PACARKU AGEN FBI? NO WAY!
Chapter 3:
Cerita sebelumnya:
'Lee terkejut begitu mengetahui kalau pacarnya adalah agen FBI yang terkenal dalam keahliannya. Sakura Haruno, agen bernomor 4500056, ditugaskan untuk membawa anak remaja yang ahli dalam bela diri, sebut saja Taijutsu. Rock Lee adalah yang satu-satunya jenius. Sakura menceritakan masa lalu Lee yang ia sama sekali belum dia ketahui. Dia akhirnya mengetahui kalau gurunya, Maito Gai, yang sangat peduli terhadapnya, adalah ayahnya sendiri dan salah satu snggota FBI yang mengundurkan diri. Dulu dia menyelamatkan Lee yang berumur 13 tahun dari ledakan bunuh diri dari pembunuh berantai. Pada waktu itulah, Lee, anaknya sendiri, hilang ingatan. Setelah Sakura mencritakan semua kejadian itu, Lee bersedia menerima penawaran Sakura untuk membantu FBI dalam menyelesaikan suatu tugas berbahaya. Misi 'AITAI' project.'
"Aku terima misi ini…", kata Lee kepada pimpinan FBI, Tsunade-sama. Tsunade menganggukan kepalanya, "apa kamu yakin dengan ini?"
"aku siap selalu."
"bagus, kalau tidak, kami terpaksa mengurungmu didalam sel, dan menangkap adikmu karena kasus narkoba.",narkoba?, "juga untuk membuatmu mengubah pendapatmu…"
Lee menelan ludahnya, orang ini… sangat berbahaya sekaligus licik. Walau dia cantik.
Tsunade memperhatikan Lee dari atas sampai bawah, dan tatapan itu membuat Lee merasa tidak enak. Tsunade tersentak. Dia bangkit dari kursinya, lalu memegang wajah Lee dengan heboh, sekaligus mengelus rambutnya berkali-kali. Tsunade bergumam tidak jelas.
"T-Tsunade-sam-!", Tsunade memeluk Lee erat-erat.
Matanya tiba-tiba mengeluarkan air mata. Air matanya membasahi pipi dan juga bajunya. Dia menangis rupanya. Lee teringat akan cerita Sakura tentang hubungan ayahnya dengan ibu Sakura.
"..G-Gai…it-itu ka-mu … kan? Aku…sudah la-lama me-menung…gumu, menunggu. . . kau da-datang kesini…", kata Tsunade terisak-isak. Lee tidak tahu harus berbuat apa.
"Ibu, dia bukan Gai-sama…", kata Sakura, kasihan melihat ibunya menangis seperti itu. Tsunade menoleh perlahan kearah Sakura, matanya memerah karena tangisan tadi.
"APA MAKSUDMU 'BUKAN'? SUDAH JELAS INI ADALAH DIA!"
"Aku tahu, tapi, dia bukan Gai-sama..."
"JADI SIAPA?"
"Anaknya,...Rock Lee, korban dari insiden ledakan bunuh diri..."
" ! "
Tsunade menatap kembali kearah Lee yang terheran-heran. Dia masih menangis, ini makin membuat Lee merasa bersalah. Dia lalu melepaskan pelukannya dari Lee secara perlahan-lahan, Lalu menarik napas dalam-dalam, dan dihembuskan. Sakura mendekati Tsunade, ibunya, dan menenangkan dia dengan lembut.
"Terima kasih Sakura,... maafkan aku atas perbuatanku yang tadi, Rock Lee...", Lee tersenyum manis. "Tidak apa-apa, Tsunade-sama." Tsunade mengusap kedua matanya yang bekas menangis tadi.
"Baiklah, Lee, kamu sudah tahu tentang misi kali ini bukan?"
Lee menganggukan kepalanya, dan tersenyum.
"bagus, karena aku sedang malas untuk menjelaskan misi apa yang akan kalian jalani hari ini..."
Lee sweatdrop. 'Apa-apaan nih orang?', teriak nuraninya.
"semua detail dan alat-alat yang harus kalian bawa, juga peta, tertulis di dalam gulungan ini. Pergunakan dengan baik."
Lee dan Sakura membungkukkan tubuh mereka, hormat. "Keberangkatan kalian dimulai dalam waktu 1 jam lagi. Bubar!" Mereka berdua langsung pergi meninggalkan ruangan, dan mengarah ke ruang . . . persenjataan.
"Hei,Sakura, bisa aku bertanya sesuatu?", tanya Lee seraya memegang senjata Magnum sniper-nya dan menaruhnya di ranselnya. Sakura menoleh ke arah Lee.
"Tentu, kenapa tidak? Apa yang ingin kamu tanyakan?", tanya Sakura sambil membawa pistolnya. Lee menggaruk-garuk kepalanya.
"Tentang Tsunade, katanya dia mencium Gai-sensei ya?"
Sakura mengangguk.
"dan saat aku datang ke ruangannya, dia langsung menangis dan memelukku, apa itu berarti... dia rindu dengan Gai-sensei ya?"
Sakura menghela napasnya. Lee tetap memperhatikannya, menunggu jawaban yang akan datang.
"Dia sangat menunggu kedatangannya...dia, ...bisa dibilang...sangat merindukannya..."
Lee tersentak. Merindukannya? Tapi, Gai-sensei tidak. . .
"Walau ayahmu tidak peduli dengan ibu, hanya peduli dengan 'masa muda'-nya, tapi, ibu tetap memikirkannya, dia khawatir kalau insiden ledakan bunuh diri itu akan terjadi lagi...dan menimpa dia lagi..."
". . ."
"kau sudah mengerti kenapa ibu sampai menangis seperti itu kan?", tanya Sakura. Lee mengangguk pelan.
"oke! Kau sudah siap Lee?", teriak Sakura dari luar ruangan.
"Ya! Aku sudah siap!", jawab Lee.
TING
"OH YA! Tunggu dulu Sakura! Ada hal penting yang harus ku lakukan terlebih dahulu!", kata Lee lalu cepat-cepat merogoh hp-nya yang ada di saku celananya. "Baiklah, tapi cepat ya! 30 menit lagi kita akan berangkat!"
'30 menit cukup untukku!', pikir Lee dalam hati. Dia menekan tombol yang akan dituju, dan menunggu sampai orang itu mengangkat panggilannya.
"halo?", tanya orang yang ada di dalam hp itu. Lee tersenyum senang.
"Gai-sensei!"
"Hah? Lee-kun! Muridku yang berharga! Dimana kamu? Tadi aku pergi ke rumahmu, tapi tidak seorang pun menjawabnya, apalagi membukakan pintu, apa kamu sedang pergi? Lain kali, setiap kamu berpergian, beritahu aku, supaya aku tidak lagi kerumahmu disaat kamu pergi!"
'hahaha... Gai-sensei sangat peduli terhadapku...'
"Maafkan aku, Gai-sensei! aku tidak ada waktu untuk mengirim pesan untukmu! Sebagai hukumannya, aku akan lari keliling kota 50 kali!"
"Tidak apa-apa, Lee-kun! Aku sedang tidak marah kok! Aku baru saja memenangkan pertarungan adu panco dengan Kakashi-san!"
"ITU HEBAT, GAI-SENSEI!"
"Omong-omong,kenapa kamu menelponku, Lee-kun?"
"...aku cuma ingin mengatakan selamat tinggal, padamu. aku mempunyai tugas yang harus kukerjakan..."
"..."
"Gai-sensei?"
"tugas itu... apa tugas itu berbahaya?", tanya Gai dengan nada khawatir.
"...tidak, mungkin saja..."
"...begitu, kalau begitu, berhati-hatilah, Lee! Aku akan selalu mendoakan perjalananmu, Lee-kun!", kata Gai dengan semangat. Lee tertawa kecil, senang mendengar gurunya sangat peduli terhadapnya, walaupun dia tahu kalau gurunya itu adalah ayahnya sendiri.
"Gai-sensei... apa sensei tahu dengan wanita yang bernama Tsunade?"
"tidak, aku belum pernah mendengar nama itu... kenapa?"
"...tidak, tidak ada apa-apa... kalau begitu, bye Gai-sensei! Sampai bertemu lagi di lain hari!"
"kamu juga Lee-kun! semoga sukses perjalananmu! Bye!"
Handphone dimatikan, Lee mendengar suara sentakan sewaktu dia berbicara tentang Tsunade. Tapi, dia bilang dia tidak pernah megenalnya, jaadi, dilupakanlah.
[Didalam kamar sebuah apartment. . . ]
Maito Gai menaruh hp nya di atas meja setelah pembicaraan itu berakhir. Gai mengangkat tanganya keatas, lalu menghantamnya kearah meja tempat dia menaruh hp-nya tadi. Meja itu berakhir menjadi pecahan kayu. Matanya membasah... dia menangis. 'Tsunade...'
"pertama kita akan pergi kemana, Sakura?", tanya Lee kepada Sakura, yang dari tadi memegang peta yang diberikan oleh Tsunade. Sakura masih mengecek peta yang akan mereka tuju, dan akhirnya ia menemukannya.
"kita akan pergi ke Kampung Ame, letaknya 10 Km dari sini dan memakan waktu 6 jam untuk berjalan kaki, tapi, kalau kita menggunakan mobil, kita bisa menghemat waktu setengahnya, 3 jam.", perjelas Sakura lalu menggulung petanya dan memasukkannya kedalam kantong. Lee tiba-tiba berhenti berjalan. Sakura memperhatikan Lee yang tertinggal dibelakangnya. "Lee, kenapa berhenti?", tanya Sakura bingung. Lee mengangkat wajahnya keatas, lalu berteriak,"AKU TIDAK AKAN MENGECEWAKANMU, GAI-SENSEI! AKU BERJANJI KEPADAMU, KALAU AKU PASTI BISAS MENYELESAIKAN TUGAS INI DENGAN BAIK!"
Sakura tertawa lebar saat mendengar proklamasi ala Lee itu. Dia memang pandai dalam hal humor!
"Kalau begitu, ayo kita pergi!"
"YOSH!"
Di kampung Ame...
Hujan...
Hujan yang sangat deras...
Bukan deras,tapi DERAS SEKALI!
AME adalah kampung yang selalu hujannya non-stop.
"ayoo, cepat Sakura! kita harus sampai ke desa itu!", kata Lee.
"Aku tahu itu! Masalahnya, dimana aku harus memarkir benda ini? yang ada hanya lumpur, bukannya tanah! Bisa-bisa, mobil ini akan menjeblos ke dalam jika diparkir di lumpur!", balas Sakura, jengkel. Lee melihat sekeliling desa di dalam kaca mobil nya, dan ide muncul di kepalanya begitu melihat sebuah hutan. Lee menyentuh bahu Sakura, Sakura menengok ke arahnya.
"bagaimana kalau kita memarkirnya di bawah sana?"
Sakura berpikir untuk sementara, lalu menganggukan kepalanya. "oke!"
Setelah mereka memarkir di bawah pohon hutan itu, mereka turun dari mobil dan beerlari mencari tempat teduh. Disana ada sebuah rumah kecil yang kelihatannya dirusak oleh orng lain. Mereka memilih untuk berteduh untuk sementara disana.
TOK TOK
"permisi! Kami dari kota, tapi tidak mengetahui kalau akan hujan disini, bolehkah kami berteduh untuk sementara?", tanya Sakura. Pintu terbuka dan memperlihatkan seorang nenek tua yang memakai tongkay untuk berjalan. Nenek itu meihat keadaan mereka berdua yang basah oleh hujan.
"Ya ampun! Cepat masuk! Kalian bisa masuk angin nanti!", kata nenek itu, membuka pintu lebar-lebar dan mempersilakan mereka berdua untuk masuk ke dalam rumahnya.
"terima kasih atas kebaikan hati nenek yang sangat tulus!", kata Lee dengan riang gembira.
"oh, tidak apa-apa! Omong-omong, kenalkan namaku Shion, Kalian bisa memanggilku Nenek Shii.", kata Shion dengan wajah senyum. Walau dia orang tua, tapi dia memiliki senyum yang cantik dan menyimpan banyak keramahan. Lee senang dengan nenek seperti itu, walau dia tidak mempunyai keluarga, hanya punya adiknya, Tenten, dan gurunya sekaligus 'ayah'nya, Maito Gai. Shion memperhatikan mereka berdua dengan mata khas nenek-nenek yang-khawatir-jika-cucunya-dalam-bahaya.
" Ya AMPUN! Kalian basah sekali! Tunggu! Akan kuambilkan Pakaian yang hangat, untuk sementara pakai handuk ini! Keringkan tubuh kalian dengan ini! Sementara aku mengambil baju, Kalian tunggu disini!",kata Shion lalu cepat-cepat pergi ke dalam kamar untuk mengambil baju kering. Lee dan Sakura mengeringkan pakaian mereka dengan menggunakan handuk tadi. "Dia orang yang baik, ya, Lee?", tanya Sakura sambil tersenyum dibalik handuk. Lee menengadahkan kepalanya keatas, menatap langit-langit rumah. "Ya benar... Dia orang yang sangat baik, aku sudah menerkanya dari awal kita mengetuk pintu dan dia membuka pintu untuk kita...", kata Lee sambil membuka bajunya yang basah kuyup itu, lalu menaruhnya di lantai. Sakura memperhatikan tubuh Lee dengan mimisan. Sekaligus meneteskan ludah. Lee takut melihat tampang Sakura yang seperti ingin memakannya hidup-hidup. "S-S-Sa-Sakura...?", tanya Lee tergagap-gagap. Sakura tersadar dari pikiran 'kotor'nya dan tersipu. Lee bertanya kamu tidak apa-apa, dan Sakura menjawab kalau dia tidak apa-apa. Lalu, Shion kembali dengan setumpuk pakaian di tangannya yang tua dan gampang rusak.
"Ini, semua ini pakaian bekas cucuku, kalian bisa memakinya."
Mereka berdua menganggukan kepala mereka masing-masing lalu meraih baju dari tangan Shion. Sakura hendak membuka bajunya ketika dia menyadari kalau ada Lee di sampingnya. Dia tersipu lalu melihat ke arah lain, Sakura percaya kalu Lee tidak akan mengintipnya kecuali dia memintanya. Setelah berganti baju, Shion menaruh baju mereka yang basah itu di dekat perapian. Mereka berdua pergi mengikuti Shion ke ruang ... makan.
"Terima kasih telah menolong kami dalam cuaca yang buruk ini, juga meminjami kami pakaian ini...", kata Sakura sambil tersenyum. Shion membalas senyumannya dengan senyuman.
"ya tidak apa-apa, lagipula cucuku sudah meninggal dalam pembunuhan..."
"...aku turut menyesal mendengarnya, nenek Shii...", kata Sakura.
"sudahlah, aku tidak igni memikirkan masa lalu lagi...", katanya.
"Dan sebagai balasan, biarkan kami membantu anda dalam mengerjakan pekerjaaan rumah!", kata Lee dengan semangatnya yang menggebu-gebu. Shion tertawa,"baiklah, kalian bisa membantuku membetulkan pintu itu?", tanya Shion dan menunjuk kearah pintu depan. "Tenang saja Nenek Shii! kami akan membetulkannya!", kata Lee lalu berlari ke arah pintu depan. Sakura mendesah, lalu pergi mengikuti Lee. Sampai hujan reda, mereka masih membantu Shion dalam mengerjakan pekrjaan rumahnya.
"Hei, kalian berdua bisa istirahat sekarang! Setelah itu, kalian bisa melanjutkan perjalanan kalian!",kata Shion. mereka berdua melihat ke atas langit. Hujan sudah reda, dan mereka sssama sekali tidak menyadarinya.
"Terima kasih sudah membantuku dalam mengerjakan pekerjaan yang berat itu.", kata Shion, seraya membungkukkan kepalanya. Lee yang melihat itu cepat-cepat membungkkukan tubuhnya ketanah. Skura dan Shion spontan kaget.
"ITU TIDAK PERLU! KAMI YANG SEHARUSNYA BERTERIMA KASIH KEPADA NENEK KARENA TELAH MEMBUAT NENEK BAHAGIA WALAUPUN TIDAK ADA ORANG YANG TINGGAL BERSAMA NENEK!"
" ! "
"NENEK TIDAK PERLU BERTERIMA KASIH! NENEK SUDAH BAHAGIA SEKARANG BUKAN?"
Air mata menetes, dan mengalir ke pipi, Shion menangis ternyata. Dia melangkah kedepan, membungkuk menyamakan tingginya sama Lee, dan memeluknya.
"Justru aku yang seharusnya berterima kasih kepadamu, kamu sudah seperti cucu bagiku. Kamu yang membuatku sangat bahagia sekarang, Lee."
"!"
Lee menangis. Begitu juga Sakura. dia tidak tahan dengan pemandangan seperti itu.
"Terima kasih."
TO BE CONTINUED...
