Indigo

Knowing The Unknown

-2-

.

.

Summary : Apa yang membuatnya terus melekat di benakmu? Ketertarikan seringkali didasari oleh 'persamaan', entah persamaan itu disadari atau tidak.

.

Disclaimer : Bleach, fingerprint, mobil sedan, dan mansion eropa bukan punya saya, yang saya punya cuma ide cerita ini. (^_^)V

Warning : Typo(s), OOC, AU, don't like don't read..


"Hei, Rukia!" Teriak Ichigo lebih keras.

Namun yang dipanggil hanya menoleh sekilas. Saat ini mood-nya tidak pada kondisi sedang ingin bicara, jadi dia melengos dan melanjutkan langkahnya.

Ichigo mulai berlari mengejar gadis mungil itu, tidak peduli pada bisikan murid-murid lain yang terdengar jelas di telinganya, "Dia memanggil Kuchiki-san apa?", "Sejak kapan mereka saling memanggil nama depan?", "Apa-apaan itu? Sok akrab!", "Mereka bahkan belum pernah terlihat bersama atau pun ngobrol kan?.", "Tapi mereka berdua ada di sana saat itu, mungkinkah?".

"Ichigo!" Sesosok berjubah putih muncul di hadapan Ichigo, menghalangi jalannya dan menghentikan usaha terakhirnya untuk menyusul Rukia. Gadis itu melenggang anggun saat sopirnya membukakan pintu untuknya, dan mobil keluarga Kuchiki pun perlahan meninggalkan halaman Karakura High School.

"Sial!" Umpat Ichigo saat sedan hitam itu berbelok dan menghilang dari jarak pandangnya.

"My son!" Pria berjubah putih yang panjang selutut menepuk bahu Ichigo, membuat anak itu berpaling dan menemukan ayahnya yang masih memakai jas dokternya. Sudah pasti pria itu buru-buru datang ke sekolah setelah mendengar kabar 'keterlibatan' Ichigo dalam kematian Hanataro, sampai-sampai lupa melepaskan pakaian kebesarannya.

"Ayo pulang." Ajak Ichigo cepat. Ia lelah menceritakan hal yang sama berkali-kali. Meski pun tahu bahwa ayahnya pasti menuntut penjelasan, setidaknya untuk kali ini Ichigo ingin dibiarkan menenangkan diri dulu. Bagaimana pun berandalnya dia, melihat orang mengakhiri hidup di depan matanya bukanlah hal yang mudah dilupakan begitu saja. "Nanti kuceritakan." Lanjutnya seraya melangkah.

Sang ayah-Isshin Kurosaki-menghela nafas panjang sebelum ikut melangkah bersama anak laki-laki satu-satunya itu.


Keesokan harinya, Karakura High School telah ramai oleh wartawan dan reporter, menggali informasi sebanyak-banyaknya atas kejadian menghebohkan kemarin. Tidak sedikit juga yang punya keinginan 'nebeng' terkenal, jadi mereka memberikan kesaksian apapun yang bisa mereka berikan. Bahkan tidak jarang melebih-lebihkan, dan sedikit mengarang. Namun tampaknya para reporter dan wartawan itu juga tidak begitu perduli, semakin dramatis kisah yang mereka reka tentang kematian Hanataro, akan semakin mendongkrak rating pemberitaan, tentunya semakin bagus juga untuk mereka.

Ichigo memandang kehebohan yang terjadi di bawah sana dari jendela kelasnya yang terletak di lantai dua. Ia duduk menopang dagu di bangkunya yang memang terletak di samping jendela, heran melihat bagaimana orang-orang bisa memanfaatkan hal-hal menyedihkan seperti kematian, untuk meraup keuntungan.

Meski tampak seperti sedang melamun, tapi Ichigo tetap mendengar bisik-bisik teman-teman sekelasnya, hanya saja ia malas menanggapi mereka.

"Kenapa Kurosaki dan Kuchiki-san bisa ada di sana?" Pertanyaan itu yang paling banyak terlontar dari seantero sekolah. Sejak berjalan memasuki gerbang hingga duduk manis di dalam kelas pun, Ichigo masih saja mendengar pertanyaan seperti itu.

"Benarkah mereka bersama-sama saat itu?" Histeria macam ini juga banyak yang sampai di telinga Ichigo, dan membuat pemuda itu merasa aneh. Ada seseorang yang meninggal dan mereka malah bergosip tentang kemungkinan-kemungkinan mengapa dirinya dan Rukia ada bersama di tempat kejadian. Sepertinya menyingkap ada apa diantara mereka jauh lebih penting daripada menyingkap apa yang membuat Hanataro melompat dari atap. Ichigo mendengus pelan. Mereka memang begitu populer, bagaikan tokoh antagonis dan protagonis dalam sebuah cerita. Tapi apakah sebegitu pentingnya mengurusi hubungan mereka di tengah semua kekacauan ini? Ichigo pikir tidak, namun sayangnya siswa-siswa lain tidak berpikiran sama dengannya.

"Heh? Benarkah? Kurosaki memanggilnya dengan nama depan?" Ichigo akui dia memang tidak terlalu mengingat nama-nama teman-temannya. Jangankan nama, wajahnya saja ia tidak kenal, bahkan orang-orang yang pernah menerima pukulannya pun Ichigo tidak ingat. Harus ia akui, sepertinya ia terlalu apatis dengan lingkungannya. Ichigo hanya mengenali tiga orang teman sekelasnya, Hanataro, Ishida, dan Rukia. Ichigo mengenal Hanataro karena terlalu sering menyelamatkan anak malang itu dari tindasan siswa lainnya, sedangkan Ishida sang ketua kelas terlalu sering mengomelinya karena tidak pernah berpartisipasi dalam kegiatan anak kelas 2-B. Sementara Rukia... Sejak pertama kali melihatnya di kelas satu, entah kenapa hanya nama itu yang menempel di kepala Ichigo.

Sedikit tersentak dengan pikirannya sediri, Ichigo memandang keadaan di dalam kelasnya dari pantulan bayangan di jendela. Bangku di sebelahnya masih kosong. Rukia belum datang. 'Tumben.' Pikirnya, 'Biasanya dia tidak pernah terlambat.'

"Kuchiki-san belum datang?" Suara Ishida menghentikan kasak-kusuk di dalam ruangan itu. "Tidak biasanya Kuchiki-san datang siang."

"Ano..." Seorang gadis berambut cokelat panjang menyahut, "Mungkin Kuchiki-san tidak masuk? Dia pasti masih sangat shock dengan kejadian kemarin." Argumen gadis itu mendapat respon anggukan dari kawan-kawannya.

"Kasihan sekali Kuchiki-san." Ujar seorang anak lelaki berambut cokelat tua dengan ekspresi lebay. "Dia pasti sangat sedih! Hatinya kan selembut salju!" Tambahnya sebelum akhirnya acara bisik-bisik bergulir lagi.

Ichigo mengernyit mendengar percakapan itu, kilasan kejadian kemarin kembali melintas di pikirannya. 'Shock, eh? Karena itu aku melarangmu membuka pintu ke atap, bodoh!' Kesalnya dalam hati. 'Jangan salahkan aku. Aku sudah melarangmu, tapi kau nekat membukanya, dan melihat anak itu melompat untuk mengakhiri hidupnya. Dan sekarang kau shock kan? Sampai-sampai tidak bisa masuk sekolah.'

Pemuda yang terkenal berandal itu menghela nafas pajang, kemudian bangkit dari duduknya dan mengambil tas. Berpuluh-puluh pasang mata memandangnya heran, karena bel sudah berbunyi dan sebentar lagi pelajaran akan dimulai. Tapi pemuda itu tidak perduli, dia melangkah meninggalkan bangkunya menuju pintu.

"Kau mau kemana Kurosaki?" Bentakan Ishida tidak menghentikan langkahnya.

"Pergi." Jawabnya singkat. Ia mungkin memang berandal, tapi dia tidak bisa mencari-cari alasan untuk berbohong. Ichigo melangkahkan kaki dengan perlahan, sambil menghela nafas panjang-panjang. Ichigo bukannya tidak shock, dia masih sangat terguncang malah. Peristiwa kemarin masih seperti mimpi buruk dalam ingatannya. Melihat darah dan mematahkan tulang mungkin bukan hal yang baru baginya, tapi melihat kematian tepat di depan matanya memberikan sensasi yang berbeda. Membuat semua emosi berbaur, menciptakan guncangan yang begitu aneh dalam dirinya, dan sangat menyesakkan. Tapi Ichigo juga tidak mau mengurung diri di rumahnya, itu membuatnya semakin mengingat kenangan buruk itu.


Terdengar ketukan halus di pintu, namun Rukia sepertinya tidak berniat membukannya. Gadis itu masih duduk tidak bergeming di atas tempat tidurnya yang empuk dan besar.

"Nona?" Sebuah suara di luar pintu membuat Rukia menoleh sejenak.

"Ya." Sahut gadis itu singkat, masih belum bergeming dari tempatnya.

Pintu kamarnya membuka, memperlihatkan seseorang yang sejak semenit lalu berdiri di sana. "Anda bangun kesiangan? Anda sudah terlambat pergi ke sekelah, nona." Seorang gadis berpakaian maid masuk dan menghampiri Rukia.

"Aku sudah bangun dari tadi, Nemu." Sepasang mata amethyst menatap ke jendela, dimana cahaya matahari masuk di sela-sela gorden. "Tapi aku tidak ingin ke sekolah hari ini." Mata itu kini beralih kepada pelayan pribadinya.

"Baiklah, saya mengerti. Saya akan menelpon sekolah anda dan mengatakan anda sedang tidak enak badan." Nemu memang sangat cekatan dan bisa diandalkan.

"Terimakasih, Nemu." Rukia tersenyum tulus. "Apa kakek sudah berangkat?"

"Beliau sudah ke kantor pagi-pagi sekali." Nemu mengangguk singkat. "Anda pasti masih shock dengan kejadian kemarin." Rukia menangkap nada simpati dalam suaranya, meski ekspresi Nemu sedatar papan. Sepertinya orang-orang yang tinggal di mansion keluarga Kuchiki tidak punya banyak ekspresi yang bisa ditunjukkan.

Rukia hanya menanggapinya dengan senyum kecut. Ini bukanlah yang pertama dia melihat kematian. Menghadapi situasi yang sama berkali-kali seharusnya bisa membuat kita terbiasa, tapi bila situasi itu adalah kematian, bisakah kita terbiasa? Gadis mungil itu menghela nafas, Nemu telah permisi untuk menjalankan tugas-tugasnya. Kini ia lagi-lagi sendirian di kamarnya. Keheningan membuat perempuan muda itu kembali tenggelam dalam pikirannya. 'Sejak dulu aku sering melihat kematian orang-orang di sekitarku, tapi tetap saja saat seseorang pergi untuk selamanya, rasa menyesakkan itu akan muncul lagi.'

Rukia menutup matanya, membiarkan seluruh rasa berdesakan dalam hatinya. "Aku gagal lagi. Maaf, Hanataro." Dalam beberapa tarikan nafas, Rukia berusaha membuang seluruh emosinya. "Seandainya aku bisa berbuat sesuatu." Sebersit sesal rupanya masih menggantung di hatinya, berakumulasi dengan sesal-sesal yang terdahulu, menjadi beban yang tidak bisa dilepaskan oleh gadis itu.

Setelah menyingkap selimut, Rukia beringsut mendekati jendela. Saat jari-jarinya hendak menarik gorden, matanya menangkap sesuatu yang asing di jalan depan rumahnya. Seuatu yang mencolok, dan Rukia yakin hanya ada satu di dunia ini, rambut oranye jabrik. "Ichigo Kurosaki?" Bisiknya heran mendapati teman sekelasnya itu berdiri di luar gerbang rumahnya, celingukan meoleh kesana-kemari. "Kenapa dia ada di sini?".


"Kenapa aku malah ke sini?" Pemuda oranye itu meggaruk kepalanya yang tidak gatal, kebiasaannya bila sedang bingung. Sejak tadi ia memikirkan keadaan seorang gadis, dan rupanya alam bawah sadar dan kakinya menjalin kerjasama yang sangat baik. Ketika sadar dari lamunannya, tiba-tiba saja ia telah berada di depan sebuah mansion bergaya Eropa, rumah keluarga Kuchiki. "Ck! Sial... Apa yang harus kukatakan kalau dia melihatku di sini?"

Ichigo berbalik, hendak meninggalkan rumah itu, tapi kakinya tidak jadi bergerak. "Sudah sampai di sini, kenapa tidak pastikan saja keadaannya sekalian?" Namun saat berbalik, sebersit gengsi mengusiknya, "Kenapa aku mesti repot-repot?" Keragu-raguan membuatnya ingin menjauh dari tempat itu, tapi rasa penasaran membuatnya tetap bertahan. "Arrrggh!" Ichigo mengacak rambutnya yang memang berantakan.

"Permisi, tuan?" Seorang pria tinggi besar berkulit cokelat menghampiri Ichigo, dari seragamnya sepertinya pria itu butler keluarga Kuchiki.

"Ah iya?" Gagap Ichigo. Saking asik dengan kebimbangannya, Ichigo jadi tidak menyadari kedatangan pria itu.

"Maaf, anda ada perlu apa?"

"Ti-tidak." Ichigo tersenyum, senyum yang sangat dipaksakan. "Sepertinya aku tersesat. Permisi!" Tanpa menunggu reaksi pria itu, Ichigo langsung balik badan dan pergi tergesa-gesa, rasa malunya sudah sampai di ubun-ubun.

"Hei!" Suara dalam yang sudah begitu dikenal Ichigo membuatnya menghentikan langkah. "Ichigo Kurosaki!"

Ichigo memutar kepala, dan seperti yang telah ia duga, Rukia berdiri di belakang butlernya yang tinggi besar. Selama beberapa detik, siswa oranye itu terpana, Rukia masih mengenakan gaun tidur putih panjang tanpa lengan, jika dikombinasikan dengan mansionnya yang bergaya Eropa, ia terlihat seperti putri dari negeri dongeng.

"Ichigo?" Panggilan Rukia membuat Ichigo kembali ke dunia nyata. "Kenapa kau ada di sini?" Pertanyaan senada dengan yang dilontarkan butler membuatnya seperti tersengat.

"A-aku..." Ichigo menggaruk kepalanya asal, gugup karena tidak siap dengan alasan.

"Hm...?" Rukia menaikkan alisnya, tanda tidak sabar mendengar jawaban Ichigo.

"Aku... Itu, eh..." Ichigo bertambah gugup karena amethyst Rukia menatap hazelnya langsung.

"Menghawatirkanku?" Tebakan Rukia tepat sasaran, karena Ichigo hanya meresponnya dengan ternganga.

"Bu-bukan!" Sembur Ichigo, "Aku hanya, hanya..." Otaknya rupanya tidak terlatih dalam mengarang cerita bohong.

Rukia tersenyum geli sekarang. Baru kali ini ia menyaksikan sisi lain Ichigo yang biasanya begitu beringas dan tidak peduli. Ternyata seorang Ichigo juga bisa salah tingkah. "Ayo mampir?" Tawar Rukia, lama-lama ia merasa tidak enak juga mengerjai Ichigo sampai mukanya merah begitu.

"Di sini saja." Sahut Ichigo cepat. Rukia masih tersenyum jahil dan itu membuatnya merasa kalau bisa saja gadis itu mengerjainya lagi kalau terlalu lama di rumah ini, bisa rusak image cool-nya selama ini. "Kau masih terganggu dengan peristiwa kemarin?" Tanyanya langsung tanpa basa-basi.

"Chad, kau boleh pergi. Biar nanti aku yang menutup gerbangnya." Sang butler mengangguk singkat kemudian melangkah menuju rumah. Rukia menghela nafas pelan sebelum menjawab pertanyaan Ichigo, "Tentu saja. Apa kau tidak merasa tertekan dengan kejadian itu?"

"Ya tentu saja. Seseorang meninggal di depan mataku, tentu saja bayangan itu terus melintas di kepalaku." Dengus Ichigo. "Tapi aku pikir, mengurung diri di kamar tidak akan membuatku merasa lebih baik."

"Jadi menurutmu, berkeliaran di jalan pada jam sekolah akan membuatmu merasa lebih baik?" Rukia membalikkan pertanyaan.

"Bukan! Hanya saja aku..."

"Mengkhawatirkanku?" Sambar Rukia. Tangan mungil yang tadinya memegang gerbang, berpindah ke dagu, menyembunyikan senyum jahil yang muncul di wajahnya. Entah kenapa melihat Ichigo yang salah tingkah menjadi hiburan yang sangat menyenangkan baginya.

"Ck!" Ichigo berdecak kesal, kehilangan kata-kata untuk membalas gadis di depannya. Ia meremas salah satu jeruji di yang menghiasi gerbang, wajahnya tambah berkerut. "Sudahlah! Aku mau pulang." Tanpa permisi, Ichigo berbalik dan melangkah meninggalkan Rukia yang masih tersenyum.

"Terimakasih sudah mengkhawatirkanku." Ujar Rukia tulus. Meski Ichigo tidak mengakui, tapi dari semburat merah di pipinya, Rukia tahu pemuda itu memang cemas akan keadaannya.

Ichigo terus melangkah, pura-pura tidak mendengar kalimat Rukia. Namun, sebenarnya ia menyembunyikan wajahnya yang terasa panas. Sementara kakinya terus berjalan, diam-diam ekor matanya terus memperhatikan Rukia yang kini menutup pagar dan berbalik masuk ke masionnya. Saat gadis itu telah hilang dari jangkauan pandangannya, Ichigo berhenti dan menoleh. Kerutan di dahinya bertambah, matanya menyiratkan keheranan yang amat sangat. "Kenapa aku tidak bisa...?" Bisiknya.


TOK... TOK...

Ketukan di pintu membuat seorang pria berambut cokelat mengangkat wajah dari tumpukan berkas yang sedang diperiksanya. "Masuk."

Pintu dibuka dan menampakkan seorang wanita berkacamata yang menghormat dengan sigap. "Inspektur Starrk, kami tidak menemukan surat pesan kematian itu."

Starrk yang masih duduk di bangkunya mengernyit, "Kau sudah geledah tempat di sekitar anak itu jatuh? Mungkin saja kertas itu terbang dari sakunya saat ia terjun."

"Sepertinya kemungkinan itu kecil sekali, karena saku jasnya tertutup rapat. Tapi kami tetap mengadakan penyisiran di sekitar TKP, dan hasilnya nihil. Pesan kematian itu tidak ditemukan."

"Apa surat itu benar-benar ada?" Starrk lebih seperti bertanya pada dirinya sendiri.

"Menurut keterangan Yamamoto-san, kedua muridnya memberikan kesaksian seperti itu." Jawab wanita itu sembari menaikkan kacamatanya dengan telunjuk.

"Kau, sudah minta keterangan mereka, Nanao?"

"Belum, Inspektur Starrk." Jawab wanita yang dipanggil Nanao. "Mereka berdua tidak ada di sekolah. Lagi pula Kepala Sekolah Yamamoto sangat protektif terhadap murid-muridnya, mengingat mereka masih di bawah umur. Saya sedang mengusahakan agar kita bisa mendapat keterangan langsung dari Ichigo Kurosaki dan Rukia Kuchiki."

"Baiklah, Nanao. Aku minta laporan kesaksian mereka besok sudah ada di mejaku." Starrk mengetuk-ngetukkan pulpennya di permukaan meja, resah. "Ada perkembangan lain lagi?"

"Belum ada, inspektur." Sahut Nanao singkat. Kapten Divisi Investigasi itu memang sangat efisien dalam bekerja, juga berbicara.

"Kalau begitu, kita pergi ke upacara pemakaman Hanataro sore ini. Mungkin kita bisa dapat sesuatu disana."


"Sudah kau dapatkan surat itu?" Sebuah suara bernada ketus menggema di ruangan luas bergaya Victoria.

"Hehehe tentu saja." Sahut seorang pemuda berambut biru cerah memperlihatkan seringainya, kemudian menjatuhkan diri di sofa terdekat.

"Jangan tertawa!" Hardik suara ketus itu. "Kecerobohanmu nyaris membongkar semuanya. Aku heran pria besar sepertimu tidak pernah bisa bersikap dewasa." Ia menadahkan tangannya, pertanda meminta sesuatu dari si rambut biru.

"Oh baiklah, lihat siapa yang bicara!" Sungut pemuda biru itu seranya beringsut mendekati tempat duduk lawan bicaranya, kemudian menyerahkan sepucuk surat. Namun, mendadak ia menutup mulut karena tatapan mata sang lawan bicara. Jika tatapan bisa membunuh, mungkin ia sudah terkapar di lantai sekarang juga.

Setelah kertas itu berada di tangannya, "Jaga bicaramu." Nada ketus menggema lagi di ruangan itu. Perlahan ia membuka lipatan surat, membacanya sejenak sebelum akhirnya kembali menatap murka pada pemuda di hadapannya. "Grimmjow!" Panggilnya marah pada pemuda berambut biru. "Hanataro itu jelas-jelas menulis namamu dan teman-teman dalam pesan kematiannya ini!" Ia mengacungkan surat itu di depan wajahnya. "Kalau saja polisi menemukan surat ini, kita bisa tamat, dan kau! Aku pastikan kau akan membusuk tanpa seorangpun menangisi kematianmu!" Murkanya.

"Tapi kan surat itu sekarang sdah di sini. Polisi pasti tidak tahu kalau anak itu meninggalkan pesan sebelum kematiannya." Kilah Grimmjow. "Tidak perlu dibesar-besarkan begitu!"

"Kalau saja aku tidak mendapat informasi tentang pesan kematian itu, apa kau dan otak udangmu itu bisa tertawa bodoh begitu sekarang?" Hardik suara itu, masih dengan nada ketus yang sama. "Aku sudah memperingatkanmu untuk berhenti mem-bully anak itu. Ia memang lemah, tapi ia bukan idiot! Kau membahayakan kelompok kita, apa kau sadar?"

Kekesalan sangat terlihat di wajah Grimmjow, ia bukan tipe orang yang suka digertak, tapi berhadapa dengan orang ini mau tidak mau membuatnya harus rela tutup mulut.

"Sudahlah." Sosok lain muncul di depan pintu. "Aku yakin Grimmjow sudah sadar akan kesalahannya. Iya kan?" Pemuda berambut pirang menyeringai lebar ke arah Grimmjow.

Sedangkan Grimmjow hnya meresponnya dengan dengusan.

"Shinji, awasi dia."

"Apa? Hei? Masa aku harus diawasi olehnya?" Grimmjow menuding Shinji Hirako.

"Untuk sementara, sampai kau bisa mengendalikan kecerobohanmu, kau ada di bawah pengawasan Shinji." Ia menekankan setiap katanya, membuat bicaranya terdengar lebih ketus dari sebelumnya. "Dan ini, " ia mengambil pemantik dari dalam laci mejanya, "Harus dimusnkahkan." Ucapnya seraya mempertemukan ujung surat itu dengan api, membuatnya terbakar perlahan. "Sekarang kalian boleh keluar." Seiring kepergian Grimmjow dan Shinji dari ruangan itu, ia melempar surat yang terbakar ke dalam perapian yang kosong, membiarkan nyala api padam dengan sendirinya.


TBC


Reina Rukii : memang ada hal-hal yang masih saya belum kasih tau, tapi sedikit demi sedikit bakal terungkap sejalan ma cerita ini. So, biar ga penasaran, tetep baca ya. Hehe –plak-

nMz-icHiki Aoi : ini chap 2 aoi! Mudah2an suka ya.. romance udah nyempil dikit (yaah kalo bisa disebut romance *ngeliatin ichiruki scnene di atas*)

Ai Sekai : updated.. updated.. *sambil bawa2 spanduk*

Kianhe Tsuji : halo kianhe.. boleh kok numpang ripiu, hehe.. hanataro kenapa? Itu sedikit diceritain di chap ini *ditabok gara2 sok misterius*

Jee-eugene : sebenarnya, mereka itu…. *dibekep ichiruki*

ruki : jangan bongkar2 rahasia dong, tar gak surprise lagi!

Ichi : Kenapa aku ngalangin si midget buka pintu itu? Soalnya takut tar dia shock lagi *blushing sambil ngelirik rukia*

Yanz Namiyukimi-chan : rukia fisiknya gak lemah kok, cuma dia sering pingsan itu karena... di chap depan aja deh hehe *ditendang yanz*

Ruki Yagami : yah pada dasarnya hanataro cuma korban cin.. hehehe *dibebat hanataro pake perban*

Minami Tsubaki : ah gomen! Salah co-pas, hehehe –plak- sebenernya pengennya ini supranatural/mysteri/advebture, tapi masih bingung juga.. makasih ya minami atas sarannya, aku coba ganti genrenya deh ^^

eriluvte-chan : iya tuh, capek kali matanya ruki ngeliat rambutnya ichi hahahaha *ditabok ichi*

Nana-chan Kuchisaki : ini sudah update! Mind to RnR..?

nakki desinta : hohoho bukan kok, nakki.. itu cuman isshin yang aneh bin gak ajaib –plak-

ruki ruu mikan head : ga apa-apa kok ruu.. ruu mampir di sini aja udah seneng.. hehehe.. ruki ga sakit kok, tenag aja ^^d