DISCLAIMER : MASASHI KISIMOTO
Pairing : Narusaku
Rated : M for language
Genre : Family , angs , hurt/comfort
Warning : OOC, OC, AU, TYPO, MAINSTREAM THEME etc.
Story by me seriello
DONT LIKE DONT READ MINNA BUT I HOPE U READ THIS AND LIKE IT:V
.
.
.
.
"Arghhhh!!!"
Erangan luar biasa kencang itu berasal dari ruang bersalin yang kini ditempati seorang wanita merah muda beserta dokter dan assistant nya.
Nafasnya tersengal-sengal, berusaha keras meraup banyak oksigen dikeadaan genting ini.
Sudah sekitar 1 jam yang lalu Sakura mengalami kontraksi pada perut nya dan itu sudah cukup memberinya kode bahwa ini sudah waktu nya, tapi ternyata saat sampai rumah sakit, yang ada malah bayi ini susah sekali didorong keluar.
Sakura sudah mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengejan namun ternyata sia-sia.
Bayi itu tak kunjung jua menampakan kepalanya. Membuat si dokter menghela nafas lelah.
Tsunade tau, kalau ini dibiarkan pasti akan berbahaya. Jika ketubannya sampai habis makan kemungkinan bayi itu lahir normal malah semakin tipis, satu-satu nya pilihan adalah operasi caesar tapi wanita merah muda ini bersikeras tak mau melakukannya.
Ia mau melahirkan secara normal.
"Haruno-san, sia-sia saja kau mengejan sekuat tenaga, bayi nya tak mau keluar." Tsunade memandang perihatin Sakura yang kini peluhnya tengah di lap oleh assistant nya-Shizune.
Dada Sakura naik turun, masih mengikuti instruksi dari Shizune untuk mengatur pernapasan nya.
"A-aku.. hah.. b-butuhh.. P-pendamping..k-katakan p-pada mereka b-bawakan N-Naruto k-kemari." Ucap Sakura tersengal-sengal.
Perutnya sakit luar biasa, ini memang sudah waktu nya tapi bayi itu tak kunjung jua keluar.
'Aku mohon permudahkan persalinan ku kami-sama' Sakura berdoa dalam hati sambil memejamkan mata.
Peluh bercampur air mata itu tanda perjuangannya.
Melahirkan tidaklah mudah.
Mendengar keinginan Sakura, lantas Tsunade bergegas keluar berniat menemui keluarga nya.
"Apa ada yang bernama Naruto? Seperti nya Sakura-san membutuhkannya sekarang." Tsunade mengedarkan pandangan menatap kedua orang tua Sakura secara bergantian.
Kizashi jelas terkejut dengan permintaan mendadak ini, apa lagi itu melibatkan Naruto.
Pria keparat yang telah membuat putri nya menderita.
"Arghhhh!!!" Lenguhan kesakitan itu mengagetkan mereka semua.
"Tunggu apa lagi, cepat!" Mebuki mendorong Kizashi memintanya pergi untuk menjemput Naruto.
Dengan berat hati pria paruh baya dengan kumis tipis itu beranjak dari posisinya.
Apapun itu, demi putri dan cucu tersayangnya akan Kizashi lakukan meskipun harus menjatuhkan harga dirinya.
'Ini hanya sementara' yakin Kizashi dalam hati.
.
.
.
.
CEKLEK
Pintu itu terbuka setelah sebelumnya Kizashi mengetuk sebanyak 2 kali.
Seorang wanita-yang sepertinya seusianya, bersurai merah darah muncul dari balik pintu nya.
Disusul seorang pria pirang yang jauh lebih tua dari pada Naruto muncul dibelakang wanita itu.
"Ada perlu apa ya?" Suara wanita itu mengagetkan Kizashi.
"A-aku ada perlu dengan Namikaze Naruto, Nyonya." Ucap nya sopan meskipun ia benci dengan Naruto tapi setidaknya dia harus sopan dengan orang lain kan?
"Ahh tunggu sebentar." Wanita itu berlalu, sambil berseru memanggil Naruto.
Sedangkan kini pria pirang paruh baya itu yang menemani di depan pintu.
"Silahkan masuk,Tuan." Ucapnya sopan sambil membuka pintu lebih lebar, tapi tawaran itu disambut dengan gelengan.
"Aku harus buru-buru membawa Naruto ke rumah sakit, putri ku membutuhkannya."
Minato-pria pirang itu, mengernyitkan keningnya bingung.
Untuk apa pria asing ini membutuhkan putra nya untuk ke rumah sakit? Putri nya membutuhkannya katanya? Ada apa dengan Naruto?
Belum terjawab pertanyaan-pertanyaan di benak Minato, kini Naruto sudah muncul dari belakang.
"Paman?" Seru Naruto sedikit kaget melihat siapa yang menunggunya, ibunya menyusul dari belakang.
"Aku mohon Naruto, ikutlah dengan ku ke rumah sakit sekarang, Sakura membutuhkan mu." Ucapnya sambil menunduk, sulit sekali sepertinya mengutarakan maksud kedatangannya.
Minato dan kushina yang tidak tau apa-apa jelas bingung.
Tengah malam begini kediamannya disambangi orang yang asing menurut mereka dan tiba-tiba orang itu meminta putra nya ikut untuk kepentingan yang tidak diketahui mereka.
Sebenarnya Naruto punya rahasia apa?
Sejak sekitar 2 bulan yang lalu, Minato dan Kushina pindah kembali ke mansion Namikaze di Tokyo ini yang sebelumnya ditempati Naruto sendiri sedangkan mereka tinggal di mansion Namikaze di Okinawa.
Jelas, sejak mereka tak ada disini maka mereka tidak tau apa-apa terlebih lagi Naruto tidak pernah bercerita apapun perihal masalah pribadinya, sekali nya bercerita paling-paling hanya soal perkembangan perusahaan dan juga keuntungan yang mereka dapat ketika memenangkan Suatu tender.
Tak pernah bercerita soal teman atau pun kekasih. Maka bukan salah mereka kalau kini mereka kebingungan menuntut penjelasan.
"Sekarang?" Pertanyaan Naruto itu dijawab dengan anggukan.
Dengan segera Naruto berlalu bersama Kizashi meninggalkan Kushina dan juga Minato yang masih mematung tak mengerti.
.
.
.
.
Langkah pria itu lebar-lebar, memangkas jarak yang ada antara pintu dengan ranjang Sakura.
Dilihatnya kini Sakura dengan pakaian bersalinnya beserta dua wanita asing yang ia yakinin seorang dokter.
Wajah Sakura benar-benar kusut seakan-akan tak ada harapan diwajahnya.
Emerald yang biasa berpendar cerah itu kini meredup, Naruto sedikit perihatin melihatnya, terutama saat Sakura mengerang kesakitan.
Diraih nya tangan Sakura yang terkulai lemas disisi ranjang, berharap itu memberikan sedikit kekuatan.
Entah kenapa anggota tubuhnya seakan-akan bergerak dengan sendirinya tanpa diperintah.
Sakura yang merasa tangannya di genggam lantas segera menoleh ke siempunya tangan, dilihatnya kini pria dengan surai pirang yang ia tunggu-tunggu sudah ada disampingnya dengan tatapan penuh keperihatinan.
Apa Naruto mengkhawatirkannya?
"Bagus! Ayo kita mulai lagi, Haruno-san coba mengejan lagi." Perintah Tsunade ketika ia melihat pria yang dimaksud Sakura sudah berada di dalam ruangan.
kini fokusnya kembali pada daerah selangkangan.
Sedikitnya Tsunade berdoa dalam hati semoga persalinan ini tak ada halangan lagi.
Tentu ia sebagai dokter patut was-was, takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada pasien nya.
Dengan aba-aba dari Shizune lantas Sakura mengejan lagi sesuai perintah, sakit sekali perutnya.
Mungkin sekarang otot-otot perutnya sedang bekerja keras membantunya mendorong sang buah hati.
Diremasnya tangan Naruto kelewat keras membuat pria itu meringis kesakitan, tapi melihat Sakura yang berusaha keras lantas Naruto membiarkan dirinya tersiksa.
Jika dibicarakan tentu tak sebanding kan rasa sakit yang ia derita dengan rasa sakit Sakura?
"Ayo sedikit lagi!" Seru Tsunade sumringah ketika ia bisa melihat sebuah kepala dengan beberapa helai surai pirang disana.
Mendengar itu tentu Sakura senang, perjuangan nya tidak sia-sia kan?
Sakura melepas genggaman tanganya pada tangan Naruto dan berpindah ke lengan kekar nya.
Mencengkeramnya dengan kuat membuat siempunya meringis kesakitan,lagi.
"BENAR-BENAR KAU BOCAH NAKAL!!!"
Teriak Sakura membuat Naruto terkaget-kaget.
siapa yang dikata bocah nakal?
Tsunade tersenyum menanggapi racauan Sakura tadi.
Memang sepatutnya bocah ini dikata nakal, bayi nya ini tak mau keluar sejak 1 jam yang lalu tapi sekarang bisa dengan mudah langsung memunculkan kepala nya ketika tau sang ayah mendampingi ibunya.
Nakal sekali bukan?
"ARGHHHH!!!! KAU NAMIKAZE NARUTO!! KAU YANG MEMBUAT KU KESUSAHAN BEGINI!!"
Sakura menjambak rambut Naruto membabi buta membuat siempu nya rambut kaget dan meringis kesakitan.
"SEENAK NYA KAU YA MENGHAMILI KU KEMUDIAN PERGI! SEKARANG KAU LIHAT KAN! MELAHIRKAN ITU TIDAK MUDAH BODOH!!!!"
Sakura kembali berteriak kesetanan, Tsunade maupun Shizune tak ada niatan menghalanginya sedikitpun biarkan saja sakura meracau.
Berteriak marah sedikitnya bisa mengurangi rasa sakit karena diri nya akan lebih fokus kepada keluh kesahnya dibanding rasa sakit yang melanda.
"AWAS SAJA YA! KAU AKAN MENDAPAT BALASANNYA BODOHH!!!"
Teriak Sakura sambil menangis sedangkan Naruto cuman bisa meringis.
"ARGHHHHH!!!" Lenguhan panjang itu diakhiri dengan suara tangis seorang bayi.
Akhirnya putra pertama nya lahir dengan selamat kedunia.
Sakura akhirnya bisa bernafas dengan lega.
Jemari tanganya yang tadi sibuk menjambak surai Naruto kini terjatuh lemas, beberapa helai rambut pirang itu menempel pada sela-sela jari nya.
Ya ampun, Sakura mencengkeramnya kelewat keras sampai-sampai helaian itu rontok ditangannya.
Power seorang wanita ternyata bisa berkali-kali lipat disaat terdesak.
Shizune menerima bayi dari tangan Tsunade dan membungkus nya dengan selimut kuning cerah.
Segera saja ia membawa nya pergi untuk dimandikan dan diberi pakaian.
Naruto maupun Sakura belum sempat melihatnya sama sekali.
Tsunade tersenyum bahagia, 1 lagi kelahiran yang berhasil ditangannya.
"Selamat ya Haruno-san putra kalian berhasil lahir kedunia." Ucapnya dengan senyum sumringah.
.
.
.
.
"Tolong tanda tangani ini."
Kizashi menyodorkan sebuah amplop putih ke depan Naruto ketika pria itu keluar dari ruang bersalin anak nya. Disambutnya uluran amplop itu dan lekas ia baca.
Sebuah surat pernyataan pertanggung jawaban untuk pembuatan akta kelahiran.
Surat ini diperlukan untuk membuat akta kelahiran sebagai ganti buku nikah orang tua kan? Jadi mereka masih bisa membuat akta tanpa harus orangtua nya menikah.
Naruto menyeringai tipis, tersenyum meremehkan.
Kenapa keluarga ini bersikeras bahwa dia adalah ayah dari anak putri mereka hah? Terobsesi atau bagaimana?
Sekiranya itu yang ada dipikiran Naruto sekarang.
Ia berpikir bahwa keluarga Sakura mencoba memanfaatkannya.
Pantas kan jika dia berfikir seperti itu?
Dia kaya raya, seorang pengusaha muda sukses, putra tunggal Namikaze dan pewaris sah Namikaze Corp dan beberapa saham cabangnya, dia juga tampan, dibanding seperti orang asli Jepang dia terlihat jauh lebih mirip pria barat kan?
Dia benar-benar sempurna dan itu mungkin yang membuat keluarga Haruno ini menjadikannya sasaran empuk untuk mendesaknya mengakui sebagai ayah dari anak putri nya yang tidak jelas siapa ayah nya itu.
Ah ayolah Naruto, kali ini sepertinya pemikiranmu kelewat kejam sekali.
Tapi jika boleh jujur memang itu yang Naruto pikirkan selama ini.
Sejak pertama kali Sakura memberitahu kehamilan nya dulu.
Ia tidak boleh langsung percaya kan?
Bisa jadi Sakura memanfaatkan nya. Dia tidur dengan banyak pria lalu ketika dia kebobolan dia kebingungan siapa ayah biologis anaknya itu dan akhirnya pilihan itu jatuh pada Naruto untuk mempertanggung jawabkan semua nya.
Semua perempuan ingin pria kaya kan? Apalagi kedudukannya sebagai Chief Executive Officer di kantor jauh lebih tinggi dari pada direktur utama. Jelas cukup menjadi alasan banyak wanita mengincar dirinya.
Tapi sepertinya Naruto terlalu egois dengan dirinya sendiri serta reputasinya yang membuat dirinya gagal melihat bahwa fakta yang di beberkan Sakura jauh lebih paten dari pada alibinya.
Naruto menghela nafas sebelum kemudian ia menggoreskan tinta pena yang disodorkan Kizashi kepada nya diatas kertas putih berlapis materai itu.
Persetan dengan surat pertanggung jawaban,selagi keluarga ini tak mengancam posisi nya di perusahaan lantas apa yang perlu di khawatirkan?
.
.
.
.
5 tahun berlalu.
Kini bocah pirang dengan iris emerald itu sudah tumbuh menjadi bocah pintar, sebentar lagi Sakura akan menyekolahkannya ke taman kanak-kanak.
Meskipun belum pernah mengenyam bangku pendidikan tapi tak menghalangi Sakura untuk mengajarinya sejak dini.
Mengajarinya mengenal huruf-huruf dan angka dasar, membaca, perhitungan dasar serta yang paling penting adalah sopan santun.
Sakura tidak mau jika anak nya ini tumbuh besar menjadi anak berandalan yang membuat malu Nama keluarga besar.
Shinachiku berlari kesana kemari bermain kejar-kejaran dengan Shikadai-anak Ino dan Shikamaru.
Tawa cekikikan itu menggelegar mengisi ruang butik milik Sakura dan Ino yang masih dipadati pengunjung, membuat Sakura was-was takut kalau-kalau Shina menabrak para pelanggan.
"Bibi Karin!!!" Shina berhenti dari kegiatan nya menghindari Shikadai begitu melihat wanita dengan surai merah darah-yang sering ia temui dibutik ibunya ini, datang sambil mengacungkan permen lolipop tinggi-tinggi membuatnya berteriak kegirangan disusul dengan tatapan penuh harap dari Shikadai.
"Hai boy! Kangen ga sama bibi Karin?" Karin berjongkok menyamai tinggi nya dengan Shina dan Shikadai.
Dua bocah laki-laki itu mengagguk antusias mengiyakan. Lantas dengan cepat Karin merengkuh kedua nya dalam pelukan.
Karin memang sering berkunjung setelah usulan kerjasama nya disetujui Sakura dan Ino.
Jadi wajar saja kalau Karin nampak akrab dengan bocah-bocah ini.
"Nih bibi bawakan permen, rasa jeruk untuk Shina dan rasa mint untuk Shikadai." Ucap nya senang sambil mengulurkan 2 buah lolipop beda warna tersebut yang langsung disambar Shina dan Shika dengan riangnya.
"Terimakasih bibi!!" Ucap mereka berdua berbarengan sambil membungkukan badan,kompak sekali.
Setelah bocah tadi kembali berlari melanjutkan kegiatan mereka yang sempat tertunda-kejar-kejaran, lantas Karin kembali berdiri dan menghampiri Sakura dan Ino yang nampak masih mendampingi para Pengunjung.
"Ya ampun sungguh aku tak tau kalau butik ini jadi seramai ini." Ucapan Karin membuat Sakura dan Ino kaget.
Senyum merekah dari bibir tipis Karin menyambut pandangan iris emerald dan aquamarine itu.
"Ini juga berkat kau,Karin. Kalau saja kau tak mensuplai dan mempercayai kami maka butik ini bukan apa-apa." Sakura tersenyum yang kemudian disusul dengan anggukan dari Ino.
Ketiga nya lantas membicara kan pasal baju baru yang akan Karin kirim ke butik dan meminta pendapat mereka tentang rancangan barunya.
Saking larutnya dengan obrolan tersebut sampai-sampai tak menyadari Shina dan Shika tak lagi ada di dalam butik.
.
.
.
.
"Hei Shina! Tungguin dong, cape tau! Ngerepotin banget sih." Bocah dengan gaya kuncir tinggi khas ayah nya itu mendengus kesal ketika bocah pirang itu lari jauh di depannya, tak memberikan kesempatan sama sekali untuk nya menyamai atau sekedar mengejar ketertinggalan, cepat sekali larinya.
Yang dipanggil hanya tertawa cekikikan sambil melihat ke belakang, dimana sosok Shikadai itu makin mengecil setelah bocah dengan tatapan tajam itu tak lagi berlari, memilih berjalan sambil sesekali menjilat lolipop mint nya.
BUAGHHH!
Jidat lebarnya tak sengaja menabrak seseorang yang muncul secara tiba-tiba dari samping kiri nya, keluar dari sebuah kedai ramen terkenal.
"Aduhhh!!" Eluhnya sambil mengelus jidat kesayangannya, Shina jatuh terduduk.
Melihat sosok kecil yang menabrak dirinya terjatuh lantas ia mengulurkan tangan memberi bantuan sebagai pegangan.
Uluran tangan itu diraih Shina tanpa pikir panjang.
"Hei nak, kau tidak apa-apa?" Pria tinggi itu berjongkok untuk menyamai tingginya dengan bocah pirang yang masih setia mengelus jidat nya.
Iris emerald itu mendongak menatap shappire yang tengah memperhatikannya.
DEG!
Naruto terpaku begitu mendapati emerald yang tak asing baginya tengah menatap nya balik.
'Matanya?'
Bocah itu tersenyum riang kemudian membungkukan badan.
"Aku tidak apa-apa paman,maaf menabrak mu tadi. Maaf atas kecerobohan ku." Bocah itu membungkuk dalam-dalam mengutarakan permintaan maafnya dengan sungguh-sungguh.
Bocah dengan surai pirang cerah yang sama dengan warna rambutnya, cengiran lebar, serta sikap riangnya benar-benar membuat Naruto seakan-akan melihat masa kecil nya.
Siapa bocah ini?
"Shina! Kau tak apa kan?" Bocah dengan surai dikuncir tinggi itu nampak ngos-ngosan sehabis berlari begitu melihat insiden Shinachiku jatuh menabrak seseorang.
"Aku tidak apa-apa Shika." Bocah pirang ini kembali menunjukan cengiran lebarnya membuat Naruto makin yakin, ia seperti bercermin sekarang.
"Maafkan kecerobohan teman saya, paman." Shikadai membungkuk memberi penghormatan, alisnya mengernyit. Paman pirang ini seperti orang yang ada di dalam foto rekan-rekan kerja ayah nya.
"Paman ini teman ayah ya?" Pertanyaan Shikadai menginterupsi kegiatan Naruto yang masih mengamati Shinachiku.
"Ayah?" Tanya Naruto tak mengerti. Shikadai mengangguk dengan cepat
"iya! Ayah ku Nara Shikamaru." Ujarnya yang langsung ditanggapi dengan anggukan Naruto.
Pantas saja gaya pakaian dan rambut bocah ini mengingatkannya pada rekan kerja nya.
"Aku Nara Shikadai." Ujarnya sambil mengulurkan tangan yang langsung di jabat oleh Naruto dengan senang hati. Ramah sekali bocah ini.
"Dan kau? Siapa nama mu nak?" Naruto masih penasaran dengan Shinachiku sampai-sampai dia lupa memperkenalkan diri pada Shikadai.
"Aku Namikaze Shinachiku, paman!"
.
.
.
.
"Ino, kau lihat Shinachiku?" Sakura menghampiri Ino yang tengah sibuk dengan catatan pengeluaran bulanannya setelah Karin pamit secara mendadak karena butik nya mendapat kunjungan dari desainer lain secara tiba-tiba.
Wanita dengan iris aquamarine itu tampak memicingkan mata. Seingat nya Shina bermain bersama Shikadai.
"Mungkin diluar butik, dia pergi dengan Shikadai kan?" Sakura nampak gelisah, dia tak pernah mengizinkan Shina pergi keluar tanpa seiizin nya.
Sakura terlalu membatasi ruang gerak putra kesayangannya itu.
"Aku harus mencari nya!" Setelah berkata begitu, Sakura lantas pergi meninggalkan Ino yang masih sibuk dengan catatannya.
Tokyo bukan lah kota kecil dan Sakura sadar butik mereka ini berada di tengah-tengah pusat kota yang menjadikannya tempat yang rawan untuk bermain. Pinggiran jalan seperti ini bukan lah tempat yang aman untuk bermain kan? Dan pula Shina tidak pernah keluar Dari butik. Itu membuat Sakura khawatir kalau-kalau putra nya tersesat.
"Shina! Shika!" Teriaknya lantang begitu menyadari 2 figur bocah yang menjadi tujuannya. Sedikit bersyukur bocah nakal itu tidak pergi terlalu jauh dari butiknya. Keringat membasahi pelipisnya mengingat tadi Sakura sempat berlari.
Dihampiri nya dua bocah dengan surai beda warna itu. Hampir saja ia melontarkan kata-kata untuk memarahi mereka, namun seketika suranya tercekat begitu dua bocah itu menoleh ke belakang dan memperlihatkan sesosok pria dewasa ditengah mereka yang masih setia berjongkok untuk menyamai tinggi nya.
Sakura terdiam, kaki nya kini kehilangan kemanpuan nya berjalan. Seakan-akan langit runtuh diwaktu bersamaan begitu melihat tangan Shinachiku menggenggam erat tangan pria itu.
"N-naruto?" Gumam nya terkejut. Bibir ranumnya ia tutup dengan telapak tangan.
Tak terasa bulir air membasahi pipi nya. Menyakitkan sekali melihat putra sematawayangnya yang telah susah-susah ia sembunyikan supaya tak bertemu dengan ayah kandung nya malah dipertemukan dengan keadaan seperti ini oleh kami-sama.
Shina berhambur memeluk ibunya ketika tau wanita tersayangnya itu menangis.
"Mama!! aku minta maaf! Aku janji ga akan nakal lagi!" Shina memeluk pinggang ibu nya erat, ia pikir Sakura menangis karena ia nakal keluar butik tanpa seizin ibunya.
Tapi ternyata bukan itu alasan yang sebenarnya.
Langsung saja Sakura menggendong Shina kedalam pelukannya dan menarik tangan Shikadai menjauhi Naruto tanpa pamit.
"Sakura!" Naruto berteriak memanggil wanita merah muda yang kini sudah meninggalkan dirinya, yang dipanggil tak menoleh sedikitpun. Bersikap angkuh meninggalkan Naruto dengan segudang pertanyaan.
'Bocah itu... mirip sekali dengan ku.'
.
.
.
.
"Sakura aku mohon jelas kan pada ku apa sebenarnya yang terjadi." Tangan kekar nya mencekal pergelangan tangan wanita merah muda yang hendak melangkah meninggalkannya. Ketika shappire dengan emerald itu saling tatap di sebuah mall, Sakura sudah ada niatan melenggang pergi kalau saja pria ini tak menghalanginya.
"Memangnya apa lagi yang ingin kau ketahui? Apa yang membuatmu belum paham?" Sakura menjawabnya dengan tatapan sengit.
"Shina itu putra ku kan?" Sakura menatap tak suka ketika Naruto berkata 'putraku'.
"Dia putra ku!" Jawab Sakura masih dengan nada dinginnya. Berusaha keras melepas cekalan dipergelangan tangannya namun ternyata tak mudah.
"Maksudku putra kita berdua." Terang Naruto yang malah bertambah membuat Sakura tak suka.
"Apa maksudnya dengan 'kita'?" Balas Sakura dengan nada tanya persis seperti yang Naruto lontarkan beberapa tahun yang lalu dengan nada sedikit mencibir.
Sakura berhasil membalas kata-katanya.
"Dengar ya Tuan Namikaze! Dia itu putra ku! Hanya putra ku seorang diri! Bukan putra mu ataupun putra 'kita'!" Sakura menghempaskan kuat-kuat cekalan Naruto dipergelangannya dan itu berhasil membuatnya lepas.
Naruto menatap nyalang kepergian Sakura saat ini. Entah kenapa pernyataan Sakura tadi menusuk sekali sampai ke ulu hati.
Melihat sikap dingin itu, balasan perkataan nya, apa benar itu balasan yang ia terima akibat perbuatannya yang pernah meremeh kan serta menganggap keluarga Haruno hanya memanfaatkan nya?
Memaafkan jelas bukan perkara mudah, meminta maaf sambil bersimpuh dan bersujudpun rasanya percuma.
Wanita itu terlalu angkuh untuk diluluhkan. Lebih tepatnya waktu yang telah mengeraskan hati Sakura.
Ya, sepertinya Naruto terlambat untuk melontarkan kata maaf.
Tapi bukan berarti tak ada kesempatan ke 2 kan?
.
.
.
.
Sudah sebulan sejak kejadian itu, Naruto selalu menguntit Sakura kemanapun dia pergi, tentu dari jauh hanya untuk melihat Shinachiku yang mati-matian disembunyikan Sakura.
Mulai dari pagi-pagi ketika Sakura baru keluar rumah dengan suara riangnya mengantarkan Shina masuk ke dalam bis sekolah.
Shina sudah sekolah ternyata.
Kesempatan ini jelas tak disia-sia kan olehnya untuk mendekati Shina.
Sosok bocah pirang periang itu jelas sekali mengingatkan dirinya pada masa kecilnya. Bocah itu layaknya duplikat Naruto ketika kecil, hanya iris yang membedakan.
Bocah itu punya emerald disana.
Kini Naruto tengah berdiri sambil bersandar disamping mustang miliknya, mengamati gerak-gerik bocah periang disana yang tengah sibuk bersenda gurau serta naik turun memanjat beberapa wahana permainan yang disediakan taman kanak-kanak ini.
Ingin sekali rasanya Naruto memeluk bocah itu dan mencium pipi gembulnya.
Tapi apa pantas?
"Paman!" Suara teriakan bocah kecil mengagetkannya.
Dilihatnya Putra Shikamaru tengah menghampirinya.
"Paman datang lagi hari ini? Sebenarnya paman cari siapa?" Pertanyaan Shikadai itu sukses menohok ulu hatinya.
Ya ampun, ternyata Shikadai mengawasinya selama ini. Ya jelas saja diawasi. Naruto tak menyembunyikan diri sama sekali ketika mengamati Shina.
"Ahh, hei Shika." Sapanya ramah sambil berjongkok menyamai tinggi nya.
"Shika!!" Shikadai menoleh mendapati sahabat pirangnya tengah menghampiri setelah berseru keras.
"Ehh ada paman lagi?" Shina mengamati lekat-lekat wajah pria dewasa di depannya.
Ia tidak tau siapa paman ini sebenarnya karena saat pertama kali bertemu, paman ini belum sempat menyebutkan namanya.
"hai shina." Sapa Naruto kikuk, ia nampak menggaruk belakang lehernya yang tak gatal. Sejujurnya ia masih terkejut begitu tau bocah ini memperkenalkan dirinya sebagai 'Namikaze' dan juga segala kemiripan yang ada sukses membuatnya tak berkutik.
Kini ia menyesal telah meragukan apa yang Sakura katakan dulu.
Bocah ini jelas-jelas anak nya. Tak perduli ia menentang sekeras apapun, bukti tetap lah bukti. Dan shinachiku adalah bukti nyata atas perbuatannya dulu.
"Paman kenapa ada disini?" Suara cempreng Shina membuyarkan lamunannya. Dia menggeleng pelan memberikan jawaban yang rancu atas pertanyaan shinachiku.
"Shina sepulang sekolah mau tidak ikut paman sebentar?"
.
.
.
.
Shinachiku kini sedang berada disebuah taman bermain, paman yang belakangan shina tau bernama Naruto itu mengajaknya kemari. Setelah berusaha keras meyakinkan guru nya bahwa Naruto bukan orang jahat bahkan sampai memberi kartu Nama, maka disini lah mereka sekarang.
Naruto membelikannya banyak sekali mainan dan makanan. sayang sekali Shikadai tidak diajak, karna Naruto bilang hanya ingin 'berbicara berdua' maka Shikadai tak perlu ikut. Tapi mungkin ini bisa dipakai Shina untuk bersombong sedikit saat bercerita Nanti pada bocah kuncir tinggi itu.
Paman ini benar-benar membuat nya bahagia. Ibunya terlalu sibuk mengurus butik dan toko bunganya membuat ia tak punya waktu luang untuk sekedar membawa Shina jalan-jalan.
Hanya hari minggu yang bisa Sakura habiskan untuk bermain dengan putra nya, itupun ia gunakan hanya untuk jalan-jalan ketempat sekitar. Tak sampai jauh-jauh ke taman bermain. Jelas shina bahagia karna ini kali pertamanya.
Bocah itu berlarian kesana kemari membuat Naruto siap siaga mengamatinya. Takut kalau-kalau putra nya itu menghilang di kerumunan orang.
Tunggu..
Putranya?
Kini Naruto tak bisa membantah bahwa bocah hyperactive itu adalah putra nya.
Jelas keturunan seorang Namikaze dengan surai pirang khasnya.
"Shina! Kemari sebentar." Naruto mendudukan dirinya di bangku yang tersedia disetiap pinggir jalan setapak taman bermain ini.
Kaki nya yang lelah mengejar Shina serasa sudah tak mampu lagi melangkah.
Ck! Bocah ini benar-benar tak ada tandingannya.
Shina langsung menghampiri Naruto tanpa diperintah 2 kali. Bocah itu penurut, Sakura berhasil mendidik anaknya.
"Paman ingin bertanya." Bocah itu menautkan alis nya senantiasa menunggu pertanyaan Naruto.
"Kau punya 'ayah' tidak dirumah?" Mendengar pertanyaan itu membuat Shina sedih. Wajahnya yang tadi riang kini ditekuk masam.
"Mama bilang papa udah ga ada, Shina udah ga punya papa." Pipi gembulnya makin berisi ketika dia menundukan wajahnya.
Jahat sekali Sakura mengatakan berita tidak benar itu kepada bocah polos seperti Shina, dia bilang Shina sudah tak punya ayah? Itu artinya secara tidak langsung Sakura menganggapnya sudah mati bukan? Kenapa jadi sakit seperti ini? tapi setidaknya dia senang. Dengan begitu artinya Sakura belum juga punya pasangan untuk menjadi 'ayah' pengganti kan? Wanita itu benar-benar mengurus Shina sendiri.
"Mama bohong!" Seru Naruto keras membuat Shina terkaget dibuatnya. Sedikitnya Shina tak paham tuduhan Naruto tadi pada ibu nya.
'Mamah bohong?'
Seingatnya ibunya itu tak pernah berbohong bahkan selalu mengajarinya bersikap jujur karena berbohong itu sikap tak terpuji katanya.
"Papa masih ada kok!" Seru Naruto semangat. Entah kenapa sejak bertemu Shina membuatnya bersikeras berusaha menunjukaneksistensi nya. Sepertinya sudah sepantasnya Shina tau bahwa ia adalah ayahnya.
Sakura sudah cukup lama memisahkannya dengan putra kecilnya ini jelas sekarang ia ingin Shina mengenalnya.
"Ini papa! papa nya Namikaze Shina. Papa masih ada kok! Papa Namikaze Naruto." Ujarnya semangat membuat Shina terpaku dibuatnya. Tapi bukan karna semangat 45 nya tapi karna isi ucapannya ini yang sukses membuat bocah polos terdiam.
Mulutnya terbuka membentuk o kecil. emerald nya mengamati lekat-lekat paman tampan didepannya ini.
Sedikit percaya, Shina mengakui pria ini seperti dirinya versi dewasa, minus mata shappire nya.
"Papa?" Tanya nya yang langsung di jawab Naruto dengan anggukan mantap.
"Aku papa mu."
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
Chap 3 up setelah tadi ada kesalahan alur nya kebalik jdi harus di rombak ulang:v
menurut minna san ini naruto kejam ga sih? apa cuman aku yg ngerasa disini naruto kurang ajar?:"v btw pembalasan sakura di chap ini cukup ga buat ngasih naruto pelajaran?:"v apakah kurang setimpal? minna san bisa ngasih saran untuk pembalasan buat naruto kalo mau:"v oiya kalo judulnya tetep 'get pregnant' kayanya ga bakal sesuai soalnya mulai chap ini ampe kedepan bakal bahas tentang perjuangan naruto, bukan soal kehamilan sakura lagi jdi aku berniat ganti judulnya jdi 'misunderstanding' atau 'our ego' bagus yg mana y? atau minna san punya ide lain? mohon bantuaanya minna:")
apa ini masih kecepetan jga? :"v maaf klo loncat2:") insya allah chap depan ga gini:")
maaf atas typo yg bertebaran dan terimakasih untuk yg udah ngeriview,fav,follow cerita gaje nya:")
12 mei 2019 - seriello
sampai jumpa lagi minna san:D
