tampak bergetar. Kemudian, perempuan itu mencengkeram lengan seragam Sehun erat-erat dan membenamkan kepalanya di sana. Isak tangisnya terdengar.
"Maafkan kelakuanku tempo hari, aku mengatakan padamu aku tidak mau menjadi pacarmu. Sekarang, aku sudah siap, Sehun. Aku menginginkanmu untuk menjadi pacarku. Aku sudah tahu kalau sebenarnya aku juga menyukaimu, menyayangimu. Aku suka hubungan kita. Kau selalu membuatku tertawa. Aku tidak mau kehilangan dirimu. Karena itu... jangan pergi, Sehun."
Keduanya berdiri di trotoar jalan. Kerindangan pepohonan di sana melindungi mereka dari tontonan orang-orang.
"Aku masih di sini, Lu." Ucap Sehun lembut.
"Bukan itu. Maksudku... Bukankah kau akan pindah sekolah ke Jepang?" tanya Luhan dengan suara parau.
"Ani. Aku akan terus bersekolah di sini selama tiga tahun. Kalau kau tidak naik kelas, aku tidak akan naik kelas juga."
Luhan mengangkat wajahnya dari lengan kemeja Sehun yang basah. "Tapi, mereka bilang-"
"Siapa yang bilang?" Tanya Sehun.
"Teman-temanmu..."
"Mereka tidak bisa dipercaya," potong Sehun.
Bibir Luhan merekah membentuk senyum setelah mendengarnya. Kedua tangannya sibuk menyeka pipinya yang basah. Tapi tak lama kemudian, perempuan itu tertegun seperti memikirkan sesuatu. Matanya memandang curiga ke arah Sehun.
"Jangan-jangan... justru kau yang tidak bisa dipercaya." Tuduh Luhan.
Kali ini Sehun tidak bisa menyembunyikan ekspresi wajahnya yang khas bila sedang menahan tawa. Ia memang menyuruh ketiga teman kelasnya untuk menyebarkan berita bohong kepada Luhan, untuk sekedar melihat reaksinya.
"Lu, memangnya aku pernah mengatakan padamu kalau aku memintamu untuk jadi pacarku?" tanya Sehun dengan menyeringai.
"..."
"Tidak, kan? Tapi, kalau kau memaksa ingin aku menjadi pacarmu, bagaimana lagi? Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa pasrah... hehehe."
Tiga pukulan dan enam cubitan keras mendarat di kedua bahu dan lengan Sehun. Tidak puas dengan itu, Luhan menambahkan tendangan ke lututnya. Tapi, tawa kecil itu masih keluar dari mulut Sehun.
"AKU MEMBENCIMU, OH SEHUN!"
"Lebih benci dari daun kol?"
"Seratus kali lebih benci."
"Tapi aku punya seratus coklat."
Tiba-tiba bel tanda masuk sekolah terdengar berdering. Sehun bisa merasakan ada sebuah telapak tangan yang lembut menarik lengannya menuju gerbang sekolah.
TBC
mind to review? dont be silent readers, please! :)
thank you readers, yang sudah follow, favorite dan yang terutama yang sudah review ff ini :) Thank you so much, guys :*
