KONOHA LOVE STORY

Summary :

Sakura yang jadi inceran kaum Adam, tapi kenapa Naruto yang gak tahu apa-apa yang kena getahnya? Ia jadi kayak bampernya Sakura tiap ia bermasalah? Ganti Summary.

DISCLAIMER : Naruto Belongs to Masashi Kishimoto

Genre : Friendship dan Romance

WARNING

Cerita Pasaran, Typos, OOC, AU, Yaoi, Republish, and many mores.

Pair : -

Author Note : Aduh sayang sampai saat ini masih salah tebak. Oh ya author salah ketik harusnya Shikamaru bukannya Konohamaru. Buat yang udah review thank you banget.

Don't Like Don't Read

Chapter 3

Ino, Shikamaru, Utakata, Menma, Tenten, dan Sakura menatap villa yang akan jadi tempat tinggal mereka sementara selama ospek tak percaya. Bisa-bisanya mereka ditempatkan di villa bobrok begini. Bayangin aja tanaman semak tumbuh subur sebatas pinggang orang dewasa di halaman depan, nyaris menutupi villa. Setelah perjuangan panjang menerobos semak belukar, mereka mendapati bangunan tua bergaya Eropa, megah tapi suram karena tidak ada penerangan sama sekali alias mati lampu. Sampah daun berserakan di lantai. Debunya juga tebal sekali tanda kalo bangunan ini telah lama tak ditinggali.

Mereka masih positif thinking siapa tahu kondisi dalam rumah masih lebih baik daripada yang di luar. Pintu engsel berderak saat dibuka Naruto. Bau apek bercampur sarang laba-laba menyambut mereka. Well sekilas sih perabotannya masih Ok, tapi debunya naudzubillah min dzalik, tebal nian. Mereka terbatuk karena debu yang beterbangan saat mereka memasuki rumah. Mereka lalu membuka jendela untuk mengganti udara yang tak enak dengan udara segar di luar. Duhh, rasanya sesak banget di dalam sorry maksudnya baunya apek bikin dada terasa sesak. Habis itu mereka mencoba membuka ruang kamar satu per satu.

Kriet terdengar derit pintu. Uuuh kamar paling depan baunya apek sekali dan banyak sarang laba-laba. Snuff snuff snuff samar-samar tercium bau busuk. Jangan-jangan ini bau bangkai tikus mungkin. Iih gak sudi tinggal di kamar ini. Mereka keluar sebelum muntah karena tak tahan baunya. Mencoba kamar kedua. Hmm keadaanya gak begitu buruk kalo kamu mau mengabaikan bau apak selimut dan sprei yang udah bulukan. Jangan-jangan banyak kutunya. Tapi masih mendinglah dari pada kamar yang pertama. Begitu seterusnya hingga mereka berhasil memeriksa seluruh ruangan hingga waktu dhuhur tiba.

Dari invetigasi mereka, dari semua kamar yang berjumlah 50 buah, hanya ada 4 buah yang masuk kategori layak huni. Sakura dan Ino menempati kamar 3, Hinata dan Tenten kamar 4, Temari dan Naruto kamar 7 dan terakhir Shikamaru, Menma, dan Utakata di kamar 5. Kamar mandinya kosong tak ada air dan lumutan. Uuh, pasti capek banget bersihinnya.

Mereka pun kerja bakti membersihkan ruangan yang sedianya akan mereka pake seperti kamar tidur, kamar mandi, ruang tamu dan dapur. Mereka juga mesti mengisi bak buat mandi dengan menimba air di sumur belakang rumah beberapa kali. Yah meski kondisi sumur kurang meyakinkan, tapi airnya jernih dan sejuk. Sorenya mereka berkumpul di ruang depan, tepar kelelahan. Tiba-tiba Naruto datang membawa berita buruk. "Hai guys kayaknya ntar malam kita gelap-gelapan deh."

"Maksudnya?" (Ino)

"Di sini gak ada jaringan listrik?" (Shikamaru)

"Jadi kita Cuma pake lilin satu doang ini?" kata Sakura menunjukkan lilin yang tadi diberikan Deidara senpai sebelum meninggalkan mereka terdampar di villa buluk ini. Naruto menggangguk. Mereka langsung lemas, apes bener nasib mereka. Ini bener-bener mimpi buruk. Keliatan jelas sekarang siapa yang jadi target Akatsuki taun ini.

Flashback

Rombongan mahasiswa UK akhirnya sampai juga di penginapan di luar kota, dekat hutan Konoha. Mereka segera keluar dari bus yang membawa mereka ke tempat ini. Lelah juga di atas bus selama hampir 3 jam. Mereka menggerakkan tubuh sedikit untuk melemaskan otot-otot yang tegang. Tim Naruto istirahat di samping bus. Kemudian dari belakang datang rombongan Akatsuki yang jadi momok sekampus dipimpin Itachi.

Itachi dkk mendekati tim Naruto. Naruto dkk pucat pasi liat senior yang jadi the Big Trouble di kampus dan ditakuti seisi kampus mendekati mereka. Untuk apa Akatsuki ke sini kalo bukan untuk mengganggu mereka soalnya geng ini terkenal suka cari mangsa khususnya mahasiswa baru buat hiburan. Mampus mereka sekarang. Kayaknya salah satu dari mereka atau semuanya bakal jadi bulan-bulanan Akatsuki selama ospek. Mana tak ada yang berani melawan mereka lagi. Mereka pun berkeringat dingin. Dalam diam mereka membatin.

'Sial kenapa di hari pertama ospek ketemu mereka sih?' (Utakata)

'Dasar orang-orang merepotkan.' (Menma sambil menguap lebar)

'Benar-benar sial. Kalo ada mereka gak bisa leha-leha deh.' (Konohamaru)

'Siapa yang bakal diincar?' (Ino)

'Aduh gimana nih? Aku takut.' (Hinata)

'Akan ku hajar mereka kalo berani macam-macam.' (Tenten)

'Jangan-jangan aku lagi yang diincar? Gimana nih kalo mereka ikutan celaka gara-gara aku.' (Sakura)

'Gawat orang itu ada di sini. Moga-moga aja ia gak mengenaliku. Fuhhhh, untung tadi aku bawa slayer.' (Naruto)

Semua member Akatsuki mendengus geli liat perilaku para juniornya. Mereka menilai penampilan juniornya yang culun berkat segala aksesoris ospek yang dipakenya. Denger-denger di tim ini ada mahasiswi baru paling cantik seangkatannya kalo tak salah namanya Sakura. Salah satu dari mereka perlahan maju ke depan mendekati sosok gadis cantik jelita meski tubuhnya tertutupi aksesoris aneh berambut merah muda. Ia melihat gadis itu menunduk dalam, tubuhnya gemetaran. Cowok berambut hitam panjang dan diikat di bagian tengkuk merasa puas targetnya ketakutan.

Dari sudut matanya ia melihat tim adiknya dkk tak jauh dari tim Naruto menatapnya tajam khususnya Sai dan Neji. Ia ngakak dalam hati meski wajahnya tetap datar. Sai dan Neji sudah mengertakkan kedua telapak tangan gatal, tal sabar untuk memukulnya. Ia tahu Sai dari SMU mengincar Sakura, tapi tak pernah berhasil. Rasanya menyenangkan juga mempermainkan perasaan saudara jauhnya yang selalu masang senyum palsu. Kalo Neji sih dia tahu kenapa ia begitu. Paling-paling ia hanya ingin melindungi Hinata. Huh buat apa mengganggu cewek berwajah pas-pasan gagap pula itu kalo ada Sakura yang cantik jelita.

Selagi ia asyik memerhatikan Sakura, matanya melirik sosok berkostum aneh berdiri di samping Sakura. Ia juga menunduk dalam, gerak tubuhnya gelisah seperti cacing kepanasan, tapi tubuhnya tak gemetaran. Bukan sikapnya yang aneh yang ia perhatikan, tapi kostumnya ini. Masa di jaman begini ada cewek yang masih pake baju karung goni yang tebal. Dia ini gak tahu musim apa? Hellow sadar di musim panas begini pake baju tebal, nutupin seluruh tubuh pula. Rasanya mata ini jadi sakit liatnya, benar-benar merusak pemandangan. "Dasar cewek culun buta mode." Umpatnya dalam hati.

"Ehem. Selamat datang di training camp. Berhubung villanya sudah penuh, jadi kalian akan menempati villa lainnya. Kami minta maaf atas ketidak nyamanan ini. Ikut aku! Akan ku tunjukkan villa special untuk kalian." kata Itachi tersenyum ramah, tapi tak mampu membuat Naruto dkk tenang. Pasalnya senyum senpainya ini agak mencurigakan. 'Moga-moga gak terjadi apa-apa.' Doa mereka dalam hati.

Dengan patuh mereka mengikuti para senpainya. Mereka berjalan ke belakang villa utama menelusuri jalan setapak. Mereka berhenti tepat depan villa kuno tak berpenghuni di samping danau. Dan akhirnya terdamparlah mereka di tempat antah berantah. Mereka sungguh tidak tau mesti ngomong apa. Mereka ternganga tak percaya liat kondisi villa yang akan mereka tempati.

"Nih ku beri lilin sebagai penerangan. Aku baik kan?" kata Deidara sebelum pergi meninggalkan mereka semua di tempat aneh ini menyusul member Akatsuki yang lain.

End Flashback

Begitulah ceritanya kenapa hanya mereka bersembilan yang tinggal di villa bobrok terpisah dari rombongan peserta OSPEK lainnya. Dengan tubuh lunglai mereka menyantap makanan jatah ospek yang tadi diberikan oleh Konan senpai, satu-satunya member cewek di Akatsuki.

Kita tinggalkan Naruto dkk yang nasibnya melas, kita beralih pada Akatsuki di ruang VVIP dan paling mewah. Mereka menyantap hidangan makan malam berkelas international. Mereka makan sambil berbincang-bincang obrolan ringan.

"Apa elo gak sedikit keterlaluan Chi? Masa elo naruh mereka ditempat yang gak ada listriknya gitu?" Kata Deidara.

"Gak ada listrik sehari dua hari gak masalah, gak bakal mati. Anggap aja mereka lagi survival." Kata Pain sadis.

"Tapi kan gak adil. Tobi anak baik kasihan."

"Ya udah besok semua fasilitas listrik kecuali tempat ini dicabut biar adil." Kata Kisame gak kalah sadisnya.

"Aku setuju. Lebih hemat." (Kakuzu)

"Elo sih apa aja setuju selama gak perlu keluar duit." (Zetsu)

"Tapi Chi di sana kan angker. Konon katanya pernah terjadi pembantaian sadis yang dilakukan kepala keluarga itu sendiri. Semua orang yang membeli villa itu tak pernah berani menempatinya katanya banyak penampakan malah beberapa yang mencoba meninggalinya mati mengenaskan. Makanya dibiarkan terlantar. Masa elo tega nempatin anak-anak unyu-unyu itu di tempat seseram itu dengan hanya satu lilin saja. Elo bener-bener RAJA TEGA." Kata Sasori

"Terus mau lo apa?" Itachi jengah dengan pasangan SasoDei yang sok baik. Padahal sama aja. Mereka hanya tak ingin mangsanya mati sebelum disiksa.

"Kita periksa keadaannya. Minimal kasih ini buat penerangan." Kata Deidara mengangkat lampu LED sebesar lampu meja belajar yang bisa dicharge ulang.

"OK lah habis ini kita ke sana." Kata Itachi yang diamini semuanya.

SKIP TIME

Sakura tak bisa tidur meski sudah berusaha keras memejamkan matanya. Ia tidur dengan gelisah. Bukan hanya karena kasurnya yang kerasnya minta ampun. Ia juga terganggu suara derit jendela yang susah ditutup. Angin malam nan dingin membuatnya menggigil kedinginan. Samar-samar ia juga mendengar suara langkah kaki halus menyusuri koridor. Ia takut setengah mati. "Hantu itu tak ada." Rapalnya lirih. Ia segera membenamkan kepalanya dibalik jaket tebalnya, tak berani memakai selimut karena takut ada kutunya.

Ia mencondongkan tubuhnya pada Ino yang sudah tertidur pulas. Ia sudah nyaris menutup kelopak matanya ketika dia mendengar hembusan nafas tepat di sampingnya. Ia membuka mata dan melihat. 'Waa…' teriaknya histeris membangunkan Ino, Hinata, Tenten, Temari, Shikamaru, Utakata dan Menma sekaligus. Well mereka memang tidur sekamar karena lilinnya hanya satu saja. Para cewek tidur di kamar dengan pintu terbuka sedangkan yang cowok tidur di luar kamar.

Sakura mencengkeram lengan Ino erat hingga menimbulkan bekas kemerahan. Ino pun tak kalah takutnya karena ia juga melihat makhluk berbaju putih panjang hingga kakinya tak kelihatan. Nasib Tenten, Temari dan Hinata juga tak jauh beda. Para cowok sudah siap-siap menolong para cewek sampai hantu itu ngomong.

"Elo kenapa Ra? Mimpi buruk?"

"Naruto. Ini beneran kamu?" Tanya Tenten kaget setelah mengetahui sosok hantu itu. Ketakutannya hilang seketika.

"Iya. Ada apa memang?"

"Ada apa lagi, mang elo lagi ngapain pake baju aneh gitu? Mau nakut-nakutin kita gitu?" sungut Ino sebal.

"Gue mau sholat. Kan udah waktunya sholat Isya'. Sorry kalo gue bikin kalian takut." Kata Naruto minta maaf tak enak hati.

"Dasar elo tu ada-ada aja. Mendokusai." Tukas Shikamaru. Mereka kembali ke tempat semula mau tidur lagi, tapi gak jadi. Mereka mendengar suara ketukan pintu dan suara Deidara senpai memanggil mereka. Para cowok keluar dengan mengandalkan senter di HP, gak tega liat para cewek ketakutan dalam kegelapan terutama Naruto yang lagi sholat.

Pintu depan terbuka lebar memperlihatkan Itachi, Sasori, dan Deidara senpai depan rumah. Deidara membawa lampu LED otomatis. "Ada apa? Tadi gue denger suara cewek lagi teriak." Tegur Sasori.

"Gak ada apa-apa hanya Sakura teriak liat kecoak. Ada apa senpai kemari?"

"Hanya mau ngasih ini. Sebaiknya cepat istirahat, acara besok bakal full day hingga malam." Kata Itachi memberikan lampunya pada Utakata.

"Iya senpai." kata Menma sebelum menutup pintu membuat Itachi dan Sasori mendengus tak suka. 'Huh dasar junior gak sopan. Mana ucapan terima kasihnya. Awas saja mereka besok!' rutuk dua orang itu dalam hati tak terima. Udah capek-capek khawatirin mereka ternyata yang dipikirkan malah masa bodoh. Sia-sia deh. Yey mereka jadi gitu gara-gara siapa? Siapa duluan yang cari penyakit?

SKIP TIME

Tengah malam sekitar jam 12 malam, Naruto terbangun. Ia merasakan hawa dingin menusuk tulang yang tak biasa. Bulu kuduknya berdiri semua. Brakkkk terdengar suara jendela menjeplak keluar. Angin malam berhembus ke dalam kamar menambah hawa dingin di dalam kamar. Naruto berjingkat hati-hati, tak ingin membangunkan teman-temannya yang sudah tidur pulas. Ia berniat menutup jendela kembali hingga bayangan wajah seorang wanita paruh baya menatapnya tajam.

"Pergi dari sini!"

"Tidak bisa. Selama 3-4 hari kami akan tetap menginap di sini."

"Kau sudah bosan hidup?"

"Bukan kamu yang menentukan hidup mati seseorang."

"Kau…" desisnya marah.

Ia mengulurkan tangannya yang berlumuran darah dengan kuku-kukunya nan panjang ke leher Naruto. Meskipun ia merasa dadanya sesak karena dicekik sosok tak dikenal, ia tak panic menjerit ketakutan. Sebaliknya ia membca istigfar secara otomatis. Perlahan sosok itu melepaskan cekikannya. "Rupanya kau seorang ….."

"Aku tak mengerti maksudmu, tapi kalo kau masih menggangguku. Maaf aku akan membakarmu hingga hangus." Ancam balik Naruto. Ia membaca ayat kursi dengan tenang. Sosok itu meski terlihat tenang dan power full, sebenarnya kondisinya tak sebaik itu. Bacaan ayat kursi itu telah membuat tubuhnya seperti dijilat api neraka, panas sekali. Ia terus bertahan dan mengeluarkan semua ilmunya untuk melawan naruto, tapi tak berhasil hingga akhirnya ia pergi dari ruangan ini. Jika ia bertahan terus ia bisa menjadi abu.

Setelah kepergian makhluk tak jelas itu ia membaca beberapa ayat dan dihembuskan ke dalam air dan disiramkan pada tiap pojok ruangan kamar dan koridor untuk membuat pelindung agar makhluk itu tidak datang lagi mengganggu mereka. Ia tak terus melanjutkan tidurnya, ia mengambil air wudlu dan sholat malam. Ia khusyuk bercengkrama dengan Tuhannya hingga hamper sejam sebelum memutuskan meneruskan tidurnya yang terganggu.

Di pagi hari nan buta, para penghuni villa utama masih terbuai mimpi. Eh gak ding ternyata ada beberapa orang yang sudah bangun sejak tadi. Mereka berjalan ke belakang menuju villa di dekat danau. Rupanya orang-orang itu Akatsuki yang sudah berniat memulai Ospek. Itachi berjalan paling depan. Di tangan kanannya ia menenteng toa.

"Bangun semua." Teriaknya keras tanpa belas kasihan membangunkan para penghuninya di pagi hari nan dingin membekukan tulang. Tak ayal ini bikin para penghuninya gelagapan dan kalang kabut tak siap. Mereka berhamburan keluar villa masih mengenakan piyama dan jaket tebal. Bahkan ada yang bertelanjang kaki. Mereka merutuki siapa sih yang mengganggu mereka di pagi gini? Matanya langsung terbelalak liat para senpai killer sudah rapi di depan mereka.

Konan menghitung para juniornya yang baris di depan. Semua sudah lengkap berkumpul. "Dasar kalian ini. Bisa-bisanya tinggal di tempat yang jorok begini. Kalian sama sekali tak pantas masuk fakultas kesehatan jika kalian gak bisa jaga kebersihan. Sebagai hukuman kalian bersihkan halaman ini sampai bersih." Ancan Pain sadis yang dijawab gerutuan para juniornya. Dengan malas-malasan mereka masuk ke dalam villa untuk mengambil peralatan kebersihan.

"Aku beri kalian waktu sejam untuk membersihkannya. Lewat dari itu silakan ucapkan selamat tinggal pada menu sarapan kalian." Bentak Itachi membuat semua kalang kabut hingga nabrak tembok. Tanpa banyak cingcong mereka secepat mungkin membersihkan halaman villa. Member akatsuki hanya ketawa-tawa setan lihat penderitaan juniornya.

Di lain tempat Neji yang ketiban sial sekamar dengan Lee sudah rapi di ruang makan. Ia duduk bersama komplotannya. Di hadapannya sudah terhidang makanan lezat yang mengundang selera makan. Dengan tenang dan anggun ia menikmati sarapan paginya. Ia sama sekali tak tahu kalo saat ini adik sepupu tersayangnya sedang disiksa oleh para senpainya. Ia baru sadar pas denger pembicaraan beberapa orang seangkatannya di ruang makan.

"Denger-denger kelompok mawar yang diketahui Shikamaru ditempatkan di villa belakang dekat danau." Kata Jiroubo.

"Masa sih. Bukannya tempat itu tak terurus dan angker?" kata Tayuya.

"Bener aku lihat sendiri pas mereka digiring ke sana. Kasihan ya." Kata Ukon

Gara-gara itu Neji memilih mengakhiri sarapannya, mendadak seleranya hilang. Ia beranjak pergi, bergegas menghampiri adik sepupunya yang mungkin sudah kesiksa. Ia tahu rumah angker itu. Ini bukan mitos tapi fakta di tempat itu pernah terjadi pembantaian berdarah pada seluruh penghuni rumah yang dilakukan kepala keluarga itu sendiri. Sejak itu siapapun yang mencoba menempati tempat itu selalu tewas. Salah satu korbannya Obito, saudara jauh Sasuke. Ia ditemukan tewas mengenaskan depan halaman villa. Bagaimana ia tak cemas bukan main?

Sampai di sana ia melihat Hinata dkk sedang sibuk mencabuti semak belukar. Peluh membasahi piyamanya. Celana panjangnya dan sebagian mukanya kotor ternoda oleh tanah. Keadaan teman-temannya tak jauh berbeda. Naruto mengumpulkan semak-semak yang sudah dicabuti di satu tempat bersiap-siap membakarnya. Wow mereka hebat juga. Dengan hanya bersembilan orang dalam waktu singkat sudah berhasil membersihkan halaman dari semak-semak belukar.

"Bagus kalian sudah berhasil melakukannya. Kalian bisa sarapan sekarang. Kalian punya waktu sejam untuk sarapan, mandi dan siap-siap. Sampai jumpa lagi." Kata Pain member intruksi. Naruto dkk segera sarapan tanpa perlu diperintah dua kali karena laparnya bukan main. Ya iyalah dari pagi sudha dipaksa kerja rodi sama senpai setan itu.

Meski menunya sederhana jauh dari standarnya Neji, mereka makan dengan lahap. Mereka bahkan bersenda gurau. Tak nampak sedikit pun kesedihan di wajah mereka meski lelah. Neji iri dengan kebersamaan mereka. Padahal mereka baru bersua, tapi mereka sudah akrab bak orang yang sudah kenal lama. Ia pun berlalu pergi, kembali ke ruang hall berkumpul dengan teman-teman gengnya.

Sejam kemudian semua peserta Ospek sudah berkumpul di halaman villa utama yang luasnya bukan main begitu juga dengan tim Naruto. Dalam waktu sejam mereka sudah mandi, dandan rapi berikut atribut OSPEK. Itachi dkk memeriksa seluruh peserta ospek khususnya tim Naruto. Mereka menundukkan kepala tak berani menatap member akatsuki khususnya Itachi. Ia berhenti depan Naruto mengernyit tak suka. 'Lagi-lagi gadis itu memakai baju aneh itu. Ia juga masih pake cadar seperti kemarin. Sebel juga liatnya. kayaknya ni orang butuh dikasih pelajaran.' Batin Itachi.

"Angkat kepalamu! Aku ingin melihat wajahmu." Kata Itachi. Semua anggota tim Naruto bergerak gelisah bingung siapa yang dimaksud Itachi. "Kamu yang pake cadar." Lanjutnya menjelaskan. Naruto yang merasa ditunjuk karena hanya dia satu-satunya yang pake cadar mengangkat wajahnya perlahan. Teman-temannya merasa cemas dengan nasib Naruto sedangkan Sai dkk menyeringai senang. Mereka ingin tau seberapa kuat gadis sombong ini. Mereka sebal setengah mati dengan Naruto yang udahlah kere, otak biasa saja, wajah pas-pasan maih juga berani bersikap angkuh. Apanya dari dia yang bisa dibanggain?

Langit biru nan cerah itulah yang dilihatnya saat pertama kali melihat bola mata Naruto. Itachi seperti terhipnotis mata itu. Mata itu menunjukkan keteguhan, kecerdasan, dan kebijaksanaan terpancar jelas. Ia dengan berani menatap mata Itachi secara langsung. Tak ada rasa takut sedikitpun pada Itachi. Btw Kenapa hanya mata yang dilihat Itachi? Itu karena hanya mata dan dahi yang bisa dilihatnya. Ingat Naruto pake cadar penutup wajah.

'Menarik. Gadis ini menarik. Ia berubah pikiran. Kayaknya ospek kali ini bakal lebih menarik dari tahun-tahun yang lalu. Ia yakin 100% gadis di depannya ini bakal membuat hari-hari membosankannya itu hilang.' Pikir Itachi.

"Kenapa pake jubah LAGI? (kata LAGI dicapslock menunjukkan betapa sebalnya Itachi.) Kau tak ingat peraturan ospek?" kata Itachi dengan nada dalam untuk mengintimidasi, sayang tak ada pengaruhnya buat Naruto.

"Ingat."

"lalu kenapa kau langgar?"

"Aku tak melanggarnya. Di peraturan hanya tercantum para peserta dihimbau pake celana, tolong garis bawahi kata himbau. Jadi tidak ada salahna peserta memakai rok. Toh aku masih pake celana panjang, dibalik rokku." Naruto menjawab dengan tenang.

"Memangnya kau bisa apa dengan baju itu?" ejek Itachi.

"Yah bisa apa aku kita lihat saja nanti di lapangan. Aku janji, baju ini tidak akan merepotkan senpai"

"Yakin sekali?"

"Tentu saja. Kalo tidak mana berani aku pake."

"Kita lihat saja nanti."

Selama pertengkaran Naruto vs Itachi berlangsung, tampak seseorang menatap tajam naruto. Ia merasa wajah gadis itu tak asing dimatanya hanya saja ia lupa ketemu dimana? Ia berusaha mengingat-ingat. Gadis berkerudung yang ada di Konoha ini tak banyak, bisa dihitung dengan jari. Tunggu berjubah. Ah aku ingat sekarang, kapan tepatnya ia ketemu gadis ini. Ingatannya melayang sebulan yang lalu. Di depan sebuah kafe tepat pukul 5 sore saat ia berjalan dengan santai, ia menabrak seorang gadis berjubah dan berkerudung. Wajahnya merah padam, emosinya naik ketika ia teringat peristiwa memalukan itu kembali. Gadis itu telah mempermalukannya di depan khalayak umum.

"Kau buka cadarmu!" perintah Kakuzu, anggota akatsuki yang terkenal paling doyan uang baca MATRE.

"Maksudmu?" Tanya Naruto pura-pura tak mengerti padahal dalam hati ia merutuk 'mampus, jangan-jangan ketahuan.'

"Kau tak tuli kan atau kau mau aku membukanya?"

He he he Naruto cengengesan sebelum membuka cadarnya perlahan merasa sudah tak ada gunanya lagi pake cadar, toh sudah ketahuan ini dan bilang "Hai…" Sayang kakuzu tak terpengaruh sapaan hangat Naruto.

"Ternyata dugaanku benar. Lihat saja cewek brengsek, aku bakal bikin ospek ini bagai di neraka." Kata Kakuzu.

"Mang dia ngelakuin apa sih sampai marah segitunya? Dia ngambil uangmu?" Tanya Kisame iseng. 'paling-paling juga hanya masalah uang.' Pikirnya.

"Lebih buruk dari itu. Ia berani melecehkanku di depan umum. Dia menyapaku nee chan. Tahu kan arti nee chan?"

Bukannya prihatin, teman-temannya di akatsuki malah menertawakannya. Bisa-bisanya ada yang memanggil Kakuzu nee chan. Panggilan chan terlalu manis untuknya. Cowok bangkotan yang parasnya dibawah kemiskinan gini masa dibilang chan? Apalagi ia dikira cewek. Yang nyebut kok kebangetan banget. Matanya katarak ya? Yah kalo lawannya cewek berbaju alien itu sih wajar. Kali ia menganggap Kakuzu ini punya selera fashion yang sama dengannya. Sayang cewek manis gitu otaknya gak beres.

Kakuzu yang ditertawakan teman-temannya tambah murka. Ia sudah bersiap-siap menghajar mereka sebelum pikirannya terusik oleh pertanyaan Itachi selanjutnya. "Kenapa kamu mengira Kakuzu cewek?"

"Soalnya matanya indah. Jadi ku pikir ia cewek. Maaf banget. Aku benar-benar tak tahu." Kata Naruto tak enak hati sambil membungkukkan badan ke depan.

Kakuzu salah tingkah, matanya dipuji indah. Baru kali ini ada yang bilang begitu. Biasanya kan ia disumpahin orang. Ortunya aja gak pernah muji fisiknya makanya ia jomblo sepanjang masa. Meski boong, tetap aja ia seneng setengah mati. Tubuhnya berasa melayang ke atas awan.

Itachi mengernyitkan dahi heran. Baru kali ini ia tak jadi pusat perhatian baca ada orang yang tak tunduk pada pesonanya. Yaaa meski bajingan, wajahnya kan tampan tingkat dewa bikin semua cewek klepek-klepek di depannya dan berharap bisa one night dengannya. Malah sekarang temannya yang jelek abis yang mampu mengalihkan dunia Naruto. Kernyitan di dahinya semakin dalam saat melihat mata gadis aneh itu terbelalak lebar. Ia seperti ketakutan habis melihat hantu. Ia segera menengok ke belakang penasaran apa yang dilihat gadis ini. Matanya terbelalak kaget sama seperti Naruto.

Apa sih yang diliat Itachi dan Naruto? Ikuti terus kisahnya.

TBC

Untuk pairing saat ini belum keluar, mungkin 2 sampai 5 ch baru keluar. Buat para reader mohon saran dan kritiknya.