Tittle : Koiniochiru
Main Cast : Hanbin; Jinhwan
Pairing : BinHwan/BJin and Other
Genre : Romance
Rated : T.
Warning : Yaoi, Shounen-ai, Boys Love, Boy x Boy.
_ By Falcone99_
.
{Chapter 3}
.
Pukul 21.00 KST
Dua buah motor sport secara beruntun baru saja melintasi ruas jalan distrik Daejeon-gu yang cukup sepi dengan kecepatan diatas rata-rata. Kini kedua buah motor sport itu memasuki sebuah jalan terowongan yang cukup panjang. Mereka terlihat sangat sengit dalam balap membalap, seolah kemenangan adalah sebuah harga mati bagi keduanya.
Satu buah motor memimpin di depan, sementara motor lainnya berusaha membalap motor yang ada didepannya. Ini merupakan putaran kedua, kedua motor itu melintasi jalanan Daejeon-gu.
Hanbin, si pengendara motor yang tertinggal di belakang. Menaikkan laju kecepatannya menjadi 280 km/jam, agar dapat menyusul motor hitam bercorak gold yang mengunggulinya di depan. Dia bahkan tidak memperdulikan namja kecil yang kini tengah ketakutan dalam boncengannya. Merasa kurang cepat, Hanbin pun kemudian kembali menaikkan laju kecepatannya menjadi 320 km/jam. Namun sebelum melakukannya, kali ini ia sempat menarik lengan Jinhwan agar semakin erat memeluk tubuhnya.
Krieett~
Suara motor Hanbin yang beradu dengan bagian belakang motor Jooheon. Jarak antara kedua motor sport itu sangatlah dekat, kini bahkan kedua motor itu nampak sejajar. Hanbin melirik sekilas wajah Jooheon disampingnya, tersenyum mengejek dan kemudian motornya melesat dengan kecepatan penuh melewati motor yang dikendarai oleh musuhnya itu.
"Aakh, sial!" Umpat Jooheon kesal, karena Hanbin baru saja berhasil mendahuluinya.
.
.
Motor yang dikendarai Hanbin terus melaju dengan kecepatan penuh. Bahkan Jooheon telah tertinggal lumayan jauh dibelakangnya, namun namja jangkung itu sama sekali tidak berniat untuk mengurangi kecepatan dari motor yang dikendarainya tersebut.
Kini motor sport berwarna merah berpadu hitam itu, sedikit lagi menyentuh garis finish. Hanbin bahkan dapat melihat kumpulan teman-temannya yang tengah bersorak menyambut kedatangannya.
"Itu dia!" Teriak Changkyun antusias, ketika matanya menangkap motor yang dikendarai Hanbin mulai mendekat.
"Aaakkhh" Seru beberapa orang dari kubu Jooheon. Nampak raut kekecewaan diwajah mereka, setelah mengetahui bahwa Hanbinlah yang keluar menjadi pemenang.
Akhirnya, sampailah mereka di garis finish. Sontak seluruh teman-teman dan orang-orang yang berpihak kepada Hanbin bersorak gembira dengan berjingkrak-jingkrak girang. Hingga membuat kawasan arena balapan itu menjadi sangat bising oleh aksi mereka
Namun motor yang mendapatkan sambutan yang sangat meriah itu bukannya berhenti, melainkan terus saja melaju setelah melewati garis finish. Ya, Hanbin tidak menghentikan motornya di sana, ia malah lebih memilih untuk melanjutkan perjalanannya dan meninggalkan teman-teman beserta pendukungnya yang lain.
"Ya, ya, ya! Mau ke mana dia?" Teriak Jimin melihat motor yang dikendarai Hanbin terus melaju menjauh dari tempat mereka berada.
"Sepertinya dia memiliki rencana lain." Ucap Daehyun mencoba menebak-nebak.
"Mwo?! Lalu Jinan, apa dia sedang mencoba menculik temanku?!" Tanya Baekhyun mulai panik akan nasib sahabatnya itu.
"Jaebum-ah?" Jinyoung mencengkram keras lengan Jaebum yang berada disampingnya, terlihat jelas bahwa ia juga merasa khawatir akan nasib Jinhwan.
"Tenang saja, percayalah padaku." Ucap Jaebum menenangkan kekasihnya itu, kemudian ia kembali memandang motor Hanbin yang mulai menghilang dari pandangannya.
{}
Hanbin mulai memperlambat laju motornya dengan kecepatan normal, kini namja itu bahkan tengah mengembangkan senyuman dibalik helm yang ia kenakan. Hanbin nampak bahagia, tapi kebahagiaannya itu bukan karena dirinya baru saja memenangkan balapan melainkan karena namja kecil dalam boncengannya terus saja memeluknya dengan sangat erat.
Hanbin memang sengaja tidak menghentikan motornya di arena balapan tadi, hanya untuk mengerjai Jinhwan. Namun selang beberapa saat, ia merasakan ada sesuatu yang janggal. Namja kecil itu, kenapa dia hanya diam? Bukankah seharusnya dia protes karena Hanbin tidak menghentikan motornya ketika melewati garis finish, dan malah membawanya pergi menjauh dari teman-temannya berada? Menyadari hal itu, akhirnya Hanbinpun menghentikan laju motornya di pinggiran jalan.
"Hey, mau sampai kapan kau akan terus memelukku?" Tanya Hanbin pada namja yang memang sedari tadi terus saja memeluknya.
"Hah?" Ucap Jinhwan sedikit terkejut, menyadari bahwa motor yang ia tumpangin kini berhenti ditempat.
Segera namja kecil itu turun dari motor sport yang ditumpanginya, begitu pula dengan si pemilik motor tersebut. Kemudian, Jinhwan melepaskan helm yang ia kenakan untuk melihat kesekeliling.
"Di mana ini, dan kenapa begitu sepi?" Tanyanya sedikit linglung, dengan menyipitkan kedua matanya yang sudah sipit semenjak lahir.
"Kau tertidur?" Ucap Hanbin tak percaya. "Bbagaimana bisa? Tadi itu kita sedang balapan bukannya bermain ayunan!" Lanjutnya sedikit takjup karena bisa-bisanya namja kecil itu tertidur, disaat nyawanya bisa saja melayang saat balapan tadi.
Namun bukannya menjawab, wajah Jinhwan malah semakin terlihat linglung. Dia bahkan terlihat tidak dapat menyeimbangkan tubuhnya, dan selang beberapa detik namja kecil itu hampir terjatuh ke tanah jika saja Hanbin tidak dengan segera meraih tubuh Jinhwan kepangkuannya.
"Ya, Kim Jinhwan. Kim Jinhwan!" Ucapnya dengan menepuk pelan pipi Jinhwan.
{}
Pukul 23.00 KST
Hanbin berjalan sempoyongan menaiki tangga berbahan kayu untuk sampai ke lantai dua, dimana kamarnya berada. Ada seorang namja dalam gendongannya, karena itu jalannya menjadi sedikit sempoyongan. Walau bertubuh kecil, namja dalam gendongannya itu memang tidaklah ringan.
Setelah sampai, ia pun segera membuka pintu kamarnya dan membaringkan tubuh Jinhwan diatas ranjang berukuran single miliknya. Kemudian namja jangkung itu memandang wajah Jinhwan yang kini masih belum sadarkan diri, mungkin lebih tepatnya masih tertidur. Ya, namja kecil itu awalnya memang pingsan, namun berakhir dengan tertidur pulas karena saking nyamannya berada dalam pangkuan Hanbin.
Awalnya ia memang hanya memandang wajah namja kecil yang kini tengah tertidur tenang diatas ranjangnya itu, namun lama-lama fokus pandangannya berganti menjadi ke arah bibir ranum milik Jinhwan. Perlahan namun pasti, tanpa sadar Hanbinpun mulai mendekatkan wajahnya agar semakin dekat dengan sesuatu yang menggoda dihadapannya. Namun seolah sadar bahwa tindakannya itu salah, ia pun segera memalingkan wajahnya ke arah lain kemudian sedikit menelan ludah.
'Yak, Kim Hanbin kendalikan dirimu!' Ucapnya dalam hati.
Dengan tekad penuh, Hanbinpun memilih bangkit berdiri dan melangkahkan kakinya untuk segera pergi ke luar kamar. Namun selangkah lagi kakinya melewati pintu, tiba-tiba saja tubuh dan gejolak jiwa mudanya memaksa ia untuk kembali berbalik dan mendekat ke arah Jinhwan.
Chupp...
Diciumnya bibir plum milik namja kecil yang tengah tertidur pulas diatas ranjangnya itu. Ya, kali ini Hanbin benar-benar menciumnya walau hanya sekilas. Seolah tak percaya akan perbuatannya barusan, ia pun tertegun merasakan detak jantungnya yang mendadak bekerja tidak normal.
Segera ia menyiapkan diri kalau-kalau namja kecil dihadapannya itu terbangun, kemudian meneriakkinya, memukulnya, atau bahkan membunuhnya karena tindakannya barusan. Namun jangankan terbangun, namja yang bibirnya baru saja direnggut keperawananya (?) itu bahkan tidak bergerak sedikit pun dari posisinya.
"Ck, dasar tukang tidur."
{}
Pukul 07.00 KST
Jinhwan tidur dengan gelisah di atas kasur yang ia tempati. Sedari tadi namja kecil itu terus menggerakkan tubuhnya menghadap ke kiri dan ke kanan, membuat seprei berwarna biru langit yang membungkus kasur itu nampak kusut dan acak-acakkan. Terus bergerak, bergerak dan bergerak hingga akhirnya…
BRUGH
"Aww" Namja itu meringis, karena tubuhnya baru saja terjatuh dari atas kasur.
"Ughh" Ringisnya lagi dengan mengelus bagian kepalanya yang tadi sempat menghantam lantai. Kemudian namja kecil itu mendudukkan tubuhnya, dan samar-samar ia dapat melihat seseorang yang tengah berjongkok memandang ke arahnya.
Orang itu terlihat sedikit tidak biasa, penampilannya kelewat mencolok untuk namja seusianya. Berambut panjang menjuntai hingga bahu, selayer berwarna merah yang melingkar dikepalanya, serta beragam aksesoris yang memenuhi tubuhnya. Oh ya, jangan lupakan rompi berbahan kulit yang ia kenakan. Ahjussi ini benar-benar terlihat seperti anak metal.
"Ahjussi, siapa kau?" Tanya Jinhwan penasaran, walau nyawa namja kecil itu belum sepenuhnya terkumpul.
"Aku? Aku adalah pemilik rumah ini."
"Hah?"
Jinhwan terlihat bingung, kemudian ia edarkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan.
"Huwaaaaaaaaaa!"
Berteriak keras setelah sadar bahwa ia berada di tempat yang ia sendiri tidak tahu di mana tempatnya berada, dan hal itu sontak membuat Ahjussi metal dihadapan Jinhwan menutup kedua telinganya.
"Yak Ahjussi, apa kau menculikku?" Jinhwan terlihat ketakutan dengan menjauhkan tubuhnya dari Ahjussi metal tersebut.
"Menculikmu?" Tanya si Ahjussi metal terlihat heran. "Buahahahahahaa" Tak lama sebuah tawa yang cukup keras pun membahan diruangan itu, hingga membuat Jinhwan berjengit kaget.
"Yang benar saja, aku ini bukan pedophil. Sepertinya yang menculikmu itu adalah namja bodoh penghuni kamar ini." Jawabnya dengan tawa yang belum sepenuhnya habis. "Sekarang kau pergilah mandi, kemudian segera turun ke bawah untuk sarapan bersama kami! Arraseo?!" Lanjutnya, kemudian ia pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar dimana Jinhwan berada.
{}
Hanbin nampak sibuk dengan peralatan memasak ditangannya. Kini namja itu tengah berusaha mengangkat omelet yang baru saja dimasaknya ke atas piring-piring yang ia letakan di atas meja counter. Kemudian piring-piring berisi omelet tersebut, diletakkan kembali oleh seseorang di atas meja makan yang berada di dapur mereka.
Jinhwan turun dari lantai dua, dan berjalan santai ke arah dapur tempat Hanbin dan seseorang yang Jinhwan ketahui sebagai "Ahjussi metal" itu berada.
Namja kecil itu mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan. Terlihat takjup karena walaupun tidak sebesar rumahnya, namun rumah itu bisa dikatakan sangat bersih dan rapi untuk ukuran rumah yang dihuni oleh dua orang laki-laki. Jinhwan juga sudah terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya, mungkin effek sudah mandi.
"Ah, kau sudah datang. Ayo kita makan!" Ajak si Ahjussi metal antusias.
Hanbin melirik sekilas ke arah Jinhwan, kemudian melepaskan apron berwarna kuning dengan corak pisang yang sedari tadi melekat ditubuhnya.
"Bisakah kita berbicara empat mata?" Jinhwan bertanya pada Hanbin, yang baru saja mendudukkan tubuhnya dikursi meja makan. Tanpa menjawab, Hanbin pun bangkit berdiri dan melangkah keluar dapur diikuti Jinhwan yang mengekor dibelakangnya.
Sementara Ahjussi metal yang juga berada di diruangan itu, terlihat tak acuh. Berusaha untuk tidak peduli dengan urusan dua anak muda yang memang bukan urusannya.
{}
"Apa?" Hanbin berucap sededuktif, kini mereka berdua sudah berdiri saling berhadapan.
"Yak! Kenapa kau membawaku kemari?" Tanya Jinhwan dengan wajah sedikit tidak santai, ia bahkan melipat kedua tangannya di depan dada.
"Lalu aku harus membawamu ke mana?" Bukannya menjawab, Hanbin malah balik bertanya. Raut wajahnya terlihat biasa saja, jauh berbeda dengan namja kecil dihadapannya.
"Tentu saja kau harus membawaku pulang ke rumahku!"
"Kau pikir, memangnya aku tahu di mana rumahmu?"
"Lalu kenapa kau tidak membangunkanku untuk bertanya?!"
"Heh, semalam itu kau lebih dari sekedar pingsan. Bahkan puteri tidur saja akan terbangun jika mendapatkan sebuah ciuman. Sementara kau, bergerak sedikitpun tidak."
Ucap Hanbin santai, walau kini namja kecil dihadapannya memasang wajah terkejut luar biasa.
"Aapa kau bilang? Cciiciuman?" Jinhwan terlihat tak percaya dengan kedua tangan yang kini telah berpindah kebibirnya.
"Sudahlah kita bicarakan ini nanti. Aku lapar, lebih baik kita makan terlebih dahulu!"
Tawar Hanbin, kemudian namja itu hendak melangkah pergi namun Jinhwan menahan lengannya.
"Tidak bisa! Hal seperti ini mana boleh ditunda-tunda!" Sergah Jinhwan, namun sesuatu yang tidak direncanakan sebelumnya terjadi dan Jinhwan tidak bisa mengontrol hal itu.
Kriuk..kriuk..
Hening...
Kedua namja itu terdiam, dan saling pandang satu sama lain dengan posisi kedua tangan Jinhwan yang masih memegangi lengan Hanbin. Jinhwan mengedipkan matanya berkali-kali, tak yakin bahwa tadi itu adalah bunyi protes dari perutnya yang meminta untuk segera diisi.
"Hahh sudah kubilang, lebih baik kita makan terlebih dahulu!" Lagi-lagi Hanbin berucap datar, kemudian meninggalkan Jinhwan untuk masuk ke dalam rumah.
"Aish, perutku ini kenapa tidak sabaran sekali!" Umpat namja kecil itu pada dirinya sendiri.
Jinhwan memang sangat penasaran dengan maksud ucapan Hanbin, namun apa boleh buat kalau kini perutnya juga mulai lapar. Maka mau tak mau, ia pun mengalah dan melangkahkan kakinya kembali ke meja makan untuk sarapan.
{}
"Jadi, siapa namamu?"
Tanya paman Hanbin, sesaat telah Jinhwan mendudukkan tubuhnya di meja makan. Ya, namja dewasa berpenampilan mencolok itu ternyata adalah paman Hanbin. Bukan dengan orangtuanya, melainkan dengan pamannyalah namja jangkung itu tinggal.
"Jinhwan, Kim Jinhwan." Jawab Jinhwan menyebutkan namanya.
"Oh, aku Lee Sun Woong. Tapi panggil saja aku Tablo, ne!" Ahjussi metal itu memperkenalkan diri sembari tersenyum ramah. Jinhwan mengerutkan keningnya, sedikit aneh juga mendengar nama panggilan yang tidak nyambung dengan nama aslinya itu.
"Sudah berapa lama kalian berteman? Sepertinya aku baru melihatmu." Lanjutnya terlihat penasaran.
"Aku bukan temannya!" Jinhwan menjawab ketus, kemudian memasukan satu suapan omelet ke dalam mulutnya.
"Ooh jadi kau adalah kekasihnya?"
"Yak, samchon!" Ucap Hanbin menginterupsi, sekali-kali mulut pamannya itu memang harus disumpel pake daun singkong. Sementara itu Jinhwan nyaris saja tersedak, kemudian dengan segera ia meminum air putih yang berada di dekatnya.
"Wae? Dia bilang kalau dia itu bukan temanmu, jika bukan teman lalu apa?" Tanya Tablo pada Hanbin yang baru saja menginterupsi perkataannya. "Ah, atau jangan-jangan kau ini adalah musuhnya?" Tanyanya lagi, yang kali ini menatap sedikit menyelidik kepada Jinhwan. Namun belum sempat Jinhwan menjawab, Tablo sudah tertawa keras lebih dulu.
"Buahahahahahaaa…kalian berdua memang lebih pantas disebut musuh daripada sepasang kekasih." Ucapnya kemudian, dengan tawa membahana yang lagi-lagi membuat Jinhwan berjengit kaget.
"Aish, aku sudah selesai!" Hanbin terlihat mulai jengah dengan ucapan pamannya itu, kemudian ia pun bangkit berdiri. "Kau tunggulah di sini, aku akan bersiap untuk mengantarmu pulang!" Lanjutnya pada Jinhwan, sebelum melangkah pergi.
"Hey, Jiwan." Ucap Tablo sedikit berbisik, setelah Hanbin sudah tidak ada diantara mereka.
"JINHWAN, Ahjussi!" Protes Jinhwan tak terima namanya salah disebut.
"Ya ya, Jinhwan. Sebenarnya aku tidak terlalu peduli dengan hubungan yang terjadi diantara kalian. Tapi anak itu, walaupun kelihatannya sangat menyebalkan. Dia sebenarnya adalah anak yang sangat kesepian. Kuharap kau bisa lebih dekat dengannya, ne!"
Ucapan Tablo membuat namja kecil itu tampak tertegun, ia seolah merasakan sesuatu dihatinya. Kesepian. Bukankah, Jinhwan juga sering merasa kesepian?
Kring kring..
Selang beberapa saat terdengar sebuah bunyi lonceng dari arah luar.
"Ah, sepertinya anak itu sudah berada di depan. Cepatlah kau ke sana, biar aku yang mencuci piring-piring ini!" Perintah Tablo pada Jinhwan, sambil tangannya mulai membersihkan piring-piring yang berada di atas meja makan.
"Ahjussi, gomawo." Jinhwan tersenyum hangat yang dibalas anggukan oleh Tablo. Kemudian ia pun segera berlari ke luar rumah untuk menghampiri Hanbin.
{}
"Ayo naik! Aku akan mengantarmu hingga ke halte bus." Ucap Hanbin, yang kini tengah mendudukkan dirinya di atas sepeda keranjang berwarna pink.
Ingat, SEPEDA KERANJANG BERWARNA PINK!
Sepeda itu milik Haru, gadis berusia 13 tahun yang merupakan anak gadis dari pamannya. Namun kini Haru tidak lagi tinggal bersama mereka, setelah Tablo dengan istrinya resmi bercerai.
"Dengan menggunakan sepeda ini?"
"Ya, wae?"
"Kenapa tidak naik motor besarmu saja?"
"Motorku mengalami gangguan setelah balapan semalam, dia sedang diperbaiki. Jadi jangan banyak menuntut dan cepatlah naik!"
"Shirreo!" Jawab Jinhwan dengan memalingkan wajahnya.
"Shirreo?" Tanya Hanbin santai. "Baiklah, arraseo." Lanjutnya kemudian, lantas ia pun turun dari sepeda dan mulai melangkahkan kakinya menjauh dari Jinhwan.
"Ya ya, kau mau ke mana?" Teriak Jinhwan melihat pergerakan Hanbin.
"Kau bilang tidak ingin naik sepeda, kalau begitu kita akan berjalan kaki." Hanbin kembali berucap santai, namun respon yang berbeda diberika oleh Jinhwan.
"Eoh? Ah, tidak tidak! Kita naik sepeda saja! Ya, sepertinya naik sepeda tidaklah buruk." Jawabnya cepat, dengan mendudukkan tubuhnya dikursi bagian belakang sepeda.
Ingat, Jinhwan sangat benci berjalan kaki!
"Hmppt" Hanbin menahan tawa melihat kelakuan namja kecil dihadapannya itu. Lagi-lagi, Jinhwan terlihat kekanak-kanakan pikirnya.
{}
Kini sepeda keranjang berwarna pink itu tengah melaju di atas jalan yang biasanya dipergunakan untuk pejalan kaki. Seorang namja nampak kesulitan menjalankan laju sepedanya, sementara namja yang ikut membonceng nampak merasa tidak nyaman karena beberapa kali sepeda itu tidak bisa berjalan dengan seimbang.
"Yak, sebenarnya kau ini bisa atau tidak?" Protes Jinhwan dengan gaya mengayuh sepeda ala Hanbin yang menurutnya berbahaya.
"Diamlah, aku sedang berkonsentrasi!" Jawab Hanbin dengan tetap fokus pada pekerjaannya mengayuh sepeda.
Mendengar ucapan namja dihadapannya itu, Jinhwanpun merengut dan memilih untuk menutup rapat mulutnya. Tak lama namja kecil itu memejamkan kedua matanya, mencoba merasakan hembusan deru angin yang menerpa kulit wajahnya dengan lembut, ia pun mulai merasa nyaman sekarang.
Namun kemudian Jinhwan kembali membuka matanya, dan pandangannya beralih pada punggung Hanbin. Mengingat-ingat, bahwa semalam dirinya juga merasa nyaman memeluk punggung kokoh dan hangat didepannya itu. Tanpa sadar, bibir Jinhwan membentuk seulas senyuman.
"Hanbin?" Ucap Jinhwan tiba-tiba, namun hanya dibalas deheman oleh Hanbin.
"Kenapa pamanmu bergaya seperti itu?" Lanjutnya kemudian.
"Seperti apa?"
"Euu..sedikit, tidak biasa" Jawab Jinhwan ragu, takut menyinggung perasaan Hanbin.
"Maksudmu aneh?"
"Yak, bukan aku yang mengatakannya!" Serobot Jinhwan tak mau disalahkan, karena menurutnya kata "aneh" memiliki makna yang negatif.
"Dulu dia memiliki sebuah bandrock bersama dua orang temannya. Namun bandrocknya itu selalu gagal, walau sudah berpuluh-puluh kali mengikuti audisi. Hingga akhirnya kedua temannya menyerah dan memilih untuk berhenti. Tapi pamanku, dia bilang jiwa rockernya tidak pernah mati. Karena itu, sampai saat ini dia tetap merasa menjadi seorang penyanyi rock." Cerita Hanbin panjang lebar.
"Oohh" Meski tak paham sepenuhnya, Jinhwan tetap ber-Ooh ria.
Tak lama sepeda yang dijalankan Hanbin pun berhenti, kedua namja itu akhirnya sampai di halte bus. Jinhwan lantas segera turun dari sepeda yang dinaikinya dan berdiri disamping Hanbin.
"Terimakasih untuk tumpangannya. Lain kali berlatihlah dengan giat dalam menaiki sepeda, arraseo?" Ucap Jinhwan sambil menepuk pundak Hanbin, kemudian ia pun segera melangkah pergi untuk menaiki bus yang baru saja berhenti di halte itu.
"Tunggu!" Teriak Hanbin menghentikan langkah kaki Jinhwan. "Akulah yang seharusnya berterimakasih karena semalam kau sudah membantuku." Lanjutnya kemudian.
"Kita impas! Tragedi tawuran itu, kau ingat?" Jinhwan tersenyum cerah, kemudian melangkahkan kakinya kembali. Namun kali ini ia sedikit berlari karena tidak ingin tertinggal oleh busnya yang terlihat akan segera pergi. Hanbin terus memperhatikan Jinhwan hingga namja itu benar-benar naik ke dalam bus. Terus memperhatikan, hingga bus yang dinaiki Jinhwan mulai berjalan menjauh.
"Aku akan benar-benar membuatmu jatuh cinta kepadaku, Kim Jinhwan."
{}
Kini Jinhwan telah sampai di rumahnya. Setelah sampai, ia pun segera menuju kamar untuk merebahkan tubuh letihnya itu di atas kasur super empuk miliknya. Ini adalah hari minggu, jadi tidak ada yang harus dikerjakan oleh namja kecil itu .
Beruntung, Jiwon juga belum pulang dari urusan bisnisnya di Jepang. Setahu Jinhwan, hyungnya itu baru akan pulang besok pagi. Ah, dan ngomong-ngomong soal hyungnya. Ia lupa bahwa dari semalam dirinya belum memberikan kabar apapun pada Jiwon.
Maka dengan segera, ia rogoh saku coat sebelah kanan yang ia kenakan untuk mengambil ponsel miliknya. Ia ingat betul bahwa ia menaruh ponselnya di sana. Namun setelah mencoba meraba sakunya beberapa kalipun, Jinhwan tetap saja tidak bisa menemukan ponsel miliknya itu.
"Ah, dimana ponselku?"
{}
Drrtt..drrtt..
Hanbin baru saja memasuki kamarnya, ketika kedua iris matanya menangkap benda persegi panjang nampak terus bergetar diatas ranjang yang semalam ditempati oleh Jinhwan.
Melihat ponsel itu terus bergetar, ia pun segera menerima panggilan masuk di ponselnya. Setelah sebelumnya melepaskan jaket biru dongker yang ia kenakan dan menaruhnya di sandaran kursi meja belajar miliknya.
"Yeoboseyo?" Ucapnya setelah mengangkat sambungan telepon.
"Yeoboseyo. Kau, siapa?" Tanya namja di seberang saluran telepon terdengar ragu.
"Aku Kim Hanbin, dan siapa kau?" Kini Hanbinlah yang balik bertanya.
Tutt..tuutt..tuutt..
Bukannya menjawab, si penelepon malah memutus secara sepihak sambungan teleponnya.
"Orang aneh."
Umpat Hanbin, kemudian ia pun melangkahkan kakinya untuk pergi ke kamar mandi. Namun tak lama, ponsel itu kembali bergetar. Hanbin mendengus kesal, namun ia tetap kembali menerima panggilan masuk itu lagi.
"Yeoboseyo!" Ucapnya sedikit membentak.
"Yak! Ini jelas nomor ponsel adikku yang bernama Kim Jinhwan. Lalu sejak kapan namanya berubah menjadi Kim Hanbin?!"
Teriak seorang namja tak kalah keras dari seberang telepon.
Menyadari ada yang salah, kali ini Hanbinlah yang memutuskan secara sepihak sambungan telepon itu. Kemudian segera ia amati ponsel yang ada dalam genggamannya.
"Astaga! Ini bukan ponselku."
.
.
.
TBC
Taddaaaaa..chapter 3 akhirnya muncuul..! Yeyeeyeeee…
Adakah yg menantikan fanfic ini? Gak ada. Baiklah, gak apa-apa. -_- *padahal author udah hebring*
Oh ya, author mau cuap-cuap dikit boleh ya? Gak boleh. Boleh aja ah! *kali ini maksa*
.
.
Reviewers yang super…
Author ingin mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya buat kalian yang udah mereview fanfic ini dari chapter 1 hingga chapter 2.
Whoaaaa…isi review kalian benar-benar membuat author tercengang, sampai-sampai author mewek karena terhuraa..ehh terharu maksudnya. *author lebay*
Terimakasih banyak karena telah menjadi pembaca yang baik. *deepbow*
Dan menanggapi pertanyaan apakah ini beneran fanfic pertama author?
Jawabannya adalah IYA! Ini beneran fanfic pertamaku. Jadi, harap dimaapin jika bahasa yang digunakan sangat amburadul bin semeraut (?) hingga sulit untuk dipahami apalagi dihayati. *maklum author amatiran* -_-
Awal buletin tekad buat publish fanfic ini, author cukup tau diri dan gak banyak berharap klo fanfic ini bakal ada yang mereview, memfollow apalagi dijadikan favorite.
Tapi, ternyata ada juga reader baik hati yang mau-maunya mereview, memfollow hingga menjadikan fanfic ini favorite padahal ini adalah fanfic paling apalah-apalah sedunia. Hohohohoo
Ah, hountou arigatou ghozaimasu mina-san… *deepbowagain*
Cuap-cuapnya kepanjangan woyy! *dilempar gas LPG 3 kilo*
Ah, baiklah-baiklah…
Anyeong….. ^^
