Moment
.
Standard Disclaimer Applied
.
Rate T
.
SasuXFemNaru
3. Inhaler
.
_
Hari itu aku tak pernah berpikir bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Maksudku hal tak terprediksi semacam hal yang menyebalkan, membuat emosi meluap tidak jelas, kesialan dan sebagainya. Pagi itu hanya satu hal yang kutahu. Inhalerku habis tak tersisa satu dosispun.
.
_
Malam hari, seperti biasa kusempatkan untuk membersihkan diri setibanya di rumah. Pukul 20.06 terpampang pada layar handphoneku ketika aku mengingat apa yang harus aku lakukan setelah ini. Pekerjaan menumpuk, revisian yang belum selesai, bahan evaluasi yang harus segera diselesaikan, juga targetan jurnal yang harus kurampungkan.
'Begadang lagi' hal yang kupikirkan seketika.
Sebelum mulai bekerja tidak lupa selalu kuatur skala prioritasnya terlebih dahulu, untuk apa? Agar aku tahu mana yang harus kudahulukan, dan harus rampung lebih dulu.
Di atas meja kuraih sebuah buku catatan bertuliskan Uchiha Sasuke, Ph.d. lembar demi lembar kulewati hingga sampai pada halaman dengan header "Agenda of This Day".
Hidup dengan teratur dan teragenda adalah poin yang ibuku ajarkan tiap harinya.
"Sasuke. Hidup itu terikat pada beberapa hal yang bisa kau kendalikan dan beberapa hal yang tak bisa kau kendalikan Pemikiran, kegiatan, pengetahuan adalah hal yang bisa kau atur sedemikian rupa, sedangkan yang hal tidak bisa kau utak atik adalah waktu dan takdir. Hal terkendali bisa kau tunda sedangkan hal lainnya tidak." Aku ingat perkataan ibu ketika kami sekeluarga tidak jadi berlibur saat itu karena kakakku yang terpaksa harus menginap di rumah sakit selama beberapa hari.
Sebuah kultur dalam keluarga Uchiha kemudian tertanam sangat kuat dalam diri tanpa terpaksa.
.
_
Agenda yang kulewati siang tadi cukup merepotkan dan melelahkan. Mengajar dua mata kuliah, melayani konsultasi mahasiswa tentang penelitianya, rapat internal departemen, dan satu seminar baru saja rampung sebelum aku sampai di rumah.
Menjadi seorang pendidik kurasakan merupakan hal yang perlu kerja keras. Kerja fisik dan pemikiran, juga ketulusan yang jelas diperlukan.
"Haaaaaah" kupikir listnya akan baik jika seperti ini
- Evaluasi
- Revisi
- Jurnal
Dan malam ini sungguh merupakan malam yang panjang dan melelahkan.
.
_
Alarm terakhir berbunyi, sudah pukul 4.30 ternyata. Dan sesuai prediksi, tidak semuanya rampung. Revisi tinggal separuhnya dan jurnal belum tersentuh sama sekali. Tak apa setidaknya aku sudah berusaha.
Buku catatan yang sebelumnya kuabaikan kubuka lagi. Menyusun agenda hari ini.
"3 mata kuliah. Dan satu rapat. Tak terlalu padat" syukurlah, setidaknya aku bisa pulang lebih cepat, menyelesaikan target yang belum rampung kemudian tidur cepat.
Bergegas mandi kemudian menyiapkan sarapan. Tak terasa sudah pukul 6.00. Ah menyebalkan, harusnya tadi aku tak buat sarapan saja.
"Pukul 6. Bis langgananku pasti sudah pergi"
Terlalu terburu, kupakai jam tangan pemberian ibu. Dan itu, inhalerku. Terakhir kali asmaku kambuh adalah satu bulan lalu. Aku kira isinya masih ada, setidaknya untuk hanya satu dosis. Namun tidak ada sama sekali ternyata.
"Kosong" pulang bekerja, aku harus membelinya.Bisa gawat kalau aku colaps tiba-tiba.
.
_
Sudah pukul 18.00 dan sial nampaknya hal yang terkondisi menghalangi niatku sebelumnya. Rekanku tiba-tiba masuk rumah sakit dan aku harus menghandle bahan penelitian kami, beban yang awalnya separuh kini menjadi sepenuhnya.
Selamat tinggal waktu tidurku yang berharga.
"Semoga drugstore langgananku masih buka" hal yang kukhawatirkan lainnya adalah, inhalerku.
.
_
Setelah bergelut dengan diri yang lelah, pikiran yang mulai tidak fokus bahan penelitian kami akhirnya selesai.
"Semoga validasi besok tak akan ada masalah." Apa yang kuperjuangkan kali ini adalah demi dana penelitian kami tahun ini, ketika ini gagal maka pupuslah sudah perjuangan kami tahun sebelumnya. Ketika membuat projek ini kami mengira hanya akan berlangsung setidaknya 12 sampai 20 bulan, tapi nampaknya beberapa hal yang tidak terprediksi baru kami pahami setelah penelitian ini berjalan enam bulan pertama.
Well sebuah penelitian yang dirancang tak selalu bisa sesuai harapan awal.
Ketika keluar lab langit sudah gelap dan berawan
"Nampaknya akan hujan" berlari akhirnya meskipun dengan enggan.
Nafas tersengal, keringat meluncur bebas di dahi dan punggungku ketika bis terakhir hari itu kudapatkan dengan susah payah.
"Akhirnya hujan" tiap bulir air menempel membentuk pola tak peraturan di jendela bis, beberapa bulir yang berkumpul kemudian membentuk aliran yang beraturan, sifat dasar air.
Jam LED yang berada di depan sisi bis menyadarkanku, sudah hampir pukul sebelas malam. Kuharap drugstore itu masih buka.
Beberapa saat hingga nampak tanda menyala bertuliskan Grab your Medicine menjadi penanda aku harus turun segera. Dan sial
"Sudah tutup" gelap, hujan dan diriku basah.
.
_
Hal buruk tak terprediksi lagi-lagi menghampiriku segera. Sesak, nafasku mulai tak beraturan. Ah sial apa yang harus kulakukan. Meraih handphone, berharap mencari apotik terdekat lewat peramban, namun tak mungkin aku kesana. Terlalu jauh, sudah tak ada angkutan umum dan nafasku tak cukup kuat untuk berjalan.
Yatuhan kuharap aku sadar sehari sebelumnya. Inhalerku..
Lemah, dingin, mataku sudah mulai berkunang-kunang, dan pasrah. Melihat sekitar ada sebuah kursi disana. Setidaknya kalaupun aku harus menunggu sampai toko ini buka aku tak perlu berdiri.
Mencoba menghangatkan diri dengan duduk memeluk lutut sembari menangkupkan kedua tangan menutup mulut dan hidungku. Beberapa menit berlalu, dan beberapa jam berlalu.
Pukul 1.34 ketika aku sadar hujan sudah reda dan sesak nafasku semakin menjadi.
Detak jantungku mulai terasa tidak normal, gelisah ketika sadar ini tak bisa dibiarkan lagi, atau besok aku hanya tinggal seonggok daging yang bernama Sasuke.
21% daya baterai yang tersisa ketika pilihan meminta tolong memenuhi benakku. Random kuhubungi siapapun yang terlintas dalam pikiranku dengan harapan semoga mereka masih bangun dan sadar aku butuh pertolongan mereka.
Puluhan, aku mengirim puluhan pesan pada puluhan orang namun dua puluh lima menit menunggu tak membuahkan hasil, kupikir mereka sudah tidur dan mengabaikan handphonenya.
Mengumpat dalam hati berkali-kali karena kesal dan menyesa. kemudian satu nama kuingat, mungkin saja dia masih bisa menjadi harapan terakhir
'Dobe. Apa kau masih bangun?
Aku butuh bantuanmu. Kau tahu drugstrore langgananku kan?
Asmaku mendadak kambuh dan obatku habis. Ketika aku ingin membelinya drugstore ini sudah tutup'
Belum selesai aku mengetik kalimat selanjutnya ketika sign read tertulis pada text yang kukirim, dan pesan balasan pertama muncul
'Iya teme aku masih bangun.
Bantuan apa? Tentu aku berkali-kali kesana ketika kita sma dulu
Ya tuhan.
Kau dimana sekarang?'
Kuketik cepat kalimatku sebelumnya, juga balasan untuk pertanyaan yang terkirim tadi
'Aku pulang terlambat, naas hujan turun dan aku menderita sekarang. Tubuhku basah, tak ada angkutan umum, aku duduk meringkuk di depan drugstore.
Apa kau bersedia membelikanku inhaler dobe? Kau tahu drugstore 24 jam terdekat?'
Tidak menunggu lama hingga balasan lain darinya muncul
'Apa kau bodoh. Akan kumarahi kau ketika asmamu reda.
Iya aku tahu. Hanya inhaler saja? Apa merknya aku lupa
Aku harus kesana menjemputmu dulu atau bagaimana?'
Kuingat ketika ia marah dengan mata berair ketika melihatku kambuh dulu.
'wait kukirim gambarnya.
Bisakah kau belikan obatnya dulu? Nafasku sudah tidak jelas, mataku sudah mulai buram.
Dan bisakah kau tidak marah ketika nanti sampai? Sorry'
Desperate, tidak berdaya, keras kepalaku sudah menguap entah kemana. Hanya fokus pada text dan bernafas adalah hal yang kulakukan sekarang.
'Baiklah. Tunggu disana, aku tak akan lama.
Jangan mati dulu teme TT.TT
Yang kuingat kau sulit meminta maaf. Fokus pada pernafasanmu dan tunggu aku'
Satu kalimat terakhir kukirim sebelum layar handphone ku berubah gelap, kehabisan daya.
'Hati-hati di jalan dobe.'
Mataku buram, nafasku sesak, sangat sesak. Bahkan punggungku mulai nyeri setiap aku menarik nafas. Jarak kepala dan pundakku tak lagi nampak, ini upaya terakhirku.
Hah, apakah mungkin takdir menarikku malam ini? Tubuhku mulai terasa ringan. Namun sesak ini masih sangat menyiksa. Terdengar sangat jelas suara keheningan dan sesekali angin yang berhembus, beberapa suara mesin kendaraan juga.
.
_
Mungkin sudah berlalu 10 menit sekarang.
Hujan lagi.
Semoga dobe tidak lupa membawa payungnya.
Tatapanku menuju jalanan yang basah, genangan air membuatku teringat masa lalu.
Pertama kali mengenal dobe, Namikaze Naruto adalah ketika sekolah menengah pertama. Dia satu-satunya perempuan yang tidak pernah menatapku dengan tatapan aneh seperti perempuan lainnya. Dia menatapku dengan tegas, dengan wajah yang tegak.
Kami akrab karena sebuah ketertarikan yang sama, science. Aku yang keras kepala dan selalu menaruh perhatian dengan jurnal dan buku. Dia yang berisik, dengan sikap yang tidak terprediksi, tidak punya pendirian dan tak tersentuh ketika mulai menulis.
Lulus dari sekolah menengah pertama, aku pindah ke tokyo. Masuk sebuah sekolah menengah atas ternama dan siapa sangka, Naruto bersekolah juga disana. Tiga tahun di sekolah menengah pertama dan tiga tahun di sekolah menengah atas membuatku sedikit banyak tahu karakter Naruto.
Dia yang ternyata suka menyanyi, suaranya cukup bagus, namun tak pernah berniat menjadi penyanyi. Nyanyiannya selalu indah didengar tapi selalu berakhir dengan nada yang konyol, aneh kupikir saat itu.
Tak terkendali ketika tertawa, mulutnya menganga seperti seekor aligator.
Makan dengan cepat dan minum cukup banyak air tiap harinya. Aku ingat wajah sebalnya ketika kusebut ia 'gentong'.
Dan dia yang berubah merepotkan dan membuat hatiku tidak nyaman ketika dia mulai menangis. Air matanya mengucur deras dengan ekspresi yang kacau,ah kuingat dia tidak pernah merawat wajahnya dengan baik seperti teman-temannya yang lain, namun wajahnya berkilauan ketika ia menangis, dan bibirnya mendadak memerah. Satu lagi racauannya ketika menangis membuatku benar-benar tidak nyaman, dalam arti, aku tak suka melihatnya menangis.
Lulus dari sekolah menengah atas kami berpisah. Aku masuk universitas ternama di tokyo dengan jalur beasiswa, Fakultas Science yang menjadi impianku selama ini, departemen biologi. Naruto memilih universitas ternama di amerika dan menetap disana karena capaian yang menjadi ambisinya saat itu, menjadi peneliti tetap CERN, departemen matematika menerimanya dengan mudah.
4 tahun kami tak bertemu, Naruto tak pernah pulang ke jepang dan aku tak pernah menghubunginya meskipun aku tau kontaknya.
Setelah lulus aku melanjutkan pendidikanku di inggris selama 5 tahun hingga gelar Ph.d kubawa pulang ke jepang. Profesor di universitas tempatku kuliah sarjana dulu menarikku untuk mengajar mahasiswa disana. Penelitianku berjalan lancar, penghasilan yang cukup dan aku tak harus ke luar jepang. Pilihan yang tak bisa kulewatkan.
Aku masih belum menghubungi naruto selama ini. Sembilan tahun hingga sebuah proyek mempertemukan kami. Naruto ternyata kembali ke tokyo beberapa tahun setelahnya, kemudian bekerja di badan penelitian nasional jepang. Dia juga sudah bertitel Ph.d dengan spesialis yang berbeda dari departemennya ketika sarjana dulu. Bioteknologi menarik perhatiannya ketika abroad, itu katanya.
Kami berakhir sama-sama di tokyo. Namun lagi-lagi jarang berkomunikasi, selain dari proyek yang kami tangani bersama.
Kegemaran kami masih sama, science. Dan pertama kali aku menghubunginya adalah tadi.
Tak kusangka dia akan membalasku dengan cepat.
.
_
Berapa menit berlalu aku tak ingat, yang kutahu adalah punggungku yang berubah menjadi kaku dan nyeri ketika kugerakkan. Nafasku masih sama, sesak. Dan tubuhku yang semakin dingin.
Aku masih menunggumu Naruto.
Kulihat sebuah sepeda motor besar berwarna merah dari ujung jalan, mulai mendekat kemudian berhenti tepat di depanku. Pengemudinya turun dengan cepat.
Ah siapa dia. Wajahnya terturup helm hitam. Tubuhnya basah kuyup
"Teme!!" sebuah panggilan kudengar darinya. Dia membuka helmnya dan nampak wajah yang tak ingin kulihat. Naruto. Apakah dia menangis? Wajahnya basah, nafasnya tersengal dan bibirnya memerah.
"Teme gunakan jaket ini." Dia menutupi punggungku dengan jaket dalam kantong plastik yang ia bawa. Aku masih dalam posisi yang sama, nafasku yang sesak menghalangiku untuk bisa berkata.
"Cepat gunakan ini. Hirup dengan benar" inhaler pesananku, dia segera memasukan lubang aplikasinya ke dalam mulutku kemudian menyemprotkannya dua kali.
"Hirup dengan benar teme." Ah inhaler ini, memang benar-benar.
Aku batuk beberapa kali sampai akhirnya rasa sesak yang menyiksaku mulai menghilang.
Ketika aku menegakkan tubuhku naruto jatuh terduduk kemudian menangis dalam diam. Air matanya masih saja mengalir namun tak ada racauan seperti dulu.
Kenapa dia.
Aku selalu bingung ketika naruto menangis dulu, begitu juga sekarang. Dengan rasa lemas yang masih menggantungi badanku, aku perlahan menghampirinya, ikut terduduk disana kemudian menepuk pelan kepalanya beberapa kali.
Surainya lepek dan
Yatuhan apa naruto langsung kesini tanpa mengganti bajunya. Kaus oblong berwarna merah dan celana training berwanra hitam. Aku ingat dia pernah menceritakan kalau ia ketika tidur tidak bisa menggunakan piyama, melainkan sepasang pakaian yang ia kenakan sekarang.
"Naru. Terima kasih" aku mengucapkannya dengan tulus. Dia menatapku dengan air mata yang masih mengalir
"Kupikir kau akan mati tadi temeeeeeeeeee" dan akhirnya racauannya mulai muncul
Rasa tidak nyaman yang familiar. Aku masih tidak suka melihatnya menangis. 9 tahun lalu maupun sekarang.
Naruto tiba-tiba berdiri kemudian mengusap matanya.
"Nafasmu sudah kembali teme?" aku mengangguk, suaraku masih belum bisa keluar
Naruto berbalik, berjalan menuju motornya kemudian membawa sebuah helm
"Sudah malam, aku antar pulang. Rumahmu. Dimana sekarang?" aku tak tahu kalau naruto ternyata bisa mengendarai motor dan motornya cukup maskulin kupikir.
Aku berdiri kemudian memakai helmnya
"Jalan cempaka" suaraku lemah ketika mengucapkan itu, namun nampaknya naruto mendengarnya dengan baik.
Menyalakan mesin motornya, naruto menatapku lagi yang masih berdiri, belum bergerak.
"Naiklah" aku menurut kemudian mendekat perlahan, kemudian duduk tepat di belakang naruto.
.
_
Motor melaju perlahan, sepertinya naruto tidak ingin angin menerpaku terlalu kencang.
Jalanan sudah sangat sepi, suara motor naruto kentara sekali.
Aku tak tahu sosok naruto yang ini. Dia yang tiba-tiba menangis, tiba-tiba diam, dan ekspresinya tadi. Sepertinya dia khawatir, marah dan gelisah disaat yang bersamaan. Punggungnya cukup lebar untuk seorang perempuan, kuat dan kokoh. Tubuhku juga seperti itu, hanya saja posturnya seperti sebuah jam pasir, sedangkan posturku seperti segitiga yang terbalik.
Sasuke bodoh, kenapa kau malah jadi memperhatikan tubuh naruto.
Beberapa menit berlalu dan akhirnya kami sampai di depan rumahku
"Teme apa ini rumahmu?" naruto bertanya sembari menghentikan laju motornya ketika aku menepuk punggungnya dua kali.
"Hn" tenggorokanku masih sakit.
Aku turun perlahan, naruto membukakan gerbangnya tergesa kemudian mengikutiku sembari mendorong motornya.
Kami sekarang berada di dalam rumahku. Naruto duduk menyandar di sofa dan aku berlalu perlahan menuju kamar, mengganti pakaian, setidaknya ini bisa menghangatkan tubuhku. Kemudian kembali dan duduk tepat di samping naruto.
"Dobe. Terima kasih banyak" Naruto terdiam tidak menjawab, atau suaraku terlalu kecil
Hening beberapa saat.
"Kau berhutang padaku teme" ucap naruto pelan
Aku yang bingung hanya kemudian meraih sebuah selimut, dan memakaikannya pada naruto. Dia pasti sangat kedinginan,
"Aku tidak akan berterima kasih" apa dia merajuk? Yatuhan aku tak akan pernah terbiasa dengan naruto yang seperti ini.
Nafasku sudah kembali seperti semula, namun nyeri punggung, pundak dan tenggorokanku masih terasa. Hening, suara nafas mengiringi.
"Dobe. Kau harus ganti bajumu." Teringat baju naruto yang basah kuyup
Aku pergi kemudian kembali membawa sebuah celana basket dan kaus polo berwarna biru donker.
"Pakai ini!" naruto mengambilnya kemudian pergi. Pergi kemana dia.
Beberapa dekit kemudian dia kembali kemudian bertanya
"Teme dimana kamar mandinya??" dasar bodoh, kujawab dengan anggukan kepala ke arah kamar mandi berada.
Naruto berbalik kemudian pergi ke arah yang kutunjukkan. Beberapa saat hingga ia kembali.
Apakah pakaianku seperti itu? Naruto nampak sangat cantik dengan pakaian yang kuberikan, kaus longgar menutupi tubuhnya dengan baik hingga paha dan celananya nampak mengintip sedikit dari ujung kausnya.
Aku mungkin mulai tidak waras karena kekurangan oksigen tadi.
"Teme" naruto memanggilku sembari berjalan menuju sofa.
"Tidurlah. Wajahmu merah. Sepertinya kau demam" dia menyentuh dahiku memastikan.
Ah iya mungkin aku demam, pikiranku berkabut. Tapi bukan itu.
"Naruto" jarak kami cukup dekat hingga nafas naruto terasa oleh wajahku
"Menginaplah disini. Sudah malam. Dan hujan lagi" hujan memang turun lagi dan cukup deras.
"Kau bisa gunakan kamarku. Aku bisa tidur disini" naruto nampak gugup
"Baiklah" naruto kemudian pergi menuju kamarku.
Kejadian tak terkendali dan tidak terprediksi nampaknya menghampiriku berkali-kali hari ini.
.
_
.
_
Esok paginya aku terbangun karena harum yang tercium inderaku. Siapa yang memasak di dapurku? Dan kulihat naruto yang masih menggunakan pakaianku sedang menyajikan makanan. Semangkuk sup, tamagoyaki, dan empat buah onigiri.
Dia tersenyum ketika menyadari keberadaanku. Kami makan bersama pagi itu, kemudian naruto pulang tanpa mengganti baju.
Keesokan harinya naruto menghubungiku lewat chat, meminta maaf karena lupa mengembalikan baju, aku mengatakan padanya untuk datang ke rumahku saja.
Keesokannya lagi dia datang dengan kantung yang berisi bajuku dan sekotak besar makanan. Dia mengatakan dia masak terlalu banyak.
Selanjutnya kami berkomunikasi setiap saat, ketika kami luang. Kami bertemu setiap minggu, di rumahku atau di rumahnya. Satu tahun kemudian aku melamarnya dan beberapa minggu kemudian kami menikah.
Aku teringat perkataan ibuku tentang sebuah hal terkendali dan tidak terkendali. Isi inhaler yang habis nampaknya sebuah hal tak terkendali bernama takdir yang mengantarkanku pada hal tak terkendali lainnya untuk bisa bertemu naruto setelah sekian lama.
Hal terkendali, pikiran dan perasaanku akhirnya sadar bahwa selama ini aku menunggu naruto menghubungiku, berharap sebuah hal yang bisa kukendalikan namun aku lupa itu, aku selalu tertarik padanya namun aku yang dulu masih belum bisa berpikir dengan baik.
Kupikir aku akan mengajarkan hal yang sama pada isteriku Naruto dan anak-anakku hal yang sama dengan ajaran ibuku tentang hal terkendali dan tidak terkendali. Namun akan kutambahkan satu hal bernama inisiatif di dalamnya agar sebuah hal yang awalnya terpikir sebagai sebuah hal yang tak terkendali bisa berubah menjadi sebuah hal yang terkendali.
.
_
.
_
Hari itu aku tak pernah berpikir bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Maksudku hal tak terprediksi semacam hal yang menyebalkan, membuat emosi meluap tidak jelas, kesialan dan sebagainya. Pagi itu hanya satu hal yang kutahu. Inhalerku habis tak tersisa satu dosispun.
Dan inhaler ini membawaku pada hal tak terkendali bernama takdir. Takdir yang membawa aku Uchiha Sasuke menikahi sosok bernama Namikaze Naruto, atau sekarang bisa kusebut Uchiha Naruto.
.
_
Author Note
Yahooo. Ini story sampingan pekan ini.
Ringan dan yaaaaa kadang hidup sulit ditebak.
Btw cerita ini ada beberapa yang asli hehe. Inhaler yang abis dan terdampar di drugstore itu big accident. Dan story yang kepisah 9 tahun itu cerita dosen kenalan gw. Kocak XD
Thanks buat para reader. Dan yang meninggalkan jejak juga added story ini buat kalian follow terima kasih banyak.
Dan boleh minta sesuatu? RnR ya X)
See yaaa
