"Hajimete no kisu wa dare to shita ka?"
Hajimete no Kisu wa
Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi
Story by arichu13. Do not copy it without Rii's permission.
Warning: May contains of BL, AU, gaje, typos, OOC, drabbles sependek-pendeknya, satu chapter bisa cuma berapa ratus word lol, dll. Don't like don't read. I do open request session. Feel free to request the character.
Also requested by Abi.
Enjoy!
Chapter III: Midorima Shintarou no Hajimete no Kisu
Hajimete no kisu wa Takao to shita nodayo.
Dan itu tidak berarti baik. Bisa dibilang buruk malah. Dan itu amat sangat mengerikan. Aku tak mau mengingatnya lagi, sebenarnya, tetapi karena kalian bertanya padaku siapa ciuman pertamaku, aku mau tak mau mengatakannya.
Ya, ya, aku mengingatnya. Aku tak mungkin lupa walau aku mau melupakannya. Dia benar-benar pencuri yang telah mencuri sebuah ciuman pertama dariku. Ciuman penting yang seharusnya kudapatkan karena aku menginginkannya.
Ya, aku tak menginginkannya. Mana mungkin aku menginginkannya. Aku tak pernah menginginkan ciuman pertamaku dicuri olehnya. Dicuri. Bukan kuberikan padanya. Dan dia bukan meminta padaku, tapi mencurinya dariku. Ia bahkan tak bertanya apa aku menginginkan ciuman itu tau tidak.
Dan yang lebih parah adalah, dia tidak tanggung-tanggung dan aku terpaksa menikmatinya. Terpaksa. Perlu kutekankan? Terpaksa. Aku tidak menikmatinya karena aku mau, tetapi aku terpaksa menikmatinya.
Oh, terserah, itu bukan urusan kalian. Dan kutekankan, saat ini wajahku tidak merah padam seperti yang kalian kira. Jika memang merah, pasti karena sinar matahari. Hari ini panas sekali.
Baiklah, baiklah. Tidak perlu kuperpanjang lagi. Sekarang akan kuceritakan pengalaman ciuman pertamaku yang menyebalkan itu.
Aku tak peduli kapan itu terjadi, tapi yang jelas hari itu sangat dingin. Dan yang jelas aku sudah ada di Shuutoku.
Jadi, hari itu orang tua Takao sedang pergi ke rumah saudaranya dan menginap sehingga Takao hanya sendirian di rumahnya. Ia berkata padaku kalau ia takut ditinggalkan sendiri di rumahnya, jadi ia memaksaku menginap dengannya. Awalnya aku menolak, tentu saja. Tapi setelah negosiasi panjang yang kupikir tanpa akhir seperti negosiasi untuk melihat ramalan Oha-Asa bersama atau membelikan lucky item untukku, akhirnya ia berhasil membujukku menginap di rumahnya. Takao terlihat begitu senang begitu mengetahui aku setuju menginap di rumahnya, padahal aku juga mengajukan negosiasi berupa ia harus mau kusuruh melakukan apapun.
"Syukurlah Shin-chan mau menginap di rumahku! Aku bisa mati ketakutan kalau Shin-chan tak ada sementara orang tuaku juga pergi!" begitu katanya begitu aku setuju.
"Mati saja," ujarku kalem menanggapi kata-katanya yang terlalu berlebihan itu. Takao berpura-pura menangis lalu melingkarkan tangannya di leherku.
"Nanti kalau aku mati Shin-chan pasti rindu padaku," katanya dan kemudian tertawa.
"Tidak akan."
"Jahatnyaaa!" Takao berpura-pura menangis lalu melepaskan tangannya yang melingkar di leherku. Setelah itu ia menarik kacamataku dan memakainya. "Kalau begitu, ayo, Shin-chan!" Takao menarik tanganku hingga aku cukup dekat dengannya lalu ia melingkarkan lengannya di antara lipatan sikuku dan menuntunku menuju ke rumahnya dengan riang.
Dan aku hanya bisa pasrah. Demi dibelikan lucky item.
Akhirnya kami tiba di rumah Takao. Ia membuka pintu dan langsung menarikku masuk. Sementara itu aku hanya bisa berdoa semoga Takao tak melakukan hal yang aneh-aneh terhadapku.
Dan untung ia benar-benar tak melakukan hal aneh yang di luar batas kewajaran. Selain ciuman itu, tentu saja.
Kembali ke kisah ciuman itu.
Hari sudah cukup malam dan terasa sangat dingin. Aku dan Takao duduk bersisian di sofa ruang tengah sambil menonton sebuah dorama. Dorama yang menyebalkan. Terlalu romantis. Aku tidak suka. Tapi Takao pernah menontonnya dan katanya cukup bagus untuk dorama shoujo karena memiliki ending yang angst. Mendengar kata-kata ending angst membuatku sedikit tertarik menontonnya. Jadi aku menontonnya dengan Takao. Itu pun karena ia memaksaku.
"Setelah ini akan ada adegan di mana si laki-laki terbangun dari komanya dan si gadis akan menciumnya," jelas Takao iseng. Aku menghela napas. Aku tak peduli. Aku belum pernah ciuman dan aku tidak suka ciuman. Ciuman pertamaku juga harus diambil oleh orang yang kusukai.
"Hm."
"Nee, Shin-chan..."
"Hm?"
"Kau pernah ciuman?"
Aku nyaris tersedak keripik kentang yang sedang kumakan mendengar pertanyaannya.
"Apa-apaan pertanyaanmu itu?!" teriakku.
"Aku hanya bertanya." Takao mengangkat bahu.
"Tentu saja tidak pernah!" teriakku dan aku melihat ekspresinya tampak puas. Puas seperti baru menyembunyikan sesuatu.
"Kalau begitu, mau coba?"
"Apa—"
Dan aku tidak sempat menyelesaikan pertanyaanku karena bibirku dihalangi oleh bibirnya. Tepat di saat film sedang memperlihatkan adegan ciuman yang dibilang Takao tadi. Aku tersentak kaget dan nyaris mendorongnya. Entah kenapa aku tidak mendorongnya. Tidak, aku tidak menyukai ciuman itu. Tidak sama sekali.
Ciuman berlangsung sekitar satu menit sampai aku benar-benar mendorongnya. Wajahku terasa panas. Tidak, wajahku tidak memerah, kok, aku yakin. Jangan salah sangka.
Takao tersenyum tanpa dosa. Tapi aku yakin semburat merah muncul di pipinya. "Bagaimana?" tanyanya dengan nada riang. Aku mendelik melihatnya. Kuusap mulutku yang basah.
"Dasar menyebalkan!" pekikku saat itu juga.
= End =
A/N: Hai again. Kali ini di request sama Abi via Twitter (at rokumanru). Berhubung gue nggak bisa nyelesain RiEren BDSM mau pun fanfic lainnya buat Abi, akhirnya gue nyelesain yang ini. /alesan
lololol no particular reason anyway. I just want to make it anyway anyway.
Need more request, anyway. Just request as you want to!
Thanks for reading!
