Warning: Gempa x Yaya, rating T, genrenya romance gagal(?), baca ajadeh
Boboiboy charas are Animonsta's
Happy reading!
.
.
.
Aku tahu terpekur seperti ini hanya menghabiskan waktu, namun aku tak peduli. Perasaanku campur aduk, tak dapat tergambar. Bingung, marah, dan kecewa menjadi satu. Aku ingin menyalahkan seseorang atas perasaanku ini, namun aku tahu tak ada yang salah disini. Perasaan tak bisa disalahkan. Aku tidak bisa menyalahkan Ying, apalagi Gempa. Aku juga tak bisa menyalahkan diriku sendiri. Jadi, ya, ini takdir. Aku tahu aku bereaksi terlalu berlebihan sekarang. Tetapi biarlah, masa remaja memang dipenuhi oleh hal hal seperti ini, kan?
Aku menarik jilbabku kasar dan membanting tubuh ringkihku ke kasur, bersamaan dengan ponselku yang kukeluarkan dari saku seragam dan menghempaskannya di tempat yang sama. Aku memandangi langit langit, dan kurasakan ponselku bergetar beberapa kali, namun aku tak peduli. Paling hanyalah pesan tidak penting. Namun, aku tetap penasaran juga dan kubuka.
[From: Gempa.B
Yaya, besok ada pr?]
Biasanya aku sedikit terlonjak senang melihat pesan sejenis ini, atau apapun itu dari dirinya. Namun nada suara Ying yang tiba tiba membuatku terngiang... ah, sial. Ups, sejak kapan aku mengumpat dalam batin seperti itu? Astaghfirullah, yaampun. Kendati aku masih sedikit sakit hati, tetap kubuat jari lentikku menari di papan tombol ponsel.
[To: Gempa.B
Kimia halaman 56, Gempa.]
Beberapa detik aku memandangi layar ponselku, tepatnya memandangi window chat yang terbuka disana, dan aku melihat sudut kiri pesanku sudah bertanda 'read'. Aku tahu dia tidak akan membalasnya, kebiasaan. Kebiasaan seorang Gempa. Mengapa aku bisa tahu? Gempa sering bertanya tentang tugas, dan terkadang menitip tugas jika ia sibuk dengan kegiatan OSIS nya. Terkadang, aku merasa dispesialkan olehnya. Namun, melihat dia yang memang sangat supel kepada semua orang... hatiku menciut lagi.
Ah, sudahlah. Aku ingin istirahat sebentar dari perasaan labil ini.
-As A Lover-
Bel istirahat sudah berbunyi, dan guru killer yang mengajar Fisika itu sudah menghilang di ambang pintu. Aku menghembuskan nafas lega, dan meregangkan otot jariku akibat catatan yang banyaknya sama dengan makalah. Aku memegang perutku, rasanya aku butuh asupan makanan. Aku membereskan bukuku dan memasukkannya ke dalam tas. Setelah selesai, aku bangkit dan melihat Ying yang berada di depanku masih berkutat dengan catatannya, entah apa yang dia catat.
"Ke kantin yuk."
Agak lama ia tidak merespon ajakanku, masih berkutat dengan pulpen dan buku tulis itu. Namun akhirnya Ying mendongakkan kepalanya.
"Yuk."
Ying dengan asal membereskan bukunya dan menaruhnya di dalam laci, lalu bangkit dari kursinya. Aku dan dia pun berjalan beriringan melewati lorong menuju kantin.
"Eh," Ying membuka suara, "aku mau ralat tentang percakapanku semalam. Aku, mmm, sudah tidak terlalu menyukai Gempa seperti dulu. Sekarang aku suka pada adik kelas, kau tahu kan?"
Aku menangguk saja, tidak mencerna apa yang dikatakan Ying. Satu satunya hal yang aku cerna adalah 'sudah tidak terlalu menyukai Gempa seperti dulu', untuk beberapa saat. Lalu aku baru memahami keseluruhan kalimatnya, dan aku juga baru teringat. Ying menyukai adik kelas juga, memang. Namanya Stanley, kelas 7-6. Aku menarik kesimpulan, berarti, Ying menyukai Stanley dan Gempa di saat yang bersamaan?
Belum selesai aku berkutat dengan potongan potongan kesimpulanku, sebuah suara mengagetkanku.
"Ying!"
Itu Gopal.
"Ying, semalam aku chattingan dengan Ahmad, dan dia menanyakan dirimu."
Eh? Ahmad itu ketua OSIS, kan? Apa hubungan dirinya dengan Ying? Tak kusangka, koneksi Ying itu cukup banyak juga, padahal dia tidak mengikuti ekskul apapun.
"Oh, ada apa dengan Ahmad dan Ying?"
"Kau tidak tahu? Kukira kau sudah tahu karena kalian dekat. Ahmad dan Ying memiliki hubungan yang agak rumit, loh. Hahahahah—" Gopal menggantung tawanya, "sudahlah, aku mau jajan. Dah!"
Kepalaku seperti dihujami beribu tanda tanya. Aku menatap Ying yang sepertinya air mukanya tenang tenang saja. Kalau memang hubungan mereka rumit dan Gopal memberitakan hal seperti tadi, seharusnya air muka Ying sedikit berubah. Tapi, ya, Gopal itu kan lebay. Dan aku juga baru sadar bahwa aku belum memahami lika liku kehidupan Ying di sekolah ini. Tepatnya, salah pemahaman.
"Aku dan Ahmad juga saling suka."
Hah?
Ying tertawa renyah melihat ekspresi melongoku. "Iya, tapi hanya suka biasa, tidak ada niat untuk berkomitmen lebih. Ya, aku memang gampang suka sama orang."
Satu hal yang langsung melintasi benakku, berapa banyak lagi lelaki yang disukai Ying dan juga suka padanya? Aku tidak habis pikir, ketika secara tidak langsung menemukan fakta bahwa ketua OSIS dan wakil ketua OSIS menyukai Ying. Ahmad dan Gempa. Yang satu –Ahmad— sudah jelas hanya rasa ketertarikan yang tidak akan berkembang, yang satu lagi masih belum teridentifikasi.
Nah, yang belum teridentifikasi iniliah yang membuatku berdebar debar.
Ternyata Ying anak yang susah ditebak juga.
.
.
.
TBC
A?N: hai! Haloooo~~ xD
Aku udah niat kan ya bikin ini cerita sampai 2k, tapi apalah daya ketika hasrat ingin menggantungkan jalan cerita ini tiba tiba muncul #sobs sobs
Yey, ternyata Ying menyukai 3 orang sekaligus disini! Tapi, perasaannya itu nggak pernah serius. Cuma mainan doang sama dia (dan cerita ini sesuai sama cerita aslinya :'v siplah fix. Maafkan aku, wahai teman yang berada nun jauh disana, karena sudah menceritakan kisah hidup kita yang tentunya sudah kuberi bumbu bumbu xD lol).
Yasudahlah, di chapter depan mungkin ada bagian kedekatan Gempa-Yaya yang gabisa dijelasin statusnya apa, dan keliatannya kayak apa. Liat nanti sajalah.
Dan terimakasih karena udah baca lanjutan yang nggak sampai 1k ini, wkwk. Mohon reviewnyaaa~~
