semua orang yang berlalu lalang di Heathrow Airport bisa melihat bagaimana hebohnya seorang Byun Baekhyun. Setelah mendarap di London beberapa menit yang lalu dengan selamat, Baekhyun tak henti – hentinya berdecak kagum, sibuk menceritakan bahwa ia merindukan suasana ini yang sudah sedikit berubah dari terakhir kali ia berkunjung kesini beberapa tahun yang lalu. Sementara Chanyeol hanya mampu menanggapi gadis itu dengan gumaman dan sesekali tersenyum, suasana hati gadis itu sepertinya tengah baik, buktinya ia sama sekali tidak bersikap acuh kepada Chanyeol pagi ini.
Namja itu dengan sabar membawakan beberapa paperbag milik Baekhyun sementara gadis itu terus berceloteh disampingnya.
"Baek, apa kita harus langsung ke penginapan?"
"ya, kita harus meletakkan barang – barang berat ini." Jawab Baekhyun dengan ekspresi berlebihan. Padahal pada kenyataannya ia hanya menenteng tas yang berisi make up dan beberapa barang saja, tidak berat sama sekali dan hal ini cukup membuat Chanyeol mendengus sebal.
"kau hanya membawa tas, tidak usah berlebihan."
"ada koper juga!" sungut Baekhyun tak mau kalah,
"aku yang mendorong trolinya! Kau bahkan tega menyuruhku membawa paperbagmu," Chanyeol melirik Baekhyun dengan mata bulatnya, melihat gadis itu hanya mengangkat bahunya dengan tertawa bodoh membuat namja itu mau tak mau tersenyum, Baekhyun sungguh menggemaskan.
"Aaa!" tiba – tiba Baekhyun memekik, wajahnya berbinar dengan lucu.
"ada apa?" Chanyeol bertanya dengan garis kening yang merengut, tanda tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
"itu mobilnya! Kita akan menginap di Beaufort Gardens kan?" tanya gadis itu memastikan, dilihatnya Chanyeol membongkar tasnya dan mencari brosur apartement sementaranya disana, sesaat Chanyeol membaca deretan kata berbahasa inggris itu dengan teliti sebelum akhirnya mengangguk dengan senyum cerah,
"kau benar, apa itu memang mobilnya?" Chanyeol balas bertanya dan dijawab dengan anggukan pasti oleh Baekhyun.
"geurae, kajja." Chanyeol kembali mendorong trolinya dan diikuti oleh Baekhyun dibelakangnya. Mereka berjalan dengan pasti menuju mobil yang terparkir dengan rapi itu, sementara sang supir terlihat tengah menatap mereka dengan wajah tak kalah berbinarnya.
"excuse me?" Chanyeol menggigit bibir dalamnya, meskipun kemampuan bahasa inggris namja itu tidak bisa diragukan lagi, namun ia selalu merasa gugup untuk berbicara dengan penutur asli bahasa international itu.
"you must be Korean right?" supir mobil itu tersenyum sambil menyambut Chanyeol dan Baekhyun, tanpa diperintah ia langsung membongkar troli mereka dan memasukkan koper kedalam bagasi. Sementara Chanyeol dan Baekhyun hanya memperhatikan pria setengah baya itu dengan pandangan bingung,
"bukankah ini aneh?" tanya Baekhyun dengan sedikit ragu, namun keraguan itu bertambah semakin parah ketika ia melihat Chanyeol mengangguk dengan kuat.
"you two, make yourself comfort and take a seat, it'll be done in a minute," supir itu kembali bersuara sembari menata koper – koper milik Chanyeol dan Baekhyun, mau tak mau membuat keduanya masuk kedalam mobil meskipun mereka berdua masih menampakkan wajah idiotnya.
Selang beberapa menit, supir itu masuk dan tersenyum kearah Chanyeol dan Baekhyun yang duduk dibelakang.
"i've been waiting for you both about an hour," kening kedua warga korea itu merengut, apa Kris menyiapkan supir untuk mereka selama disini? Mereka berdua saling berpandangan.
"Mr. Lee?" pertanyaan pria itu berhasil membuat Baekhyun dan Chanyeol melotot kaget.
"Mr. Lee?" ulang Baekhyun,
"Mr. Lee Byunghun and Mrs. Lee Ahra, right?" Chanyeol dan Baekhyun semakin melotot dan menggelengkan kepala mereka dengan kompak.
"you guys are newlyweds right?" tanya supir itu lagi, kali ini Chanyeol dan Baekhyun bukan hanya melotot, namun mereka nyaris menjatuhkan rahang masing – masing. Melihat ekspresi kedua penumpangnya yang nampak shock membuat sang supir merengut bingung, ia tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi sampai akhirnya ia memutuskan untuk bertanya sekali lagi,
"you guys come here for a honeymoon trip right?" nafas kedua muda – mudi itu tercekat, ekspresi wajah mereka sempat blank namun sedetik kemudian keduanya berteriak dengan keras sehingga supir itu terpaksa menutup kedua telinganya,
"NOOOOOOOOO!"
.
.
.
.
.
Cast: Park Chanyeol, Byun Baekhyun
Supporting cast: the other EXO members and another supporter gonna be revealed as they needed.
Pairing: mainly chanbaek and official couple of EXO.
Genre: fluff, romance, drama, friendship
Rated: M
Length: Chaptered
Warning: genderswitch for all uke(s), typos, broken plot, mature content. If you dont like please help yourself to close the tab.
Disclamaire: all the characters here are not mine. I only own the plot.
No plagiarism, no copy-paste, no bash, and happy reading!
.
.
.
.
.
Pada akhirnya disinilah mereka berdua, berdiri didepan bangunan bercat putih bergaya minimalis namun tetap menonjolkan arsitektur khas Eropa. Keduanya patut berterimakasih atas bantuan Kris yang langsung mengutus orang suruhannya untuk menjemput mereka setelah mendapat omelan tidak jelas dari supir sinting yang mereka temui dibandara tadi.
Baekhyun menghela nafasnya dengan lega, akhirnya, ucapnya dalam hati. Perjalanan menuju Apartement sementara mereka tidak terlalu jauh, banyak hal yang menghibur mereka sepanjang perjalanan. Orang-orang berlalu lalang dengan mantel tebal dan sepatu boot. Meskipun kali ini bukan musim dingin, tapi udara di Inggris cukup mampu membuat mereka bolak – balik mengeratkan jaket dan blazer masing-masing. Sementara Chanyeol, namja itu masih memandangi bangunan dengan tatapan kagum, digenggamannya, ada satu lembar formulir registrasi yang sudah disiapkan oleh Kris untuk mereka reservasi. Lama terdiam dalam kekagumannya, namja bermarga Park itu akhirnya memutuskan untuk berjalan masuk menuju office dan diikuti oleh Baekhyun dibelakangnya meninggalkan beberapa koper mereka yang masih tergeletak secara mengenaskan.
Beberapa menit kemudian mereka menemukan diri masing-masing sedang duduk didepan meja dengan seorang staff dihadapannya yang sibuk memeriksa formulir online dan mencocokkannya dengan kertas yang Chanyeol bawa.
"So the reservation is under Chanyeol Park's name and you gonna rent one apartement for about two weeks?" ucap sang staff dengan senyum ramahnya. Chanyeol mengangguk sopan dan menjawab,
"yes,"
"okay, our staff will take you to your apartment, the only superior unit left, number 614. All your suitcases will be taken care of by our guards. If you have something to be asked for, please call us, and have a nice rest." Staff cantik bername tag Carolline West itu tersenyum sekali lagi kemudian mempersilahkan Chanyeol dan Baekhyun untuk diantar oleh salah satu staff yang sedari tadi sudah menunggu dibelakang mereka.
Mereka semua berjalan dalam diam, kecuali Chanyeol yang sesekali melirik kearah Baekhyun yang juga kerap mencuri pandang kearah Chanyeol melalui ekor matanya. Staff laki-laki yang mereka ketahui bernama Andrew Mattinson itu terus menggiring keduanya menaiki lift yang menunjukkan angka 3, itu berarti apartement mereka berada dilantai 3. Bangunan ini ternyata jauh lebih luas daripada yang Chanyeol bayangkan. Disini begitu banyak ruangan dengan nomor acak yang beraneka ragam, dilihat dari desain dinding dan pintu-pintunya saja Chanyeol bisa menafsirkan bahwa apartement ini mempunyai bandrol harga yang cukup fantastis. Sepanjang perjalanan Chanyeol terus memperhatikan kanan kirinya, begitu banyak lorong-lorong dan belokan yang berarti masih ada banyak ruangan selain lorong yang kali ini tengah mereka tapaki. Meskipun bagian luarnya terlihat minimalis, namun interior dalamnya sungguh luar biasa megah dengan dominasi warna krem. Terdapat beberapa lampu gantung yang cukup besar sehingga menimbulkan kesan glamour dan juga anggun pada waktu yang bersamaan.
"banyak sekali ruangannya," gumam namja jangkung itu, tidak sadar bahwa Baekhyun diam-diam mendengarkannya dan mengangguk setuju,
"here is your Apartment, sir." Ucap Andrew sembari membukakan pintu untuk Baekhyun dan Chanyeol. pintu itu terlihat sangat kokoh dengan warna coklat, meskipun tidak ada ukiran yang menghiasinya, namun kesan 'mahal' tetap terpancar darisana.
Baekhyun dan Chanyeol sedikit terkejut ketika mereka melihat koper-koper mereka sudah tergeletak disana. Lengkap dengan beberapa paperbag dan plasticbag yang jumlahnya lebih dari 5 buah.
Keduanya bisa melihat living room yang ditata begitu cantik dengan dua buah sofa panjang berwarna merah marun yang berhiaskan motif berwarna emas. Ada sebuah televisi plasma tergantung tepat didepan sofa dan rak buku disudut ruangan dengan vas bunga berada diatasnya. Dikedua sisi sofa terdapat standing lamps yang memancarkan warna keemasan, membuat suasana menjadi begitu romantis ketika malam hari. Masih dengan nuansa krem, kamar satu – satunya kamar tidur berada disebelah kanan dengan satu tempat tidur berukuran kingsize dengan seprei berwarna putih dan bantal-bantal berwarna krem berhiaskan motif bunga yang besar. Tepat didepan ranjang, ada sebuah sofa kecil berwarna dan bermotif senada dengan bantal yang tertata rapi diranjangnya. Disamping living room, ada sebuah dapur kecil bernuansa putih yang tampak sangat minimalis, berbeda dengan ruangan yang lain yang menguarkan kesan glamor yang sangat kental.
Kris tidak menyadari bahwa apartement yang ia sewa ternyata hanya memiliki satu tempat tidur dan hal ini sedikit membuat Baekhyun pissed off ketika staff tadi keluar dari apartement mereka. Gadis itu mengusap wajahnya dengan bingung, ketika melihat Chanyeol justru dengan santai duduk di living room dan masih sempat menengguk minuman bersoda yang ia temukan dari lemari pendingin disana. Mau tak mau Baekhyun ikut mendudukkan badannya tepat disamping Chanyeol, sesuatu yang membuat gadis itu semakin membenci dirinya sendiri karena entah mengapa ia ingin selalu berada disamping namja –yang menurutnya- menyebalkan itu.
"kita hanya memiliki satu kamar," gumam Baekhyun setelah menyambar air mineral yang terhidang didepannya,
"kau minum mineral?" tanya Chanyeol heran, pasalnya baru kali ini ia melihat Baekhyun lebih memilih mineral daripada soda. Dahinya semakin merengut ketika gadis itu menjawab,
"ya, soda itu tidak enak tau," jawabnya cuek.
"bukankah selain London, kau juga menggilai Cola?" Chanyeol menaikkan sebelah alisnya, menunggu jawaban Baekhyun. Tapi bukannya menjawab gadis itu justru mengerjapkan matanya dengan lucu, tampak bingung dengan apa yang baru saja Chanyeol katakan,
"benarkah?" namja yang pandai bermain gitar itu semakin mengerutkan dahi, kenapa Baekhyun aneh sekali?
"ah bagaimana dengan kamarnya?" Baekhyun mengalihkan pembicaraan karena tidak menemukan jawaban soal Cola sebelumnya.
"ada apa dengan kamarnya?" pemuda itu balik bertanya dengan mengalihkan perhatiannya kepada televisi yang baru saja menyala. Tidak menghiraukan Baekhyun yang sudah memajukan bibirnya beberapa centi karena merasa Chanyeol tidak memperhatikannya sebelumnya.
"KAMARNYA HANYA ADA SATU!" Baekhyun terteriak tepat ditelinga Chanyeol yang berjengit kaget sambil memegangi dadanya yang berdegup sangat kencang sementara dada Baekhyun naik turun menahan emosi, gadis itupun tidak mengerti kenapa ia begitu marah melihat Chanyeol sama sekali tidak mendegarkannya.
"pelan-pelan saja kan bisa," sungut Chanyeol sambil mengusap telinganya dengan kesal,
"ish kau menyebalkan," Baekhyun melipat tangannya didepan dada, masih mempertahankan posisi bibirnya yang semakin maju. Beruntunglah Chanyeol adalah namja yang cukup peka, ia memperhatikan wajah Baekhyun yang terlihat sangat kesal. Namun ada sesuatu yang menarik perhatian Chanyeol,
"kau marah?" namja itu bertanya dengan sangat berhati-hati. Ia sudah sepenuhnya menumpukan perhatiannya kepada Baekhyun bahkan badannya sudah ia hadapkan kepada Baekhyun yang masih memandang lurus kedepan,
"ani," jawabnya pendek membuat Chanyeol tersenyum maklum,
"lalu kenapa matamu berkaca-kaca?" tanya namja itu lagi, senyum jahil terkembang dibibir tebalnya.
"tidak," kekehnya, namun kali ini menolehkan kepalanya menghindari Chanyeol. menggemaskan sekali, batin Chanyeol.
Tiba-tiba namja tinggi itu sudah berlutut didepan Baekhyun, wajahnya sibuk mengamati yeoja yang masih tidak mau menolehkan kepalanya kearahnya. Pelan-pelan Chanyeol berkata,
"kenapa kau jadi sensitive sekali?"
"kau selalu menyebalkan." Lagi-lagi Chanyeol tertawa mendengar jawaban Baekhyun yang dilantunkan dengan nada seperti anak kecil yang sedang merajuk.
"kau tidak usah pusingkan soal kamar, kita bisa berbagi ranjang bukan? aku tidak akan macam-macam, kau tenang saja." Ucap Chanyeol tenang, mencoba meyakinkan Baekhyun bahwa dengan berbagi ranjang dengannya tidak akan membuat Baekhyun tertular penyakit mengerikan.
"tapi-"
"kalau begitu aku akan tidur disofa, kau tidak perlu khawatir lagi. Arasseo?" namja itu kemudian bangkit dan mengacak rambut Baekhyun pelan. Gadis itu justru beku ditempatnya dengan pergerakan Chanyeol yang tiba-tiba lengkap dengan senyum penuh pengertian yang diberikan kepadanya. Sesaat Baekhyun lupa akan bagaimana caranya bernafas. Bagaimana bisa selama dua tahun terakhir ia baru benar-benar menyadari bahwa namja yang menurutnya menyebalkan itu memiliki senyum yang sangat menawan. Meskipun Baekhyun pernah melihatnya ketika didalam pesawat kemarin yang berakhir dengan meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu hanya khayalannya saja, bahwa Chanyeol sama sekali tidak memiliki senyum menawan, bahwa Baekhyun tidak tertarik padanya dan bahwa Baekhyun masih sangat membencinya. Well, hari ini Baekhyun mengakuinya, semuanya, dan ia tidak mengerti bagaimana bisa selama ini ia selalu hidup dalam penyangkalan. GOD IM IN DENIAL, teriaknya dalam hati.
Namun sedetik kemudian ia kembali menguatkan hatinya. Benar ia mengakui betapa mempesonanya Chanyeol, tapi ia tidak akan pernah mengakui bahwa ia tertarik pada namja itu, sama sekali tidak. Chanyeol menyebalkan dan Baekhyun membencinya, titik. Gadis itu mencoba mengesampingkan kenyataan bahwa akhir-akhir ini ia selalu ingin berada disamping Chanyeol yang entah mengapa ia rasa bisa memberinya kenyamanan dan keamanan.
"aku akan mandi setelah itu berjalan-jalan dan makan siang. Besok kita tidak akan punya waktu untuk jalan-jalan karena meeting akan dimulai pagi-pagi sekali. Kalau kau mau ikut, aku akan menunggumu," setelah membongkar kopernya dan menemukan beberapa helai pakaian, Chanyeol akhirnya menemggelamkan dirinya kekamar mandi yang berada didalam kamarnya.
Baekhyun hanya menghela nafas pelan. Bimbang apakah ia harus ikut dengan Chanyeol atau berjalan-jalan sendiri. Memang bukan perkara sulit bagi Baekhyun untuk bisa berjalan-jalan sendiri mengingat ia bisa fasih berbahasa inggris dan juga mengenali banyak tempat bagus disini meskipun tidak paham dengan jalannya, tapi berjalan-jalan sendiri akan terlihat sangat menyedihkan. Setidaknya ia membutuhkan seseorang untuk berbagi cerita dan diajak bicara. Ditangkupnya kedua pipinya yang sedikit gemuk dengan kedua tangannya, pikirannya menerawang, apa ia harus memepertahankan gengsinya atau...mengalah untuk hari ini? Bagaimanapun juga ultimatum 'Chanyeol menyebalkan' itu begitu tak terbantahkan.
Lama yeoja itu berfikir hanya untuk memutuskan apakah ia akan pergi bersama Chanyeol atau tidak, namun ia seperti sedang memikirkan jawaban bahwa ia mau menikah dengan Chanyeol atau tidak dan kenyataan ini membuat Baekhyun kesal bukan main.
"memangnya dia pikir dia siapa bisa membuatku merasa bingung seperti ini hah!" umpatnya kesal, disandarkannya punggung sempit itu kesandaran kursi dan kemudian memejamkan matanya dengan pelan. Tiba-tiba bayangan tentang Chanyeol yang berlutut dihadapannya, menatapnya dengan lembut dan mengacak rambutnya kembali terputar dibenaknya sesaat setelah matanya terpejam. Jujur saja Baekhyun merasa kaget akan perlakuan aneh Chanyeol akhir-akhir ini yang selalu bersikap lembut dan selalu mengalah kepadanya, mengingat bahwa namja itu sebelumnya selalu meledek dengan wajah penuh dengan penghinaan dan persaingan. Tapi lihatlah sekarang, Chanyeol yang dulu sudah menguar entah kemana, digantikan oleh Chanyeol yang gentle dan selalu memberikan kenyamanan bagi Baekhyun. Berperilaku menyebalkan saja sudah membuat Baekhyun uring-uringan, apalagi seperti ini? Gadis itu takut ia akan berubah menyukainya.
Tunggu.
Takut?
Menyukainya?
Menyukai Chanyeol?
TIDAAAAAAAK. Erang Baekhyun dalam hati. Lihatkan? Namja itu benar-benar membuat diri Baekhyun pontang-panting tidak jelas.
"dasar menyebalkan!" umpat gadis itu kesal.
"siapa yang menyebalkan?" sahut seseorang yang kali ini sudah berdiri disamping sofa. Chanyeol nampak fresh mengenakan celana jins hitam dan dipadu dengan longsleeve berwarna hitam, ditangannya ia menenteng hoodie hitam yang rencananya akan ia kenakan ketika ia keluar apartement sebentar lagi.
"kau." Jawab Baekhyun singkat, matanya menatap Chanyeol dengan pandangan yang sulit diartikan, membuat Chanyeol berfikir apakah ada yang salah dengan dirinya?
"apa ada yang salah dengan bajuku?" tanyanya dengan raut wajah polos yang sialnya menggemaskan dimata Baekhyun.
Gadis itu memilih untuk bangkit tanpa memjawab pertanyaan Chanyeol, ia terus berjalan menuju kopernya dan malah sibuk mencari pakaian untuk ganti. Pemuda itu tidak mengalihkan pandangannya sama sekali, memperhatikan setiap gerak-gerik yeoja mungil yang kali ini tengah bimbang apakah ia akan mengenakan jaket berwarna pink atau biru. Ditatapnya dua jaket itu sembari melengkan kepalanya kesamping,
"kau cocok mengenakan warna pink," ucap Chanyeol santai sambil mengenakan hoodienya. Gadis itu sedikit terlonjak dengan komentar spontan yang terlolos begitu saja dari bibir Chanyeol. dan bukan Baekhyun namanya kalau tidak mempertahankan gengsinya yang tinggi, gadis itu bangkit dari jongkoknya dan memilih jaket warna biru yang akan dipadukan dengan atasan berwarna hitam dan celana yang senada. Chanyeol tersenyum kecil, paham akan apa yang dilakukan gadis manis itu.
Sekilas Baekhyun berjalan melewati Chanyeol menuju kamarnya untuk mandi tanpa melakukan apapun. Tapi ketika ia ekor matanya tidak sengaja melihat Chanyeol hendak mengenakan sepatunya, Baekhyun yang sempat berhenti ditengah kamarnya berbalik dan berdiri dibelakang Chanyeol tanpa namja itu sadari,
"kalau kau berani pergi tanpa menungguku mandi, aku pastikan kopermu tidak akan selamat!" Baekhyun setengah berteriak ketika mengatakannya, meskipun Chanyeol berada tepat didepannya, namun gadis itu hanya ingin sedikit membuat Chanyeol terkejut saja, which is gagal, karena namja itu sudah lebih dulu melirik Baekhyun dari ekor matanya ketika gadis itu tiba-tiba berbalik arah dan berjalan kearahnya.
"arasseo," kata Chanyeol sambil terkekeh pelan, tau kalau Baekhyun sudah tidak ada dibelakangnya sedetik setelah gadis itu meneriakkan ancamannya. Ck dasar seperti anak kecil.
.
.
.
.
Setengah jam kemudian Chanyeol menemukan Baekhyun keluar dari kamar mengenakan baju dan jaket yang tadi sudah dipilihnya. Gadis itu membiarkan rambutnya ia gerai begitu saja namun ia menambahkan beanie hat berwarna hitam dikepalanya, membuatnya terlihat semakin manis dengan penampilan sedikit boyish seperti ini. Chanyeol yang semenjak empat puluh detik yang lalu sibuk memperhatikan Baekhyun kini semakin ternganga ketika melihat gadis itu menunduk malu dengan rona merah dipipinya, tersipu karena tatapan intens dari namja dihadapannya.
"ka-kajja Chanyeol-ah," katanya lirih lebih terdengar seperti bisikan.
Ajakan Baekhyun yang hampir tak terdengar itupun akhirnya berhasil membangunkan Chanyeol dari kekagumannya kemudian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Suasana seketika berubah menjadi canggung, keduanya sama-sama menundukkan kepalanya, tak mau menatap satu sama lain.
"kau ini ingin pergi atau tidak sih," kata Baekhyun yang kini lebih terdengar bertenaga daripada sebelumnya. Chanyeolpun langsung menegakkan tubuhnya dan berdiri, ia tersenyum canggung sebentar sebelum akhirnya berjalan menghampiri Baekhyun dan berkata,
"kajja, lebih baik kita makan dulu." Pemuda itu berjalan mendahului Baekhyun yang sedari tadi tanpa ia sadari sudah meremas-remas tangannya sendiri. Diantara rasa gugupnya, Baekhyun diam-diam kesal sendiri mengapa ia begitu memperhatikan penampilannya sebelum pergi? Ya memang benar jika gadis itu memiliki selera fashion yang lumayan, tapi yang paling membuatnya kesal adalah mengapa ia begitu memusingkan apakah Chanyeol menyukai penampilannya atau tidak. Ini tidak seperti mereka adalah pasangan kekasih atau suami istri yang akan pergi berkencan atau sekedar makan siang. Mereka hanyalah rekan kerja yang saling membenci dan kebetulan harus berada disatu apartement yang sama untuk pekerjaan. Dan karena saat ini mereka tidak memiliki kegiatan, jadi mereka memutuskan untuk berjalan-jalan bersama, hanya sebatas itu, tidak lebih.
...atau lebih.
"ish" Baekhyun menggumam, tidak menghiraukan Chanyeol yang sedang menunggunya didepan pintu untuk mengunci pintunya.
"Baek kau kenapa?" gadis itu tiba-tiba mendongak dan terlonjak, membuat Chanyeol semakin bingung dibuatnya.
"eobsseo, kajja," gadis mungil itu langsung keluar dari apartementnya dan menunggu Chanyeol mengunci pintu.
Setelah Chanyeol selesai, mereka berdua segera bergegas keluar dari apartement. Beaufort adalah kawasan kuliner sehingga mereka berdua tidak perlu bingung soal transportasi, cukup berjalan-jalan saja maka mereka akan menemui banyak restoran yang menyediakan berbagai macam makanan khas London ataupun international.
Beruntung Chanyeol sudah sempat browsing menggunakan ponselnya ketika Baekhyun mandi tadi, dan rencananya Chanyeol akan mengajak Baekhyun makan disalah satu restoran bernama Roca Dipapa. Restoran ini memang bertemakan italia tapi mereka juga menyediakan berbagai macam jenis makanan dari berbagai belahan dunia.
Baekhyun yang sedari tadi berjalan sedikit dibelakang Chanyeol hanya mampu menunduk dan mengekorinya. Tidak berniat bertanya kemanakah mereka akan pergi, untuk memakan apa, apakah tempatnya bagus atau tidak, yang jelas karakter yeoja cerewet dan penuh emosi seperti yang biasanya ia keluarkan hilang begitu saja ditelan rasa gugup yang tiba-tiba datang entah kenapa.
Merasa tidak nyaman dengan suasana, Chanyeol akhirnya berhenti tepat didepan Baekhyun yang secara otomatis menabrak punggung namja itu lantaran tidak memperhatikan depan sama sekali.
"ack!" pekik gadis itu sambil memegangi keningnya sendiri, sementara Chanyeol yang kali ini sudah menghadap kearahnya hanya mengernyit heran, tidak memperdulikan raut kesakitan Baekhyun,
"kenapa kau selalu berjalan dibelakangku?" namja itu bertanya sembari bertolak pinggang, menatap Baekhyun penuh tuntutan.
"tidak apa-apa, ayo jalan lagi," jawab gadis itu mencoba mengalihkan perhatian Chanyeol yang jelas-jelas gagal total karena namja itu sama sekali tidak bergerak dari posisinya.
"apa kau menginginkan sesuatu?" tanya Chanyeol sekali lagi, sesaat Baekhyun mengamati Chanyeol yang juga tengah mengamatinya, gadis itu tiba-tiba tersenyum, ekspresinya berubah menjadi cerah seiring dengan melebarnya senyuman dibibirnya,
"eum, isseoyo," jawabnya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya dengan lucu, sementara Chanyeol hanya menaikkan alisnya dengan waspada, namun akhirnya ia tetap bertanya juga,
"kau mau apa?" kali ini Chanyeol sudah melepaskan tangannya dari pinggangnya sendiri dan memasukkan kedua tangannya kedalam satu hoodie yang dipakainya
"eumm..." Baekhyun bergumam sambil mengerjab-ngerjabkan matanya,
"kita beli kaos warna biru ya?" pintanya dengan menangkupkan kedua tangannya didepan dada tak lupa dengan aksi 'mari mengerjabkan mata dengan lucu dihadapan Chanyeol' yang hingga saat ini masih berlangsung. Wow serangan puppy! Sepertinya Chanyeol belum siap dengan hal ini, terbukti saat ini namja itu hanya membulatkan matanya dengan ekspresi bodohnya,
"ayolah~" rengek Baekhyun, nadanya terdengar manja dan sekaligus menuntut,
"kau ingin belanja? Kenapa tidak minggu depan saja? Itu kan free time untuk kita?" akhirnya namja itu kembali menemukan pita suaranya dan berhasil menguasai dirinya sendiri,
"aniya, bukan buatku," kata Baekhyun sambil memilin ujung jaketnya sendiri, persis seperti anak kecil yang sedang memohon untuk dibelikan permen kapas.
"lalu?" Chanyeol semakin penasaran dibuatnya, namja itu masih setia menunggu Baekhyun yang terlihat malu-malu dan cukup ragu untuk mengutarakannya.
"itu...umm...itu..buatmu..." cicit gadis itu semakin menundukkan kepalanya. Sedangkan Chanyeol hanya ternganga tidak mengerti. Kenapa Baekhyun ingin membeli baju untuknya? Gadis ini benar-benar aneh selama seminggu terakhir- atau lebih Chanyeol tidak terlalu paham, tapi yang jelas Baekhyun aneh. Bukan berarti namja itu tidak suka dengan perubahan Baekhyun, tapi ia hanya sedikit kaget dan perlu menyesuaikan diri saja menghadapi Baekhyun dalam formasi yang baru dengan mood yang berubah-ubah setiap saat, tolong garis bawahi kata setiap saat. Satu jam bermanis-manis ria, satu jam berikutnya sudah berubah ketus dan menyebalkan bukan main.
"buatku?"
"iya, aku ingin umm kau memakainya. Kaos hitammu jelek!" ucap Baekhyun secepat mungkin.
"ini bagus! Lagipula kenapa harus biru? Aku tidak suka biru," sungut Chanyeol tidak mau kalah, pura-pura tidak terima kaosnya baru saja dihina oleh yeoja dihadapannya.
"jelek! Biru biar sama dengan jaketku, bukankah ini akan manis? aiguu," sekali lagi, Chanyeol menjatuhkan rahangnya. Sedangkan Baekhyun hanya menatap namja itu dengan tatapan polos seakan bertanya 'apakah ada yang salah?'.
"Baek-"
"pokoknya biru! SE-KA-RANG." Ucap Baekhyun penuh penekanan. Chanyeol hanya mampu menelan ludahnya dengan kasar, ia juga baru tau jika Baekhyun memiliki sifat tak terbantahkan seperti ini. Gadis ini benar-benar tidak bisa ditebak.
"arasseo, ayo kita beli," kali ini giliran Baekhyun yang tercengang ketika Chanyeol secara reflek menggandeng tangan kecilnya. Namun gadis itu tidak protes sama sekali karena sejujurnya ia merasakan perasaan nyaman yang baru saja ia rasakan. Seperti nuansa baru dalam hidupnya dan ia menyukainya dan ia ingin terus merasakan perasaan seperti ini.
Lama mereka bergandengan tangan, akhirnya langkah kaki mereka terhenti disalah satu toko pakaian seperti distro yang berisi banyak anak muda didalamnya. Chanyeol melirik kearah Baekhyun yang kali ini tengah menilik kedalam dan memperhatikan sebuah kaos lengan panjang berwarna biru dengan tulisan "DELIGHT" berwarna hitam.
"kau ingin aku memakai kaos itu?" Baekhyun rasanya ingin memeluk Chanyeol saat ini juga, namja itu benar-benar mengerti apa yang ia mau tanpa harus meminta. Gadis itu mengangguk dengan semangat, membuat Chanyeol terkekeh dan menariknya masuk untuk membeli kaos tadi.
Sejujurnya Chanyeol memang tidak terlalu suka dengan warna biru, namun melihat Baekhyun begitu memohon kepadanya entah apalah alasannya, Chanyeol jadi tidak enak sendiri. Pemuda itu baru sadar, bahwa perasaannya kepada Baekhyun bahkan sudah lebih dalam daripada yang ia perkirakan.
Setelah selesai dengan urusan kaos yang saat ini sudah Chanyeol kenakan, mereka akhirnya kembali berjalan-jalan kesekitar kawasan belanja tersebut. Chanyeol masih setia menggandeng tangan Baekhyun dengan alasan 'nanti kau akan tersesat sekarang sedang ramai' ketika Baekhyun bertanya mengapa Chanyeol melakukannya dan terimakasih atas kepolosannya karena Baekhyun sama sekali tidak bertanya lebih lanjut. Gadis itu tersenyum sangat lebar sepanjang jalan, sesekali ia akan mengomentari beberapa orang atau objek yang ia lihat dan kemudian mereka akan tertawa bersama-sama. Begitu akrab dan cukup mesra, siapapun yang melihatnya akan menyangka bahwa mereka adalah pasangan.
"Baek, tidakkah kau berfikir bahwa mungkin mereka mengira kita adalah pasangan? Lihatlah baju kita, serba hitam dengan aksen biru, sama persis." Chanyeol berkata sambil lalu karena ia masih harus fokus menembus kerumunan dikawasan belanja ini.
"biarkan saja, ini lucu tau," jawab Baekhyun cuek, nampak tidak peduli dengan pandangan beberapa orang yang mengarah kepada mereka.
Chanyeol tersenyum simpul, jelas ia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Menggenggam tangan Baekhyun itu berarti menggenggam dunianya. Mungkin Chanyeol akan gila jika tiba-tiba ia divonis tidak bisa bertemu dengan Baekhyun lagi besok pagi. Gadis manis ini benar-benar sudah menjadi prioritasnya saat ini dan ia tidak bisa menahan senyumannya sendiri memikirkan betapa ia mencintai yeoja disampingnya ini.
"Chanyeol-ah.." panggil Baekhyun yang sedikit teredam oleh riuh redam orang-orang dikiri-kanannya.
"hmm?" sahut Chanyeol sambil memelankan laju berjalannya supaya ia bisa mendengar Baekhyun lebih jelas,
"apa masih jauh?" tanya Baekhyun dengan raut wajah yang kental akan rasa lelah. Chanyeol menolehkan kepalanya dan mendapati Baekhyun dengan wajah memucatnya, membuat namja itu panik bukan main.
"kau sakit?!"
"aniya, hanya lelah," dan memang benar, gadis itu terlihat sangat lemas, mungkin karena memang ia belum memakan apapun dari tadi pagi ketika mereka baru saja tiba di London.
"kita pulang saja ya?"
"aniii, aku ingin berjalan-jalan," kekeh Baekhyun sedangkah Chanyeol hanya bisa membuang nafasnya mulai frustasi.
"kita bisa berjalan-jalan besok malam, aku janji. Sekarang kita pulang ya? Kau butuh istirahat. Kita bisa beli makanan dicafetaria apartement,"Baekhyun tidak bisa mengelak lagi. Gadis itu mengangguk dengan lemah menyetujui ide Chanyeol yang baru saja diajukan. Jujur saja Baekhyun sangat lelah, ternyata tidur di dalam pesawat itu belum cukup meskipun ia hampir tidur sepanjang perjalanan. Mereka berdua akhirnya putar balik dan berjalan menyusuri jalan yang tadi sudah mereka berdua lewati. Kali ini Chanyeol bukan hanya menggenggam tangan Baekhyun, namun namja itu secara tidak langsung sudah menopangnya agar tidak terjatuh dengan merangkul pundaknya sedangkan Baekhyun memegangi ujung baju baru milik Chanyeol dengan begitu erat, seakan-akan jika ia tidak memegangi baju itu, ia bisa hilang ditelan kerumunan manusia.
"kau bisa menahannya? Sebentar lagi kita akan sampai," kata Chanyeol khawatir, ia harus membagi fokusnya kepada dua hal, pertama, jalan, dan kedua, Baekhyun yang sedari tadi nampak menahan sesuatu yang Chanyeol tidak tau apa, dan kenyataan bahwa kebodohannya yang tidak tau apa-apa ini membuat namja itu semakin merasa takut.
Jujur baru kali ini ia melihat Baekhyun seperti ini. Gadis ini selalu terlihat energic dan penuh semangat, jarang terlihat sakit, kalaupun ia mengeluh, paling itu hanya batuk atau flu biasa. Bukannya kesulitan berkata-kata dengan wajah pucat pasi seperti ini.
"emm," gumam Baekhyun sebagai jawaban.
"kau belum makan apapun?" tanya Chanyeol lagi,
"aku melewatkan sarapan dipesawat," jawab Baekhyun dengan susah payah. Ia juga tidak mengerti kenapa ia bisa sebegitu mualnya ketika pagi tiba, padahal ia sama sekali tidak memiliki motion sick terhadap alat transportasi apapun dan ini bukan kali pertamanya naik pesawat, tapi entahlah, terlalu banyak kejadian aneh yang membuat Baekhyun terlalu pusing untuk menjabarkannya satu persatu.
"bagaimana bisa? Kupikir ketika aku bangun dengan sarapan dihadapanku sementara mejamu sudah bersih itu karena kau sudah selesai makan," entah ini perasaan Baekhyun saja atau memang kenyataan bahwa ada sirat kekesalan, kekhawatiran dan posesif didalam kalimat yang baru saja terlolos dari bibir tebal milik Chanyeol. dan bukannya menjawab, Baekhyun justru menarik bibirnya keatas, tersenyum lemah tanpa Chanyeol sadari. Gadis itu kini tau, bahwa ada banyak sisi lain dari Chanyeol yang ia sama sekali belum ketahui dan itu semua mulai terkuak satu persatu.
"Chanyeol-ah.."
"Hmm?"
"terimakasih.." ucap gadis itu terdengar sangat tulus. Mau tak mau Chanyeol menatap wajah cantik yang saat ini tengah tersenyum kearahnya,
"bukan masalah. Jangan tersenyum terus, lama-lama kau bisa tertarik kepadaku," kekeh Chanyeol menanggapi godaannya sendiri, sementara Baekhyun hanya mendengus pelan dan kemudian berkata,
"aku masih membencimu, kau menyebalkan,"
"aku tau," timpal Chanyeol.
Tidak ada percakapan lagi setelah itu. Mereka berdua hanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Pandangan mereka benar-benar lurus kedepan, tanpa menoleh kemanapun bahkan hanya untuk melirik satu sama lain pun tidak. Bukan karena Chanyeol sedang marah atas perkataan Baekhyun, namun namja itu hanya tidak tau harus membicarakan apa dan ia juga tidak mau memaksakan Baekhyun untuk berbicara mengingat betapa lemasnya gadis itu saat ini.
Tanpa mereka sadari beberapa menit kemudian mereka sudah berada di lobi apartement untuk meminta kunci yang tadi sempat Chanyeol titipkan ketika ia mereka berdua akan pergi. Chanyeol dengan sigap memencet tombol lift yang akan membawa mereka kelantai 3, lantai dimana apartement mereka berada.
"kau bisa berdiri sendiri? Aku harus membuka kuncinya," tanya Chanyeol ketika keduanya sudah sampai didepan apartementnya, dan ketika melihat Baekhyun mengangguk, Chanyeol buru-buru melepaskan gadis itu dan segera berkutat dengan pintu, tidak menghiraukan Baekhyun yang terlihat kehilangan karena Chanyeol melepaskan rangkulannya.
Setelah pintunya terbuka, Chanyeol mempersilahkan Baekhyun untuk masuk dan menutup pintunya dengan pelan, tidak mau membuat suara keributan yang kemungkinan hanya akan terdengar olehnya dengan Baekhyun.
Ia tersenyum ketika melihat Baekhyun melepaskan jaket dan juga beanienya didepan kamar sembari menunggunya untuk mendekat. Dengan langkah panjang, Chanyeol menghampiri Baekhyun dan membukakan pintu kamar untuknya, rupanya gadis ini minta dibukakan pintu kamar yang sama sekali tidak terkunci. Sungguh manja.
Chanyeol menggiring Baekhyun menuju ranjangnya dan kemudian membantu gadis itu untuk merebahkan badan mungilnya. Ketika gadis itu sudah mendapatkan posisi ternyaman, Chanyeol lalu menarikkan selimut hingga sebatas dada, membiarkan tubuh Baekhyun terbungkus oleh hangatnya selimut mereka. Sesaat Chanyeol berlutut disampingnya, mencoba menyamakan tinggi mereka dengan Baekhyun yang sudah dalam posisi tidurnya.
"kau istirahat dulu hm? Aku akan membelikan makan untukmu." Kata Chanyeol sambil membelai kepala Baekhyun dengan lembut, mencoba memberikan ketenangan untuk gadis yang tengah menatapnya dengan mata bening miliknya.
"jangan belikan aku makanan yang terlalu berat, aku takut akan mual lagi," lirih Baekhyun namun Chanyeol memiliki telinga yang cukup tajam untuk mendengarnya.
"kau mual? Hmm arasseo,"
"lalu kenapa kau masih disini?" tanya Baekhyun bingung,
"aku akan menunggu kau tidur dulu, tidurlah.." kata Chanyeol dengan suara rendahnya, masih dengan membelai kepala gadis itu dengan penuh kasih sayang, tidak peduli apakah Baekhyun merasa nyaman ataukah risih dengan ulahnya.
Kemudian Baekhyun memejamkan matanya, menuruti perintah Chanyeol untuk tidur dengan terus mendapatkan sentuhan lembut dikepalanya yang jujur saja membuatnya sangat nyaman. Nafas gadis itu perlahan mulai teratur dan ringan, menandakan bahwa badan dan pikirannya sudah mulai rileks dan tenang. Setelah beberapa saat, Chanyeol berhenti mengelusi kepalanya,
"apa kau sudah tidur?" tanya Chanyeol yang kemudian tidak mendapatkan jawaban apa-apa dari Baekhyun. Sesaat namja itu tersenyum tulus, didekatkannya kepalanya untuk mencium kening Baekhyun sebelum akhirnya berkata,
"tidur yang nyenyak, sweetheart." Pemuda itu segera bangkit dan bergegas untuk pergi ke cafetaria untuk membeli makanan untuknya dan Baekhyun yang kemungkinan besar akan menjadi late lunch dan early dinner mengingat sekarang jam sudah menunjukkan pukul 4 sore.
Terdengar suara pintu yang tertutup ketika Baekhyun kembali membuka matanya,
"dia sungguh menyebalkan," dan inilah Baekhyun, apa yang ia katakan selalu berbeda dengan reaksi tubuh yang ia perlihatkan karena saat ini ia tengah tersenyum sembari menyentuh keningnya dimana bibir Chanyeol mendarat beberapa waktu yang lalu.
.
.
.
.
Setelah memakan habis makanan yang Chanyeol bawa untuknya Baekhyun memang langsung benar-benar tertidur dengan pulas, tidak memperdulikan apa yang Chanyeol lakukan dan akan tidur dimana namja itu. Oleh karena itu ketika ia terbangun pukul 12 malam, ia segera bangkit dan mencari Chanyeol. nafasnya tercekat ketika ia melihat Chanyeol benar-benar meringkuk diatas sofa tanpa selimut yang menutupinya. Namja itu hanya mengenakan kaos dan hoodie yang tadi ia pakai, hanya bedanya ia sudah mengganti celana jinsnya dengan celana tidur yang lebih nyaman untuk digunakan.
Gadis itu berlutut disamping sofa lalu kemudian memperhatikan wajah Chanyeol yang tengah terlelap. Namja ini tampak lelah, terlihat dari guratan hitam dibawah matanya serta nafasnya yang terhembus dalam. Baekhyun jadi tidak tega melihat Chanyeol tidur disini apalagi dengan sedikit menggigil karena udara memang cenderung lebih dingin dimalam hari. Dengan penuh keyakinan, Baekhyun mengguncang tubuh Chanyeol dengan pelan, berusaha membangunkannya,
"Chanyeol-ah.." namja itu hanya menggeliat dalam tidurnya, dan bukannya bangun, ia justru mengusakkan kepalanya kedada Baekhyun yang berada tepat disampingnya. Bukannya marah, Baekhyun justru terkekeh pelan melihat tingkah Chanyeol yang seperti anak anjing,
"Chanyeol-aah.." panggilnya sekali lagi, mencoba sebisa mungkin untuk membangunkannya. Dan kali ini berhasil, Chanyeol perlahan membuka matanya, dilihat dari wajahnya, sepertinya Chanyeol belum terlalu lama tertidur,
"ada apa Baek? Kau membutuhkan sesuatu?" tanya Chanyeol dan langsung terduduk menyadari Baekhyun sedang berlutut disampingnya. Kemudian namja itu membantu Baekhyun untuk bangkit dan duduk disampingnya.
"eobseo, kenapa kau tidur diluar? Ayo tidur didalam, disini dingin~" rengek Baekhyun
"aku tak apa, aku takut menganggumu,"
"aniyaa, ayo tidur didalam, aku takut tidur sendiri~" dusta Baekhyun sambil menarik tangan Chanyeol agar berdiri. Mau tak mau namja itupun berdiri dan menuruti kemauan tuan putrinya atau gadis ini akan merengek sepanjang malam.
Mereka berdua-pun akhirnya masuk kedalam kamar dengan Baekhyun yang menggandeng tangannya, setelah sampai ditepi ranjang, Baekhyun langsung loncat keatasnya dan menarik selimut sampai keperutnya,
"setidaknya disini kau tidak akan kedinginan, palli Chanyeol-ah!" pekiknya antusias, sedangkah Chanyeol hanya mengangguk dan tersenyum senang. Kapan lagi ia punya kesempatan untuk tidur satu ranjang dengan Baekhyun, well, mereka memang pernah tidur bersama dan melakukan sesuatu namun saat itu Baekhyun sedang mabuk dan ia pikir ia sedang one night stand dengan random guy yang tidak akan pernah ia temui lagi setelah malam itu. Ia tidak pernah tau bahwa 'random guy' itu adalah Chanyeol, seseorang yang tengah naik keatas tempat tidur dan berbaring disampingnya.
Baekhyun buru-buru menghadapnya sambil meringkuk seperti bayi, matanya menatap Chanyeol dengan pandangan yang sulit diartikan.
"aku ingin tidur sambil melihat wajahmu," celetuk Baekhyun, gadis itu bahkan tidak menyadari apa yang baru saja ia katakan.
"kenapa?"
"mungkin karena kau menyebalkan," dan Chanyeol sudah memprediksikan jawaban ini sebelumnya sehingga ia hanya tersenyum ketika mendengarnya.
"geurae, tidurlah.." ucap Chanyeol sambil mengusap pipi Baekhyun dengan pelan, mencoba mengantarkan Baekhyun ke alam mimpinya.
"selamat malam Chanyeol," keduanya tersenyum satu sama lain dan kemudian mereka sama-sama memejamkan matanya,
"selamat malam..." Jawab Chanyeol.
...sweetheart. lanjutnya dalam hati.
.
.
.
.
Sementara dibelahan bumi yang lain, seseorang menyerahkan sebuah handycam kepada Luhan dan Kyungsoo. Kedua gadis itu mengernyit tidak mengerti ketika Krystal memberikan benda itu.
"apa ini?" tanya Luhan.
"molla, seseorang menyuruhku untuk memberikan itu kepada kalian berdua." Jawab gadis cantik itu dengan cuek, karena sejujurnya Krystal memang tidak tau.
"dari siapa?"
"dia tidak ingin disebutkan namanya. Seluruh penghuni kantor juga sudah dikirimkan video itu secara berantai via email. Namun orang itu bilang ia ingin memberikan kalian berdua handycamnya sekalian."
Luhan dan Kyungsoo saling pandang beberapa saat sebelum pandangan keduanya tertuju pada handycam yang berapa dipangkuan Luhan.
"sudahlah, aku pergi dulu. Aku juga perlu menontonnya nanti," gadis itu berlalu setelah menepuk pundak Luhan dan Kyungsoo secara bergantian.
Krystal adalah salah satu teman mereka dan cukup dekat, karena kesibukannya sebagai sekertaris direktur, Krystal sama sekali tidak punya waktu untuk berkumpul dengan teman-temannya. Terlebih ia juga sudah memiliki kekasih- Myungsoo yang kebetulan merupakan sepupu dari Direkturnya, Kris.
"apa kita harus membukanya?" tanya Luhan sedikit ragu-ragu.
"kurasa, aku ingin tau apa yang ada didalamnya," Kyungsoo terlihat sangat penasaran.
Dan atas persetujuan mereka berdua, Luhan mulai mengotak-atik handycam tersebut yang mulai memutarkan sebuah video. Keduanya tersentak ketika yang ada dihadapan mereka adalah video porno, dimana ada dua orang yang tengah bercinta disebuah kamar yang lebih mirip seperti kamar hotel. Dan tunggu! Luhan dan Kyungsoo menajamkan penglihatan mereka berdua,
Sedetik.
Dua detik.
Hening.
Hening.
"CHANYEOL?!" pekik mereka berdua berbarengan ketika melihat wajah pria yang berada disana. Sesaat adrenalin mereka semakin terpacu, begitu penasaran dengan siapa Chanyeol beradegan panas pada video ini, mereka terus memelototi benda itu sampai akhirnya yeoja didalam video itu sedikit mengangkat wajahnya dan-
"DEMI TUHAN BYUN BAEKHYUN?!"
.
.
.
.
To be continued
.
.
.
.
Halooooo, ini fast update ga sih? Haha nah sesuai janji, videonya udah mulai nongol walaupun di akhir haha. Buat yang masih bingung pas one night stand itu kenapa Baekhyun ga sadar, ya karena dia lagi dibawah pengaruh alkohol, dia sadar kalo dia lagi make love tapi dia taunya sama random guy, bukan Chanyeol. semoga chapter ini lumayan fluff ya gue masih rada bingung bikin moment fluffnya sih. Ya walaupun ga fluffy fluffy amat tapi semoga kalian suka deh ya hehe. Buat yang reveal tempat dilondon mungkin chapter depan aja ya guys, soalnya gue belum nemuin scene yang pas buat ngerevealnya. Makasih buat yang udah favs, follows, reviews, terus yang ngasih semangat sama ngasih saran yaampun makasih banget, seneng kalo kalian appreciate sama ff ini. Buat yang masih ngerasa ga puas, maaf banget ya tapi gue juga berusaha buat bikin kaya apa yang lo mau kok, Cuma ya butuh proses aja. Walaupun so far ga ada, tapi please bgt kalo lo ninggalin review Cuma buat bash, gue ingetin mending gausah guys. Percumah. Nambah dosa, iya, bikin orang sakit hati juga iya. Jadi kalo lo gasuka ya close aja tabnya terus cari ff lain atau ga bikin ff sendiri aja lol. Gonna try my best for the upcoming update, hope it gonna get lot of love from all of you~!
Last but not least, review please?:-)
92x92-2015
